Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juni 2013

Ikatan Ulama Muslim Sedunia: Krisis Suria Tanggung Jawab Seluruh Umat Islam

Ketua Ikatan Ulama Muslim Sedunia, Syekh Amin al-Haj hafidzahullah menyampaikan bahwa krisis Suria merupakan tanggung jawab seluruh umat Islam, bukan tanggung jawab umat Islam di Suria saja. Hal ini disampaikan oleh Syekh al-Haj dalam sambutannya pada muktamar ulama dunia yang diselenggarakan di Kairo, kamis (4/10/1434 atau 13/6/2013). Oleh karena itu beliau memfatwakan bahwa jihad Ke Suria hukumnya wajib bagi setiap Muslim. Beliau juga menyerukan/mengajak untuk memberangkatkan kafilah jihad ke Suria, sebagaimana dilansir oleh almoslim.net.

Syekh Amin juga mengajak para penguasa untuk mendukung para Mujahidin. ”Kami nasihatkan kepada para penguasa agar mereka bertakwa kepada Allah serta menunaikan tugas dan tanggung jawab mereka. Hendaknya mereka memberikan bantuan kepada para Mujahidin berupa senjata dan tidak melarang siapapun yang ingin berjihad membela kaum Muslimin”, ujarnya. Sementara kepada para Mujahidin beliau mewasiatkan agar mereka meluruskan niat dalam berjihad. “Berjihadlah untuk meninggikan kalimat Allah, berperanglah demi meninggikan agama Allah”, tegasnya.

Statement Syekh al-Haj turut diamini oleh Syekh. Dr. Yusuf al-Qaradhawi yang turut menyampaikan sambutan dalam muktamar tersebut. “Perang yang terjadi di Suria adalah perang terhadap Islam. Oleh karena itu jihad di sana hukumnya wajib”, kata Ketua Persatuan Ulama Muslimin Sedunia [al-Ittihad ‘Alami Li ‘Ulama Muslimin] tersebut. Selain itu Syekh al-Qaradhawi juga mengajak para penguasa Arab dan umat Islam untuk menunjukan solidaritas terhadap ahlussunnah di Suria.

Muktamar  yang diadakan untuk membantu Suria tersebut diprakarsai oleh  bebebrapa lembaga Islam Internasional seperti al-Ittihad ‘Alami Li ‘Ulama Muslimin, Rabithah Ulama Muslimin, Rabithah Ulama Ahlussunnah, dan lembaga Islam lainnya. Salah satu keputusan muktamar ini adalah seruan agar segera diberangkatkan kafilah da’wah dan jihad ke Suria.

Muktamar yang mengambil tema “Sikap dan Peran Ulama Umat terhadap Masalah Suria” ini dihadiri pula oleh Dr. Muhammad ‘Arifi, Dr.’Imad ‘Abdul Ghafur (staf presiden Mesir), Syekh ‘Abdullah Syakir (ketua Jam’iyyah Ansharussunnah al-Muhammadiyah, Syekh Abdurrahman ‘Abdul Khaliq (pendiri madrasah Salafiyah di Mesir), dan ulama-ulama lain dari berbagai penjuru dunia Islam, termasuk dari Indonesia yang diwakili oleh Ustad Harman Tajang Lc (WI) dan ustad Farid Ahmad Oqbah, Lc, MA (MIUMI). (diolah dari almoslim.net/sym).

Rabu, 04 Mei 2011

Dr. Jerald F. Dirks, Kepala Gereja Methodis yang Akhirnya Memilih Islam

"Kenangan di awal masa kecil saya adalah mendengar suara lonceng gereja sebagai panggilan misa pada hari Minggu pagi, di sebuah kota kecil dan terpencil tempat saya dibesarkan. Gereja Methodis itu sudah tua, bangunannya terbuat dari kayu, dilengkapi dengan menara yang diatasnya terdapat lonceng gereja. Jaraknya cuma dua blok dari rumah saya. Ketika lonceng gereja berbunyi, kami sekeluarga berangkat ke gereja untuk mengikuti misa setiap hari Minggu pagi,"
Dr Jerald F. Dirks mengenang kembali masa kecilnya, mengawali kisahnya sebelum menjadi seorang muslim.

Di tahun 1950-an. gereja menjadi pusat kehidupan warga di kota-kota terpencil. Sejak kecil sampai kelas delapan, Dirks rutin mengikuti sekolah Alkitab yang diselenggarakan setiap bulan Juni, selama dua minggu. Ia juga tetap rajin datang ke gereja untuk mengikuti misa setiap Minggu pagi, dilanjutkan dengan sekolah Minggu. Dirks kecil mengumpulkan banyak pin sebagai tanda kerajinannya hadir setiap minggu dan mendapat sejumlah penghargaan karena mampu menghapal isi Alkitab.

Ketika Dirks duduk di bangku SMP, gereja Menthodis di kota tempatnya tinggal ditutup, sehingga ia dan keluarganya pindah ke gereja Methodis di kota lain yang terdekat. Gereja itu lebih besar sedikit dibandingkan gereja di kotanya. Pada masa itulah, Dirks mulai merasa terpanggil untuk menjadi pastor dan mulai memusatkan perhatiannya untuk mengabdi pada gereja.

Dirks yang mulai berangkat remaja aktif dalam organisasi Methodist Youth Fellowship, yang mengantarnya menjadi salah satu pengurus konferensi dan ketua distrik. "Saya juga menjadi 'penceramah' tetap dalam acara tahunan Youth Sunday," kata Dirks.

Aktivitas khutbahnya mulai menarik perhatian masyarakat luas. Dirks memberikan khutbahnya di berbagai tempat, selain di gereja. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi mahasiswa di Harvard College. Tekadnya menjadi pastor sudah bulat. Oleh sebab itu, ia juga mendaftarkan diri ke kursus perbandingan agama yang berlangsung selama dua semester. Pengajar kursus itu adalah Wilfred Cantwell Smith, yang memiliki spesifikasi sebagai pakar Islam.

"Selama kursus, saya tidak terlalu perhatian pada Islam dibandingkan perhatian saya pada agama lain, seperti Hindu dan Budha. Kedua agama yang saya sebut terakhir terlihat lebih mempengaruhi batin dan masih asing buat saya," tutur Dirks.

"Sebaliknya, Islam terlihat mirip dengan agama Kristen yang saya anut. Karenanya, saya tidak terlalu konsentrasi penuh pada Islam. Tapi, saya masih ingat tugas karya tulis tentang konsep wahyu dalam Al-Quran. Untuk memenuhi tuntutan dan standar kursus yang ketat, saya berhasil menemukan sebuah perpustakaan dimana terdapat sekitar 12 buku tentang Islam, yang semuanya ditulis oleh penulis non-Muslim. Saya juga menemukan dua terjemahan berbeda dalam bahasa Inggris tentang arti Al-Quran," sambung Dirks.

Di Harvard ia dijuluki "Hollis Scholar" karena Dirks menjadi salah satu calon mahasiswa teologi yang selalu diperhitungkan di akademinya. Ia lalu menjadi pastor muda di United Methodist Church, dan tak berapa lama kemudian mendapat lisensi sebagai pastor dari gereja tersebut.

Dirks lulus dari Harvard College tahun 1971. Ia lalu mendaftarkan diri ke Harvard Divinity School dan mendapat gelar Master of Divinity pada tahun 1974, setelah sebelumnya ditahbiskan masuk dalam jajaran kepastorang United Methodist Churc. Selama menyelesaikan pendidikan seminarinya, Dirks juga menyelesaikan program pendidikan untuk menjadi rohaniwan di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston. Setelah itu, ia bertugas sebagai pastor di dua gereja United Methodist di daerah terpencil di Kansas, selama beberapa tahun.

Menerima Islam

Dirks mulai berminat pada Islam setelah ia berkenalan dan berinteraksi dengan sejumlah orang Arab Amerika yang kebetulan muslim, untuk keperluan menerjemahkan dokumen-dokumen bahasa Arab, karena pada saat itu Dirks dan istrinya sedang melakukan riset tentang sejarah kuda Arab.

Kontak pertamanya adalah seorang muslim bernama Jamal pada suatu musim panas di tahun 1991. Untuk membantu menerjemahkan dokumen berbahasa Arab, Jamal datang ke rumah Dirks. Sore hari, ketika akan pulang, Jamal meminta izin menggunakan kamar mandi di rumah Dirks untuk berwudu karena sudah tiba waktu salat. Jamal lalu mengambil meminta lembaran koran yang digunakannya sebagai sajadah.

"Tanpa saya sadari, ketika itu Jamal sebenarnya sudah mempraktekkan dakwah. Ia tidak mengomentari fakta bahwa kami non-Muslim, dia tidak ceramah apapun tentang agamanya pada kami. Dia hanya memberi contoh pada kami," ujar Dirks.

Hampir satu setengah tahun berinteraksi dengan Jamal. Jamal tidak pernah menceritakan apapun tentang Islam atau bertanya tentang agama Dirks. Sebaliknya, Dirks justru mulai belajar dari Jamal, bagaimana ia salat tepat waktu, bagaimana ia berperilaku dalam berbisnis maupun bersosialisasi, dan terutama cara Jamal berinteraksi dengan dua anaknya.

Lewat Jamal, Dirks mulai berkenalan dengan keluarga Arab muslim lainnya. Dirks memperhatikan bagaimana keluarga-keluarga muslim itu menerapkan etika yang menurut Dirks, lebih tinggi dibandingkan etika yang diterapkan oleh keluarga-keluarga Amerika.

Setelah menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan keluarga muslim, tahun 1992, Dirks mulai menanyakan pada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang serius, dimanakah ia dan apa yang ia lakukan. Desember 1992, Dirks mengakui bahwa ia tidak menemukan pertentangan antara keyakinan religiusnya dengan ajaran Islam. Dirks merasa siap untuk mengakui bahwa Tuhan itu Esa dan mengakui Nabi Muhammad Saw. Ia menyingkirkan buku-buku tentang Islam yang ditulis penulis non-Muslim dan mulai membaca terjemahan Al-Quran. Tapi ia masih ragu-ragu untuk membuat keputusan.

Bulan Maret 1993, Dirks dan istrinya liburan ke Timur Tengah. Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia dan istrinya memutuskan untuk mencoba ikut berpuasa. Dirks bahkan ikut salat dengan teman-teman muslim yang baru ia kenal selama menikmati liburan itu.

Akhirnya, sekembalinya dari Timur Tengah, Dirks dan istrinya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menjadi muslim, Dirks memperdalam pengetahuannya tentang Islam antara lain di Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Arab Saudi pada tahun 1998. Tahun 1999. Dirks menunaikan ibadah umrah dan haji.

Sekarang, Dirks yang dikenal dengan nama Islam "Abu Yahya" menjadi salah satu cendekiawan muslim yang banyak menulis artikel dan buku tentang keagamaan. Ia juga menjadi memberikan kuliah tentang Islam di beberapa perguruan tinggi di AS, serta aktif dalam organisasi muslim di AS seperti ISNA, ICNA dan MAS. (http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/mantan-kepala-gereja-methodis-memilih-memeluk-islam.htm)

Sabtu, 12 Februari 2011

Islam Naik Daun di Kalangan Etnis Latin di Amerika Serikat

Pada suatu hari musim panas tahun lalu, Stefani Perada, gadis keturunan Latin (hispanik), tampil beda. Tak seperti teman-temannya yang memakai baju potongan pendek demi menghindari hawa panas, perempuan pekerja di West New York, NJ, ini justru mengenakan baju panjang, plus penutup kepala. Ya, dia memutuskan berjilbab setelah bersyahadat beberapa waktu sebelumnya.

Perada, 19, yang masuk Islam lebih dari setahun yang lalu, masih berusaha untuk menyesuaikan diri kepada kebiasaan tertentu. Berjilbab di musim panas, bukan tanpa tantangan baginya.

"Saya masih mempertimbangkan bagaimana teman dan keluarga akan melihat saya," katanya. "Mereka melihat kita seperti," Mengapa dia mengenakan itu, bukankah begitu panas'."

Tapi, katanya, ia beranikan diri untuk berubah. "Saya melakukan ini untuk Tuhan, dan suatu hari saya akan diberi imbalan atas apa yang saya lakukan."

Ada keuntungan langsung mengenakan jilbab, katanya. "Tidak dilecehkan oleh laki-laki sebanyak ketika sebelum berjilbab saat berjalan di jalan."

Perada tidak sendirian sebagai perempuan Hispanik yang menjadi mualaf. Jumlahnya kini cukup banyak, namun tak ada angka resmi yang menyebutkan. Pasalnya, Biro Sensus Amerika Serikat tidak mengumpulkan informasi tentang agama.

Namun, menurut perkiraan yang dilakukan oleh organisasi Islam nasional seperti Dewan Hubungan Islam Amerika (CAIR) dan Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) kini ada sekitar 40 ribu Latino Muslim di Amerika Serikat.

Demikian juga, sulit untuk mengetahui berapa jumlah pria dan wanita Latin yang kini menjadi mualaf. Tapi, menurut survei yang dilakukan oleh Latino American Dawah Organization (LADO), yang misinya adalah untuk mempromosikan Islam dalam komunitas Latin di Amerika Serikat, jumlah Latino yang memeluk Islam sedikit lebih banyak kaum perempuan dibanding laki-laki, dengan persentase 60:40.

Juan Galvan, kepala LADO di Texas dan salah satu penulis laporan "Muslim Latino: The Mengubah Wajah Islam di Amerika," menjelaskan bahwa angka-angka itu tidak ilmiah, namun berdasarkan hasil survei sukarela yang telah dilakukan di situs LADO sejak tahun 2001.

"Dari pengamatan dan pengalaman angka-angka tersebut benar," kata Galvan. "Dari pengalaman pribadi saya, ada pasti lebih Latina Muslim daripada pria Latino."


Di banyak masjid di AS, etnis Latin mendominasi. Di Islamic Education Center of North Hudson misalnya, dari 300 orang yang beryshadat menjadi Muslim tahun lalu, 80 persennya adalah etnis Latin.

Secara keseluruhan, kata Peter AWN, seorang profesor studi Islam di Universitas Columbia, tidak ada keraguan bahwa jumlah mualaf Latin sedang berkembang.

Louis Cristillo, seorang antropolog yang berfokus pada pendidikan Islam di Columbia University, menunjukkan ada beberapa indikator yang mencerminkan tren pertumbuhan Latin memeluk Islam.

Sebagai contoh, ada sejumlah organisasi regional dan nasional yang melayani Latino Muslim, dan bahkan ada kelompok-kelompok pendukung yang dapat ditemukan di dunia maya khusus untuk Latino yang ingin bertobat. Ia menyebut satu contohnya, yaitu www.hispanicmuslims.com dan latinodawah. org.

Bahkan, akhir pekan lalu, Latino Muslim di negara ini merayakan tahunan ketiga Hispanic Muslim Day dengan kegiatan yang berbeda sepanjang hari.
sumber : Republika

2030 Diprediksi Muslim Eropa Mencapai 73 Juta

Mengacu pada kecenderungan yang terus berkembang pesat, diperkirakan populasi muslim di Eropa pada 2030 mencapai 73 juta. Demikian disampaikan pemimpin Partai Nasional Filip Dewinter. Pernyataan yang disampaikan pada Rabu (9/2) kemarin itu juga sekaligus pesan kepada agama di Eropa.

Berbicara dalam sesi yang diselenggarakan Konferensi Perubahan Amerika di utara Carolina, Dewinter menyapaikan sebuah fakta dan angka di balik pencapaian itu, yang disebutnya sebagai 'gelombang pasang Muslim yang menyapu Eropa.' "Dalam beberapa periode ketika tingkat kelahiran Eropa mengalami penurunan yang sangat signifikan hingga ke fase pergantian. populasi Muslim justru semakin meningkat, dan kemungkinan bakal mencapai 73 juta pada 2030 mendatang," bebernya.

"Diterimanya Turki menjadi salah satu anggota dari Uni Eropa diperkirakan bakal menambah jumlah Muslim Eropa menjadi 80 juta," tambah Dewinter.

Ia juga mengkritik model multikulturalisme saat ini yang banyak diterapkan beberapa negara di Eropa, yang ia nilai tak ubahnya, "seperti menyerang identitas nasional layaknya perjalanan AIDS menyerang sistem kekebalan tubuh," ungkapnya menganalogikan. Tak lupa, ia juga menyandingkan perkembangan pesat populasi Muslim bagaikan meninggalkan ketahanan Eropa ketika melawan invasi budaya.

Salah satu bagian yang paling mengganggu percakapan adalah pernyataan dari kaum muslim sendiri, dan salah satu dari Abu Imran, salah satu pemimpin Muslim paling terkemuka di Belgia. "Kami tidak akan istirahat, sampai Eropa menjadi negara Islam atau menganut syariat Islam. Dan kami akan berbaris menuju Gedung Putih dan Vatican. Kami akan melanjutkan janji Nabi kami tercinta. Dengan jalan yang damai, tetapi kami akan terus melanjutkan hingga Tuhan memberikan kemenangan," bebernya.
sumber :Republika

Ajarkan Etika Menutup Aurat Sejak Dini

Sekolah Menengah Moderen Dubai mengajarkan murid-muridnya di kelas taman kanak-kanak untuk menjaga tubuh mereka, termasuk bagian paling pribadi, dengan cara menutupi, menjaga kebersihan dan keamanannya.

Dalam selebaran yang dibagikan, dikatakan bahwa sesi "keamanan pribadi" akan diadakan secara bergantian di ruang-ruang kelas bagi murid taman kanak-kanak. Bagian pertama pertemuan itu akan mengajarkan anak tentang keamanan diri.

"Alasan mengapa sebagian tubuh ditutupi adalah karena itu merupakan bagian yang sangat penting, sangat peka dan bisa terluka jika tidak ditutupi. Misalnya: mengapa jantung itu tersembunyi ... itu mengapa alat kelamin/bagian-bagian pibadi ... juga ditutupi," tulis selebaran itu.

Di situ juga tertulis, nama-nama alat kelamin disebutkan secara jelas untuk mengurangi kecanggungan atas bagian-bagian tubuh yang intim. Mitos yang menyebut bahwa bagian-bagian intim itu adalah "memalukan" dan "menjijikkan" juga dijernihkan.

Aman dan tidak aman

Anak-anak diajarkan bahwa bagian intim dari tubuhnya boleh disentuh hanya ketika mandi dan selesai buang hajat, oleh orangtua, guru atau pengasuh lainnya seperti perawat dan bibi mereka.

Anak-anak juga diajarkan untuk tidak pernah telanjang bulat di depan orang selain mereka (orangtua, guru dan pengasuh) dan tidak menunjukkan atau menyentuh organ intimnya meskipun saat bermain.

Metode yang digunakan untuk menjelaskan masalah tersebut antara lain lewat boneka, permainan peran dan diskusi. Sentuhan yang aman dan tidak aman dibicarakan. Sentuhan aman misalnya tepukan di punggung, tos tangan, dan bersalaman. Sedangkan sentuhan yang tidak aman misalnya tepukan atau sentuhan di pantat, dada, ciuman di bibir dan menggelitik.

Di bagian tubuh mana anak-anak disentuh dan "apa rasa yang ditimbulkan dari sentuhan itu" juga dibicarakan. Hal itu untuk menjelaskan mana sentuhan yang aman-aman saja dan mana yang tidak.

Dalam catatan untuk orangtua yang terdapat dalam selebaran ditulis, jika anak mengalami sentuhan yang tidak aman, maka mereka harus berkata "hentikan--saya tidak suka" dengan suara keras dan menjauh dari keadaan yang demikian, serta segera memberitahukan orangtua, guru atau orang dewasa lain yang ada di sekitarnya.

Menurut Dr R. McCarthy, psikolog di Klinik Konseling dan Perkembangan di Dubai, secara umum anak usia taman kanak-kanak terlalu muda untuk pelajaran seks, yang jika diajarkan bisa merusak keluguan mereka. "Kita harus berhati-hati dalam mengajarkan mereka tentang apa yang aman dan yang tidak," ujarnya.

Pada pertengahan Januari lalu, orangtua seorang siswa berusia empat tahun menduga anaknya mendapatkan pelecehan seks dari sopir bus sekolah dan dua kondekturnya. Kasus ini menjadi salah satu latar belakang mengapa anak-anak TK itu diajarkan untuk menjaga aurat mereka.*
Sumber :http://www.hidayatullah.com/read/15305/11/02/2011/murid-tk-dubai-diajari-menjaga-aurat.html

Rabu, 02 Februari 2011

Kota Italia Larang Cadar

Sebuah kota kecil di Italia telah melarang wanita dari mengenakan burqa dan penutup wajah/cadar, sehingga pertama kali undang-undang seperti itu telah berlaku di negeri ini.

Sesto San Giovanni, sebuah kota kecil di pinggir Milan, telah menjadi berita utama nasional setelah memutuskan untuk melarang wanita dari mengenakan burka, seorang koresponden Press TV melaporkan.

Chabani Ibrahim dari Islamic Center kota mengatakan dia tidak tahu mengapa pemerintah daerah memutuskan untuk menyetujui larangan tersebut.

"Kami memiliki keprihatinan nyata tentang posisi gerakan ini dmenjadi prioritas dewan kota karena ada banyak masalah lain yang perlu pemecahan di kota ini," katanya kepada Press TV.

"Hanya ada beberapa wanita yang mengenakan burqa dan Anda hampir tidak pernah melihat mereka di jalan-jalan. Pada saat yang sama, terdapat hampir 6.000 Muslim yang tidak memiliki tempat untuk mempraktekkan iman mereka sehari-hari, "tambahnya.

Ide ini awalnya diusulkan oleh seorang anggota dewan perempuan dari Liga Utara dari partai kanan-jauh. Alessandra Tabacco berpendapat bahwa ada hukum di Italia yang mengatakan orang harus mengidentifikasikan diri karena terkait dengan masalah keamanan.

Mereka yang paling terpengaruh oleh keputusan itu merasa bahwa peraturan tersebut adalah serangan yang tidak adil dan penentangan terhadap kebebasan mereka berekspresi.

Setiap orang harus menghormatinya dengan cara yang sama seperti kami menghormati agama orang lain," kata seorang wanita Muslim.

Sementara itu masih ada kelompok-kelompok keagamaan di Italia yang merasa terpinggirkan karena permintaan mereka berulang kali untuk fasilitas yang memadai untuk tempat ibadah mereka terus-menerus ditolak.

Perancis memperkenalkan hukum serupa pada bulan September 2010, tapi secara luas mendapat kecaman.(fq/prtv/www.eramuslim.com)

Minggu, 02 Januari 2011

ISLAM DI AZERBAIJAN

Dua tahun belakangan ini pemerintah Azerbaijan menutup semua masjid Sunni di negara itu. Misalnya saja pemerintah menutup Masjid Turki yang ada di ibukota. Mereka juga menutup masjid-masjid lainnya di pinggiran kota. Di sekolah, jilbab juga dilarang. Ratusan orang Muslim dipenjarakan dan disiksa.

Bagaimana sebenarnya Islam di Azerbaijan? Menurut Pew pada tahun 2009, sekitar 99,2 persen penduduk Azerbaijan adalah Muslim. Ketaatan agama di antara pemeluknya memang bervariasi dan identitas Muslim cenderung lebih didasarkan pada budaya dan etnis bukan agama, namun sejak tahun 2003, dilaporkan banyaknya imam di masjid-masjid.

Sejarah dan perkembangan Islam di Azerbaijan

Islam tiba di Azerbaijan seiring dengan kedatangan bangsa Arab pada abad ketujuh, secara bertahap menggantikan Kristen dan sekte kafir Azerbaijan. Karena pengaruh dari Iran, banyak orang Azerbaijan yang sebenarnya penganut Syiah. Penegakan Syiah sebagai agama negara membawa pertarungan dengan kaum Sunni yang berkuasa.

Pada abad kesembilan belas, banyak Sunni Muslim beremigrasi dari Azerbaijan yang dikontrol Rusia. Dengan demikian, pada akhir abad kesembilan belas, penduduk Syiah menjadi mayoritas di Azerbaijan. Antagonisme antara Sunni dan Syiah berkurang pada akhir abad kesembilan belas.

Ada pula komunitas Yahudi kecil di Azerbaijan. Ada tiga sinagog di Baku dan beberapa di propinsi lainnya.

Walaupun mayoritas Islam, namun seperti negara berpenduduk Muslim lainnya, Azerbaijan adalah negara sekuler. Sebuah survey memperkirakan bahwa yang ateis di negara ini mendekati 7 persen.

Sebelum Soviet berkuasa, sekitar 2000 masjid aktif di Azerbaijan. Kebanyakan masjid ditutup pada 1930-an, dan beberapa diizinkan untuk tetap buka selama Perang Dunia II.

Pada tahun 1980 hanya dua masjid besar dan lima lebih kecil di Baku. Menurut sumber Soviet, selama tahun 1970-an, sekitar 1.000 rumah akhrinya digunakan sebagai tempat salat secara sembunyi-sembunyi. Selama Perang Dunia II, pemerintah Soviet mendirikan Dewan Muslim Spiritual Transkaukasia di Baku sebagai badan Islam di Kaukasus, namun pada dasarnya menghidupkan kembali tsaris Dewan Muslim Gerejawi abad kesembilan belas.

Dimulai pada periode akhir Gorbachev, dan terutama setelah kemerdekaan, jumlah masjid meningkat secara dramatis. Politisi sekuler di Azerbaijan telah menyuarakan keprihatinan mengenai kebangkitan Islam politik, tetapi yang lain berpendapat bahwa Islam di Azerbaijan adalah fenomena multifaset; Islam hanya memainkan peran yang sangat terbatas dalam bidang politik dan hanya sebagian kecil dari penduduk mendukung gagasan untuk mendirikan pemerintah Islam. Hal ini disebabkan tradisi panjang sekularisme di Azerbaijan.

Namun, menurut beberapa analis, pada jangka panjang, jika politisi tidak mampu meningkatkan kondisi kehidupan sebagian besar rakyat, rakyat Azerbaijan akan memilih Islam sebagai jalan pemerintahannya. (sa/islamicawakening/wikipedia/http://www.eramuslim.com/)

Minggu, 05 Desember 2010

Kurang Kerjaan, Syaikh Qardhawi Puji Qatar Jadi Tuan Rumah Piala Dunia

Seorang ulama Islam terkemuka mengatakan bahwa dirinya sangat gembira bahwa Qatar berhasil mengalahkan Amerika Serikat untuk memperebutkan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama terkemuka tersebut mengatakan hal itu kepada para jamaah di Doha bahwa ia "penuh dengan rasa sukacita" setelah badan sepak bola FIFA resmi memilih Qatar pada Kamis lalu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 mengalahkan AS dan tiga kandidat negara lainnya.

Khutbah Jumat Syaikh Al-Qardhawi tersebut langsung dikutip oleh koran-koran Qatar Sabtu lalu.

Ulama terkemuka ini mengatakan Qatar berhasil merendahkan Amerika Serikat, yang ia klaim berusaha untuk mendominasi setiap aspek dari urusan dunia. Syaikh Al-Qardhawi dianggap sebagai ulama "moderat" oleh sebagian kalangan.

Presiden Barack Obama sendiri mengatakan pemilihan Qatar sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 adalah "keputusan yang salah."

Namun para pemimpin Arab menyebut terpilihnya Qatar merupakan sebuah langkah terobosan yang akan mengubah persepsi orang terhadap Timur Tengah.

Namun ada yang harus menjadi catatan, perlehatan piala dunia di Qatar tidak akan merubah apapun persepsi barat terhadap negara-negara Islam dan Islam itu sendiri. Dan komentar Syaikh Al-Qardhawi terkait piala dunia, merupakan komentar yang tidak perlu dari seorang ulama terkenal seperti dirinya, karena masih banyak hal-hal urgensi yang lebih layak untuk dikomentari oleh seorang ulama seperti Syaikh Qardhawi daripada memuji Qatar menjadi tuan rumah piala dunia. Wallahu a'lam.(fq/abc).http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kurang-kerjaan-syaikh-qardhawi-puji-qatar-jadi-tuan-rumah-piala-dunia.htm

Selasa, 23 November 2010

Warga Palestina Diusir dari Rumahnya di Yerusalem Timur


Pasukan polisi Israel pada Selasa kemarin (23/11) mengusir keluarga Palestina dari rumah mereka di sekitar Yerusalem Timur Jabil Mukabir, setelah aktivis sayap kanan Israel mengklaim telah membeli bangunan rumah itu.

Kelompok nirlaba Elad, yang campur tangan atas nama pemukim, mengatakan bahwa keluarga Palestina itu telah setuju untuk mengungsi setelah menjual rumah mereka.

16 penghuni rumah mengatakan bahwa penjualan adalah terlarang pada saat nama pemilik rumah yang tertulis dalam kesepakatan sudah tidak lagi hidup. Mereka juga mengklaim bahwa pemilik meninggalkan rumah untuk keluarganya.

Sekelompok besar pasukan polisi berada di lokasi untuk memantau situasi, namun tidak ada kekerasan dilaporkan.

Rumah tersebut dibeli oleh kelompok Investasi Wohl. Para aktivis sayap kiri Israel menuduh kelompok ini sebagai pelayan ujung tombak dari perusahaan untuk Elad dalam merampas properti milik warga Palestina di Yerusalem Timur.

Asosiasi Elad telah beroperasi di Yerusalem Timur selama sekitar 20 tahun. Mereka telah berhasil memperoleh dan menerima banyak properti milik warga Palestina di Kfar Silwan, yang berdekatan dengan Kota tua Yerusalem, dan mengelola taman nasional di Kota Daud atas nama negara.

Dalam beberapa tahun terakhir, asosiasi ini telah menginvestasikan banyak jutaan uang untuk membiayai penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Otorita Purbakala di Silwan. Warga Palestina di Silwan mengecam hal itu dengan mengatakan bahwa Elad telah "mengambil alih" bagian substansial dari desa mereka. (fq/hrzt).http://www.eramuslim.com/berita/palestina/warga-palestina-diusir-dari-rumahnya-di-yerusalem-timur.htm


Senin, 15 November 2010

Dua Pemuda Afsel Berhaji dengan Bersepeda

Mekah, Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan.

“Mengayuh sepeda ke Kerajaan dari Cape Town adalah pengalaman yang melelahkan. Kami melakukan perjalanan dengan cara ini sehingga kita siap untuk menjalani kerasnya ibadah haji,” kata Cairncross, yang berprofesi sebagai perencana kota, sepeti dikutip arabnews.com.

Di Cape Town mereka kuliah hukum Islam di sebuah universitas. Cairncross hobi berselancar angin, Haron hobi kickboxing dan mendaki gunung. Cairncross kemudian kursus perencanaan kota yang kemudian mengantarnhya kepada dunia kerja. Mereka mengaku bahagia begitu tiba di perbatasan Arab.

Mereka memulai perjalanan pada 7 Februari 2010. Ini adalah perjalanan haji pertama mereka. “Kami bisa naik pesawat, tapi kami menghargai perjalanan yang berbeda. Jadi kami memilih menggunakan sepeda kami. Bersepeda adalah kegiatan yang paling kami sukai,” kata Cairncross.

Senja tiba, mereka akan mencari masjid atau memasang untuk beristirahat. Selepas Subuh, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Selama perjalanan, Selama perjalanan,eka menemukan orang-orang yang ramah dan menyambut baik mereka. Orang-orang salut atas perjalanan haji mereka. Tawaran makan pun berdatangan selama di perjalanan

Mereka membawa bekal yang minim. Tawaran bantuan uang pun berdatangan kepada mereka. Di perbatasan Arab, petugas keamanan juga menyambut ramah dua jamaah yang harus pula turun naik pegunungan dengan mengayuh sepeda. Melewati sembilan negara selama sembilan bulan, mereka sering mengganti ban dan memperbaiki rantai sepeda.

Masalah bahasa sedikit menjadi kendala dalam perjalanan mereka. Tapi, mereka bisa mengatasinya. Selesai berhaji, mereka akan pulang melalui Afrika Barat. mch/Riyanto (RoL/ut)
sumber :http://www.dakwatuna.com/2010/dua-pemuda-afsel-berhaji-dengan-bersepeda/