Tampilkan postingan dengan label Usrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Usrah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Oktober 2012

5 Hal Yang Perlu Diwaspadai Oleh Para Istri Pejuang

Sungguh tidak mudah menjadi pejuang, apapun ideologi yang diperjuangkan. Lebih tidak mudah lagi  menjadi isteri kepada seorang pejuang. Hidupnya selalu diselimuti ketidakpastian.  Mayoritas isteri pejuang sadar dan tahu bahwa hidupnya akan serba kekurangan secara hakiki mahupun maknawi. Tidak jarang, wujud di kalangan mereka yang tidak menyedari bahwa suaminya adalah pejuang. Pejuang apa saja, khususnya pejuang agama; para mujahidin, ulama, dai dan para pembela agama Allah lain.

Namun merekalah makhluk paling setia, paling dipercaya, paling dapat diharap dan paling segalanya di dunia. Mereka taman mekar tempat para suami mendapatkan ketenangan, tiang teguh tempat para suami bersandar  di kala lelah menyapa jiwa, tali pegangan kukuh waktu badai melanda dan seringkali pembela terhandal yang dapat diandalkan saat seluruh dunia menyalahkan, mengecam dan memalukannya.

Merekalah antara pendorong utama yang membuat para suami berani melangkah, meningkatkan kualitas diri dari aspek ukhrawi dan duniawi. Di waktu yang sama, bila peran isteri tidak dimainkan dengan panduan iman dan taqwa, maka mereka dapat berubah menjadi pemusnah hebat.

Justru, jika para istri  ingin bergelar 'syarikatul hayat' (pasangan kehidupan) bagi suami di dalam bersama-sama  menggapai ridha Allah dan jannah-Nya, beberapa sifat dan kebiasaan buruk wajib kita dihindari atau setidaknya diusahakan agar tidak melampaui batas.

Cinta Dunia

  
Fitrah perempuan sukakan keindahan dan kesempurnaan. Adalah merupakan impian dan idaman setiap isteri akan segala sesuatu yang indah dan menyenangkan; wajah dan pakaian yang cantik, rumah dan kendaraan yang bagus, peralatan rumahtangga yang lengkap dan terbaru, gadget tercanggih, pendidikan dan sekolah anak-anak yang terbaik dan mahal dan tentunya atau uang yang tiada susutnya.

Kesalatan mengatur dan mengatur rasa senang pada segala bentuk kemewahan ini akan membuahkan kecintaan dan keterikatan pada hal-hal berbentuk material, yang andai dibiarkan berlarutan tanpa kendali iman, dapat mengakibatkan munculnya sifat bakhil dan mementingkan diri sendiri.

Dalam hal ini, hanya zuhud dan qana'ah yang mampu menjadi tali kekangnya. Menurut Imam  Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, zuhud bermakna mengosongkan hati dari kesibukan diri dengan dunia, sehingga orang tersebut dapat berkonsentrasi untuk mencari ridha Allah, mengenal-Nya, dekat kepada-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan rindu menghadap-Nya.

Profesor Dr. HAMKA rahimahullah mengatakan qanaah terdiri atas 5 hal; menerima dengan rela akan apa yang ada, memohon kepada Rabb akan tambahan yang pantas dan berusaha, menerima dengan sabar akan ketentuan-Nya, bertawakkal kepada-Nya dan tidak tertarik dengan tipu daya dunia.

Jadi, salahkah memiliki kemewahan jika memang ditakdirkan memilki kemewahan? Jawapannya, tidak salah. Sama sekali tidak salah, selama ia tidak dijadikan tambatan hati dan selama ia tidak mendorong para suami melakukan korupsi demi memenuhi keinginan isteri, termasuk korupsi harta maupun korupsi jiwa. Dalam arti kata lain, tidak salah memiliki segalanya selama ia dimanfaatkan dalam usaha meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Cemburu Buta

Cemburu tanda cinta, kata sebagia orang. Namun sengaja diletakkan kalimat 'buta' di sini yang menunjukkan hanya aksi dan reaksi cemburu saja yang dibenarkan. Sudah seharusnya seorang isteri memiliki perasaan cemburu terhadap suaminya.

Perasaan cemburu yang positif akan memacu dirinya untuk giat menyaingi langkah suami dalam beramal, menjadi motivasi kuat untuk dia belajar dan bekerja lebih gigih dalam membantu usaha dakwah suami dan mendorongnya untuk lebih kreatif dalam memastikan gerak suami selalu berada di dalam koridor syar'i.

Apa yang tidak harus terjadi ialah, membabi-buta mencemburui suami sehingga rasa cinta yang ada sedikit demi sedikit berubah menjadi obsesi yang disertai sikap posesif dan diiringi prasangka buruk tanpa penghujung.

Di dalam banyak situasi, bukan cemburu yang menghambat langkah suami, atau lebih dahsyat, mematikan rasa kasihnya, sebaliknya adalah kebutaan yang mengiringi rasa cemburu tersebut. Buta di sini bermaksud, tidak lagi dapat memisahkan antara cinta kerana Allah dan rasa memiliki, antara keinginan diri dan keperluan syar'ie dan antara realiti dan fantasi.

Mudah Kecil Hati

Gunjingan orang, tatapan yang tidak bersahabat, ketidakcukupan nafkah dan kekurangan harta benda, tidaklah layak menjadikan hati insan beriman (istri para pejuang) berkecil hati terus menerus, sehingga mengakibatkan rasa rendah diri, tersinggung dan tidak mustahil, pada suatu hari menimbulkan benci.

Orang-orang dengan hati yang mudah menciut ini biasanya adalah orang-orang yang selalu membesar-besarkan hal yang kecil. Dan hatinya yang kecil itu akan terlihat dari raut wajah dan sikap yang ditunjukkannya, baik itu disengaja ataupun tidak. Sesama saudara dan sahabat saja ia memberi kesan, apalagi suami isteri.

Tanpa disadari, keceriaan dan mood isteri banyak mempengaruhi  sikap dan mood suami. Selemah manapun seorang suami, bila didukung oleh sikap dan semangat isteri yang kuat, pastilah akan kuat juga, insyaAllah. Demikian pula sebaliknya.

Suka Bercerita

Sebenarnya para suami sangat suka apabila isterinya bercerita. Justru dari cerita-cerita isterilah, dia memaklumi banyak hal yang tidak dapat dia ikuti dengan saksama disebabkan kesibukannya.

Namun, sikap suka bercerita dengan pengertian bercerita tanpa koma, tanpa mengenal waktu dan tempat, hanya akan membuat suami merana dan tidak betah di rumah, terutama jika cerita-cerita yang dibawa lebih menjurus kepada ghibah (gunjingan) dan fitnah. Perkelahian mungkin meletus dan lebih buruk akibatnya apabila cerita di dalam rumah pun ikut menjadi bahan cerita ke mana-mana.

Khususnya di dalam keluarga dengan fikrah perjuangan, tabiat suka bercerita yang tidak terkawal, pada suatu saat dapat mengundang musibah. Bagaimana tidak, jika semua aktivitas suami 'dilaporkan' kepada semua orang; hal-hal penting, kepergiannya,  dengan siapa saja suaminya berteman dan banyak hal lain yang seolah-olah disangkanya sebagai hal remeh?

Fenomena akhir zaman, dunia tanpa batas telah memburukkan lagi sikap ini dan membuat keadaan jauh lebih gawat karena jumlah yang mendengar (membaca) ceritanya mungkin jauh di atas ribuan orang. Cerita yang bagi dirinya adalah cerita biasa, besar kemungkinan adalah cerita luar biasa buat orang lain. Apalagi jika hal itu disahre jejaring sosial tanpa batas.

Cepat Merajuk, Sukar Dibujuk

Kata orang, merajuk pada yang sayang. Kalau tidak kepada suami, kepada siapakah lagi seorang isteri merajuk? Rajuk memang sinonim dengan perempuan. Dan ada bermacam gaya rajuk. Selama ia tidak keluar dari landasan syar'i, maka rajuknya adalah sah.

Masalah timbul apabila rajuknya sukar dibujuk, sehingga menghalangi keharmonian hubungan suami isteri, menimbulkan kekeliruan dan ketakutan pada jiwa anak-anak dan menjatuhkan air muka dan wibawa suami.

Tidak seyogyanya seorang isteri merajuk berpanjangan, apalagi tanpa alasan dan sebab.  Seorang suami juga adalah seorang manusia yang kadang disebabkan kelemahannya, pada suatu ketika dapat mematiksan rasa putus asa dan amarah mengalmi kesesakan fikiran dan ketidakstabilan emosi. Rajuk yang aslinya merupakan hasil dari kemanjaan, kini justru menjadi berubah seolah bara dalam sekam, perlahan-lahan membakar jiwa. Tak jarang, rajuk berpanjangan membuat seseorang lupa kenapa dia merajuk pada awalnya?

Akhirnya, rumahtangga yang dibina dengan tujuan memperolehi sakinah dan merangkul mawaddah wa rahmah, gagal menjadi tempat suami melabuhkan semua rasa.

Tonggak utama Kemenangan Umat

Masih banyak sikap negatif yang lain, namun dapat dikatakan bahwa sikap-sikap yang lain hanya timbul apabila 5 sikap ini merajalela tanpa kendalian sempurna. Dengan maraknya kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan Muslimin akhir-akhir ini, sikap -sikap seperti ini sama sekali tidak membantu perjuangan suami.

Kejayaan ummat yang bermula dengan sebuah ikatan rumahtangga sangat tergantung pada kerjasama 2 tonggak utama; yakni pasangan suami isteri.
Jatuh bangun seorang suami, teguh dan kentalnya dia mengharungi onak dan duri, kukuh dan sabarnya menghadapi pasang surut kehidupan, harus diakui sangat dipengaruhi oleh jiwa, sikap dan semangat isterinya yang ada di rumah. Fakta menunjukkan, di belakang pria kuat, selalu ada wanita hebat. Justru, di situlah letak makna se-iya-sekata, sehati-sejiwa' dalam mengukuhkan perjuangan.Wallahu a'lam.*/ disalin dari tulisan Paridah Abbas di www.hidayatullah.com.

Minggu, 06 November 2011

Setetes Darah Istri Tercinta

SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambak¬beras, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.

Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.

Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.

Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.

Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).

Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.

Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.

Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.

Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.

Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?



Muhammad Fauzil Adhim/www.hidayatullah.com)

Rabu, 13 April 2011

Istri Tercantik di Hatiku

SEIRING dengan gerak teratur waktu, yakinlah kita akan menemukan potret sesungguhnya dari istri kita. Potret utuh tanpa sekat dan kepalsuan. Sekali lagi, seiring dengan bergeraknya jarum jam di dinding rumah kita, kita akan menguak seluruhnya tentang istri kita. Kita akan memiliki pengetahuan yang sebelumnya belum pernah kita ketahui.
Setelah saya menikah dengan istri saya beberapa waktu, saya menemukan potret yang tidak lagi monocrome lentang dirinya. Kita akan mengalami yang sama. Lalu, dengan pengetahuan itu, akan muncul dua opsi: kita semakin mencintainya atau kita akan kecewa dengannya.
Terlebih ketika pernikahan yang dilakukan sejak awal berparadigma tuntutan, bukan sebagai ruang tegur sapa keilmuan; tempat masing-masing kita berkesempatan belajar. Mendesain rumah tangga kita sebagai rumah para pembelajar.
Oleh teman-teman, saya dikenal sebagai anak manja. Di antara teman-teman, saya terhitung yang paling muda. Nah, kebetulan ketika saya menikah, istri saya jauh lebih 'manja.' Kebutuhan dia untuk bersama, diperhatikan, dan menciptakan suasana romantis jauh lebih dominan. Di situlah saya harus belajar. Belajar untuk menjadi lebih dewasa. Saya selalu berdoa untuk diberi kemudahan oleh Allah ta'ala untuk menggapainya.
Begitulah semestinya kita membangun keluarga. Rumah tangga yang dibangun di atas bingkai keluarga pembelajar. Para suami bukan konsumen yang menuntut pelayanan dengan menihilkan kekurangan istri. Masing-¬masing memiliki kelebihan. Kata Nabi Shallallahu alaihi wassallam: wafii kulli khair (tiap kita memiliki potensi, kelebihan, kebaikan). Tapi sebagaimana tabiat alam, tak ada yang sempurna pada diri makhluk. Masing-masing kita juga memendam kelemahan.
Kiranya peran Rasulullah shallallahu alaihi wassallam berikut patut untuk dijadikan renungan: "Janganlah seorang mukmin memarahi seorang mukminah! Apabik tidak suka terhadap salah satu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan." (HR. Muslim), Ada sisi lain dari kepribadiannya yang sebenarnya sangat mempesona. Persoalannya, bagaimana kita menemukannya? Menempatkan istri kita dalam posisi istimewa, Ia sangat berarti dalam hidup kita. Sesungguhnya istri kita memiliki rekening peran yang luar biasa besar bagi keluarga. Sayangnya, kita jarang jeli menangkap setial, peran yang dilakukan. Kenapa? Para suami menganggap, bahwa apa yang dilakukan para istri merupakan kewajaran. Begitulah yang seharusnya dikerjakan oleh istri, pikir kita. Kita melihat pekerjaan istri tidak terlalu menarik. Kehadiran seorang istri terasa tidak bermakna. Sungguh, pada Allah ta'ala saya berlindung atas semua sikap itu.
Akhirnya, makna kehadiran akan lahir dalam kepergian. Ketika kekasih kita tidak ada, barulah kita membutuhkan kehadirannya. Rumah terasa sunyi, sejumlah kerepotan akhirnya kita rasakan, dan tidak ada tempat berbagi serta bercerita. Padahal sebelumnya, ketika ia hadir kita tidak cukup memperhatikannya.
Ketika istri saya harus opname di rumah sakit, saya berkesempatan pulang sejenak. Begitu membuka pintu rumah kontrakan, saya merasakan ada yang hilang. Sepi. Posisi barang-barang, buku-buku, dan tata letak ruangan, mengingatkan saya pada kehadirannya. Sisi melankolis saya menyeruak hadir. Saya pejamkan mata. Tapi pelupuk mata saya tidak kuasa menahan air mata. Saya menyadari bahwa saya butuh dia: istriku yang tercantik di hatiku.
Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi ' wassallam tidak dapat melupakan Khadijah binti Khuwailid, meskipun beliau telah lama meninggal. Goresan kenangan itu terus ada. Bahkan, kenangan itu terasa membekas dan susah untuk dihapuskan. Sampai-¬sampai Aisyah bertutur dengan jujur bagaimana ia cemburu terhadap Khadijah. Kecemburuan pada orang yang tidak lagi hadir. Tapi begitulah cinta. Ia tidak ingin dibagi. "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagiseseorangdua bitch hati dalam satu rongga." (QS. Al-Ahzab: 4). Wallahu a’lam.
Saya tidak pernah merasa cemburu pada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wassallam," kata Aisyah. Ia lain melanjutkan, "Kecuali, terhadap Khadijah. Padahal, saya tidak pernah berjumpa dengannya. Tapi karena Nabi shallallahu alaihi wassallam sering menyebutnya dan sering menyembelih kambing, lalu dipotong beberapa bagian dan dikirimkan pada kenalan-kenalan baik Khadijah itulah sebabnya."
"Saya sering berkata kepadanya: "Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah!" Maka, beliau akan menjawab: "Sesungguhnya Khadijah itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai anak." (HR. Bukhari dan Muslim).
Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, pernah minta izin untuk masuk rumah Rasulullah shallallahu alaihi wassallam. Rasulullah kaget . Ia terhenyak sejenak. Ingatan beliau langsung tertuju pada Khadijah; suaranya, raut wajahnya, dan segala gerak geriknya. Maka, ketika kesadaran beliau hadir, dalam keterharuan beliau berkata, "Ya Allah, Halah binti Khuwailid. Kukira Khadijah."
Seiring dengan gerak teratur waktu, saya ingin selalu menempatkan istri sebagai wanita tercantik di hati saya. Kisah Rasulullah bersama Khadijah terlalu menarik untuk dibaca, dan menjadi hampa jika kita tidak belajar mewujudkannya. Mencintai dengan sepenuh hati. Allahu a'lam.(Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku")

Minggu, 10 April 2011

Disebabkan Oleh Cinta

"I have a very good life with Koko. Dia adalah
suami yang baik, guru yang baik, teman yang
baik. Dari sebelumnya saya yang apolitik
sampai mengerti politik, lingkungan hidup,
dan humanisme."

UNGKAPAN tulus itu merupakan perkataan Ratmini Soedjatmoko, janda Dr Soedjatmoko (1922-1989) (Kompas, 22/11/2005), mengenai almarhum suaminya. Sang suami tercinta meninggal pada 21 Desember 1989, saat sedang menyampaikan orasi ilmiah tentang masalah pendidikan dan masyarakat madani di Yogyakarta.
Setelah membaca ungkapan di atas, saya teringat kata-kata Umar bin Khathab. "Hanya ada dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat. Merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung." Ketika istri kita mencintai kita maka mereka akan menempatkan kita di dalam istana hatinya. Keberadaan kita menjadi tambatan jiwanya, pohon rindang tempatnya berteduh dari terik kehidupan yang gerah, atau air telaga yang menyejukkan. Namun, bagaimana kita dapat dicintai istri kita? Dirindukannya saat tempat menjauhkan kita dengannya. Dikenangnya saat kematian kita menjemput.
Agar ada cinta maka berilah cinta. Inilah rumus umumnya. Sekali lagi, jika kita ingin abadi dalam bilik kerinduan jiwanya, mencintai adalah pekerjaan yang harus dilakukan untuknya. Cinta dengan penuh ketulu¬san. Cinta yang mampu menciptakan kesan mendalam. Cinta yang menganugerahkan banyak hal. Bukannya cinta yang dipenuhi tuntutan pada kekasih kita, istri kita. Jika bahasa menuntut yang menghiasi hari-hari bersama dalam keluarga lebih dominan, tentu akan ada yang tertekan. Tuntutan membuat mereka terbelenggu. Padahal, cinta justru menganugerahkan sesuatu untuk meningkatkan kapasitas kekasih kita.
Lihatlah apa yang diungkapkan Ratmini Soedjatmoko: Dia adalah suami yang baik, guru yang baik, teman yang baik. Dari sebelumnya saya yang apolitik sampai mengerti politik, lingkungan hidup, dan humanisme. Para suami memiliki pekerjaan untuk memberi atau menganugerahkan. Dampak yang muncul adalah kesan mendalam. Istri akan menempatkan suami tidak sekedar sebagai suami yang baik, tetapi mungkin predikat lain, sesuai dengan apa yang diberikannya. Kita, para suami, akan memiliki tempat yang lebih bermakna di hati istri kita masing masing.
Maka dalam catatan sejarah, bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam Aisyah tumbuh tidak sekedar sebagai seorang istri, tetapi sekaligus menjadi telaga ilmu, tempat semua orang merujuk gagasannya. Potensinya tertumbuhkan oleh keberadaan sang suami, Rasulullah.
Ironinya, ada banyak wanita-wanita cerdas tapi begitu mereka menikah, ruang geraknya menjadi sempit. Peluangnya untuk menjadi yang lain kandas, dan mereka terpuruk sekedar memperoleh predikat sebagai seorang istri. Potensinya tidak dikembangkan, sebab suaminya hanya menempatkan dirinya (sekedar) sebagai suami.
Ada pula yang lain, para suami sekedar menjadi suami dan tidak menjadi pecinta yang memiliki kesan kuat di hati istri mereka. Kembali perlu kita kenang pribadi pejuang yang sangat memahami keberadaan istri sebagai sumber energi perjuangannya. Bung Tomo. Beliau sangat menyadari bahwa cinta sang istri adalah tenaga yang menggerakkan semangatnya. Maka sang istri, Sulistina Soetomo, membaca gerak cinta suaminya. Dan, ia membalas cinta itu dengan cinta: mereka saling memberi. Oleh karena itu, ketika pengobar arek-arek Suroboyo itu meninggal, Sulistina sangat kehilangan. Langit jiwanya berduka. Dalam surat panjangnya ia ungkapkan kesan mendalamnya kepada Bung Tomo.
Mas Tom, ada satu yang ingin kukatakan dalam surat panjang ini. Dalam kehidupan rumah tangga kita, aku rasakan kebahagiaan suami istri. Aku bangga menjadi istrimu. Aku bangga menjadi pendampingmu. Engkau selalu tnembahagiakan aku, bagaimana pun sulit kehidupan kita. Tak pernah engkau risaukan.
Mottomu: put your wife on a pedestal benar-benar Mas Tom lakukan. Mas Tom engkau benar-benar seorang suami yang patut menjadi teladan. Ketika kau tiada, aku membuka dompetmu. Aku menangis ketika menatap fotoku di dompet itu. Aku tak pernah menggeledah dompetmu sebelumnya. Di bawah fotoku yang tersenyum itu ada tulisan: iki bojoku (ini istriku). Sedang pada foto lain kau tuliskan: Tien istri Tomo.
Orang mengatakan bahwa Bung Karno adalah seorang yang romantis di samping sebagai pemimpin. Dan, aku berani mengatakan Mas Tom adalah suami yang amat romantis. Mas Tom adalah seorang pahlawan sekaligus, seorang pecinta besar: you are a hero, a patriot, a great lover, sampai hari akhirmu.
Maka, disebabkan oleh cinta kehidupan keluarga kita akan jauh lebih bermakna. Cinta yang terus bergerak: dari memberi perhatian menuju proyek pengembangan diri kekasih kita. Wallahu Aam bish-showab. Sebait sajak dari lqbal menarik untuk kita jadikan bahan renungan.
Oleh cinta, sang pribadi kian abadi.
Lebih hidup, lebih menyala, lebih berkilau.
(Sir. Muhammad Iqbal).
(Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku").

Jumat, 08 April 2011

Ada Canda Ketika Marah

WAJAH sang istri berseri, lalu ia dekati suaminya yang siap pergi.
"Mas, nanti pulangnya jangan malam-malam ya. Ummi siapkan makanan kesukaan, Mas."
"Benarkah?" dengan antusias sang suami merespon. Dan istrinya mengangguk, mengiyakan sambil tersenyum. Sunggingan senyum itu merupakan harapan untuk mengembalikan suasana awal pernikahan mereka dulu. Suami istri itu, terutama sang istri, menginginkan saat-¬saat sebelum anak-anak mereka lahir satu persatu.
"Kalau sudah selesai, langsung pulang. Saya tunggu di rumah. Kita makan bareng."
"Insya Allah."
Sang suami berangkat dengan dilepas sang istri. Lambaian tangan dan sepotong senyuman mengukir wajah-wajah mereka. Ketika hari merangkak petang, sang istri telah selesai menyiapkan hidangan. Ia tata dengan semenarik mungkin. Kini ia tinggal berdandan untuk menyambut suaminya pulang. Ternyata sampai larut, sang suami belum juga pulang. Dengan kekesalannya sang istri merebahkan tubuhnya di sofa. Namun, tak lama kemudian ia tertidur.
Ia terbangun ketika tangan suaminya menyentuh wajahnya. Permohonan maaf suaminya, ditanggapinya dengan acuh. Ia marah.
"Sudah makan, Dik?" tanya sang suami.
"Makan aja situ sendiri!"
Sang suami tahu istrinya marah. Namun, ia tetap bersikap, tenang. Ia menuju meja makan.
"Ayo makan bareng."
"Makan aja situ sendiri!"
"Mmh, lauknya mana nih?" tanya suami pura-pura tidak tahu.
"Cari aja situ sendiri!"
Sang suami pun makan. Tengah malam sang istri terbangun. la merasakan perutnya merintih sakit. Buru-¬buru ia menuju meja makan.
Mas, telurnya mana? Kok habis!"
"Nelur aja situ sendiri!" Mereka pun tidak jadi marahan. Mereka tertawa.
KISAH ITU diceritakan guru ngaji saya ketika masih kuliah. Sampai sekarang saya masih mengingatnya. Menurut beliau itu kisah nyata. Dari kisah tersebut saya mengambil satu ibrah. Bagaimana di tengah situasi yang semestinya ditanggapi dengan ketegangan kita mampu meredam diri, bahkan melempar joke-joke segar. Letupan-¬letupan emosional bukan sesuatu yang kita nihilkan dalam keluarga kita. Tentu itu. Pada saat-saat tertentu ghadhab atau marah bisa saja muncul, terlebih ketika emosi kita sangat labil. Strategi menahan diri dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan ketenangan adalah pilihan terbaik.
Jika pasangan kita tengah mengalami letupan emosi¬onal, bersikaplah wajar. Cobalah untuk memahaminya, dan jangan sekali-kali menyerangnya dalam situasi demi¬kian. Yakinlah bahwa cara demikian tidak cukup membantu. Saya terkenang dengan kisah keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Suatu ketika Aisyah pernah marah dengan Rasulullah dengan mengatakan, "Engkau ini hanya mengaku-aku saja sebagai nabi." Mendengar letupan emosi sang istri, suami yang lembut jiwanya itu hanya tersenyum tanpa balik membalas sama sekali.
Dalam situasi marah tidaklah tepat untuk melakukan blaming partner atau menyalahkan pasangan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri lebih memilih untuk diam. Kejadian demikian tidak hanya sekali. Ia berlangsung berkali-kali. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertengkar dengan istrinya, Aisyah – putri Abu Bakar. Waktu itu Abu Bakar bertindak sebagai penengah atas perselisihan beliau.
"Bicaralah atau saya yang akan berbicara terlebih dahulu," kata Rasulullah.
Anda bicaralah dulu! Jangan mengucapkan yang tidak benar!" kata Aisyah dengan lantang. Mendengar kata-kata putrinya yang terlalu kasar pada suaminya, Rasulullah, Abu Bakar lalu menampar muka putrinya hingga mulutnya berdarah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Aisyah! Engkau ini memusuhi dirimu sendiri. Apakali beliau pernah berkata yang tidak benar?"
Aisyah lalu berlindung di belakang Rasulullah.
"Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini. Kami tidak menghendaki tindakan seperti itu darimu," kata Rasul kepada sahabatnya, Abu Bakar.
SUBHANALLAH. Teramat indah untuk menelusuri kepribadian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang suami. Sangat mempesona dan mengagumkan, tetapi begitu susah jiwa ini untuk meniru dan meneladaninya. Lihatlah bahwa letupan-letupan emosi dapat muncul dalam keluarga Rasul sekalipun. Karena, ia memang menjadi sesuatu yang natural bisa terjadi.
Persoalannya terletak pada bagaimana kita menghadapinya. Terus terang, saya masih belajar untuk meneladani kisah-kisah yang menginspirasi di atas. Kadang kala saya berhasil menciptakan suasana itu, tetapi beberapa yang lain, saya merasa belum berhasil. Bersikap tenang, tidak melakukan blaming partner, bahkan mendahului untuk meminta maaf, atau menyisipkau canda-canda segar di tengah kemarahan pasangan kita, sehingga ia luluh, bukanlah persoalan mudah. Namun, saya yakin, bukan berarti pula ia tidak mungkin dilakukan.
Bagi saya, belajar mendengar letupan emosi kekasih kita adalah pekerjaan besar para pejuang yang memiliki kebesaran jiwa. Wallahu A’lam
(Sumber:Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku " Karya Dwi Budiyanto.

Senin, 28 Maret 2011

Cinta Dan Makna Kerinduan

ada saatnya aku harus pulang
karena rindu karena hasrat menggebu
buat menjengukmu dan anak-anak kita
sebuah muara tempat gelombang beradu.
[Suminto A. Sayuti; Pada Saatnya Aku Harus Pulang]

RINDU. la adalah kata yang mengekspresikan gejolak jiwa untuk menghargai makna kehadiran dan kebersamaan. Jiwa yang diluluri cinta tidak akan tahan untuk berlama-lama dalam keterpisahan. Ada batas waktu tertentu yang dapat ditoleransi, tetapi lamban dan pasti ia akan diserang dahaga kerinduan. Saat itulah ia membutuhkan air yang menyejukkan: pertemuan.
Kerinduan bagi pasangan kekasih, suami istri, merupakan tanda cinta di antara keduanya. Ia memang jauh lebih berharga dari segala bentuk oleh-oleh dan hadiah yang dibawa saat kepulangan. Kerinduan memiliki dua wajah yang sangat menawan hati suami istri yang saling mencintai: perhatian dan tanggung jawab. Perhatian merupakan wujud nyata untuk mengetahui keadaan sang kekasih; dalam kondisi apa saat ini, saat ia bersama kesunyian dan kesendirian. Sementara itu, tanggung jawab adalah keadaan jiwa untuk berbuat yang terbaik bagi sang kekasih sebagai ganti dan garansi atas perpisahan itu.
Dua wajah itu ada pada para suami yang merindukan istrinya. Saat berjauhan adalah saat yang paling membebani mereka. Ada ruang kosong tempat hati harus ditambatkan secara halal. Selama tidak ada kekasih yang hadir secara nyata di dekat kita, maka hanya kenangan¬-kenangan yang hadir menggantikannya. Namun, ia hanya mengobati untuk sementara. Sebait sajak yang ditulis Khalid bin Yazid bin Mu'awiyah berikut merekam kerinduannya yang dalam pada Ramlah binti Az-Zubair bin AI-Awwam.
Setiap malam kerinduan tiada mereda
Setiap hari kuingin berdekatan dengannya
Tiada sesaat pun ingatanku beralih kepadanya
Setiap waktu aku harus menepis derita

Begitulah, ketika kerinduan itu sedang bergejolak, maka ruang kosong itu harus segera diisi. Selama belum terisi maka iman kitalah yang kita jadikan benteng pertahanan diri. Iman menjadi benteng agar kita tidak mengisi ruang kosong kerinduan itu dengan kemaksiatan. Jika sebagai suami kita merasakan kerinduan yang luar biasa, maka hal yang sama dapat terjadi pada istri kita. Ia lebih membutuhkan kehadiran kita. Ia jauh lebih tersiksa ketika merindukan suaminya.
Kisah berikut mungkin telah akrab dalam ingatan kita. Namun, saya akan menghadirkan kembali sebagai gambaran nyata tentang adanya tarikan banyak kutub, selama kerinduan tidak kunjung menemui obatnya. Gejolak cinta, tarikan iman, dan dorongan untuk berbuat kemaksiatan menjadi fragmen yang mengkhawatirkan.
Jarir bin Hazim berkata dari Ya'la bin Hakim, dari Sa'id bin Jubair, dia berkata: Sudah menjadi kebiasaan Umar bin Khathab untuk keliling kota Madinah. Suatu malam ia berkeliling kota. Dia menjumpai seorang wanita di dalam rumahnya menggumamkan sajak.

malam ini terasa panjang dan gelap gulita
hatiku pilu karena tiada kekasih di sampingku
andalkan bukan karena Allah yang tiada Rabb selain-Nya
tentu masih ada kehidupan di atas ranjang ini
tapi aku dihinggapi takut kepada-Nya ada rasa malu menghantui
maka akan kujaga kehormatan suami semoga dirinya lekas kembali

Setelah itu wanita tersebut menghela nafas dalam¬-dalam. Ada sesak di dada. Lalu ia berkata, "Mestinya apa yang kualami pada malam ini merupakan masalah yang amat remeh bagi khalifah Umar bin Khathab."
Rindu akan terobati oleh kehadiran kekasih yang dinantikan. la menghajatkan keberadaan fisik sang kekasih untuk bersua. Saat itulah rasa rindu menemukan jawabannya. Akan tetapi, jika keadaan itu terasa susah terpenuhi, maka menjalin komunikasi yang intens dengan istri, di mana pun kita berada, merupakan obat penawar segala kerinduan itu. Istri juga memiliki hak untuk memiliki kita dan mengharapkan kehadiran kita di sisinya. "Dan, para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf." (QS. AI,Baqarah: 228).
Itulah sebabnya, ketika kita akan bepergian, pesan dari istri yang mengiringi pesan berhati-hati adalah, "Segera kirim kabar kalau sudah sampai." Kerinduan untuk bersama menghadirkan kekhawatiran akan keselamatan suaminya. Oleh karena itu, kesadaran yang harus muncul ketika seorang suami dalam bepergian, dan saat itu tugas telah terselesaikan adalah keputusan nyata untuk segera bertemu dengan istri dan keluarga. Seperti sajak Suminto A. Sayuti di atas; ada saatnya aku harus pulang/ karena rindu karena hasrat menggebu/ buat menjengukmu dan anak-anak kita.
(disalin dari Buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku".