Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Oktober 2017

Iman & Cinta Rasul


Mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bagian dari iman. Bahkan termasuk prasyarat meraih kesempurnaan iman. Artinya tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia menempatkan cinta Rasul sebagai cinta tertinggi. Takkan sempurna Iman seorang hamba sebelum menjadikan Rasul sebagai sosok yang paling ia cintai melebih kecintaan pada segala sesuatu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tegaskan hal ini melalui sabdanya;

 [والذي نفسي بيده لايؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وماله وولده والناس أجمعين”. [البخار 


Demi Dzat yang jiwaku berada di Tanga-Nya, tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya melibihi (cintanya) pada diri, harta, dan anaknya, serta seluruh manusia” (HR. Bukhari). 

Hadits di atas menunjukan bahwa bukti iman adalah mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mebilihi kecintan terhadap diri, harta, anak serta apa dan siapapun dari kalangan manusia. Orang beriman yang sejati selalu menempatkan cinta kepada Rasul pada posisi cinta tertinggi. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut cinta kepada Rasul sebagai kewajiban yang harus ditunaikan setiap Muslim terhadap Rasul. Sebab hal itu merupakan hak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana ditunjukan oleh firman Allah Ta’ala dalam surah At-Taubah ayat 24;

﴿ قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لًا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ﴾ (سورة التوبة، الآية 24). 

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS: At-Taubah Ayat: 24) 

Ayat yang mulia ini merupakan dalil paling agung yang menunjukan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendahulukan kecintaan pada keduanya atas segala sesuatu”, demikian dikatakan Syekh  Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab Tafsirnya Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan (hlm.332).  

Selain itu, menurut Syekh As Sa’di, “Ayat ini juga menunjukkan ancaman keras (wa’id syadid) dan celaan yang keras terhadap orang yang lebih mencintai hal-hal yang disebutkan dalam ayat tersebut (ayah, anak, saudara, istri-suami, harta kekayaan, aset bisnis, rumah) dari Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya”. (hlm.332).

Perkatan Syekh As-Sa’di di atas senada dengan pendapat ahli Tafsir lainnya karena tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama tentang maksud ayat tersebut. “Dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama dalam masalah ini. Dan yang demikian itu harus lebih didahulukan di atas segala sesuatu yang dicintai”, jelas Imam Al-Qurthubi. 

Bahkan takkan pernah sempurna iman seorang hamba selama ia masih lebih mencintai dirinya, anak, dan orang tuanya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amirul Mu’minin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Wahai Rasulullah; sungguh, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu, kecuali diriku (artinya Umar masih lebih mencintai dirinya dari Nabi. Tapi beliau masih lebih mencintai Nabi dari orang lain). “Tidak”, kata Rasul. “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya (demi Allah), (anda tidak beriman) hingga aku lebih kau kamu cintai dari dirimu”, lanjut Rasul. “Sekarang engkau sungguh lebih aku cintai dari diriku”, kata Umar. Nabi mengatakan, “Sekarang (telah benar cintamu padaku) wahai Umar”. 

Kecintaan pada Rasul akan menjadi sebab berkumpul bersama beliau di surga kelak. Karena setiap orang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya. Seorang pria datang kepada Nabi bertanya tentang ‘kapan’ kiamat. Tapi Rasulullah balik bertanya kepada pria itu. “Apa yang anda siapkan untuknya?” “Tidak ada apa-apa, kecuali cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya”, jawab pria itu. “anda akan bersama dengan yang anda cintai”, janji Rasul. 

Ini merupakan keutamaan yang agung. Kita dapat dikumpulkan bersama Nabi di surga meski tidak mampu beramal seperti beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, beliau sangat bahagia dan senang mendengar, “setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya”. “saya tidak dapat beramal seperti Rasulullah, Abu Bakar dan Umar”, aku Anas.”Tapi dengan cintaku pada mereka, aku berharap dapat dikumpulkan bersama mereka di surga nanti”, harapnya. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau mengatakan;
Aku mencintai para shalihin, meski aku tidak termasuk (bagian) dari mereka
 Semoga dengan cintaku pada mereka, aku peroleh syafa’at. 

Jika manusia sealim dan se-shaleh Anas bin Malik dan Imam Syafi’i masih berharap syafa’at melaui cinta pada orang Shaleh, maka orang sekelas kita lebih butuh lagi. Oleh karena itu, mari tumbuhsuburkan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabanya serta orang-orang shaleh lainnya.

Lalu dengan Apa dan Bagaimana Membuktikan Cinta Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Diantaranya; 
Pertama; Membenarkan (tashdiq) berita dan informasi yang Nabi kabarkan.
Kedua, Mentaati perintahnya, 
Ketiga, Meniggalkan larangannya,
Keempat, Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan mengikuti syariat dan sunnahnya. 
Keempat poin tersebut tercakup dalam Ittiba’ (mengikuti) dan iqtida (meneladani) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

(Ditulis kembali dari tulisan yang pernah dipublish di: http://wahdah.or.id/kewajiban-mencintai-rasulullah-shallalahu-aaihi-wa-sallam, pada tanggal 9/1/2015. /) 

Kamis, 28 November 2013

MENGAJARKAN AQIDAH DENGAN METODE RABBANI (1)

Mentauhidkan Allah dalam ibadah adalah tujuan utama diciptakannya jin dan manusia, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Terj. QS. adz-Dzaariyaat: 56).

Oleh karena itu da’wah tauhid merupakan tujuan dasar diutusnya para nabi dan rasul. Firman Allah: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut  itu."(terj. QS. an-Nahl: 36).

Selain itu Tauhid juga merupakan nikmat terbesar yang dianugerahkan AllahAzza wa Jalla kepada umat Islam. Karena Dialah sumber kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat.

Di samping itu Tauhid juga merupakan sebab 'ishmah/perlindungan di dunia. Dengannya jiwa dan harta seorang muslim dilindungi, sekaligus menjadi bukti'aqd/ikatan Islam padanya. Inilah makna sabda Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam:Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa ilaha illallah,siapa saja mengucapkanLaa ilaha illallahterpeliharalah darah dan hartanya; terkecuali kalau ada sesuatu hak Islam. Dan hisabnya diserahkan kepada Allah." 
Dan di akhirat, tauhid menjadi penyelamat dari api neraka. Firman AllahAzza wa Jalla: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (terj.QS. al-Maidah: 72)

Sebuah ibadah dan ketaatan hanya diterima jika dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah semata. Firman AllahAzza wa Jalla: “Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya”. (terj. QS. al-Kahfi: 110)

Allah juga befirman:"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."(QS. 39:65)

Ilmu agama yang pertama kali wajib disampaikan kepada manusia adalah tauhid. Ketika mengutus Mu'adz Ibn Jabal ke Yaman, Rasulullah berwasiat kepadanya:"Wahai Mu'adz, sesungguhnya kau akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah perkara yang pertama kali kau serukan adalah beribadah kepada Allah. Bila mereka telah beriman, maka sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam."

Tauhid juga perkara terakhir yang wajib dipertahankan, bila seseorang ingin meninggalkan dunia dengan selamat. Sabda Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam:"Siapa saja yang ucapan terakhirnya dari dunia adalah Laa Ilaaha Ilallaah, pastilah ia masuk surga."

Oleh karena kebahagiaan kaum mukmin di dunia dan akhirat tergantung pada tauhid kepada Allah, maka ia menjadi kewajiban pertama yang harus diajarkan kepadamukallaf, dan hanya dengannyalah hatinya dapat hidup, selanjutnya hendaklah tauhid dijadikan konsep hidup sehari-hari. Inilah tanggung jawab ulama dan du'at, yang dapat disampaikan melalui majelis ilmu, khutbah, karya tulis, dan beraneka ragam sarana dakwah lainnya.

Tingkat pemahaman dan kecerdasan masing-masing orang berbeda. Karenanya, hendaklah para da'i mengajarkan tauhid kepada kaum awam dengan metoderabbani. Metode ini telah dijelaskan oleh Ibn Abbas radhiyallahu 'anhmua saat menafsirkan firman Allah: Akan tetapi (dia berkata):"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani , karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya."(terj. QS. Ali Imran: 79)  Beliau berkata:"Rabbani adalah seorang yang mengajari manusia mulai dari ilmu mendasar, baru kemudian yang lebih tinggi."

Yang dimaksud dengan dasar ilmu adalah kaidah-kaidah universal yang jelas dan pasti. Seorang da'i harus memulai dengan kaidah-kaidah ini sebelum masuk kepada masalah parsial yang lebih rumit.
Tidaklah bijaksana jika seorang da'i memulai pengajaran materi akidah kepada masyarakat awam dengan definisi, istilah-istilah ushul, perbedaan antara sekte-sekta dalam masalah aqidah, seperti iman kepada qadha dan qadar, asma' dan shifat, dsb. Metode ini kurang tepat, sebab:

1. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh kita berbicara kepada manusia sesuai kadar nalarnya. Masyarakat awam bisanya datang ke masjid karena ingin mendengarkan mutiara nasehat penyejuk jiwa. Adapun masalah-masalah seperti di atas biarlah menjadi spesialisasi penuntut ilmu.

2. Mayoritas kaum muslim lebih membutuhkan bimbingan yang dapat menghidupkan kembali cahaya hati yang telah redup, daripada mempelajari istilah-istilah ilmiah.
Maka hendaklah seorang alim atau da'i membedakan antara metode penyampaian kepadathalib al-ilmidengan metode penyampaian kepada masyarakat awam.

Seorang da'i harus menyadari bahwatazkiyatun nafsharus dimulai dengan menambah tinggi volume iman di hati, sehingga dapat mengalahkan kekuatan nafsu yang terpendam di dalamnya. Dan inilah visi utama mayoritas da'i. Selain itu hendaklah ia berdakwah dengan topik-topik paralel dan kontiniu, yang kesemuanya bertujuan merangkul objek dakwah menuju pengetahuan tentang AllahTa'aladan tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Dengan demikian mereka akan siap menjadikan syari'at Allah sebagai konsep hidup yang komprehensif. (http://www.albayan.co.uk/id/article.aspx?id=171). Bersambung insya Allah.

Rabu, 10 April 2013

Memahami Kalimat Cinta Tertinggi

Oleh Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Kita tak akan pernah mencapai manisnya kisah cinta dengan sang Rabb kecuali bila makna ‘La ilaha illallah’ benar-benar dipahami. Kalimat agung ini, jika saja diucapkan dengan penuh kesadaran dan perasaan, sesungguhnya adalah kalimat yang memiliki makna yang sangat dekat dengan hati kita. Kalimat ini adalah kalimat yang kutub putarannya pada segala kemahasempurnaan. Sebuah pengakuan hakiki akan segala kemahaagungan dan kemuliaan. Ia adalah sebuah ungkapan hati yang tunduk sempurna pada Allah.

Pernahkan kita mencoba memahaminya?

Tidak terhitung berapa banyak kita telah mengucapkan kalimat ini. Tapi di usia kita sekarang ini, pernahkah kita sekali saja menyempatkan diri untuk lebih dalam memasuki makna ‘laa ilaha illallah’ jauh lebih dalam? Mungkin tidak pernah. Paling jauh kita akan mengatakan, “Iya, saya pernah mengetahui artinya. Tiada Tuhan selain Allah kan?”. Dan sudah, hanya sampai di situ. Sehingga wajar saja bila keindahan cinta antara sang makhluk dengan Khaliknya tak kunjung terwujud.

Bila kita telah memahami bahwa pangkal utama hilangnya keindahan itu adalah bermula dari ketidakmengertian kita akan kandungan makna kalimat agung itu, maka sekarang marilah kita mencoba menelusuri secara singkat apa sesungguhnya yang tersembunyi di balik ‘La ilaha illallah’ itu.

Jika kita memperhatikan secara sekilas saja, maka akan kita temukan dua kata penting dalam kalimat ini. Dua kata yang merupakan ini perputaran semua keindahan Islam ini. Dua kata itu adalah Allah dan Ilah. Kata Ilah bila ditelusuri secara bahasa adalah sebuah kata yang bersifat qabliyah-wijdaniyah, artinya sebuah kata yang memiliki tautan dan kaitan yang sangat kuat dengan hati. Ia adalah kata yang menunjukkan keadaan-keadaan hati seperti cinta dan benci, gembira dan sedih, kerinduan, pengharapan, dan seterusnya. Dalam ungkapan bahasa Arab, bila dikatakan:
أَلِهَ الفَصِيْلُ ___ يَأْلَهُ

Makna itu berarti: anak unta itu meratap dan menangisi ibunya karena rindu. Kata Al-fashiil maknanya adalah seekor anak unta yang baru saja disapih oleh ibunya lalu ia dikurung dalam sebuah kandang dan ibunya meninggalkannya untuk pergi ke padang penggembalaan. Setelah lama menunggu, anak unta itu menangis karenanya. Maka dalam kasus ini, secara bahasa, sang ibu adalah ilah si anak unta itu.

Intinya bahwa Ilah adalah apa yang selalu dirindukan oleh hati, yang selalu membawa jiwa sampai pada tingkatan ketundukan dan kepatuhan pada yang dirindu. Itulah sebabnya ada yang mengatakan kata ini berakar dari al-Walah. Anda tahu apa itu al-Walah? Biarkan Ibn Mandzhur rahimahullah (penulis Lisan al ‘Arab) menjelaskannya: “Kata al-Walah itu maknanya adalah sebuah ‘kegilaan’ yang muncul disebabkan kecintaan yang sangat kuat atau kesedihan yang begitu mendalam.” (Lihat penjelasannya secara terperinci dalam Lisan al-‘Arab materi alif-lam-ha’ dan materi waw-lam-ha’. Lihat pula al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an pada materi yang sama).

Dan kata Allah secara umum memiliki kaitan yang sangat erat dengan kata ilah tersebut. Hanya saja ia tidak lagi digunakan untuk selain Sang Pencipta dan Penguasa Alam semesta satu-satuNya. Ia adalah nama yang menunjukkan dzat ilahiyyah, sebuah nama yang mengumpulkan segala makna kesempurnaan dan kemuliaan mutlak tanpa ada yang menyaingi dan menandingi. Berbeda dengan kata ilah yang bisa digunakan dalam bentuk jamak –yang menunjukkan kenyataan (bukan membenarkan!) bahwa memang banyak ilah yang dicintai manusia selain Allah Ta’ala-, kata Allah tidak digunakan kecuali dalam bentuk tunggal (mufrad). Satu hal yang menunjukkan bahwa nama ini dan Pemiliknya hanya satu, yaitu Allah Ta’ala sendiri sang Rabbul ‘alamin.

Begitulah, akhirnya kita melihat bagaimana kedua kata ini, Ilah dan Allah ternyata memiliki kaitan yang sangat dalam dengan hati. Keduanya secara umum memberikan gambaran adanya hubungan kejiwaan yang dipenuhi dengan cinta. Sehingga ketika seorang mu’min mengatakan ‘La Ilaah illallah’, sesungguhnya (baca: seharusnya!) ia sedang mengungkapkan tautan hatinya pada sang Rabb. Bahwa tidak ada yang ia cintai selain-Nya, tidak ada yang ia takuti selain-Nya dan tidak ada yang berhak untuk ia sembah dan patuhi selain-Nya. Hatinya tidak dipenuhi dengan apapun selain kehendak yang murni pada Allah Ta’ala. Para ulama menyebutnya sebagai al-Ikhlas.

Jika demikian adanya, maka kalimat ini memang bukan kalimat mainan. Ini adalah kalimat yang agung. Dan tidak ada satupun yang mengetahui kejujuran sang pengucapnya, kecuali Allah Ta’ala kemudian sang pensyahadat itu sendiri. Sebab ini adalah tentang hati. Hati yang dipenuhi cinta, atau tidak sama sekali.

Ibn Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan:

“Sesungguhnya cinta sang hamba pada Rabbnya itu berada di atas segala cinta apapun untuk diukur. Tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan pada apapun. Dan inilah hakikat sesungguhnya dari ‘La ilaha illallah’.”

Hingga -masih dalam konteks yang sama- beliau menyatakan: “Jika saja masalah cinta ini dihapuskan (dari kalimat La ilaha illallah –pen) maka akan hilanglah semua derajat keimanan dan keihsanan. Akan terhentilah semua jalan-jalan menuju Allah, sebab (cinta itu) adalah ruh untuk setiap jalan, tangga dan amal (menuju Allah). Hubungan rasa cinta dengan amal adalah sama dengan hubungan keikhlasan dengannya. Bahkan cinta adalah hakikat keikhlasan yang sesungguhnya. Lebih dari itu, cinta Islam adalah Islam itu sendiri. Sebab Islam adalah penyerahan diri yang disertai ketundukan, kecintaan dan kepatuhan pada Allah.

Maka barang siapa yang tak memiliki rasa cinta (pada Allah-pen), maka ia tidak memiliki keislaman sedikit pun. Cinta ini adalah hakikat dari pernyataan Syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah. Karena “Ilah” adalah apa yang dipatuhi para hamba dengan rasa cinta dan rendah diri, dengan rasa takut dan harap, disertai sikap ta’zhim dan patuh…
Maka, -kesimpulannya- al Mahabbah (rasa cinta) itu adalah hakikat dari segalah penghambaan pada Allah.” (Lihat Madarij As Salikin 3/26).

Meluruskan “Cinta” pada Allah

Sampai di sini, mungkin sebagian dari kita lalu teringat akan sebuah ungkapan sebagian para tokoh sufi yang mengatakan: “Ya Allah, jika aku beribadah padaMu karena mengharapkan surgaMu, maka jauhkanlah aku darinya. Bila aku beribadah padaMu karena takut pada nerakaMu, maka masukkanlah aku ke dalamnya.” Untuk sebagian orang kalimat ini nampak begitu mulia. Beribadah tanpa mengharapkan balasan selain apa yang mereka sebut dengan cinta Allah. Mereka menganggap keikhlasan beribadah itu diukur dengan mengharap Surga atau tidak, takut pada neraka atau tidak. Jika Anda tidak mengharapkan apa-apa, maka itu adalah ikhlas. Entah apa yang mereka lakukan dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk memburu surga dan takut pada neraka… Entah apa yang mereka lakukan dengan do’a-do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta surga dan mohon perlindungan dari neraka.

Hakikat cinta pada Allah Azza Wa Jalla tidak akan pernah tegak tanpa dua sayap penghambaan, khauf (takut pada-Nya) dan raja’ (harap pada-Nya). Ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan-pesan kenabian terlalu dipenuhi dengan penjelasan akan hal ini. Hanya orang bodoh atau berpura-pura bodoh yang tidak mengetahui ini.

Seorang pecinta yang hakiki pasti akan selalu takut mendapatkan siksa dari Yang dicintainya, di saat sama dimana hatinya dipenuhi harapan untuk mendapatkan karunia terbaik dari Yang dicintainya. Bila mahabbah pada Allah Ta’ala telah ditelanjangi dari khauf dan raja’, maka pengakuan cinta hanya menjelma menjadi sebuah kepalsuan. Allah menggambarkan tentang para manusia pilihan-Nya, para Nabi dan Rasul ‘alaihimu shalatu wa sallam:

    “Sesungguhnya mereka bersegera menuju kebaikan-kebaikan, mereka berdoa pada Kami dengan penuh rasa harap dan takut, dan adalah mereka itu sangat khusyu’ pada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasul penghulu seluruh manusia, telah menyatakan:

 “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan paling takwa pada Allah di antara kalian.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Akidah Cinta

Maka dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa akidah ‘La ilaha illallah’ adalah akidah yang ditegakkan di atas cinta. Ia bahkan menjadi ikatan kuat rasa cinta. Karena itulah ia memancarkan cahaya keindahan dan keagungan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengharamkan neraka untuk orang-orang yang mengatakan “La ilaha illallah” karena mengharapkan wajah Allah” (Muttafaqun ‘alaihi), kita bertanya, apakah semudah itu?? Hanya dengan satu kalimat. Iya, semudah itu. Tapi ini adalah soal kemana hati kita terarah, terikat dan bergantung sepenuh-penuhnya. Ini adalah soal pautan-pautan cinta. Siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan menunjukkan padanya jalan untuk menghamba dan taat pada-Nya.

Bukankah ini sebuah makna yang sangat indah dan agung? Ketika kita tidak lagi merasakan ini, maka disitulah titik awal persimpangan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dari kedalaman Ad-Din yang sesungguhnya. Dari jalan yang lurus, Ash Shiratal Mustaqim.[]

Rujukan:
“Jamaliyyah ad Din Fi Jamaliyyah at Tauhid” oleh DR. Farid al-Anshary,
“Ma’alim Asy Syakhsiyah al-Islamiyah” oleh DR. Umar al-Asyqar.

Sumber : Majalah Islamy, No. 2 tahun 1426 /wahdahmakassar.org/wahdahmuna.blogspot.com

Minggu, 05 Juni 2011

Menjawab Tuduhan Terhadap Da'wah Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab (1)

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya, “Apa itu Wahabi?” . Pada tulisan kali ini kita akan memaparkan beberapa tuduhan kepada dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan jawabannya.

Beberapa Tuduhan dan Jawaban

Beragam penilaian manusia dalam menilai dakwah ini. Sebagian mereka berkeyakinan bahwa dakwah ini adalah mazhab kelima setelah empat mazhab yang lain. Sebagian lagi menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat ekstrim sehingga mudah mengkafirkan kaum muslimin. Sebahagian lagi menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mencintai Rasulullah dan para wali. Serta anggapan-anggapan lainnya yang sama sekali tidak ada buktinya.

Sebelum membantah tuduhan-tuduhan mereka renungilah perkataan al-‘Allamah Muhammad Rasyid Ridha berikut ini:

Pada masa kecilku, aku sering mendengar cerita tentang “Wahabiyah” dari buku-buku Dahlan [1] dan selainnya. Sayapun membenarkannya karena taqlid kepada guru-guru kami dan bapak-bapak kami. [2] Saya baru tahu tentang hakikat jama’ah ini setelah hijrah ke Mesir. Ternyata aku mengetahui dengan yakin bahwa mereka (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya) yang berada di atas hidayah. Kemudian saya mengkaji buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab anak-anaknya, dan cucu-cucunya serta ulama-ulama lainnya dari Najd (sebuah daerah di Arab Saudi), maka saya mengetahui bahwa tidak terdapat sebuah tuduhan serta celaan yang dilontarkan kepada mereka kecuali mereka menjawabnya. Jika tuduhan itu dusta mereka berkata, “Maha Suci Engkau (Ya, Allah), ini adalah kedustaan yang besar.” Akan tetapi jika tuduhan itu ada asalnya, mereka menjelaskan hakikatnya dan membantahnya. Sesungguhnya ulama’ Sunnah dari India dan Yaman telah meneliti, membahas dan menyelidiki tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya. Akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa para penuduh itu sebenarnya tidak amanah dan tidak jujur.

Baiklah, sekarang kita kaji tuduhan-tuduhan mereka dan jawabannya.

“agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (Terjemah Qur’an surah al-Anfaal ayat :8)

Tuduhan Pertama:

Mereka, ahli bid’ah, menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (atau mereka sebut dengan dakwah wahabiyah) merupakan mazhab kelima setelah empat mazhab lainnya (Hambali, Maliki, Syafi’i dan Hanafi).

Jawaban kepada tuduhan pertama:

Ini merupakan kejahilan mereka, sebab telah merupakan perkara yang masyhur dan memang nyata bahwa dakwah ini bukanlah dakwah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam hal aqidah mengikuti manhaj Salaf. Adapun dalam masalah furu’ mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal (Hambali). Maka bagaimanakah mereka menyatakan bahwa Wahabiyah merupakan dakwah baru serta dianggapnya sebagai jama’ah sesat dan rusak? Semoga Allah menghancurkan kejahilan, hawa nafsu dan taqlid.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu pernah bercerita:

Aku pernah bertemu seorang di Syria yang mengatakan tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa beliau adalah pendiri mazhab kelima dari empat mazhab. Maka akupun berkata kepadanya bahwa bagaimana anda mengatakan demikian padahal bukankah sudah masyhur bahawa mazhab beliau adalah Hambali? Sungguh ini adalah kedustaan dan tuduhan tanpa bukti.

Tuduhan Kedua:

Mereka menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mudah mengkafirkan kaum muslimin.

Jawaban kepada tuduhan kedua:

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri telah menjawab tuduhan ini ketika menuliskan dalam suratnya kepada Suwaidiy, seorang alim dari Iraq (pada zamannya):

Adapun apa yang kalian sebutkan bahwa saya mengkafirkan kaum manusia, kecuali yang mengikutiku dan bahwasanya aku menganggap pernikahan-pernikahan mereka tidak sah, maka saya katakah bahwa sungguh mengherankan, bagaimana hal ini dapat masuk akal, apakah ada seorang muslim yang mengatakan demikian. Ketahuilah aku berlepas diri kepada Allah dari tuduhan ini, yang tidak muncul melainkan dari orang yang terbalik akalnya. Adapun yang saya kafirkan adalah orang yang telah mengetahui agama Rasulullah, kemudian setelah mengetahuinya ia mencelanya, melarangnya dan memusuhi orang yang menegakkannya. Inilah yang saya kafirkan.

Tuduhan Ketiga:

Mereka menuduh bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jawaban kepada tuduhan ketiga:

Ketahuilah wahai orang-orang yang berakal, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai kitab yang berjudul Mukhtashar Sirah al-Rasul yang berisi tentang perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menunjukkan kecintaan beliau terhadap baginda.

Maka tuduhan ini merupakan kedustaan dan kebohongan yang akan diminta pertanggungjawabannya di sisi Allah. Kemudian kita katakan kepada mereka, yakni para penuduh, apakah cinta kepada Rasulullah itu (dibuktikan) dengan mengadakan (perayaan) Maulid Nabi, Shalawatan bid’ah [3] atau selainnya yang tidak pernah diajarkan Rasulullah sendiri? Atau cinta kepada Rasulullah itu (dibuktikan) dengan mengagungkan sunnahnya, menghidupkannya, membelanya serta memberantas lawannya (yaitu bid’ah) sampai keakar-akarnya. Jawablah wahai orang-orang yang dikurniakan akal.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terjemahan al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat: 31)

Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, juz 2 hal 37:

Ayat ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengakui mencintai Allah padahal tidak mengikuti manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah. Dia dianggap dusta dalam pengakuannya hingga dia mengikuti syari’at Rasulullah dalam segala hal, baik dalam perkataan, perbuatan maupun keadaan.

Insya Allah artikel ini akan bersambung masih dengan pembahasan menjawab tuduhan dan syubhat terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Footnote:
[1] Yang dimaksudkan ialah Ahmad Zaini Dahlan, seorang yang memusuhi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semata-mata karena dakwah tersebut menyalahi pegangan dan kedudukannya. Sebagaimana kata Syaikh Rasyid Ridha di atas, jika kita mengkaji buku-buku karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para tokohnya, ternyata bahawa cerita negatif “Wahabiyah” yang dibawa oleh Ahmad Zaini Dahlan adalah dusta. (Hafiz Firdaus)
[2]Inilah hakikat pembenci dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kebanyakan orang membenci dan menolak dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semata-mata kerana ikutan kepada orang-orang sebelum mereka tanpa mengkaji secara ilmiah apa dan bagaimana dakwah tersebut. (Hafiz Firdaus)
[3] Yakni bacaan-bacaan selawat yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bacaan selawat yang terbaik, teragung, terbesar, termulia adalah bacaan selawat yang diajarkan sendiri oleh Rasulullah, yakni apa yang kita lazimi baca ketika duduk tasyahud dalam shalat.

Sumber: www.hafizfirdaus.com

Sabtu, 04 Juni 2011

Rukun Iman (Bagian 4)

Tauhid Uluhiyah


Pasal 1: Determinasi tauhid uluhiyah
Tauhid uluhiyah adalah pengakuan bahwa hanya Allah ta’ala semata yang berhak diibadahi, serta berlepas diri dari segala sesuatu yang diibadahi selain-Nya. Berikut beberapa dalil yang menegaskan hal tersebut:

1. Firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya).” (Al-An’am: 162-163)

Pada ayat di atas Allah Ta’ala memerintahkan Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- untuk memberitahu orang-orang musyrik yang mendedikasikan ibadah mereka kepada selain Allah serta menyembelih bukan atas nama Allah, bahwasanya dia tidak seperti mereka. Dia mendedikasikan segala jenis ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata.

2. Firman Allah Ta’ala, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (Al-Kautsar:2)
Maksudnya adalah, “dedikasikanlah setiap shalat dan qurbanmu hanya untuk Allah ta’ala semata.” Allah ta’ala menyuruh Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- untuk menyelisihi kaum musyrikin yang mendedikasikan ibadah dan qurban mereka untuk berhala.

3. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-,“Allah melaknat siapapun yang menyembelih untuk selain-Nya.” (HR. Muslim)

Pasal 2: Determinasi ibadah
Ibadah adalah nama bagi setiap hal yang dicintai dan diridhoi Allah ta’ala, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, baik yang kasat mata maupun tidak.

Contoh ibadah kasat mata (lahir).
Salah satu bentuk ibadah yang kasat mata (lahir) adalah isti’adzah (memohon pertolongan). Isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah yang telah diperintahakan oleh Allah ta’ala dalam beberapa ayat alquran. Oleh karenanya, siapapun yang mendedikasikan isti’adzah kepada selain-Nya, maka dia telah terjatuh dalam perbuatan syirik.

Allah Ta’ala berfirman, “dan bahwasanya ada beberapa laki-laki dari bangsa manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari bangsa jin, maka jin-jin itu semakin menambah dosa dan kesalahan mereka.” (Al-Jin:6)

Bangsa arab di era jahiliyah dahulu, apabila tiba di suatu tempat yang angker, mereka memohon perlindungan kepada jin penghuni tempat tersebut agar tidak diganggu. Melihat hal tersebut, jin itu justru menggangu mereka agar ketakutan mereka semakin menjadi-jadi, sehingga mereka semakin kuat memohon perlindungan kepadanya.

Contoh ibadah yang tak kasat mata (batin).
Salah satu bentuk ibadah yang tak kasat mata (batin) adalah rasa cinta. Siapapun yang mencintai sesuatu sebagaimana dia mencintai Allah ta’ala, maka sebenarnya dia telah menjadikannya sebagai tandingan Allah ta’ala. Bukan tandingan dalam kemampuan mencipta maupun sifat rububiyah lainnya, melainkan tandingan dalam hal rasa cinta.

Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini, “dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah dan mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat dalam cintanya kepada Allah.” (Al-Baqoroh: 165)

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mencela orang-orang musyrik karena mereka menyamaratakan kecintaan mereka kepada Allah ta’ala dengan sesuatu selain-Nya, dan tidak mendedikasikan sepenuhnya kepada-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang beriman.

Pasal 3: Mendedikasikan ibadah kepada selain Allah ta’ala merupakan kekufuran, serta menandakan cacatnya tauhid.
Berikut beberapa dalil yang menjelaskan hal ini

1. Firman Allah Ta’ala, “Sebenarnya, berhala-berhala yang kalian seru selain Allah itu hanyalah makhluk (yang lemah) seperti kalian. Maka serulah mereka! lalu biarkanlah mereka mengabulkan permintaan kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar. Apakah mereka mempunyai kaki yang membuat mereka mampu berjalan? atau tangan yang membuat mereka mempu bertindak keras? atau mata yang membuat mereka mampu melihat? atau telinga yang membuat mereka mempu mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhala yang kalian jadikan sekutu bagi Allah, lalu buatlah (segera) tipu daya (untuk mencelakakan)-ku dan tak perlu menunda-nunda”. (Al-A’raf: 194-195)

Secara eksplisit, dalam ayat di atas terkandung pengingkaran Allah Ta’ala terhadap perbuatan orang-orang musyrik yang menyembah-Nya namun bersamaan dengan itu mereka juga menyembah sesutau selain-Nya semisal berhala dan yang lainya.

Bagaimana mungkin mereka mendedikasikan ibadah kepada berhala-berhala itu, padahal mereka itu tidak lain adalah makhluk Allah yang tidak memiliki kemampuan apapun? tidak mampu mendatangkan manfaat maupun mudharat. Tidak mampu mendengar ataupun melihat, juga tidak mampu menolong orang yang menyembahnya. Bahkan orang yang menyembahnya lebih sempurna dibanding dia.

2. Firman Allah Ta’ala, “Kalau kalian berdoa kepada mereka, mereka tidak mendengar doa kalian. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak mampu mengabulkan permintaan kalian. Dan pada hari kiamat nanti, mereka akan mengingkari perbuatan syirik kalian, dan tidak ada yang dapat memberimu keterangan sebagaimana yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui.” (Fathir:14)

Pada ayat diatas, Allah ta’ala menerangkan betapa sia-sianya doa yang dipanjatkan kepada selain-Nya. Bagaimana mungkin dia bisa mengabulkan doa orang yang memohon kepadanya, sedangkan dia sendiri tidak memiliki otoritas terhadap dirinya sendiri?

3. Firman Allah Ta’ala, “Lalu mereka mengangkat (berhala-berhala itu sebagai) ilah-ilah lain selain-Nya, (padahal) mereka (ilah-lah itu) itu tidak mampu menciptakan suatu apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan (olah manusia). Mereka juga tidak mampu membela diri dari marabahaya, dan tidak pula mampu memberi manfaat untuk diri sendiri. Mereka juga tidak mampu mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mampu menghidupkan kembali (yang sudah mati).” (Al-Furqon: 3)

Kalau mereka sendiri saja tidak memiliki otoritas sedikitpun terhadap diri mereka sendiri, bagaimana mungkin mereka mampu memberi manfaat untuk orang yang menyembahnya? Apabila terbukti jelas bahwa mereka adalah makhluk lemah, bagaimana mungkin mereka pantas untuk disembah?

4. Firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Niscaya mereka tidak akan mampu menghilangkan musibah kalian dan tidak pula (mampu) memindahkannya.” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) seraya mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Isra’: 56-57)

Sesembahan itu jelas tidak mampu memberi manfaat maupun mudarat bagi penyembahnya, bagaiman mungkin pantas untuk disembah? Yang lebih aneh lagi, sebagian dari sesembahan itu tunduk dan berserah diri kepada Allah ta’ala, akan tetapi orang-orang musyrik masih saja menyembah mereka.

Dalam kitab Ash-Shahihain, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan statmen sahabat Abdullah bin Mas’ud yang senada dengan ayat di atas, “ada sekelompok jin yang disembah, kemudian mereka masuk islam. Namun, para penyembah mereka tetap saja menyembah mereka, padahal mereka telah berserah diri kepada Allah ta’ala.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa ada sekelompok manusia yang menyembah beberapa jin. Lalu para jin itu masuk islam, namun para penyembah mereka tetap saja menyembah mereka. Maka turunlah ayat di atas tadi.

5. Firman Allah Ta’ala,“dan janganlah kamu menyembah sasuatu selain Allah yang tidak memberimu manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat, sebab jika kamu melakukannya, maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)

Pasal 4: Sikap eksesif (berlebihan) merupakan pintu kesyirikan.
Sikap eksesif terhadap orang – orang salih adalah akar kesyirikan. Hal ini telah terbukti berdasarkan tinjaun historis. Kalau kita mengkaji ulang kesyirikan yang terjadi pertama kali di zaman nabi Nuh –‘alaihis salam-, kita akan menemukan fakta bahwasanya berhala-berhala yang mereka sembah, pada awalnya hanyalah patung orang-orang salih dari kalangan mereka. Namun kemudian, syaitan dan rekan-rekannya perlahan-lahan menjadikan ritual penyembahan kepada mereka seolah-olah indah dimata manusia.

Allah ta’ala berfirman, “dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan ilah-ilah kalian dan jangan pula sekali-kali meninggalkan wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr!” (Nuh:23)

Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya membawakan sebuah komentar dari sahabat Ibnu Abbas mengenai ayat dia atas, “Di kemudian hari, berhala-berhala kaum Nuh itu di adopsi oleh bangsa Arab. “Wadd” di adopsi oleh suku Kalb di Daumatul Jandal. “Suwa’” di adopsi oleh suku Hudzail. “Yaghuts” pada awalnya di adopsi oleh suku Murad, lalu kemudian di adopsi oleh Bani Ghuthaif di dekat negri Saba’. “Ya’uq” di adopsi oleh suku Hamdzan. Adapun “Nasr” diadopsi oleh suku Himyar dari klan Dzil Kila’.

Mereka semua pada mulanya hanyalah nama-nama orang salih dari kaum Nuh. Setelah mereka wafat, para syaitan mulai menghasut kaum mereka agar mendirikan beberapa patung di sekitar tempat mereka biasa duduk-duduk semasa hidup dahulu, lalu menemai masing-masing patung dengan nama mereka. Mereka pun malaksanakan hal tersebut, dan kala itu patung-patung itu belum disembah. Kemudian, ketika generasi pertama itu sudah punah dan ilmu mulai pudar, patung-patung itu mulai disembah.”

Oleh karena itulah, Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- melarang umatnya dari sikap eksesif terhadap sosok beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- dengan sabdanya, “janganlah kalian bersikap eksesif (berlebihan) terhadapku sebagaimana orang-orang nasrani bersikap eksesif terhadap putra Maryam! Sesunggunya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah (bahwa Muhammad adalah) hamba dan rosul-Nya” (Muttafaq ‘alaihi)

Beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- juga bersabda, “hindarilah sikap eksesif, karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelumkalian bermula dari sikap eksesif dalam beragama.” (HR. An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dalam kitab Musnadnya)

Saat Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- mendengar seorang budak wanita menyanjung beliau dengan sebuah ungkapan bernada pleonasme (berlebihan) yang mengatakan bahwa beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- mampu meramal masa depan, beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- serta merta mencegahnya karena hal itu merupakan bagian dari sikap eksesif. Sebagaimana yang dikisahkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Rabi’ binti Mu’awwidz bin Afra’, bahwa dia berkata, “Saat menikahiku, Nabi -sholallahu ‘alaihi wasalam- datang menemuiki. Kemudian beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- duduk di atas ranjangku sebagaimana engkau duduk. Lalu para budak perempuan kami yang masih kecil mulai menabuh gendang seraya menyebut-nyebut nama orang tuaku yang gugur di perang Badar. Salah seorang dari mereka berkata, “dan di antara kami ada seorang nabi yang mampu meramal masa depan”. Maka Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- bersabda, “Hentikan ucapan itu, ucapkanlah apa yang sebelumnya kau katakan.”

Beberapa konsekuensi tauhid uluhiyah

“Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Dia (pula yang) memelihara-Nya.” (Az-Zumar: 62)
“Apakah kami punya (hak untuk campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (Ali-Imron: 154)
“Ketahuliah bahwa menciptakan dan memerintah adalah hak Allah semata. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

“Mereka menjadikan para ulama dan rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah dan (mereka juga mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah satu Ilah saja, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

“Bukankah mereka mereka (para ulama dan rahib) mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan apa yang haram kemudian mereka menurutinya? Itulah bentuk ibadah mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya (dalam memuruskan sesuatu) dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat:1)

“kemudian, apabila terjadi silang pendapat diantara kalian dalam suatu masalah, kembalikanlah ia kepada (hukum) Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (An-Nisa’:59)

“dan tidak boleh bagi orang beriman baik laki-laki maupun perempuan, ketika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian mereka memilih pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapapun yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah benar-benar tersesat.” (Al-Ahzab: 36)

“janganlah kalian jadikan panggilan kalian kepada Rasul ditengah-tengah kalian seperti panggilan kalian kepada (yang lain). Sungguh Allah telah mengetahui orang-orang yang pergi secara diam-diam tanpa izin. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rosul, takut akan ditimpa musibah atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur:63)

Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan pasti (dari Allah) tentu mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (Asy-Syura: 21)

(menetapkan) hukum itu adalah hak Allah semata. Dia telah memerintahkan kalian agar tidak menyembah selain-Nya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)

dan dia (Muhammad) tidak mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

“seandainya dia (Muhammad) berani berbohong atas (nama) Kami, tentu akan kami cengkram tangan kanannya, kemudian kami potong urat nadinya. Dan tidak ada seorang pun dari akan mampu menghalangi kami.” (Al-Haqah: 44-47)

“Katakanlah, “jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali-Imron: 31)

siapapun yang tidak menyukai sunnahku, maka dia bukan termasuk pengikutku” (Muttafaq ‘alaihi)

“maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya serta cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui perbuatan kalian.” (At-Taghabun: 8)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling dari-Nya sementara kalian mendengar (perintah-perintah-Nya). Dan jangan seperti orang-orang (munafik) yang berkata “Kami mendengarkan”, padahal sebenarnya mereka tidak mendengarkan.” (Al-Anfal: 20-21)

Katakanlah, “taati Allah dan Rasul-Nya! jika kalian berpaling, maka sungguh Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali-Imran: 32)

“dan apapun yang Rasul perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah. Dan apapun yang dia larang, maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)

ketahuilah bahwa aku telah diberi alquran dan yang semisalnya (as-sunnah) secara bersamaan. Dikhawatirkan, akan ada seseorang yang duduk kekenyangan di atas dipan seraya berkata, “kalian cukup berpatokan pada alquran ini. Apa dihalalkan oleh alquran, maka katakan kalau itu halal. Dan apa yang diharamkan oleh alquran, maka katakana kalau itu haram.” Padahal, apa yang diharamkan oleh Rosulullah (status hukumnya) sama dengan apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Hakim)

“siapapun yang mentaatiku, maka dia telah mentaati Allah, dan siapapun yang menentangku maka dia telah menentang Allah.” (muttafaq ‘alaihi)

dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqoroh: 43)

Sungguh pada (diri) Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

“Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”(Ali-Imron: 31)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rosul, takut akan ditimpa musibah atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur:63)

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku-ngaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan sebelummu? mereka hendak mengangkat thaghut sebagai hakim, padahal mereka diperintahkan untuk menentangnya. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.” (An-Nisa:60)

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga menjadikanmu hakim bagi perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak merasa keberatan dengan keputusanmu dan menerima sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)

“dan jika mereka berdua memaksamu untuk menyekutukanku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka jangan kamu turuti. Perlakukanlah mereka berdua dengan baik dalam urusan dunia, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) serta pemimpin kalian. Kemudian jika terjadi silang pendapat diantara kalian dalam suatu masalah, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (An-Nisa:59)

“setiap muslim wajib mendengar dan mentaati (perintah) pemimpinnya selama dia tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka dia tidak boleh mendengar dan mentaatinya.” (muttafaq ‘alaihi)

“tidak ada ketaatan dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya ada dalam rangka berbuat baik.” (muttafaq ‘alaihi)

jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) maka ketahuilah bahwa sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk sedikitpun dari Allah?” (Al-Qashash: 50)

“lalu kami memberimu sebuah syariat (peraturan agama), maka ikutilah syariat itu dan jangan kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiayah: 18)

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Memangnya (hukum) siapa yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Al-Maidah: 50)

“maka bertanyalah kepada orang yang memahami keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab jika kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43-44)

“dan siapapun yang menentang Rasul setelah memahami kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dipilihnya dan Kami akan masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat kembali yang paling buruk.” (An-Nisa:115)

“berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

“Hai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali1 kalian. Sebagian mereka adalah wali bagi yang lain. Siapapun diantara kalian yang menjadikan mereka sebagai wali, maka sebenarnya orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan siapapun yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai walinya, maka sebenarnya pengikut (agama) Allah-lah yang pasti menang.” (Al-Maidah:55-56)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali yang kalian bocorkan kepada mereka (rahasia Muhammad) karena rasa kasih sayang, padahal mereka mengingkari kebenaran yang datang kepada kalian.” (Al-Mumtahanah: 1)

“janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir menjadi wali dan mencampakan orang-orang beriman. Siapapun yang berbuat demikian, niscaya ia terlepas dari pertolongan Allah.” (Ali-Imran: 28)

“Sungguh pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya terdapat suri tauladan yang baik, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sungguh kami berlepas diri daripada kalian dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian. Dan antara kami dan kamu telah nyata permusuhan dan kebencian selama-lamanya hingga kalian beriman kepada Allah semata.” (Al-Mumtahanah: 4)

“Hai orang-orang beriman, jangan jadikan ayah-ayah dan saudara-saudara kalian sebagai wali kalian jika mereka lebih mengutamakan kekafiran dibandingkan keimanan. Siapapun dari kalian yang menjadikan mereka wali, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah, “Jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, dan kaum kerabat kalian, serta harta kekayaan yang kalkian usahakan, perniagaan yang kalian mencemaskan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kalian cintai dibandingkan Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 23-24)

“kamu tak akan mendapati sebuah kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. “ (Al-Mujadillah: 22)

“Aku mendengar Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- berkata dengan suara lantang, bukan lirih, “ketahuilah bahwa keluarga orang tuaku –maksudnya si fulan – bukallah waliku. Waliku yang sesungguhnya adalah Allah dan orang-orang beriman yang salih” (HR.Muslim)
(Ustadz Rizki Narendra?www.belajarislam.com)

Rabu, 25 Mei 2011

Apa itu Wahabi? (1)

Pertarungan antara Ahlu Tauhid dan Ahlu Syirik merupakan sunnatullah yang tetap berjalan, tidak akan berakhir hingga matahari terbit dari sebelah barat. Hal ini merupakan ujian dan cobaan bagi Ahlu al-Haq agar terjadi jihad fi sabilillah dengan lidah, pena ataupun senjata.

“Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka (dengan tidak payah kamu memeranginya) tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.” (Terjemah Qur’an Surah Muhammad : 4)

Kita lihat musuh-musuh tauhid berusaha sekuat tenaga dengan mengorbankan waktu dan harta mereka tanpa mengenal lelah untuk membela kebatilan mereka, menebarkan kesesatan mereka, dan memadamkan cahaya Rabb mereka.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (Terjemah Qur’an Surah at-Taubah : 32)

Salah satu senjata utama mereka untuk memadamkan cahaya Allah ialah dengan menjauhkan manusia dari da’i yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan gelar-gelar yang jelek dan mengerikan. Seperti kata yang populer di tengah masyarakat yaitu “Wahabi”. Semua itu dengan tujuan menjauhkan manusia dari dakwah yang benar.

Apa sebenarnya Wahabi? Mengapa mereka begitu benci setengah mati terhadap Wahabi? Sehingga buku-buku yang membicarakan tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mencapai 80 kitab atau lebih. Api kebencian mereka begitu membara hingga salah seorang di antara mereka mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukan anak manusia, melainkan anak setan, Subhanallah, adakah kebohongan setelah kebohongan ini?

“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (Terjemah Qur’an surah al-Kahfi: 5)

Hal seperti ini terus diwarisi hingga sekarang. Maka kita lihat orang-orang yang berlagak alim atau ustadz bangkit berteriak memperingatkan para pengikutnya, membutakan hati mereka dari dakwah yang penuh barakah ini, dan dari para da’i penyeru tauhid pemberantas syirik dengan sebutan-sebutan dan gelaran-gelaran yang menggelikan, seperti gelaran “Wahabi”. Padahal mereka tidak mengetahui hakikat dakwah yang dilancarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

“… sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (Terjemah Qur’an surah al-Baqarah: 13)

“…Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (Terjemah Qur’an surah al-Hasyr: 5)

Yang mereka dengar hanyalah tuduhan-tuduhan di tepi jurang yang runtuh lalu bangunannya jatuh bersama-sama mereka ke dalam neraka Jahannam. Tuduhan-tuduhan mereka tidaklah ilmiah sama sekali, lebih lemah dari sarang laba-laba.

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Terjemah Qur’an surah al-Ankabut: 41)

Semoga kalimat sederhana ini dapat membuka pandangan mata mereka terhadap dakwah ini dan agar binasa orang yang binasa di atas keterangan yang nyata pula. Dan jangan sampai mereka termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah:

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (Terjemah Qur’an surah al-Baqarah: 206)
Apakah Wahabi?

Perlu ditegaskan di sini bahwa penamaan dakwah ini dengan “Dakwah Wahabiyah” dan para pengikutnya dengan “Wahabi” merupakan kesalahan kalau ditinjau dari segi lafadz dan maknanya.

Dari segi lafadz, penamaan “Wahabiyah” dinisbatkan kepada Abdul Wahhab yang tidak mempunyai sangkut paut dengan dakwah ini.[1] Ia tidak dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, yang menurut mereka, beliau adalah pendirinya. Kalaulah mereka jujur, tentu menamakannya dengan “Dakwah Muhammadiyah” karena nama beliau adalah Muhammad. Namun karena mereka menganggap bahwa jika menamakan dakwah ini dengan “Dakwah Muhammadiyah”, ia tidak akan menjauhkan manusia, maka mereka menggantinya dengan “Dakwah Wahabiyah”.

Adapun dari segi makna, maka mereka juga keliru di dalamnya sebab dakwah ini mengikuti manhaj dakwah al-Salaf al-Soleh dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Kalaulah mereka jujur, tentunya menamai dakwah ini dengan dakwah Salafiyyah.

Jadi apakah sebenarnya Wahabiyah? Dalam Kitab Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah [2]Juz 2, hal 174 diterangkan:

Wahabiyah adalah sebuah lafaz yang dilontarkan oleh musuh-musuh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab disebabkan dakwah beliau di dalam memurnikan tauhid, membasmi syirik dan membendung seluruh tata cara ibadah yang tidak dicontohkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuan mereka dalam menggunakan lafaz ini adalah untuk menjauhkan manusia dari dakwah beliau dan menghalangi mereka agar tidak mau mendengarkan perkataan beliau.

Sungguh sangat mengherankan omongan kebanyakan manusia, ketika mereka melihat seorang yang mengagungkan tauhid, menyeru dan membelanya, mereka menyebutnya sebagai “Wahabi”. Yang lebih lucu adalah apabila mereka menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim keduanya adalah Wahabi. Subhanallah! Apakah Muhammad bin Abdul Wahhab melahirkan orang yang hidupnya lebih dulu beberapa abad dari dirinya?[3]

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata:
Mungkin sebagian orang-orang bodoh akan menuduh Imam al-Suyuti dengan Wahabi sebagaimana adat mereka. Padahal jarak wafat antara keduanya kurang lebih 300 tahun.[4]

Aku teringat cerita menarik sekali, terjadi di salah satu sekolah di Damaskus (Syria) ketika seorang guru sejarah beragama Nashara (Kristen) menceritakan tentang sejarah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya dalam memerangi syirik, khurafat dan bid’ah. Sehingga seakan-akan guru Nashara itu memuji dan kagum kepadanya. Maka berkatalah salah seorang muridnya, “Wah guru kita menjadi Wahhabi!”.

Demikianlah kebencian mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya, bahkan kepada orang Nashrani pun -yang nyata-nyata bukan Muslimin- mereka tuduh “Wahabi”.

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Terjemah Qur’an al-Buruuj: 8)

Insya Allah artikel ini akan bersambung dengan tulisan menjawab tuduhan dan syubhat dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Footnote:
[1] Ini karena Abdul Wahhab adalah ayah kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Yang mendirikan dakwah ini adalah Muhammad dan bukannya Abdul Wahhab, maka sepatutnya gelaran disandarkan kepada Muhammad dan bukannya Abdul Wahhab. Sebab mengapa gelaran sengaja dialihkan dari nama Muhammad diterangkan seterusnya di atas. (Hafiz Firdaus).
[2] Sebuah lembaga pemberi fatwa di Saudi Arabia
[3] Ini kerana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal dunia pada tahun 1206H manakala Imam Ibnu Taimiyah meninggal dunia pada tahun 728H dan Imam Ibnul Qayyim pada tahun 757H. (Hafiz Firdaus).
[4] Imam al-Suyuti meninggal dunia pada tahun 911H.

Sumber: www.hafizfirdaus.com

Kamis, 05 Mei 2011

Rukun Iman (Bagian 3)

Tauhid Rububiyah

Pasal 1: Determinasi Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah adalah keyakinan akan eksistensi Allah ta’ala sebagai  pencipta, penguasa, serta pengatur segala sesuatu. Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut:

1. Firman Allah Ta’ala, “Apakah mereka tercipta (begitu saja) tanpa asal-usul, ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? Atau apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi?; sebenarnya mereka sendiri tidak yakin (dengan ucapan mereka).” (Ath-Thur: 35-36)

Maksud dari ayat di atas adalah: mungkinkah mereka ada tanpa adanya pencipta, ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?  Tentu jawabannya bukan kedua-duanya, melainkan  Allah-lah yang menciptakan dan menjadikan mereka tumbuh dan berkembang, padahal awal mulanya mereka sama sekali bukan apa-apa.

2. Firman Allah Ta’ala, “Ketahuilah, (bahwa) menciptakan dan memerintah adalah hak Allah semata. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raaf: 54)
Maknanya adalah: Dialah pemilik kekuasaan dan otoritas penuh untuk mengatur alam semesta, tidak ada yang menentang kehendak-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak pula Dia merasa rendah diri hingga memerlukan bantuan pihak lain.

3. Firman Allah Ta’ala, “Musa berkata, “Rabb kami ialah (Rabb) yang telah menganugrahkan bentuk fisik kepada setiap makhluk hidup, kemudian memberinya naluri (insting).” (Thaha: 50)
Dia-lah yang menciptakan mahkluk hidup, menentukan takdir mereka, memberi mereka karakter fisik sesuai dengan kehendak-Nya dan memberi mereka apa yang sesuai dan cocok dengan kondisi mereka masing-masing.

Pasal 2: Beberapa bukti yang mendasari keyakinan akan eksistensi Allah ta’ala

Bukti pertama: Tendensi Natural (fitrah) Manusia
Pada  dasarnya, akreditasi  akan eksistensi Allah ta’ala sebagai pencipta merupakan sebuah naluri alami yang ada pada diri setiap individu, baik yang salih maupun yang jahat. Hal tersebut merupakan fitrah yang sejak lahir tertanam dalam lubuk hati. Keyakinan akan adanya sang pencipta disertai tendensi (kecenderungan) kuat untuk menghambakan diri kepada-Nya. Inilah perasaan yang mengalir begitu deras dalam sanubari  setiap insan dan tidak seorang pun mampu menyangkalnya.

Beberapa pakar tafsir berkomentar bahwa fitrah ini merupakan perpanjangan tangan dari kesaksian segenap manusia yang pernah diambil saat mereka dikeluarkan dari tulang rusuk nabi Adam –‘alaihissalam- sebelum mereka diciptakan. Fitrah ini adalah bukti riil yang tidak mungkin diingkari. Seseorang tidak akan dimaafkan apabila dia menyelisihi fitrah ini dengan alasan mengikuti jejak leluhur ataupun melestarikan warisan nenek moyang.

Allah Ta’ala menyinggung hal ini dalam firman-Nya, “dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan Adam dari tulang rusuk mereka dan mengambil kesaksian atas diri mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Rabbmu?” mereka menjawab: “Benar, kami bersaksi (bahwa engkau adalah Rabb kami)”. (Kami melakukan hal itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak tahu-menahu tentang hal ini (yakni; keesaan Rabb)”. Atau agar kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya nenek moyang kami sejak dahulu telah berbuat syirik, sedangkan kami ini hanyalah keturunan mereka (yang meniru perbuatan mereka). Apakah Engkau akan menyiksa kami (atas) kesalahan (mereka) orang-orang yang sesat?” (Al-A’raaf: 172-173)

Tak jarang kemunculan fitrah ini dalam diri manusia terhalangi oleh kenikmatan hidup, kemakmuran harta,  kesehatan, atau juga karena hati yang telah dikuasai kelalaian. Namun apabila seseorang berada dalam kondisi gawat darurat, fitrah ini akan segera muncul menguasai hati dan perasaanya. Serta merta, fitrah ini akan membawa dirinya untuk kembali tunduk dan mengemis dihadapan sang pencipta, sekalipun orang itu kafir.

Allah Ta’ala menyinggung hal ini dalam firman-Nya, “Dialah yang memberi kalian kemampuan untuk melintasi daratan dan lautan. Hingga (suatu waktu) kalian menaiki bahtera yang melaju dengan tiupan angin yang baik membawa para penumpang dan mereka merasa gembira karenanya, datanglah badai dasyat disertai gempuran ombak dari segenap penjuru. Dan (saat) mereka yakin bahwa mereka (benar-benar) telah dikepung (bahaya), mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan semata-mata hanya untuk-Nya. (mereka berkata): “Sungguh, apabila Engkau menyelamatkan kami dari malapetaka ini, pasti kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur.” (Yunus: 22)

Dan juga firman-Nya, “Dan apabila mereka dilamun ombak besar laksana gunung, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan semata-mata hanya untuk-Nya. Setelah Allah menyelamatkan mereka hingg sampai ke daratan, (hanya) sebagian dari mereka saja yang tetap menempuh jalan yang lurus. Dan seorangpun mengingkari ayat- ayat Kami kecuali orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (Luqman: 32)

Sekafir apapun manusia, dia tidak akan mampu mengingkari realita ini, dan tidak pula kuasa untuk membohongi diri sendiri, sekalipun kesombongan dan kezhaliman yang bercokol dalam dirinya memaksanya untuk membantah perasaan ini dengan lisannya.

Hal ini disinggung oleh Allah Ta’ala dalam kisah kaum Fir’aun, “dan mereka mengingkari (ayat-ayat Allah) karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana akhirnya nasib orang-orang yang berbuat kerusakan.” (An-Naml: 14)

Dan juga firman-Nya “dan jika kamu bertanya kepada mereka, “siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab, “yang menciptakan mereka semua adalah (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (Az-Zukhruf: 9)

Dan juga firman-Nya, “katakanlah (kepada mereka), “siapakah yang mendatangkan kepada kalian rezki dari langit dan bumi? atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? dan siapakah yang mengeluarkan sesuatu yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan sesuatu yang mati dari yang hidup? dan siapakah yang mengatur segala urusan?” mereka akan menjawab, “Allah”. Maka Katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Yunus: 31)

Bukti kedua: eksistensi makhluk hidup
Indikasi konkret seputar eksistensi Allah ta’ala jumlahnya sebanding dengan jumlah makhluk ciptaan-Nya, karena pada dasarnya eksistensi makhluk merupakan bukti riil akan eksistensi Allah ta’ala sebagai sang pencipta sekaligus penguasa tunggal yang mengatur alam semesta, mulai dari atom terkecil di muka bumi hingga benda langit terbesar di antariksa.

Eksistensi jagad raya ini sendiri sudah cukup untuk menjawab keraguan orang-orang ateis akan eksistensi Allah ta’ala, sekaligus membungkam mulut kotor mereka nan sombong, kerena setiap jengkal jagad raya ini menjadi saksi akan eksistensi zat yang memiliki karakteristik rububiyah dan uluhiyah.
Jagad raya yang begitu besar dan sempurna ini mustahil jika diciptakan tanpa asal-usul, sebagaimana mustahil jika dia menciptakan dirinya sendiri. Ini adalah fakta yang terakreditasi oleh naluri dan akal sehat tanpa memerlukan justifikasi siapapun.

Kalau jagad raya ini mustahil diciptakan tanpa asal-usul, serta tidak mungkin dia menciptakan dirinya sendiri, maka hanya ada satu kemungkinan yang tersisa, yaitu; jagad raya ini diciptakan oleh suatu Zat Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Dia-lah yang menciptakan, dan menyempurnakan ciptaan-Nya. Dia pula yang menentukan kadar ciptaan-Nya, kemudian memberinya petunjuk.

Demikianlah metodologi Al-Quran dalam menetapkan eksistensi Sang Pencipta. Al-Quran mengajak pembacanya untuk mengenali ayat-ayat-Nya yang berwujud alam semesta ini. Dengan mengenal ciptaan ia akan terbimbing dengan sendirinya untuk mengenali sang pencipta,  sebagaimana dia dengan sendirinya akan terbimbing untuk mengenali matahari saat melihat sinarnya.

Allah Ta’ala berfirman, “Apakah mereka tercipta (begitu saja) tanpa asal-usul? ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Ath-Thur: 35)

Bukti ketiga: konsensus umat-umat terdahulu
Dalam sejarah peradaban umat-umat terdahulu, belum pernah tercatat ada satu golonganpun yang mengingkari eksistensi Sang Pencipta, kecuali hanya sekelompok kecil saja yang pendapatnya tidak terakreditasi.

Para pakar telah mengumpulkan banyak pendapat, pemikiran serta persepsi seputar teologi dari berbagi macam agama dan aliran kepercayaan, baik yang klasik maupun kontemporer. Namun, tidak ada satupun persepsi yang mengatakan adanya pihak lain menginterfensi urusan Allah ta’ala dalam penciptaan alam semesta, atau adanya zat lain yang memiliki karakteristik ketuhanan seperti-Nya, ataupun yang secara total mengingkari rububiyah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman, “Para rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?” (Ibrohim: 10)

Pada ayat diatas, para rasul berdialog dengan kaumnya menggunakan retorika seorang yang sedang berbicara dengan lawan bicara yang tidak meragukan eksistensi Allah ta’ala. Hal ini tidak lain karena kaum mereka meyakini sepenuhnya bahwa Allah ta’ala benar-benar eksis.

Bukti keempat: justifikasi intelektual (pembenaran berdasarkan akal sehat)
Sebagaimana telah dikemukaan sebelumnya, bahwa indikasi konkret seputar eksistensi Allah Ta’ala jumlahnya sebanding dengan jumlah makhluk ciptaan-Nya. Untuk memahami bahwasanya indikasi – indikasi kasat mata tersebut merupakan sebuah bukti konkret, ada tiga prinsip dasar yang menjadi landasan berpikir. Ketiga prinsip dasar ini kolateral (sejalan) dengan akal sehat manusia, disepakati oleh alquran dan sunnah. Serta tidak ada seorang pun yang bisa menyelisihinya. Berikut ketiga prinsip tersebut:

1. Setiap ciptaan pasti ada yang menciptakan
Sesuatu yang tidak ada mustahil memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Hal ini merupakan kepastian yang selaras dengan akal sehat, dan diakui oleh syari’at.

Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini, “Apakah mereka tercipta (begitu saja) tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi?; sebenarnya mereka sendiri tidak yakin (dengan ucapan mereka).” (Ath-Thur: 35-36)
Bagaimana mungkin seseorang mampu membantah hal ini, sementara benda-benda mati disekitarnya menjadi saksi kebenarannya. Sandal yang dia gunakan, baju yang dia kenakan, mobil yang dia kendarai, payung yang dia pakai saat panas dan hujan, bahkan makanan dan minumannya, dan benda mati lainnya menjadi bukti bahwasanya sesuatu yang tidak ada mustahil memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Tentu akal sehat tidak sudi untuk mengakui kalau ada yang mengatakan bahwa benda-benda tersebut muncul begitu saja tanpa ada yang menciptakan.

Apabila kita implementasikan prinsip pertama tersebut pada fenomena-fenomena yang terjadi di alam raya ini, tentu kita akan yakin sepenuhnya bahwa semua itu pasti ada yang menciptakan.

2. Ciptaan merupakan refleksi dari kemampuan sang pencipta beserta beberapa karakteristiknya.
Hal ini dikarenakan ada hubungan erat antara ciptaan dengan sang pencipta. Tidak mungkin sesuatu itu tercipta kecuali sang pencipta memiliki kemampuan untuk mencipta. Contohya, apabila kita melihat lampu listrik, kita otomatis akan tahu bahwa pembuat lampu ini mempunyai kaca, kabel, skill untuk merangkai kaca dan kabel tadi hingga menjadi lampu, serta mengerti seluk beluk listrik.

Begitulah, kita bisa mengetahui kemampuan dan beberapa karakteristik pencipta hanya dengan dengan menyaksikan secara kasat mata bekas-bekas perbuatannya. Oleh karenanya, sangat benar kalau kita mengatakan bahwa ciptaan merupakan refleksi dari kemampuan sang pencipta beserta beberapa karakteristiknya.

Al-Quran mengarahkan kita untuk mengimplementasikan prinsip dasar ini. Ayat-ayatnya menyuruh kita untuk menerawang dan merenungi langit, bumi beserta segala isinya, agar dengan begitu  kita bisa mengenal berbagai karakteristik Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana.
Allah ta’ala berfirman, “Allah-lah yang menggerakan angin, lalu angin itu menggiring awan dan (Allah) membentangkannya di langit sesuai kehendak-Nya, kemudian dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu kamu melihat air hujan keluar dari celah-celahnya. Dan bila hujan itu menimpa siapapun yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, mereka seketika bergembira. Padahal, sebelum hujan itu turun, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah (itu), bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sudah mati. Sungguh (Rabb yang mampu melakukan) semua itu, benar-benar (berkuasa untuk) menghidupkan orang-orang mati, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 48-50)

Peristiwa turunnya hujan, lalu membasahi bumi yang kering, dan kembalinya kehidupan tanah yang sebelumnya mati, selain menunjukan eksistensi Sang Pencipta juga menunjukan betapa besar kekuasaaan-Nya, khususnya dalam hal mengembalikan kehidupan yang telah mati. Selain itu, hal tersebut juga membuktikan betapa besar kasih sayang-Nya kepada makhluk hidup.

Jadi, mengenali dengan beberapa karakteristik Sang Pencipta dengan menyaksikan dan merenungi bekas-bekas perbuatan-Nya merupakan metode yang diakreditasi baik oleh akal dan syariat. Inilah metode yang diakui kebenarannya oleh akal, dilegalkan oleh syariat, dan menjadi pondasi utama dalam membangun keimanan.

Dengan mengimplementasikan prinsip ini, kita akan menyadari bahwa eksistensi alam raya yang begitu besar ini membuktikan bahwa penciptanya senantiasa eksis dan abadi. Keagungan ciptaan ini juga menunjukan betapa agung kekuasaan penciptanya. Kehidupan yang ada di alam semesta ini juga menunjukan bahwa penciptanya senantiasa hidup. Keteraturan yang ada di dakamnya juga menunjukan bahwa penciptanya Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Kestabilan dan keserasian yang ada di dalamnya juga menunjukan bahwa penciptanya Maha Adil, Maha Esa, dan Maha Kuasa.

Demikianlah, semua makhluk tersebut telah mengarahkan kita kepada keyakinan mantap akan eksistensi Zat Yang Maha Pencipta, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Hidup, dan Tak Terkalahkan, sekaligus menjawab keraguan orang ateis akan eksistensi-Nya.

3. Sebuah ciptaan mustahil diciptakan oleh siapapun yang tidak memiliki kemampuan mencipta
Ini juga merupakan salah prinsip yang diakui kebenarannya baik oleh akal maupun syariat. Mustahil seorang yang bisu berbicara dengan fasih. Mustahil pula seekor hewan tak berakal atau seorang idiot berhasil meluncurkan satelit untuk mengeksplorasi angkasa luar serta menyingkap rahasia-rahasianya. Mustahil seorang kampungan yang tinggal di ujung padang pasir dengan kesibukan sehari-hari menggembala unta dan kambing berhasil menjalankan operasi rumit bedah otak untuk mengeluarkan sel kanker, atau menulis buku seputar teknologi nuklir.

Sama halnya dengan sebuah batu, mustahil dia memiliki kemampuan untuk mencipta, atau memberi rizki, menghidupkan, mematikan atau memberi manfaat atau mudarat kepada siapa yang dikehendakinya.

Allah Ta’ala berfirman, “Apakah mereka menyekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak mampu menciptakan suatu apapun? bahkan mereka sendiri (berhala-berhala itu) diciptakan (oleh manusia). Mereka (berhala-berhala itu) juga tidak mampu menolong mereka (para penyembahnya), dan (bahkan) menolong diri mereka sendiri pun tak sanggup. Dan jika kalian (hai orang-orang musyrik) meminta kepada mereka petunjuk, mereka tidak akan mampu mengabulkan permintaan kalian itu; sama saja (hasilnya), entah kalian menyeru mereka ataupun berdiam diri saja. Sebenarnya, berhala-berhala yang kalian seru selain Allah itu hanyalah makhluk (yang lemah) seperti kalian. Maka serulah mereka! lalu biarkanlah mereka mengabulkan permintaan kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar. Apakah mereka mempunyai kaki yang membuat mereka mampu berjalan? atau tangan yang membuat mereka mempu bertindak keras? atau mata yang membuat mereka mampu melihat? atau telinga yang membuat mereka mempu mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhala  yang kalian jadikan sekutu bagi Allah, lalu buatlah (segera) tipu daya (untuk mencelakakan)-ku dan tak perlu menunda-nunda”. (Al-A’raf: 191-195)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Lalu mereka mengangkat (berhala-berhala itu sebagai) ilah-ilah lain selain-Nya, (padahal) mereka (ilah-lah itu) itu tidak mampu menciptakan suatu apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan (olah manusia). Mereka juga tidak mampu membela diri dari marabahaya, dan tidak pula mampu memberi manfaat untuk diri sendiri. Mereka juga tidak mampu mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mampu menghidupkan kembali (yang sudah mati).” (Al-Furqon: 3)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Katakanlah: “Terangkan kepadaku tentang para sekutu yang kalian seru selain Allah (seberapa pantaskah mereka untuk disembah?) . Tunjukan  kepadaku (belahan) bumi mana yang mereka ciptakan? Ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit? Ataukah Kami menurunkan kepada mereka sebuah kitab, sehingga mereka memperoleh keterangan-keterangan yang mendukung (perbuatan syirik mereka)? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu, sebahagian dari mereka memprovokasi sebagian yang lain (dengan memberi) keterangan-keterangan palsu.” (Fathir: 40)

Kalau kita implementasikan prinsip ini pada setiap makhluk yang ada di alam sesesta ini, tentu kita akan menyadari bahwasanya tidak ada satu makhlukpun yang memenuhi kriteria untuk menyandang gelar Sang Pencipta, karena tidak ada satupun dari mereka yang memiliki karakteristik sebagai Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Pemberi Petunjuk, Maha Hidup, dan Maha Abadi. Jika kita menyadari bahwa diantara makhluk alam semesta ini tidak ada satupun layak menyandang gelar Sang Pencipta, maka jelaslah bahwa Sang pencipta adalah zat yang bukanlah termasuk bagian dari alam semesta ini

Perlu diketahui bahwa untuk memasukan seseorang ke dalam islam, pengakuan atas tauhid rububiyah semata tidaklah cukup, tapi juga memerlukan tauhid uluhiyah yang  merupakan ikrar bahwa tidak ada yang layak diibadahi kecuali Allah ta’ala semata seraya berlepas diri dari kesyirikan. Hal ini dikarenakan orang-orang musyrik juga mengakui tauhid rububiyah, namun hal ini tidak serta merta memasukan mereka kedalam agama islam.

Allah Ta’ala menyinggug hal ini dalam firman-Nya, “dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “yang menciptakan mereka adalah (Allah)  yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Az-Zukhruf: 9)

Dan juga firman-Nya,”dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. ( Az-Zumar: 38)

Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa konsekuensi pengakuan tauhid rububiyah adalah pengakuan tauhid uluhiyah.(Ustadz Rizki Narendra/http://www.belajarislam.com/).Bersambung insya Allah.

Minggu, 01 Mei 2011

Rukun Iman (Bagian 2)

B. Iman merupakan syarat diterimanya amalan
Pasal 1: Iman merupakan syarat sah diterimanya suatu ibadah, sebagaimana layaknya wudhu yang merupakan syarat sah diterimanya sholat. Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut.

1. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan mengkaruniainya kehidupan yang baik dan membalasnya dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97). Pada ayat di ayas Allah ta’ala menerangkan bahwa syarat untuk memperoleh kehidupan dan pahala baik adalah iman dan amal salih.

2. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk ke dalam surga dan tidak akan didzolimi sedikitpun.” (An-Nisaa’:124). Allah Ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk masuk surga.

3. Firman Allah Ta’ala, “dan siapapun yang mengerjakan amal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan khawatir akan adanya perlakuan dzholim (terhadap dirinya) ataupun pengurangan haknya.” (Thaha:112). Allah ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk memperolah rasa aman di hari kiamat.

4. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang menghendaki kehidupan akhirat seraya berusaha dengan sungguh-sungguh ke arah itu, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan dibalas dengan baik.” (Al-Isra’: 19). Allah Ta’ala menjadikan tiga hal sebagai syarat untuk memperoleh ganjaran yang baik di akhirat kelak, yaitu: iman, keinginan untuk menyongsong hari akhirat, serta usaha ke arah itu.

5. Firman Allah Ta’ala, “Maka siapapun yang mengerjakan amal saleh, dalam keadaan beriman, maka tidak akan ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Kami akan menuliskannya untuknya.” (Al-Anbiya: 94). Allah Ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk memperoleh ganjaran yang baik di akhirat kelak.

6. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- kepada Mu’adz bin Jabal sebelum berangkat ke negeri Yaman sebagai delegasi beliau, “Engkau akan mendatangi sebuah bangsa dari kalangan ahli kitab. Hendaknya, yang pertama kali engkau serukan adalah (ajakan) untuk bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka memenuhi seruanmu, maka beri tahu (lebih lanjut) bahwa Allah mengharuskan mereka (untuk mendirikan) sholat lima waktu dalam sehari semalam.” (HR. Muslim)

Pada hadits di atas, Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- memerintahkan Mu’adz untuk menyeru mereka kepada iman sebelum mengerjakan amal salih.

Pasal 2: Kesyirikan dan kekafiran menggugurkan amal salih.
Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut:

1. Firman Allah ta’ala, “dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan juga (para nabi) sebelummu, “Jika kamu berbuat syirik, niscaya amal salihmu akan terhapus dan kamu akan menjadi orang yang merugi”, maka dari itu, hendaklah kamu menyembah Allah saja dan jadilah orang yang bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)
Allah ta’ala menerangkan bahwa kesyirikan akan menggugurkan amal salih.

2. Firman Allah Ta’ala, “seandainya mereka (para nabi itu) berbuat syirik, niscaya lenyaplah amal salih yang telah mereka kerjakan sebelumnya.” (Al-An’am: 88)

3. Firman Allah Ta’ala, “dan kami datangi amal (baik) yang pernah mereka kerjakan, lalu Kami menjadikannya (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqon: 23)

Demikianlah Allah ta’ala menerangkan nasib amal salih orang-orang kafir.

4. Firman Allah Ta’ala, “dan amal perbuatan (baik) orang-orang kafir bagaikan fatamorgana di tanah datar. Orang yang kehausan mengira itu adalah air. Hingga apabila dia datang ke sana, (ternyata) air itu hanya ilusi semata. Dan dia mendapati (ketetapan) Allah disisinya (pada hari kiamat nanti), lalu Dia menghitung amal perbuatannya dengan semestinya, dan (hari) perhitungan Allah (itu) akan segera datang . Atau (dia) bagaikan (berada dalam) kegelapan di kedalaman laut yang diliputi oleh (lapisan) ombak. Diatas (lapisan) ombak itu ada (lapisan) ombak yang lain, dan di atasnya (lagi) ada (lapisan) awan. (itulah) kegelapan yang berlapis-lapis. Apabila dia mengulurkan tangannya, dia hampir tidak dapat melihatnya. Siapapun yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak akan mempunyai cahaya sedikitpun.” (An-Nur: 39-40)

5. Firman Allah ta’ala, “Siapapun dari kalian yang murtad dari agamanya, lalu mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang-orang yang amal perbuatannya sia-sia di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqoroh:217)
Allah ta’ala menerangkan bahwa mati dalam keadaan murtad menyebabkan gugurnya amal salih serta menjadikan pelakunya kekal di neraka.(bersambung insya Allah).
(Ustadz Rizki Narendra/http://www.belajarislam.com/rukun-iman-bagian-2/)

Kamis, 28 April 2011

Rukun Iman (Bagian 1)

Iman terdiri atas enam substansi:
1.Iman kepada Allah
2.Iman kepada para malaikat-Nya
3.Iman kepada kitab-kitab-Nya
4.Iman kepada para rosul-Nya
5.Iman kepada hari akhir
6.Iman kepada takdir yang baik dan buruk

Berikut ini beberapa referensi (dalil) yang menerangkan hal ini:

1. Firman Allah Ta’ala, “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan Rabbnya kepadanya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang rasul dengan rasul lainnya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan hanya kepada-Mu tempat kembali.” (Al-Baqoroh:285)

2. Firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Dia turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapapun yang kafir kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir, maka sungguh dia telah sangat jauh tersesat”. (An-Nisaa: 136)

3. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-, “(Rukun) Iman itu meliputi iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir serta takdir baik dan buruk” (Muttafaq ‘alaih). Adapun menurut redaksi Muslim, hadits tersebut berbunyi: “(Rukun iman meliputi) Iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-Nya, perjumpaan dengan-Nya, para rasul-Nya, serta iman akan adanya kebangkitan (setelah mati) dan iman kepada setiap takdir (baik dan buruk)”

Iman kepada Allah

A. Tauhid merupakan esensi setiap ajaran agama samawi
Pasal 1: Tauhid merupakan fitrah, yang mana Allah ta’ala telah menciptakan dalam diri setiap insan tendensi natural (kecenderungan alamiah) untuk mengikuti fitrah tersebut. Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut:

1. Firman Allah Ta’ala, “dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan Adam dari tulang rusuk mereka dan mengambil kesaksian atas diri mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Rabbmu?” mereka menjawab: “Benar, kami bersaksi (bahwa engkau adalah Rabb kami)”. (Kami melakukan hal itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak tahu-menahu tentang hal ini (yakni; keesaan Rabb)”. Atau agar kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya nenek moyang kami sejak dahulu telah berbuat syirik, sedangkan kami ini hanyalah keturunan mereka (yang meniru perbuatan mereka). Apakah Engkau akan menyiksa kami (atas) kesalahan (mereka) orang-orang yang sesat?” (Al-A’raaf: 172-173).

Ayat diatas menerangkan bahwasanya Allah ta’ala pernah mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang rusuknya, kemudian mengambil kesaksian dari mereka bahwasanya Dia-lah Rabb sekalligus penguasa mereka, dan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain-Nya, sesuai dengan fitrah mereka.

2. Firman Allah ta’ala, “(tetaplah diatas) fitrah Allah (yaitu: agama tauhid) yang mana Allah telah menjadikan naluri manusia untuk condong kepada fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Ar-Ruum: 30)

Para ulama telah berkonsensus bahwasanya yang dimaksud dengan “fitrah”dalam ayat diatas adalah islam.

3. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-, “setiap insan terlahir dalam kondisi fitrah (mengikuti agama tauhid), baru kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (Mereka terlahir dalam kondisi fitrah) sebagaimana hewan terlahir dengan kondisi anggota tubuh lengkap. Apakah kalian pernah melihat ada hewan yang terlahir tiba-tiba dalam kondisi cacat?” (Muttafaq ‘Alaihi, berdasarkan redaksi Muslim).

Setelah menyampaikan hadits ini, Abu Huroiroh berkata: kalau kau mau, baca saja firman Allah ta’ala: “(tetaplah diatas) fitrah Allah (yaitu: agama tauhid) yang mana Allah telah memberikan manusia naluri untuk mengikuti fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah”. (Ar-Ruum: 30)

Makna dari hadits di atas adalah: seseorang itu menjadi yahudi, nasrani, atau majusi karena terpengaruh oleh kedua orang tuanya. Adapun sebelumnya dia terlahir dalam keadaan fitrah. Sama halnya seperti binatang berkaki pincang. Pada awalnya dia terlahir dalam kondisi sempurna, baru kemudian kepincangan muncul karena suatu sebab.

4. Firman Allah Ta’ala dalam sebuah hadits qudsi, “aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus (fitrah), kemudian para syitan menggoda mereka, menyesatkan mereka dan mengharamkan hal-hal yang aku halalkan untuk mereka”. (HR.Muslim)

Pasal 2: Tauhid merupakan esensi setiap ajaran agama samawi. Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut:

1. Firman Allah Ta’ala, “dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya: “tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah oleh kalian Aku” (Al-Anbiya: 25)

Dalam ayat diatas, Allah ta’ala menerangkan bahwa semua rosul menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah ta’ala semata.

2. Firman Allah Ta’ala, “dan ingatlah saudara kaum ‘Aad (yaitu: Hud) saat dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaaf dan telah berlalu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kalian menyembah selain Allah, sungguh aku khawatir kalau kalian akan ditimpa azab hari yang besar”. (Al-Ahqaaf: 21).

Allah Ta’ala menerangkan bahwasanya para rosul yang datang sebelum dan sesudah masa nabi Hud – ‘alaihissalam- mengajak umatnya untuk menyembah Allah ta’ala semata.

3. Firman Allah Ta’ala, “dan sungguh Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut” (An-Nahl: 36)

Allah Ta’ala menerangkan bahwa semua rosul diutus kepada umat mereka dengan mengusung ajaran tauhid, menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, serta antipati terhadap sesembahan lain selain-Nya.

2. Firman Allah Ta’ala, “Katakanlah, “Hai ahli kitab, mari (kita berpegang teguh) pada sebuah kata sepakat yang mana antara (ajaran) kami dan kalian (tidak ada perselisihan tentangnya), yaitu: kita tidak menyembah (siapapun) kecuali Allah, tidak menyekutukan Dia dengan suatu apapun, dan tidak (pula) seorang pun diantara kita mengangkat orang lain dari golongan kita sebagai Ilah selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakan pada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali-‘Imron:64)

Peringatan ini ditujukan kepada orang-orang ahli kitab, baik dari golongan yahudi, nasrani maupun yang semisal dengan mereka. Adapun “kata sepakat” di sini adalah sebuah konsensus semua ajaran agama samawi yang tidak ada perselisihan diantara mereka mengenai hal ini, yaitu: seruan untuk beribadah kepada Allah ta’ala semata (tauhid) dan larangan untuk mengangkat seorangpun dari kalangan manusia sebagai tuhan.

3. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-, “Para nabi bagaikan Ikhwah Li’allat (saudara seayah dari) ibu yang berbeda. (Walaupun syariat mereka berbeda, namun) agama mereka tetaplah satu” (Muttafaq ‘Alaihi)

Makna dari hadits diatas adalah: Para nabi bagaikan saudara-saudara seayah. Walaupun ibu mereka berbeda, namun asal-usul mereka tetaplah sama. Pun begitu syariat para nabi, meskipun berbeda namun keyakinan fundamental mereka tetaplah sama, yaitu tauhid.

Pasal 3: Kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya, seperti: ibadah kepada selain Allah Ta’ala, keyakinan bahwa Allah Ta’ala memiliki keturunan, keyakinan bahwa Allah ta’ala bersatu dengan raga manusia, dan lain sebagainya, adalah fenomena yang datang belakangan (bukan termasuk bagian dari ajaran tauhid), dan para nabi berlepas diri dari semua itu. Berikut ini beberapa dalil yang meneragkan hal tersebut:

1. Firman Allah Ta’ala, “Tidak mungkin seorang manusia yang telah Allah anugrahi alkitab, hikmah dan kenabian, lalu dia menyeru manusia, “Hendaklah kalian menjadi hamba-hambaku bukan (hamba-hamba) Allah”, akan tetapi (dia akan berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan alkitab serta mempelajarinya”. dan (tidak mungkin pula dia) menyuruh kalian mengangkat para malaikat dan nabi sebagai Rabb. Patutkah dia menyuruh kalian berbuat kekafiran setelah kalian (menganut agama) Islam?” (Ali-Imron: 79-80)

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa tidak sepantasnya salah seorang utusan-Nya melakukan propaganda kepada umatnya untuk menyembah dirinya. Kalau para nabi dan rosul saja tidak pantas disembah, apalagi manusia biasa yang statusnya lebih rendah dari mereka.

2. Firman Allah Ta’ala, “dan (ingatlah) saat Allah berfirman, “Hai Isa putera Maryam, apakah engkau menyeru manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilah selain Allah”?” Isa menjawab, “Maha suci Engkau, tidak sepantasnya aku mengatakan sesuatu yang aku tidak berhak (untuk mengatakannya). Andai aku berkata demikian, tentu Engkau mengetahui hal itu. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui setiap perkara ghaib”. Aku tidak pernah menyeru mereka kecuali kepada apa yang Engkau perintahkan aku (untuk mengatakannya) Yaitu: “Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabb kalian!”. Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku masih (hidup) bersama mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka, dan Engkau Maha menyaksikan segala sesuatu”. (Al-Maidah:116-117)

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala membantah persepsi keliru kaum nasrani yang mengatakan bahwa nabi Isa – ‘alaihissalam – melakukan propaganda kepada umatnya untuk menyembah dirinya dan juga ibundanya.

3. Firman Allah Ta’ala, “mereka (orang-orang kafir) berkata, “Allah mempunyai anak”. Maha suci Allah. Bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya, (dan) semua tunduk kepada-Nya. (Allah-lah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia menghendaki sesuatu, maka (cukup) mengatakan, “Jadilah!” maka jadilah ia.” (Al-Baqoroh: 116-117)

Pada ayat diatas, Allah Ta’ala menyangkal opini yang mengatakan bahwa Dia memiliki anak, seraya menegaskan bahwa diri-Nya adalah zat Yang Maha Kaya, penguasa langit dan bumi.

4. Firman Allah Ta’ala, “mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha suci Allah. Dia-lah yang Maha Kaya. (Semua) yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Kalian tidak mempunyai petunjuk apapun mengenai hal ini. Pantaskah kalian mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui?” (Yunus: 68)

5. Firman Allah Ta’ala, “dan mereka berkata, “ Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) memiliki anak (dari golongan malaikat)”. Maha suci Allah. Yang benar, (mereka – para malaikat - itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak melangkahi-Nya (dalam mengatur urusan) dengan berinisiatif, 1.dan mereka (selalu) mengerjakan setiap perintahNya. Dia mengetahui segala sesuatu yang ada dihadapan dan belakang mereka. Mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Siapapun diantara mereka yang (berani) berkata, “Aku adalah Ilah selain Allah”, maka kami akan membalasnya dengan Jahannam, demikianlah (cara) kami membalas orang-orang zalim.” (Al-Anbiya: 26-29)

6. Firman Allah Ta’ala, “Dan mereka berkata: “Ar-Rahman mempunyai anak”. Sungguh kalian mengatakan sebuah (kedustaan) yang amat besar. Karena ucapan mereka itu, hampir-hampir langit terpecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping. (Itu semua) karena mereka menuduh Ar-Rahman mempunyai anak, (padahal) tidak layak bagi Ar-Rahman untuk mempunyai anak. Tidak ada seorangpun di langit dan bumi, melainkan ia akan menghadap Ar-Rahman sebagai seorang hamba. Sungguh Dia telah mengetahui (secara detail) jumlah mereka dan menghitung mereka dengan teliti. Dan mereka semua akan menghadap-Nya pada hari kiamat nanti sendiri-sendiri.” (Maryam: 88-95)

Allah Ta’ala menerangkan betapa buruknya kebohongan ini, sehingga hampir membuat langit terpecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping (Ustadz Rizki Narendra/http://www.belajarislam.com/rukun-iman-bagian-1/)

bersambung insya Allah