Tampilkan postingan dengan label Tanmiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanmiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Januari 2013

Tegar Bersama Kebenaran


اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَه، وَأرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَه

Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Ya Allah perlihatkan kepada kami bahwa yang batil itu batil, dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk meninggalkannya.”

Do’a tersebut diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syarh Muntahal Iradat. Ibn Katsir juga menyebutkan doa’ tersebut ketika menafsirkan Surat al-Baqarah ayat 213. Do’a ini meskipun singkat tetapi mencakup makna yang luas. Maknanya adalah seorang Muslim memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi taufiq mengenali kebenaran dan diberi kemampuan mengikuti kebenaran tersebut.

Dalam do’a tersebut kita diajari untuk meminta ditunjukan kebenaran dan diberi kemampuan untuk mengamalkannya. Sebab, menjadi pengikut kebenaran, kesulitannya bukan pada mendalaminya secara ilmu atau pengetahuan. Karena itu bisa dipelajari. Kita bisa belajar tentang kebenaran, sedikit demi sedikit. Kita bisa mendalami kebenaran yang diajarkan agama kita atau yang kita rasakan secara jujur melalui fitrah. Tapi yang lebih sulit dalam mengikuti kebenaran bukan pada ketersediaan ilmu yang menjelaskan kebenaran itu, tapi pada kemauan, tekad, dan jiwa kita sendiri. Semua itu harus diawali dari keyakinan untuk mau bersama kebenaran.

Pilihan untuk bersama kebenaran itulah yang sekarang ini tengah asing dan menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan bermasyarakat. Kita bisa menengok, dalam tataran politik, di panggung kekuasaan, dalam interaksi sehari-hari, terlalu banyak orang yang mencampakkan kebenaran. Dalam etika moral, dalam berdagang dan mencari nafkah, terlalu banyak orang-orang yang memilih jalan kebatilan. Terlalu banyak orang yang memilih jalan keburukan dan meninggalkan jalan kebenaran.

Simpul-simpul Kebenaran

Mengikuti kebenaran adalah keniscayaan. Sebab, ia merupakan kunci keselamatan dan kemenangan manusia di dunia dan di akhirat. Akan tetapi kehidupan dunia seringkali mengaburkan kebenaran dan makna kebenaran. Sehingga tidak jarang orang salah memilih dan menilai sesuatu. Lalu bagaimana kita menemukannya? Dari sudut pandang Islam, kita sebenarnya telah dibekali banyak potensi dan sumber pengetahuan yang akan mengantarkan kita kepada kebenaran.

1. Sejalan dengan keinginan Allah dan Rasul-Nya


Boleh jadi setiap orang memiliki standar yang berbeda dalam menilai kebenaran. Tergantung sistem nilai yang dianut dan diyakini setiap mereka. Tetapi bagi kita sebagai Muslim, standar kebenaran sudah jelas yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Sebab, keduanya merupakan himpunan dan kumpulan kebenaran yang datang dari dzat yang Maha Benar, Allah Ta’ala. Tidak boleh ada keraguan terhadapnya. Sehingga apapun yang menurut kita merupakan kebenaran tetapi bertentangan dengan kehendak Allah dan rasul-Nya, maka ia bukanlah kebenaran, melainkan lawan dari kebenaran itu. Fama ba’dalhaqqi illadhalal (Tiada selain kebenaran-dari Allah- melainkan pasti batil).

Allah adalah kebenaran itu sendiri. Maka semua yang datang dari-Nya pasti benar dan tak boleh dibantah.

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Demikianlah, karena Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah Itulah yang batil; dan Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Terjemah QS. Luqman: 29-30)

Standar kebenaran harus melandasi semua pikiran, pandangan dan pendapat kita dalam menilai segala sesuatu. Sehingga orang tidak mudah memperdaya kita dengan berbagai macam propaganda dan tipu dayanya. Para Ulama dan Muslihun telah membuktikan bahwa mereka dapat menaklukkan lawan-lawan mereka para pelopor kebathilan dengan argumen yang lebih kuat. Seperti kisah Imam Ahmad ketika menghadapi kelompok sesat yang menyebarkan paham khalqul Qur’an, suatu paham yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan bukam kalam Allah.

2. Sejalan dengan Fitrah dan suara hati manusia

Terkadang untuk menilai dan mengetahui sesuatu itu benar atau tidak perlu pembuktian dengan dalil. Tetapi cukup dikembalikan kepada suara hati kita. Sebab sebagai manusia kita telah dibekali oleh Allah potensi berupa fitrah yang suci yang tak pernah mengingkari kebenaran. Maka cukuplah ia mengikuti kecenderungan kata hatinya atau fitrahnya.

Contoh sederhana; Seorang awam yang tak tahu hukumnya mencuri, ia tentu pasti tidak tenang ketika mengambil harta orang lain tanpa izin. Ketidaktenangan itu adalah reaksi fitrah dan hati nurani.

Inilah maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seorang sahabat bertanya tentang kebaikan dan keburukan. Dari Nawwas bin Sam’an al anshari beliau berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan keburukan”, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwamu dan engkau tidak suka bila hal itu terlihat oleh manusia (orang lain)” (HR Muslim).

3. Sejalan Dengan Kemaslahatan Manusia

Kebenaran itu adalah maslahat. Ini standar lain yang mengantarkan kita mengenali kebenaran. Secara umum segala seuatu yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia maka ia adalah kebenaran. Dan di dalam Islam maslahat selalu merujuk kepada kebutuhan manusia yang sangat vital yaitu penjagaan kepada lima hal : Agama, Nyawa/jiwa, harta, akal, dan keturunan.

Imam Al Ghazali rahimahullah pernah berkata: “Sesungguhnya mengambil manfaat dan menolak mudharat merupakan tujuan penciptaan makhluk dan kemaslahatan makhluk dalam memperoleh tujuan mereka. Yang kami maksud dengan maslahat yaitu menjaga apa yang dikehendaki oleh syariat. Dan yang dikehendaki oleh syariat untuk dijaga ada lima; Menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Maka setiap yang dapat menjamin penjagaan dan pemeliharaan lima perkara pokok ini, disebut maslahat. Dan setiap yang meniadakan atau melanggar kelima hal ini berarti kerusakan atau mafsadat, dan menolak mafsadat itu berarti maslahat.”

4. Kebenaran Bukan Berdasarkan Hawa nafsu dan Orang Banyak

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Terjemah Qs. al-Mukminun: 71)

Fitrah manusia tidak sekadar mengakui sebuah kebenaran, tetapi ia juga menjadi pendorong dalam diri untuk mengikuti kebenaran itu apa adanya tanpa ada maksud dan kepentingan tertentu yang akan menodai hati fitrah, mengkhianati hati nurani dan mengotori kebenaran itu sendiri. Kebenaran tidak akan pernah berpadu dengan hawa nafsu, selamanya tidak akan sejalan.

Demikian pula dengan banyaknya orang yang menjalani sesuatu, bukan jaminan bahwa ia adalah kebenaran. Banyak orang, dalam kehidupan nyata kerap mempertontonkan diri sebagai pelaku, pengikut dan pelopor kebenaran, menyeru sebanyak-banyaknya orang untuk ikut bersamanya. Padahal nurani yang tak dapat dibohonginya, selalu resah karena tahu bahwa apa yang ia lakukan sekadar untuk meraih kehormatan, jabatan,dan juga harta. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dengan firman-Nya (yang artinya):

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta [terhadap Allah]. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS: Al-An’am :116-117).

Maka janganlah kita tertipu dan disilaukan oleh kekuatan seseorang dan banyaknya jumlah pengikut mereka, sehingga kita pun merasa perlu berbondong-bondong dan berkumpul di sekitar mereka. Jangan sampai kita menjadi seperti sekumpulan laron yang terperangkap oleh silaunya cahaya lampu, lalu kemudian binasa satu persatu oleh cahaya itu. Tetapi hendaknya kita menjadi kelompok yang senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran yang suci yang terbebas dari tujuan dan kepentingan tertentu dil luar kepentingan menegakkan agama Allah dan mencari ridha-Nya.

5. Kebenaran tetap selalu Kokoh, Meski terus dimusuhi
Ciri lain dari kebenaran adalah, bahwa para pengikut dan pengusungnya tetap kokoh meski terus dimusuhi. Mereka senantiasa konsisten menjalaninya meski mendapatkan penolakan dari manusia. Berbagai tantangan yang menghadang tak pernah menyurutkan langkah pejuang kebenaran untuk terus berjuang. Sebab mereka yakin bahwa kesabaran dan keteguhan mereka akan menjadi sebab datangnya pertolongan dan peneguhan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan senantiasa ada suatu kelompok dari ummatku yang eksis di atas kebenaran. Mereka tidak dimudharatkan oleh pihak-pihak yang memusuhi mereka. Mereka tetap eksis hingga datang hari kiamat”. (HR Muslim).

Tegar di atas kebenaran telah ditunjukan oleh para nabi dan rasul utusan Allah. Tidak ada satu nabipun yang tidak mendapatkan penolakan permusuhan dari manusia. Bahkan, terkadang permusuhan tersebut berasal dari orang-orang dekat. Sikap yang sama juga dapat kita lihat dari keteguhan para pelanjut risalah Nabi dan Rasul. Waratsatul Anbiya, para pewaris Nabi dari kalangan ulama yang terus berupaya melanjutkan perjuangan Nabi. Mereka pun ditolak dan dimusuhi seperti para Nabi dan Rasul dimusuhi. Namun permusuhan itu tidak menggoyahkan semangat mereka dalam menyebarkan kebenaran. Hal ini menjadi indikasi bahwa apa yang mereka sampaikan adalah kebenaran sejati. Apa yang mereka usung adalah kebenaran yang bersumber dari Dzat yang Maha Benar, Allah Ta’ala.

Allaahumma arinal haqqa haqqan, warzuqnattibaa’ah. Wa arinal bathila bathilan, warzuqnajtinaabah.[] (Syams)

Sumber: http://wahdahmakassar.org/tegar-bersama-kebenaran/#ixzz2JJVHZI6L

Sabtu, 08 September 2012

Memperbanyak Istighfar Setelah ramadhan


Ramadhan berlalu. Catatan amal dan takdir setiap insan telah tertoreh. Tak ada yang dizalimi. Setiap manusia mendapatkan sesuai dengan usaha yang telah dia lakukan (QS. al-Syura: 20). Bagi yang telah mengoptimalkan ibadah, layaklah dia bersuka cita. Sedangkan bagi yang belum maksimal, semoga Allah menyempurnakan ibadah yang telah dia lakukan.
Selepas Ramadhan, kita sudah sepantasnya bersyukur atas segala taufiq yang Allah berikan. Taufiq berupa kesempatan menghirup udara Ramadhan dengan berbagai ibadah di dalamnya. Demikianlah sehingga kita diperintahkan untuk merayakan akhir Ramadhan dengan Iedul Fitri (QS. al-Baqarah: 183).

Di samping bersyukur, kita tentu tidak bisa menjamin kualitas ibadah yang telah kita lakukan. Betapapun ibadah yang kita laksanakan, pasti terdapat kekurangan di dalamnya. Sebagai manusia biasa, kita tetaplah makhluk khathha’/yang banyak melakukan kesalahan (HR. Tirmidzi, dari Sahabat Anas ibn Malik). Lantaran itu, syariat mengajarkan umat untuk banyak istigfar, justru setelah meraih prestasi ibadah tertentu.

Sunnah Rasululullah shallallahu alaihi wasallam mencontohkan istigfar dalam segala kondisi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, tobatlah kalian kepada Allah! Sesungguhnya aku bertobat kepadanya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)
Inilah teladan Rasulullah, kekasih Allah yang ternyata mengisi hari-harinya dengan banyak istigfar.

Sunnah Rasulullah yang lainnya mengajarkan istigfar setiap selesai melaksanakan ibadah. Seperti istigfar setelah berwudhu (HR. Ibn Sunni dengan sanad jayyid), istigfar dalam doa istiftah (setelah takbiratul ihram) (HR. Muslim), dan istigfar setelah memberi salam dalam shalat (HR. Muslim).

Dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan istigfar setelah wuquf di Arafah yang merupakan rukun ibadah haji yang paling penting. Allah berfirman:
)ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(
“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 199)  

Syekh Abdurrahman ibn Sa’di dalam komentarnya terhadap ayat itu menulis:
Demikianlah seharusnya kondisi seorang hamba setiap selesai melaksanakan ibadah, agar beristigfar kepada Allah atas segala kekurangan (yang terjadi); serta bersyukur atas segala petunjuk. Tidak sepatutnya dia bersikap seperti manusia yang menganggap dirinya telah menyempurnakan ibadah dan seakan telah berjasa kepada Allah, sehingga dirinya mendapatkan kedudukan yang tinggi. Manusia seperti ini pantas mendapatkan murka dan hukuman. Sebagaimana hamba yang disebut di awal layak diterima amalnya dan mendapat taufiq untuk melakukan amal shalih yang lainnya. (Taysir, I/92)

Keterangan ini menunjukkan anjuran untuk beristigfar setiap selesai melaksanakan ibadah. Tanpa batasan terhadap ibadah tertentu.
Dalam surah yang lain, Allah subhanahu wata’ala bahkan memerintahkan Rasul-Nya untuk beristigfar setelah menyelesaikan tugas akbarnya: menyampaikan risalah dakwah.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (Terj. QS. al-Nashr: 1-3) 
Al-Allamah al-Syawkani menulis: “Mohonlah ampunan kepada-Nya atas dosamu, sebagai bentuk tawadhu kepada Allah dan menganggap kecil amal dan perbuatanmu.” (Lihat: Zubdah, h. 603)

Istigfar dan bertobat setelah menunaikan ibadah juga menjadi sunnah nabi-nabi terdahulu. Al-Qur’an mendokumentasikan doa Nabiyullah Ibrahim dan Ismail alaihimas salam. Doa ini mereka panjatkan setelah melaksanakan tugas membangun baytullah, Ka’bah di kota Makkah:
(رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 128) 

Maka selepas ibadah Ramadhan ini, salah satu amal yang paling baik untuk dilakukan oleh para “alumni” Ramadhan adalah banyak istigfar. Semoga Allah berkenan mengampuni segala khilaf dan menyempurnakan ibadah kita semua.

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Terj. QS. al-Mu’minun: 60-61)***
Dir’iyah, 5 Syawal 1433 H
Ilham Jaya Abdurrauf

Kamis, 29 September 2011

Hidayah Lambat Karena Adat

Allah tidak pernah terlambat memberikan hidayah. Allah Mahatahu, kapan waktu yang paling tepat untuk menurunkannya. Sebagaimana Allah juga Mahatahu, siapa yang layak didahulukan atau diakhirkan hidayahnya, atau bahkan yang tidak layak memperolah secercahpun hidayah dari-Nya.

Jikalau ada yang diperlambat datangnya hidayah, bukan karena Dia kikir atau pelit, sungguh Dia Maha Penyayang lagi Maha Pemurah. Keterlambatan, atau bahkan terhalangya seseorang dari hidayah itu disebabkan oleh ulah dan sikap manusia dalam menerima dan menyambutnya. Atau dominasi hawa nafsu yang menguasai diri, sehingga menampik datangnya hidayah. Baik hidayah Islam secara global, ataupun hidayah tafshil (yang rinci), berupa menjalankan berbagai perintah, dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah.

Adat, Hambatan Paling Berat

Saat cahaya Islam pertama kali menyapa kaum Arab Quraisy, tak serta merta disambut dengan gegap gempita. Bahkan lebih banyak penentang katimbang pendukungnya. Alasan paling populer dari para penentang adalah, karena Islam tak sejalan dengan adat dan agama nenek moyang mereka.

Taklid kepada leluhur lebih mereka utamakan dari ajakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun hati kecil mereka meyakininya. Tak ada penghalang yang lebih berat bagi Abu Abu Thalib, paman Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, selain beban untuk berpegang kepada agama leluhurnya. Adalah Abu Jahal yang memprovokasi Abu Thalib di ujung hayatnya. Dia membujuk, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, sebelum meninggal, dia mengulang-ulang sya’irnya,

Aku tahu bahwa agama Muhammad terbaik bagi manusia

Kalau saja bukan karena agama nenak moyang yang dicela

Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela

Sikap ini mewakili sekian banyak orang yang menampik hidayah, juga enggan untuk tunduk terhadap titah Allah dan Rasul-Nya. Karakter para penentang ini dikisahkan dalam firman-Nya,

“Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (QS. Al Maidah:104)

Ketika mereka diajak menjalankan agama Allah dan syariatnya, menjalankan kewajiban dan apa yang diharamkannya, mereka menjawab, ”cukup bagi kami mengikuti cara dan jalan yang telah ditempuh oleh bapak dan kakek kami.” Demikian dijelaskan tafsirnya oleh Ibnu Katsier rahimahullah.

Seakan al-Qur’an masih hangat turun ke bumi. Betapa alasan ini sangat populer kita dapati. Tatkala didatangkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, baik tentang larangan yang tak boleh dijamah, atau perintah yang mesti dilakukan, seringkali kandas ketika dalil itu tak sejalan dengan kebiasaan yang telah berjalan. ”Jangan merubah adat…! Ini sudah tradisi para leluhur…! Biasanya memang begini…!” dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan mereka jika adat diganti dengan syariat. Ungkapan seperti ini tak jarang muncul dari lisan orang yang telah menyatakan dirinya Islam, yang telah mengikrarkan bahwa ia rela Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan Islam sebagai agamanya. Tapi begitu syariat tidak sejalan dengan adat, adat lebih mereka utamakan.

Sejenak kita akan tahu bahwa, masih banyak warisan adat leluhur yang ternyata bertentangan dengan syariat, bahkan jika dirunut, tak hanya warisan nenek moyang masyarakat Indonesia, tapi warisan penyembah berhala di era jahiliyah Arab.

Kesesatan yang Dilestarikan

Atas nama melanggengkan nilai-nilai luhur tradisi nenek moyang, budaya sesaji masih tetap lestari. Dari yang hanya sekedar mempersembahkan menu ’wajib’ berupa hewan sembelihan, maupun yang berupai kemenyan, buah-buahan dan ’tetek bengek’ lain sebagai menu tambahan. Semua itu ditujukan kepada sesuatu yang diagungkan, apakah jin penunggu, arwah leluhur atau dewa yang diyakini keberadaannya.

Tradisi ini mengiringi momen-momen penting dalam kehidupan manusia, seperti peringatan kelahiran, kematian, upacara pernikahan, peresmian gedung atau jembatan, peringatan hari besar, juga untuk tujuan insidental seperti mencegah terjadinya marabahaya. Tak ketinggalan pula masyarakat kita yang mengaku dirinya muslim. Mereka turut membudayakannya dengan sedikit modivikasi dan dikemas dengan simbol-simbol Islam.

Sulit untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, sejak kapan tradisi sesaji bermula di negeri ini. Paling-paling kita harus puas dengan jawaban, ”itu sudah menjadi adat nenek moyang sejak dahulu.”

Jika ditelisik, sesaji tak hanya menjadi tradisi Hindu atau penganut animisme maupun dinamisme di Indonesia saja. Tapi juga merupakan adat jahiliyah Arab, yang kemudian disapu bersih dengan hadirnya Islam. Ini terlihat dari banyaknya ayat dan hadits yang melarang sembelihan untuk selain Allah, juga ancaman bagi yang melakukannya.

Dahulu, orang biasa Arab biasa menyembelih hewan di sisi kuburan, lalu Islam melarangnya. Sebagaimana hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam
لاَ عَقْرَ فِي الإِسْلاَمِ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: كَانُوا يَعْقِرُونَ عِنْدَ الْقَبْرِ بَقَرَةً أَوْ شَاةً

“Tidak boleh ada ‘aqr (menyembelih di kuburan) dalam Islam.” (HR. Abu Dawud)

Abdurrazzaq yang meriwayatkan hadits tersebut berkata; dahulu mereka menyembelih sapi atau kambing di kuburan.

Dengan alasan mengikuti adat, tradisi itupun masih dilestarikan dengan istilah bedah bumi (‘meminta ijin’ untuk menggali liang kuburan), atau sebagai penghormatan kepada orang yang telah mati.

Padahal secara tegas Nabi shallallaahu 'alaihi wasallambersabda,
وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Jimat untuk kesaktian dan penangkal bahaya, juga menjadi warisan orang musyrik terdahulu. Suatu kali, sahabat Hudzaifah bin Yaman menengok orang sakit. Beliau melihat di lengan si sakit ada gelang (untuk jimat). Maka beliau langsung melepasnya sembari membaca firman Allah,

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah ( dengan sembahan-sembahan lain ).”(QS. Yusuf:106)

Bukankah praktik ini sering kita jumpai dalam bentuk rajah di pintu rumah, di warung, kendaraan, atau jimat lain berupa gelang, kalung atau cincin yang dianggap memiliki khasiat bisa mendatangkan manfaat dan mencegah madharat. Inilah keyakinan syirik warisan jahiliyah, di mana Islam datang untuk membersihkan dan menghilangkannya.

Belum lagi berbagai keyakinan khurafat yang masih subur dan diwariskan turun temurun.

Meninggalkan Adat Demi Syariat

Ajaran tauhid mengharuskan penganutnya bersih dari syirik, meski itu berupa adat yang mendarah daging dan mengakar kuat. Wajar, jika dakwah Nabi SAW oleh orang Arab diidentikkan dengan dakwah untuk meninggalkan adat nenek moyang.

Heraklius, Kaisar Romawi yang beragama Nasrani pernah bertanya kepada Abu Sufyan saat masih musyrik, ”Apa yang Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam serukan atas kalian?” Abu Sufyan menjawab,
يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَة

“Beliau mengatakan, “Hendaklah kalian hanya beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hendaknya kalian meninggalkan pendapat nenek moyang kalian, dia juga menyuruh kami shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan dan menjalin persaudaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyelisihi kebiasaann nenek moyang bukanlah cela. Melanggar adat tak juga membuat kita kualat. Bahkan orang yang kualat dan mendapat ganjaran berupa siksa yang berat adalah mereka yang mempelopori adat yang sesat, juga para pengikutnya di dunia.

Di dalam hadits Bukhari, Nabi juga bersabda, ”Aku mengetahui, siapakah orang pertama yang merubah ajaran (tauhid) Ibrahim alaihis salam.” Para sahabat bertanya, ”Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Dia adalah Amru bin Luhay, saudara Bani Ka’ab. Aku melihatnya dia menyeret usus-ususnya di neraka, hingga penduduk neraka yang lain terganggu oleh bau busuknya.” (HR. Bukhari)

Begitulah ganjaran bagi orang yang membawa berhala ke negeri Arab, yang tadinya telah dibersihkan oleh kapak dan dakwah tauhid Ibrahim alaihis salam. Apakah kita tetap akan membanggakan para leluhur meski memiliki kemiripan dengan Amru bin Luhay?

Teladanilah sikap yang diambil oleh seorang tabi’in, Syuraih al-Qadhi ketika beliau ditanya, ”Dari kaum manakah Anda?” Beliau menjawab, ”Dari kaum yang Allah telah karuniakan Islam atasnya. Sedangkan orangtuaku dari Kindah.” Beliau lebih suka menisbahkan dirinya kepada Islam, katimbang membanggakan sukunya.

Karena beliau tahu, suku atau keturunan siapa tak akan membuatnya mulia atau hina, tidak pula menolongnya kelak di akhirat. Nenek moyang tak mampu menyediakan surga baginya, bahkan, jika mereka sesat, mereka sendiri dalam keadaan hina. Simaklah kabar Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam tentang mereka,
لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجِعْلاَنِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتِنَ

Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaumnya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari ji’lan (kumbang kotoran) yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Memang, tak semua adat itu sesat, sehingga wajib kita mengukurnya dengan barometer syariat. Jika memang bertentangan, janganh ragu meningalkannya, demi merealisasikan ajaran Islam yang hanif. (Abu Umar Abdillah/http://www.arrisalah.net/kolom/2010/09/hidayah-lambat-karena-adat.html)

Bahtera Pena Para Ulama

Oleh Ust DR Ahmad Zain An Najah MA

Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du :

Umat Islam mencapai kejayaannya, manakala para generasinya bekerja keras, tanpa kenal lelah untuk menggapai cita-citanya. Hal ini terbukti pada zaman keemasan Islam di mana para ulama telah menorehkan berbagai karya agung yang mereka toreh dengan keringat, air mata dan darah mereka. Karya-karya besar mereka sebagiannya sudah sampai kepada kita, sehingga kita bisa ikut merasakan manfaatnya yang begitu besar khususnya di dalam memahami ajaran agama kita.

Sebagai generasi yang datang terakhir, hendaknya kita mengambil pelajaran dari karya-karya tersebut, bagaimana mereka menorehnya, bagaimana mereka mengerjakan pekerjaan yang besar tersebut, padahal kemampuan mereka sebagai manusia bisa dikatakan sama dengan kemampuan kita. Tetapi mereka bisa membuktikannya, sedang kita belum bisa membuktikannya. Apa yang membedakan antara mereka dengan kita ? Bukankah mereka adalah manusia yang juga makan dan minum sebagaimana kita makan dan minum ? Bahkan pada masa mereka sarana kehidupan sangat sederhana dan terbatas, sedang sarana kehidupan kita saat ini sangat banyak, beragam dan serba canggih ?

Dalam tulisan berikut ini, akan kita temukan bahwa mereka mampu berkarya, karena mereka mempunyai kemauan yang kuat dan cita-cita yang tinggi. Mereka benar-benar mengejar cita-cita tersebut dengan keringat, air mata dan darah. Mereka tinggalkan segala bentuk kesenangan yang membuaikan dan meninakbobokan, mereka tiggalkan segala bentuk permainan dan senda gurau yang melupakan, mereka tinggalkan segala bentuk kegiatan yang tidak mendukung cita-cita mereka. Mereka kerahkan seluruh potensi yang ada di dalam diri mereka, mereka bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin. Mereka sangat menghargai waktu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam untuk meraih cita-cita tersebut.

Tiada kata berhenti di dalam hidup mereka, tiada kata istirahat di dalam kegiatan mereka. Mereka terus bekerja, bergerak dan berkarya sampai ajal menyemput mereka. Salah seorang dari mereka, yaitu Imam Ahmad ketika ditanya oleh kawan-kawannya ; “ Wahai Imam…kenapa anda terus menerus belajar ? kenapa tidak istirahat sejenak ? “ . Beliau menjawab : “ wahai teman, istirahatnya nanti ketika kita di syurga “

Tak ayal karya-karya mereka telah memenuhi bumi ini, bagaikan udara yang memenuhi seluruh ruangan. Ibnu Aqil salah satu dari mereka yang memiliki karya tulis yang beraneka ragam dan yang paling spektakuler adalah kitab “ Al-Funun “, sebuah ensiklopedia yang memuat beragam ilmu yang sangat berharga, terdapat di dalamnya berbagai macam nasehat, tafsir, fiqih, ushul fiqih, aqidah, bahasa Arab, sya’ir, sejarah, bahkan juga hikayat. Kitab “ Al-funun “ ini terdiri dari 800 jilid. Kitab ini hanya salah satu karya beliau saja. Beliau juga mempunyai karya-karya lain yang sangat banyak. . Berkata Imam Ad- Dzahabi : ” Belum ada buku di dunia ini yang lebih tebal dari buku ” Al Funun ” .

Lain lagi dengan Ibnu Jauzi, seorang ulama yang menulis berbagai bidang ilmu dan buku-bukunya yang sangat banyak menghiasi perpustakaan Islam. Dalam kitab Tatimmatul Mukhtashor fi Akhbaril Basyar, Ibnul Warid mengatakan : “ Bila lembaran-lembaran buku yang berhasil ditulis oleh Ibnul Jauzi dikumpulkan, lalu dikalkulasi dengan umur yang beliau miliki, maka ditetapkan bahwa beliau menulis dalam sehari sebanyak sembilan buah buku seukuran buku tulis.” Diceritakan juga bahwa bekas rautan pena Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, itupun masih tersisa. Setelah diadakan kalkulasi judul-judul tulisannya, ternyata karya Ibnul Jauzi mencapai 519 buku. Al-Muwafiq mengatakan bahwa Ibnul Jauzi senantiasa menulis dalam sehari setara empat buku tulis.

Seorang ulama mutakhirin Imam Muhammad bin Ali, atau yang lebih terkenal dengan Asy-Syaukani, pengarang kitab “ Nailul Authar “ adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul fiqh. Beliau dilahirkan pada tahun 1173 H di daerah Syaukan bagian dari wilayah Yaman, dan wafat tahun 1250 H. Beliau mewariskan 114 karya tulis.

Imam Abdul Hayyi Al-Laknawi Al-Hindi yang baru wafat sekitar 100 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1304 H. Dalam umurnya yang ke 39 tahun, tulisan beliau telah mencapai 110 kitab.

Syaikh India Maulana Hakimatul Ummah Asyraf Ali At-Tahanawi, yang wafat tahun 1362 H dalam usia 81 tahun. Beliau telah menghasilkan 1000 buah karya.

Kisah-kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa besar dan banyaknya karya tulis mereka. Bisakah kita sebagai generasi penerus mengikuti jejak mereka ?

Menulis Apa Yang Ada Di Benak

Para ulama menulis apa saja yang mereka dapatkan, dan menulis apa saja yang mereka miliki. Mereka tidak mau ilmu yang pernah mereka dapatkan berlalu begitu saja. Bahkan apa yang terlintas di dalam benak mereka, segera mereka tulis jangan sampai hilang, karena di dalamnya mengandung ide-ide yang cemerlang, sayang kalau dibuang begitu saja, karena kadang-kadang ide-ide tersebut tidak datang lagi. Lihat umpamanya

Imam Bukhori, beliau pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmunya yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh kali.

Muhammad bin Yusuf berkata, “Suatu malam, aku berada di rumah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori. Aku memperhatikannya bangun, lalu ia menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu, dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali.”

Isma’il bin Ayyasy salah seorang ulama besar, ketika sedang sholat, beliau sempat menghentikan shalatnya, sekedar untuk menulis hadits. Beliau bercerita : “ Saat itu aku sedang shalat, maka aku pun membaca beberapa ayat. Lalu aku teringat sebuah hadits dalam salah satu bab yang aku keluarkan. Maka aku pun menghentikan shalat, lalu aku segera menulisnya, dan kemudian aku kembali shalat.”

Suatu ketika Syaikh Alauddien masuk ke kamar mandi yang berada di pintu Az-Zahumah. Ketika di pertengahan mandi, beliau beranjak ke ujung kamar mandi tempat melepas pakaian pakaian. Beliau minta diambilkan tinta, pena dan kertas. Lalu beliau langsung menyusun tulisan dalam soal denyut nadi hingga selesai. Setelah itu beliau kembali ke kamar mandi dan menyempurnakan mandinya.”

Luar biasa bukan ? Bisakah kita mengikuti jejak mereka ? Saya teringat dengan kata-kata pepatah orang-orang dahulu :

إذا كانت النفوس كبارا تعبت في مرادها الأجسام

“ Jika jiwa itu mempunyai cita-cita tinggi Maka badan ini akan capai mengikuti kemauannya. ”

Kapan Mereka Menulis ?

Ketika kita mendapatkan karya para ulama yang begitu banyak dan menakjubkan, kadang-kadang timbul rasa penasaran di dalam benak kita : “ Kapan dan bagaimana mereka menulis “ ? Padahal kalau dilihat dari umur dan kesibukan mereka mengajar, sepertinya tidak mungkin mereka berkarya sebanyak itu, bahkan sebagian ulama jika dibandingkan banyak karya-karyanya dengan umur yang mereka miliki rasanya tidak sebanding, bahkan bisa dikatakan mustahil.

Tetapi setelah ditelusuri kehidupan mereka secara lebih mendetail, ternyata mereka telah menggunakan waktu mereka sebaik mungkin, mereka tidak rela sedetik waktu yang mereka miliki dibuang sia-sia tanpa ada kegiatan menulis.

Marilah kita tengok sebagian dari keahlian mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk berkarya dan menulis .

Di Dalam Perjalanan.

Perjalanan banyak menyita waktu di dalam kehidupan manusia. Bahkan kehidupan di kota-kota besar seperti Jakarta, yang terkenal dengan kemacetannya. Membuat banyak orang stress, karena mereka harus berangkat kerja pagi- pagi benar, kemudian malam baru bisa pulang, mereka sering terjebak dalam kemacetan panjang, yang membuat umur mereka habis di jalan. Kapan mereka akan menulis dan berkarya ?

Para ulama tidak mau kenal menyerah di dalam menempuh cita-cita mereka, di dalam perjalananpun mereka menyempatkan diri untuk berkarya dengan menggoreskan pena-pena mereka, mengukir ilmu, mewariskan banyak manfaat untuk kehidupan manusia.

Sa’id bin Jubair, seorang tabi’in yang wafat tahun 95 H pernah berkata : “Aku berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah di malam hari. Beliau menyampaikan hadits kepadaku, dan aku menulisnya di tengah pelana unta. Sehingga datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.”

Sementara itu Ibnu Qayim al Jauziyah, konon di dalam perjalanan hajinya bisa menyelesaikan buku yang spektakuler tentang kehidupan dan petunjuk seorang nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam yang diberinya judul “ Zaadul Ma’aad “ Buku ini terdiri dari enam jilid besar.

Suatu ketika seorang ulama Timur Tengah kontemporer yang hingga kini masih hidup. Dr. Yusuf Qardhawi datang ke Indonesia, dan ditanya tentang tulisan-tulisannya yang begitu banyak, sampai-sampai yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mencapai 40 buku lebih. Beliau ditanya kapan menulis buku-bukui tersebut, beliau menjawab : “ Di dalam perjalanan dari rumah ke kantor, atau dalam perjalan menuju ke tempat-tempat lain. “.

Pada 1950, Buya Hamka mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.

  1. Anda juga bisa seperti mereka, ketika anda punya sopir pribadi, maka dalam perjalanan anda bisa mengetik dengan laptop atau alat tulis yang lebih kecil. Begitu juga ketika anda dalam perjalanan menggunakan angkutan umum seperti bis dan kereta, apalagi pesawat, jangan biarkan anda melamun atau bengong, tapi gunakanlah untuk membaca atau menulis. Kebanyakan orang sekarang mengisi kekosongan mereka dalam perjalanan dengan bermain hp dan membuka internet, kenapa anda tidak gunakan untuk berkarya dan menulis ? Di tengah-tengah kemacetan kenapa anda tidak memnafaatkan untuk membaca, menghafal, merenung, berfikir, serta mencari ide-ide cemerlang ?

Mengurangi Waktu Makan

Manusia hidup perlu makan. Tapi kadang proses untuk dapat makanan banyak menyita waktu seseroang. Lihatlah ibu-ibu yang harus belanja sayur-sayuran ke pasar, beberapa jam mereka di pasar, kemudian setelah pulang mereka harus mengolahnya kemudian memasaknya. Berapa jam mereka membutuhkan waktu itu semua ? Bukankah untuk menyediakan makanan menyita banyak waktu dari hidup kita ? Kapan ibu-ibu itu punya waktu untuk menulis jika pekerjaan seharian terus-menerus seperti itu ? Adakah cara yang lebih praktis dan efesien untuk mendapatkan makanan, sehingga sisa waktunya bisa dipakai untuk menulis dan berkarya ?

Para ulama mempunyai trik-trik sendiri untuk menghindari makan yang banyak menghabiskan waktu. Sebagai contoh kita dapatkan Ubaid bin Ya’is teryata untuk efesien waktu, beliau tidak pernah makan dengan kedua tangannya sendiri. Beliau selalu disuapi saudaranya perempuan selama 30 tahun, karena sibuk menulis.

Ibnu Suhnun, seorang ulama Malikiyah yang sangat terkenal tersebut juga sering disuapi budaknya, karena tidak ada waktu untuk makan. Beliau sedang sibuk menyusun buku.

Diriwayatkan juga bahwa Abu Al Wafa’ bin Uqail Al Hambali adalah seorang ulama dari madzhab Hambali yang sangat ketat di dalam menjaga waktunya. Jika mulut , lidah , dan matanya capai karena banyaknya yang dibaca, dia terdiam merenung dan merancang apa saja yang perlu ditulis, maka ketika ia duduk atau berbaring, kecuali beliau telah menghasilkan banyak hal-hal yang bisa dicatat dalam buku. Bahkan beliau memilih-milih makanan yang paling praktis dan cepat dimakan, untuk kemudian sisa waktunya digunakan untuk membaca dan menulis.

  1. Diriwayatkan bahwa beliau memilih roti yang agak basah dari pada roti yang kering. Tentunya waktu untuk mengunyah roti yang basah jauh lebih sedikit dibanding waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah roti yang kering. Jeda waktu antara keduanya bisa beliau manfaatkan untuk membaca dan menulis. Subhanallah, tidak kaget kalau karya-karya beliau sampai 800 jilid lebih.

Di Pengasingan dan Penjara

Imam Syamsudin As-Syarkhasi telah mampu menulis kitab “ Al Mabsuth “, sebuah buku spektakuler yang dijadikan rujukan ulama Hanafiyah. Buku ini terdiri dari 30 jilid besar, kebetulan saya mempunyai buku tersebut. Beliau menulis buku tersebut di dalam penjara dengan cara mendiktekan kepada murid-muridnya. Beliau dimasukkan penjara karena memberikan nasehat kepada salah satu penguasa pada waktu itu.

Ibnu Taimiyah sering keluar masuk penjara, karena menyampaikan kebenaran apa adanya, banyak orang yang hasad kepadanya. Beliau difitnah sehingga dijebloskan penjara oleh penguasa. Selama di dalam penjara, beliau manfaatkan untuk menulis. Tatkala beliau dijebloskan kembali ke dalam penjara yang berada di dalam benteng selama dua puluh bulan lebih, beliau dilarang untuk menulis dan menelaah kitab. Orang orang yang hasad dengan beliau tak membiarkan ada buku tulis maupun tinta di sisi beliau, karena tulisan-tulisannya bisa mempengaruhi banyak orang. Beliau dalam keadaan seperti itu beberapa bulan lamanya, sehingga beliau mulai berkonsentrasi untuk beribadah dengan membaca al-Qur’an, sholat tahajjud, serta berdzikir hingga beliau wafat.

Konon Buya Hamka, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) selama kurang lebih tiga tahun. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.. Nama beliau dikenal luas berkat karya-karyanya. Tafsir yang beliau beri nama Tafsir Al Azhar tersebut sekarang menjadi rujukan masyarakat Indonesia dan Malaysia.

Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan penulisan tafsir Alquran Fi Dzilalil Qur’an di dalam penjara.

Di Waktu Sepertiga Akhir Malam

Malam hari, khususnya sepertiga akhir malam merupakan waktu yang penuh barakah. Oleh karenanya, kita diperintahkan bangun dari tidur untuk melaksanakan sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah swt. Para ulama menyebutkan jika seseorang bangun malam diberi dua pilihan antara sholat atau belajar.

Imam Al-Mufassir Abu Tsana’ Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Alusi Al-Baghdadi, seorang mufti sekaligus penutup para ahli tafsir, lahir pada tahun 1217 H dan wafat tahun 1270 H. Di setiap akhir malam beliau memanfaatkan untuk menulis lembaran demi lembaran tentang tafsir. Sehingga, pada keesokan pagi harinya, tulisan itu beliau serahkan kepada para juru tulis yang ditugaskan dirumah beliau. Mereka tidak mampu menyelesaikan tulisan itu secara baik, kecuali dalam rentang waktu sepuluh jam. Beliau terus saja menulis hingga saat sakit beliau yang terakhir.

Antara Sholat Lima Waktu

  1. Allah Ta'ala telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan sholat dalam lima waktu yang terpisah-pisah dalam satu hari. Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu-waktu tersebut insya Allah akan diberkati amalannya. Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi telah berhasil memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menulis. Setelah shalat shubuh , beliau mengajarkan al-Qur’an atau terkadang mengajarkan hadits. Lalu beliau berwudhu dan shalat sebanyak 300 rakaat dangan membaca al-fatihah dan mu’awwadzataini, hingga mendekati waktu dzuhur. Kemudian, beliau tidur ringan, lalu bangun untuk shalat dzuhur, dan kemudian sibuk menyimak atau menyalin tulisan hingga datang waktu maghrib.”

Menggunakan Sarana Yang Terjangkau

Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitabnya Al-Intiqa fi Fadha’ilits Tsalasatil A’immatil fuqaha’ dengan sanadnya yang sampai kepada Imam Syafi’I, bahwa Imam Syafi’I menuturkan, “Aku tidak mempunyai harta. Aku menuntut ilmu dalam usia muda yaitu sebelum 13 tahun . Aku pergi ke kantor meminta kertas bekas untuk menulis.” Maksudnya, kertas bekas yang sebelahnya telah dipakai dan sebelahnya belum terpakai. Kemiskinan tidaklah menghalangi beliau, untuk terus menulis ilmu. Sehingga beliau termasuk Imam Madzhab yang paling banyak karyanya dibanding dengan ketiga imam madzhab yang lain.

Menulis tidak harus menunggu punya computer atau laptop, menulislah di buku-buku tulis, atau di kertas-kertas bekas, sebagaimana para ulama menulis. Menulis dengan bulpen, dengan pencil, dengan spidol, dengan apa saja, yang penting anda menulis.

Menulis Sambil Makan

Al-Hafidz Dzahabi berkata di dalam Tsadzkiratul Hufadz, tentang biografi Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah Bin Imam Al-Hafidz Abu Daud As-Sijistani, ia berkata, “Aku memasuki kota kuffah dan hanya mempunyai uang satu dirham. Dengannya aku membeli 30 mud kacang-kacangan . Aku makan darinya dan menulis hadits dari Al-Asyaj –yakni Abdullah bin Sa’id Al-Kindi, ahli hadits kuffah-. Kacang-kacangan tersebut belum habis, hingga aku mampu menulis darinya 30.000 hadits , baik yang maqthu’ maupun yang mursal.”

Al-Barqani menuturkan, “ Aku memasuki kota Isfirayin, sedangkan aku berbekal uang tiga dinar dan satu dirham. Tiga dinar tersebut hilang, dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Aku memberikannya kepada tukang roti. Setiap harinya aku menerima darinya dua potong roti. Aku mengambil satu jilid buku dari Bisyr bin Ahmad, lalu aku menyalinnya dan menyelesaikannya di petang hari. Aku telah menyalin 30 jilid kitab, sedangkan jatahku dari tukang roti telah habis. Maka, aku pun melanjutkan melanjutkan perjalanan.”

Menulis Cepat

Abu Isma’il Al-Anshari berkata : ” Seorang ahli hadits harus memiliki sifat cepat dalam berjalan, cepat dalam menulis, cepat dalam membaca.” Perlu ditambah satu lagi, yaitu cepat dalam makan.

Kenapa harus cepat berjalan ? Karena dengan cepat berjalan, waktu akan lebih efesien dan lebih cepat sampai kepada tujuan. Bisa diartikan lebih cepat kepada syekh atau guru, sehingga ilmu yang akan di dapat lebi banyak. Untuk zaman sekarang, bisa diterapkan dengan menggunakan pesawat, walaupun mahal sedikit, tapi bisa efesien waktu, apalagi di dalam perjalanan bisa dimanfaatkan untuk menulis.

Kenapa harus cepat menulis ? Karena seseorang yang bisa menulis cepat, berarti dia bisa menulis lebih banyak, sehingga menjadi produktif. Oleh karenanya dianjurkan bagi siapa saja yang ingin menulis, hendaknya dia menulis yang ada di dalam benaknya dan yang ia kuasai. Jika ingin menambahkan dari beberapa referensi, hendaknya mencari referensi yang terjangkau dan mudah dipahami, sehingga tidak menghambat proses penulisan.

Kenapa harus membaca cepat ? Karena dengan membaca cepat, maka maklumat yang ia dapatkan jauh lebih banyak, sehingga membantunya untuk mempercepat tulisannya. Karena tulisan seseorang tergantung kepada maklumat yang dimilikinya.

Kenapa cepat dalam makan ? Kalau seseorang bisa makan cepat, waktu yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, terutama membaca dan menulis. Di bawah ini dijelaskan bagaimana para ulama yang produktif, ternyata mereka menulis dengan cepat.

Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyid berkata, “jika Ala’ bin Nafis ingin mengarang sebuah kitab, maka beliau pun meletakkan pena-pena yang telah dirautnya, lalu beliau berputar menghadapkan wajahnya kearah dinding. Kemudian beliau menulis dari berbagai ide yang terbetik dalam benaknya. Beliau menulis ibarat air yang mengalir. Bila penanya tumpul dan tidak jelas tulisannya, maka beliau mencampakkannya dan menggunakan yang lainnya, agar waktunya tidak terbuang untuk meraut pena yang tumpul .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam usia 57 tahun adalah beliau menghasilkan sekitar 500 jilid karya tulis. Beliau mampu mengarang dalam sehari sebanding dengan jumlah lembar tulisan seorang juru tulis pada zaman itu yang ditulis selama sepekan atau bahkan lebih banyak lagi. Biasanya saat menyampaikan fatwa, beliau mampu menulis sejumlah masalah dangan tulisan yang sangat cepat, disertai penjelasan dan penjabaran hal-hal yang sulit.

Dalam sehari semalam beliau mampu menulis masalah tafsir atau fiqih, atau masalah-masalah ushul fiqih, ushul kalam, dan tauhid, atau memberikan bantahan terhadap kalangan filosof dan ahli takwil, sekitar empat buku tulis atau lebih. Maka tak berlebihan jika karya beliau hingga sekarang mencapai 500 jilid. Dalam sejumlah masalah, beliau memiliki karya tersendiri. Beliau seorang yang pandai menulis secepat kilat dan laksana hujan deras yang tak henti-hentinya.

Beliau mampu menulis tentang satu masalah hingga tak ada batasnya. Beliau mampu menulis dua atau tiga lembar dalam sekali duduk. Syaikh Ibnu Qoyyim telah menulis sebuah risalah yang berisi nama-nama karya Ibnu Taimiyah, hingga mencapai 22 halaman.

Adalah Al- Khatib Al Baghdadi pernah berkata : ” Saya mendengar dari Al-Simsi yang menceritakan bahwa Ibnu Jarir At Tobari selama 40 tahun, menulis setiap harinya 40 lembar . Bahkan salah seorang murid Ibnu Jarir yang bernama Al Farghani mengatakan bahwa para murid Ibnu Jarir telah mendata kehidupan beliau sejak baligh hingga meninggal dunia pada umur 86 tahun. Kemudian mereka mengumpulkan seluruh karya-karya beliau, dan jika dibandingkan dengan umur beliau, ternyata didapatkan bahwa beliau menulia setiap harinya 14 lembar. Dan ini tidak akan mampu dilakukan oleh seseorang kecuali atas inayah Allah Ta'ala. Dan jika dihitung-hitung lembaran karya tulisnya maka didapatkan jumlahnya sekitar 358.000 lembar. Wallahu A’lam

(Sumber:http://www.ahmadzain.com/read/penulis/268/bahtera-pena-para-ulama/)

Selasa, 19 Juli 2011

Seni Berinteraksi Dengan Diri Sendiri

1. Mengamalkan segala hak Allah dan meminta tolong hanya kepada-Nya, hanya kepada-Mu saya melaksanakan segala yang Engkau kehendaki wahai Rabb-ku …

2. Bersifat optimis adalah jalan menuju keberhasilan, (Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda); وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ “Saya senang terhadap optimisme.”

3. Bercita-cita tinggi dan jangan bercita-cita rendah.. 4. Kuatkan jiwa untuk senantiasa menyelesaikan segala pekerjaan dan membuat perencanaan (yang baik) untuk menyelesaikannya.

5. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan benar.

6. Tulis segala kegiatan penting yang akan dilakukan. Optimalisasi tertib perencanaan kerja adalah syarat keberhasilan.

7. Mengendalikan keinginan jiwa karena jiwa seorang itu dipenuhi dengan kejahatan, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah.

8. Bersegeralah kepada kebaikan dan jangan malas.

9. Introspeksi diri terhadap kebiasaan-kebiasaan buruk. Bila ada dari kebiasaan-kebiasaan itu yang harus diganti, maka segeralah merubahnya.

10. Jadikan hal mendasar yang merupakan prinsip pokokmu berupa perkara-perkara baku yang tidak lagi mungkin ditawar.

11. Berhati-hatilah untuk berbasa-basi terhadap sebuah kewajiban yang tidak engkau penuhi.

12. (Allah berfirman); {إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ} [الزمر: 10] “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”. Olehnya, terimalah seluruh hasil perbuatanmu dengan ketenangan.

13. Bersungguh-sungguhlah terhadap masalah pribadimu dan jangan menyingkapnya pada setiap orang kecuali jika benar-benar ada maslahatnya.

14. Berupayalah meraih nilai maksimal dari derajat kesempurnaan manusiawi agar engkau bisa mendapatkan cita-citamu. Panutan terbaikmu adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-; semakin engkau mencontohnya, semakin dekatlah engkau kepada kesempurnaan manusiawi. Namun semakin kecil keinginanmu untuk mencontohnya, maka akan semakin jauhlah engkau dari nilai kesempurnaan manusiawi.

15. Kegembiraan dan kelapangan hati adalah dua hal –setelah pertolongan Allah- yang bisa membantu seorang dalam menyelesaikan beberapa urusannya.

16. Jauhi angan-angan kosong dan berlakulah secara proporsional.

17. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda; اخشوشنوا فإن النعم لا تدوم “Berlaku sederhanalah dan jangan boros karena kenikmatan itu tidaklah kekal.”

18. Senantiasalah berlaku jujur dalam berinteraksi.

19. Berlaku jujurlah bahkan terhadap diri sendiri. Berupayalah sendiri untuk dapat mengobati segala celanya, karena engkau sendirilah yang mengetahui aibnya. Sesungguhnya manusia itu adalah tempatnya cela dan kekurangan.

Sumber: Muhammad Irfan Zain/http://www.facebook.com/muhammad.i.zain)

Senin, 18 Juli 2011

Aktivasi potensi menuju kesuksesan diri

Di manapun kita beraktivitas atau bekerja, seharusnya memberikan ruang agar seluruh potensi yang Allah berikan kepada kita bisa aktif dan berkembang. Ini sebagai wujud syukur kepada Dzat yang telah menganugerahkan segala nikmat. Sekaligus menjadi penentu seberapa sukses seseorang menjalani hidup. Karena kesuksesan seseorang tergantung seberapa besar potensi yang diaktifkan sesuai dengan fungsinya. Dan begitulah semestinya fitrah berjalan sesuai dengan relnya. Tak ada satu potensipun yang tidak berfaedah, dan tak ada satu anugerah dari Allah yang boleh disia-siakan.
    Menelatarkan sebagian fungsi, atau menjadikannya fasif dan menganggur, adalah kekufuran terhadap nikmat yang Allah berikan. Dan segala hal yang berjalan tidak sesuai dengan fitrahnya, pasti akan rusak, dan bahkan merusak potensi yang lain.

Mengaktifkan Akal Pikiran

Allah telah memberikan potensi akal kepada manusia, anugerah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan hewan. Semakin banyak akal ‘menganggur’,  maka makin mendekatkan manusia pada karakter hewani, nas’alullahal ‘aafiyah. Karenanya, Umar bin Khatab  berkata, “ashlur rajuli ‘aqluhu, wa sabuhu diinuhu, wamuruu’atuhu khuluquhu”, inti sesorang disebut manusia itu adalah karena akalnya, kehormatannya terletak pada agamanya, sedangkan kewibawaannya tergantung pada akhlaknya.
Maka selayaknya kita menjalankan fungsi akal sebagaimana mestinya. Terus mengisinya dengan ilmu yang bermanfaat, baik dunia maupun di akhirat. Nutrisi akal yang dengannya ia bisa berkembang adalah dengan menghayati ayat-ayat Allah berupa qur’aniyah dan kauniyah, firman Allah,
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perinta-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal”. (QS an-Nahl 12)
Sisi istimewa dari akal adalah, makin sering dipergunakan, maka kemampuannya semakin bertambah, berbeda dengan barang-barang elektrik yang jika sering dipergunakan makin cepat mengalami penyusutan dan penurunan fungsi. Sebaliknya, akal yang dibiarkan menganggur akan cepat jumud, tumpul dan pikun. Secara fungsi akan mengalami penyusutan secara drastis.

Maka, bertambahnya kesibukan maupun usia, tak boleh menjadi halangan untuk tetap belajar, membaca, menghafal, memahami maupun menganalisa hal-hal yang bermanfaat. Bahkan, kerja akal tidak layak berhenti, meski aktivitas jasad istirahat karena lelah. Saat kaki tak lagi kuat menyangga tubuh, saat mata terasa berat unruk membaca dan melihat. Seperti yang menjadi tekad Ibnu’Uqail Al-Hambali, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, sehingga apabila lisan dan mataku telah lelah membaca dan berdiskusi,maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan berbaring diatas tempat tidur. Aku tidak berdiri, kecuali terlintas dibenakku apa yang akan ku tulis.”

Mengaktifkan Hati Dan Jiwa

Hati dan nafsu, juga merupakan potensi yang harus diaktifkan secara benar. Pengangguran itu tak hanya berlaku bagi orang ysng tak memiliki pekerjaan secara fisik. Layak pula disebut pengangguran bagi orang yang tidak mengaktifkan hati dan jiwanya untuk mencari dan merasai nikmat iman. Karena tanpanya, hati tidaklah berguna. Abdullah bin Mas’ud memberikan jawaban, kemana hati harus aktif bekerja dan mencari nutrisi yang bermanfaat. Beliau berkata,  “carilah hatimu di tiga keadaan, saat mendengarkan al-Qur’an, saat berada dimajelis ilmu dan saat menyendiri bermunajad kepada Allah. Jika kamu tidak mendapatkan hatimu disana maka mohonlah kepada Allah untuk memberikan hati untukmu karena kamu tidak memiliki hati.”

Eksistensi hati itu dikatakan ada tatkala ia bisa menikmati lezatnya nutrisi-nutrisi imani. Ia merespon bacaan dan arahan al-Quran, merasa haus akan ilmu yang menunjukkan cara mendekatkan diri kepada sang pencipta. Ia juga merasakan hadirnya ketentraman dan kesyahduan saat bermunajad kepada Allah. Jika tanda-tanda itu sama sekali tidak ada, maka hati tidak menunjukkan tanda-anda kehidupannya. Seakan pemiliknya telah kehilangan olehnya, dan hidup tanpa memiliki hati. Wajar jika Ibnu Mas’ud menyarankan kepadanya, agar ia memohon kepada Allah untuk memberikan hati yang baru kepadanya. Seharusnya, kita senantiasa membawa hati kepada hal-hal yang bisa membuat hati hidup dengan sehat.
Begitupun nafsu, hendaknya secara sengaja dan aktif dikendalikan menuju perkara-perkara yang diridhai oleh Allah. Bukan dibiarkan bergentayangan sesuai dengan kehendaknya. Karena nafsu itu, seperti yang dikatakan sahabat Salman al-Farisi, “sesungguhnya nafsu itu, jika kamu tidak menyibukkan ia dalam ketaatan, niscaya ia menyibukkan dirimu dengan kemaksiatan.

Ketika akal, hati dan jiwa telah aktif dijalan yang seharusnya, maka jasadpun akan bergerak. Anggota badan itu lah yang akan merampungkan capaian tujuan secara fisik. Kaki dengan gagah akan melangkah, tangan dengan cekatan akan berkarya, mata akan sibuk membaca, menelaah dan mencari hal-hal yang berfaedah, dan telinga akan aktif mendengarkan hal-hal yang bermanfaat. Jika semua potensi berjalan, maka kesuksesan paripurna akan berhasil diraih. Wallahu a’lam. (Sumber:Abu Umar Abdillah/Majalah Ar risalah)

Jumat, 27 Mei 2011

Mari Kita Raih Kemenangan

seorang lelaki datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. “Wahai Rasulullah amal ibadah apa yang paling dicintai Allah dalam Islam?”, Rasulullah bersabda, “Shalat di awal waktu, dan siapa yang meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama.
(H.R Baihaqi)

Hayya ‘ala shalaah… hayya ‘ala-l fallaah… Suara azan shubuh dari mesjid terdengar merdu memanggil kita. Berapa banyak dari kita yang datang ke mesjid? Berapa banyak shaf-shaf di mesjid terisi? Mesjid sepi.

Tak berapa lama kemudian, hari masih sangat pagi, semua penghuni rumah bergegas keluar rumah, jalanan menjadi ramai, lalu lintas padat, angkutan umum penuh sesak... . hendak kemana kita? Tujuan kita ke tempat kerja.

Waktu zuhur dan ashar pun tiba, dan kita memilih tenggelam dengan pekerjaan kita, sibuk di depan komputer, mengikuti meeting panjang, menggarap proyek besar… Shalat zuhur dan ashar kita tunda-tunda, kita kerjakan shalat di akhir waktu…

Bagaimana dengan maghrib dan isya? Ah, kita sangat lelah, tenaga kita rasanya habis terkuras, shalat pun rasanya amat berat…

Inikah potret kehidupan kita? Inikah realitanya? Apakah pekerjaan menjadi prioritas kita? Shalat kita lalaikan? Sebenarnya apa yang kita tunggu-tunggu dalam hidup ini? Tak lain, kita semua sedang menunggu kematian…Dan setelah kematian, amalan apakah yang pertama kali dihisab oleh Allah? Ya, shalat adalah amalanyangpertama kalidihisab oleh Allah!

Betapa ingin kita datang tepat waktu ke kantor, betapa ingin kita dilihat oleh atasan sebagai karyawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh, kita tidak ingin dicap pemalas, kita sangat peduli dengan perasaan atasan kita, tapi… mengapa kita tidak peduli dengan “perasaan”Allah? Pernahkah terpikir oleh kita bagaimana “perasaan” Allah saat kita selalu terlambat menghadap-Nya, mengakhir-akhirkan waktu shalat, bahkan ketika shalat kita masih saja memikirkan dunia… Padahal yang memberi rizki untuk kita bukan atasan kita, tetapi Allah.

Mungkin kita bertanya, bukankah bekerja adalah ibadah? Benar, bahwa bekerja adalah ibadah, tapi apakah dibenarkan jika bekerja memalingkan ibadah kita kepada Allah? Sungguh, betapa Allah sangat sayang kepada kita, dan betapa Allah sangat mengerti kebutuhan kita. Lihatlah rentang waktu yang panjang antara shalat shubuh dan zuhur, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk sibuk dengan dunia, untuk mencari sebagian karunia-Nya. Dan juga rentang waktu yang panjang antara isya dan shubuh adalah waktu istirahat yang diberikan Allah kepada kita setelah kita seharian lelah bekerja.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Hadist yang menegaskan betapa agungnya kedudukan shalat. Allah Ta'ala berfirman:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan padamu yaitu al kitab (Al-Qur’an) dan dirikan shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-prbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-Ankabut [29]:45)

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (Q.S Al-Ma’arij [70]:34-35)

Telah datang seorang lelaki dan bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. “Wahai Rasulullah amal ibadah apa yang paling dicintai Allah dalam Islam?”, Rasulullah bersabda, “Shalat di awal waktu, dan siapa yang meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama. (H.R Baihaqi)

Shalat juga merupakan pesan terakhir Rasulullah, sebelum wafat Rasulullah terus mengucapkan “As-shalah! As-shalah! Wa maa malakat aymanukum.” (Shalat! Shalat Dan para budak) (H.R Ibnu Dawud)

Saudaraku tercinta, sebelum kita dihisab Allah, sebelum tiba hari dimana harta dan anak tak lagi berguna, marilah kita hisab terlebih dahulu diri kita, kita hisab amalan shalat kita.


Marilah kita pelihara shalat kita, jadikan shalat sebagai prioritas pertama hidup kita, maka sungguh kita akan meraih kemenangan, yaitu kekal di dalam surga-Nya. Hayya ‘ala shalaah… Hayya ‘ala-l fallaah…

Daftar Pustaka
Al-Rasyid Muhammad ibn Khalid, Syami Ahmad Shaleh. “Min Akhta al-Mushallin assholah assholah (akhir maa takallama bihi anabii)”. Diterjemahkan oleh: Rapung Samuddin, Nasrullah Jasam dengan judul: Shalat yang Menangis”.2010. Jakarta:tuhifa media.(Silvani/www.eramuslim.com).

Jumat, 17 Desember 2010

Apa Arti Hakikat Keislaman Saya?

Oleh : Anwar Junaede
Banyak orang yang saat ini mengaku sebagai pemeluk agama Islam, namun mereka tidak tahu hakikat hal itu. Mereka juga tidak mengerti kemuliaan yang mereka peroleh karena nikmat dan anugerah Allah ta’ala yang agung dengan memeluk agama ini, padahal itulah nikmat yang paling besar yang tiada bandingannya.

Di antara hal yang membuatkan bertambah mulia dan bangga

Dan aku hampir menginjakkan kedua kakiku di atas bintang kejora

Adalah masuknya aku ke dalam firman-Mu, “Wahai hamba-hamba-Ku.”

Dan Engkau utus Ahmad sebagai utusan-Mu

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap bayi adalah terlahir dalam fitrahnya, lalu kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muttafaq ‘alaihi).

Seandainya ada di antara kita yang sejak tercipta hingga mati bersujud di atas tanah karena bersyukur atas nikmat Islam yang sangat agung ini, tentunya dia tetap tidak akan mampu menebusnya. Namun sayang sekali, saat ini kita temukan banyak orang muslim yang menganggap bahwa keislamannya cukup dengan nama atau keterangan di kartu identitasnya saja. Dia mengira bahwa dia menjadi muslim karena namanya Muhammad, Ahmad, Abdullah, atau Abdurrahman. Tetapi apa yang dia ketahui tentang Islam? Apa yang kita berikan kepada agama ini? Bahkan, saat ini kepemelukan banyak orang terhadap agama ini menjadi kepemelukan yang sifatnya teoritis, polos, dan dingin. Sehingga banyak di antara kita yang tidak memasukkan agama ini dalam objek perhatian, tujuan, dan program hidup kita.

Mungkin saya merencanakan masa depan saya, masa depan istri saya, masa depan anak-anak saya, dan masa depan pekerjaan saya. Tetapi siapa di antara kita yang membuat rencana untuk kejayaan Islam? Siapa di antara kita yang membuka hatinya untuk melihat realitas pahit dan memilukan yang dihadapi umat Islam saat ini? Siapa di antara kita yang tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi agama ini? Siapa di antara kita yang tidur, namun hatinya selalu disergap perasaan sedih, matanya mengalirkan air mata karena melihat kondisi yang memilukan ini?

Hidup dengan Islam dan untuk Islam, itulah hakikat dari keberpihakan kepada Islam.
Islam Agama Allah

Anda harus tahu bahwa Islam adalah agama Allah. Maka ketika Alah telah melapangkan hati Anda untuk menerima Islam, lalu Anda menyerahkan diri kepada-Nya, bersaksi tidak ada sembahan yang hak selain Dia dan Muhammad adalah rasul Allah ta’ala, tanpa paksaan dari seorang pun, maka setelah itu Anda harus mengetahui bahwa Islam adalah manhaj hidup yang mengontrol seluruh hidup Anda dan Anda dalam kondisi yang sangat bahagia serta penuh keridhaan.

Konsekuensi dari Islam adalah Allah ta’ala berfirman kepada hamba, “Aku memerintahkan dan melarang,” dan hamba berkata kepada-Nya, “Saya mendengar dan menaati.” Dan sang hamba pun menyerahkan akal dan hatinya kepada Allah dan rasul-Nya, serta mengikuti jejak rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sampai kepada kehidupan yang damai dan bahagia di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, seandainya Anda selalu mengikuti jalan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Anda akan melihat beliau sedang menunggu Anda di haudh (telaga) beliau. Sehingga Anda pun akan bahagia dan tidak pernah merasa sengsara untuk selamanya.

Hiduplah dengan Islam dan Untuk Islam

Hakikat memeluk Islam adalah hidup dengan Islam dan untuk Islam, hidup dengan perintah-perintahnya, larangan-larangannya, dan batasan-batasannya. Para sahabat radhiallahu ‘anhu benar-benar memahami hal ini. Sehingga ketika salah seorang mereka meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam keimanan, dia pun mengetahui dengan penuh keyakinan akan hakikat dari keberpihakannya terhadap agama ini. Oleh karena itu, semua kekuatan dan kemampuannya pun tercurahkan untuk Islam.(Bersambung Insya Allah)
sumber :http://www.facebook.com/?sk=messages&tid=1486988500524