Tampilkan postingan dengan label Himmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Himmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Catatan Tarbiah Delapan Tahun Lalu

Oleh: Muhammad Ode Wahyu

Kembali kucoba membuka lembar demi lembarnya, alhamdulillah kondisinya masih bagus dan bisa terbaca. Dalam keheningan, aku tersenyum memikirkan kisah perjuanganku masa-masa itu, perjuagan bersama sahabat-sahabatku kala baru mengenal manhaj di kelas satu SMA,  cukup berat dan penuh tantangan.  lembaran pertama kubuka dan satu judul pun terlihat “Mujma’ul Ushul Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fil ‘Aqidah (Kumpulan Prinsip-Prinsip Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam Masalah Aqidah).

Lembar kedua, ketiga dan seterusnya berisi qaidah-qaidah penting yang merupakan prinsip dari ahlu sunnah wal jama’ah itu sendiri. Setidaknya ini adalah muraja’ah dan rasa syukurku pada ustadz yang pernah mengajarkan aku manhaj mulia ini. Walau hati ini sedih karena tidak bisa lagi bertemu dan bergabung dalam kafilah dakwahnya.

Hari ini, anakku yang berumur satu tahun memegang buku catatan  sederhana ini, warisan ilmu dari ustadz yang selalu aku bangga-bangakan dahulu, menganggapnya sebagai al qur’an yang ingin ia baca karena melihat dan mendengarkan aku membaca al qur’an.

Tarbiah, aku lahir dari majelisnya, aku mengenal manhaj dari halaqahnya, aku bisa menghafal qur’an dari program-programnya, aku mengahafal hadits arbain juga dalam majelisnya. Olehnya aku selalu bangga dengan tarbiahku delapan tahun yang lalu. Walau orang-orang selalu menyesatkan kami hanya karena bertarbiah.

Jika buku catatan ini masih ada hingga anakku dewasa, semoga dia bisa juga membacanya dan merenungkan kisah-kisah perjuangan ayahnya di waktu mudanya. Semoga saja buku catatan kecil ini bisa menjadi catatan-catatan perjuangan yang akan aku ceritakan pada Rabbku di Surga kelak.

Satu hal yang ku ingat dari kata-kata ustadzku dulu, “ Qayyidul ‘ilma bil kitabah (ikatalh imu dengan menulisnya)
------------
(Muhammad Ode Wahyu/http://wahyuode.blogspot.com)


Senin, 28 Januari 2013

Tegar Bersama Kebenaran


اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَه، وَأرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَه

Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Ya Allah perlihatkan kepada kami bahwa yang batil itu batil, dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk meninggalkannya.”

Do’a tersebut diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syarh Muntahal Iradat. Ibn Katsir juga menyebutkan doa’ tersebut ketika menafsirkan Surat al-Baqarah ayat 213. Do’a ini meskipun singkat tetapi mencakup makna yang luas. Maknanya adalah seorang Muslim memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi taufiq mengenali kebenaran dan diberi kemampuan mengikuti kebenaran tersebut.

Dalam do’a tersebut kita diajari untuk meminta ditunjukan kebenaran dan diberi kemampuan untuk mengamalkannya. Sebab, menjadi pengikut kebenaran, kesulitannya bukan pada mendalaminya secara ilmu atau pengetahuan. Karena itu bisa dipelajari. Kita bisa belajar tentang kebenaran, sedikit demi sedikit. Kita bisa mendalami kebenaran yang diajarkan agama kita atau yang kita rasakan secara jujur melalui fitrah. Tapi yang lebih sulit dalam mengikuti kebenaran bukan pada ketersediaan ilmu yang menjelaskan kebenaran itu, tapi pada kemauan, tekad, dan jiwa kita sendiri. Semua itu harus diawali dari keyakinan untuk mau bersama kebenaran.

Pilihan untuk bersama kebenaran itulah yang sekarang ini tengah asing dan menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan bermasyarakat. Kita bisa menengok, dalam tataran politik, di panggung kekuasaan, dalam interaksi sehari-hari, terlalu banyak orang yang mencampakkan kebenaran. Dalam etika moral, dalam berdagang dan mencari nafkah, terlalu banyak orang-orang yang memilih jalan kebatilan. Terlalu banyak orang yang memilih jalan keburukan dan meninggalkan jalan kebenaran.

Simpul-simpul Kebenaran

Mengikuti kebenaran adalah keniscayaan. Sebab, ia merupakan kunci keselamatan dan kemenangan manusia di dunia dan di akhirat. Akan tetapi kehidupan dunia seringkali mengaburkan kebenaran dan makna kebenaran. Sehingga tidak jarang orang salah memilih dan menilai sesuatu. Lalu bagaimana kita menemukannya? Dari sudut pandang Islam, kita sebenarnya telah dibekali banyak potensi dan sumber pengetahuan yang akan mengantarkan kita kepada kebenaran.

1. Sejalan dengan keinginan Allah dan Rasul-Nya


Boleh jadi setiap orang memiliki standar yang berbeda dalam menilai kebenaran. Tergantung sistem nilai yang dianut dan diyakini setiap mereka. Tetapi bagi kita sebagai Muslim, standar kebenaran sudah jelas yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Sebab, keduanya merupakan himpunan dan kumpulan kebenaran yang datang dari dzat yang Maha Benar, Allah Ta’ala. Tidak boleh ada keraguan terhadapnya. Sehingga apapun yang menurut kita merupakan kebenaran tetapi bertentangan dengan kehendak Allah dan rasul-Nya, maka ia bukanlah kebenaran, melainkan lawan dari kebenaran itu. Fama ba’dalhaqqi illadhalal (Tiada selain kebenaran-dari Allah- melainkan pasti batil).

Allah adalah kebenaran itu sendiri. Maka semua yang datang dari-Nya pasti benar dan tak boleh dibantah.

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Demikianlah, karena Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah Itulah yang batil; dan Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Terjemah QS. Luqman: 29-30)

Standar kebenaran harus melandasi semua pikiran, pandangan dan pendapat kita dalam menilai segala sesuatu. Sehingga orang tidak mudah memperdaya kita dengan berbagai macam propaganda dan tipu dayanya. Para Ulama dan Muslihun telah membuktikan bahwa mereka dapat menaklukkan lawan-lawan mereka para pelopor kebathilan dengan argumen yang lebih kuat. Seperti kisah Imam Ahmad ketika menghadapi kelompok sesat yang menyebarkan paham khalqul Qur’an, suatu paham yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan bukam kalam Allah.

2. Sejalan dengan Fitrah dan suara hati manusia

Terkadang untuk menilai dan mengetahui sesuatu itu benar atau tidak perlu pembuktian dengan dalil. Tetapi cukup dikembalikan kepada suara hati kita. Sebab sebagai manusia kita telah dibekali oleh Allah potensi berupa fitrah yang suci yang tak pernah mengingkari kebenaran. Maka cukuplah ia mengikuti kecenderungan kata hatinya atau fitrahnya.

Contoh sederhana; Seorang awam yang tak tahu hukumnya mencuri, ia tentu pasti tidak tenang ketika mengambil harta orang lain tanpa izin. Ketidaktenangan itu adalah reaksi fitrah dan hati nurani.

Inilah maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seorang sahabat bertanya tentang kebaikan dan keburukan. Dari Nawwas bin Sam’an al anshari beliau berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan keburukan”, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwamu dan engkau tidak suka bila hal itu terlihat oleh manusia (orang lain)” (HR Muslim).

3. Sejalan Dengan Kemaslahatan Manusia

Kebenaran itu adalah maslahat. Ini standar lain yang mengantarkan kita mengenali kebenaran. Secara umum segala seuatu yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia maka ia adalah kebenaran. Dan di dalam Islam maslahat selalu merujuk kepada kebutuhan manusia yang sangat vital yaitu penjagaan kepada lima hal : Agama, Nyawa/jiwa, harta, akal, dan keturunan.

Imam Al Ghazali rahimahullah pernah berkata: “Sesungguhnya mengambil manfaat dan menolak mudharat merupakan tujuan penciptaan makhluk dan kemaslahatan makhluk dalam memperoleh tujuan mereka. Yang kami maksud dengan maslahat yaitu menjaga apa yang dikehendaki oleh syariat. Dan yang dikehendaki oleh syariat untuk dijaga ada lima; Menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Maka setiap yang dapat menjamin penjagaan dan pemeliharaan lima perkara pokok ini, disebut maslahat. Dan setiap yang meniadakan atau melanggar kelima hal ini berarti kerusakan atau mafsadat, dan menolak mafsadat itu berarti maslahat.”

4. Kebenaran Bukan Berdasarkan Hawa nafsu dan Orang Banyak

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Terjemah Qs. al-Mukminun: 71)

Fitrah manusia tidak sekadar mengakui sebuah kebenaran, tetapi ia juga menjadi pendorong dalam diri untuk mengikuti kebenaran itu apa adanya tanpa ada maksud dan kepentingan tertentu yang akan menodai hati fitrah, mengkhianati hati nurani dan mengotori kebenaran itu sendiri. Kebenaran tidak akan pernah berpadu dengan hawa nafsu, selamanya tidak akan sejalan.

Demikian pula dengan banyaknya orang yang menjalani sesuatu, bukan jaminan bahwa ia adalah kebenaran. Banyak orang, dalam kehidupan nyata kerap mempertontonkan diri sebagai pelaku, pengikut dan pelopor kebenaran, menyeru sebanyak-banyaknya orang untuk ikut bersamanya. Padahal nurani yang tak dapat dibohonginya, selalu resah karena tahu bahwa apa yang ia lakukan sekadar untuk meraih kehormatan, jabatan,dan juga harta. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dengan firman-Nya (yang artinya):

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta [terhadap Allah]. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS: Al-An’am :116-117).

Maka janganlah kita tertipu dan disilaukan oleh kekuatan seseorang dan banyaknya jumlah pengikut mereka, sehingga kita pun merasa perlu berbondong-bondong dan berkumpul di sekitar mereka. Jangan sampai kita menjadi seperti sekumpulan laron yang terperangkap oleh silaunya cahaya lampu, lalu kemudian binasa satu persatu oleh cahaya itu. Tetapi hendaknya kita menjadi kelompok yang senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran yang suci yang terbebas dari tujuan dan kepentingan tertentu dil luar kepentingan menegakkan agama Allah dan mencari ridha-Nya.

5. Kebenaran tetap selalu Kokoh, Meski terus dimusuhi
Ciri lain dari kebenaran adalah, bahwa para pengikut dan pengusungnya tetap kokoh meski terus dimusuhi. Mereka senantiasa konsisten menjalaninya meski mendapatkan penolakan dari manusia. Berbagai tantangan yang menghadang tak pernah menyurutkan langkah pejuang kebenaran untuk terus berjuang. Sebab mereka yakin bahwa kesabaran dan keteguhan mereka akan menjadi sebab datangnya pertolongan dan peneguhan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan senantiasa ada suatu kelompok dari ummatku yang eksis di atas kebenaran. Mereka tidak dimudharatkan oleh pihak-pihak yang memusuhi mereka. Mereka tetap eksis hingga datang hari kiamat”. (HR Muslim).

Tegar di atas kebenaran telah ditunjukan oleh para nabi dan rasul utusan Allah. Tidak ada satu nabipun yang tidak mendapatkan penolakan permusuhan dari manusia. Bahkan, terkadang permusuhan tersebut berasal dari orang-orang dekat. Sikap yang sama juga dapat kita lihat dari keteguhan para pelanjut risalah Nabi dan Rasul. Waratsatul Anbiya, para pewaris Nabi dari kalangan ulama yang terus berupaya melanjutkan perjuangan Nabi. Mereka pun ditolak dan dimusuhi seperti para Nabi dan Rasul dimusuhi. Namun permusuhan itu tidak menggoyahkan semangat mereka dalam menyebarkan kebenaran. Hal ini menjadi indikasi bahwa apa yang mereka sampaikan adalah kebenaran sejati. Apa yang mereka usung adalah kebenaran yang bersumber dari Dzat yang Maha Benar, Allah Ta’ala.

Allaahumma arinal haqqa haqqan, warzuqnattibaa’ah. Wa arinal bathila bathilan, warzuqnajtinaabah.[] (Syams)

Sumber: http://wahdahmakassar.org/tegar-bersama-kebenaran/#ixzz2JJVHZI6L

Minggu, 21 Oktober 2012

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN


 Dr. Abdul Muhsin Al Qasim 
 ( Imam dan Khatib masjid Nabawi)

 Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:

Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:

1-    Bacalah ayat pertama 20 kali:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}

2-    Bacalah ayat kedua 20 kali:
وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}

3-    Bacalah ayat ketiga 20 kali:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}

4-    Bacalah ayat keempat 20 kali:
وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}

5-    Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.

6-    Bacalah ayat kelima 20 kali:
وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}

7-    Bacalah ayat keenam 20 kali:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}

8-    Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}

9-    Bacalah ayat  kedelapan 20 kali:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}

10-    Kemudian membaca  ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
11-    Bacalah ayat  ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?
    Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

BAGIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG (MURAJA'AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
    Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al quran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.
Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah enghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.

Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiapharinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DIATAS?

Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran  setiap dua minggu sekali.
Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.

APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR AN SELAMA SATU TAHUN?

Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun,  jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam semasa hidupnya, beliau membagi al qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.

Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: "kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat,  dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)". (HR. Ahmad).
Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:
-    Hari pertama: membaca surat "al fatihah" hingga akhir surat "an-nisa",
-    Hari kedua: dari surat "al maidah" hingga akhir surat "at-taubah",
-    Hari ketiga: dari surat "yunus" hingga akhir surat "an-nahl",
-    Hari keempat: dari surat "al isra" hingga akhir surat "al furqan",
-    Hari kelima: dari surat "asy syu'ara" hingga akhir surat "yaasin",
-    Hari keenam: dari surat "ash-shafat" hingga akhir surat "al hujurat",
-    Hari ketujuh: dari surat "qaaf" hingga akhir surat "an-naas".
   
    Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: " Fami bisyauqin ( فمي بشوق ) ", dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:
-    huruf "fa" symbol dari surat "al fatihah", sebagai awal wirid beliau hari pertama,
-    huruf "mim" symbol dari surat "al maidah", sebagai awal wirid beliau hari kedua,
-    huruf "ya" symbol dari surat "yunus", sebagai wirid beliau hari ketiga,
-    huruf "ba" symbol dari surat "bani israil (nama lain dari surat al isra)", sebagai wirid beliau hari keempat,
-    huruf "syin" symbol dari surat "asy syu'ara", sebagai awal wirid beliau hari kelima,
-    huruf "wau" symbol dari surat "wa shafaat", sebagai awal wirid beliau hari keenam,
-    huruf "qaaf" symbol dari surat "qaaf", sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat "an-nas".

Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?

    Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan  cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:
1-    Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.
2-    Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.
3-    Hafalkanlah mulai dari surat an-nas hingga surat al baqarah (membalik urutan al Qur an), karena hal itu lebih mudah.
4-    Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.
5-    Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa "tajmi'" (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang  sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah swt, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini. Amin ya rabal 'alamin.

Selasa, 02 Oktober 2012

5 Hal Yang Perlu Diwaspadai Oleh Para Istri Pejuang

Sungguh tidak mudah menjadi pejuang, apapun ideologi yang diperjuangkan. Lebih tidak mudah lagi  menjadi isteri kepada seorang pejuang. Hidupnya selalu diselimuti ketidakpastian.  Mayoritas isteri pejuang sadar dan tahu bahwa hidupnya akan serba kekurangan secara hakiki mahupun maknawi. Tidak jarang, wujud di kalangan mereka yang tidak menyedari bahwa suaminya adalah pejuang. Pejuang apa saja, khususnya pejuang agama; para mujahidin, ulama, dai dan para pembela agama Allah lain.

Namun merekalah makhluk paling setia, paling dipercaya, paling dapat diharap dan paling segalanya di dunia. Mereka taman mekar tempat para suami mendapatkan ketenangan, tiang teguh tempat para suami bersandar  di kala lelah menyapa jiwa, tali pegangan kukuh waktu badai melanda dan seringkali pembela terhandal yang dapat diandalkan saat seluruh dunia menyalahkan, mengecam dan memalukannya.

Merekalah antara pendorong utama yang membuat para suami berani melangkah, meningkatkan kualitas diri dari aspek ukhrawi dan duniawi. Di waktu yang sama, bila peran isteri tidak dimainkan dengan panduan iman dan taqwa, maka mereka dapat berubah menjadi pemusnah hebat.

Justru, jika para istri  ingin bergelar 'syarikatul hayat' (pasangan kehidupan) bagi suami di dalam bersama-sama  menggapai ridha Allah dan jannah-Nya, beberapa sifat dan kebiasaan buruk wajib kita dihindari atau setidaknya diusahakan agar tidak melampaui batas.

Cinta Dunia

  
Fitrah perempuan sukakan keindahan dan kesempurnaan. Adalah merupakan impian dan idaman setiap isteri akan segala sesuatu yang indah dan menyenangkan; wajah dan pakaian yang cantik, rumah dan kendaraan yang bagus, peralatan rumahtangga yang lengkap dan terbaru, gadget tercanggih, pendidikan dan sekolah anak-anak yang terbaik dan mahal dan tentunya atau uang yang tiada susutnya.

Kesalatan mengatur dan mengatur rasa senang pada segala bentuk kemewahan ini akan membuahkan kecintaan dan keterikatan pada hal-hal berbentuk material, yang andai dibiarkan berlarutan tanpa kendali iman, dapat mengakibatkan munculnya sifat bakhil dan mementingkan diri sendiri.

Dalam hal ini, hanya zuhud dan qana'ah yang mampu menjadi tali kekangnya. Menurut Imam  Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, zuhud bermakna mengosongkan hati dari kesibukan diri dengan dunia, sehingga orang tersebut dapat berkonsentrasi untuk mencari ridha Allah, mengenal-Nya, dekat kepada-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan rindu menghadap-Nya.

Profesor Dr. HAMKA rahimahullah mengatakan qanaah terdiri atas 5 hal; menerima dengan rela akan apa yang ada, memohon kepada Rabb akan tambahan yang pantas dan berusaha, menerima dengan sabar akan ketentuan-Nya, bertawakkal kepada-Nya dan tidak tertarik dengan tipu daya dunia.

Jadi, salahkah memiliki kemewahan jika memang ditakdirkan memilki kemewahan? Jawapannya, tidak salah. Sama sekali tidak salah, selama ia tidak dijadikan tambatan hati dan selama ia tidak mendorong para suami melakukan korupsi demi memenuhi keinginan isteri, termasuk korupsi harta maupun korupsi jiwa. Dalam arti kata lain, tidak salah memiliki segalanya selama ia dimanfaatkan dalam usaha meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Cemburu Buta

Cemburu tanda cinta, kata sebagia orang. Namun sengaja diletakkan kalimat 'buta' di sini yang menunjukkan hanya aksi dan reaksi cemburu saja yang dibenarkan. Sudah seharusnya seorang isteri memiliki perasaan cemburu terhadap suaminya.

Perasaan cemburu yang positif akan memacu dirinya untuk giat menyaingi langkah suami dalam beramal, menjadi motivasi kuat untuk dia belajar dan bekerja lebih gigih dalam membantu usaha dakwah suami dan mendorongnya untuk lebih kreatif dalam memastikan gerak suami selalu berada di dalam koridor syar'i.

Apa yang tidak harus terjadi ialah, membabi-buta mencemburui suami sehingga rasa cinta yang ada sedikit demi sedikit berubah menjadi obsesi yang disertai sikap posesif dan diiringi prasangka buruk tanpa penghujung.

Di dalam banyak situasi, bukan cemburu yang menghambat langkah suami, atau lebih dahsyat, mematikan rasa kasihnya, sebaliknya adalah kebutaan yang mengiringi rasa cemburu tersebut. Buta di sini bermaksud, tidak lagi dapat memisahkan antara cinta kerana Allah dan rasa memiliki, antara keinginan diri dan keperluan syar'ie dan antara realiti dan fantasi.

Mudah Kecil Hati

Gunjingan orang, tatapan yang tidak bersahabat, ketidakcukupan nafkah dan kekurangan harta benda, tidaklah layak menjadikan hati insan beriman (istri para pejuang) berkecil hati terus menerus, sehingga mengakibatkan rasa rendah diri, tersinggung dan tidak mustahil, pada suatu hari menimbulkan benci.

Orang-orang dengan hati yang mudah menciut ini biasanya adalah orang-orang yang selalu membesar-besarkan hal yang kecil. Dan hatinya yang kecil itu akan terlihat dari raut wajah dan sikap yang ditunjukkannya, baik itu disengaja ataupun tidak. Sesama saudara dan sahabat saja ia memberi kesan, apalagi suami isteri.

Tanpa disadari, keceriaan dan mood isteri banyak mempengaruhi  sikap dan mood suami. Selemah manapun seorang suami, bila didukung oleh sikap dan semangat isteri yang kuat, pastilah akan kuat juga, insyaAllah. Demikian pula sebaliknya.

Suka Bercerita

Sebenarnya para suami sangat suka apabila isterinya bercerita. Justru dari cerita-cerita isterilah, dia memaklumi banyak hal yang tidak dapat dia ikuti dengan saksama disebabkan kesibukannya.

Namun, sikap suka bercerita dengan pengertian bercerita tanpa koma, tanpa mengenal waktu dan tempat, hanya akan membuat suami merana dan tidak betah di rumah, terutama jika cerita-cerita yang dibawa lebih menjurus kepada ghibah (gunjingan) dan fitnah. Perkelahian mungkin meletus dan lebih buruk akibatnya apabila cerita di dalam rumah pun ikut menjadi bahan cerita ke mana-mana.

Khususnya di dalam keluarga dengan fikrah perjuangan, tabiat suka bercerita yang tidak terkawal, pada suatu saat dapat mengundang musibah. Bagaimana tidak, jika semua aktivitas suami 'dilaporkan' kepada semua orang; hal-hal penting, kepergiannya,  dengan siapa saja suaminya berteman dan banyak hal lain yang seolah-olah disangkanya sebagai hal remeh?

Fenomena akhir zaman, dunia tanpa batas telah memburukkan lagi sikap ini dan membuat keadaan jauh lebih gawat karena jumlah yang mendengar (membaca) ceritanya mungkin jauh di atas ribuan orang. Cerita yang bagi dirinya adalah cerita biasa, besar kemungkinan adalah cerita luar biasa buat orang lain. Apalagi jika hal itu disahre jejaring sosial tanpa batas.

Cepat Merajuk, Sukar Dibujuk

Kata orang, merajuk pada yang sayang. Kalau tidak kepada suami, kepada siapakah lagi seorang isteri merajuk? Rajuk memang sinonim dengan perempuan. Dan ada bermacam gaya rajuk. Selama ia tidak keluar dari landasan syar'i, maka rajuknya adalah sah.

Masalah timbul apabila rajuknya sukar dibujuk, sehingga menghalangi keharmonian hubungan suami isteri, menimbulkan kekeliruan dan ketakutan pada jiwa anak-anak dan menjatuhkan air muka dan wibawa suami.

Tidak seyogyanya seorang isteri merajuk berpanjangan, apalagi tanpa alasan dan sebab.  Seorang suami juga adalah seorang manusia yang kadang disebabkan kelemahannya, pada suatu ketika dapat mematiksan rasa putus asa dan amarah mengalmi kesesakan fikiran dan ketidakstabilan emosi. Rajuk yang aslinya merupakan hasil dari kemanjaan, kini justru menjadi berubah seolah bara dalam sekam, perlahan-lahan membakar jiwa. Tak jarang, rajuk berpanjangan membuat seseorang lupa kenapa dia merajuk pada awalnya?

Akhirnya, rumahtangga yang dibina dengan tujuan memperolehi sakinah dan merangkul mawaddah wa rahmah, gagal menjadi tempat suami melabuhkan semua rasa.

Tonggak utama Kemenangan Umat

Masih banyak sikap negatif yang lain, namun dapat dikatakan bahwa sikap-sikap yang lain hanya timbul apabila 5 sikap ini merajalela tanpa kendalian sempurna. Dengan maraknya kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan Muslimin akhir-akhir ini, sikap -sikap seperti ini sama sekali tidak membantu perjuangan suami.

Kejayaan ummat yang bermula dengan sebuah ikatan rumahtangga sangat tergantung pada kerjasama 2 tonggak utama; yakni pasangan suami isteri.
Jatuh bangun seorang suami, teguh dan kentalnya dia mengharungi onak dan duri, kukuh dan sabarnya menghadapi pasang surut kehidupan, harus diakui sangat dipengaruhi oleh jiwa, sikap dan semangat isterinya yang ada di rumah. Fakta menunjukkan, di belakang pria kuat, selalu ada wanita hebat. Justru, di situlah letak makna se-iya-sekata, sehati-sejiwa' dalam mengukuhkan perjuangan.Wallahu a'lam.*/ disalin dari tulisan Paridah Abbas di www.hidayatullah.com.

HIDUP BAHAGIA TANPA TV (1).



Setiap anak harus mengembangkan perasaan bahwa mereka dapat “mengubah dunia” dan memiliki kekuatan dari dalam (inner strength) dan percaya bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Secara alamiah, dorongan ini muncul pada diri anak semenjak bayi. Mereka belajar menggunakan tangis, senyum, gerakan dan suara-suara untuk memanggil orangtuanya, meminta perhatian dan “memaksa” orangtua memenuhi keinginannya.

Usia dua tahun, dorongan untuk mengembangkan kemampuan “mengubah dunia” itu semakin menguat. Para ahli menyebut rentang usia dua hingga empat tahun sebagai the terrible twos atau masa-masa dua tahun yang “mengerikan”. Ungkapan ini mungkin terasa berlebihan. Tetapi pada prinsipnya, para ahli menyampaikan pesan dengan ungkapan ini bahwa anak-anak usia dua hingga empat tahun sedang mengembangkan kemampuannya mengatur, memaksa, menolak perintah dan melakukan tawar-menawar terhadap aturan orang dewasa. Lebih-lebih jika diperintah secara tiba-tiba, mereka cenderung menunjukkan perlawanannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa mereka tidak bisa dipaksa.

Kecenderungan ini sangat alamiah. Setiap anak harus memiliki dorongan ini sebagai bekal untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Orangtua maupun guru di sekolah berkewajiban menumbuhkan sense of competence ini pada diri anak, terutama usia 4-8 tahun. Jika anak memiliki perasaan ini secara memadai pada rentang usia 4-6 tahun, mereka akan lebih siap untuk memasuki fase pendisiplinan diri pada usia 7 tahun. Pada saat yang sama, orangtua maupun guru di sekolah tetap berkewajiban membangun sense of competence hingga usia 8 tahun sehingga mereka memiliki citra diri, harga diri serta percaya diri yang baik.

Mengapa fase pendisiplinan dimulai pada usia 7 tahun? Ini berkait dengan perintah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ”Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkanlah dia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukullah dia apabila meninggalkannya.” (HR. Abu Dawud).

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wa sallam  bersabda, ”Ajarkanlah anakmu tata cara shalat ketika telah berusia tujuh tahun. Dan pukullah dia pada saat berusia sepuluh tahun (apabila meninggalkannya).” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita bahwa mendisiplinkan anak shalat dimulai pada usia tujuh tahun. Bukan usia sebelumnya. Kita perlu memberi pendidikan iman, akhlak dan ibadah sedini mungkin. Tetapi ada prinsip lain yang harus kita perhatikan: berikanlah pendidikan tepat pada waktunya. Sesungguhnya, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wa sallam  dan sebaik-baik perkataan adalah firman Allah ’Azza wa Jalla, yakni kitabullah al-Qur’anul Kariim.

Jadi, kalau anak yang belum berusia tujuh tahun tidak mengerjakan shalat, kita harus memaklumi dan melapangkan hati. Tugas kita adalah menumbuhkan perasaan positif terhadap kebiasaan yang ingin kita tumbuhkan, membangkitkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi) serta menjamin bahwa mereka memiliki harga diri yang tinggi. Kita memperlakukan mereka secara terhormat, tetapi bukan memanjakan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman;
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS: Thaahaa [20]: 132).

Sabar. Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun. Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau…, kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah berusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit. Lantas, apa hubungan dengan televisi? Mohon sabar menunggu pembahasan berikutnya.Wallahu ’alam bishawab.*
Sumber: Tulisan Ust Mohammad Fauzil Adhim di www.hidayatullah.com.

Kamis, 15 Desember 2011

Sepucuk Surat Perjuangan; Teruntuk Jiwa-Jiwa Perindu Kemenangan

(Dalam Rangka Mendukung Semangat Muktamar II Wahdah Islamiyah)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu…!

Segala puji itu hanya menjadi hak Allah. Dialah Dzat yang memunculkan para ulama yang masih saja tersisa di setiap zaman. Para ulama tersebut mendakwahi orang yang tersesat kepada hidayah, dan mereka bersabar atas berbagai gangguan. Dengan kitab Allah, mereka hidupkan orang-orang yang hatinya sudah mati. Mereka perlihatkan cahaya Allah kepada orang yang buta mata hatinya. Betapa banyak korban iblis yang berhasil mereka selamatkan. Betapa banyak orang yang tersesat dan bingung berhasil mereka tunjuki jalan yang benar. Betapa bagus pengaruh mereka di tengah-tengah manusia dan betapa jelek balasan manusia terhadap mereka. Para ulamalah yang mengingkari penyelewengan makna Al-Qur’an yang dilakukan oleh orang-orang yang berlebih-lebihan serta pemalsuan yang dibuat oleh para pembela kebatilan. Yaitu, orang-orang yang memasang tali bid’ah dan mengencangkan ikatan fitnah. Mereka memperdebatkan kitabullah, menyelisihi Alquran, dan sepakat untuk keluar dari aturan Alquran. Mereka berbicara atas nama Allah, tentang Allah, dan tentang kitabullah, tanpa dalil. Mereka membicarakan tentang hal yang rancu dan menipu manusia-manusia bodoh dengan kerancuan berpikir yang mereka sebarkan. Kami berlindung kepada Allah dari ujian karena orang-orang yang sesat. (Mukadimah yang disampaikan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya, Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah wa Az-Zanadiqah). Shalawat dan salam tercurah untuk Rasulullah, para keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang tunduk lagi taat kepada beliau. Amma ba’du ….

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (Terjemah al-Qur’an Al-Hujuraat(49): 15)

Dari Abu Abdullah, yaitu Khabbab bin Aratti Radhiyallahu ‘Anhu, katanya: “Kita mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau ketika itu meletakkan pakaian burdahnya di bawah kepalanya sebagai bantal dan berada di naungan Ka’bah, kita berkata: “Mengapa Tuan tidak memohonkan pertolongan – kepada Allah – untuk kita, sehingga kita menang? Mengapa Tuan tidak berdoa sedemikian itu untuk kita?” Beliau lalu bersabda: “Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelummu – yakni zaman Nabi-nabi yang lalu, yaitu ada seorang yang diambil – oleh musuhnya, karena ia beriman, kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi, selanjutnya didatangkanlah sebuah gergaji dan ini diletakkan di atas kepalanya, seterusnya kepalanya itu dibelah menjadi dua. Selain itu iapun disisir dengan sisir yang terbuat dari besi yang dikenakan di bawah daging dan tulangnya, semua siksaan itu tidak memalingkan ia dari agamanya -yakni ia tetap beriman kepada Allah. Demi Allah niscayalah Allah sungguh akan menyempurnakan perkara ini – yakni Agama Islam, sehingga seseorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau karena takut pada serigala atas kambingnya – sebab takut sedemikian ini lumrah saja. Tetapi engkau semua itu hendak bercepat-cepat saja.” (HR. Bukhari)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, mengatakan; “Ketahuilah semoga Allah senantiasa memperbaiki diri kalian, ni’mat terbesar bagi orang yang Allah kehendaki pada dirinya adalah ketika Allah menghidupkannya sekarang ini, zaman ketika Allah tengah memperbaharui agama-Nya. Dia menghidupkan kembali syiar kaum muslimin. Dia menghidupkan ihwal kaum mu’minin dan para mujahidin, sehingga keadaannya mirip dengan Assabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka siapa saja yang melaksanakan semua ini di zaman sekarang, berarti ia termasuk orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Maka sudah selayaknya kaum mukminin bersyukur kepada Allah atas ujian yang pada hakikatnya adalah anugerah dari Allah ini. Seharusnya mereka mensyukuri terjadinya fitnah yang didalamnya terdapat nikmat besar. Hingga seandainya para sahabat Assabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan yang lainnya Radiyallahu ‘anhum ajmain, mereka hadir ditempat ini, tentu amalan yang mereka lakukan adalah berjuang melawan orang-orang jahat itu. Dan tidak ada yang ketinggalan dari peperangan seperti ini selain orang yang merugi perdagangannya, dungu jiwanya, dan diharamkan untuk mendapatkan bagian besar dari Dunia dan Akhirat.”

Duhai jiwa-jiwa yang takut pada Rabb yang Menguasai jiwa. Tertunduk hina pada Rabb, yang kepada-Nya makhluk bersujud. Duhai jiwa-jiwa yang suka mengadu pada Rabb, yang sempurna nama-nama-Nya.Duhai jiwa-jiwa yang merasakan indahnya munajat. Menautkan hati pada jalan perjuangan. Duhai jiwa-jiwa yang saling mencintai karena Allah. Merindukan kemenangan terindah.

Duhai para generasi pejuang. Duhai para generasi pemenang. Kepada kalian diwariskan kesucian Islam. Kepada kalian diwariskan risalah ilmu. Kepada kalian diwariskan risalah amal. Kepada kalian diwariskan risalah dakwah. Karena kesucian Islam tidak mungkin diperjuangkan pada mereka generasi pecundang. Pada mereka generasi bodoh. Pada mereka generasi pengkhianat. Pada mereka generasi pembeo. Pada mereka generasi pezina. Pada mereka generasi pemalas.

Duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Bersiaplah, kemenangan itu telah dekat. Bersiaplah dengan aqidah yang kokoh. Bersiaplah dengan al bashirah. Bersiaplah dengan kekuatan azzam yang lurus. Duhai jiwa-jiwa pejuang. Nikmatilah, angin kemenangan telah berhembus. Nikmatilah, melangkah pada setiap kerikil tajam yang mengoyak. Jalan yang panjang lagi bertabur duri. Nikmatilah, merayap pada setiap kawat siap menyayat kulit. Nikmatilah, dengan semangat dan mujahadah. Dengan air mata curhat di hadapan Allah. Nikmatilah, dengan senyuman indah di hadapan manusia. Nikmatilah, dengan pengorbanan dan kesabaran.

Duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Lihatlah, bendera kemenangan sudah berada di depan mata. Lihatlah, ada kilauan mutiara yang hendak mengalihkan perhatianmu. Ada kesenangan dunia yang hendak melenakanmu. Lihatlah, ada godaan syahwat yang terus meronrong imanmu. Ada kenikmatan semu yang hendak membuaimu. Lihatlah, ada rengekan istri-istrimu yang meminta ditemani. Ada tangis anak-anakmu yang meminta dibelikan mainan. Lihatlah, ada tuntutan orang tuamu untuk membuatnya tersenyum. Lihatlah, syaithan bersarang dalam dada mengalir dalam darah. Lihatlah, syaithan masuk dalam semua lini tuk membuatmu berkata; “Apa gunanya aku memperjuangkan ini? Apa yang kudapat di jalan ini? Yang ada hanya kelaparan dan rasa takut. Yang ada hanya penderitaan dan kesedihan. Sungguh terlalu berat beban yang harus ditanggung. Toh masih ada orang lain. Mengapa mesti aku?

Aku sudah lelah di jalan ini. Aku tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan” Akhirnya engkau mengatakan; “Aku mundur dari jalan ini…”

Kemudian menghilang tanpa jejak. Hingga, engkau ditemukan tanpa beda dengan para pengejar dunia. Habiskan waktu hanya untuk uang dan uang. Tak beda dengan para preman. Habiskan waktu untuk merusak. Tak beda dengan para hidung belang. Mata jelalatan. Tak beda dengan para pelacur. Berpakaian tapi telanjang.

Tak beda dengan penyembah kuburan. Beribadah tapi juga ke dukun. Tak beda dengan orang kafir. Bahkan juga ikut menghancurkan Islam.

Duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Sudah teguhkah azzam yang kau pancang? Benarkah perjuanganmu karena Allah? Mundurlah, dan luruskan kembali niatmu. Jika, nafsu masih merajaimu. Kilauan permata masih menyilaukanmu Kesenangan dunia masih melenakanmu Syaithan masih bersarang di dadamu dan menjadi teman setiamu. Kenikmatan semu masih membuaimu dan menutup mata batinmu. Percayalah, semua itu adalah keindahan sesaat yang akan menggoyahkan tekadmu. Allah Azza Wa Jalla sengaja ciptakan itu sebagai ujian bagimu! Berbahagialah jika kau menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan akhirmu, puncak kerinduanmu. Dan jadilah sebagai orang-orang yang beruntung! Untukmu, duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Untukmu setiap diri yang mengaku penuntut ilmu. Untukmu setiap diri yang mengaku ahli ibadah. Untukmu setiap diri yang mengaku sebagai pejuang. Untukmu setiap diri yang mengaku aktivis dakwah, mengajak kepada jalan yang lurus. Ketika jalan ini mulai terasa berat dan melelahkan. Maka ingatlah azzam yang dipancangkan sebelumnya. Luruskan kembali niat. Apakah dunia yang fana lebih kau cintai daripada kampung akhirat yang kekal abadi?

Dakwah telah memanggilmu! Umat menunggu pencerahan darimu! Letih sudah mata ini menyaksikan kemaksiatan merajalela. Lelah sudah kaki melangkah, karena setiap jengkal yang dipijak, bumi merasa terdzolimi oleh manusia-manusia tak beradab. Lunglai tubuh ini ketika mendapati hukum-hukum Allah diganti dengan hukum-hukum makhluk yang hanya menebar kerusakan. Perih hati ini ketika menemukan thoghut-thoghut bersarang di dalamnya. Menangis batin ini menyaksikan saudara-saudara seiman, seislam, dan seaqidah saling caci, saling menyalahkan, saling bermusuhan. Lalu ke mana perginya ukhuwah? Apakah ukhuwah hanya berlaku pada segolongan atau sekelompok umat yang bernaung dalam satu jamaah?

Untukmu, jiwa-jiwa perindu kemenangan dipersembahkan sepucuk surat perjuangan ini. Jangan pernah engkau tinggalkan jalan ini. Jangan pernah engkau tanggalkan pakaian perjuangan yang telah engkau pakai. Sebagai penutup dengarkanlah khutbah Ibnul Jauzy:

“Wahai Manusia, mengapa kalian melupakan agama kalian? Mengapakah kalian menanggalkan harga diri kalian? Mengapa kalian tidak mau menolong agama Allah, Sehingga Allah pun tidak menolong kalian? Kalian kira harga diri (‘izzah) itu milik orang musyrik, padahal Allah telah jadikan harga diri itu milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Celakalah kalian! Tidak pedih dan terlukalah hati kalian melihat musuh-musuh Allah dan musuh kalian menyerang tanah air kalian yang telah disuburkan oleh bapak-bapak kalian dengan darah? Musuh menghina dan memperbudak kalian. Padahal dulu kalian adalah para pemimpin dunia! Tidaklah hati kalian bergetar dan emosi kalian meledak menyaksikan saudara-daudara kalian dkepung dan disiksa dengan berbagai siksaan dari musuh? Hanya makan minum dan bernikmat-nikmat dengan kelezatan hidup sajakah kalian. Sementara saudara-saudara mu disana berselimutkan jilatan api. Bergelut dengan kobarannya dan tidur diatas bara?
Wahai Manusia! Sungguh perang suci telah dimulai. Penyeru jihad telah memanggil. Pintu-Pintu langit telah terbuka. Jika kalian tidak mau menjadi pasukan berkuda dalam perang. Bukalah jalan untuk kaum wanita agar mereka bisa berperang! Pergi sajalah kalian dan ambillah kerikil dan celak mata. Wahai wanita bersurban dan berjenggot! Jika tidak, pergilah mengambil kuda-kuda. Inilah dia tali kekangnya untuk kalian…..! Wahai manusia, tahukah kalian dari apa tali kekang ini dibuat? Kaum wanita telah memintalnya dari rambut mereka. Karena mereka tidak punya apa-apa selain itu.

Demi Allah, Ini adalah gelungan rambut wanita-wanita pingitan yang belum pernah tersentuh oleh sinar matahari. Karena mereka sangat menjaga dan melindunginya; mereka terpaksa memotongnya karena zaman bercinta sudah selesai dan babak perang suci telah dimulai,babak baru perang di jalan Allah! Jika kalian masih tidak sanggup mengendalikan kuda, ambil saja tali kekang ini dan jadikanlah sebagai kucir dan gelang rambut kalian, Sebab tali kekang itu terbuat dari rambut wanita!
Sungguh, berarti tidak ada lagi perasaan dalam diri kalian!”

Setelah itu Ibnul Jauzi melempar tali kekang itu dari atas mimbar dihadapan khalayak ramai seraya berteriak lantang. “Bergeraklah wahai tiang-tiang masjid. Retakkanlah wahai bebatuan, dan terbakarlah wahai hati! Sungguh hati ini sakit dan terbakar, para lelaki telah menanggalkan kejantanan mereka!”

Dari Sudut Serambi Madinah; Subhan Husain (www.wimakassar.org)

Senin, 02 Mei 2011

Menjemput Taqdir

Suatu hari lelaki itu didatangi oleh tamu asing. Sesaat setelah memperkenalkan diri, sang tamu menyampaikan maksud kedatangannya. Rupanya sang tamu datang untuk menawarkan sesuatu yang tidak lazim. Jauh-jauh ia datang dari Bulgaria untuk menghadiahkan salah satu bola matanya untuk lelaki itu. Untuk tujuan itu ia tidak main-main, ia telah berkonsultasi dan telah mengantongi persetujuan dari seorang dokter spesialis.

Tawaran surprise untuk lelaki itu bukan kali itu saja, tapi beberapa kali. namun demi mendengar semua tawaran itu, lelaki itu menolak dengan halus, sehalus perangainya. Ia hanya mengatakan, “Semoga Allah memberkati kedua matamu dan memberi Anda manfaat. Kami telah redha dengan apa yang ditakdirkan Allah pada kami”. Ia menerima takdirnya sebagai penyandang tunanetra.

Laki-laki itu memang buta, tapi itu tidak menghalanginya menjadi cemerlang. Sebelum baligh ia sudah menghafal al-Qur’an. Bahkan ada yang mengatakan ia menghapal dan menguasai dengan baik Shahih al-Bukhari. Ini terlihat dari catatan komentarnya atas buku Fathul Bary penjelasan dari kitab Shahih Bukhari serta meluruskan berbagai kekeliruan aqidah yang mewarnai karya monumental Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut. Karena kecemerlangannya, lelaki ini menduduki posisi prestisius sebagai Mufti Umum dan ketua Hay’ah Kibar Ulama di Negara di mana ia berada

Kondisi lelaki ini juga tidak menghalanginya menuliskan karyanya dari berbagai macam topik; aqidah, hukum, tafsir, biografi yang sebagian besarnya merupakan respon atas kondisi kontemporer umat Islam. Semua itu terakumulasi dalam buku bernama Majmu’ Fatawa, karya master peace-nya yang semakin meneguhkan posisinya sebagai ulama dunia.

Dari sini kita mengerti bagaimana kekurangan tidak menjadi penghalang untuk meraih kecemerlangan. Begitulah tekad bekerja. Tekad memformulasi sedemikian rupa berbagai macam kekurangan, ketiadaan sarana, keterbatasan fasilitas menjadi ‘tidak lebih besar’ dari pada cita-cita dan harapan. Bahkan dalam konsdisi tertentu berbagai macam kelemahan dan keterbatasan itu akan bertekuk lutut di depan tekad yang membaja.

Lelaki itu, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz adalah bintang cemerlang di langit zamannya. Dengan keterbatasannya ia menyuplai cahaya untuk umatnya. Ia menerima takdirnya sebagai penyandang tuna netra untuk selanjutnya menjemput takdirnya yang lain sebagai ulama mumpuni abad ini.(sumber :http://tanaasuh.com/menjemput-takdir/)

Minggu, 01 Mei 2011

Menikmati Kegagalan

“Seorang mukmin tidak jatuh dua kali ke satu lubang (yang sama)."
(HR. Bukhari)

Mengalami kegagalan ibarat mengunyah brotowali, pahit rasanya dan sangat tidak enak. Ini sekadar ilustrasi betapa kegagalan sangat tidak diinginkan setiap orang. Apa lagi jika kita sudah mengerahkan usaha secara maksimal. Faktor keberhasilan juga telah dipenuhi. Tapi, hasilnya ternyata jauh dari yang diharapkan. Karena itu, wajar jika orang merasa frustasi bila nasib ini menimpanya. Kegagalan memang takdir yang tak dapat diubah. Namun, frustasi bukan jawaban tepat karena tak dapat mengubah keadaan. Kegagalan adalah keniscayaan tapi bangkit dan berusaha lagi adalah pilihan. Inilah yang membedakan antara pemenang dan pecundang.

Tak Ada Kambing Hitam

Semua orang pernah mengalami kegagalan dengan bentuk dan kadar yang berbeda-beda. Agar lebih baik, tetaplah berhusnudzan, berfikir positif bahwa itu hanyalah tapak awal menuju kemenangan. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam pernah mengalami saat terberat dalam hidupnya ketika berdakwah kepada orang Thaif. Beliau sangat berharap mereka memeluk Islam. Namun, tak ada satu orang pun yang menerima. Ajakan ramah beliau dijawab dengan cercaan dan siksaan. Bayangkan seorang Rasul yang mulia diusir keluar kampung dengan dihina. Beliau terus dilempari batu dan kerikil sepanjang perjalanan 3 mil. Kaki beliau berdarah-darah. Tak terhitung pula luka Zaid bin Haritsah yang pasang badan melindungi beliau. Namun yang paling menyakitkan bagi Beliau ialah jawaban ketua kaum, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain sehingga terpaksa mengangkatmu sebagai Rasul?”

Pada saat kritis seperti itu, optimisme tak boleh mati. Keimanan terhadap takdir tak boleh goyah. Keyakinan ini membawa harapan bahwa Allah selalu memberi kemenangan dan jalan keluar. Faiina maal usri yusra, setiap kesulitan membawa kemudahan. Oleh karena itu doa yang mengalir dari lisan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam adalah harapan,

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sungguh, mereka hanyalah orang-orang yang tidak tahu.”

Celah Itu Tetap Ada

Sejarah Islam pernah menorehkan prestasi hebat lewat seorang ilmuwan yang bernama Hassan bin Al Haitsam. Beliau adalah ilmuwan muslim pertama menggunakan pendekatan modern dalam studinya, yaitu berdasarkan pengumpulan data melalui pemantauan dan pengukuran, yang diikuti oleh tahap formulasi dan pengujian hipotesa guna menjelaskan data yang didapat. Beliau menemukan teori tentang cahaya alami dan refleksi. Beliau juga mengembangkan teori yang yang disebut sebagai mekanisme benda angkasa yang menjelaskan orbit planet. Bukti penelitian Al Haitsam di bidang astronomi masih dapat ditemukan di musium Iskandariyah hingga saat ini. Di balik semua kisah hebat itu Beliau tetap manusia dan pernah terpuruk dalam kegagalan. Bahkan beliau sempat dipenjara dan dikucilkan antara tahun 1011 dan 1021, setelah gagal menyelesaikan tugas yang diberikan oleh khalifah yang memintanya menyelesaikan masalah tentang pengaturan banjir sungai Nil. Dia baru dibebaskan karena khalifah yang menghukumnya meninggal dunia.

Kisah ini mengajarkan bahwa, pantang menyerah adalah ciri orang yang sukses. Semangat ini selalu membuka jalan untuk tetap berkarya. Kegagalan dimaknai sebagai waktu untuk rehat dan beristirahat sejenak. Jadi, gagal bukanlah akhir segalanya. Al Haitsam telah membuktikannya, beliau berhasil menyusun 100 penelitian ilmiah dalam berbagai topik di bidang fisika dan matematika.

Anda Luar Biasa!

Siapa yang tidak mengenal Ibnu Khaldun? Dunia mendaulatnya sebagai Bapak Sosiologi Islam. Sebagai salah seorang ilmuwan hebat yang buah pikirnya amat berpengaruh. Tidak hanya dikagumi di kalangan ulama muslim tapi sederet ilmuwan barat kagum kepadanya. Buah karyanya, Kitab Al Mukaddimah, hingga kini dijadikan referensi oleh para sarjana ilmu sosial di seluruh dunia.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa beliau pernah mengalami masa sulit dan kegagalan. Salah satunya, kegagalan dalam dunia politik praktis. Akhirnya beliau mentalak dunia politik dan kembali ber-tafaqquh fiddin. Dalam masa penyepiannya ini beliau menulis kitab Al Mukaddimah. Sebuah buku yang menjadi dasar ilmu sosiologi. Karya ini membuat namanya tetap dikenang hingga kini.

Kegagalan adalah saat yang tepat untuk muhasabah dan mengevaluasi. Apakah kita memang mengambil jalan yang tepat? Apakah cara tersebut benar dan tepat? Ini juga merupakan saat yang pas untuk mengenali potensi kita yang terpendam. Bisa jadi kelebihan itu tidak terlihat karena kita terlalu fokus pada hal-hal lain. Kenalilah diri sendiri dan fokuslah pada kelebihan itu.

Guru paling ampuh

Satu kisah kegagalan yang sangat telak terjadi pada perang Uhud. Tujuh puluh shahabat tewas dalam peperangan ini dan ratusan lainnnya terluka. Bahkan Pipi Rasulullah SAW tertembus besi hingga melukai gerahamnya. Kegagalan ini diakibatkan karena pasukan pemanah meninggalkan posnya di atas bukit. Selain itu, 300 tentara meninggalkan medan perang akibat provokasi orang munafik.

Kegagalan ini mengguyurkan kesedihan bagi shahabat. Namun memberikan pelajaran yang amat berharga bagi kaum muslimin tentang pentingnya taat kepada pemimpin, tentang mengorbankan ego pribadi demi maslahat jama’i. Dan, membuktikan bahwa menuruti kenginan pribadi di atas kepentingan bersama harus ditebus dengan harga mahal. Selain itu, para shahabat belajar untuk tidak melibatkan orang munafik dalam peperangan. Keberadaan orang munafik seperti kata pepatah, ‘duri dalam daging’, gerakannya merusak bagian di sekelilingnya. Karena itulah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam selalu menahan keinginan orang munafik untuk ikut dalam ekspedisi peperangan, seperti pada perang khaibar. Setelah itu, tidak pernah terdengar bahwa kaum muslimin mengalami kegagalan yang serupa.

Seperti itulah tipikal orang-orang sukses. Proses menuju keberhasilan begitu beriku dan unik. Mereka memaknai Kegagalan sebagai satu bagian dari rangkaian proses keberhasilan. Kegagalan adalah bahan evalauasi. Hasilnya ialah ilmu dan pengalaman. Seorang muslim boleh gagal karena gagal adalah guru yang paling berharga. Kemenangan memberi kebagiaan sedangkan proses membawa ilmu dan pengalaman yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Jangan takut gagal. Temukan faktor dan sebab kegagalan itu lalu perbaikilah. Tetaplah menjadi mukmin yang kuat yang tidak tersandung oleh batu yang sama. Rasulullah saw bersabda,

“Seorang mukmin tidak jatuh dua kali ke satu lubang (yang sama).(HR. Bukhari)

Barang kali inilah jawaban kenapa ada dua orang yang sama-sama gagal, tapi akhirnya bernasib berbeda. Orang yang sukses belajar dari kegagalannya. Tidak menyalahkan orang lain. Dan mencari faktor kegagalan kemudian memperbaikinya. Mereka tidak mau berlama-lama ‘menikmati’ kekalahan. Mereka berusaha mengambil pelajaran yang kemudian menjadi pengalaman yang berharga.

Semoga kita termasuk kelompok tersebut. Amin.
(http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/menikmati-kegagalan.html)

Minggu, 24 April 2011

Belajar Untuk Tidak Butuh

Pada awalnya sarana kehidupan dicipta untuk memudahkan kehidupan manusia di muka bumi ini.

Akan tetapi seiring perjalanan waktu terjadi pergeseran yang sangat berarti. Karena keserakahan, sarana hidup itu tidak lagi sekedar mempermudah hidup tapi semua itu dirancang agar manusia selalu ketagihan dan merasa butuh. Dulu, pekerjaan seseorang dinilai dari cucuran keringat yang ia keluarkan. Tapi saat ini yang menjadi ukuran adalah sebanyak apa satuan-satuan benda yang ia hasilkan demi memuaskan selera menumpuk dan mengoleksi

Islam datang menyikapi sarana kehidupan itu dengan cara yang sangat proporsional. Dalam skala individu, selain sebagai sarana untuk memudahkan hidup ia juga berfungsi sebagai perhiasan dan Allah mewanti-wanti kita bahwa apa yang ada di sisiNya jauh lebih baik. Dalam skala jama’ah atau negara berfungsi sebagai distibutor kepada seluruh rakyat (khudz min amwalihim shadaqah) sehingga semua warga negara bisa mencicipi rezki dari Allah tersebut. Lebih dari itu, dalam skala negara pula, sarana hidup itu sebagai alat negara untuk menggertak dan menundukkan orang kafir (wa a’idduu lahum mas tatha’tum min quwwah). Sebab, pada asalnya mereka jika eksis dan berkuasa hanya akan membuat kerusakan di muka bumi.

Salafus Shalih adalah kumpulan manusia yang paling bijak dalm berinteraksi dengan sarana hidup. Sarana hidup, menurut mereka, tidak menambah izzah dan sama sekali tidak ada pengaruhnya pada kemenangan dan kekalahan tidak ada gunanya sama sekali tidak ada gunanya. Lihatlah Umar bin Khatthab menampik mentah-mentah kereta kencana yang ditarik oleh enam ekor kuda gagah ketika beliau datang memenuhi undangan pembesar pendeta Nasrani di Paletina. Kereta ini digunakan oleh gubernurnya untuk menjemput beliau di batas kota yang datang dari Madinah dengan keledai ringkih. Beliau berkata kepada Abu Ubaidah, Gubernurnya, Nahnu qaumun a’azzanallahu bil Islam, lau ibtaghainal izzata siwal Islam la-azzallanallahu (kita adalah kaum yang yang dimuliakan Allah dengan Islam, andai kita mencari kemuliaan selain Islam pasti Allah menghinakan kita).

Bagaimana dengan Anda para du’at dan mujahid?. Anda adalah dua kelompok orang yang di pundaknyalah amanah penegakan dinullah ini dibebankan. Anda semua adalah shahibul himmah (pemilik cita-cita). Pada dasarnya Andalah yang harus paling merasa tidak butuh dengan semua dunia, jika itu tidak menambah keterhormatan Anda di sisi Allah. Anda harus selalu berada di ketinggian ufuk, karena dari sanalah Anda melihat dengan jelas tabiat kehidupan. Agar Anda selalu berada dalam kondisi sadar bahwa apa yang dikejar oleh semua manusia nilainya tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk. Karena dengan kesadaran itulah anda selalu enjoy dalam hidup ini, betapapun kondisi Anda.
Ketika pintu dunia sudah terbuka lebar sehingga darinya mengalir harta benda yang melimpah ruah, Umar bin Khatthab bertanya kepada Abu Ubaidah ketika sang khalifah berkunjung ke rumahnya, rumah yang tidak memiliki satupun prabot, kecuali pedang, tameng, dan pelana kuda: ”Kenapa Anda tidak mengambil (harta benda)seperti yang dilakukan orang lain…?”. Maka Abu ubaidah menjawab: ”keadaan seperti inilah menyebabkan hatiku lega dan sempat beristirahat…!”.
Bagaimana dengan Anda?.Sumber : wahdah.or.id