Tampilkan postingan dengan label taushiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taushiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Pemakan Bangkai

Hati-hati memakan bangkai saudara sendiri (ghibah). Apalagi jika dia seorang da’i atau ulama. Sebab “daging mereka itu beracun” (luhumuhum masmumah). Yang demikian lantaran kehormatan mereka itu sangat tinggi dan mulia untuk dicemarkan. Duhai, fenomena sikap lancang sebagian thullabul ilmi yang masih hijau hari ini begitu mengiris hati. Tanpa rasa takut sedikit pun kepada Allah dan pertanggungjawaban di hari kiamat kelak, begitu berani mencabik-cabik kehormatan para ulama. Mengais-ngais kesalahan dan ketergelinciran mereka, lalu diumbar di majelis-majelisnya. Apakah mereka tidak mengambil ibrah dan pelajaran, bahwa dahulu, para pendahulu mereka juga melakukan kelancangan serupa, lalu apa akibatnya?! Aib dan cela mereka pun disingkap oleh Allah Ta’ala di hadapan khalayak. Dan sadarilah, siapa yang lancang mengais aib dan kesalahan saudaranya, maka Allah pun akan mengejar aib dan celanya hingga yang tersembunyi sudut-sudut rumahnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih; wal’iyadzubillah.

Berkaitan dengan hal ini, Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitabnya Jami' al-Ulum wa al-Hikam, berkata tatkala mengomentari hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari 'Uqbah bin 'Amir radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang menutupi aib seorang mukmin, niscaya Allah Ta'ala akan menutupi (aib) nya pada hari kiamat", beliau (Ibnu Rajab) berkata: Diriwayatkan dari perkataan sebagian salaf: "Sungguh aku mendapati suatu kaum yang sebenarnya mereka tidak memiliki aib dan cela, namun mereka suka mengungkit aib-aib manusia, maka orang lain pun mengungkap aib-aib mereka. Sebaliknya, aku juga mendapi suatu kaum yang memiliki banyak aib dan kekurangan, namun mereka menahan diri dari (mencari-cari) aib orang lain, maka aib-aib mereka pun terlupakan". (Lihat: Ibnu Rajab al-Hambali, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 1/340 al-Maktabah al-Syamilah).

Demikian pula Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah, beliau menumpahkan keheranan beliau terhadap golongan ini. Ungkapan keheranan beliau ini layak menjadi perhatian, sebab sangat nyata melukiskan kondisi sebagian penuntut ilmu di zaman ini: "Merupakan perkara aneh, seorang itu begitu mudah baginya menjaga diri dari makanan haram, berlaku zalim, zina, mencuri, minum khamer, memandang sesuatu yang diharamkan dan sebagainya, namun sulit baginya mengontrol gerakan lisannya. Hingga engkau melihat seorang yang terkenal akan kebaikan agama, sifat zuhud dan ibadah, namun ia berkata-kata dengan kalimat yang memancing murka Allah sementara ia tidak peduali akan hal itu, namun satu kalimat itu cukup menjauhkannya antara timur dan barat. Betapa banyak engkau saksikan seorang yang begitu wara' (menjaga diri) dari perbuatan keji dan zalim, namun lisannya panjang dalam (mencela) kehormatan dan harga diri orang, baik yang masih hidup maupun yeng telah mati, serta tidak ambil peduli terhadap apa yang ia ucapkan". (Lihat: Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Al-Jawabul Kafiy Liman Saala an ad-Dawaai asy-Syafi, hal 111. al-Maktabah al-Syamilah). Wallahu A’lam. (Oleh: Ustad Rapung Samuddin, Lc, MA/https://www.facebook.com/rappung.samuddin/posts/595287997150287)

Rabu, 03 April 2013

Fitnah

Begitulah jika fitnah telah merebak. Ahli hikmah pun tak bisa berbuat banyak, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah ungkapan Arab. Olehnya, syari’at menekankan untuk senantiasa menjauhkan diri dan menghindar dari fitnah tersebut. Sebab, jangankan harga diri, nyawa bahkan agama akan tergadaikan. Ah, tidak usah melihat wajah fitnah menakutkan hari ini. Itu merupakan perkara wajar, sebab sejalan dengan kondisi iman dan agama kaum muslimin yang makin menipis. Tapi lihatlah pada generasi terbaik umat ini. Dengan kondisi iman laksana bukit uhud, tokoh fitnah itu pun tak segan menyambangi mereka. Menumpahkan darah mereka. Mengoyak harga diri dan kehormatan mereka. Duhai Rabb, selamatkan kami dari ancaman fitnah itu. Jangan Engkau perhadapkan jiwa kami yang lemah ini terhadap fitnah itu. Apalagi terhadap fitnah terbesar di penghujung zaman. Yah, fitnah Dajjal al-Kadzzab, yang selalu kami pinta di setiap penghujung shalat.

Nah, diantara fitnah menyakitkan yang harus ditelan umat ini sepanjang sejarah, adalah fitnah peristiwa Perang Jamal antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Aisyah bersama Thalhah dan Zubair radhiallahu anhum jami'an, yang meletus setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anha. Padahal hakikat sebenarnya tidak seperti yang banyak dihembuskan oleh musuh-musuh Islam. Bahwa Aisyah radhiyallaahu ‘nha keluar bukan untuk maksud perang, namun untuk tujuan mendamaikan kaum muslimin akibat fitnah yang terjadi seputar pembunuhan Utsman bin Affan radhiyillaahu ‘anhu.

Duhai, begitu indah apa yang digoreskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Minhaj al-Sunnah 2/185, dimana beliau berkata: “Sesungguhnya Aisyah radhiyallaahu ‘anha tidak keluar untuk perang. Akan tetapi tujuan keluarnya adalah mendamaikan kaum muslimin. Ia berasumsi, bahwa keluarnya tersebut akan membawa kemashlahatan bagi umat. Namun kemudian yang tampak padanya setelah itu, seandainya ia tidak keluar maka itu yang lebih baik baginya. Olehnya, setiap teringat peristiwa keluarnya (ke Bashrah) beliau menangis hingga membasahi kerudungnya. Demikian pula halnya kaum muslimin yang yang terlanjur terlibat, mereka semua menyesal karena terkait dalam perang itu. Thalhah, Zubair dan Ali semuanya menyesali peristiwa tersebut.

Dan peristiwa perang jamal tersebut, pada awalnya sama sekali bukan untuk maksud berperang. Namun sayangnya perang meletus di luar kehendak mereka. Sebab, ketika itu Ali, Thalhah dan al-Zubair telah saling surat-menyurat dan mencari kesepakatan demi mashlahat kaum muslimin. Bahwasanya jika telah terjadi kata sepakat, mereka akan bekerjasama mencari tukang-tukang fitnah yang membunuh Utsman. Disamping itu, Ali sendiri tidak ridha akan pembunuhan Utsman dan tidak pula membantu membunuhnya, sebagimana yang beliau ucapkan dalam sumpahnya: "Demi Allah, saya tidak membunuh Utsman dan tidak berkomplot untuk membunuhnya". Dan Ali itu orang jujur dan benar sumpahnya.

Nah, dalam kondisi ini orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman khawatir kalau Ali bersepakat dengan mereka untuk menangkap para pembunuh Utsman. Mereka pun bermuslihat dan melancarkan serangan (dengan melepaskan anak panah dan lembing) ke arah pasukan Thalhah dan al-Zubair. Sementara Thalhah dan al-Zubair terperanjat dan menyangka bahwa Ali telah mengkhianati mereka, maka keduanya membela diri. Keadaan Ali bin Abi Thalib pun demikian, beliau mengira keduanya telah mengkhianatinya, lalu ia pun membalas untuk membela diri. Maka terjadilah fitnah bukan atas kehendak dan kemauan mereka. Adapun Aisyah ra saat itu beliau sedang di atas kendaraan, tidak ikut berperang dan tidak pula memerintahkan perang. Demikianlah yang dikemukakan oleh para ahli ma'rifat tentang sejarah. (Terkutip dalam Asyraatu al-Sa'ah, Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal: 102, Daar Ibni al-Jauziy, cetakan ke-XV, tahun 1422 H). By. RSMD. (Sumber: Notes Ustad Rapung Samuddin, Lc, MA http://www.facebook.com/rappung.samuddin)

Kekayaan Hakiki

Ternyata untuk memiliki “kekayaan” seukuran dunia dan segala isinya tidak susah. Yah, tidak terlalu susah bagi mereka yang mau. Cukup mengamalkan beberapa anjuran dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dunia beserta segala isinya bisa segera dibawa pulang. Bayangkan, hanya dua rakaat sebelum shalat subuh, kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita telah mendapat dunia dan segala isinya. (lihat Nash Hadits dalam Shahih Muslim, no. 725, dari Aisyah radhiyallahu 'anha). Yang menjadi persoalan di sini, cara pandang kita terhadap “kekayaan” seluas dunia dan segala isinya itu. Kalau dalam memandang itu kita gunakan kacamata materi, mungkin saja kita akan kecewa. Namun jika kacamata hati dan iman yang dipakai, maka kita akan menyaksikan sebuah keajaiban nikmat yang sangat luar biasa dalam diri kita.

Nah, untuk semisal kekayaan ini, mari kita simak kandungan Hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam berikut ini. Dari Ubaidillah bin Muhshan al-Anshary al-Khuthamy radhiallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa diantara kalian di waktu pagi dalam keadaan merasa aman dalam dirinya, sehat pada tubuhnya dan memiliki persiapan makanan untuk hari itu, maka seakan telah diberikan untuknya dunia dan segala isinya”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 300, at-Tirmidzi no. 2347, Ibnu Majah, 2/525, dan dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam as-Shahihah, no. 2318.

Ada beberapa hal yang dapat kita petik dari hadits yang mulia ini, diantaranya:

Pertama: Isyarat untuk melatih diri bersikap zuhud terhadap dunia. Sebab zuhud merupakan ibadah hati yang mulia dan sanggup mendatangkan kecintaan Allah dan manusia kepada seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berlaku zuhudlah terhadap kehidupan dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah no 4102 dengan Sanad Hasan).

Kedua: Zuhud tidak berarti kemiskinan. Sebab keduanya memang berbeda. Akan tetapi, zuhud itu meninggalkan godaan dan rayuan dunia, kendati ia memilikinya karena sadar dan paham akan hakikat dunia yang hina ini (Lihat: Ibnu Qudamah, Minhaj al-Qashidin, hal. 409).

Ketiga: Padanya terkandung anjuran untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang ada pada diri kita. Sebab, kadang kala nikmat yang kelihatannya sepele, ternyata begitu agung jika direnungi dengan hati terbuka.

Keempat: Tiga perkara yang merupakan pondasi pokok bagi tegaknya sebuah kehidupan sosial, yakni rasa aman, kesehatan tubuh serta persediaan makanan. Makanya dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah Ta’ala hanya menyebutkan dua pokok dari tiga hal ini, yang menunjukkan bahwa jika kedua pokok ini terpenuhi maka sebuah organisasi negara akan tegak kuat, diantaranya pada surah Qurays ayat: 4 , dan surah al-Baqarah ayat 126.

Kelima: Bahwa siapa yang Allah Ta’ala kumpulkan baginya antara kesehatan badan, rasa aman dalam hati dan kecukupan bahan pangan untuk harinya tersebut serta keselamatan pada keluarganya, maka sungguh Allah telah mengumpulkan baginya seluruh nikmat-nikmat dimana orang yang memiliki dunia ini tidak akan mendapatkan selain dari apa yang disebutkan itu (Lihat: al-Munawi, Faidh al-Qadir, 6/88).

Keenam: Secara logika, memang demikian adanya. Bahwa siapa yang pagi hari dalam keadaan sehat, merasa aman dalam dirinya serta masih memilki bekal makanan hari itu, maka seakan ia memiliki dua dan segala isinya. Silahkan renungkan nikmat sehat yang ada pada tubuh kita. Berapa miliyar jumlah pembuluh darah dan syaraf kita?, berapa banyak sumsum tulang, darah, enzim, hormon, kelenjar, antibiotik dan sebagainya?? Renungkan pula keadaan organ-organ penting dalam tubuh kita, jantung, hati, ginjal, lambung dan sebagainya. Jika Allah kehendaki, satu dari sekian miliyar syaraf atau pembuluh darah atau sumsum tulang kita bermasalah, maka berapa biaya yang harus dikeluarkan??, sungguh, jika kita menghitungnya, maka akan sama atau mendekati dengan harga dunia dan segala isinya itu. Wallahu a’lam. By. RSMD (Sumber: Notes Ustad Rapung Samuddin, Lc, MA/ https://www.facebook.com/rappung.samuddin/posts/594919917187095)

Selasa, 02 Oktober 2012

5 Hal Yang Perlu Diwaspadai Oleh Para Istri Pejuang

Sungguh tidak mudah menjadi pejuang, apapun ideologi yang diperjuangkan. Lebih tidak mudah lagi  menjadi isteri kepada seorang pejuang. Hidupnya selalu diselimuti ketidakpastian.  Mayoritas isteri pejuang sadar dan tahu bahwa hidupnya akan serba kekurangan secara hakiki mahupun maknawi. Tidak jarang, wujud di kalangan mereka yang tidak menyedari bahwa suaminya adalah pejuang. Pejuang apa saja, khususnya pejuang agama; para mujahidin, ulama, dai dan para pembela agama Allah lain.

Namun merekalah makhluk paling setia, paling dipercaya, paling dapat diharap dan paling segalanya di dunia. Mereka taman mekar tempat para suami mendapatkan ketenangan, tiang teguh tempat para suami bersandar  di kala lelah menyapa jiwa, tali pegangan kukuh waktu badai melanda dan seringkali pembela terhandal yang dapat diandalkan saat seluruh dunia menyalahkan, mengecam dan memalukannya.

Merekalah antara pendorong utama yang membuat para suami berani melangkah, meningkatkan kualitas diri dari aspek ukhrawi dan duniawi. Di waktu yang sama, bila peran isteri tidak dimainkan dengan panduan iman dan taqwa, maka mereka dapat berubah menjadi pemusnah hebat.

Justru, jika para istri  ingin bergelar 'syarikatul hayat' (pasangan kehidupan) bagi suami di dalam bersama-sama  menggapai ridha Allah dan jannah-Nya, beberapa sifat dan kebiasaan buruk wajib kita dihindari atau setidaknya diusahakan agar tidak melampaui batas.

Cinta Dunia

  
Fitrah perempuan sukakan keindahan dan kesempurnaan. Adalah merupakan impian dan idaman setiap isteri akan segala sesuatu yang indah dan menyenangkan; wajah dan pakaian yang cantik, rumah dan kendaraan yang bagus, peralatan rumahtangga yang lengkap dan terbaru, gadget tercanggih, pendidikan dan sekolah anak-anak yang terbaik dan mahal dan tentunya atau uang yang tiada susutnya.

Kesalatan mengatur dan mengatur rasa senang pada segala bentuk kemewahan ini akan membuahkan kecintaan dan keterikatan pada hal-hal berbentuk material, yang andai dibiarkan berlarutan tanpa kendali iman, dapat mengakibatkan munculnya sifat bakhil dan mementingkan diri sendiri.

Dalam hal ini, hanya zuhud dan qana'ah yang mampu menjadi tali kekangnya. Menurut Imam  Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, zuhud bermakna mengosongkan hati dari kesibukan diri dengan dunia, sehingga orang tersebut dapat berkonsentrasi untuk mencari ridha Allah, mengenal-Nya, dekat kepada-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan rindu menghadap-Nya.

Profesor Dr. HAMKA rahimahullah mengatakan qanaah terdiri atas 5 hal; menerima dengan rela akan apa yang ada, memohon kepada Rabb akan tambahan yang pantas dan berusaha, menerima dengan sabar akan ketentuan-Nya, bertawakkal kepada-Nya dan tidak tertarik dengan tipu daya dunia.

Jadi, salahkah memiliki kemewahan jika memang ditakdirkan memilki kemewahan? Jawapannya, tidak salah. Sama sekali tidak salah, selama ia tidak dijadikan tambatan hati dan selama ia tidak mendorong para suami melakukan korupsi demi memenuhi keinginan isteri, termasuk korupsi harta maupun korupsi jiwa. Dalam arti kata lain, tidak salah memiliki segalanya selama ia dimanfaatkan dalam usaha meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Cemburu Buta

Cemburu tanda cinta, kata sebagia orang. Namun sengaja diletakkan kalimat 'buta' di sini yang menunjukkan hanya aksi dan reaksi cemburu saja yang dibenarkan. Sudah seharusnya seorang isteri memiliki perasaan cemburu terhadap suaminya.

Perasaan cemburu yang positif akan memacu dirinya untuk giat menyaingi langkah suami dalam beramal, menjadi motivasi kuat untuk dia belajar dan bekerja lebih gigih dalam membantu usaha dakwah suami dan mendorongnya untuk lebih kreatif dalam memastikan gerak suami selalu berada di dalam koridor syar'i.

Apa yang tidak harus terjadi ialah, membabi-buta mencemburui suami sehingga rasa cinta yang ada sedikit demi sedikit berubah menjadi obsesi yang disertai sikap posesif dan diiringi prasangka buruk tanpa penghujung.

Di dalam banyak situasi, bukan cemburu yang menghambat langkah suami, atau lebih dahsyat, mematikan rasa kasihnya, sebaliknya adalah kebutaan yang mengiringi rasa cemburu tersebut. Buta di sini bermaksud, tidak lagi dapat memisahkan antara cinta kerana Allah dan rasa memiliki, antara keinginan diri dan keperluan syar'ie dan antara realiti dan fantasi.

Mudah Kecil Hati

Gunjingan orang, tatapan yang tidak bersahabat, ketidakcukupan nafkah dan kekurangan harta benda, tidaklah layak menjadikan hati insan beriman (istri para pejuang) berkecil hati terus menerus, sehingga mengakibatkan rasa rendah diri, tersinggung dan tidak mustahil, pada suatu hari menimbulkan benci.

Orang-orang dengan hati yang mudah menciut ini biasanya adalah orang-orang yang selalu membesar-besarkan hal yang kecil. Dan hatinya yang kecil itu akan terlihat dari raut wajah dan sikap yang ditunjukkannya, baik itu disengaja ataupun tidak. Sesama saudara dan sahabat saja ia memberi kesan, apalagi suami isteri.

Tanpa disadari, keceriaan dan mood isteri banyak mempengaruhi  sikap dan mood suami. Selemah manapun seorang suami, bila didukung oleh sikap dan semangat isteri yang kuat, pastilah akan kuat juga, insyaAllah. Demikian pula sebaliknya.

Suka Bercerita

Sebenarnya para suami sangat suka apabila isterinya bercerita. Justru dari cerita-cerita isterilah, dia memaklumi banyak hal yang tidak dapat dia ikuti dengan saksama disebabkan kesibukannya.

Namun, sikap suka bercerita dengan pengertian bercerita tanpa koma, tanpa mengenal waktu dan tempat, hanya akan membuat suami merana dan tidak betah di rumah, terutama jika cerita-cerita yang dibawa lebih menjurus kepada ghibah (gunjingan) dan fitnah. Perkelahian mungkin meletus dan lebih buruk akibatnya apabila cerita di dalam rumah pun ikut menjadi bahan cerita ke mana-mana.

Khususnya di dalam keluarga dengan fikrah perjuangan, tabiat suka bercerita yang tidak terkawal, pada suatu saat dapat mengundang musibah. Bagaimana tidak, jika semua aktivitas suami 'dilaporkan' kepada semua orang; hal-hal penting, kepergiannya,  dengan siapa saja suaminya berteman dan banyak hal lain yang seolah-olah disangkanya sebagai hal remeh?

Fenomena akhir zaman, dunia tanpa batas telah memburukkan lagi sikap ini dan membuat keadaan jauh lebih gawat karena jumlah yang mendengar (membaca) ceritanya mungkin jauh di atas ribuan orang. Cerita yang bagi dirinya adalah cerita biasa, besar kemungkinan adalah cerita luar biasa buat orang lain. Apalagi jika hal itu disahre jejaring sosial tanpa batas.

Cepat Merajuk, Sukar Dibujuk

Kata orang, merajuk pada yang sayang. Kalau tidak kepada suami, kepada siapakah lagi seorang isteri merajuk? Rajuk memang sinonim dengan perempuan. Dan ada bermacam gaya rajuk. Selama ia tidak keluar dari landasan syar'i, maka rajuknya adalah sah.

Masalah timbul apabila rajuknya sukar dibujuk, sehingga menghalangi keharmonian hubungan suami isteri, menimbulkan kekeliruan dan ketakutan pada jiwa anak-anak dan menjatuhkan air muka dan wibawa suami.

Tidak seyogyanya seorang isteri merajuk berpanjangan, apalagi tanpa alasan dan sebab.  Seorang suami juga adalah seorang manusia yang kadang disebabkan kelemahannya, pada suatu ketika dapat mematiksan rasa putus asa dan amarah mengalmi kesesakan fikiran dan ketidakstabilan emosi. Rajuk yang aslinya merupakan hasil dari kemanjaan, kini justru menjadi berubah seolah bara dalam sekam, perlahan-lahan membakar jiwa. Tak jarang, rajuk berpanjangan membuat seseorang lupa kenapa dia merajuk pada awalnya?

Akhirnya, rumahtangga yang dibina dengan tujuan memperolehi sakinah dan merangkul mawaddah wa rahmah, gagal menjadi tempat suami melabuhkan semua rasa.

Tonggak utama Kemenangan Umat

Masih banyak sikap negatif yang lain, namun dapat dikatakan bahwa sikap-sikap yang lain hanya timbul apabila 5 sikap ini merajalela tanpa kendalian sempurna. Dengan maraknya kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan Muslimin akhir-akhir ini, sikap -sikap seperti ini sama sekali tidak membantu perjuangan suami.

Kejayaan ummat yang bermula dengan sebuah ikatan rumahtangga sangat tergantung pada kerjasama 2 tonggak utama; yakni pasangan suami isteri.
Jatuh bangun seorang suami, teguh dan kentalnya dia mengharungi onak dan duri, kukuh dan sabarnya menghadapi pasang surut kehidupan, harus diakui sangat dipengaruhi oleh jiwa, sikap dan semangat isterinya yang ada di rumah. Fakta menunjukkan, di belakang pria kuat, selalu ada wanita hebat. Justru, di situlah letak makna se-iya-sekata, sehati-sejiwa' dalam mengukuhkan perjuangan.Wallahu a'lam.*/ disalin dari tulisan Paridah Abbas di www.hidayatullah.com.

HIDUP BAHAGIA TANPA TV (1).



Setiap anak harus mengembangkan perasaan bahwa mereka dapat “mengubah dunia” dan memiliki kekuatan dari dalam (inner strength) dan percaya bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Secara alamiah, dorongan ini muncul pada diri anak semenjak bayi. Mereka belajar menggunakan tangis, senyum, gerakan dan suara-suara untuk memanggil orangtuanya, meminta perhatian dan “memaksa” orangtua memenuhi keinginannya.

Usia dua tahun, dorongan untuk mengembangkan kemampuan “mengubah dunia” itu semakin menguat. Para ahli menyebut rentang usia dua hingga empat tahun sebagai the terrible twos atau masa-masa dua tahun yang “mengerikan”. Ungkapan ini mungkin terasa berlebihan. Tetapi pada prinsipnya, para ahli menyampaikan pesan dengan ungkapan ini bahwa anak-anak usia dua hingga empat tahun sedang mengembangkan kemampuannya mengatur, memaksa, menolak perintah dan melakukan tawar-menawar terhadap aturan orang dewasa. Lebih-lebih jika diperintah secara tiba-tiba, mereka cenderung menunjukkan perlawanannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa mereka tidak bisa dipaksa.

Kecenderungan ini sangat alamiah. Setiap anak harus memiliki dorongan ini sebagai bekal untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Orangtua maupun guru di sekolah berkewajiban menumbuhkan sense of competence ini pada diri anak, terutama usia 4-8 tahun. Jika anak memiliki perasaan ini secara memadai pada rentang usia 4-6 tahun, mereka akan lebih siap untuk memasuki fase pendisiplinan diri pada usia 7 tahun. Pada saat yang sama, orangtua maupun guru di sekolah tetap berkewajiban membangun sense of competence hingga usia 8 tahun sehingga mereka memiliki citra diri, harga diri serta percaya diri yang baik.

Mengapa fase pendisiplinan dimulai pada usia 7 tahun? Ini berkait dengan perintah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ”Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkanlah dia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukullah dia apabila meninggalkannya.” (HR. Abu Dawud).

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wa sallam  bersabda, ”Ajarkanlah anakmu tata cara shalat ketika telah berusia tujuh tahun. Dan pukullah dia pada saat berusia sepuluh tahun (apabila meninggalkannya).” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita bahwa mendisiplinkan anak shalat dimulai pada usia tujuh tahun. Bukan usia sebelumnya. Kita perlu memberi pendidikan iman, akhlak dan ibadah sedini mungkin. Tetapi ada prinsip lain yang harus kita perhatikan: berikanlah pendidikan tepat pada waktunya. Sesungguhnya, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wa sallam  dan sebaik-baik perkataan adalah firman Allah ’Azza wa Jalla, yakni kitabullah al-Qur’anul Kariim.

Jadi, kalau anak yang belum berusia tujuh tahun tidak mengerjakan shalat, kita harus memaklumi dan melapangkan hati. Tugas kita adalah menumbuhkan perasaan positif terhadap kebiasaan yang ingin kita tumbuhkan, membangkitkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi) serta menjamin bahwa mereka memiliki harga diri yang tinggi. Kita memperlakukan mereka secara terhormat, tetapi bukan memanjakan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman;
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS: Thaahaa [20]: 132).

Sabar. Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun. Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau…, kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah berusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit. Lantas, apa hubungan dengan televisi? Mohon sabar menunggu pembahasan berikutnya.Wallahu ’alam bishawab.*
Sumber: Tulisan Ust Mohammad Fauzil Adhim di www.hidayatullah.com.

Sabtu, 08 September 2012

Memperbanyak Istighfar Setelah ramadhan


Ramadhan berlalu. Catatan amal dan takdir setiap insan telah tertoreh. Tak ada yang dizalimi. Setiap manusia mendapatkan sesuai dengan usaha yang telah dia lakukan (QS. al-Syura: 20). Bagi yang telah mengoptimalkan ibadah, layaklah dia bersuka cita. Sedangkan bagi yang belum maksimal, semoga Allah menyempurnakan ibadah yang telah dia lakukan.
Selepas Ramadhan, kita sudah sepantasnya bersyukur atas segala taufiq yang Allah berikan. Taufiq berupa kesempatan menghirup udara Ramadhan dengan berbagai ibadah di dalamnya. Demikianlah sehingga kita diperintahkan untuk merayakan akhir Ramadhan dengan Iedul Fitri (QS. al-Baqarah: 183).

Di samping bersyukur, kita tentu tidak bisa menjamin kualitas ibadah yang telah kita lakukan. Betapapun ibadah yang kita laksanakan, pasti terdapat kekurangan di dalamnya. Sebagai manusia biasa, kita tetaplah makhluk khathha’/yang banyak melakukan kesalahan (HR. Tirmidzi, dari Sahabat Anas ibn Malik). Lantaran itu, syariat mengajarkan umat untuk banyak istigfar, justru setelah meraih prestasi ibadah tertentu.

Sunnah Rasululullah shallallahu alaihi wasallam mencontohkan istigfar dalam segala kondisi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, tobatlah kalian kepada Allah! Sesungguhnya aku bertobat kepadanya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)
Inilah teladan Rasulullah, kekasih Allah yang ternyata mengisi hari-harinya dengan banyak istigfar.

Sunnah Rasulullah yang lainnya mengajarkan istigfar setiap selesai melaksanakan ibadah. Seperti istigfar setelah berwudhu (HR. Ibn Sunni dengan sanad jayyid), istigfar dalam doa istiftah (setelah takbiratul ihram) (HR. Muslim), dan istigfar setelah memberi salam dalam shalat (HR. Muslim).

Dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan istigfar setelah wuquf di Arafah yang merupakan rukun ibadah haji yang paling penting. Allah berfirman:
)ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(
“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 199)  

Syekh Abdurrahman ibn Sa’di dalam komentarnya terhadap ayat itu menulis:
Demikianlah seharusnya kondisi seorang hamba setiap selesai melaksanakan ibadah, agar beristigfar kepada Allah atas segala kekurangan (yang terjadi); serta bersyukur atas segala petunjuk. Tidak sepatutnya dia bersikap seperti manusia yang menganggap dirinya telah menyempurnakan ibadah dan seakan telah berjasa kepada Allah, sehingga dirinya mendapatkan kedudukan yang tinggi. Manusia seperti ini pantas mendapatkan murka dan hukuman. Sebagaimana hamba yang disebut di awal layak diterima amalnya dan mendapat taufiq untuk melakukan amal shalih yang lainnya. (Taysir, I/92)

Keterangan ini menunjukkan anjuran untuk beristigfar setiap selesai melaksanakan ibadah. Tanpa batasan terhadap ibadah tertentu.
Dalam surah yang lain, Allah subhanahu wata’ala bahkan memerintahkan Rasul-Nya untuk beristigfar setelah menyelesaikan tugas akbarnya: menyampaikan risalah dakwah.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (Terj. QS. al-Nashr: 1-3) 
Al-Allamah al-Syawkani menulis: “Mohonlah ampunan kepada-Nya atas dosamu, sebagai bentuk tawadhu kepada Allah dan menganggap kecil amal dan perbuatanmu.” (Lihat: Zubdah, h. 603)

Istigfar dan bertobat setelah menunaikan ibadah juga menjadi sunnah nabi-nabi terdahulu. Al-Qur’an mendokumentasikan doa Nabiyullah Ibrahim dan Ismail alaihimas salam. Doa ini mereka panjatkan setelah melaksanakan tugas membangun baytullah, Ka’bah di kota Makkah:
(رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 128) 

Maka selepas ibadah Ramadhan ini, salah satu amal yang paling baik untuk dilakukan oleh para “alumni” Ramadhan adalah banyak istigfar. Semoga Allah berkenan mengampuni segala khilaf dan menyempurnakan ibadah kita semua.

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Terj. QS. al-Mu’minun: 60-61)***
Dir’iyah, 5 Syawal 1433 H
Ilham Jaya Abdurrauf

Sabtu, 21 Januari 2012

Nikmat (Pujilah Allah)

Bismillahirrahmanirrahim, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bacalah bersama kami:

Ada seorang laki-laki ingin menjual rumahnya untuk pindah ke sebuah rumah yang lebih baik. Maka dia pergi menuju salah seorang temannya yang profesional dalam bidang pemasaran. Diapun meminta darinya untuk membantunya dalam menulis iklan untuk menjual rumah. Ahli tersebut telah mengenal rumahnya dengan baik, maka diapun menulis ciri-ciri rumah tersebut dengan rinci; dia cantumkan di dalam iklan tersebut bahwa rumah itu berada ditempat yang indah, sangat luas, dengan arsitektur yang indah, kemudian dia berbicara tentang kebun, kolam renang dan seterusnya…

Setelah dia selesai mengerjakannya, dia membaca kata-kata iklan tersebut kepada pemilik rumah yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Setelah dia selesai membaca iklan tersebut, pemilik rumah meminta kepadanya untuk mengulangi pembacaannya untuk kedua kalinya. Saat pembuat iklan tersebut selesai membaca pemilik rumah menyeru: “Sungguh indah rumah itu, sungguh tidak henti-hentinya sepanjang umurku mengangan-angankan untuk menikmati rumah seperti itu, dan selama ini aku tidak tahu kalau aku telah tinggal didalamnya hingga aku mendengarmu memberikan ciri-ciri dari rumahku.” Kemudian dia tersenyum dan meminta kepada temannya tersebut untuk tidak menyebarkan iklan tersebut, dan memberitahunya bahwa rumah tersebut tidak lagi dijual.

Demikianlah, hitunglah nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada anda, kemudian tulislah satu persatu, maka anda akan mendapati diri anda lebih banyak berbahagia daripada sebelumnya.

Sesungguhnya kita lupa bersyukur kepada Allah, dikarenakan kita tidak memperhatikan nikmat-nikmat tersebut, dan kita tidak menghitung apa yang kita miliki. Dan karena kita melihat berbagai kesusahan-kesusahan kemudian kita marah, dan tidak melihat kepada kebaikan-kebaikan yang sekarang kita berada didalamnya.

Dikatakan bahwa sesungguhnya kita mengeluh karena Allah menjadikan duri-duri dibawah bunga mawar, padahal yang lebih pantas kita lakukan adalah kita bersyukur kepada Allah, karena Dia telah menjadikan bunga mawar diatas duri-duri.

Dikatakan pula, Aku sangat merasa susah saat aku mendapati diriku telanjang kaki, akan tetapi aku banyak bersyukur kepada Allah, saat aku mendapati orang lain tidak memiliki dua kaki.

Bagi-Mulah segala puji, wahati Tuhanku, hingga Engkau ridha, dan bagi-Mu segala puji saat Engkau ridha, bagi-Mu segala puji setelah keridhaan-Mu. Ridha-Mu kuharap terlimpah atasku.

Lihatlah kepada kelembutan Allah terhadapmu disaat tidurmu…

Berfikirlah tentang dirimu sekali saja, apa yang akan terjadi seandainya satu pantat tidak berfungsi bekerja saat engkau tidur?

Saat engkau tidur Allah Subhanahu wa Ta’ala menjagamu dan menyelamatkanmu dari bahaya, oleh karena itulah memujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah membolak-balikkanmu sekali dalam 7 menit untuk merubah tempatmu saat tidurmu hingga kulitmu yang lembut tidak terkena iritasi.

Pujilah Allah karena nikmat lidah yang membuka celah bagi air liur kental yang terkumpul di mulutmu saat engkau tidur tidak sadar hingga engkau tidak tercekik dan tersedak air liur.

Pujilah Allah yang Maha Lembut Lagi Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya atas nikmatnya mimpi indah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai pembersih ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, dan permasalahan-permasalahan yang memenuhi pikiranmu. Itu semua untuk menjaga kelayakan akalmu.

Pujilah Allah atas nikmat tidak terkenanya dirimu radang otak yang disertai demam tinggi saat bersamaan dengan tidur panjang yang setelahnya engkau tidak merasa nyaman.

احمد الله سبحانه على نعمة انك لاتعاني من نوبات الهلع الليلي والهلوسة الشديدة والهذيان المتلاحق بسبب ماتراه من احلام وتصورات اثناء نومك

Pujilah Allah atas nikmat tidak terkenanya kamu penyakit tidur tiba-tiba yang akan menjadikanmu tidur di tempat mana saja, dan dalam keadaan apa saja, apakah saat kamu dalam keadaan tidur, atau menyetir mobil atau juga menaiki tangga.

Pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat …..

احمد الله سبحانه ايضا على نعمة عدم اصابتك بمتلازمة الرجلين التوهمي والذي يجعل رجلاك تنتفخان اثناء نومك

Pujilah alah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat tidak mengompol yang kadang menimpa manusia sekalipun dia sudah dewasa.

Pujilah Allah atas nikmat tidak terkenanya kamu kelumpuhan sementara (tindien) saat tidur yang menimpa persendian tubuh secara tiba-tiba untuk masa yang berbeda-beda.

Pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala atas teraturnya dengkurmu, dan tidak terkenanya kamu keterputusan nafas saat tidur yang menjadikan suara dengkurmu mengagetkan sampai pada tingkat kekuatan dengkurnya mampu membangunkan orang yang tidur di kamar lain.

Pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segenap nikmat-Nya yang tidak akan habis, dan atas karunia-Nya yang tidak terhitung, yang senantiasa menjagamu saat engkau tidur, menjagamu saat engkau duduk, menjagamu saat bangun dan menjagamu dalam setiap keadaanmu.



Soal:

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan YA, atau TIDAK!

1. Apakah engkau memiliki rumah yang melindungimu, tempat tinggal yang engkau bisa tidur di dalmnya dan makanan yang engkau makan?
2. Apakah engkau punya uang disakumu yang darinya engkau akan memenuhi kebutuhanmu?
3. Apakah hari ini merasa sehat walafiat?
4. Apakah engkau pernah merasakan kehidupan perang, atau merasakan pahitnya penjara atau merasakan pedihnya penyiksaan?
5. Apakah engkau bisa shalat tanpa takut penangkapan, atau penyiksaan atau penahanan?
6. Apakah kedua orang tuamu masih hidup dan keduanya hidup bersama tanpa perceraian?
7. Apakah sekarang kamu bisa tersenyum dan mengucapkan alhamdulillah?

Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan pertama, maka engkau adalah orang yang terkaya dari 75% penduduk dunia.

Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan kedua, maka engkau termasuk salah seorang dari 8% orang-orang kaya di dunia.

JIka engkau menjawab YA atas pertanyaan ketiga, maka engkau lebih utama dari sejuta manusia yang tidak akan hidup lebih panjang dari seminggu karena penyakit mereka.

Jika engkau menjawab TIDAK atas pertanyaan keempat, maka engkau lebih utama dari 500 juta orang yang berada di permukaan bumi.

Jika engkau menjawab TIDAK atas pertanyaa kelima, maka engkau berada dalam sebuah nikmat yang tidak dikenal oleh 3 milyar manusia.

Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan keenam, maka engkau jarang ada.

Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan ketujuh, maka engkau berada didalam sebuah nikmat yang mampu dilakukan oleh banyak orang namun mereka tidak melakukannya.

Jika engkau membaca pertanyaan-pertanyaan ini, maka engkau adalah orang lebih baik dari dua milyar manusia yang tidak mampu membaca.

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah (bersyukurlah) kepada Rabb mu, dikarenakan Dialah yang telah menciptakan kamu dengan sebaik-sebaik penciptaan, dan menistimewakanmu dengan akal.

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah (bersyukurlah) rabbmu, dikarenakan Dialah yang menjadikanmu seorang HAMBA, pujilah rabbmu, dikarenakan Dialah yang menjadikanmu umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Dialah yang telah memberimu rizqi Islam tanpa engkau pernah meminta kepada-Nya dan sebelum engkau berbuat dzalim terhadap dirimu sendiri dalam agama lain.

Jika engkau senang hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat engkau hendak pergi tidur dalam keadaan nyaman dan tenang, dan ingatlah bahwa ada orang yang tidak bisa nyaman tidur, adakalanya karena penyakit dan rasa sakitnya, atau juga karena peperangan dan kefaqiran yang menyebabkan mereka berlarian, tidak nyaman dengan kehidupan yang tenang dan damai, hingga tidurpun mereka diharamkan darinya.

Jika engkau senang hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat engkau terbangun dari tidur, dikarenakan Allah lah yang telah mengembalikan rohmu setelah Dia menggenggamnya. Mudah-mudahan engkau melakukan kebaikan yang bisa menambah kebaikan-kebaikanmu. Maka seandainya Allah menggenggam rohmu, yakni mematikanmu, maka engkau tidak pernah tahu kemana tempat kembalimu.

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan (menidurkan) kami dan kepada-Nyalah tempat kembali.”

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ رَدَّ عَلَيَّ رَوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

“Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan rohku atasku dan mengizinkan aku mengingat-Nya.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِيْ نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسَتْرٍ فَأَتْمِمْ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَعَافِيَتَكَ وَسَتْرَكَ فيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Ya Allah, sesungguhnya karena-Mu di pagi hari ini aku berada dalam nikmat, sehat dan tertutupi (dari aib). Maka sempurnakanlah nikmat, keselamatan, dan penutupan-Mu (dari aib) atasku di dunia dan akhirat.”

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabb-mu saat engkau mendapatkan apa yang engkau makan, maka selainmu tidak mendapatkan sesuatu yang bisa menutup nafas kehidupannya, dia tidak mendapatkan apa yang bisa dia makan dan menguatkannya.

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat engkau berdiri untuk shalat, shalat adalah sebuah nikmat dari sisi Allah yang telah memberimu rizqi untuk bisa menunaikan kewajiban tersebut. Maka hendaknya kamu benar-benar bersyukur dan berdo’a kepada-Nya. Nikmat manakah yang lebih utama dari nikmat ini? shalat adalah tiang agama, kunci sorga, dan shalat adalah pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang disela-selanya jiwa menjadi tenang dari kesusahan dan kesempitan dunia.

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan kepadamu do’a, do’a adalah nikmat yang teramat agung. Maka mintalalah karunia Allah, dikarenakan Allah senang mendengar suara hamba-Nya, dan Dia cinta dengan seorang hamba yang mendesak dalam berdo’a.

اللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa bisa mengingatmu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagusi ibadahku kepada-Mu.”

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah jika engkau sakit, karena dengannya Allah ingin membersihkan dirimu dari dosa-dosa, dan mengampunimu, serta menjadikan buku catatanmu putih bersih.

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah saat engkau tertimpa musibah, dikarenakan saat itu Allah menjadi dekat dari-Mu, Dia ingin meringankan dosa-dosamu maka setelah adanya kesulitan, ada kemudahan.

Ingatlah bahwa “Seandainya bukan karena musibah-musibah di dunia, maka kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.”

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah dikarenakan engkau hidup diantara keluargamu, maka selainmu diharamkan dari yang demikian. Kadang mereka dalam keadaan yatim, atau terpenjara, atau dalam pelarian, atau tertawan dan lainnya.

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah saat engkau mendengar kebaikan yang menggembirakanmu, dan sujud syukurlah, dikarenakan selainmu dalam keadaan cemas dan gelisah.

Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah rabbmu, dikarenakan Dia akan menghisabmu pada hari kiamat, dan tidak ada seorangpun selain-Nya. Dikarenakan Dialah Dzat Yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Dia adalah sebaik-baik Hakim dan sebaik-baik Dzat Yang Maha Penyayang.

اللّٰهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرًا يَا اللهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Dikarenakan seandainya yang menghisabmu adalah selain-Nya, maka bisa jadi dia akan mendzalimimu, tidak akan merahmatimu, tidak akan berbuat adil kepadamu, dan tidak akan memberikan hakmu. Dan ingatlah bahwa rahmat Allah itu luas, yang lebih luas dari segala sesuatu.

Jangan lupa memuji rabbmu, dikarenakan engkau termasuk orang risalahku ini telah sampai kepadamu. Pujilah rabbmu dikarenakan engkau tengah membaca risalah ini, akan tetapi sesungguhnya engkau Insya Allah, akan berkata alhamdulillah.

Ya Allah, bagimu segala puji sebagaimana yang layak bagi keagunan wajah-Mu dan kerajaan-Mu. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu didalam shalat dan do’aku keberkahan yang dengannya Engkau sucikan hatiku, Engkau singkap kesusahanku, Engkau ampuni dosaku, Engkau perbaiki urusan-urusanku, Engkau cukupkan aku dari kefaqiranku, Engkau hilangkan kesusahanku, engkau singkap kegundahan dan kegelisahanku, Engkau sembuhkan sakitku, Engkau bayarkan hutangku, Engkau hibur kesedihanku, Engkau kumpulkan hajat-hajatku, dan Engkau putihkan wajahku.

Ya Allah, lindungilah aku dari fitnah dunia, dan tunjukilah aku kepada apa-apa yang engkau cintai dan ridhai. Teguhkanlah aku dengan ucapan yang teguh di dunia dan di akhirat. Jadilah Engkau sebagai pelindung, penjaga dan penolongku. Amin ya rabbal ‘Alamin.

(Disalin dari tulisan Ummu Mariah Iman Zuhair pada Majalah Qiblati Edisi 7 Tahun I)

Senin, 11 April 2011

Bingkai Takwa

Akankah kita merelakan diri berjalan di luar bingkai takwa, hanya karena ingin mencecap dunia yang tidak membantu kita dalam taat kepada-Nya?
Padahal, itupun hanya
sebentar saja.

(Ust Triasmoro Kurniawan)

Sesungguhnya, prinsip dasar dari terhubungnya hati hamba dengan selain Allah, adalah membahayakan. Apalagi jika sampai kepada ketergantungan. Tapi kita makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, mencukupi semuanya tanpa bantuan orang lain, sekalipun kita memiliki Rabb yang Maha Mencukupi. Kecuali Dia berkehendak lain. Dan karenanya, mau tidak mau, kita akan tetap terhubung juga dengan selain Allah.

Bingkainya bernama ketakwaan. Hingga, hubungan hamba dengan selain Allah pun harus beredar di orbit ini. Sebuah standar abadi yang tak lekang waktu tentang kemuliaan dan nilai sebuah pencapaian yang hakiki. Bukan hubungan atas nama kepentingan sesaat, yang menjerat dan menyesat di jalan gelap. Yang lahir dari kebodohan dan alasan palsu, tanpa pijakan akal sehat, selain hawa nafsu yang dipertuhankan. Juga sintesa pikiran para penghamba benda dan dunia, yang tidak mampu menjangkau rahasia di balik materi.

Hubungan itu, jika ingin menyelamatkan, harus berdiri di atas dua syarat utamanya; sesuai kebutuhan dan sarana bantu untuk mentaati Allah. Yang jika keduanya tidak terpenuhi, pintu bahaya sudah terbuka di depan mata, meski kebanyakan kita tidak menyadarinya.

Di sanalah syariat berdiri. Dengan rambu-rambu seterang benderang siang, memagari batas halal dan haram, yang boleh dan yang terlarang. Lengkap dengan dosis ideal dan aturan main yang menjelaskan kadar cukup atas eksplorasi kenikmatan halal yang tidak melalaikan makna perjalanan pulang ke haribaan-Nya. Paduan serasi antara menikmati dunia dan menyiapkan bekal akhirat.

Maka, terhubung dengan selain Allah berpotensi memudarkan standar kebaikan, merusakkan iradah akan ketakwaan, membelokkan arah perjalanan, serta membingungkan pemahaman arti kehidupan. Padahal, seharusnya ia adalah alat bantu meluaskan area kebaikan. Bukan malah sebaliknya; melalaikan dan membuat sibuk.

Dari sini, perubahan fase demi fase dalam kehidupan seorang hamba, haruslah paralel dengan takwa. Setiap pilihan perubahan fase itu, apapun risiko yang nanti mengiringinya, hendaknya memastikan substansi takwa yang terjamin penjagaan dan pertumbuhannya. Sebuah keniscayaan atas pilihan sadar dan bertanggung jawab, yang jauh dari alpa dan ikut-ikutan arus.

Jika tidak, maka pencapaian materi akan mensubstitusi nilai. Menjanjikan gebyar pesona syahwat yang memang mudah dicecap. Meliarkan keinginan yang memang tidak akan pernah terpuaskan, juga kenikmatan bertubi-tubi menelusuri seluruh pori-pori. Hingga menumpulkan akal dan nurani.Akhirnya, dalam lelah tak terperi, dan sesal yang mengiringi, manusia menghiba. Tapi waktu tak mungkin lagi kembali. Ia pergi membawa pengikutnya yang merugi.

Akankah kita merelakan diri berjalan di luar bingkai takwa, hanya karena ingin mencecap dunia yang tidak membantu kita dalam taat kepada-Nya? Padahal, itupun hanya sebentar saja.(Trias/http://www.arrisalah.net)

Sabtu, 04 Desember 2010

AGAR TIDAK SEKEDAR TOPENG


Namanya suku badui. Sebuah komunitas yang mendiami gurun pasir dan pedalaman di semenanjung Arabiyah. Sejak dulu hingga hari ini. Kebanyakan mereka, utamanya yang hidup di gurun, hidup tidak menetap. Berpindah mencari tempat kondusif bagi ternak gembalaannya. Demikianlah, hingga alam berandil membentuk tabiat mereka. Keras dan tak kenal basa-basi. Atau, kalau istilah sederhananya, kurang beradab.

Walau demikian, mereka juga memiliki sifat-sifat mulia yang jauh mengungguli komunitas manapun. Memuliakan tamu, kejujuran, keberanian, serta prinsip hidup apa adanya dan tidak mengenal topeng kepalsuan. Itu sebabnya, dulu, biasanya bangsa Arab kota yang tinggal di Mekkah mengirim anak-anak mereka ke kampung-kampung badui, dan tinggal dalam asuhan seorang ibu angkat. Di sana mereka mendalami bahasa Arab fushha (yang benar) serta hal-hal yang berkaitan dengan hakikat hidup.

Prinsip apa adanya dan jauh dari topeng kepura-puraan… Yah, ini salah satu sifat luhur mereka yang lahir dari kepolosan jiwa. Kendati dalam pandangan orang mereka kurang beradab. Namun di sisi lain, ia adalah manifestasi kejujuran hati. Makanya, Nabi SAW tidak pernah marah terhadap perlakuan mereka. Disebutkan dalam sebuah riwayat, seorang Arab badui datang dan menarik selempang Nabi hingga menggoret bekas di leher beliau. Tanpa basa-basi, ia meminta harta zakat. Nabi tersenyum, lalu memerintahkan seorang sahabat menunaikan kebutuhannya. Ini karena beliau paham benar tabiat mereka. Polos dan tanpa topeng kepura-puraan.

Intinya, bahwa mereka kaum badui itu, tidak pernah memaksa diri tampil berbeda. Apa yang mereka zahirkan, begitulah yang mereka yakini. Kendati tidak semua dibenarkan oleh syari’at dan ‘urf (kebiasaan). Dan kami tidak hendak mengajak anda berprilaku serupa badui-badui itu. Sama sekali tidak. Prilaku beradab dan santun yang ditopang oleh jiwa yang tulus, merupakan perkara yang wajib diupayakan. Karena ia adalah seruan seluruh ajaran samawi.

Lantas bagaimana dengan kita…?! Justru dalam hidup ini kita banyak menggunakan topeng untuk menutupi identitas jiwa kita. Ibaratnya, seperti pagelaran topeng di atas pentas. Saking banyaknya topeng itu, kadang kita tidak lagi mengenal diri kita sendiri. Kita memakai topeng kebijaksanaan, padahal hati kita kerdil. Kita mengenakan topeng keshalihan sementara jiwa kita beku. Lalu kita sibuk menyitari diri di balik topeng-topeng itu, sementara terhadap tatapan sang Khalik kita lengah. Duhai, adakah kita yang tersindir oleh firman Allah Ta'ala: “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah mengetahui mereka…”. (Qs. An-Nisaa:108).

Begitulah... Namanya juga topeng. Dan hakikat sebuah topeng itu adalah menutupi keadaan sebenarnya. Hmm, sesuatu yang menggelitik tanya, entahlah, apa ada ya, orang yang memakai topeng keburukan untuk menutupi hatinya yang bersih?! Kalau pengakuan sih banyak. “Biar tampil kayak begini (seksi), yang penting kan hatinya…”, begitu kira-kira yang sering kita dengar. Wallahu a’lam. Sepengetahuan kami, kebanyakan, topeng itu selalu dikonotasikan untuk menutupi keburukan. Karena tabiat manusia itu suka tampil menawan. Jadi kalau ada yang tetap nekat memakai topeng keburukan, yah, seperti itulah kita menilai. Adapun urusan hatinya, kita serahkan saja pada Yang di Atas.

Ah, aku juga tidak mengerti, apakah terjadi secara kebetulan atau tidak. Katanya, "kepribadian" dalam bahasa Inggris itu disebut personality. Akar kata dari bahasa latin, yakni persona yang bermakna topeng. Apa memang, bahwa kepribadian itu identik dengan topeng?! Semoga saja tidak. Sebab masih banyak orang-orang yang memiliki kepribadian mulia. Lahir dan hati mereka tetap seiring sejalan.

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memandang pada tubuh-tubuh kalian, dan tidak pula wajah-wajah kalian. Akan tetapi, Dia melihat pada hati dan amal kalian”. (HR. Muslim). Iya, sebab wajah dan tubuh manusia itu kadang hanya sebuah topeng. Jauh dari hakikat sebenarnya dan berseberangan dengan apa yang tersimpan dalam dasar hati. Sedang inti dari sabda nabi ini, adalah ajakan berlaku ikhlas serta menyelaraskan antara apa yang lahir dengan sesuatu yang tersembunyi dalam jiwa.

Jangan sampai zahir diri menyelisihi hakikat jiwa. Atau, amal kita mendustai niat hati. Duhai, celakanya amal shalih itu jika ternyata hanya sebuah topeng. Makanya seorang sahabat, Mu’awiyah bin Abi Sofyan ra sampai jatuh pingsan kala mendengar hadits tentang tiga orang yang pertama dihisab pada hari kiamat kelak, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim... Mereka adalah seorang yang dinilai mati syahid, seorang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya, serta seorang dermawan. Ketiganya dihadapkan kepada Allah, lalu masing-masing diingatkan akan nikmat-nikmat Allah atas mereka. Allah pun bertanya: “Apa yang kalian lakukan untuk menyukuri nikmat-nikmat tersebut?”

Orang yang dinilai mati syahid berkata: “Aku berperang membela agamaMu hingga mati syahid”. Yang kedua menjawab: “Aku mempelajari al-Quran, mengajarkan pada manusia, dan membacanya karena-Mu”. Sang dermawan tak mau ketinggalan: “Tiap aku mendapat jalan kebaikan yang Engkau senangi agar aku nafkahkan hartaku, aku segera infakkannya karena-Mu”.

Allah Ta’ala pun menimpali: “Kalian dusta. Engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani. Sedang engkau mempelajari al-Qur’an agar dikatakan sebagai alim lalu membacanya supaya dibilang qori’. Adapun engkau, engkau berinfak agar supaya dikatakan sebagai dermawan. Dan masing-masing kalian telah mendapatkan pujian itu di dunia”. Lantas ketiganya diseret atas wajah mereka lalu diceburkan ke dalam neraka.

Wal’iyadzubillah… sangat disayangkan, amal-amal mereka itu ternyata hanya sebuah topeng untuk menutupi niat sesungguhnya. Padahal yang mereka lakukan bukan amal biasa. Tapi amal luar biasa yang zahirnya dapat melejitkan derajat pelakunya dalam surga. Olehnya, Ibnul ‘Arabi mewasiatkan: "Orang yang paling rugi, ialah yang menzahirkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat dari urat lehernya". (Syu’ab al-Iman, al-Baihaqi, no. 6987).

Aku sempat menyimak sebuah ungkapan sederhana namun menyentak dari seorang Didik Nini Towok dalam acara Talkshow Kick Andi beberapa waktu lalu: “Hidup ini adalah topeng. Semua kita memakai topeng. Hanya satu tempat dimana kita tidak lagi bertopeng…, di sana, di hadapan Sang Maha Kuasa”. Aku teringat firman Allah dalam al-Thariq ayat 8-9 : “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (sesudah mati). Pada hari seluruh rahasia akan dinampakkan”. Yah, semua akan tersibak. Tak ada lagi topeng-topeng kepalsuan

http://www.facebook.com/note.php?note_id=479814278500

Rappung Samuddin

Makassar, 4 Desember 2010