Tampilkan postingan dengan label Nasihat Salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat Salaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

Tiga kewajiban Seorang Muslim Terhadap al-Qur’an

Syekh. Prof. Dr. Nashir ibn Sulaiman al-‘Umar
(Sekretaris Jenderal Ikatan Ulama Muslim Sedunia & Ketua Lembaga Tadabbur al-Qur'an Internasional) 
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya, Amma ba'du.

Sungguh, seorang Muslim tentu menyadari bahwa al-Qur’an merupakan firman yang diturunkan oleh Allah. Seorang Muslim juga menyadari bahwa mengagungkan al-Qur’an merupakan bentuk pengagungan terhadap Dzat Yang Berfirman (yakni Allah Ta’ala). Di samping Seorang Muslim juga menyadari bahwa ia memiliki kewajiban terhadap al-Qur’an saat membaca dan berinteraksi dengannya. Diantara kewajiban tersebut antara lain:

Pertama; Mewujudkan keikhlasan dan menghadirkan niat ketika berinteraksi dengan al-Qur’an

Saat membaca, menghafal, mendengarkan atau mengamalkan al-Qur’an, seorang Muslim Wajib menghadirkan niat yang tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. al-Bayyinah: 5).

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Umar bin al-Khaththab radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam telah bersabda:

إِنَّمـَاَ الأَعْمَــالُ بِالنِّــيَاتِ، وَإِنَّمَاَ لِكُلِّ امْرِيءٍ مَاَ نَوَى

"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan memperoleh balasan sesuai niatnya."

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhuma, bahwa beliau bersabda, “ Seseorang sanggup menghafal sesuai dengan kadar niatnya”. Maksudnya, seseorang mendapatkan pahala dari yang dihafal, tergantung dari niatnya yang baik. Inilah yang akan memberikan manfaat baginya.
Para ulama menjelaskan bahwa orang yang membaca dan belajar Al Qur'an, tidak boleh menjadikan ibadah tersebut sebagai jalan untuk menggapai tujuan-tujuan duniawi. Baik wujudnya berupa harta, jabatan, pangkat, kedudukan terhormat di tengah-tengah kerabatnya, pujian orang-orang, menarik perhatian orang lain, dan sejenisnya.

Para salaf rahimahumullah sangat antusias untuk menjaga kesucian niat mereka ketika melakukan ketaatan, terlebih lagi saat berinteraksi dengan al-Qur’an. Mereka  berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengotori niat mereka dengan noda apapun, baik berupa sum’ah (ingin amalnya didengar orang lain, pent) ataupun riya. Salah satu contohnya adalah kisah tentang Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah, jika beliau berbicara atau membaca al-Qur’an dan hatinya tersentuh hingga meneteskan air mata, maka beliau khawatir terjatuh ke dalam riya, beliau mengusap wajahnya lalu berkata: "betapa berat demam ini". Ibrahim An-Nakha'i jika membaca mushaf, lalu ada orang yang masuk menemuinya, beliau menyembunyikan mushafnya.

Mereka tidak mengenal perilaku yang dibuat-buat bahkan tidak terlintas dalam benak mereka. Perbuatan baik sudah menjadi karakter mereka. Beginilah, tabiat orang-orang yang ikhlas.
Faktor utama yang membantu mereka mewujudkan makna ikhlas dalam interaksi mereka dengan Al Qur'an adalah keyakinan mereka bahwa ketika mereka membaca Al Qur'an, pada hakikatnya sedang berkomunikasi dan bermunajat dengan Rabb (Tuhan)nya.

Kedua, Mengagungkan al-Qur’an
Mengagungkan firman Allah merupakaan ciri orang-orang saleh, baik pada umat ini maupun umat-umat terdahulu. Pengaruhnya tercerminkan dalam diri mereka. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا [١٧:١٠٧]

"Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud." (QS.  Al Israa': 107).

Hal ini hanya terjadi pada orang yang Allah karuniai hati yang terbuka terhadap berbagai makna yang Allah firmankan. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ [٢٢:٣٢]

"Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa yang mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al Hajj: 32)

Ini merupakan nikmat agung yang tidak diperoleh kecuali oleh orang yang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan hidayah-Nya. Sebagaimanaa firman Allah:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا [١٩:٥٨]

"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (QS. Maryam: 58).

Sikap mengagungkan Al-Qur’an menuntut seseorang untuk memiliki adab terhadap al-Qur’an, antara lain:

Pertama; Mengagungkan al-Qur’an bermakna mengagungkan perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya dengan menjaganya dari distorsi orang-orang berlebihan, pengrusakan orang-orang yang menyebarkan kebatilan dan ta’wil orang-orang yang jahil.

Kedua, Menjaga adab saat membaca al-Qur’an. Hendaknya seseorang membaca al-Qur’an dalam keadaan suci secara lahir dan batin. Membersihkan mulut, badan, dan pakaiannya. Hendaknya tempat membaca al-Qur’an benar-benar bersih dan suci. Sangat dianjurkan membaca dengan menghadap qiblat dengan khusyu’ dan tenang.

Ketiga, Mengagungkan para pengemban al-Qur’an.
Diriwayatkan bahwa Umar ibn al-Khaththab berkata kepada Nafi’ ibn Abdul harits saat menemuinya di Usfan. Saat itu Umar menunjuknya sebagai gubernur Mekkah. Umar bertanya kepadanya; "Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin untuk penduduk Wadi?" Dia menjawab; "Aku angkat untuk mereka Ibnu Abza." Umar bertanya; "Siapa Ibnu Abza?" Dia menjawab; "Dia adalah salah seorang dari hamba sahaya kami." Umar berkata; "Kamu angkat untuk mereka seorang budak?" Dia menjawab; "Sesungguhnya dia seorang yang hafal Al Qur'an dan pandai dalam masalah fara`idl (warisan)." Maka Umar berkata; "sesungguhnya Nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: ”Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab [al-Qur’an] ini dan menghinakan kaum yang lain in dengan al-Qur’an ini pula. (HR. Muslim, 1/559. No. 817).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Sesungguhnya termasuk sikap mengagungkan Allah adalah memuliakan orang yang sudah beruban (orang tua) muslim, memuliakan ahli Qur’an dengan tidak berlebihan dan tidak menyepelekannya, dan memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud, 2/677. No.  4846. Dihasankan oleh Al Albani).
Bahkan Allah mengagungkan kitabnya dalam banyak ayat, diantaranya;

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [١٥:٨٧]

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.  (QS. Al Hijr: 87).

ص ۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ [٣٨:١]

Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.  (QS. Shad: 1)

ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [٥٠:١]

Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia.  (QS. Qaf:1)

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [٥٦:٧٧]فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ [٥٦:٧٨]لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ [٥٦:٧٩]تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ [٥٦:٨٠]

Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),  tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.  Diturunkan dari Rabbil 'alamiin.  (QS. Al Waqi'ah: 77-80)

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ [٨٥:٢١]

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia,  (QS. Al-Buruj: 21)
dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mengharuskan sikap ta'zhim terhadap Firman Rabbul ‘alamin.

Ketiga; Tadabbur dan tafakkur Makna-Makna al-Qur’an

Siapa yang membaca dan menyimak tapi tidak mentadaburi, boleh jadi al-Qur’an akan menjadi hujjah atasnya. Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang yang seperti itu,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا [٤٧:٢٤]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”  (QS. Muhammad: 24).

Hasan al-Basri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang al-Qur’an sebagai surat dari Tuhan mereka, oleh karena itu mereka mentadaburinya pada malam hari dan mengamalkannya pada siang hari”

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Seorang pengemban al-Qur’an hendaknya dikenali [dengan shalatnya] pada waktu malamnya saat orang-orang sedang tidur, [dengan puasanya] pada siang hari saat orang-orang sedang makan, dengan sedihnya saat orang-orang bergembira ria, dengan tangisannya saat orang tertawa, dengan diamnya saat orang-orang berbicara dan dengan khusyu’nya saat orang-orang angkuh".

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Pengemban al-Qur’an adalah pembawa panji Islam, tidak sepantasnya ia bebuat sia-sia bersama orang yang berbuat sia-sia, tidak lalai bersama orang-orang yang lalai, tidak berkata  berbuat yang tidak bermanfaat seperti orang-orang yang berkata dan berbuat yang tidak bermanfaat. Sikap ini sebagai bentuk mengagungkan al-Qur’an.

Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah wahai Muslim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban penting terhadap al-Qur’an ini. Tentunya dengan mengikhlaskan niat kepada Allah saat tilawah atau menyimaknya, mengagungkan dan menghormati al Qur'an dan para pengembannya, mentadabburi dan memikirkan makna-maknanya, serta bersungguh-sungguh dalam merealisasikan dan mengamalkannya. (Diterjemahkan dari artikel Syekh Nashir dengan judul Tsalats Wajibat al-Muslim Ma’a al-Qur’an, yang dipublikasikan oleh http://www.almoslim.net/node/137355/ Sym)

Kamis, 23 Mei 2013

Tadabbur al-Qur’an dan Kebangkitan

Syekh. Prof.Dr. Nashir al-‘Umar  

Ketua Lembaga Tadabbur al-Qur’an Internasional

Al-Qur’an adalah solusi, sebuah slogan indah yang digaungkan oleh salah satu lembaga penghafal al-Qur’an. Sebuah slogan yang kelihatannya singkat dan sederhana, tetapi mengandung makna yang agung. Apatah lagi di tengan krisis yang dihadapi ummat ini secara umum dan negeri kita secara khusus, dimana musuh-musuh Islam baik dari luar maupun dari dalam membidik kita dari arah yang sama. Slogan ini menggambarkan dan merepresentasikan satu-satunya jalan keselamatan yang hakiki dari berbagai fitnah dan bencana.

Sungguh, akal sehat pasti membenarkan apa yang kami katakan. Sebelum menciptakan Adam, Allah ‘Azza Wa jalla berfirman kepada para Malaikat:
وَإذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".  (QS. Al Baqarah: 30).

Agar Adam dapat merealisasikan peran sebagai khalifah yang dibebankan kepadanya, maka ia mesti memiliki manhaj (pedoman)  yang diridlai oleh Dzat yang mengangkatnya sebagai khalifah di bumi agar ia dapat berjalan di atas manhaj tersebut. Oleh karena itu diantara konsekuensi dia diangkat oleh Allah sebagai khalifah, adalah Allah membimbingnya di atas manhaj ini. Allah Ta'ala berfirman: 
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [٢:٣٨]
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Al Baqarah: 38).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada bani Adam, bahwa Dia akan memberikan kepada mereka manhaj ini, kemudian Dia memerintahkan dan mendorong (targhib) mereka untuk mengikuti manhaj tersebut.

Oleh karena ummat ini merupakan umat yang terakhir, dan al-Qur’an merupakan kitab yang Allah turunkan kepada Nabi terakhir dan penghulu dari semua orang, maka kitab ini merupakan kitab terakhir dan  mengayomi kitab–kitab sebelumnya. Oleh karena itu sudah sewajarnya bila al-Qur’an menjadi menjadi petunjuk oleh Allah dan jalan keselamatan dari berbagai fitnah serta  menjadi panduan dalam meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sejalan dengan yang telah diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya:
 فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ [٢٠:١٢٣] وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤]  
Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha:123-124)

Sesungguhnya kemuliaan, kebangkitan, dan kejayaan bahkan eksistensi umat ini sebagai sebuah umat, ditentukan oleh seberapa dekat umat ini dengan al-Qur’an. Dekat dalam artian tidak sekadar membaca dan menghafalkannya. Tetapi dengan menadabburkan maknanya. Tadabbur dalam arti yang sesungguhnya sebagaimana dijelaskan oleh al-Allamah Abdurrahman as-Sa’diy rahimahullah, “Merenungkan maknanya (ta’ammul), merealisasikan fikrah yang terdapat di dalamnya dan segala konsekwensinya.  Termasuk diantara konsekwensi yang paling utama adalah mengamalkan isi kandungannya dan berhukum dengannya dalam seluruh aspek kehidupan, sebagaimana dituturkan oleh Imam Hasan al-Basri rahimahullah, “Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَاركٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ [٣٨:٢٩
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shad: 29).
Yang dimaksud dengan menadabburkan ayat-ayatnya adalah mengikuti petunjuk ayat tersebut. Wallahu a’lam.  Adapun yang dimaksud, bukan sekadar menghafal lafal nya lalu menyi-nyiakan batas-batasnya (ketentuan hukumnya). Sampai-sampai ada diantara mereka yang mengatakan, “Aku telah membaca al-Qur’an seluruhnya, aku tidak melewatkan satu  hurufpun. Namun, demi Allah dia telah melewatkan semua hukum-hukumnya. Engkau tidak melihat  al-Qur’an dalam dirinya mewujud dalam bentuk amal dan akhlaq.

Andaikan seseorang memulai tadabbur dengan surat al-Fatihah, maka tadabburnya akan membimbingnya ke arah ini. Sebagaimana ditunjukan oleh firman Allah dalam surah al-fatihah ayat 6-7:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ [١:٦]صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ [١:٧]
Tunjukilah kami jalan yang lurus,  (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah ayat:6-7).

Ayat ini menunjukan  bahwa kesengsaraan, kebinasaan dan kehancuran merupakan konsekwensi dari kemurkaan Allah dan kesesatan. Sebaliknya kebahagiaan, kebangkitan, kejayaan dan nikmat merupakan konsekwensi dari komitmen seseorang terhadap manhaj/jalan yang lurus yang dibawa sang penutup para nabi (nabi terakhir). Hal Inilah yg diisyaratkan oleh Allah dalam surat Thaha ayat 1-2:
طه [٢٠:١] مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ [٢٠
Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; (Thaha:1-2)

Salah satu perkara yang hampir disepakati oleh semua orang bahwa, siapa yang membuat sesuatu, maka ia-lah yang paling tahu tentang  sesuatu tersebut. Walillahil matsalul a’la (Untuk Allah, ada perumpamaan yang lebih baik dari itu). Dialah yang menciptakan segala sesuatu, menciptakan manusia dengan sempurna disertai segala perangkatnya, sebagaimana firman Allah dalam surat an-naml ayat 88.
صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ [٢٧:٨٨]
Begitulah) ciptaan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Semua problem  yang kita saksikan di negeri kaum Muslimin hari ini berupa kehinaan, kelemahan, kemunduran dan berbagai problem lainnya, disebabkan oleh jauhnya kaum Muslimin dari al Qur’an. Karena mereka tidak menadabburkan dan mengamalkan al-Qur’an. Oleh karena itu, kalau kita ingin keluar dari semua problem tersebut dan bangkit dari keterpurukan, maka kita harus menadabburkan dan mengamalkan al Qur'an. Dengan menadabburkan al-Qur’an, kita akan menemukan solusi dan jalan keluar dari problem-problem tersebut Allah Ta’ala berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ [١٦:٨٩
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. an-Nahl: 89).

Ini bukanlah perkataan siapa-siapa yang harus diuji dan diteliti (kebenarannya). Tetapi ia meruapakan firman Allah, Tuhan semesta alam yang harus diyakini oleh seluruh kaum Muslimin.

Sedangkan orang yang masih ragu, maka hendaknya merenungkan keadaan umat-umat terdahulu, sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam surat al-Maidah ayat 65-66:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ [٥:٦٥]وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِم مِّن رَّبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم ۚ مِّنْهُمْ أُمَّةٌ مُّقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ [٥:٦٦]
Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. (QS: Al-Maidah ayat 65-66).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa andaikan ahli Kitab menegakkan apa yang diturunkan oleh Tuhan kepada mereka niscaya mereka akan berbahagia di dunia dan di akhrat. Sebaliknya, tatkala mereka tidak menegakannya, maka Allah jadikan hati mereka berselisih, serta menyesatkan dan marah kepada sebagian yang lain diantara mereka. Jika, hal tersebut telah jelas, maka sudah pasti al-Qur’an menjadi jaminan untuk kebahagiaan, kemuliaan dan kebangkitan umat. Maka siapapun yang sungguh-sungguh dalam mencari/menginginkan kebangkitan, maka jalannya sudah jelas.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ [٥٠:٣٧
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (QS. Qaf: 37)  (Sumber: Diterjemahkan dari artikel beliau yang berjudul Tadabbur al-Qur’an wa an-Nah dhah, di  www.almoslim.net/node/150893/ /Syam)


Selasa, 21 Mei 2013

Tadabbur Al-Qur'an

Sungguh, Tadabbur al-Qur'an itu sangat urgen. Karena ia merupakan sebab kemuliaan (izzah) kita. tadabbur juga merupakan manhaj/metode nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berinteraksi dengan al-Qur'an dan mengajarkannya kepada para sahabat. Imam Malik rahimahullah berkata, "Generasi Akhir ummat ini tidak akan membaik, kecuali dengan mengikuti metode yang telah mejadikan generasi awal ummat ini membaik". Generasi awal membaik dan berjaya karena berpedoman pada al-Qur'an dan as-ssunah. Mentadabburi ma'na Qur'an dan Sunnah merupakan jalan untuk memperbaiki dengan keduanya. Tadabbur merupakan cara terbaik untuk mengakrabkan ummat dengan Qur'an dan Sunnah. Sebagaimana dalam sabdanya, "Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan kedua hal tersebut, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Dan tidak ada tamassuk (berpegang teguh dengannya) tanpa diawali dengan  pemahaman dan tadabbur. (Syekh Prof. Dr. Nashir bin Sulaiman al-'Umar/http://www.tadabbor.com/)

Kamis, 10 Maret 2011

Peliharalah Air Matamu

Saudaraku
Air muka kita adalah cermin hati.Dan tangisan yang muncul karena takut kepada Allah adalah tangisan paling tulus yang ditampikan dari kondisi jiwa.Dialah terjemahan paling kuat tentang apa yang ada di dalam hati.Pernahkah kita menangis karena takut kepada Allah saudaraku?
Dahulu orang-orang shalih mengungkapkan betapa kenikmatan yang mereka rasakan dari air mata yang menetes karena takut kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.Mereka menyebutkan ,dari sanalah akan turun rasa tenang,kasih sayang Allah,akan ditulis banyak kebaikkan dan akan diangkat derajat orang yang melakukannya.Lihatlah bagaimana ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengatakan,”Air mataku menetes karena takut kepada Allah ,itu lebih kusukai daripada bershadaqah seribu dinar”.
Tangisan karena Allah adalah salahsatu tujuh tangisan yang disebutkanYazid bin Maisarah rahimahullah.”Tangisan senang,tangisan sedih,tangisan takut,tangisan riya,tangis sakit,tangis syukur,tangis takuta karena Allah.”

Saudaraku,
Menangis karena takut kepada Allah,menangis karena syukur kepada Allah,semua benyuk tangisan karena Allah subhanhu Wa ta’ala merupakan salahsatu sikap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.Dengarlah hr ibnu hibban dari ksah ubaid bin umar rahimahullah,ketika ia bertemu denganistri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ,Aisyah radhiyallaahu ‘anha dan bertanya:”Wahai ‘Aisyah ,Beritakanlah kepadaku ,saat-saat paling engkau kagumi dari hidup Rasullah shallallaahu ‘alaihi wasallam! ‘Aisyah terdiam agak lama,lalau berkata,”Suatu malam ,Rasul pernah mengatakan wahai ‘Aisyah ,biarkan aku menyembah Allah subhanahu Wa ta’ala malam ini..” ‘Aisyah mengatakan,”Demi Allah aku ingin sekali berada di dekatmu.Tapi aku juga sangat ingin dengan sesuatu yang menyenangkanmu.”Rasulullah lalu pergi berwudhu dan mendirikan shalat.’Aisyah lalu menceritakan bahwa sepanjang shalatnya ,”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terus menangis.”Dijelaskannya,”Rasul saat duduk dalam shalatnyaterus-menerus menangis sampai basah jenggotnya.Lalu beliau tetap menangis sampai aiar matanya menyentuh tanah.” Hingga datanglah Bilal mengumandangkan ‘adzan subuh.Saat Biilal melihat Rasul;ullah menangis ,iapun bertanya,”Wahai Rasulullah ,kenapa engkauy menangis?Bukankah Allah subhanahu Wa ta'ala telah menhampuni seluruh dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur? Sungguh mala mini telah turun firman Allah subhanahu wata’ala .Celakalah orang yang membacanya tapi ia tidak memikirkan klandungannya:”Inna fiy khalqissamaawaati wal ardhi . . . .”(QS Ali Imran:190-191).

Saudaraku,
Itulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.Itulah air matanya yg menetes dalam shalatnya.Itulah wujud ketakutannya.wajarlah jika malik bin Dinar pernah menegur dirinya karena susah menangis.Suatu ketika Malik bin Dinar berbicara,lalu menangis tapi sulit menangis.Malik bin Dinbar lalu memukul pahanya dan mengatakan,”menangislah wahai Abu Basyar.Sungguh samapai kepadaku bahwa seorang hamba akan terus menangis sampai turun kasih Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya ,lalu Dia membebaskan dirinya dari neraka.”

Saudaraku,
Pernahkah kita mengalami saat-saat yang dikatakan mereka sangat indah itu?Adakah kita diantara orang-oramng yamng menangis kjarena Allah?Pandangan dan pikiran orang-orang shalih,selalu saja mengacu pada kehidupan akhirat sesuadah kehidupan dunia.Mereka begitu memahami bahwa kehidupan akhirat setelah menjalani kehidupan dunia ,adalah perjalanan penuh misteri .Mereka sangat mengerti bahwa tahap kehiddupan aklhirat merupakan fase hidup yang menakutkan,bila tidak ditempuh dengan perbekalan yang cukup.Itulah yang mereka sadari dan mereeka pikirkan.
Hasan al Basri suatu ketika melewati seorang pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak.Pemuda itu sedang duduk ditengah teman-temannya.Hasan al Basri menedekatinya dan bertanya,”Anak muda,apakah engkau telah melewati ash shirat (jembatan)?” Pemuda itu menjawab,”Belum”.Hasan al Basriy bertanya lagi,”Apakah engkau tahu kelak disurga atau di neraka kah tempat kembalimu?” Pemuda itu menjawab lagi,”Tidak tahu”.Hasan al basri lalu mengatakan,”Mengapa engkau tertawa sampai seperti ini?!”.
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu menangis diujung hayatnya ketika ia sakit,juga menangis.Orang-oreang yang menjenguknya bertanya,”Apakah yang membuatmu menangis?” Ia mengatakan,”Aku tidak menangisi dunia kalian ini.Aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku tempuh,sedikitnya perbekalan yang aku bawa.Perjalananku akan berakhir pada surga atau neraka.Aku tidak tahu dimana dari keduanya yang akan menjadi tempatku…?!”

Saudaraku,
Seperti itulah kegelisahan dan ketakutan orang-orang shalih.Kita memang harus mempunyai rasa mengagungkan Allah subhanau Wa ta’ala.Kita memang harus menanamkan rasa takut kepada Allah subhanahu Wa ta'ala.Kita harus menjadi orangh yang dating mengahadap kepada Allah dengan membawa sesuatu yang baik.Seperti nasihat Umar bin Abdul Aziz kepada Abu Jaudi Harits bin Umar rahimahullah,”wahai Abu jaudi,peliharakah air amata yang ada di pipimu untuk Allah”.

Sauadaraku,
Sungguh Rasuluillah shallallaahu ‘alaihi wasallam berpesan,”Takkan tersentuh api neraka ,seseorang yang menangis karena takut kepada Allah . . . “ (HR Turmudzi).Itulah sebabnya ,Muhammad Bin Munkadir rahimahullah selalu mengusap janggut dan wajahnya dengan air matanya.Ia mengatakan,”Saya mendengar bahwa neraka takkan melahap benda yang pernah terkena air mata yang keluar karena Allah.”
Berapa banyak tetesan air mata kita yang keluar selain karena Allah?berapa banyak tetesan mata kita yang jatuh karena takut kepada Allah?
(sumber:Majalah tarbawi Edisi 160 Th.8/Rajab 1428 H

Sabtu, 27 November 2010

Sempurnakanlah tiga hal untuk menjadi Mukmin (sejati)

Sempurnakanlah tiga hal dengan tiga hal engkau termasuk orang yang beriman :
Pertama ;Melawan kesombongan diri dengan rendah hati
Kedua ;Membunuh sifat rakus dan tamak dengan rasa puas (qanaa 'ah)
Ketiga ;Menghilangkan sifat iri hati dan dengki dengan mau mendengarkan nasihat.
(Malik bin Dinar rahimhullah)