Tampilkan postingan dengan label Fadhilah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fadhilah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2014

Keutamaan Bulan Rajab

Hari ini kita memasuki bulan Rajab 1435 H. Bulan  yang merupakan bulan ketujuh dalam Kalender Hijriyah ini termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan dan dihormati. Kemulian bulan Rajab dinyatakan oleh ayat Allah Ta’ala dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah, Rasul-Nya dan para sahabat memuliakan bulan ini.

Bulan Mulia

Bulan Rajab merupakan satu dari empat bulan mulia yang disebut asyhurul hurum Sebagaimana dinyataakaan oleh Allah dalam al-Qur’an surah at-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [٩:٣٦]

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang orang yang bertakwa." (terj. Q.S. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tiga bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Al Qodhi Abu Ya'la rahimahullah, penamaan bulan haram [1] diharamkan pembunuhan pada bulan tersebut sebagaimana hal ini diyakini pula oleh orang jahiliyyah, dan [2] Larangan untuk melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan tersebut lebih keras dari pada bulan-bulan lainnya. (lihat Zadul Maysir, Ibnu Jauziy). Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh Ibnu Abbas, Qatadah dan yang lainnya.

Oleh karena Rajab merupakan bulan yang mulia, maka kita harus memuliakannya. Sebagaimana dikatakan oleh Qatadah rahimahullah. “Sesungguhnya Allah memilih yang termulia dari makhluq ciptaan-Nya. Dari para Malaikat dan manusia Dia pemilih para utusan [Rasul]-Nya sebagai Malaikat dan manusia termulia. Dari perkataan manusia Dia memilih dzikrullah. Di bumi Dia memilih masjid sebagai tempat termulia. Dari seluruh bulan (asy-syuhur) Dia memilih Ramadhan dan bulan-bulan haram. Dari hari-hari Dia memilih hari jum’at, dan Dia juga memilih malam lailatulqadr sebagai malam paling mulia. Maka muliakanlah yang dimulikan oleh Allah”. Sebab, pemuliaan terhadap yang dimuliakan oleh Allah merupakan alamat ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Waman yu’adzim sya’airallah fiannaha min taqwal qulub”.

Lalu, bagaiman seharusnya memuliakan bulan ini?
Oleh karena Rajab merupakan bulan suci dan mulia maka kita harus memuliakannya. Tentu memuliakan dan menghormati bulan ini sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya. Kita harus memuliakaan bulan ini sebagaimana Rasulullah dan para sahabat menghormatinya. Yakni dengan meninggalkan segala bentuk dosa dan meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Jangan Berbuat Dzalim di bulan Haram

Pada bulan-bulan mulia ini –termasuk Rajab-, Allah melarang berbuat dzalim. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah memalui kalimat “Fala tadzlimu fihinna anfusakum,”. Maksudnya janganlah kalian mendzalimi diri sendiri pada bulan-bulan tersebut. Karena keharaman dosa pada bulan-bulan itu lebih tegas, dan dosanya lebih berat dari dosa yang dilakukan pada bulan-bulan lain. Hal ini seperti pelipatgandaan dosa yang dilakukan di tanah haram. Sebagaiaman dinyatakan oleh Allah, “Waman yurid fihi bi ilhadin bi dzulmin. . .
Menurut Ibnu Ishak sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, ma’ana kalimat ‘fala tadzzlimu fihinna anfusakum’ adalah janganlah kalian jadikan yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram sebagaimana dilakukan oleh para ahli syirik. 

Oleh karena itu hendaknya kita memuliakan dan menyucikan bulan ini dengan meninggalkan segala bentuk kedzaliman. Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dan kedzaliman nomor wahid yang harus dihindari dan dijauhi adalah kesyirikan. Sebab, syirik merupakan kedzaliman paling besar, sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman ayat 13:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ [٣١:١٣]

"sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS Luqman:13)

Selanjutnya meninggalkan dosa atau kedzaliman di bawah syirik berupa dosa-dosa besar, lalu dosa-dosa kecil. Selain itu anjuran untuk meninggalkan dosa menyiratkan pesan melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah. karena larangan terhadap sesuatu adalah perintah untuk melakukan kebalikannya.

Oleh karena itu di bulan Rajab yang termasuk salah satu bulan haram ini, di samping kita harus berusaha meninggalkan dosa dan maksiat. Kita juga harus memperbanyak amal ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
























Senin, 11 November 2013

Shiyam (Puasa) ‘Asyuro

Saat ini kita sedang berada di bulan suci dan mulia. Yakni bulan suci  Muharram. Bulan ini merupakan satu dari empat bulan yang disucikan dan dimuliakan oleh Allah [QS:9:36]. Bulan ini disebut pula dengan syahrullah (bulan-Nya Allah. Sebagai Muslim yang beriman kita harus memuliakan bulan ini. Diantara bentuk penuliaan terhadap bulan ini adalah dengan meninggalkan segala bentuk kedzaliman (dosa dan maksiat).

Selain itu amalan lain yang juga dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah. Karena puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah haditsnya bahwa:

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم (رواه مسلم)

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram, , , ”. (terj. H.R. Muslim).

Imam al-Qari berkata, “dzahirnya, yang dimaksud adalah berpuasa pada sepanjang bulan Muharram”. Sedangkan Imam Nawawi rahimahullah berpendapat, “Jika dikatakan bahwa puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah adalah puasa pada bulan Muharram? Lalu bagaimana dengan memperbanyak puasa sya’ban melebihi puasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah, “Mungkin beliau tidak mengetahui keutamaan puasa Muharram melainkan di akhir hayat beliau sebelum beliau sempat melakukannya, atau beliau ditimpa sakit atau sedang safar sehingga tidak sempat memperbanyak puasa, atau karena faktor lain”.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Shiyam tathawwu’ ada dua macam, yakni; [pertama] shiyam tathawu’ mutlak. Puasa sunnah mutlak yang paling afdhal adalah puasa Muharram. Sebagaimana shalat sunnah mutlak yang paling afdhal adalah qiyamullail (shalat malam). [Kedua] Shiyam yang menyertai shiyam Ramadhan seperti puasa sya’aban dan enam hari di bulan syawal. Ini tidak termasuk puasa sunnah mutlak. Karena termasuk jenis puasa yang menyertai puasa Ramadhan. Ini lebih afdhal dari puasa tathawwu’ mutlak. Syekh Soleh al-Munajjid mengomentari pendapat Ibn Rajab di atas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan. Sehingga hadits ini dibawa kepada ma’na anjuran memperbanyak shiyam pada bulan Muharram. Bukan berpuasa sebulan penuh.

Selain itu di bulan ini ada  hari ‘Asyuro yang ditekankan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sehingga bagi yang tidak sempat memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini, jangan sampai melewatkan puasa di hari yang satu ini. Karena puasa ini memiliki fadhilah yang sangat utama, yakni menghapus dosa selama setahun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits lain dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Puasa‘Asyuro
Sebelum menguraikan keutamaan puasa ‘asyuro, akan diuraikan terlebih dahulu sekilas tentang keutamaan hari ‘asyuro itu sendiri. Hari ‘asyuro (10 maharram) merupakan hari mulia. Sebelumnya orang-orang Yahudi juga memuliakan bulan ini, karena menurut mereka ini adalah hari yang mulia karena pada hari tersebut Allah menyelamtakan nabi Musa dari kejaran Fir’aun bersama balatentaranya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang dikeluarkan oleh imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut. Beliau bertanya, “hari apa ini sehingga kalian berpuasa pada hari ini?” Mereka menjawab, ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan nabi Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai tanda syukur kepada Allah. maka kamipun berpuasa. Rasulullah bersabada, “kami lebih berhak atas Musa dari kalian”. Lalu Rasulullah berpuasa dan menyuruh para sahabat untuk turut berpuasa.
Puasa ‘asyuro memiliki beberapa keutamaan, diantaranya;
Pertama, Puasa ‘asyuro merupakan puasa sunnah paling afdhal setelah ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Nabi yang telah disebutkan di atas.
Kedua, Menghapus dosa setahun sebelumnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi pernah ditanya tentang keutamaan puasa ‘asyuro, beliau menjawab, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (ter.H.R. Bukhari dan Muslim). Tentu saja yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil.
Ketiga, Puasa ‘asyuro sangat diperhatikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma seperti disebutkan di atas.

Tingkatan Puasa ‘Asyuro
Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada- menjelaskan bahwa ada tiga tingkatan puasa ‘asyuro:
a. Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11)
b. Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits
b. Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.

Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut:
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)
2.  Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).

Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakan untuk berpuasa pada tahun depannya. Hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi. 

Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain.  Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan puasa,sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tetunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr ditanya tentang pendapat sebagian ulama yang memakruhkan berpuasa sehari saja (10 Muharram). Beliau menjawab: "Tidak diragukan lagi bahwa berpuasa sehari sebelumnya lebih afdhal sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Jika aku mendapati tahun yang akan datang, maka aku akan berpuasa pada hari ke sembilan". Namun jika ia hanya mampu melaksanakan puasa Asyura secara sendiri (tidak didahului dengan puasa pada tanggal 9) maka tidak mengapa. Tapi mendahulukannya dengan puasa sehari jauh lebih afdhal karena Rasulullah shallahu alaihi wasallam sangat berkeinginan untuk melakukannya." Wallahu ta'ala a'lam"



Keutamaan Bulan Muharram

Hari ini kita memasuki bulan Muharram 1435 H. Bulan  yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai bulan sial. Sehingga diantara mereka ada yang mengindari mengadakan hajatan pada bulan tersebut. Salah satu hajatan yang biasa dihindari untuk diadakan pada bulan itu adalah pernikahan. Ini adalah anggapan yang keliru. Justru Muharram termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan dan dihormati, bukan bulan  yang mendatangkan sial. Kemulian bulan muharraam dinyatakaan oleh ayat Allah Ta’ala dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah, Rasul-Nya dan para sahabat memuliakan bulan ini.

Bulan Mulia
Bulan Muharram merupakan satu dari empat bulan mulia yang disebut asyhurul hurum Sebagaimana dinyataakaan oleh Allah dalam al-Qur’an surah at-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [٩:٣٦]

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (terj. Q.S. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda ,“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Al Qodhi Abu Ya'la rahimahullah, penamaan bulan haram [1] diharamkan pembunuhan pada bulan tersebut sebagaimana hal ini diyakini pula oleh orang jahiliyyah, dan [2] Larangan untuk melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan tersebut lebih keras dari pada bulan-bulan lainnya. (lihat Zadul Maysir, Ibnu Jauziy). Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh Ibnu Abbas, Qatadah dan yang lainnya.

Oleh karena Muharram merupakan bulannya Allah yang mulia [syahrullah al-haram], maka kita harus memuliakannya. Sebagaimana dikatakan oleh Qatadah rahimahullah. “Sesungguhnya Allah memilih yang termulia dari makhluq ciptaan-Nya. Dari para Malaikat dan manusia Dia pemilih para utusan [Rasul]-Nya sebagai Malaikat dan manusia termulia. Dari perkataan manusia Dia memilih dzikrullah. Di bumi Dia memilih masjid sebagai tempat termulia. Dari seluruh bulan (asy-syuhur) Dia memilih Ramadhan dan bulan-bulan haram. Dari hari-hari Dia memilih hari jum’at, dan Dia juga memilih malam lailatulqadr sebagai malam paling mulia. Maka muliakanlah yang dimulikan oleh Allah”. Sebab, pemuliaan terhadap yang dimuliakan oleh Allah merupakan alamat ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Waman yu’adzim sya’airallah fiannaha min taqwal qulub”.

Syahrullah
Selain itu bulan ini disebut pula dengan syahrullah [bulan-Nya Allah]. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم (رواه مسلم

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram, , , ”. (terj. H.R. Muslim).

 Penyebutan ini memberi makna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandarkan pada lafdzul Jalalah (Allah). Menurut Para Ulama penyandingan sesuatu pada lafdzul Jalalah menunjukan tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Saifullah dan sebagainya. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali  rahimahullah, “Muharram disebut dengan syahrullah (bulan-Nya Allah) karena [1]  untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram, serta [2] untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mensucikankan dan memuliakan bulan Muharram”.

Lalu, bagaiman seharusnya memuliakan bulan ini?
Oleh karena Muharram merupakan bulannya Allah yang mulia [syahrullah al-haram], maka kita harus memuliakannya. Tentu memuliakan dan menghormati bulan ini bukan dengan mengkeramatkannya, bukan dengan menganggapnya sebagai bulan sial. Bukan pula dengan menghindari hajatan karena taakut sial dan seterusnya. Tapi kita hendaknya memuliakaan bulan ini sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya. Kita harus memuliakaan bulan ini sebagaimana Rasulullah dan para sahabat mengormatinya. Yakni dengan meninggalkan segala bentuk dosa dan meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Jangan Berbuat Dzalim di bulan Muharram

Pada bulan-bulan mulia ini –termasuk muharram-, Allah melarang berbuat dzalim. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah memalui kalimat “Fala tadzlimu fihinna anfusakum,”. Maksudnya janganlah kalian mendzalimi diri sendiri pada bulan-bulan tersebut. Karena keharaman dosa pada bulan-bulan itu lebih tegas, dan dosanya lebih berat dari dosa yang dilakukan pada bulan-bulan lain. Hal ini seperti pelipatgandaan dosa yang dilakukan di tanah haram. Sebagaiaman dinyatakan oleh Allah, “Waman yurid fihi bi ilhadin bi dzulmin. . .

Menurut Ibnu Ishak sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, ma’ana kalimat ‘fala tadzzlimu fihinna anfusakum’ adalah janganlah kalian jadikan yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram sebagaimana dilakukan oleh para ahli syirik. 

 Oleh karena itu hendaknya kita memuliakan dan menyicikan bulan ini dengan meninggalkan segala bentuk kedzaliman. Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dan kedzaliman nomor wahid yang harus dihindari dan dijauhi adalah kesyirikan. Sebab, syirik merupakan kedzaliman paling besar, sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman ayat 13:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS Luqman:13)

Sunnah Bepuasa
Amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah. Karena puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Imam al-Qari berkata, “dzahirnya, yang dimaksud adalah berpuasa pada sepanjang bulan Muharram”. 

Sedangkan Imam Nawawi rahimahullah berpendapat, “Jika dikatakan bahwa puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah adalah puasa pada bulan Muharram? Lalu bagaimana dengan memperbanyak puasa sya’ban melebihi puasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah, “Mungkin beliau tidak mengetahui keutamaan puasa Muharram melainkan di akhir hayat beliau sebelum beliau sempat melakukannya, atau beliau ditimpa sakit atau sedang safar sehingga tidak sempat memperbanyak puasa, atau karena faktor lain”.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Shiyam tathawwu’ ada dua macam, yakni; [pertama] shiyam tathawu’ mutlak. Puasa sunnah mutlak yang paling afdhal adalah puasa Muharram. Sebagaimana shalat sunnah mutlak yang paling afdhal adalah qiyamullail (shalat malam). [Kedua] Shiyam yang menyertai shiyam Ramadhan seperti puasa sya’aban dan enam hari di bulan syawal. Ini tidak termasuk puasa sunnah mutlak. Karena termasuk jenis puasa yang menyertai puasa Ramadhan. Ini lebih afdhal dari puasa tathawwu’ mutlak. Syekh Soleh al-Munajjid mengomentari pendapat Ibn Rajab di atas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan. Sehingga hadits ini dibawa kepada ma’na anjuran memperbanyak shiyam pada bulan Muharram. Bukan berpuasa sebulan penuh.

Selain itu di bulan ini ada  hari ‘Asyuro yang ditekankan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sehingga bagi yang tidak sempat memeprbanyak puasa pada bulan Muharram ini, jangan sampai melewatkan puasa di hari yang satu ini. Karena puasa ini memiliki fadhilah yang sangat utama, yakni menghapus dosa selama setahun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits lain dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)






Minggu, 21 Oktober 2012

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN


 Dr. Abdul Muhsin Al Qasim 
 ( Imam dan Khatib masjid Nabawi)

 Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran. Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:

Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:

1-    Bacalah ayat pertama 20 kali:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}

2-    Bacalah ayat kedua 20 kali:
وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}

3-    Bacalah ayat ketiga 20 kali:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}

4-    Bacalah ayat keempat 20 kali:
وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}

5-    Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.

6-    Bacalah ayat kelima 20 kali:
وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}

7-    Bacalah ayat keenam 20 kali:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}

8-    Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}

9-    Bacalah ayat  kedelapan 20 kali:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}

10-    Kemudian membaca  ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
11-    Bacalah ayat  ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?
    Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

BAGIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG (MURAJA'AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
    Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al quran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.
Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah enghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.

Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiapharinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DIATAS?

Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran  setiap dua minggu sekali.
Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.

APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR AN SELAMA SATU TAHUN?

Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun,  jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam semasa hidupnya, beliau membagi al qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.

Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: "kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat,  dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)". (HR. Ahmad).
Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:
-    Hari pertama: membaca surat "al fatihah" hingga akhir surat "an-nisa",
-    Hari kedua: dari surat "al maidah" hingga akhir surat "at-taubah",
-    Hari ketiga: dari surat "yunus" hingga akhir surat "an-nahl",
-    Hari keempat: dari surat "al isra" hingga akhir surat "al furqan",
-    Hari kelima: dari surat "asy syu'ara" hingga akhir surat "yaasin",
-    Hari keenam: dari surat "ash-shafat" hingga akhir surat "al hujurat",
-    Hari ketujuh: dari surat "qaaf" hingga akhir surat "an-naas".
   
    Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: " Fami bisyauqin ( فمي بشوق ) ", dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:
-    huruf "fa" symbol dari surat "al fatihah", sebagai awal wirid beliau hari pertama,
-    huruf "mim" symbol dari surat "al maidah", sebagai awal wirid beliau hari kedua,
-    huruf "ya" symbol dari surat "yunus", sebagai wirid beliau hari ketiga,
-    huruf "ba" symbol dari surat "bani israil (nama lain dari surat al isra)", sebagai wirid beliau hari keempat,
-    huruf "syin" symbol dari surat "asy syu'ara", sebagai awal wirid beliau hari kelima,
-    huruf "wau" symbol dari surat "wa shafaat", sebagai awal wirid beliau hari keenam,
-    huruf "qaaf" symbol dari surat "qaaf", sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat "an-nas".

Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?

    Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan  cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:
1-    Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.
2-    Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.
3-    Hafalkanlah mulai dari surat an-nas hingga surat al baqarah (membalik urutan al Qur an), karena hal itu lebih mudah.
4-    Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.
5-    Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa "tajmi'" (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang  sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah swt, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini. Amin ya rabal 'alamin.

Senin, 15 Oktober 2012

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah


Bismillah, al hamdulillah, wa shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Alihi wa ashabihi wa man wa lah. Amma ba’d.



Saudara (i) seiman yang dirahmati oleh Allah. Saat ini kita sedang berada di hari-hari yang mulia. Hari dimana amal soleh pada hari-hari ini lebih dicintai oleh Allah dari amal soleh pada hari-hari lain di luar hari-hari ini. Hari-hari mulia yang dimaksud adalah 10 hari pertama bulan dzulhijjah (besok, 17/10/2012 masuk tgl 1 dzulhijjah 1433 H). Bagaimana memuliakan hari-hari yang mulia itu, apa yang harus dilakukan? Berikut ini artikel singkat yang dikutip langsung dari tulisan Ust, Alfi Syahar M.A di www.belajarislam.com.

***
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda :
ما من أيام العمل الصالح أحب إلى الله فيهن من هذ الأيام يعني أيام عشر ذي الحجة . قالوا : ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال : ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجلا خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك يشيء

“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : sepuluh  hari dari bulan Dzulhijjah. “Mereka bertanya : “Ya Rasulullah, tidak juga Jihad fi Sabilillah?”, Beliau menjawab : “tidak juga Jihad fi Sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya. Kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” [HR.Bukhari 2/381]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda :
مامن أيام أعظم عند الله سبحانه ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر , فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد .
“Tidak ada hari yang agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebaikan di dalamnya daripada sepuluh  hari (Dzulhijjah)ini. Maka perbanyaklah pada saat itu Tahlil, Takbir dan Tahmid.” [HR. Ahmad].

Amalan-Amalan Yang Disyariatkan
1. Melaksanakan ibadah Haji dan Umrah

Amal ini adalah yang paling utama, berdasarkan hadits shahih yang menunjukan keutamaannya, antara lain, sabda Nabi :
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
 “ Dari Umrah ke Umrah adalah tebusan  (dosa-dosa yang dikerjakan) diantara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah syurga.” [HR. Muslim/1349].

2. Berpuasa selama hari-hari tersebut atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah


Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya disebutkan dalam hadits qudsi , artinya : “Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh ia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.”

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda :
مامن عبد يصوم يوما في سبيل الله تعالى إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريفا
 “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari dijalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” [ Muttafaqun’alaihi].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah bahwa Nabi bersabda :
صيام يوم عرفة يكفر السنة الماضية والباقية
 “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap ridha Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” [HR.Muslim/1162].

3. Takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut.


Sebagaimana firman Allah :
ويذكروا اسم الله في أيام معلومات
 … “ Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” [QS.Al-Hajj : 28].

Para ahli Tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu para Ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar, artinya : “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu Tahlil, Takbir dan Tahmid” [HR.Ahmad].

Imam Bukhari menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan Takbir lalu orang-orang pun mengikuti Takbirnya.
Dari Ishaq meriwayatkan  dari Fuqaha’ Tabi’in  bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر , الله أكبر , لا إله إلا الله والله أكبر , الله أكبر ولله الحمد
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar tidak ada Ilah (sembahan) yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah.”

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, mesjid dan lain-lainnya. Sebagaimana Firman Allah, artinya : “Dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu…” [QS.Al Baqarah : 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majelis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor) . Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat. Yang menurut Sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri, ini berlaku pada semua dzikir dan do’a. Kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.
Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah, seperti Takbir, Tashbih dan do’a-do’a lainnya yang disyari’atkan.

4. Taubat serta meninggalkan segala maksiat dan dosa.

Sehingga mendapatkan ampunan dan Rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari  Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda :
إن الله يغار وغيرة الله أن يأتي المؤمن ماحرم الله
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” [Muttafaqun’Alaihi].

5. Banyak beramal shalih.
Berupa ibadah Sunnah seperti ; Shalat, shadaqah, membaca Al qur’an, Amar ma’ruf nahi Munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, bahkan sekalipun Jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyari’atkan pada hari-hari itu takbir muthlaq.
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat I’ed. Dan disyari’atkan pula takbir Muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Dzuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat ‘Ashar pada akhir hari Tasyriq.

7. Berqurban pada hari raya Qurban dan hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah Sunnah Nabi Ibrahim yakni ketika Allah ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi berqurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk, Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki Beliau, disisi tubuh domba itu. [Muttafaqun’alaihi].

8. Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berqurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari Ummu Salamah bahwa Nabi bersabda :

“Jika kamu melihat Hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kamu ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.” Dalam riwayat lain : “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berqurban.”
Hal ini mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah Haji yang menuntun hewan qurbannya.Firman Allah :
ولا تحلقوا رءوسكم حتى يبلغ الهدي محله
“Dan janganlah kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya.” [QS. Al Baqarah : 196].

Larangan ini menurut dzahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berqurban saja, tidak termasuk isteri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berqurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambut yang rontok.

9. Melaksanakan Shalat I’edul Adha dan mendengarkan khutbah.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyari’atkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan  dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti nyanyian-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebaikan yang dilakukannya selama sepuluh hari.
10. Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, Melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya. Semoga Allah melimpahkan TaufiqNya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Kamis, 10 Mei 2012

Perbanyaklah Shalawat Pada Hari Jum'at !!


Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam (pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada hari yang mulia dan agung ini kita diperintahkan untuk memperbanyak shalawat untuk manusia yang paling mulia dan agung, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum'at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku…." (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)

Memperbanyak shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Jum'at yang menjadi sayyidul ayyam menunjukkan kemuliaan pribadi beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai sayyidul anam (pemimpin manusia).

Shalawat termasuk ibadah yang paling afdhal. Dan dilaksanakan pada hari Jum'at jauh lebih utama daripada dilaksanakan pada hari selainnya, karena hari Jum'at memiliki keistimewaan dibandingkan hari yang lain. Dan melaksakan amal yang afdhal pada waktu yang afdhal adalah lebih utama dan lebih bagus. (lihat 'Aunul Ma'bud: 2/15)

Setiap kebaikan yang diperoleh seorang hamba dalam urusan diennya adalah berkat jasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau telah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Berkat kerja keras beliau dalam dakwah, kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian dan tantangannya, Islam bisa sampai kepada kita. Sebagai bentuk syukur dan terima kasih kita kepada beliau, Allah perintahkan bershalawat untuk beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Kapan mulai membaca shalawat?

Membaca shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Jum'at bisa dimulai sejak malam harinya. Hal ini didasarkan pada hadits Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَىَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

"Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum'at dan malam Jum'at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kalim niscaya Allah bershalwat kepada sepuluh kali."
(HR. Al Baihaqi dalam Sunan Kubranya dan dinytakan oleh Syaikh al Albani dalam Ash Shahihah, sanadnya shalih).

Dari Aus bin Aus radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Di antara hari terbaik kalian adalah hari Jum'at,  . . . maka perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu, karena shalawatmu akan disampaikan padaku."

Para shahabat berkata: "Ya Rasulallah, bagaimana shalawat kami atasmu akan disampaikan padamu sedangkan kelak engkau telah lebur dengan tanah?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi." (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dengan sanad yang shahih)

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

"Tak seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salamnya." (HR. Abu Dawud, dishahihkan an Nawawi dalam Ar Riyadl dan dihasankan oleh al Albani dalam Shahih al Jaami', no. 5679)

Dari Abdullah bin Amr bin al Ash radhiyallahu anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat baginya dengan itu sepuluh kali." (HR Muslim)

Bentuk ucapan shalawat :

Di antara bentuk shalawat terbaik adalah yang terdapat dalam Shahihain, dari Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami, lalu kami berkata: "Ya Rasulallah, kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bershalawat atasmu?"

Beliau menjawab : "Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allaahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad kamaa shallayta 'alaa aali Ibraahiim. Innaka hamiidum majiid. Allaahumma baarik 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad kamaa baarakta 'alaa aali Ibraahiim. Innaka hamiidum majiid.

"Ya Allah sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah sampaikan shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarga-Nya. Sesungguhnya Engkau Dzat Mahaterpuji lagi Mahaagung. Ya Allah, berikah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah berkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Dzat Mahaterpuji lagi Mahaagung." (HR Bukhari dan Muslim)

Di antara bentuk shalawat dan salam yang paling pendek atau ringkas adalah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ

عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ

Imam an Nawawi rahimahullah berkata: "apabila salah seorang kalian bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hendaklah ia menggabungkan antara shalawat dan salam. Tidak boleh ia hanya mengucapkan صَلَّى اللهُ عَلَيهِ saja atau عَلَيْهِ السَّلاَمُ saja." (Shahih al Adzkaar: I/325)

Ibnu Shalah rahimahullah berkata, "sebaiknya penulis hadits dan para penuntut ilmu menulis shalawat serta salam atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (dengan lengkap), dan ketika menyebutnya jangan bosan mengulang-ulangnya, karena yang demikian itu sangat besar manfaatnya yang akan segera dirasakan oleh penuntut ilmu dan (hadits) dan penulisnya. Barangsiapa yang lalai, maka ia tercegah mendapat pahala yang besar, hendaklah ia tidak memotongnya/tidak menyingkat ketika menulisnya." (Ilumul Hadits, karya Ibnu Shalah, hal. 124)

Seseorang yang ingin bershalawat, tidak boleh membuat shalawat-shalawat yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Shalawat merupakan ibadah, dan ibadah dasarnya adalah ittiba' (mengikuti contoh Nabi). Dan di antara bentuk shalawat yang tidak dicohtohkan adalah Shalawat Badar, Shalawat Nariyah, Shalawat Fatih, dan lainnya.
(sumber:www.voa Islam.com)

Kamis, 18 Agustus 2011

KEISTIMEWAAN SEPULUH TERAKHIR RAMADHAN



Di awal ramadhan,masjid mana yang tak penuh sesak dengan jamaah?Terutama sholat 'isya dan tarawih.Hampir dipastikan ,di hari-hari/malam-malam awal ramadhan tidak ada yang mau ketinggalan.
Namun,seperti biasa saat tapak-tapak hari/malam Ramadhan kian menjelang akhirnya ,semangat beribadah mulai redup,fisik semakin berat dan ketaatan semakin berkurang.Saat memasuki sepuluh hari/malam terkhir ramadhan ,masjid-masjid mulai sepi dan kekurangan jamah.Sebaliknya pasar-pasar malam,mall-mall,dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya lebih ramai dari biasanya.
Demikian yang terjadi di sekitar kita dari tahun ke ahun.Bahkan tanpa sadar ,kitapun menjadi bagian dari kasahan dan kelalaian "klasik" ini.Sebagai gejala dan indikasi bahwa keutamaan dan kemuliaan Ramadhan kurang dipahami dengan baik,sehingga kemeriahan suasana amaliyah ramadhan yang terjadi di awalnya seolah hanya karena tradisi saja.Semangat yang menggebu-gebu pada awal-awal ramadhan sepertinya tidak dilandasi oleh 'ilmu dan pemahaman yang cukup.
Sungguh,sepuluh terakhir ramadhan merupakan kesempatan khusus dan spesial yang sangat istimewa untuk menggapai ridha Allah dan mendulang banyak pahala dan kebaikkan yang berlimpah.Sebab, sepuluh terakhir ramadhan memiliki keutaman dan keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh malam-malam sebelumnya.
Saat memasuki sepuluh terakhir Ramadhan ,Rasulullah biasa meningkatkan intensitas ibadah yaang beliau kerjakan .Istri beliau 'Aisyah menuturkan :" Rasulullah bersungguh-sungguh brribadah pada sepuluh malam terakhir ramadhan melebihi kesungguhan beliau pada malam-ma;am yang lain".(HR Muslim).Bahkan,Beliau mengkhususkan sepuluih malam terakhir dengan melakukan ibadah yang tidak beliau kerjakan pada malam-malam sebelumnya .Biasanya jika telah masuk bulan
ramadhan ,beliau sholat dan tidur,namun jika telah memasuki sepuluh malam terakhir beliau tidak sempat memejamkan mata .
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam turut membangunkan istri-istrinya pada bulan ramadhan .Kebiasaan seperti ini tidaklah beliau lakukan pada kesempatan-kesempatan yang lain.Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu 'anhu menuturkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengimami mereka pada nalam keduapuluhtiga,keduapuluhlima,dan kedupuluhtujuh.lalu disebutkan bahwa beliau turut mengajak istri-istrinya untuk beribadah pada malam kedua puluh tujuh.Hal ini menegaskan bahwa sangat diprioritaskan membangunkan keluarga untuk beribadah pada malam-malam ganjil,karena besar kemungkinan malam-malam tersebut adalah saat terjadinya lailatulQadar.
Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan iibadah sholat,membaca al Quran,dan amalan-amalan ibadah nlainnya serta turut membangunka keluarga pada malam-malam seperti ini merupakan salahsatu sunnah Rasulullah yang diikuti oleh orang-orang sholih.Sufyan Ats-Tsauri bekata:Aku sangat menykai bagi seseorabg jika ,telah masuk sepuluh malam teakhir Ramadhan hendaknya ia bersyngguh-sungguh beribadah di malam hari dan hendaknya ia turut membangunkan istri dan anak-anaknya jikam mereka mampu melakkukan hal tersebut".
Kebiassan yang lain yang dilakukan oleha Rasulull ah shollallahu 'alaihui wasallam pada sepuluh terkhir ramdhan adalah beri'tikaf.I'tikaf artinya menetap dan berdiam diri di masjid dengan niyat taqarrub mendekatkan diri kepad Allah 'Azza wajalla.
Apa yang menyebabkan Rasulullah shollallaahu,alaihi wasallam begitu bersunnguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir ramafdhan ini?
Mungin salahsatu alasannya karena diantara malam-malam pada sepuluh malam terakhir Ramadhan ini terdapat malam "LailatulQadar".Satu malam yang nilainya jauh berlipat melebihi jatah usia hidup kita di dunia ini.LailatulQadar(malam kemuliaan),malam yang lebih baik dari seribu bulan.Seribu bulan =83 tahun empat bulan.Beliu memerintahakan kepada kita untuk mencarinya pada sepuluah malam terakhir Ramadhan."Carilah LailatulQadar pada sepuluhmalam terakhir ramadhan".Demikian Rasulullah menganjurkan.(Syams)

Senin, 15 Agustus 2011

FADHILAH PUASA


Puasa memiliki beberapa fadhilah/keutamaan,dianataranya:
1.Puasa adalah perisai dari api neraka.
Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yag shahih dari Sahabat Jabir radhiyallaahu ‘anhu, bahwa nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda “Puasa adalah perisai yang dengannya seorang hamba melindungi dirinya dari api neraka” (HR Thabrani).

Dalam hadits lain yang muttafaq ‘alaih dari sahabat Abu Sa’id al Khudiry radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah,maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh (perjalanan) tujuhpuluh tahun” (HR Bukhari 2685 dan Muslim1153).

Jika puasa sehari saja dapat menjauhkan seorang dari apai neraka sejauh tujuhpuluh tahun,lalu bagaimana lagi dengan puasa ramadhan sebulan penuh?atau paasa sunnah tiga hari sebulan (ayyaam bidh),atau puasa-puasa lain yang disyariatkan.
Sungguh,ini merupakan keutamaan (fadhilah) yang sangat agung.

2.Puasa Adalah Perisai Dari Syahwat.

Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu ,Bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Wahai para pemuda,barangsiapa diantara kalian yang memiliki kemampuan,maka hendaknya ia menikah.Sebab menikah lebih (memudahkan) menjaga pandangan dan lebih membentengi kemaluan.Dan barangispa yang belum sanggup ,maka hendaknya iya berpuasa karena puasa menjadi pengendali baginya”.(HR Bukhari 4779 dan Muslim 1400)

(Dalam hadit ini ) Nabi member arahan kepada para pemuda yang belum mampu menikah agar berpuasa untuk memadamkan /meredamgejolak syahwatnya,karena puasa dapat meredam dan mengekang syahwat.
Sungguh ,kebanyakan pemuda kita hari ini mengeluhkan (sulitnya mengendalikan)syahwat,kususnya yang bertebaran dimana-mana saat ini. Seperti wanita-wanit yang bersolek (tabarruj) di pasar-pasar (mall-mall) ,di majalah-majalah rendahan yang tersebar di took-toko buku serta fitnah-fitnah (godaan) lain yang menyerbu para pemuda di pesawat-pesawat,di jalan di Rumah Sakit dan di tempat-tempat (umum) lainnya.
Anak muda tentu saja secara naluri memilki syahwat yang besar yang sewaktu-waktu bisa bergejolak/bergerak saaat ada yang merangsangnya ,apalagi jika ditambah dengan lemahnya komitmen keagamaan.

Maka kepada para pemuda yang seperti ini, kami hadiahkan nasihat “Dan barangispa yang belum sanggup ,maka hendaknya iya berpuasa karena puasa menjadi pengendali baginya”.Dan riset (pengalaman) telah membuktikan bahwa terapi Nabawi ini sangat manjur dalam mengobati persoalan yang dihadapi oleh para pemuda berupa ….dan kita tidak lagi membutuhkan obat-obatan yang sifatnya materi (benda).

3.Puasa Adalah jalan Menuju Sorga.

Al Imam An Nasai rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad shahih dari Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu ,Beliau berkata:wahai Rasulullah perintahkan kepadaku sesuatu dimana Allah memberikan manfaat kepadaku dengannya.Maka Nabi bersabda:”Hendaknya engkau berpuasa ,karena tidak ada (amalan) yang semisal dengan puasa”(HR An Nasai 2221).

Dalam hadits ini Nabi menjelaskan bahwa tidak ada (amalan) yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah dan menjauhkan dari ‘adzab-Nya kecuali puasa.Bahkan sang Nabi pilihan (Al Mushtofa) shallallaahu ;alaihi wasallam mengabarkan,bahwa di sorga terdapat satu pintu khusus bagi orang-orang yang berpauasa ,sebagaimana diterangkan dalam hadits muttafaq ‘alaih dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallaahu ‘anhu,bahwa nabi shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda:”Sesungguhnya di sorga ada satu pintu yang disebut Pintu Ar Rayyan .Kelak Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan memasuki pintu ini.Tidak ada yang masuk melalui pintu tersebut selain mereka.Diserukan;mana orang-orang yang berpuasa (ash Shaimun)?Lalu mereka berdiri ,tidak ada yang memasuki pintu itu selain mereka.Jika mereka telah masuk,pintunya ditutup dan tidak ada seorangpun masuk melalui pintu tersebut.”(HR Bukhari 1797 dan Muslim 1152).

Jika kita cermati ,nama pintu tersebut sesuai dengan karakter(sifat) orang puasa yang didera rasa dahaga sebagai dampak/akibat dari ibadah puasa.

4.Puasa Akan Memberi Syafa’at Kepada Pelakunya

Imam Ahmad dan Hakim rahimahumallah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad hasan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma ,bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Puasa dan Al qur’an akan member syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak.Puasa berkata,wahai Rabb aku telah menghalanginya dari makan dan minum pada siang hari ,maka maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya .Al Qur’an berakta,aku telah menghalanginya dari tidur di waktu malam ,maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya,. Lalu syafaat keduanya diterima Allah.’
Jadi,pada hari kiamat nanti puasa akan menjadi sesuatu yang Nampak secara fisik.ia akan berbicara dan member syafaa’at kepada pelakunya,entah itu puasa sunnah atau puasa fardhu.

5.Puasa Sebagai kaffarat (Penebus) dan Penghapus Dosa

Puasa termasuk amalan yang akan menjadi penghapus dan penghpus dosa-dosa seorang hamba.karean setiap kebaikkan menghapus keburukan.Sementara di dalam ibadah puasa terdapat kebaikan yang begitu banyak.Allah Ta’ala telah berfirman:
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapuskan keburukan”
Mengenai penebusan dan penghapusan dosa oleh puasa telah dijelaskan dalam beberaa hadits ,dianataranya hadits Hudzaifah yang bahwa nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Fitnah (ujian) yang menimpa seseorang pada keluarga ,harta,dan tetangganya dihapuskan oleh puasa ,shalat,dan sedekah” (HR Bukhari Muslim ) Maksudnya,semua kesalahan yang dilakukan seorang hamba berupa kelalaian terhadap hak keluarganya berupa kata-kata yang menyinggung,menyakiti,kelalaian atau kesalahan terhadap tetangga berupa perkataan dan perbuatan yang menyakiti atau kesalahan dalam urusan harta dan lain sebagainya.Kesalahan-kesalahan tersebut dan yang semacamnya berupa dosa-dosa kecil dapat dihapus/ditebus oleh shalat,puasa,dan sedekah.

Dalam hadits yang disepakati keshahihannya (oleh Bukhari Muslim) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena (dorongan) iman dan ihtisab (berharap pahala dari Allah) akan diampunkan semua dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari Muslim) .
Maksudnya karena keimanan kepada Allah dan berharap (ihtisab) pahala yang disiapkan oleh Allah Tabaraka Wa Ta’ala kepada orang-orang yang berpuasa.
Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:” Antara Shalat lima waktu,jum’at ke jum’at ,bulan ramadhan ke bulan ramadhan berikutnya,menghapus dosa-dosa diantaranya selama dosa-dosa besar dijauhi” (HR Muslim)
Jadi,puasa ramadhan merupakan sebab terampunkannya dosa –dosa yang terjadi antara bulan ramadhan dengan ramdhan sebelumnya.Dengan syarat menjauhi dosa besar ,karena dosa besar tidak terhapus kecuali oleh taubat sebagaiamana madzhab mayoritas Ulama salaf.Oleh sebab itu Allah Ta’ala berfirman:
“ Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang merupakan dosa-dosa yang kalian dilarang untuk melakukannya, pastilah Kami menghapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga) “.(QS An Nisa:31).

6.Puasa Adalah Sebab Meraih Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat

Sebagaimana hal ini diterangkan dalam hadits muttafaq ‘alaih dari SaHabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu ,bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:’’Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraa ketika berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”
Adapun kegembiraan saat berbuka merupakan representasi kebahagiaan di dunia yang diperoleh seorang Mukmin di dunia sebagai balasan atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla sebagai kebahagiaan yang hakiki.

Perasaan bahagia saat berbuka muncul kareana dua alasan:
Pertama:karena saat itu Allah membolehkan kepadanya untuk makan dan minum saat itu.Dan tidak diragukan lagi bahwa jiwa/nafsu telah difitrahkan untuk suka kepada makanan dan minuman ,oleh sebab ini Allah menyuruh kita beribadah kepada-Nya dengan meninggalkan makan dan minum.
Kedua:Perasaan gembira atas taufiq Allah kepadanya dalam menyelesaikan puasa dan menyempurnakan ibadah tersebut pada hari itu .Hal ini merupakan kebahagiaan tertinggi dari sekadar pembolehan makan dan minum kepadanya.

7.Bau Mulut Orang Yang berpuasa Lebih Wangi di sisi Allah Daripada Minyam Kesturi

Bau terebut adalah bau yang berasal dari lambung yang keluar lewat mulut karena kosongnya lambung dari makanan .Bau yang dibenci oleh makhluq tapi dicintai oleh Al Khaliq (Allah Ta’ala).Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Muttafaq ‘alaihi:
"Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.” (HR Bukhari :1805 dan Muslim:1152)

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tidak mengapa orang yang berpuasa bersiwak setelah zawal (tergelincir matahari/ba’da dzuhur) .Bahkan siwak termasuk amalan yang disunnahkan/dianjurkan (mustahab) menurut pandapat yang terkuat (rajih) ditempat –tempat yang dianjurkan bersiwak dalam kondisi /keadaan seperti ketika akan shlat,berwudhu,masuk rumah,bangun tidur dan lain-lain .Karena bau tersebut –pertama-:Tidak bersumber dari mulut tetapi dari dalam lambung.Kedua,bau tersebut lebih harum di sisi Allah dariapada minyak kesturi.

Ada sebuah atsar israiliyat yang mengisahkan bahwa ketika Allah memanggil Musa untuk datang kepada-Nya ,Allah menyuruhnya untuk berpuasa selama tigapuluh hari .Lalu Musapun berpuasa.Ketika selesai menjalani puasa tersebut Nabi Musa mendapai adanya khaluf (bau) pada mulutnya.Sehingga beliau berbuka atau bersiwak.Maka Allah memerintahkannya untuk berpuasa sepuluh hari setelahnya dan Dia berkata kepada Musa;Tidakkah engakau ketahui bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisiku dari aroma minyak kesturi.Lalu Allah menyemprnakannya menjadi sepuluh hari.Allah Ta’alan berfirman:
“ maka sempurnakanlah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam”. (QS Al A’raf:142).

Sebagaimana bau mulut orang yang berpuasa tidak disenangi oleh makhluk (tetapi) lebih wangi di sisi Allah dari aroma minyak kesturi ,maka demikian pula dengan darah seorang syahid pada hari kiamat nanti akan beraroma minyak kesturi.Padahal darah termasuk yang menjijikkan ,bahkan ia najis menurut sebgaian Fuqaha (Ahli Fiqh) .Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak ada satu tubuh yang terluka di jalan Allah ,melainkan akan datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya berdarah,warna nya warna darah tetapi baunya adalah bau minyak kesturi (HR Bukhari 5213 dan Muslim 1876).

Demikianlah,terkadang sesuatu itu dibenci oleh manusia tetapi sangat dicintai oleh Allah Ta’ala,karena ia termasuk bekas-bekas taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Ta’ala .Oleh sebab ini ,tangisan dan ….orang-orang yang berdosa di hadapan Allah ‘Azza wajalla merupakan taqarrub yang paling agung.Bahkan dalam kondisi tertentu (menangisi) dosa lebih afdhal dari ibadah dan kataatan yang yang dibanggakan dan dibesar-besarkan oleh seseorang .lain halnya dengan orang yang hancur hatinya,menangis ,merasa (mengakui) kelalaian ,meskipun mereka(benar-benar) berbuat dosa.

Adajuga sebuah atsar –meskipun tidak kuat-,bahwa ketika Allah ditanya oleh para Nabi dan Rasul-Nya ,dimana Engkau berada wahai Rabb?Aku bersama orang-orang yang hatinya hancur karena-Ku.Olehkarena itu,tidak ada sesuatupun yang lebih agung dari doa.Sebab,dalam do’a terlihat kehinaan diri,ketundukan di hadapan Allah.Di dalam do’a juga Nampak perasaan berhajat (butuh)kepada karunia Allah,ksususnya ketika seorang hamba Allah menghadapi kesulitan.Sebagaimana firman Allah :” “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An Naml : 62)

Selasa, 07 Desember 2010

Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram

a. Bulan Haram
Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan- bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta’ala : "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36).
Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain.

Sebagaimana ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga. Firman Allah : "Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha" (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini.
b. Bulan Allah
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : , dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya.
Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim)

c. Sunnah Berpuasa
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh.
Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya :
1.Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, bersabda :
“ Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
2. Ibnu Abbas ra berkata :
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : , berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
3. Ibnu Abbas ra berkata :
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab :“ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda :
"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim).
4.Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata :
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata : "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini.

Bagaimana Berpuasa di bulan Asyura?

Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada menjelaskan:
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11)
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut :
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakanryang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain.
Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah saw untuk melakukan puasa,sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tetunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.
d. Diantara Peristiwa di Bulan Muharram
Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempatr cucu Rasulullah tsejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “Peristiwa Karbala”. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu’awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut.
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, , dan kita tentu mencintai dan apalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat , hal itu jangan sampai membawa kita larut dalamrmencintai keluarga Rasulullah kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan yangrmemukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi'ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), padahal kenyataanya tidak demikian.
e. Adat Istiadat di Tanah Air
Pada awal Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, di tanah air sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Sang Dewi penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada.
telah mengajarkan pada kita agarrRasulullah memiliki jati diri sebagai seorang Muslim dalam kehidupan. Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Allah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya.
Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya, adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, wal'iyyadzubillah
sumber:http://ypwi.or.id