Tampilkan postingan dengan label tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tazkiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2014

Sucikan Hati Wujudkan Persatuan Umat

Persatuan umat (wihdatul-ummah) bukanlah tema atau kajian baru yang diangkat dalam berbagai majelis, media ilmu ataupun informasi walaupun metode wihdah yang dikaji dan uslub penyampaiannya kepada publik berbeda-beda antara satu kelompok/ormas dengan yang lainnya. Sayangnya, seruan tentang tema ini tidak banyak menarik simpati para inidvidu dan banyak kelompok muslim baik yang tergabung dalam ormas ataupun majelis ta’lim tertentu. Seorang muslim yang masih memiliki kepedulian terhadap agama dan kejayaan islam,pasti akan terus dipenuhi tanda tanya tentang faktor dibalik lemahnya umat ini dengan semua komponennya dalam meraih panji persatuan.

Perlu diketahui bahwa persatuan yang diinginkan Islam bukanlah menyatukan langkah untuk menyamakan seluruh pendapat dan ijtihad fiqh, hukum ataupun permasalahan kontemporer tertentu sebab ini sesuatu yang hampir mustahil diwujudkan. Namun ia sebuah langkah menyatukan kalimat dan langkah diatas fondasi aqidah yang shahih, demi menegakkan kalimat Allah dan meraih kejayaan umat (tamkiinul-ummah). Allah ta’ala berfirman :“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (Terj. QS Ali Imran ; 103).

Problem dan kesulitan yang dihadapi umat ini sangatlah besar dan beragam, yang mengharuskan adanya arah pandangan dan argumen yang banyak pula dalam mencari solusinya, ini butuh keseriusan dan ijtihad para ulama dalam menanganinya. Sebab itu, merupakan hal yang lazim, jika dalam perkara ini terdapat ikhtilaf /perbedaan pendapat, akan tetapi merupakan kekeliruan besar jika pendirian kita adalah memusuhi dan tidak menghargai orang-orang yang menyelisihi kita walaupun argumen mereka juga memiliki arah pandangan dan dalil yang kuat. Contoh nyata dalam hal ini adalah masalah boleh tidaknya mencoblos dalam pemilu yang baru saja diselenggarakan. Kita seharusnya bersikap dewasa dan saling menghargai argumen masing-masing dalam masalah seperti ini, tanpa harus meremukkan kaca persatuan yang awalnya memang telah retak.
Lalu apa hubungan antara hati dan persatuan umat ??

Jika mencermati berbagai kajian wihdatul-ummah ini, anda akan mendapati bahwa banyak diantaranya sama sekali tidak mengaitkannya dengan amalan hati.Padahal, hakikat persatuan dan wihdah adalah wihdatul-qulub (persatuan hati), bukan persatuan lahir sebab betapa banyak individu       muslim tergabung dalam suatu kelompok atau amalan tertentu namun hati mereka tidak saling sinergi sehingga rentan berpecahbelah. Paginya masih saling menghargai bahkan saling memuji dan menyanjung, di sore harinya sanjungan tersebut berubah menjadi celaan dan tahdziran walaupun hanya karena perbedaan pendapat dalam satu masalah tertentu.

Hati sangat berperan dalam penyatuan kalimat dan langkah umat ini, bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat sering memperingati para sahabatnya agar selalu menjaga persatuan hati, diantaranya nasehat beliau ketika hendak shalat; “Luruskan (shaf), dan jangan bengkokan (shaf), sehingga hati kalian akan berselisih”. (terj. HR Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa   merapatkan dan meluruskan shaf bukan hanya sekedar perintah, namun lebih dari itu memiliki hikmah besar yaitu agar tetap mengekalkan adanya persatuan.

Kriteria Hati Yang Mudah Membangun Persatuan Ummat

1.Hati yang memahami aqidah dengan benar.
Banyak umat Islam yang tidak memahami aqidah yang benar, baik dari kalangan awam, maupaun terpelajar. Bahkan tidak sedikit dari mereka terpengaruh dengan banyak praktek/keyakinan syirik, Syiah, ataupun pemikiran sesat seperti liberalisme, sekulerisme, pluralisme. Tentunya sebagian mereka tidak hanya enggan untuk menyatukan kalimat Islam, namun bahkan terang-terangan menentang setiap agenda persatuan umat.

Solusi dari fenomena ini adalah menggencarkan gerakan dakwah dan, tashfiyah (pemurnian aqidah) secara luas dan dengan metode yang benar lagi hikmah. Dakwah yang tidak hanya monoton terkungkung antara mihrab dan dinding-dinding masjid, atau hanya terbatas pada majelis ta’lim dan bangku belajar, namun dakwah yang bisa merasuk dan menyebar kesemua lapisan masyarakat baik lewat program dakwah intensif, sosial, pendidikan, kesehatan dll sebab aktifitas dakwah seperti ini terorganisir dengan baik dan sangat mudah diterima masyarakat, selanjutnya aqidah dan pemahaman islam mereka bisa diluruskan, dengannya kesatuan kalimatpun bisa ditegakkan.

2.Hati yang suci dari berbagai penyakit hati.
  
Hati yang kedua ini, hampir sama dengan poin pertama, namun ia lebih mengarah pada sisi ibadah qalbiyah. Atau sering disebut dengan al-qalbussalim (hati yang sehat) yaitu suci dari berbagai penyakit hati.

Penyakit hati ini merupakan salah satu penghalang utama dari adanya penyatuan kalimat diantara barisan ahli sunnah saat ini. Diantara faktor menjamurnya penyakit ini adalah kurangnya pemahaman aqidah, ilmu ataupun ibadah dan tarbiyah dzatiyah (pembinaan diri). Ia tidak hanya menjangkiti masyarakat awam,namun ironisnya juga menjangkiti sebagian dai bahkan yang bergelar ulama sekalipun.

Sebagian muslim juga kadang mempelajari Islam dan memahami aqidah secara umum dengan benar, namun implementasinya   masih sangat perlu pembinaan. Aqidah, hendaknya bisa memberikan warna berbeda dalam hati, melembutkan dan menghiasinya dengan berbagai amalan hati; khusyu’, tawakkal, sabar, inshof, akhlak hati dan lainnya. Ini bisa terwujud jika pola dan metode pembelajaran dan penanaman aqidah islam terwujud dengan baik. Realitanya, kadang hal ini tidak terwujud sebagaimana mestinya, sehingga metode/cara pengkajian aqidah ini hanya bisa menambah kerasnya hati atau bahkan menimbulkan banyak penyakit hati misalnya; dengki, cemburu, merasa paling benar, dll yang selanjutnya bisa berujung pada keengganan untuk bekerjasama dan bersatu dalam amal dakwah.

Diantara metode yang salah dan fatal tersebut adalah mengawali penanaman aqidah dengan pengenalan firqah (sekte sesat) dan metode debat. Kita yakin, bahwa metode ini bisa saja memudahkan pemahaman aqidah, namun tidak dipungkiri, kemungkinannya akan melahirkan kader yang gemar debat ,mudah memvonis dan keras hati. Jika tiga sifat ini terkumpul dalam hati seorang hamba, maka hampir mustahil bisa ikut serta dalam kafilah persatuan umat.

Jenis hati sehatlah yang akan menjadi tonggak dan memiliki andil besar dalam persatuan umat dengan keikhlasan, hikmah,kelapangdadaan, inshof,husnudzon,dan pengorbanannya.   Jika semua muslim memiliki hati yang sehat, atau seluruh pengusung dakwah bisa mensucikan hati, niscaya penyatuan kalimat ini akan tercapai dengan cepat dan mudah. Akan tetapi perselisihan hati (baca ; penyakit hatilah) yang merusaknya, akhirnya bencana perpecahan dan kelemahan yang diperingatkan Allah pun terjadi :“… dan janganlah kamu berbantah-bantahan (berselisih), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (terj. QS. Al Anfal : 46)

Ayat ini tidak hanya mengandung nilai persatuan, namun juga mengikrarkan bahwa sifat orang-orang bersatu adalah sabar dan lapangdada, lalu bagaimana bisa orang yang tidak punya sifat sabar, lapangdada (baca ; berpenyakit hati) bisa ikut serta dalam menyatukan kalimat islam ?!

Solusi utama dari penyakit hati ini adalah tarbiyah dzatiyah (pembinaan diri) dan tazkiyatunnafs (penyucian hati) dengan banyak beribadah, zikir, dan menjauhi perkara haram. Dengannya hati akan sehat: “Ketahuilah bahwa pada jasad terdapat segumpal daging,jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya,jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya,ketahuilah itu adalah hati” (terj. HR Bukhari dan Muslim).

Dengan dua jenis hati inilah, para sahabat dan tabiin meraih kekuatan iman, mengokohkan persatuan, mencapai kejayaan, dan membuat gentar musuh mereka. Akhir kata,marilah menata hati ,dengan aqidah dan tazkiyatunnafs, karena hanya dengan keduanya hati umat ini bisa bersinergi dan menyatukan langkah dan misi. Allahu a’lam. (Buletin Al Fikrah/http://stiba.net)

Rabu, 10 April 2013

Memahami Kalimat Cinta Tertinggi

Oleh Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Kita tak akan pernah mencapai manisnya kisah cinta dengan sang Rabb kecuali bila makna ‘La ilaha illallah’ benar-benar dipahami. Kalimat agung ini, jika saja diucapkan dengan penuh kesadaran dan perasaan, sesungguhnya adalah kalimat yang memiliki makna yang sangat dekat dengan hati kita. Kalimat ini adalah kalimat yang kutub putarannya pada segala kemahasempurnaan. Sebuah pengakuan hakiki akan segala kemahaagungan dan kemuliaan. Ia adalah sebuah ungkapan hati yang tunduk sempurna pada Allah.

Pernahkan kita mencoba memahaminya?

Tidak terhitung berapa banyak kita telah mengucapkan kalimat ini. Tapi di usia kita sekarang ini, pernahkah kita sekali saja menyempatkan diri untuk lebih dalam memasuki makna ‘laa ilaha illallah’ jauh lebih dalam? Mungkin tidak pernah. Paling jauh kita akan mengatakan, “Iya, saya pernah mengetahui artinya. Tiada Tuhan selain Allah kan?”. Dan sudah, hanya sampai di situ. Sehingga wajar saja bila keindahan cinta antara sang makhluk dengan Khaliknya tak kunjung terwujud.

Bila kita telah memahami bahwa pangkal utama hilangnya keindahan itu adalah bermula dari ketidakmengertian kita akan kandungan makna kalimat agung itu, maka sekarang marilah kita mencoba menelusuri secara singkat apa sesungguhnya yang tersembunyi di balik ‘La ilaha illallah’ itu.

Jika kita memperhatikan secara sekilas saja, maka akan kita temukan dua kata penting dalam kalimat ini. Dua kata yang merupakan ini perputaran semua keindahan Islam ini. Dua kata itu adalah Allah dan Ilah. Kata Ilah bila ditelusuri secara bahasa adalah sebuah kata yang bersifat qabliyah-wijdaniyah, artinya sebuah kata yang memiliki tautan dan kaitan yang sangat kuat dengan hati. Ia adalah kata yang menunjukkan keadaan-keadaan hati seperti cinta dan benci, gembira dan sedih, kerinduan, pengharapan, dan seterusnya. Dalam ungkapan bahasa Arab, bila dikatakan:
أَلِهَ الفَصِيْلُ ___ يَأْلَهُ

Makna itu berarti: anak unta itu meratap dan menangisi ibunya karena rindu. Kata Al-fashiil maknanya adalah seekor anak unta yang baru saja disapih oleh ibunya lalu ia dikurung dalam sebuah kandang dan ibunya meninggalkannya untuk pergi ke padang penggembalaan. Setelah lama menunggu, anak unta itu menangis karenanya. Maka dalam kasus ini, secara bahasa, sang ibu adalah ilah si anak unta itu.

Intinya bahwa Ilah adalah apa yang selalu dirindukan oleh hati, yang selalu membawa jiwa sampai pada tingkatan ketundukan dan kepatuhan pada yang dirindu. Itulah sebabnya ada yang mengatakan kata ini berakar dari al-Walah. Anda tahu apa itu al-Walah? Biarkan Ibn Mandzhur rahimahullah (penulis Lisan al ‘Arab) menjelaskannya: “Kata al-Walah itu maknanya adalah sebuah ‘kegilaan’ yang muncul disebabkan kecintaan yang sangat kuat atau kesedihan yang begitu mendalam.” (Lihat penjelasannya secara terperinci dalam Lisan al-‘Arab materi alif-lam-ha’ dan materi waw-lam-ha’. Lihat pula al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an pada materi yang sama).

Dan kata Allah secara umum memiliki kaitan yang sangat erat dengan kata ilah tersebut. Hanya saja ia tidak lagi digunakan untuk selain Sang Pencipta dan Penguasa Alam semesta satu-satuNya. Ia adalah nama yang menunjukkan dzat ilahiyyah, sebuah nama yang mengumpulkan segala makna kesempurnaan dan kemuliaan mutlak tanpa ada yang menyaingi dan menandingi. Berbeda dengan kata ilah yang bisa digunakan dalam bentuk jamak –yang menunjukkan kenyataan (bukan membenarkan!) bahwa memang banyak ilah yang dicintai manusia selain Allah Ta’ala-, kata Allah tidak digunakan kecuali dalam bentuk tunggal (mufrad). Satu hal yang menunjukkan bahwa nama ini dan Pemiliknya hanya satu, yaitu Allah Ta’ala sendiri sang Rabbul ‘alamin.

Begitulah, akhirnya kita melihat bagaimana kedua kata ini, Ilah dan Allah ternyata memiliki kaitan yang sangat dalam dengan hati. Keduanya secara umum memberikan gambaran adanya hubungan kejiwaan yang dipenuhi dengan cinta. Sehingga ketika seorang mu’min mengatakan ‘La Ilaah illallah’, sesungguhnya (baca: seharusnya!) ia sedang mengungkapkan tautan hatinya pada sang Rabb. Bahwa tidak ada yang ia cintai selain-Nya, tidak ada yang ia takuti selain-Nya dan tidak ada yang berhak untuk ia sembah dan patuhi selain-Nya. Hatinya tidak dipenuhi dengan apapun selain kehendak yang murni pada Allah Ta’ala. Para ulama menyebutnya sebagai al-Ikhlas.

Jika demikian adanya, maka kalimat ini memang bukan kalimat mainan. Ini adalah kalimat yang agung. Dan tidak ada satupun yang mengetahui kejujuran sang pengucapnya, kecuali Allah Ta’ala kemudian sang pensyahadat itu sendiri. Sebab ini adalah tentang hati. Hati yang dipenuhi cinta, atau tidak sama sekali.

Ibn Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan:

“Sesungguhnya cinta sang hamba pada Rabbnya itu berada di atas segala cinta apapun untuk diukur. Tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan pada apapun. Dan inilah hakikat sesungguhnya dari ‘La ilaha illallah’.”

Hingga -masih dalam konteks yang sama- beliau menyatakan: “Jika saja masalah cinta ini dihapuskan (dari kalimat La ilaha illallah –pen) maka akan hilanglah semua derajat keimanan dan keihsanan. Akan terhentilah semua jalan-jalan menuju Allah, sebab (cinta itu) adalah ruh untuk setiap jalan, tangga dan amal (menuju Allah). Hubungan rasa cinta dengan amal adalah sama dengan hubungan keikhlasan dengannya. Bahkan cinta adalah hakikat keikhlasan yang sesungguhnya. Lebih dari itu, cinta Islam adalah Islam itu sendiri. Sebab Islam adalah penyerahan diri yang disertai ketundukan, kecintaan dan kepatuhan pada Allah.

Maka barang siapa yang tak memiliki rasa cinta (pada Allah-pen), maka ia tidak memiliki keislaman sedikit pun. Cinta ini adalah hakikat dari pernyataan Syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Karena “Ilah” adalah apa yang dipatuhi para hamba dengan rasa cinta dan rendah diri, dengan rasa takut dan harap, disertai sikap ta’zhim dan patuh…
Maka, -kesimpulannya- al Mahabbah (rasa cinta) itu adalah hakikat dari segalah penghambaan pada Allah.” (Lihat Madarij As Salikin 3/26).

Meluruskan “Cinta” pada Allah

Sampai di sini, mungkin sebagian dari kita lalu teringat akan sebuah ungkapan sebagian para tokoh sufi yang mengatakan: “Ya Allah, jika aku beribadah padaMu karena mengharapkan surgaMu, maka jauhkanlah aku darinya. Bila aku beribadah padaMu karena takut pada nerakaMu, maka masukkanlah aku ke dalamnya.” Untuk sebagian orang kalimat ini nampak begitu mulia. Beribadah tanpa mengharapkan balasan selain apa yang mereka sebut dengan cinta Allah. Mereka menganggap keikhlasan beribadah itu diukur dengan mengharap Surga atau tidak, takut pada neraka atau tidak. Jika Anda tidak mengharapkan apa-apa, maka itu adalah ikhlas. Entah apa yang mereka lakukan dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memburu surga dan takut pada neraka… Entah apa yang mereka lakukan dengan do’a-do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta surga dan mohon perlindungan dari neraka.

Hakikat cinta pada Allah Azza Wa Jalla tidak akan pernah tegak tanpa dua sayap penghambaan, khauf (takut pada-Nya) dan raja’ (harap pada-Nya). Ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan-pesan kenabian terlalu dipenuhi dengan penjelasan akan hal ini. Hanya orang bodoh atau berpura-pura bodoh yang tidak mengetahui ini.

Seorang pecinta yang hakiki pasti akan selalu takut mendapatkan siksa dari Yang dicintainya, di saat sama dimana hatinya dipenuhi harapan untuk mendapatkan karunia terbaik dari Yang dicintainya. Bila mahabbah pada Allah Ta’ala telah ditelanjangi dari khauf dan raja’, maka pengakuan cinta hanya menjelma menjadi sebuah kepalsuan. Allah menggambarkan tentang para manusia pilihan-Nya, para Nabi dan Rasul ‘alaihimu shalatu wa sallam:

    “Sesungguhnya mereka bersegera menuju kebaikan-kebaikan, mereka berdoa pada Kami dengan penuh rasa harap dan takut, dan adalah mereka itu sangat khusyu’ pada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasul penghulu seluruh manusia, telah menyatakan:

 “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan paling takwa pada Allah di antara kalian.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Akidah Cinta

Maka dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa akidah ‘La ilaha illallah’ adalah akidah yang ditegakkan di atas cinta. Ia bahkan menjadi ikatan kuat rasa cinta. Karena itulah ia memancarkan cahaya keindahan dan keagungan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengharamkan neraka untuk orang-orang yang mengatakan “La ilaha illallah” karena mengharapkan wajah Allah” (Muttafaqun ‘alaihi), kita bertanya, apakah semudah itu?? Hanya dengan satu kalimat. Iya, semudah itu. Tapi ini adalah soal kemana hati kita terarah, terikat dan bergantung sepenuh-penuhnya. Ini adalah soal pautan-pautan cinta. Siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan menunjukkan padanya jalan untuk menghamba dan taat pada-Nya.

Bukankah ini sebuah makna yang sangat indah dan agung? Ketika kita tidak lagi merasakan ini, maka disitulah titik awal persimpangan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dari kedalaman Ad-Din yang sesungguhnya. Dari jalan yang lurus, Ash Shiratal Mustaqim.[]

Rujukan:
“Jamaliyyah ad Din Fi Jamaliyyah at Tauhid” oleh DR. Farid al-Anshary,
“Ma’alim Asy Syakhsiyah al-Islamiyah” oleh DR. Umar al-Asyqar.

Sumber : Majalah Islamy, No. 2 tahun 1426 /wahdahmakassar.org/wahdahmuna.blogspot.com

Rabu, 06 Maret 2013

Telaah Hadits Kitabul Jami' Bulughul Maram. Hak-hak Sesama Muslim (1)

 (Telaah Hadits Kitabul Jami' Bulughul Maram)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  ”حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إذَا لَقِيْتــَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَك  فَانْصَحْهُ،  وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَ إِذاَ  مَرِضَ  فَعُدْهُ، وَإِذاَ  ماَت فاتـْبَعْهُ”.  (رَواهُ مُسلمٌ، بَابُ مِنْ حَقِّ الْمُسْلِمِ لِلْمُسْلِمِ رَدُّ السَّلَامِ برقم 2162

Terjemah Hadis:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam, yaitu:
(1) jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,
(2) jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya,
(3) jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat,
(4) jika ia bersin dan mengucapkan: ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan Yarhamukallah (artinya = mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu),
(5) jika ia sakit maka jenguklah dan
(6) jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya”.
(HR. Muslim, no. 2162).
Dalam riwayat yang lain, disebutkan dengan lafadz ” فَشمته” sebagai ganti dari “فَسَمِّتْهُ”. Menggunakan huruf syiin sebagai pengganti siin.

Redaksi Hadis:
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dengan menyebutkan 5 hak muslim terhadap muslim lainnya. Lafalnya sebagai berikut:
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga disebutkan dengan lafadz, 5 kewajiban:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: (1) Menjawab salam, (2) menjenguk orang sakit, (3) mengantar jenazah, (4) memenuhi undangan, dan (5) mendoakan yang bersin.” (HR. Bukhari, no. 1240, dan Muslim no. 2162)

Di tempat lain di Shahih Muslim, diriwayatkan juga dengan redaksi yang sedikit berbeda:

خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ: رَدُّ السَّلَامِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ

“Lima perkara yang wajib ditunaikan seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim: (1) Menjawab salam, (2) mendoakan yang bersin, (3) memenuhi undangan, (4) menjenguk orang sakit, dan (5) mengantar jenazah.” (HR. Muslim, no. 2162).

Jadi riwayat yang menyebutkan 5 hak muslim terhadap muslim yang lain, terdapat di Shahih Bukhari dan Muslim. Sedangkan yang menyebutkan 6 hak, hanya terdapat di Shahih Muslim saja.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh beberapa imam penyusun kitab hadis seperti Imam Ahmad dan Imam Baihaqi. Tapi kita cukupkan dengan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Hadis pertama yang terdapat dalam Kitab Al Jaami’ di Bulughul Maram, menyebutkan 6 hak muslim terhadap muslim lainnya. Sedangkan di Riyadhush Shalihin, kedua hadis ini (yang menyebutkan 5 dan 6 hak) disebutkan kedua-duanya.

Derajat Hadis:

Hadis ini adalah hadis shahih. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam Bab Diantara kewajiban muslim terhadap muslim lainnya adalah menjawab salam, no. 2162.

Kedudukan Hadis:
Agama Islam adalah agama yang sangat menekankan terwujudnya persaudaraan dan kasih sayang. Agama Islam selalu mendorong pemeluknya untuk mewujudkan dan memelihara persaudaraan dan kasih sayang. Oleh karena itu, Islam mensyariatkan beberapa amalan yang dapat mewujudkan persaudaraan dan kasih sayang tersebut.
Hadis ini menjelaskan hal-hal yang dapat meneguhkan persaudaraan dan kasih sayang. Yaitu dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban sosial terhadap sesama muslim. Dalam hadis ini, diungkapkan dengan hak muslim atas muslim yang lain. Dalam bahasa Arab, ungkapan ini bisa bermakna wajib dan juga bisa bermakna sunnah yang sangat dianjurkan. Karena hak artinya sesuatu yang tidak sepantasnya ditinggalkan. Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Arabi.  (Subulus Salaam 4/148).
bersambung…(sumber: http://www.belajarislam.com/)

Sabtu, 08 September 2012

Memperbanyak Istighfar Setelah ramadhan


Ramadhan berlalu. Catatan amal dan takdir setiap insan telah tertoreh. Tak ada yang dizalimi. Setiap manusia mendapatkan sesuai dengan usaha yang telah dia lakukan (QS. al-Syura: 20). Bagi yang telah mengoptimalkan ibadah, layaklah dia bersuka cita. Sedangkan bagi yang belum maksimal, semoga Allah menyempurnakan ibadah yang telah dia lakukan.
Selepas Ramadhan, kita sudah sepantasnya bersyukur atas segala taufiq yang Allah berikan. Taufiq berupa kesempatan menghirup udara Ramadhan dengan berbagai ibadah di dalamnya. Demikianlah sehingga kita diperintahkan untuk merayakan akhir Ramadhan dengan Iedul Fitri (QS. al-Baqarah: 183).

Di samping bersyukur, kita tentu tidak bisa menjamin kualitas ibadah yang telah kita lakukan. Betapapun ibadah yang kita laksanakan, pasti terdapat kekurangan di dalamnya. Sebagai manusia biasa, kita tetaplah makhluk khathha’/yang banyak melakukan kesalahan (HR. Tirmidzi, dari Sahabat Anas ibn Malik). Lantaran itu, syariat mengajarkan umat untuk banyak istigfar, justru setelah meraih prestasi ibadah tertentu.

Sunnah Rasululullah shallallahu alaihi wasallam mencontohkan istigfar dalam segala kondisi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, tobatlah kalian kepada Allah! Sesungguhnya aku bertobat kepadanya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)
Inilah teladan Rasulullah, kekasih Allah yang ternyata mengisi hari-harinya dengan banyak istigfar.

Sunnah Rasulullah yang lainnya mengajarkan istigfar setiap selesai melaksanakan ibadah. Seperti istigfar setelah berwudhu (HR. Ibn Sunni dengan sanad jayyid), istigfar dalam doa istiftah (setelah takbiratul ihram) (HR. Muslim), dan istigfar setelah memberi salam dalam shalat (HR. Muslim).

Dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan istigfar setelah wuquf di Arafah yang merupakan rukun ibadah haji yang paling penting. Allah berfirman:
)ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(
“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 199)  

Syekh Abdurrahman ibn Sa’di dalam komentarnya terhadap ayat itu menulis:
Demikianlah seharusnya kondisi seorang hamba setiap selesai melaksanakan ibadah, agar beristigfar kepada Allah atas segala kekurangan (yang terjadi); serta bersyukur atas segala petunjuk. Tidak sepatutnya dia bersikap seperti manusia yang menganggap dirinya telah menyempurnakan ibadah dan seakan telah berjasa kepada Allah, sehingga dirinya mendapatkan kedudukan yang tinggi. Manusia seperti ini pantas mendapatkan murka dan hukuman. Sebagaimana hamba yang disebut di awal layak diterima amalnya dan mendapat taufiq untuk melakukan amal shalih yang lainnya. (Taysir, I/92)

Keterangan ini menunjukkan anjuran untuk beristigfar setiap selesai melaksanakan ibadah. Tanpa batasan terhadap ibadah tertentu.
Dalam surah yang lain, Allah subhanahu wata’ala bahkan memerintahkan Rasul-Nya untuk beristigfar setelah menyelesaikan tugas akbarnya: menyampaikan risalah dakwah.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (Terj. QS. al-Nashr: 1-3) 
Al-Allamah al-Syawkani menulis: “Mohonlah ampunan kepada-Nya atas dosamu, sebagai bentuk tawadhu kepada Allah dan menganggap kecil amal dan perbuatanmu.” (Lihat: Zubdah, h. 603)

Istigfar dan bertobat setelah menunaikan ibadah juga menjadi sunnah nabi-nabi terdahulu. Al-Qur’an mendokumentasikan doa Nabiyullah Ibrahim dan Ismail alaihimas salam. Doa ini mereka panjatkan setelah melaksanakan tugas membangun baytullah, Ka’bah di kota Makkah:
(رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 128) 

Maka selepas ibadah Ramadhan ini, salah satu amal yang paling baik untuk dilakukan oleh para “alumni” Ramadhan adalah banyak istigfar. Semoga Allah berkenan mengampuni segala khilaf dan menyempurnakan ibadah kita semua.

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Terj. QS. al-Mu’minun: 60-61)***
Dir’iyah, 5 Syawal 1433 H
Ilham Jaya Abdurrauf

Jumat, 11 Mei 2012

Silaturahmi Agar Tak Lupa Diri


Seringkali, dengan alasan agama, seseorang menutup diri dari dunia luar sehingga terkesan eksklusif. Selain terjangkiti virus merasa paling benar, pemahaman seperti ini juga menghasilkan kecurigaan tanpa alasan kepada pihak lain. Hasilnya? Banyak di antara para aktivis dakwah yang menarik diri dari lingkungan yang mereka anggap jahiliyah. Bahkan, meski kepada keluarga sendiri, banyak di antara kita yang tidak lagi menjalin silaturahmi.

Padahal, silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Sudah selayaknya jika kita tidak mengabaikan dan melupakannya. Bukan saja karena moda transportasi dan komunikasi yang sekarang jauh lebih mudah dan terjangkau, juga karena bersilaturahmi merupakan kebutuhan yang dituntut fitrah manusia. Ia merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.

Rahim bisa bermakna rahmah yaitu lembut dan kasih sayang, atau bermakna kerabat. Manapun itu, keduanya memiliki nilai yang sangat tinggi di dalam Islam. Sehingga bersilaturahmi berarti mengunjungi orang dengan harapan bisa melembutkan hati dan menambah kasih sayang, baik dia memiliki hubungan nasab dengan kita, atau tidak. Dari sini, berbagai macam manfaat bisa kita dapatkan dari silaturahmi. Mulai dari kelapangan rizki, barakah umur, bertambahnya rahmat dan kasih sayang, hingga wasilah menuju jannah.

Dalam hal ini, tentu saja bersilaturahmi lebih utama kepada mereka yang memiliki hubungan nasab, karena Islam sangat memerhatikan masalah ikatan keluarga setelah ikatan aqidah sebagai landasan hubungan. Ia adalah tanda keimanan seorang hamba. Bahkan, Allah mewajibkan kita untuk menyambung hubungan kerabat, dan menetapkan pemutusannya sebagai dosa besar.

Sayangnya, banyak keluhan yang terlontar dari istri para aktivis dakwah tentang minimnya silaturahmi yang dilakukan sejak pernikahan mereka. Bahkan, meski silaturahmi kepada orangtua mereka. Selain karena kesibukan dan minimnya dana, para suami banyak juga yang berlaku jumawa karena merasa dia lebih besar haknya kepada istri jika dibandingkan hak orangtua mereka.

Padahal, istri kita tidak langsung besar dan menjadi seperti sekarang dengan sendirinya. Mereka datang ke dunia dengan orangtua sebagai wasilah. Pun tumbuh kembang dan pendidikan yang mereka terima sampai sejauh ini. Sehingga sangat tidak layak jika kita para suami bersikap seolah ingin memisahkan para istri dari keluarga mereka. Pahahal kita bisa bercerai dengan mereka sehingga menjadi mantan suami, namun tidak ada mantan orangtua bagi anak-anaknya.

Kita akan merasa malu jika melihat kehidupan para salaf yang masih sempat bersilaturahmi di tengah kesibukan mereka yang menggunung. Bahkan selevel shahabat Abu Bakar dan Umar yang menjadi khalifah, yang tentu saja sangat sibuk, kisah-kisah tentang kunjungan mereka sangat mudah kita temui. Padahal, alat transportasi dan telekomunikasi bisa dikatakan sangat minim saat itu.

Tampaknya, yang menjadi sebab utama jarangnya kita bersilaturahim adalah buruknya manajemen waktu dan lemahnya ilmu tentang manfaat silaturahmi dan besarnya dosa memutus silaturahmi. Kemudian kesibukan dunia yang berlebihan, hingga kita merasa tidak punya waktu untuk memenuhi hak-hak keluarga, anak-anak, kedua orang tua dan kerabat. Dan ternyata, kesempatan luang yang kita tunggu, seringkali tidak kunjung datang kecuali kita mengatur manajemen waktu lebih baik.

Selain kita terkadang memerlukan bantuan, yang mana kerabat lebih layak untuk dimintai bantuannya, juga andaipun kita berkelebihan harta, maka berinfak kepada kaum kerabat kita yang miskin jelas lebih diutamakan daripada kepada orang lain. Sedang doa-doa mereka untuk keberkahan usaha kita, insyaallah lebih mudah dikabulkan Allah.

Apabila kita memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi dimana-mana, serta egoisme muncul ke permukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tidak mengetahui hak orang lain, hingga orang-orang yang kekurangan merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli.

Mengingat kebaikan dan hubungan nasab sanak kerabat layak untuk kita lakukan. Mereka menyumbang kebaikan yang tidak sedikit kepada kita baik lansung maupun tidak lansung. Paling tidak, mereka yang membantu acara pernikahan kita dulu dengan ikhlas hingga kita bisa menikah dengan istri yang sekarang. Hal ini, insyaallah, akan mencegah kita dari suu zhan, prasangka negatif dan berbagai bentuk kezhaliman kepada mereka.

Sekarang, masukkan jadwal kunjungan, minimal bentuk sapaan yang baik kepada kerabat, di tengah kesibukan kita yang bertumpuk-tumpuk tanpa jeda. Kita bisa memaksimalkan perangkat komunikasi yang ada, atau transportasi yang terjangkau untuk bisa memudahkan rencana kita. Tidak perlu terlalu sering, tapi juga bukan berarti tidak pernah sama sekali. Bahkan meski mereka bukan aktivis dakwah, selama tidak mengajak kita kepada maksiat dan dosa, kenapa kita harus menghindari?

Semoga Allah memberi kemudahan. Amiin![sumber:http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/silaturahmi-agar-tak-lupa-diri.html]

Sabtu, 28 April 2012

Wudhu, Bersihkan Diri Sucikan Hati


Adalah Ali bin Husein, apabila beliau berwudhu maka wajah beliau berubah menjadi pucat. Tatkala beliau ditanya, “Apakah yang terjadi pada Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, di hadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?”

Lazimnya, tatkala seseorang hendak menemui seorang pejabat yang dihormati dan dicintai misalnya, ia akan memperbagus tampilan sebelum bertemu. Ia akan bersih diri, memakai pakaian yang paling bagus dan memakai minyak yang paling wangi. Ia pun akan bercermin dan meneliti secara detil hal-hal yang sekiranya dapat mengundang kesan tidak baik dalam pandangan pejabat yang dimaksud. Itupun disertai perasaan gugup, takut dan sekaligus berharap akan mendapat sambutan yang baik. Begitulah keadaan seseorang yang hendak menghadap pejabat. Lantas bagaimana keadaan seorang hamba yang sedang mempersiapkan diri untuk menyambut panggilan Pencipta-nya untuk menghadap?

Alasan inilah yang membuat raut wajah Ali bin Husein berubah. Beliau memahami bahwa shalat berarti menghadap dan menyambut undangan Pencipta yang berkuasa untuk berbuat apapun terhadapnya. Sedangkan wudhu adalah persiapan untuk menyambut undangan agung tersebut.

Adapun sekarang, betapa sedikit orang yang mencapai penghayatan demikian dalam. Wudhu hanya sebatas formalitas dan aktifitas lahir yang tidak menyertakan amal bathin. Sehingga, amal yang sejatinya besar ini tidak banyak memberikan pengaruh yang signifikan ke dalam hati, selanjutnya nihil pula dampaknya dalam amal perbuatan.

Wudhu dan Kesucian Hati

Sejatinya, wudhu memiliki dua dimensi kesucian yang menjadi tujuan. Suci lahir dan suci batin. Sisi lahir adalah sucinya anggota badan, dan sisi batinnya adalah penyucian hati dari noda dosa dan maksiat dengan bertaubat. Oleh karena itu Allah menyandingkan antara taubat dan thaharah (bersuci) dalam firmanNya,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Bada’i al-Fawa’id menjelaskan ayat ini, “Bersuci yang dimaksud ada dua hal; bersuci dari hadits dan najis dengan air, dan bersuci dari kesyirikan dan kemaksiatan dengan taubat. Dan poin kedua inilah yang menjadi inti. Karena bersuci dengan air tidaklah berguna tanpa bersuci dari syirik dan maksiat. Maka mempersiapkan dan mencurahkan kesungguhan untuk mendapatkan kesucian hati lebih diprioritaskan. Sebagaimana seorang hamba tatkala masuk Islam, dia terlebih dahulu membersihkan kesyirikan dengan bertaubat, baru kemudian bersuci dari hadats dengan air.”

Pada kesempatan yang lain, dalam Kitab Ighaatsatul Lahfaan beliau juga berkata, “Dengan hikmah-Nya, Allah menjadikan kebersihan sebagai persyaratan untuk berjumpa dengan-Nya, karena itu seorang yang melaksanakan shalat tidak boleh bermunajat dengan-Nya kecuali setelah bersuci. Demikian pula Allah menjadikan kebersihan dan kebaikan sebagai syarat untuk masuk jannah, sehingga tidak masuk jannah kecuali orang yang baik dan suci. Itulah dua jenis kesucian, suci badan dan suci hati. Karena itu, orang yang selesai berwudhu diperintahkan berdoa,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ.

“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang banyak bertaubat dan jadikan aku termasuk orang-orang yang beriman.”  (Lafal ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, shahih dan memiliki beberapa syawahid, seperti yang diutarakan oleh al-Albani dalam al-Irwa’)

Kebersihan hati diperoleh dengan bertaubat dari dosa, sedangkan kebersihan badan bisa diperoleh dengan air. Tatkala seseorang telah memiliki dua macam kebersihan, maka ia layak untuk berjumpa dengan Allah.”

Dan Dosa pun Berguguran


Dosa bagi hati, laksana penyakit bagi badan. Setiap kali bertambah dosa, bertambah pula tingkat keparahan penyakit yang diderita oleh hati. Hingga tatkala tak diiringi dengan penawar, sementra penyakit bertambah akut, lambat laun hati akan mati. Dosa juga menimbulkan karat di hati. Setiap kali jasad melakukan satu dosa, muncullah satu bercak hitam di hati. Jika tidak dibersihkan dan dosa terus bertambah, maka bercak hitam akan memenuhi permukaan hati, hingga hati menjadi buta, gelap dan tertutup dari cahaya iman. Inilah ‘rona’ yang dimaksud dalam firman Allah,

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. Muthaffifiin;14).

Wudhu menjadi salah satu penggugur dosa dan pembersihnya, hingga racun hati menjadi tawar, penyakit menjadi hilang dan karat di hati menjadi bersih. Nabi shallallahu alaihi wasallam,

“إِذَا تَوَضّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ (أَوِ الْمُؤْمِنُ) فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) حَتّى يَخْرُجَ نَقِيّاً مِنَ الذّنُوبِ”.

“Jika seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu lalu membasuh wajahnya, akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan kedua matanya bersamaan dengan keluarnya air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh tangannya, akan keluar dari kedua tangannya setiap dosa yang pernah diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh kedua kakinya, akan keluar setiap dosa yang pernah diperbuat oleh kedua kakinya bersama dengan air atau tetesan air yang terakhir, sehingga dia akan keluar dalam keadaan benar-benar bersih dari dosa.” (HR. Muslim)

Wudhu pun harus Khusyu’

Seyogyanya, kita hadirkan hati dan batin kita saat berwudhu. Sadar bahwa anggota wudhu yang kita basuh kerap melakukan dosa, dan kita berharap agar Allah menggugurkan dosa bersamaan tetesan air wudhu. Bukankah apa yang kita basuh di saat wudhu adalah anggota badan yang sering bersentuhan langsung dengan maksiat? Mata memandang yang haram berkali-kali, tangan berbuat aniaya bertubi-tubi, kaki melangkah ke tempat-tempat yang tidak Allah ridhai? Begitupun dengan lisan yang tak terkendali, hingga disunnahkan pula untuk berkumur sebagai penyuci.

Sertakan pula penyesalan dan taubat hati dari segala hal yang bisa mengotori, agar ia menjadi suci. Inilah yang disebut dengan wudhunya hati atau wudhu batin. Seperti perbincangan di antara dua ulama dan ahli ibadah berikut ini,

Suatu hari, Isham bin Yusuf menghadiri majlis Hatim Al-Asham, Isham bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, bagaimanakah cara Anda shalat?” Hatim menjawab, “Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu dengan lahir dan bathin.” Isham bertanya, “Bagaimana maksud wudhu lahir dan bathin itu?” Hatim menjawab, “Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu bathin adalah membasuh hati dari tujuh perkara; bertaubat, menyesali dosa yang dilakukan, tidak tergila-gila oleh dunia, tidak mencari pujian orang (riya’), tidak gila jabatan, membersihkan dari kebencian dan kedengkian.”

Antara Air dan Sucinya Hati

Bersuci dengan air memang memiliki kaitan erat dengan bersihnya hati dari dosa. Karenanya, dalam salah satu doa Nabi shallalahu alaihi wasallam berbunyi,

اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah cucilah dosa-dosaku dengan air, dan salju dan barad (air hujan es).” (HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Bagaimana Allah membersihkan kesalahan-kesalahan dengan air dan salju? Bukankah air panas lebih efektif untuk membersihkan kotoran?”

Beliau menjawab, “Kesalahan-kesalahan menyebabkan hati menjadi panas, kotor dan lemah. Akibatnya, hati menjadi lembek, sementara api syahwat berkobar di dalamnya. Kesalahan dan dosa ibarat kayu bakar yang tersulut api, semakin banyak kesalahan, maka nyala api di hati semakin besar, dan hati semakin lemah. Air akan membersihkan kotoran sekaligus mematikan api. Apabila air tersebut dingin, ini bisa menjadikan badan lebih kuat dan lebih kokoh. Bila air tersebut disertai dengan salju dan barad, maka akan lebih menyegarkan, menguatkan dan mengokohkan badan. Dengan demikian, ia lebih banyak menghilangkan dampak dan pengaruh dari  kesalahan-kesalahan tersebut.”

Begitulah keagungan wudhu, hingga kita pun tahu, tak ada satu syariatpun yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, kecuali mengandung maslahat yang besar. Bukan sekedar formalitas, apalagi hanya iseng. Bahwa ada yang belum merasakan efeknya secara signifikan, itu dikarenakan minimnya pengetahuan, di samping masih jauh dari pengamalan yang benar. Semoga wudhu kita bisa menjadi pembersih bagi diri dan hati kita. (Abu Umar Abdillah/www.arrisalah.net)

Kamis, 29 September 2011

Hidayah Lambat Karena Adat

Allah tidak pernah terlambat memberikan hidayah. Allah Mahatahu, kapan waktu yang paling tepat untuk menurunkannya. Sebagaimana Allah juga Mahatahu, siapa yang layak didahulukan atau diakhirkan hidayahnya, atau bahkan yang tidak layak memperolah secercahpun hidayah dari-Nya.

Jikalau ada yang diperlambat datangnya hidayah, bukan karena Dia kikir atau pelit, sungguh Dia Maha Penyayang lagi Maha Pemurah. Keterlambatan, atau bahkan terhalangya seseorang dari hidayah itu disebabkan oleh ulah dan sikap manusia dalam menerima dan menyambutnya. Atau dominasi hawa nafsu yang menguasai diri, sehingga menampik datangnya hidayah. Baik hidayah Islam secara global, ataupun hidayah tafshil (yang rinci), berupa menjalankan berbagai perintah, dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah.

Adat, Hambatan Paling Berat

Saat cahaya Islam pertama kali menyapa kaum Arab Quraisy, tak serta merta disambut dengan gegap gempita. Bahkan lebih banyak penentang katimbang pendukungnya. Alasan paling populer dari para penentang adalah, karena Islam tak sejalan dengan adat dan agama nenek moyang mereka.

Taklid kepada leluhur lebih mereka utamakan dari ajakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun hati kecil mereka meyakininya. Tak ada penghalang yang lebih berat bagi Abu Abu Thalib, paman Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, selain beban untuk berpegang kepada agama leluhurnya. Adalah Abu Jahal yang memprovokasi Abu Thalib di ujung hayatnya. Dia membujuk, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, sebelum meninggal, dia mengulang-ulang sya’irnya,

Aku tahu bahwa agama Muhammad terbaik bagi manusia

Kalau saja bukan karena agama nenak moyang yang dicela

Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela

Sikap ini mewakili sekian banyak orang yang menampik hidayah, juga enggan untuk tunduk terhadap titah Allah dan Rasul-Nya. Karakter para penentang ini dikisahkan dalam firman-Nya,

“Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (QS. Al Maidah:104)

Ketika mereka diajak menjalankan agama Allah dan syariatnya, menjalankan kewajiban dan apa yang diharamkannya, mereka menjawab, ”cukup bagi kami mengikuti cara dan jalan yang telah ditempuh oleh bapak dan kakek kami.” Demikian dijelaskan tafsirnya oleh Ibnu Katsier rahimahullah.

Seakan al-Qur’an masih hangat turun ke bumi. Betapa alasan ini sangat populer kita dapati. Tatkala didatangkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, baik tentang larangan yang tak boleh dijamah, atau perintah yang mesti dilakukan, seringkali kandas ketika dalil itu tak sejalan dengan kebiasaan yang telah berjalan. ”Jangan merubah adat…! Ini sudah tradisi para leluhur…! Biasanya memang begini…!” dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan mereka jika adat diganti dengan syariat. Ungkapan seperti ini tak jarang muncul dari lisan orang yang telah menyatakan dirinya Islam, yang telah mengikrarkan bahwa ia rela Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan Islam sebagai agamanya. Tapi begitu syariat tidak sejalan dengan adat, adat lebih mereka utamakan.

Sejenak kita akan tahu bahwa, masih banyak warisan adat leluhur yang ternyata bertentangan dengan syariat, bahkan jika dirunut, tak hanya warisan nenek moyang masyarakat Indonesia, tapi warisan penyembah berhala di era jahiliyah Arab.

Kesesatan yang Dilestarikan

Atas nama melanggengkan nilai-nilai luhur tradisi nenek moyang, budaya sesaji masih tetap lestari. Dari yang hanya sekedar mempersembahkan menu ’wajib’ berupa hewan sembelihan, maupun yang berupai kemenyan, buah-buahan dan ’tetek bengek’ lain sebagai menu tambahan. Semua itu ditujukan kepada sesuatu yang diagungkan, apakah jin penunggu, arwah leluhur atau dewa yang diyakini keberadaannya.

Tradisi ini mengiringi momen-momen penting dalam kehidupan manusia, seperti peringatan kelahiran, kematian, upacara pernikahan, peresmian gedung atau jembatan, peringatan hari besar, juga untuk tujuan insidental seperti mencegah terjadinya marabahaya. Tak ketinggalan pula masyarakat kita yang mengaku dirinya muslim. Mereka turut membudayakannya dengan sedikit modivikasi dan dikemas dengan simbol-simbol Islam.

Sulit untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, sejak kapan tradisi sesaji bermula di negeri ini. Paling-paling kita harus puas dengan jawaban, ”itu sudah menjadi adat nenek moyang sejak dahulu.”

Jika ditelisik, sesaji tak hanya menjadi tradisi Hindu atau penganut animisme maupun dinamisme di Indonesia saja. Tapi juga merupakan adat jahiliyah Arab, yang kemudian disapu bersih dengan hadirnya Islam. Ini terlihat dari banyaknya ayat dan hadits yang melarang sembelihan untuk selain Allah, juga ancaman bagi yang melakukannya.

Dahulu, orang biasa Arab biasa menyembelih hewan di sisi kuburan, lalu Islam melarangnya. Sebagaimana hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam
لاَ عَقْرَ فِي الإِسْلاَمِ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: كَانُوا يَعْقِرُونَ عِنْدَ الْقَبْرِ بَقَرَةً أَوْ شَاةً

“Tidak boleh ada ‘aqr (menyembelih di kuburan) dalam Islam.” (HR. Abu Dawud)

Abdurrazzaq yang meriwayatkan hadits tersebut berkata; dahulu mereka menyembelih sapi atau kambing di kuburan.

Dengan alasan mengikuti adat, tradisi itupun masih dilestarikan dengan istilah bedah bumi (‘meminta ijin’ untuk menggali liang kuburan), atau sebagai penghormatan kepada orang yang telah mati.

Padahal secara tegas Nabi shallallaahu 'alaihi wasallambersabda,
وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Jimat untuk kesaktian dan penangkal bahaya, juga menjadi warisan orang musyrik terdahulu. Suatu kali, sahabat Hudzaifah bin Yaman menengok orang sakit. Beliau melihat di lengan si sakit ada gelang (untuk jimat). Maka beliau langsung melepasnya sembari membaca firman Allah,

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah ( dengan sembahan-sembahan lain ).”(QS. Yusuf:106)

Bukankah praktik ini sering kita jumpai dalam bentuk rajah di pintu rumah, di warung, kendaraan, atau jimat lain berupa gelang, kalung atau cincin yang dianggap memiliki khasiat bisa mendatangkan manfaat dan mencegah madharat. Inilah keyakinan syirik warisan jahiliyah, di mana Islam datang untuk membersihkan dan menghilangkannya.

Belum lagi berbagai keyakinan khurafat yang masih subur dan diwariskan turun temurun.

Meninggalkan Adat Demi Syariat

Ajaran tauhid mengharuskan penganutnya bersih dari syirik, meski itu berupa adat yang mendarah daging dan mengakar kuat. Wajar, jika dakwah Nabi SAW oleh orang Arab diidentikkan dengan dakwah untuk meninggalkan adat nenek moyang.

Heraklius, Kaisar Romawi yang beragama Nasrani pernah bertanya kepada Abu Sufyan saat masih musyrik, ”Apa yang Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam serukan atas kalian?” Abu Sufyan menjawab,
يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَة

“Beliau mengatakan, “Hendaklah kalian hanya beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hendaknya kalian meninggalkan pendapat nenek moyang kalian, dia juga menyuruh kami shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan dan menjalin persaudaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyelisihi kebiasaann nenek moyang bukanlah cela. Melanggar adat tak juga membuat kita kualat. Bahkan orang yang kualat dan mendapat ganjaran berupa siksa yang berat adalah mereka yang mempelopori adat yang sesat, juga para pengikutnya di dunia.

Di dalam hadits Bukhari, Nabi juga bersabda, ”Aku mengetahui, siapakah orang pertama yang merubah ajaran (tauhid) Ibrahim alaihis salam.” Para sahabat bertanya, ”Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Dia adalah Amru bin Luhay, saudara Bani Ka’ab. Aku melihatnya dia menyeret usus-ususnya di neraka, hingga penduduk neraka yang lain terganggu oleh bau busuknya.” (HR. Bukhari)

Begitulah ganjaran bagi orang yang membawa berhala ke negeri Arab, yang tadinya telah dibersihkan oleh kapak dan dakwah tauhid Ibrahim alaihis salam. Apakah kita tetap akan membanggakan para leluhur meski memiliki kemiripan dengan Amru bin Luhay?

Teladanilah sikap yang diambil oleh seorang tabi’in, Syuraih al-Qadhi ketika beliau ditanya, ”Dari kaum manakah Anda?” Beliau menjawab, ”Dari kaum yang Allah telah karuniakan Islam atasnya. Sedangkan orangtuaku dari Kindah.” Beliau lebih suka menisbahkan dirinya kepada Islam, katimbang membanggakan sukunya.

Karena beliau tahu, suku atau keturunan siapa tak akan membuatnya mulia atau hina, tidak pula menolongnya kelak di akhirat. Nenek moyang tak mampu menyediakan surga baginya, bahkan, jika mereka sesat, mereka sendiri dalam keadaan hina. Simaklah kabar Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam tentang mereka,
لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجِعْلاَنِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتِنَ

Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaumnya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari ji’lan (kumbang kotoran) yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Memang, tak semua adat itu sesat, sehingga wajib kita mengukurnya dengan barometer syariat. Jika memang bertentangan, janganh ragu meningalkannya, demi merealisasikan ajaran Islam yang hanif. (Abu Umar Abdillah/http://www.arrisalah.net/kolom/2010/09/hidayah-lambat-karena-adat.html)

Rabu, 10 Agustus 2011

Setan Dibelenggu Nafsu Menghasutmu



Ramadhan datang, kita pantas bergembira. Peluang pahala dibuka seluas-luasnya. Motivasi amal tercurah begitu melimpah, sementara penghalang utama disingkirkan sebulan lamanya. Pintu jannah dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.

Tapi bukan berarti semua manusia menjadi ma’shum karenanya. Masih ada kemungkinan bagi mereka untuk berbuat dosa. Malah fakta yang biasa terulang, masih banyak maksiat terpampang di depan mata, dosa pun masih menjadi pemandangan yang biasa. Mengapa?

Masih ada bahaya latin pada diri manusia. Dia adalah musuh besar manusia, tapi dianggap tuan olehnya. Perintahnya diikuti, keinginannya dituruti dan pantangannya disingkiri. Dialah nafsu yang sebagian ulama menyebutnya dengan ‘aduwwun matbuu’, musuh yang diikuti.

Nafsu, Teman dan Tunggangan Setan

Nafsu disebut pula sebagai rafiiqusy syaithan, teman akrabnya setan. Nafsu punya kecenderungan bersenang-senang, lalu setan yang menyuguhkan progam maksiat yang menyenangkan. Atau setan lebih dulu memberikan tawaran menggiurkan, lalu nafsu datang memberikan sambutan. Maka antara setan dan nafsu ibarat sejoli yang saling melengkapi keinginan pasangannya.

Ulama yang lain menyebut nafsu sebagai markabusy syaithan atau mathiyyatusy syaithan, kendaraan setan. Karena tatkala setan hendak melancarkan serangan, dia akan memboncengi nafsu yang selaras dengan kesenangan yang memperdayakan. Melalui pintu nafsu pula setan bisa masuk dan menghembuskan bisikan.

Keduanya saling berperan dalam menyesatkan, maka, kelak di neraka masing-masing saling menuduh siapa ‘biang’ yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Setan akan ‘cuci tangan’ atas ajakan yang pernah ia lakukan. Allah berfirman,

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah diri (nafsu)mu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku.” (QS Ibrahim 22)

Karakter nafsu memang tidak bersifat netral. Ia sudah memiliki kecondongan, yang jika dibiarkan akan terus mengarah kepada apa yang disenangi. Dan kecondongan nafsu itu menuju ke arah yang buruk. Inilah yang disebut dengan “nafsu ammaaratun bis suu’.” Seperti ucapan Nabi Yusuf alaihis salam yang dikisahkan oleh Allah,

“…karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS Yusuf 53)

Memang tidak salah jika manusia memiliki kecenderungan dan kesenangan terhadap wanita, anak-anak, harta dari jenis emas, perak, kendaraan pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Bahkan semua itu bisa menjadi sarana untuk taat kepada Allah.

Akan tetapi, seringkali nafsu menghasut manusia untuk melampaui batas dari petunjuk wahyu. Nafsu tak puas hanya sebatas itu. Ia terus merengek agar bisa mengenyam segala kesenangan dengan cara yang haram, mengelola untuk tujuan yang haram, atau menyibukkan manusia dengan semua perhiasan itu, hingga mereka lalai dari berdzikir dan menghamba kepada Allah. Begitulah peranan nafsu dalam menyeret manusia menuju daerah larangan Allah.

Nafsu juga cenderung untuk berleha-leha, hanya menerima enaknya saja dan cenderung malas untuk berjuang dan berkorban, sementara ibadah kepada Allah menuntut total ketundukan dan pengorbanan. Karenanya, kemudian manusia enggan melakukan kewajiban dan keutamaan. Nafsu membuat kewajiban menjadi terabaikan.

Jika Dituruti, Tak Pernah Terpuasi
Sisi lain dari bahaya nafsu, ia tidak akan pernah terpuasi. Makin dituruti, makin liar pula mencari-cari. Nabi saw memberikan gambaran tentang nafsu manusia,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andaikan anak Adam memiliki dua ladang emas, niscaya dia akan mencari ladang yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut (keinginan) anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat.” (HR Bukhari)

Orang yang melampiaskan nafsunya di tempat yang haram, baik berkenaan dengan wanita, minuman keras atau mencari harta dengan jalan dosa, sulit baginya untuk berhenti. Bukan karena mereka merasa nikmat dengan apa yang telah mereka cicipi, tapi karena sulitnya mereka keluar dari kubangan syahwat dan kuatnya cengkeraman nafsu membelenggu. Dan nafsu tak akan puas hanya dengan satu jenis maksiat saja.

Ibnul Qayyim al-Juaziyah mengatakan, “Hendaknya orang yang berakal mengetahui bahwa orang yang menuruti kemauan syahwat, akan tergiur untuk berpindah dari satu jenis syahwat menuju syahwat yang lain. Pun ia tidak akan pernah puas karenanya, tetapi tidak pula kuasa untuk meninggalkan kebiasaannya. Karena seakan itu telah menjadi bagian hidup yang mesti di jalaninya. Untuk itu, Anda juga melihat bahwa orang yang terus mabuk khamr dan zina tidak pernah merasakan sepersepuluh kepuasan yang didapat orang lain dalam hidupnya.

Syeikh Ath-Thanthawi bahkan memberikan pengandaian yang lebih berani, “Seandainya diberikan kepada Anda seluruh harta Qarun, postur tubuh seperti Herkules dan disediakan untukmu sepuluh ribu wanita yang paling cantik dari berbagai warna kulit, bentuk dan berbagai sisi kecantikan, apakah Anda mengira telah cukup puas? Tidak, aku katakan dengan tegas, ‘tidak.., aku menulisnya dengan pena yang tajam. Akan tetapi, satu saja wanita yang halal untukmu niscaya cukup bagi Anda. Janganlah Anda menuntut bukti kepada saya, karena setiap kali Anda menoleh kepada kehidupan sekitar Anda niscaya Anda akan mendapatkan bukti yang valid, jelas dan kasat mata.”

Menyesali, Tapi Kembali Lagi
Ketika nafsu ‘menggolkan’ suatu dosa, hingga pemiliknya terjerumus ke dalamnya, bukan berarti nafsu tidak menyesalinya. Terkadang ia juga menyesal, tapi sebentar kemudian ia ketagihan lagi untuk meneguk cawan maksiat. Inilah yang disebut dengan ‘nafsul lawwaamah’. Allah berfirman,

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS al-Qiyamah 2)

Ibnu Jarir menyimpulkan berbagai penafsiran tentang nafsul lawwaamah, “yakni nafsu yang suka menyesali perbuatan baik maupun perbuatan buruk dan menyesali apa yang telah berlalu.” Dia menyesal atas perbuatan buruk yang telah dikerjakan, atau perbuatan baik yang ia sia-siakan.

Ada kalanya, ada orang yang dirahmati Allah, penyesalan itu akan membawa pemiliknya untuk bertaubat dan melakukan perbaikan. Namun tak jarang pula yang tetap kembali dengan kebiasaan lama, mencebur kembali ke habitatnya yang kelam.

Nafsu Bisa Disapih
Nafsu itu seperti bayi, jika dibiarkan menyusu, ia tak mau berhenti. Tapi jika disapih, tak akan membuatnya celaka. Dengan dipandu oleh wahyu, dibimbing oleh syariat, nafsu yang liar bisa ditundukkan menjadi tenang. Ia akan ridha dalam ketaatan dan benci terhadap kemaksiatan. Inilah yang disebut dengan nafsul muthma’innah. Sebagaimana firman Allah,

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya…” (QS al-Fajr 27-28)

Ibnu Katsier rahimahullah menafsirkan nafsul muthma’innah dengan jiwa/nafsu yang tenang, teguh dan berjalan di atas kebenaran.

Dengan kata lain, syariat tidak ‘membunuh’ adanya potensi nafsu pada diri manusia, karena itulah fitrah bagi manusia. Tapi syariat mengarahkan nafsu kepada sesuatu yang bermanfaat, dan mencegahnya dari madharat. Allah melarang zina, tapi menghalalkan pernikahan dengan ketentuan yang rinci. Allah mengharamkan khamr, tapi masih lebih banyak minuman yang dihalalkan. Mengharamkan bangkai dan daging babi, tapi menghalalkan yang baik-baik yang juga disukai oleh nafsu, begitulah seterusnya.

Wal hasil, tantangannya sekarang adalah, mampukah kita mengendalikan nafsu agar tidak menjamah di luar batas yang dihalalkan oleh Allah. Semoga hadirnya Ramadhan menjadi momen penting bagi kita untuk menyapih hawa nafsu dan menundukkan dari sifat ammaratun bis suu’ menuju thuma’niinah. Wallahul muwaffiq. (Sumber:Abu Umar Abdillah/http://www.arrisalah.net/)

Minggu, 07 Agustus 2011

DAN BERTAQWALAH WAHAI ORANG ORANG YANG MEMIKIRKAN

Diantara tanda tanda kebesaran Allah subahaanahu wata’aala adalah Dia menciptakan siang dan malam yang silih berganti, menciptakan langit sebagai atap dan bumi sebagai tempat manusia berpijak. Begitupula Allah subahaanahu wata’aala menciptakan laki laki dan perempuan yang berlainan jenis, kesemuaanya itu adalah agar manusia dapat selalu mengingat dan berpikir bahwa Dialah satu satunya Rabb yang berhak untuk disembah dan Dialah satu satunya Sang Pencipta.

Demikianlah Allah subhaanahu wata’aala telah memberikan kenikmatan kepada manusia yang begitu banyak, agar manusia selalu berpikir akan hak hak Sang Pencipta, Allah Subhaanahu Wata’aala.

Allah Subhaanahu Wata’aala telah banyak mentabih dan mentandzir memberikan peringatan kepada manusia agar mereka senantiasa memikirkan akan kenikmatan kenikmatan yang begitu banyak tersebut. Karena dengan yang demikian itu manusia akan selalu sadar akan kelalaian kelalaian mereka. Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:



إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤)



164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Allah juga berfirman:



قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (٣١)وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٣٢)



(31). sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan Pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan Kami, terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, Amat buruklah apa yang mereka pikul itu.(32). dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Demikian diantara ayat ayat yang menjelaskan akan bentuk peringatan Allah Subhaanahu Wata’aala akan kelalaian manusia. Namun, firah manusia yang selalu ingin hidup senang, hidup mewah, hidup dalam kekayaan dan kemegahan, membuat manusia lupa diri akan semakin dekatnya hari yang dijanjikan oleh Rabb mereka.

Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:



اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ (١)مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٢)لاهِيَةً قُلُوبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٣)



(1). telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).(2). tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main,(3). (lagi) hati mereka dalam Keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir itu[*], Padahal kamu menyaksikannya?"

[*] Yang mereka maksud dengan sihir di sini ialah ayat-ayat Al Quran.

Banyak dari kalangan manusia, yang enggan untuk memikirkan betapa di balik semua penciptaan yang sempurna ini terdapat banyak tanda dari tanda tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Olehnya Allah Subhaanahau Wata’aala mengabarkan kepada kita tentang tanda tanda ulull Albab yaitu orang orang yang berakal sehat yang akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagian di dunia dan di akhirat kelak. Allah subhaanahu Wata’aala berfirman:



إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)



(190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(191) yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Rasulullah Shallallahu “alaihi Wasallam ketika membaca ayat ini beliau menangis, karena khawatir dari umatnya banyak yang tidak mentadabburi ayat ini.

Jika saja manusia hendak meluangkan sedikit waktunya untuk memikirkan betapa sempurnanya penciptaan Allah Subhaanahu Wata’aala terhadap dirinya, maka sungguh ia akan banyak bersyukur dan akan banyak melinangkan air matanya untuk senatiasa bertaubat kepada Allah akan dosa dosanya. Betapa tidak, semua yang Allah Subhaanahu Wata’alaa berikan pada dirinya akan dimintai pertanggung jawabannya. Mulut, telinga, mata, kaki, tangan dan semua organ organ tubuhnya yang lain akan menjadi saksi di hari kiamat kelak. Hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak anak, keculai orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:



وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)



36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Masih ada waktu yang Allah Subhaanahu Wata’aala berikan kepada kita untuk senantiasa memikirkan dan bertaubat dari kesalah kesalahan kita semua. Sebelum datang waktu yang Allah janjikan, dimana kita Akan melihatnya dengan Ainul Yaqiin. Olehnya, semoga kita tidak termasuk diantara orang orang yang lalai yang terlena dengan kenikmatan dunia yang fana.



أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١)حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣)ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٤)كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (٥)لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (٦)ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (٧)ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (٨)



(1). Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,(2). sampai kamu masuk ke dalam kubur.(3). janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),(4). dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.(5). janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,(6). niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,(7). dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.(8). kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).



إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢٤)



24. Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya.], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya [Maksudnya: dapat memetik hasilnya], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.

Permisalan manusia di dunia ini dengan Tuhan-Nya ibarat penjual dan pembeli. Manusia sebagai penjualnya dan Allah sebagai pembelinya. Jika dagangan manusia itu baik maka Allah Subhaanahu Wata’aala Akan menerima dagangan tersebut dan jika dagangan itu buruk maka Allah Subhaanahu Wata’aala akan menolak dagangan tersebut. Maka perbaikilah daganganmu wahai sekalian orang orang yang beriman.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١١)



"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar".(QS At Taubah :111)

Manusia hanyalah ibarat kumpulan hari hari, ia menjual dirinya untuk membebaskan dirinya dari adzab Allah Subhaanahu Wata’aala atau mengahabiskan potongan hari harinya untuk membinasakan dirinya ke adzab Allah Subhaanahu Wata’aala Dzat yang kepada-Nya semua akan di kembalikan.

Hasan Al Bashri Rahimahullah mengatakan:

يا ابن آدم إنك أنت الأيام إذا ذهب يومك ذهب بعضك



Wahai bani Adam sesungghunya engkau hanyalah kumpulan dari hari hari, jika telah pergi harimu maka pergilah sebagian dari dirimu

Raulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

الطهور شطر الإيمان, و الحمد لله تملأ الميزان و سبحان الله و الحمد لله تملآن أو تملأ ما بين السماء و الأرض و الصلاة نور و الصدقة برهان و الصبر ضياء و القرآن حجة لك أو عليك, كل الناس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها. رواه مسلم

Bersuci itu adalah separuh dari iman, bacaan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) itu memnuhi timbangan, bacaan subhaanallah (Maha Suci Allah) dan Alhamdulillah itu,keduanya memenuhi antara langit dan bumi. Sholat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran adalah sinar, sedangkan Al Qur-an adalah hujah yang membelamu atau yang menuntutmu. Setiap menusia berbuat, seakan akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya dan ada pula yang membiasakan dirinya. “ ( diriwayatkan oleh imam Muslim)

إن الليل و النهار رأس مال المؤمن, ربحها الجنة و خسرانها النار

Sesungguhnya malam dan siang adalah modal utama kaum muslimin. Keuntungannya adalah surga dan kerugiannya adalah neraka. ( thoifur al baththami )

Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

Engkau begitu terobsesi pada dunia

Apakah engkau tahu wahai manusia yang tertipu

Apa yang engkau kejar?

Jika seseorang terlalu keras berusaha untuk dunianya

Hingga terlalai dari Akhirat, tidak ragu lagi ia adalah manusia yang rugi


Akhuukum Fillah: Alfaqiir ilaa ‘afwi Rabbihi Abu Abdillah Wahyu Al Munawy

Boleh Jadi Ini Ramadhan Terakhir Bagi Kita

Jika seseorang mengunjungi suatu tempat atau bertemu seseorang yang spesial dan merasa bahwa ia takkan bertemu lagi dengan orang itu atau tidak akan kembali ke tempat itu, tentu saja ia akan bersemangat memanfaatkan keberadaannya di tempat itu. Ia akan memaksimalkan pertemuan tersebut ,tidak menyia-nyiakan momen yang belum tentu akan terulang kembali.

Oleh sebab itu pula, ketika para sahabat mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menyampaikan nasihat yang menyentuh, yang menggetarkan hati dan membuat mata-mata mereka menangis, mereka merasa seakan-akan itu adalah nasihat terakhir. Oleh karenanya, mereka meminta wasiat kepada Rasulullah. “Nampaknya ini adalah nasihat perpisahan, berwasiatlah kepada kami, pinta salah seorang dari mereka. Saat itu mereka benar-benar merasakan suasana perpisahan yang momennya tidak akan terulang.

Semakna dengan ini, ketika Nabi menunaikan haji wada’ (perpisahan) dan beliau merasa bahwa beliau tidak akan berjumpa lagi dengan umatnya dalam forum yang sama di dunia ini. Maka beliau merangkum wejangan beliau dalam beberapa kalimat yang merupakan intisari dari rangkuman semua isi da’wah beliau. Bahkan beliau dengan terus terang mengatakan, “Boleh jadi saya tidak akan bertemu dengan kalian setelah hari ini.” Hal ini menunjukkan bahwa perasaan akan berpisah melahirkan spirit dan semangat yang luar biasa yang kadang tidak terasa pada kesempatan yang biasa.

Dari sinilah kita, memahami rahasia ucapan Nabi kepada seseorang, “Jika engkau berdiri shalat ,shalatlah seperti seorang yang akan berpisah”. Bayangkan jika ada seorang yang ikhlash, shalat beberapa raka’at sedang ia tahu bahwa ia akan segera meninggalkan dunia ini. Bagaimana ia akan shalat? Sudah pasti ia akan berusaha mempersembahkan shalat dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menunjukkan kepada kita bagaimana melepaskan diri dari bahaya perubahan status ibadah menjadi kebiasaan. Lalu mengapa kita kita tidak menghadirkan ruh dan semangat perpisahan dalam seluruh ibadah kita? Apatah lagi kita pasti meninggalkan segala hal.

Ramadhan datang kepada kita sebagai tamu yang menjamu, dia akan memuliakan kita jika kita terlebih dahulu memuliakannya. Dia datang membawa berbagai berkah, dia mempersembahkan kepada kita beragam keutamaan. Iya, dia adalah tamu, tetapi justru dia menjamu kita dengan 1001 macam jamuan spesial. Tetapi boleh jadi ini adalah jamuan yang terakhir darinya. Lalu mengapa kita tidak memuliakannya?

Namun demikian, bukan berarti kita tidak bergembira dengan kedatangannya. Bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mentabsyir (memberi berita gembira) para sahabat dengan kedatangan ramadhan. Beliau memberi busyro yang menumbuhkan kerinduan untuk mengecap berkahnya. busyro yang memancarkan semangat untuk merindui rahmat yang menyertai setiap detaknya. Beliau mengabarkan, “Kalian telah didatangi oleh Ramadhan. Bulan berkah. (Pada bulan ini) Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa, pintu-pintu jannah dibuka, pintu neraka ditutup, para setan dibelenggu, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang dihalangi dari kebaikkan malam tersebut, maka ia telah terhalangi dari kebaikkan…..” (HR Imam Ahmad dan An Nasai dishahihkan oleh Syaikh Al Baniy).
Saudaraku ,

Mari kita hadirkan kembali rasa akan berpisah dalam semangat ramadhan kita. Mari kita khususkan bulan suci ini dengan meningkatkan perhatian kita terhadap berbagai amaliyah ramadhan. Hadirkan rasa akan berpisah dengan puasa yang kita jalani.
Setiap tahun kita berpuasa ramadhan, tetapi obsesi sebagian kita sebatas menggugurkan kewajiban. Maka pada ramadhan tahun ini, hendaknya yang menjadi obsesi kita adalah merealisasikan makna puasa yang Imanan wahtisaban agar kita mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kita yang lalu.

Setiap tahun kita mengkhatamkan al Qur’an berkali-kali. Maka Hendaknya pada salah satu pengkhataman kita tahun ini disertai tadabbur, perenungan terhadap makna-maknanya serta komitmen untuk mengikuti petunjuknya, menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya.

Pada awal-awal bulan kita begitu antusias untuk mendapatkan shalat berjamaah bersama Imam. Maka sedapat mungkin tahun ini sepanjang bulan kita kita ketinggalan takbiratul ihram bersama Imam.

Kita menghususkan bulan ramadhan untuk memberikan keluasan kepada keluarga dan anak-anak kita dengan berbagai kebaikan duniawi yang sementara. Maka sebisa mungkin pada ramadhan kali ini kita mempersembahkan kepada mereka keluasan berupa gizi ruhiyah dan nutrisi hati, berupa buku bacaan atau kaset ceramah, atau kata-kata nasihat yang bermanfaat kepada mereka.

Setiap tahun kita bersedekah, tetapi dengan maksud menolong orang-orang susah yang membutuhkan. Maka pada tahun ini, mari niatkan sedekah kita untuk membantu diri sendiri. Kita butuh keselamatan dari neraka dengan sedekah tersebut. Kita memerlukan penghapusan dosa dengan sedekah-sedekah tersebut.

Setiap tahun kita berbuat kebaikan begini, setiap tahun kita berbuat kebaikan begitu, setiap tahun kita… , setiap tahun kita….

Maka, mari pada tahun ini kita melakukan lompatan yang lebih tinggi untuk mengatrol kwalitas dan kwantitas ibadah kita. Boleh jadi, ini marupakan ramadhan terakhir kita.

Allaahumma Barik lanaa fiy Ramadhan, wa waffiqna ‘alaa ghtinaamihi bith Thaa ‘aat. Wa a’innaa ‘alaa shiyaamihi wa qiyaamihi waj’alnaa min ‘ibaadikal Muttaqiyn .Aamiyn…..
Selamat berbulan ramadhan.
(Diadaptasi secara bebas dari “Ruhushiyaam wa Ma’aaniyhi “ karya Syaikh DR ‘Abdul Azizi Musthafa Kamil)
(Tamalanrea Makassar 01/09/1432:04,45)
Al Faqiyr Ilaa ‘Afwi Rabbihi
Syamsuddin Al Munawiy

Rabu, 13 Juli 2011

Agar Setan Menyesal

Lumrahnya, kalau manusia terpeleset melakukan dosa apalagi dosa besar, manusialah yang akan rugi dan setanlah yang akan merasa beruntung dan begembira. Tapi bagaimana jika setelah manusia melakukan dosa, justru setanlah yang menyesal dan berkata,“Andai saja aku tidak menjerumus kannya ke dosa itu..”?. Bagaimanakah hal semacam itu bias terjadi?
Setiap hari jiwa kita bergelut dengan nafsu yang dikipasi setan. Memilih antara melakukan kebaikan atau kemaksiatan, antara manfaat atau sia-sia, kebenaran atau kebatilan. Ketaatan dan kebaikan ibarat anak tangga kayu yang membuat pijakan kaki semakin tinggi dan derajad kita semakin meningkat. Sedang dosa tak ubahnya rayap yang kita biarkan menggerogoti pijakan hingga membuat pjakan patah dan kita pun terjerembab ke tangga dibawahnya atau bahkan paling bawah.
Fokus usaha setan hanyalah mencari cara agar manusia terperosok. Semakin jauh manusia jatuh, semakin dekat dirinya dengan “hunian masa depan setan”, neraka jahannam. Kalaupun kadang manusia masih bisa bangkit, setan akan kembali menjatuhkannya pada derajat yang lebih rendah. Begitulah seterusnya, manusia berusaha, setan menggagalkan.
Kalau saja Allah tidak meluaskan rahmat-Nya dan hanya menerima orang-orang yang selamat sampai diatas tanpa memberikan dispensasi bagi yang terjatuh, wallahua’lam, entah bagaimana nasib kebanyakan manusia. Tapi, segala puji bagi Allah yang membuka pintu taubat. Sebuah pintu rahmat yang tak ternilai harganya bagi manusia yang sering salah dan lupa. Dengan taubat, manusia bahkan bisa lebih cepat membuat anak tangga menuju kemuliaan daripada sebelumnya.
Manakala seseorang berbuat dosa lalu bertaubat, perasaan rendah diri, kehinaan di depan Allah karena kesalahannya, kebergantungan kepada-Nya, ketakutan akan nasibnya dan harapan akan kasih sayang-Nya akan membuatnya bersegera menggantinya dengan yang baru. Iapun naik dengan cepat.
Allah befirman,:

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.al Furqan:70)

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa maksud keburukan diganti dengan kebaikan adalah hati dan amal orang yang bertaubat akan diganti dengan kebaikan; syirik akan diganti dengan iman, zina diganti dengan sikap menjaga diri dan kehormatan, dusta diganti dengan kejujuran dan khianat dengan sifat amanat. Dengan ini dia melaju menaiki tangga menuju janah laksana kilatan petir. Said bin Musayib bahkan berpendapat bahwa keburukan yang diganti adalah keburukan amal didunia diganti dengan kebaikan di akhirat.

Ibnul Qayim menjelaskan, ada seorang salaf yang menyatakan, bahwa ada kalanya seorang yang berbuat salah lalu bertaubat lebih baik dari yang tidak pernah terpeleset tapi merasa ujub dengan amalnya. Orang yang salah lalu bertaubat, dosanya selalu tampak dimatanya kemanapun dia pergi. Hatinya pun hancur, senantiasa menyesali dan memohon ampun. Sedang yang senantiasa berbuat baik merasa ujub, kebaikannya teringat kemanapun dia pergi, hingga hal itu justru dapat mencelakakannya.(Madarijus Salikin, Ibnul Qayim, hal.57).

Hanya saja taubat yang dimaksud adalah taubat nashuha. Taubat yang total yang memiliki tanda: orang yang bertaubat menjadi lebih baik dari sebelumnya dan selalu berusaha berada pada jalur yang benar. Contoh nyatanya ada pada kisah-kisah para pendahulu. Misalnya, Fudhail bin Iyadh, seorang perampok yang bertaubat dan akhirnya menjadi ulama dan orang shalih hingga akhir hayatnya -wala nuzakki’alallahi ahada-. Taubat nashuha bukan taubat sambal yang memiliki efek temporer dan hanya pada menyembuhkan titik dosa yang telah dilakukan sedang yang lain tidak. Bertaubat dari zina, tapi masih gampang terjerumus atau malah bergelimang dosa riba, misalnnya. Bukan. Taubat nashuha adalah taubat yang mempengaruhi hati dan amal secara keseluruhan hingga membuatnya semakin baik, meskipun bisa jadi pemicunya hanya satu jenis dosa.

Taubat itu seperti seember air yang diguyurkan pada kanvas amal yang telah kita coreti dengan tintah nafsu yang hitam. Air itu meluruhkan torehan-torehan itu hingga bersih. Dosa-dosa yang kita lakukan tak ubahnya sapu-tangan tinta pada kanvas hati yang semakin lama akan membentuk seraut wajah yang mengerikan. Wajah dari amal dan hakikat diri kita. Dan taubat nashuha adalah air yan membilasnya dengan bilasan yang amat bersih.

Manakala seseorang bertaubat nashuha karena suatu dosa, saat itulah setan akan kesal dan menyesal, andai saja dia tidak menjerumuskannya pada dosa itu. Rupanya dosa itu terlalu berat bagi hati manusia dan justru membuatnya amat menyesal lalu kembali kepada Allah. Setan berfikir, andai saja ia jerumuskan manusia tadi pada dosa lain. Ini menjadi sebuah kerugian yang amat besar dalam usaha penyesatan manusia. Lukisan mengerikan itu hampir saja sempurna, tapi akhirnya malah musnah tanpa sisa diguyur air taubat nashuha.

Nah, pada akhirnya kita lah yang akan memilih. Allah sudah bukakan pintu, apakah kita akan memasukinya atau berpaling meninggal kannya.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami taubat nashuha. Ampunilah seluruh dosa-dosa kami dan gantilah keburukan kami dengan kebaikan.Amin. (Disalin dari tulisan Abu Rozin di Majalah Arrisalah edisi 118)

Jumat, 27 Mei 2011

Mari Kita Raih Kemenangan

seorang lelaki datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. “Wahai Rasulullah amal ibadah apa yang paling dicintai Allah dalam Islam?”, Rasulullah bersabda, “Shalat di awal waktu, dan siapa yang meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama.
(H.R Baihaqi)

Hayya ‘ala shalaah… hayya ‘ala-l fallaah… Suara azan shubuh dari mesjid terdengar merdu memanggil kita. Berapa banyak dari kita yang datang ke mesjid? Berapa banyak shaf-shaf di mesjid terisi? Mesjid sepi.

Tak berapa lama kemudian, hari masih sangat pagi, semua penghuni rumah bergegas keluar rumah, jalanan menjadi ramai, lalu lintas padat, angkutan umum penuh sesak... . hendak kemana kita? Tujuan kita ke tempat kerja.

Waktu zuhur dan ashar pun tiba, dan kita memilih tenggelam dengan pekerjaan kita, sibuk di depan komputer, mengikuti meeting panjang, menggarap proyek besar… Shalat zuhur dan ashar kita tunda-tunda, kita kerjakan shalat di akhir waktu…

Bagaimana dengan maghrib dan isya? Ah, kita sangat lelah, tenaga kita rasanya habis terkuras, shalat pun rasanya amat berat…

Inikah potret kehidupan kita? Inikah realitanya? Apakah pekerjaan menjadi prioritas kita? Shalat kita lalaikan? Sebenarnya apa yang kita tunggu-tunggu dalam hidup ini? Tak lain, kita semua sedang menunggu kematian…Dan setelah kematian, amalan apakah yang pertama kali dihisab oleh Allah? Ya, shalat adalah amalanyangpertama kalidihisab oleh Allah!

Betapa ingin kita datang tepat waktu ke kantor, betapa ingin kita dilihat oleh atasan sebagai karyawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh, kita tidak ingin dicap pemalas, kita sangat peduli dengan perasaan atasan kita, tapi… mengapa kita tidak peduli dengan “perasaan”Allah? Pernahkah terpikir oleh kita bagaimana “perasaan” Allah saat kita selalu terlambat menghadap-Nya, mengakhir-akhirkan waktu shalat, bahkan ketika shalat kita masih saja memikirkan dunia… Padahal yang memberi rizki untuk kita bukan atasan kita, tetapi Allah.

Mungkin kita bertanya, bukankah bekerja adalah ibadah? Benar, bahwa bekerja adalah ibadah, tapi apakah dibenarkan jika bekerja memalingkan ibadah kita kepada Allah? Sungguh, betapa Allah sangat sayang kepada kita, dan betapa Allah sangat mengerti kebutuhan kita. Lihatlah rentang waktu yang panjang antara shalat shubuh dan zuhur, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk sibuk dengan dunia, untuk mencari sebagian karunia-Nya. Dan juga rentang waktu yang panjang antara isya dan shubuh adalah waktu istirahat yang diberikan Allah kepada kita setelah kita seharian lelah bekerja.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Hadist yang menegaskan betapa agungnya kedudukan shalat. Allah Ta'ala berfirman:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan padamu yaitu al kitab (Al-Qur’an) dan dirikan shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-prbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-Ankabut [29]:45)

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (Q.S Al-Ma’arij [70]:34-35)

Telah datang seorang lelaki dan bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. “Wahai Rasulullah amal ibadah apa yang paling dicintai Allah dalam Islam?”, Rasulullah bersabda, “Shalat di awal waktu, dan siapa yang meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama. (H.R Baihaqi)

Shalat juga merupakan pesan terakhir Rasulullah, sebelum wafat Rasulullah terus mengucapkan “As-shalah! As-shalah! Wa maa malakat aymanukum.” (Shalat! Shalat Dan para budak) (H.R Ibnu Dawud)

Saudaraku tercinta, sebelum kita dihisab Allah, sebelum tiba hari dimana harta dan anak tak lagi berguna, marilah kita hisab terlebih dahulu diri kita, kita hisab amalan shalat kita.


Marilah kita pelihara shalat kita, jadikan shalat sebagai prioritas pertama hidup kita, maka sungguh kita akan meraih kemenangan, yaitu kekal di dalam surga-Nya. Hayya ‘ala shalaah… Hayya ‘ala-l fallaah…

Daftar Pustaka
Al-Rasyid Muhammad ibn Khalid, Syami Ahmad Shaleh. “Min Akhta al-Mushallin assholah assholah (akhir maa takallama bihi anabii)”. Diterjemahkan oleh: Rapung Samuddin, Nasrullah Jasam dengan judul: Shalat yang Menangis”.2010. Jakarta:tuhifa media.(Silvani/www.eramuslim.com).

Kamis, 26 Mei 2011

Istiqamah Di Zaman Fitnah

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu ,Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
  
 (( بَادِرُوابِالأعْمَال فتناًكقطَعِ اللَّيلِ المُظْلِمِ،يُصْبحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناًوَيُمْسِي كَافِراً،وَيُمْسِي مُؤمِناً ويُصبحُ كَافِراً،يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّني.))
 “Segeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari mukmin, tapi sore hari kafir, atau sore masih mukmin, paginya sudah kafir. Ia jual agamanya dengan ganti sekelumit kenikmatan dunia.
 (HR. muslim)

Nilai Islam itu ibarat emas di antara pasir. Emas-emas itu akan tampak jika didulang. Semakin teliti mendulangnya, semakin jelas kilau indahnya. Tapi jika hanya dilihat dari kejauhan, atau bahkan tak dipedulikan, adakalanya orang hanya akan berpikir, ini hanyalah pasir biasa yang tidak ada apa-apanya.

Coba kita renungkan. Dalam kisah-kisah muallaf, hampir seluruhnya memiliki plot yang sama. Rata-rata menemukan hidayah setelah mempelajari Islam terlebih dahulu, sesederhana apapaun. Bahkan tidak sedikit yang memulai penelitiannya justru karena dorongan kebencian, dendam dan keinginan untuk mencari celah dan kesalahan dalam Islam. Tapi yang mereka temukan justru emas yang berkilau hingga hati mereka pun tak sanggup mengingkari keindahan yang terkandung di dalamnya.

Namun sebaliknya, yang sudah merasa memiliki Islam tapi hanya melihatnya dari kejauhan; enggan mendalami dan malas mempelajari, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya hanya melihat Islam tak lebih dari pasir kuning biasa. Islam hanya dianggap agama yang tak jauh beda dari agama yang ada. Lalu, merekapun menjualnya dengan harga yang sangat murah. Mereka tukar keislaman mereka dengan kenikmatan dunia yang fana.

Orang-orang keluar dari Islam padahal Islam telah mereka peluk sekian lama, hampir semuanya karena dunia. Ada yang dengan entengnya membuang Islamnya karena calon isterinya beda agama, meninggalkan Islam agar mendapat dukungan meraih jabatan, meninggalkan Islam karena gerojokan dana dan sampai cuma gara-gara sembako. Kalaupun ada yang bercerita, ia meninggalkan Islam karena mendapat ‘hidayah’ setelah mempelajari agama lain, dijamin orang tersebut pasti sebelumnya buta terhadap Islam atau mendapat pemahaman Islam yang salah. Ini karena Islam adalah kebenaran yang hakiki, emas sejati yang tak satupun jiwa suci manusia mengingkari kebenaranya.

Dan hari ini, manakala Islam banyak dijauhi, kemurtadan pun semakin sering terjadi. Begitu gampangnya seseorang melepaskan tali Islamnya. Dengan sekali urai, atau sedikit demi sedikit. Yang lebih parah adalah yang telah melakukan kekafiran tapi tak sadar dan masih menganggap dirinya muslim. Misalnya, mengaku Islam tapi nabinya bukan nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.

Sebuah fenomena yang rasa-rasanya sangat cocok dengan apa yang diprediksikan oleh Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam sebagai fitnah akhir zaman.

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – : أن رَسُولالله – صلى الله عليه وسلم – ،قَالَ : (( بَادِرُوابِالأعْمَال فتناًكقطَعِ اللَّيلِ المُظْلِمِ،يُصْبحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناًوَيُمْسِي كَافِراً،وَيُمْسِي مُؤمِناً ويُصبحُ كَافِراً،يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنيا.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah bersabda, “Segeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari mukmin, tapi sore hari kafir, atau sore masih mukmin, paginya sudah kafir. Ia jual agamanya dengan ganti sekelumit kenikmatan dunia.”(HR. muslim)

Imam an Nawawi menjelaskan di dalam kitab Syarh Shahih Muslim, maksud hadits ini adalah hendaknya segera melakukan kebaikan sebelum datangnya suatu fitnah yang bertubi-tubi dan membawa kegelapan sebagaimana malam tanpa rembulan. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan salah satu bentuk fitnah itu adalah cepatnya seseorang keluar dari Islam, pagi masih mukmin dan sorenya sudah kafir atau sebaliknya. Ia rela menjual agamanya demi sejumput kenikmatan duniawi.

Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan agar segera melakukan kebaikan karena fitnah-fitnah akhir zaman akan mempersulit orang untuk melakukannya. Di akhir zaman, Islam dipreteli, dikritisi lalu digugat dan dicitraburukkanagar diganti atau dipahami tidak sebagaimana ajaran Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.Bukan hanya hal-hal besar mengenai teori ketuhanan, konsep masyarakat ideal atau sistem negara dan jilbab saja, hal-hal remeh semacam jenggot dan celana cingkrang pun tak luput dari sasaran. Semua ini akan mempersulit seseorang untuk melaksanakan agamanya.

Kemurtadan yang merajalela sebagaimana disebutkan dalam hadits, membuat suasana menjadi kian runyam. Kalau orang-orang sudah tega menjual agamanya demi dunia, kehancuran akan segera melanda. Tak bisa dibayangkan betapa sulitnya menjalankan Islam, apalagi secara menyeluruh (kaffah) pada saat orang-orang Islam di sekitar sudah tidak lagi menghargai keislamannya.

Fenomena mudahnya manusia keluar dari agamanya bukan hanya berupa kasus pindah agama saja, seperti yang terjadi di pelosok yang menjadi proyek kristenisasi. Tersebarnya pluralisme, liberalisme dan paham-paham sesat seperti aliran Nabi palsu juga merupakan virus yang dapat membuat seorang muslim keluar dari Islam dengan cepat dan tanpa sadar. Sebab, paham-paham ini akan membonsai Islam sedemikian rupa hingga sekedar tumbuh pun tidak bisa sebelum akhirnya mati.Dan untuk ini, musuh-musuh Islam rela menggelontorkan dana besar bagi siapapun yang mau jadi juru dakwahnya.

Fenomena ini mirip atau bahkan merupakan episode lanjutan dari apa yang terjadi di zaman Ibnu Taimiyah di mana Islam saat itu dirusak dengan ilmu filsafat. Saking cepatnya virus filsafat merusak iman seseorang, Beliau sampai mengatakan, “ Yang belajar filsafat di pagi hari, sore harinya pasti sudah gila.” Sama dengan liberlisme dan yang semisal. Setelah mempelajarinya dan mengidap virusnya seseorang akan segera gila karena menganggap semua agama benar, al Quran boleh dikritik dan suka mengotak-atik syariat demi hawa nafsunya.

Meskipun hari ini fitnah-fitnah itu sudah membombardir kita saban hari, bukan berarti sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam di atas sudah tak relevan lagi. Justru anjuran beliau dalam hadits tersebut sangat sesuaidengan konteks yang kita hadapi.Kita harus segera beramal dan melaksanakan Islam secara kaffah, sekuat tenaga. Sebab, kian hari, fitnah ini bukannya berkurang tapi justru berpotensi besar kian menjadi-jadi. Saat itu akan semakin sulit bagi kita untuk menjalankan Islam secara maksimal. Kejahiliyahan semakin merajalela sedang para ulama yang benar-benar mumpuni dalam agama kian jarang adanya. Mereka wafat dan tiada pengganti. Jika sekarang saja banyak yang berani melecehkan syariat dan Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, tak terbayangkan 10 tahun yang akan datang kelancangan seperti apa yang bakal dilakukan. Wallahulusta’an, semoga Allah melindungi iman kita. (anwar/www.arrisalah.net)