Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 April 2013

Memahami Kalimat Cinta Tertinggi

Oleh Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Kita tak akan pernah mencapai manisnya kisah cinta dengan sang Rabb kecuali bila makna ‘La ilaha illallah’ benar-benar dipahami. Kalimat agung ini, jika saja diucapkan dengan penuh kesadaran dan perasaan, sesungguhnya adalah kalimat yang memiliki makna yang sangat dekat dengan hati kita. Kalimat ini adalah kalimat yang kutub putarannya pada segala kemahasempurnaan. Sebuah pengakuan hakiki akan segala kemahaagungan dan kemuliaan. Ia adalah sebuah ungkapan hati yang tunduk sempurna pada Allah.

Pernahkan kita mencoba memahaminya?

Tidak terhitung berapa banyak kita telah mengucapkan kalimat ini. Tapi di usia kita sekarang ini, pernahkah kita sekali saja menyempatkan diri untuk lebih dalam memasuki makna ‘laa ilaha illallah’ jauh lebih dalam? Mungkin tidak pernah. Paling jauh kita akan mengatakan, “Iya, saya pernah mengetahui artinya. Tiada Tuhan selain Allah kan?”. Dan sudah, hanya sampai di situ. Sehingga wajar saja bila keindahan cinta antara sang makhluk dengan Khaliknya tak kunjung terwujud.

Bila kita telah memahami bahwa pangkal utama hilangnya keindahan itu adalah bermula dari ketidakmengertian kita akan kandungan makna kalimat agung itu, maka sekarang marilah kita mencoba menelusuri secara singkat apa sesungguhnya yang tersembunyi di balik ‘La ilaha illallah’ itu.

Jika kita memperhatikan secara sekilas saja, maka akan kita temukan dua kata penting dalam kalimat ini. Dua kata yang merupakan ini perputaran semua keindahan Islam ini. Dua kata itu adalah Allah dan Ilah. Kata Ilah bila ditelusuri secara bahasa adalah sebuah kata yang bersifat qabliyah-wijdaniyah, artinya sebuah kata yang memiliki tautan dan kaitan yang sangat kuat dengan hati. Ia adalah kata yang menunjukkan keadaan-keadaan hati seperti cinta dan benci, gembira dan sedih, kerinduan, pengharapan, dan seterusnya. Dalam ungkapan bahasa Arab, bila dikatakan:
أَلِهَ الفَصِيْلُ ___ يَأْلَهُ

Makna itu berarti: anak unta itu meratap dan menangisi ibunya karena rindu. Kata Al-fashiil maknanya adalah seekor anak unta yang baru saja disapih oleh ibunya lalu ia dikurung dalam sebuah kandang dan ibunya meninggalkannya untuk pergi ke padang penggembalaan. Setelah lama menunggu, anak unta itu menangis karenanya. Maka dalam kasus ini, secara bahasa, sang ibu adalah ilah si anak unta itu.

Intinya bahwa Ilah adalah apa yang selalu dirindukan oleh hati, yang selalu membawa jiwa sampai pada tingkatan ketundukan dan kepatuhan pada yang dirindu. Itulah sebabnya ada yang mengatakan kata ini berakar dari al-Walah. Anda tahu apa itu al-Walah? Biarkan Ibn Mandzhur rahimahullah (penulis Lisan al ‘Arab) menjelaskannya: “Kata al-Walah itu maknanya adalah sebuah ‘kegilaan’ yang muncul disebabkan kecintaan yang sangat kuat atau kesedihan yang begitu mendalam.” (Lihat penjelasannya secara terperinci dalam Lisan al-‘Arab materi alif-lam-ha’ dan materi waw-lam-ha’. Lihat pula al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an pada materi yang sama).

Dan kata Allah secara umum memiliki kaitan yang sangat erat dengan kata ilah tersebut. Hanya saja ia tidak lagi digunakan untuk selain Sang Pencipta dan Penguasa Alam semesta satu-satuNya. Ia adalah nama yang menunjukkan dzat ilahiyyah, sebuah nama yang mengumpulkan segala makna kesempurnaan dan kemuliaan mutlak tanpa ada yang menyaingi dan menandingi. Berbeda dengan kata ilah yang bisa digunakan dalam bentuk jamak –yang menunjukkan kenyataan (bukan membenarkan!) bahwa memang banyak ilah yang dicintai manusia selain Allah Ta’ala-, kata Allah tidak digunakan kecuali dalam bentuk tunggal (mufrad). Satu hal yang menunjukkan bahwa nama ini dan Pemiliknya hanya satu, yaitu Allah Ta’ala sendiri sang Rabbul ‘alamin.

Begitulah, akhirnya kita melihat bagaimana kedua kata ini, Ilah dan Allah ternyata memiliki kaitan yang sangat dalam dengan hati. Keduanya secara umum memberikan gambaran adanya hubungan kejiwaan yang dipenuhi dengan cinta. Sehingga ketika seorang mu’min mengatakan ‘La Ilaah illallah’, sesungguhnya (baca: seharusnya!) ia sedang mengungkapkan tautan hatinya pada sang Rabb. Bahwa tidak ada yang ia cintai selain-Nya, tidak ada yang ia takuti selain-Nya dan tidak ada yang berhak untuk ia sembah dan patuhi selain-Nya. Hatinya tidak dipenuhi dengan apapun selain kehendak yang murni pada Allah Ta’ala. Para ulama menyebutnya sebagai al-Ikhlas.

Jika demikian adanya, maka kalimat ini memang bukan kalimat mainan. Ini adalah kalimat yang agung. Dan tidak ada satupun yang mengetahui kejujuran sang pengucapnya, kecuali Allah Ta’ala kemudian sang pensyahadat itu sendiri. Sebab ini adalah tentang hati. Hati yang dipenuhi cinta, atau tidak sama sekali.

Ibn Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan:

“Sesungguhnya cinta sang hamba pada Rabbnya itu berada di atas segala cinta apapun untuk diukur. Tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan pada apapun. Dan inilah hakikat sesungguhnya dari ‘La ilaha illallah’.”

Hingga -masih dalam konteks yang sama- beliau menyatakan: “Jika saja masalah cinta ini dihapuskan (dari kalimat La ilaha illallah –pen) maka akan hilanglah semua derajat keimanan dan keihsanan. Akan terhentilah semua jalan-jalan menuju Allah, sebab (cinta itu) adalah ruh untuk setiap jalan, tangga dan amal (menuju Allah). Hubungan rasa cinta dengan amal adalah sama dengan hubungan keikhlasan dengannya. Bahkan cinta adalah hakikat keikhlasan yang sesungguhnya. Lebih dari itu, cinta Islam adalah Islam itu sendiri. Sebab Islam adalah penyerahan diri yang disertai ketundukan, kecintaan dan kepatuhan pada Allah.

Maka barang siapa yang tak memiliki rasa cinta (pada Allah-pen), maka ia tidak memiliki keislaman sedikit pun. Cinta ini adalah hakikat dari pernyataan Syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Karena “Ilah” adalah apa yang dipatuhi para hamba dengan rasa cinta dan rendah diri, dengan rasa takut dan harap, disertai sikap ta’zhim dan patuh…
Maka, -kesimpulannya- al Mahabbah (rasa cinta) itu adalah hakikat dari segalah penghambaan pada Allah.” (Lihat Madarij As Salikin 3/26).

Meluruskan “Cinta” pada Allah

Sampai di sini, mungkin sebagian dari kita lalu teringat akan sebuah ungkapan sebagian para tokoh sufi yang mengatakan: “Ya Allah, jika aku beribadah padaMu karena mengharapkan surgaMu, maka jauhkanlah aku darinya. Bila aku beribadah padaMu karena takut pada nerakaMu, maka masukkanlah aku ke dalamnya.” Untuk sebagian orang kalimat ini nampak begitu mulia. Beribadah tanpa mengharapkan balasan selain apa yang mereka sebut dengan cinta Allah. Mereka menganggap keikhlasan beribadah itu diukur dengan mengharap Surga atau tidak, takut pada neraka atau tidak. Jika Anda tidak mengharapkan apa-apa, maka itu adalah ikhlas. Entah apa yang mereka lakukan dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memburu surga dan takut pada neraka… Entah apa yang mereka lakukan dengan do’a-do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta surga dan mohon perlindungan dari neraka.

Hakikat cinta pada Allah Azza Wa Jalla tidak akan pernah tegak tanpa dua sayap penghambaan, khauf (takut pada-Nya) dan raja’ (harap pada-Nya). Ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan-pesan kenabian terlalu dipenuhi dengan penjelasan akan hal ini. Hanya orang bodoh atau berpura-pura bodoh yang tidak mengetahui ini.

Seorang pecinta yang hakiki pasti akan selalu takut mendapatkan siksa dari Yang dicintainya, di saat sama dimana hatinya dipenuhi harapan untuk mendapatkan karunia terbaik dari Yang dicintainya. Bila mahabbah pada Allah Ta’ala telah ditelanjangi dari khauf dan raja’, maka pengakuan cinta hanya menjelma menjadi sebuah kepalsuan. Allah menggambarkan tentang para manusia pilihan-Nya, para Nabi dan Rasul ‘alaihimu shalatu wa sallam:

    “Sesungguhnya mereka bersegera menuju kebaikan-kebaikan, mereka berdoa pada Kami dengan penuh rasa harap dan takut, dan adalah mereka itu sangat khusyu’ pada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasul penghulu seluruh manusia, telah menyatakan:

 “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan paling takwa pada Allah di antara kalian.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Akidah Cinta

Maka dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa akidah ‘La ilaha illallah’ adalah akidah yang ditegakkan di atas cinta. Ia bahkan menjadi ikatan kuat rasa cinta. Karena itulah ia memancarkan cahaya keindahan dan keagungan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengharamkan neraka untuk orang-orang yang mengatakan “La ilaha illallah” karena mengharapkan wajah Allah” (Muttafaqun ‘alaihi), kita bertanya, apakah semudah itu?? Hanya dengan satu kalimat. Iya, semudah itu. Tapi ini adalah soal kemana hati kita terarah, terikat dan bergantung sepenuh-penuhnya. Ini adalah soal pautan-pautan cinta. Siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan menunjukkan padanya jalan untuk menghamba dan taat pada-Nya.

Bukankah ini sebuah makna yang sangat indah dan agung? Ketika kita tidak lagi merasakan ini, maka disitulah titik awal persimpangan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dari kedalaman Ad-Din yang sesungguhnya. Dari jalan yang lurus, Ash Shiratal Mustaqim.[]

Rujukan:
“Jamaliyyah ad Din Fi Jamaliyyah at Tauhid” oleh DR. Farid al-Anshary,
“Ma’alim Asy Syakhsiyah al-Islamiyah” oleh DR. Umar al-Asyqar.

Sumber : Majalah Islamy, No. 2 tahun 1426 /wahdahmakassar.org/wahdahmuna.blogspot.com

Minggu, 01 Mei 2011

Rukun Iman (Bagian 2)

B. Iman merupakan syarat diterimanya amalan
Pasal 1: Iman merupakan syarat sah diterimanya suatu ibadah, sebagaimana layaknya wudhu yang merupakan syarat sah diterimanya sholat. Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut.

1. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan mengkaruniainya kehidupan yang baik dan membalasnya dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97). Pada ayat di ayas Allah ta’ala menerangkan bahwa syarat untuk memperoleh kehidupan dan pahala baik adalah iman dan amal salih.

2. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk ke dalam surga dan tidak akan didzolimi sedikitpun.” (An-Nisaa’:124). Allah Ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk masuk surga.

3. Firman Allah Ta’ala, “dan siapapun yang mengerjakan amal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan khawatir akan adanya perlakuan dzholim (terhadap dirinya) ataupun pengurangan haknya.” (Thaha:112). Allah ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk memperolah rasa aman di hari kiamat.

4. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang menghendaki kehidupan akhirat seraya berusaha dengan sungguh-sungguh ke arah itu, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan dibalas dengan baik.” (Al-Isra’: 19). Allah Ta’ala menjadikan tiga hal sebagai syarat untuk memperoleh ganjaran yang baik di akhirat kelak, yaitu: iman, keinginan untuk menyongsong hari akhirat, serta usaha ke arah itu.

5. Firman Allah Ta’ala, “Maka siapapun yang mengerjakan amal saleh, dalam keadaan beriman, maka tidak akan ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Kami akan menuliskannya untuknya.” (Al-Anbiya: 94). Allah Ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk memperoleh ganjaran yang baik di akhirat kelak.

6. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- kepada Mu’adz bin Jabal sebelum berangkat ke negeri Yaman sebagai delegasi beliau, “Engkau akan mendatangi sebuah bangsa dari kalangan ahli kitab. Hendaknya, yang pertama kali engkau serukan adalah (ajakan) untuk bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka memenuhi seruanmu, maka beri tahu (lebih lanjut) bahwa Allah mengharuskan mereka (untuk mendirikan) sholat lima waktu dalam sehari semalam.” (HR. Muslim)

Pada hadits di atas, Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- memerintahkan Mu’adz untuk menyeru mereka kepada iman sebelum mengerjakan amal salih.

Pasal 2: Kesyirikan dan kekafiran menggugurkan amal salih.
Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut:

1. Firman Allah ta’ala, “dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan juga (para nabi) sebelummu, “Jika kamu berbuat syirik, niscaya amal salihmu akan terhapus dan kamu akan menjadi orang yang merugi”, maka dari itu, hendaklah kamu menyembah Allah saja dan jadilah orang yang bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)
Allah ta’ala menerangkan bahwa kesyirikan akan menggugurkan amal salih.

2. Firman Allah Ta’ala, “seandainya mereka (para nabi itu) berbuat syirik, niscaya lenyaplah amal salih yang telah mereka kerjakan sebelumnya.” (Al-An’am: 88)

3. Firman Allah Ta’ala, “dan kami datangi amal (baik) yang pernah mereka kerjakan, lalu Kami menjadikannya (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqon: 23)

Demikianlah Allah ta’ala menerangkan nasib amal salih orang-orang kafir.

4. Firman Allah Ta’ala, “dan amal perbuatan (baik) orang-orang kafir bagaikan fatamorgana di tanah datar. Orang yang kehausan mengira itu adalah air. Hingga apabila dia datang ke sana, (ternyata) air itu hanya ilusi semata. Dan dia mendapati (ketetapan) Allah disisinya (pada hari kiamat nanti), lalu Dia menghitung amal perbuatannya dengan semestinya, dan (hari) perhitungan Allah (itu) akan segera datang . Atau (dia) bagaikan (berada dalam) kegelapan di kedalaman laut yang diliputi oleh (lapisan) ombak. Diatas (lapisan) ombak itu ada (lapisan) ombak yang lain, dan di atasnya (lagi) ada (lapisan) awan. (itulah) kegelapan yang berlapis-lapis. Apabila dia mengulurkan tangannya, dia hampir tidak dapat melihatnya. Siapapun yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak akan mempunyai cahaya sedikitpun.” (An-Nur: 39-40)

5. Firman Allah ta’ala, “Siapapun dari kalian yang murtad dari agamanya, lalu mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang-orang yang amal perbuatannya sia-sia di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqoroh:217)
Allah ta’ala menerangkan bahwa mati dalam keadaan murtad menyebabkan gugurnya amal salih serta menjadikan pelakunya kekal di neraka.(bersambung insya Allah).
(Ustadz Rizki Narendra/http://www.belajarislam.com/rukun-iman-bagian-2/)

Rabu, 16 Maret 2011

DASAR-DASAR AQIDAH ISLAMIYAH (5).

BAB IV IBADAH
Ibadah adalah nama yang mencakup segala yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan dan perbuatan yang nampak maupun yang tersembunyi.
Banguna n ibdah mesti tegak di atas dua prinsip :
1.Ikhlash
2.Mengikuti Rasul
BAB V PEMBAGIAN TAUHID
1.Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya seperti; menciptakan,memeberi rezki,menghidupkan,mematikan ,mentadbir (mengatur) serta meyakini bahwa Dia Raja diraja dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
2,Tauhid Uluhiyyah.
Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan beribadah (hanya kepada-Nya) ,baik ibadah yang nampak dan tersembunyi berupa perkataan dan perbuatan seperti berdoa,bernadzar,menyembelih,khauf (takut),Raja(harap) ,tawakal,Raghbah,rahbah,dan inabah.Ini semua merupakan topik da’wah seluruh Rasul.
3.Tauhid asma washifat.
Mentapkan (nama dan sifat) yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya dalm sunnah-sunnahnya .Kita menetapkan nama dan sifat tersebut sesuai dengan yang layak bagi Allah tanpa tahrif (menyimpangkan),ta’thil (meniadakan),takyif (membagaimanakan),dan tamtsil (menyerupakan ).
(Dialihbahasakan dari kutayyib Abwaabul Mukhtasharah fil ‘aqiydah karya syaikh Ahmad bin Muhammad al ‘atiyq disertai sedikit penjelasan oleh Abu Huzaimah al Munawiy,kitab asli dapat diakses dan didownload di : http://www.ktibat.com/showsubject-%D8%A3%D8%A8%D9%88%D8%A7%D8%A8_%D9%85%D8%AE%D8%AA%D8%B5%D8%B1%D8%A9_%D9%81%D9%8A_%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%82%D9%8A%D8%AF%D8%A9-495.html)

Selasa, 15 Maret 2011

DASAR-DASAR AQIDAH ISLAMIYAH (4).

Bab III keutamaan tauhid
1.Amal shaleh takkan diterima kecuali amal itu dilakukan oleh seorang muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah).
2.Ahli maksiat dari kalangan muwahidin berada dibawah kehendak Allah Ta’ala.Allah berfirman:”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutkannya dengan sesuatu apapun (syirik) dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”.
3.Seorang muwahid yang masuk neraka tidak kekal di dalamnya.
4.Barangsiapa yang merealisasikan tauhid secara sempurna ,maka ia diharamkan dari neraka secara total ,dan ia masuk surga tanpa hisab dan adzab ( dineraka terlebih dahulu).
5.Syafaa’ay tidak akan berlaku kecuali kepada para ahli tauhid ,dengan dua syarat:
a.Idzin Allah kepada pemberi syafa’at. B.Ridha Allah kepada yang menerima syafaat.
6.Allah akan membela para muwahhidin .Sebagaimana Alah tergaskan dalam ayat-Nya.”Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman….”(QS Al Hajj:38) .Dalam ayat lain Dia berfirman:”Bukankan Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya (yang bertauhid)….” (QS az Zumar:36).
7.Tamkin (peneguhan) di bumi tidak akan diberikan oleh Allah kecuali kepada para ahli tauhid.Sebagaimana firman Allah. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun . . . “ (QS An Nur:55).
(Dialihbahasakan dari kutayyib Abwaabul Mukhtasharah fil ‘aqiydah karya syaikh Ahmad bin Muhammad al ‘atiyq disertai sedikit penjelasan oleh Abu Huzaimah al Munawiy,kitab asli dapat diakses dan didownload di : http://www.ktibat.com/showsubject-%D8%A3%D8%A8%D9%88%D8%A7%D8%A8_%D9%85%D8%AE%D8%AA%D8%B5%D8%B1%D8%A9_%D9%81%D9%8A_%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%82%D9%8A%D8%AF%D8%A9-495.html)