Rabu, 17 Oktober 2012
Meneladani Kepahlawanan Diponegoro
Para pahlawan Islam adalah mereka yang telah mengorbankan apa yang sangat mereka cintai demi tegaknya sebuah kebenaran yang mereka yakini. Para pahlawan ini telah memberikan teladan yang tinggi dalam kehidupan. Di saat paham materialisme dan pragmatisme mengerogoti lembaga-lembaga pendidikan, maka pemahaman yang benar terhadap para pahlawan Islam -- yang juga diakui juga sebagai pahlawan nasional Indonesia – sangatlah penting untuk dapat meneladani sikap dan perjuangan mereka serta menjadikan para anak didik memiliki adab yang baik. Sayangnya, hal ini masih belum banyak terjadi, sebab adanya kesalahan dalam pengajaran sejarah. Kasus pengajaran tentang Pangeran Diponegoro dan RA Kartini dapat kita jadikan satu contoh.
Di sejumlah lembaga pendidikan Islam, saya mengedarkan daftar pertanyaan kepada para guru, santri, dan murid, untuk dijawab: SETUJU ATAU TIDAK. Salah satu pertanyaan itu berbunyi sebagai berikut: ”Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda karena kecewa tanah leluhurnya dirampas oleh Belanda dan tahta Kerajaan Mataram tidak diserahkan kepada dirinya, tetapi diserahkan oleh Belanda kepada adiknya.”
Ternyata, banyak yang menjawab SETUJU. Jawaban itu tidak mengejutkan, sebab memang sesuai dengan materi buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, termasuk sekolah dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Padahal, faktanya, Diponegoro adalah pahlawan Islam. Diponegoro adalah mujahid yang terkenal dengan pakaian jubah dan sorbannya. Unsur-unsur ”ruh Islam” inilah yang tampak dihilangkan dalam banyak materi pendidikan sejarah. Karena itu kasus Pangeran Diponegoro ini perlu disimak.
Pada jurnal Islamia-Republika, edisi 15 Oktober 2009, dimuat sebuah artikel menarik berjudul ”DIPONEGORO PANGERAN SANTRI PENEGAK SYARIAT”. Artikel itu ditulis oleh Ir. Arif Wibowo, peserta Program Kader Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Artikel itu membuka kembali wacana penting dalam penulisan sejarah Islam di Indonesia, bahwa Pangeran Diponegoro bukanlah pahlawan nasional yang berjuang melawan Belanda semata-mata karena urusan tanah atau tahta. Tapi, Pengeran Diponegoro adalah pahlawan Islam, bangsawan Jawa yang mendalami serius agama Islam, dan kemudian melawan penjajah Belanda dengan semangat jihad fi sabilillah. Diponegoro adalah sosok pahlawan yang berani meninggalkan tahta dan kenikmatan duniawi demi mewujudkan sebuah cita-cita luhur, tegaknya Islam di Tanah Jawa.
Berikut ini kita sajikan secara utuh tulisan yang menarik tentang Diponegoro tersebut:
Pangeran Diponegoro lahir pada 1785. Ia putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III (1811 – 1814). Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali Sanga dari Jawa Timur. Dalam bukunya, Dakwah Dinasti Mataram, Dalam Perang Dipnegoro, Kyai Mojo dan Perang Sabil Sentot Ali Basah, Heru Basuki menyebutkan, bahwa saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir. Heru Basuki mengutip cerita itu dari Louw, P.J.F – S Hage – M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89.
Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren. Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.
Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat Al Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Penerbit Bulan Bintang Jakarta hal. 29).
Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah. Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma. Dikutip dalam buku Dakwah Dinasti Mataram: “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa” (Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).
Perang Besar
Dalam bukunya, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Kareel A. Steenbrink, mencatat, sebagian besar sejarawan menyepakati bahwa perang Diponegoro lebih bersifat perang anti kolonial. Beberapa sebab itu antara lain: 1. Wilayah kraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, 2. Pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, 3. Kekurangadilan di masyarakat Jawa 4. Aneka intrik di istana, 5. Praktek sewa perkebunan secara besar-besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, 6. Kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja, tetapi juga untuk
kepentingan penjajah Belanda.
Namun menurut Louw, sebab-sebab sosial ekonomis tadi dilandasi oleh alasan
yang lebih filosofis yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru Basuki: “Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”
Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock pada saat penangkapannya. “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi”(Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa). (Lihat, P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu,(2002)).
Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya. Peter Carey dalam ceramahnya berjudul Kaum Santri dan Perang Jawa pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April 1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu yogyakarta dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.
Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.
Paduan motivasi agama dan sosial ekonomi ini menyebabkan Perang Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda. Korban perang Diponegoro: orang Eropa 8.000 jiwa, orang pribumi yang di pihak Belanda 7.000 jiwa. Biaya perang 20 juta gulden. Total orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.
Data ini menunjukkan, dahsyatnya Perang Diponegoro dan besarnya dukungan rakyat terhadapnya. Oleh bangsa Indonesia, Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan sorban dan jubahnya, kemudian diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional, yang sangat besar jasanya bagi bangsa Indonesia. Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekalihingga mendekati keterlaluan”
Demikianlah artikel penting yang ditulis Saudara Arif Wibowo tentang Pangeran Diponegoro. Informasi tentang Diponegoro tersebut perlu diajarkan di sekolah-sekolah kita, khususnya sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam. Saya masih menemukan banyak sekolah Islam yang masih mengajarkan cerita tentang Diponegoro yang keliru dan tidak menggambarkan Diponegoro sebagai seorang pahlawan Islam. Seolah-olah Diponegoro berjuang melawan Belanda hanya karena urusan duniawi. Kita berharap, pengelola lembaga pendidikan Islam juga para orang tua bersedia meneliti buku-buku pelajaran anak-anaknya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam dan fakta yang sebenarnya.
Cobalah tanyakan kepada anak-anak kita, apakah mereka memahami bahwa Islam masuk ke Indonesia adalah dibawa oleh para pedagang dari Gujarat India. Padahal, teori buatan Snouck Hurgronje itu sudah lama dijawab oleh para ulama dan sejarawan Muslim. Para pendakwah Islam di wiayah Nusantara ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para pendakwah yang datang dari negeri Arab yang serius mendakwahkan Islam; bukan sekedar pekerjaan sambilan dari pekerjaan utama, yaitu berdagang.
Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan lembaga-lembaga pendidikan, saya mengajak para pimpinan dan guru-gurunya, agar serius memperhatikan pelajaran sekolah anak-anaknya. Suatu ketika anak saya menyodori sebuah soal pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VI Sekolah Dasar dari suatu sekolah Islam terkenal. Salah satu soalnya menceritakan, bahwa ada seorang anak yang rumahnya jauh dari rumah. Setelah pulang sekolah ia harus membantu ibunya berjualan sampai magrib. Usai shalat magrib, dia masih harus mengaji, sehingga esoknya di sekolah dia kecapekan dan mengantuk.
Soal semacam ini seyogyanya tidak diberikan kepada anak didik. Apalagi di sekolah Islam. Mestinya, diajarkan, bahwa meskipun anak tersebut rumahnya jauh, harus membantu orang tuanya berjualan, dan juga harus mengaji, tetapi si anak tetap dapat meraih prestasi dengan baik di sekolahnya. Faktanya, tidak sedikit anak-anak berprestasi di sekolahnya justru anak-anak yang suka belajar dan bekerja keras, meskipun berada dalam kondisi kehidupan yang tidak mudah.
Itulah pentingnya lembaga-lembaga pendidikan Islam melakukan perbaikan terhadap guru-guru dan kurikulum serta buku-buku pelajarannya. Kita berharap, dari sekolah-sekolah itulah akan lahir anak didik yang beradab. Yakni, anak didik yang mampu memandang dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai derajat yang ditentukan Allah SWT. Seorang Pangeran Diponegoro harus diletakkan secara terhormat sebagai pahlawan pejuang agama Allah. Era reformasi dan keterbukaan harusnya mampu dimanfaatkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam untuk merevisi, dan kalau perlu merombak, buku-buku pelajaran yang selama ini diajarkan kepada anak didik mereka.
Pelajaran sejarah sangat penting diberikan dengan mengungkap fakta dan perspektif yang benar untuk membentuk persepsi dan sikap hidup. Ketekunan, keikhlasan, kezuhudan, dan semangat jihad Pangeran Diponegoro seharusnya dipaparkan dengan benar kepada anak didik sehingga mereka tergerak untuk mengambil hikmah dan meneladani sang pahlawan Islam tersebut.
***
Diambil dari artikel Ust Adian Husaini di http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=429:meneladani-kepahlawanan-diponegoro&catid=27:mengenal-ahmadiyah&Itemid=28.
Selasa, 24 Januari 2012
Ibnu Taimiyah, Gagah Melawan Kemunkaran dengan Pena
Sepenuh Perjuangan
Ibnu Taimiyah lahir di Harran pada 22/1/1263 dan berasal dari keluarga ‘santri’. Syihabuddin Abdul Halim –ayah dia- adalah seorang hakim dan khatib. Sementara, kakeknya -Majibuddin Abdus-Salam- adalah ulama yang hafidz dan menguasai beragam ilmu serta memiliki sejumlah karya besar di bidang fiqh dan tafsir.
Sejak kecil Ibnu Taimiyah dibesarkan di tengah-tengah para ulama. Dia punya kesempatan membaca kitab-kitab yang bermanfaat. Seluruh waktunya dipakai belajar. Dia belajar banyak cabang ilmu kepada para ulama, hafidz dan ahli hadits. Dia belajar –antara lain- hadits, ushul fiqih, nahwu, khat (ilmu tulis-menulis Arab), dan matematika.
Memang, tanda-tanda bahwa dia cerdas tampak sejak kecil. Dia dikenal sebagai orang yang mudah hafal dan sukar lupa. Ada kesaksian, bahwa tak sehurufpun dari Al-Qur’an maupun ilmu lain yang dia hafal lalu lupa. Maka, tak heran, bahwa dalam usia sangat muda, dia telah hafal Al-Qur’an.
Ketika umurnya sekitar sepuluh tahun, dia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadits, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubu Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.
Sekalipun –ketika itu- berusia sangat muda, Ibnu Taimiyah rajin menghadiri berbagai pertemuan ilmiah. Di sana dia tak canggung duduk bersama hadirin lainnya yang rata-rata telah dewasa. Di forum-forum seperti itu dia aktif berdiskusi, bahkan dengan para ulama. Tak pernah dia kalah saat berdiskusi. Jika menjawab pertanyaan, dia selalu menjawab lebih dari yang dibutuhkan si penanya.
Memelajari hadits sangat berguna baginya. Ia memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Tentu saja, karena dia intens belajar hadits –dan apalagi hafal Al-Qur’an-, maka pada saat menjelaskan aneka masalah agama dia tampak luar biasa dalam berhujjah atau berdalil.
Ketika usianya belum dua puluh tahun dia telah mulai memberi fatwa. Ibnu Taimiyah lalu menjadi pusat tempat bertanya tentang banyak masalah, terutama tentang hadits.
Dalam menghadapi berbagai penyimpangan ajaran Islam, dia tegas. Ahli bid’ah dan khurafat adalah musuhnya. Dia berani membersihkan Islam dari ajaran sesat. Itu dilakukannya konsisten di manapun dia berada. Di Mesir, misalnya, dia memerangi bid’ah, khurafat, serta berbagai penyelewengan penafsiran Al-Qur’an dan Hadits.
Di sebuah saat, para pengikut Ibnu Taimiyah ‘bergerak’ melawan pemerintah yang mereka nilai tak kuasa membendung ajaran sesat di wilayahnya. Akibatnya, Ibnu Taimiyah dipenjarakan.
Memang, serangan-serangannya kepada ahli bid’ah dan khurafat menumbuhkan dendam sebagian orang. Berkali-kali dia difitnah karena keberaniannya berpendapat yang bertentangan dengan banyak orang. Berulang-kali pula dia ditahan.
Di dalam penjara dia merasa mendapat banyak kesempatan untuk membaca dan menulis. Misal, pada tahun 728, setelah setahun dipenjara, dia telah menyelesaikan tulisan berupa bantahan kepada pihak yang dinilainya menyimpang.
Ibnu Taimiyah tipe pejuang dakwah yang lengkap. Saat melihat kemunkaran, dia tampil meluruskannya dengan berbagai media. Jika dipandang perlu, dia berangus langsung seperti yang dia tunjukkan saat melihat sejumlah orang berkumpul berjudi dan berpesta minuman keras.
Saat mengusir penjajah Tartar, dia lakukan dengan lisan dan senjata. Dengan lisan dia memompa semangat jihad kaum muslimin termasuk untuk berinfaq sebagai dana perang. Pada saat yang sama, dia pun mengharamkan mereka yang lari dari gelanggang.
Jejak Itu
Kecuali secara fisik -dan termasuk dengan lisan- Ibnu Taimiyah juga memerangi mereka yang menyimpang dengan diplomasi dan pena. Bahkan, dia yakin bahwa pena lebih mempan untuk melawan bid’ah dan khurafat ketimbang dengan senjata. Dia menulis banyak buku, termasuk ketika dia ada di penjara.
Di saat menulis, Ibnu Taimiyah pandai menyusun kerangka tulisan dan indah memilih kata-kata. Tiap hari Ibnu Taimiyah rajin menulis. Aneka tema yang ditulisnya, seperti tafsir, fiqh, atau ilmu ushul. Sekitar empat buah buku kecil yang memuat berbagai pendapatnya di bidang keislaman bisa dibuatnya dalam sehari. Maka, ketika wafat di dalam penjara pada 1328, secara keseluruhan dia mewariskan sekitar lima ratus judul buku karangannya. Majmu' Fatawa yang berisi fatwa-fatwa dalam agama adalah salah satu di antara yang paling masyhur.
Di saat-saat akhir kehidupannya, ruang gerak dia dipersempit. Di dalam penjara, dirampas semua buku, kertas, tinta dan pena miliknya. Situasi itu telah membuatnya terkekang, karena dia tak bisa lagi membaca dan menulis. Berbeda dengan ketika dia masih diperbolehkan membawa ‘benda-benda’ itu.
Tapi, terutama di saat-saat penjara masih memberinya kelonggaran membaca dan menulis, Ibnu Taimiyah tak pernah bersedih. Baginya, ini ketentuan Allah yang tak boleh disesali. Dia merasa, cukup banyak kebaikan yang didapat di dalamnya, misalnya, ada waktu sangat luang untuk belajar dan beribadah.
Atas perjuangan Ibnu Taimiyah dalam menegakkan kebenaran yang dilakukannya secara tegas dan tanpa kompromi, memang banyak yang memusuhinya. Namun, tak sedikit pula yang mendukung dan menyayanginya, dan itu dari beragam kalangan, seperti orang shalih, tentara, pedagang, rakyat awam dan lain-lain. Lihatlah saat Ibnu Taimiyah wafat, dunia Islam berduka. Banyak rakyat di Damaskus, Mesir, serta di lain-lain tempat menangis. Lalu, mereka yang mampu, berduyun-duyun menyalati jenazah Ibnu Taimiyah. Saat iring-iringan jenazah diantar ke pemakaman, panjangnya bisa menandingi seperti saat Imam Ahmad bin Hanbal –guru Ibnu Taimiyah- dikebumikan.
Duhai Ibnu Taimiyah, semoga kami bisa menjejaki langkah-langkahmu![ Dicopy Paste dari M.Anwar Djaelani di http://www.inpasonline.com]
Sabtu, 15 Oktober 2011
Antara Wahabi dan Isu Terorisme
Kita tentu bersyukur, seorang ketua umum sebuah organisasi massa besar seperti KH Said Aqil Siradj begitu peduli terhadap teror bom yang banyak menimbulkan korban dari masyarakat yang tak bersalah. Bahkan sebenarnya bukan hanya KH Said Aqil Siradj, tokoh yang sering dikait-kaitkan dengan kasus terorisme seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir (ABB) pun mengecam aksi bom di Cirebon dan Solo sebagai tindakan ngawur yang jauh dari pemahaman syariat. Pada beberapa kesempatan, ABB menyatakan bahwa Indonesia adalah wilayah aman yang karenanya Islam harus ditegakkan lewat cara-cara damai.
Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari artikel Kiai Said di atas, yang terkesan seperti menabur angin, mengenai siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi. Dalam beberapa alineanya, artikel tersebut bahkan seperti mengumbar stigma yang gebyah uyah. Jika tak dikritisi, tulisan tersebut bisa menimbulkan ragam penafsiran di masyarakat dan generalisasi terhadap kelompok yang dituduh mengusung dakwah Wahabi. Sehingga hal ini bisa berpotensi memicu konflik sosial di akar rumput, sebagaimana terjadi pada sebuah pengajian hadits di Klaten, Jawa Tengah, yang nyaris dipaksa bubar karena dianggap bagian dari dakwah Wahabi.
Diantara kalimat yang bisa menimbulkan bias pemahaman dan stigma dari tulisan KH Said Aqil adalah, “Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘tawuran’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘cikal bakal’ radikalisme.”
Pada alinea lain, KH Said Aqil mengusulkan agar dilakukan “sterilisasi” masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang kelompok puritan radikal, sebuah kelompok yang menurutnya seringkali menimbulkan “tawuran” di tengah masyarakat. Dalam kesempatan lain, KH Said Aqil bahkan meminta masyarakat untuk mewaspadai 12 yayasan dari Timur Tengah yang ditengarai mendapat suntikan dana dari kelompok Wahabi. Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang dimuat dalam harian ini seolah menyatakan bahwa memerangi ideologi teror sama dengan memerangi ideologi puritan radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai Wahabi. Kelompok yang saat ini menurutnya mengendap-endap di dunia pendidikan, membawa suntikan beracun berisi “ideologi puritan radikal”.
Antara Wahabi dan Terorisme
Stigma Wahabi merujuk pada sosok ulama abad ke-18 bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimy An-Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah (pembaharuan dan pemurnian) akidah kaum muslimin dari beragam kemusyrikan dan amaliah yang tidak diajarkan oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai yang tak pernah menyebut kiprah dakwahnya dengan penamaan dakwah Wahabi atau tak pernah mendirikan organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru muncul belakangan, itupun dengan tujuan stigmatisasi oleh mereka yang tak setuju dengan pemikiran yang diusung dalam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
Di Indonesia, stigma Wahabi juga pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham Wahabi di Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut sebagai pengusung dakwah Wahabi. Baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ataupun generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak pernah ada yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai Wahabi.
KH. Said Aqil Siradj dalam tulisannya tak menjelaskan siapa saja atau kelompok mana saja yang masuk dalam kategori puritan radikal pengusung dakwah Wahabi. Ia hanya menjelaskan, kelompok tersebut tak menghargai perbedaan dan mudah memberikan label sesat pada sesama Muslim lainnya. Sama tak jelasnya, ketika ia melontarkan pernyataan bahwa ada 12 yayasan milik Wahabi yang perlu diwaspadai yang kini beroperasi di Indonesia. Apa saja yayasan itu, kenapa perlu diwaspadai, adakah pelanggaran baik dari sisi hukum nasional ataupun hukum Islam dari 12 yayasan tersebut sehingga layak untuk diwaspadai tak pernah dijabarkan. Sekali lagi, apa yang dilontarkan KH Said Aqil seperti menabur angin, menerpa siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi.
Jika merujuk pada banyak kasus yang terjadi di basis-basis NU, maka kelompok puritan radikal atau Wahabi yang dimaksud KH Said Aqil adalah mereka yang membid’ahkan tahlilan, tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi, dan amaliah lainnya yang menjadi tradisi di kalangan Nahdhiyyin. Kriteria inilah yang sering diungkapkan oleh KH Said Aqil di media massa ketika menyoroti kiprah kelompok yang ia sebut sebagai “Wahabi”. Namun, adakah kaitannya antara kelompok yang berdakwah untuk menjauhi bid’ah dalam urusan ibadah dengan kelompok teroris?
Nyatanya seluruh ormas Islam di Indonesia, baik yang meyakini bolehnya tahlilan atau tidak, sepakat bahwa aksi pengeboman di zona damai adalah perbuatan yang diharamkan Islam, apalagi pemboman yang terjadi di tempat ibadah. Bom yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan jihad tentu mencoreng nama Islam. Islam mengajarkan syariat jihad dengan batasan dan aturan yang ketat dan rinci. Jihad tidak mengedepankan hawa nafsu dan serampangan. Jihad sangat menghargai nilai-nilai dan hak asasi manusia, termasuk di dalamnya hak-hak sipil. Dalam perang, musuh yang menjadi target adalah para combatan dan basis-basis militer, bukan orang-orang sipil, fasilitas umum, dan tempat-tempat ibadah.
Akhirul kalam, menyebut dakwah Wahabi sebagai kontributor aksi teror bom tak pernah bisa dibuktikan dengan jelas. Stigmatisasi itu tak lebih daripada memukul bayang-bayang. Kita tentu tak sepakat dengan sekelompok orang yang mudah mengkafirkan muslim lainnya hanya karena urusan khilafiyah. Kita juga tak setuju dengan pola-pola dakwah yang eksklusif, merasa paling benar, dan jauh dari nilai-nilai akhlakul karimah. Jika ada perbedaan dalam urusan dakwah, maka selesaikan dengan jalan dialog. Begitupun jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal furu’iyah maka kedepankanlah sikap tasamuh (toleran). Stigmatisasi yang tak jelas di tengah prahara terorisme akan menambah beban masalah yang melebar ke mana-mana. Selain persoalan ideologi yang menyimpang, akar dari terorisme adalah ketidakadilan global yang melanda negeri-negeri Muslim. (Disalin dari tulisan Ust Heri Nurdi di Harian Republika, 7 Oktober, 2011)
Kamis, 29 September 2011
Bahtera Pena Para Ulama
Oleh Ust DR Ahmad Zain An Najah MA
Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du :
Umat Islam mencapai kejayaannya, manakala para generasinya bekerja keras, tanpa kenal lelah untuk menggapai cita-citanya. Hal ini terbukti pada zaman keemasan Islam di mana para ulama telah menorehkan berbagai karya agung yang mereka toreh dengan keringat, air mata dan darah mereka. Karya-karya besar mereka sebagiannya sudah sampai kepada kita, sehingga kita bisa ikut merasakan manfaatnya yang begitu besar khususnya di dalam memahami ajaran agama kita.
Sebagai generasi yang datang terakhir, hendaknya kita mengambil pelajaran dari karya-karya tersebut, bagaimana mereka menorehnya, bagaimana mereka mengerjakan pekerjaan yang besar tersebut, padahal kemampuan mereka sebagai manusia bisa dikatakan sama dengan kemampuan kita. Tetapi mereka bisa membuktikannya, sedang kita belum bisa membuktikannya. Apa yang membedakan antara mereka dengan kita ? Bukankah mereka adalah manusia yang juga makan dan minum sebagaimana kita makan dan minum ? Bahkan pada masa mereka sarana kehidupan sangat sederhana dan terbatas, sedang sarana kehidupan kita saat ini sangat banyak, beragam dan serba canggih ?
Dalam tulisan berikut ini, akan kita temukan bahwa mereka mampu berkarya, karena mereka mempunyai kemauan yang kuat dan cita-cita yang tinggi. Mereka benar-benar mengejar cita-cita tersebut dengan keringat, air mata dan darah. Mereka tinggalkan segala bentuk kesenangan yang membuaikan dan meninakbobokan, mereka tiggalkan segala bentuk permainan dan senda gurau yang melupakan, mereka tinggalkan segala bentuk kegiatan yang tidak mendukung cita-cita mereka. Mereka kerahkan seluruh potensi yang ada di dalam diri mereka, mereka bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin. Mereka sangat menghargai waktu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam untuk meraih cita-cita tersebut.
Tiada kata berhenti di dalam hidup mereka, tiada kata istirahat di dalam kegiatan mereka. Mereka terus bekerja, bergerak dan berkarya sampai ajal menyemput mereka. Salah seorang dari mereka, yaitu Imam Ahmad ketika ditanya oleh kawan-kawannya ; “ Wahai Imam…kenapa anda terus menerus belajar ? kenapa tidak istirahat sejenak ? “ . Beliau menjawab : “ wahai teman, istirahatnya nanti ketika kita di syurga “
Tak ayal karya-karya mereka telah memenuhi bumi ini, bagaikan udara yang memenuhi seluruh ruangan. Ibnu Aqil salah satu dari mereka yang memiliki karya tulis yang beraneka ragam dan yang paling spektakuler adalah kitab “ Al-Funun “, sebuah ensiklopedia yang memuat beragam ilmu yang sangat berharga, terdapat di dalamnya berbagai macam nasehat, tafsir, fiqih, ushul fiqih, aqidah, bahasa Arab, sya’ir, sejarah, bahkan juga hikayat. Kitab “ Al-funun “ ini terdiri dari 800 jilid. Kitab ini hanya salah satu karya beliau saja. Beliau juga mempunyai karya-karya lain yang sangat banyak. . Berkata Imam Ad- Dzahabi : ” Belum ada buku di dunia ini yang lebih tebal dari buku ” Al Funun ” .
Lain lagi dengan Ibnu Jauzi, seorang ulama yang menulis berbagai bidang ilmu dan buku-bukunya yang sangat banyak menghiasi perpustakaan Islam. Dalam kitab Tatimmatul Mukhtashor fi Akhbaril Basyar, Ibnul Warid mengatakan : “ Bila lembaran-lembaran buku yang berhasil ditulis oleh Ibnul Jauzi dikumpulkan, lalu dikalkulasi dengan umur yang beliau miliki, maka ditetapkan bahwa beliau menulis dalam sehari sebanyak sembilan buah buku seukuran buku tulis.” Diceritakan juga bahwa bekas rautan pena Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, itupun masih tersisa. Setelah diadakan kalkulasi judul-judul tulisannya, ternyata karya Ibnul Jauzi mencapai 519 buku. Al-Muwafiq mengatakan bahwa Ibnul Jauzi senantiasa menulis dalam sehari setara empat buku tulis.
Seorang ulama mutakhirin Imam Muhammad bin Ali, atau yang lebih terkenal dengan Asy-Syaukani, pengarang kitab “ Nailul Authar “ adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul fiqh. Beliau dilahirkan pada tahun 1173 H di daerah Syaukan bagian dari wilayah Yaman, dan wafat tahun 1250 H. Beliau mewariskan 114 karya tulis.
Imam Abdul Hayyi Al-Laknawi Al-Hindi yang baru wafat sekitar 100 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1304 H. Dalam umurnya yang ke 39 tahun, tulisan beliau telah mencapai 110 kitab.
Syaikh India Maulana Hakimatul Ummah Asyraf Ali At-Tahanawi, yang wafat tahun 1362 H dalam usia 81 tahun. Beliau telah menghasilkan 1000 buah karya.
Kisah-kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa besar dan banyaknya karya tulis mereka. Bisakah kita sebagai generasi penerus mengikuti jejak mereka ?
Menulis Apa Yang Ada Di Benak
Para ulama menulis apa saja yang mereka dapatkan, dan menulis apa saja yang mereka miliki. Mereka tidak mau ilmu yang pernah mereka dapatkan berlalu begitu saja. Bahkan apa yang terlintas di dalam benak mereka, segera mereka tulis jangan sampai hilang, karena di dalamnya mengandung ide-ide yang cemerlang, sayang kalau dibuang begitu saja, karena kadang-kadang ide-ide tersebut tidak datang lagi. Lihat umpamanya
Imam Bukhori, beliau pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmunya yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh kali.
Muhammad bin Yusuf berkata, “Suatu malam, aku berada di rumah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori. Aku memperhatikannya bangun, lalu ia menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu, dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali.”
Isma’il bin Ayyasy salah seorang ulama besar, ketika sedang sholat, beliau sempat menghentikan shalatnya, sekedar untuk menulis hadits. Beliau bercerita : “ Saat itu aku sedang shalat, maka aku pun membaca beberapa ayat. Lalu aku teringat sebuah hadits dalam salah satu bab yang aku keluarkan. Maka aku pun menghentikan shalat, lalu aku segera menulisnya, dan kemudian aku kembali shalat.”
Suatu ketika Syaikh Alauddien masuk ke kamar mandi yang berada di pintu Az-Zahumah. Ketika di pertengahan mandi, beliau beranjak ke ujung kamar mandi tempat melepas pakaian pakaian. Beliau minta diambilkan tinta, pena dan kertas. Lalu beliau langsung menyusun tulisan dalam soal denyut nadi hingga selesai. Setelah itu beliau kembali ke kamar mandi dan menyempurnakan mandinya.”
Luar biasa bukan ? Bisakah kita mengikuti jejak mereka ? Saya teringat dengan kata-kata pepatah orang-orang dahulu :
إذا كانت النفوس كبارا تعبت في مرادها الأجسام
“ Jika jiwa itu mempunyai cita-cita tinggi Maka badan ini akan capai mengikuti kemauannya. ”
Kapan Mereka Menulis ?
Ketika kita mendapatkan karya para ulama yang begitu banyak dan menakjubkan, kadang-kadang timbul rasa penasaran di dalam benak kita : “ Kapan dan bagaimana mereka menulis “ ? Padahal kalau dilihat dari umur dan kesibukan mereka mengajar, sepertinya tidak mungkin mereka berkarya sebanyak itu, bahkan sebagian ulama jika dibandingkan banyak karya-karyanya dengan umur yang mereka miliki rasanya tidak sebanding, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Tetapi setelah ditelusuri kehidupan mereka secara lebih mendetail, ternyata mereka telah menggunakan waktu mereka sebaik mungkin, mereka tidak rela sedetik waktu yang mereka miliki dibuang sia-sia tanpa ada kegiatan menulis.
Marilah kita tengok sebagian dari keahlian mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk berkarya dan menulis .
Di Dalam Perjalanan.
Perjalanan banyak menyita waktu di dalam kehidupan manusia. Bahkan kehidupan di kota-kota besar seperti Jakarta, yang terkenal dengan kemacetannya. Membuat banyak orang stress, karena mereka harus berangkat kerja pagi- pagi benar, kemudian malam baru bisa pulang, mereka sering terjebak dalam kemacetan panjang, yang membuat umur mereka habis di jalan. Kapan mereka akan menulis dan berkarya ?
Para ulama tidak mau kenal menyerah di dalam menempuh cita-cita mereka, di dalam perjalananpun mereka menyempatkan diri untuk berkarya dengan menggoreskan pena-pena mereka, mengukir ilmu, mewariskan banyak manfaat untuk kehidupan manusia.
Sa’id bin Jubair, seorang tabi’in yang wafat tahun 95 H pernah berkata : “Aku berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah di malam hari. Beliau menyampaikan hadits kepadaku, dan aku menulisnya di tengah pelana unta. Sehingga datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.”
Sementara itu Ibnu Qayim al Jauziyah, konon di dalam perjalanan hajinya bisa menyelesaikan buku yang spektakuler tentang kehidupan dan petunjuk seorang nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam yang diberinya judul “ Zaadul Ma’aad “ Buku ini terdiri dari enam jilid besar.
Suatu ketika seorang ulama Timur Tengah kontemporer yang hingga kini masih hidup. Dr. Yusuf Qardhawi datang ke Indonesia, dan ditanya tentang tulisan-tulisannya yang begitu banyak, sampai-sampai yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mencapai 40 buku lebih. Beliau ditanya kapan menulis buku-bukui tersebut, beliau menjawab : “ Di dalam perjalanan dari rumah ke kantor, atau dalam perjalan menuju ke tempat-tempat lain. “.
Pada 1950, Buya Hamka mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.
- Anda juga bisa seperti mereka, ketika anda punya sopir pribadi, maka dalam perjalanan anda bisa mengetik dengan laptop atau alat tulis yang lebih kecil. Begitu juga ketika anda dalam perjalanan menggunakan angkutan umum seperti bis dan kereta, apalagi pesawat, jangan biarkan anda melamun atau bengong, tapi gunakanlah untuk membaca atau menulis. Kebanyakan orang sekarang mengisi kekosongan mereka dalam perjalanan dengan bermain hp dan membuka internet, kenapa anda tidak gunakan untuk berkarya dan menulis ? Di tengah-tengah kemacetan kenapa anda tidak memnafaatkan untuk membaca, menghafal, merenung, berfikir, serta mencari ide-ide cemerlang ?
Mengurangi Waktu Makan
Manusia hidup perlu makan. Tapi kadang proses untuk dapat makanan banyak menyita waktu seseroang. Lihatlah ibu-ibu yang harus belanja sayur-sayuran ke pasar, beberapa jam mereka di pasar, kemudian setelah pulang mereka harus mengolahnya kemudian memasaknya. Berapa jam mereka membutuhkan waktu itu semua ? Bukankah untuk menyediakan makanan menyita banyak waktu dari hidup kita ? Kapan ibu-ibu itu punya waktu untuk menulis jika pekerjaan seharian terus-menerus seperti itu ? Adakah cara yang lebih praktis dan efesien untuk mendapatkan makanan, sehingga sisa waktunya bisa dipakai untuk menulis dan berkarya ?
Para ulama mempunyai trik-trik sendiri untuk menghindari makan yang banyak menghabiskan waktu. Sebagai contoh kita dapatkan Ubaid bin Ya’is teryata untuk efesien waktu, beliau tidak pernah makan dengan kedua tangannya sendiri. Beliau selalu disuapi saudaranya perempuan selama 30 tahun, karena sibuk menulis.
Ibnu Suhnun, seorang ulama Malikiyah yang sangat terkenal tersebut juga sering disuapi budaknya, karena tidak ada waktu untuk makan. Beliau sedang sibuk menyusun buku.
Diriwayatkan juga bahwa Abu Al Wafa’ bin Uqail Al Hambali adalah seorang ulama dari madzhab Hambali yang sangat ketat di dalam menjaga waktunya. Jika mulut , lidah , dan matanya capai karena banyaknya yang dibaca, dia terdiam merenung dan merancang apa saja yang perlu ditulis, maka ketika ia duduk atau berbaring, kecuali beliau telah menghasilkan banyak hal-hal yang bisa dicatat dalam buku. Bahkan beliau memilih-milih makanan yang paling praktis dan cepat dimakan, untuk kemudian sisa waktunya digunakan untuk membaca dan menulis.
- Diriwayatkan bahwa beliau memilih roti yang agak basah dari pada roti yang kering. Tentunya waktu untuk mengunyah roti yang basah jauh lebih sedikit dibanding waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah roti yang kering. Jeda waktu antara keduanya bisa beliau manfaatkan untuk membaca dan menulis. Subhanallah, tidak kaget kalau karya-karya beliau sampai 800 jilid lebih.
Di Pengasingan dan Penjara
Imam Syamsudin As-Syarkhasi telah mampu menulis kitab “ Al Mabsuth “, sebuah buku spektakuler yang dijadikan rujukan ulama Hanafiyah. Buku ini terdiri dari 30 jilid besar, kebetulan saya mempunyai buku tersebut. Beliau menulis buku tersebut di dalam penjara dengan cara mendiktekan kepada murid-muridnya. Beliau dimasukkan penjara karena memberikan nasehat kepada salah satu penguasa pada waktu itu.
Ibnu Taimiyah sering keluar masuk penjara, karena menyampaikan kebenaran apa adanya, banyak orang yang hasad kepadanya. Beliau difitnah sehingga dijebloskan penjara oleh penguasa. Selama di dalam penjara, beliau manfaatkan untuk menulis. Tatkala beliau dijebloskan kembali ke dalam penjara yang berada di dalam benteng selama dua puluh bulan lebih, beliau dilarang untuk menulis dan menelaah kitab. Orang orang yang hasad dengan beliau tak membiarkan ada buku tulis maupun tinta di sisi beliau, karena tulisan-tulisannya bisa mempengaruhi banyak orang. Beliau dalam keadaan seperti itu beberapa bulan lamanya, sehingga beliau mulai berkonsentrasi untuk beribadah dengan membaca al-Qur’an, sholat tahajjud, serta berdzikir hingga beliau wafat.
Konon Buya Hamka, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) selama kurang lebih tiga tahun. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.. Nama beliau dikenal luas berkat karya-karyanya. Tafsir yang beliau beri nama Tafsir Al Azhar tersebut sekarang menjadi rujukan masyarakat Indonesia dan Malaysia.
Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan penulisan tafsir Alquran Fi Dzilalil Qur’an di dalam penjara.
Di Waktu Sepertiga Akhir Malam
Malam hari, khususnya sepertiga akhir malam merupakan waktu yang penuh barakah. Oleh karenanya, kita diperintahkan bangun dari tidur untuk melaksanakan sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah swt. Para ulama menyebutkan jika seseorang bangun malam diberi dua pilihan antara sholat atau belajar.
Imam Al-Mufassir Abu Tsana’ Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Alusi Al-Baghdadi, seorang mufti sekaligus penutup para ahli tafsir, lahir pada tahun 1217 H dan wafat tahun 1270 H. Di setiap akhir malam beliau memanfaatkan untuk menulis lembaran demi lembaran tentang tafsir. Sehingga, pada keesokan pagi harinya, tulisan itu beliau serahkan kepada para juru tulis yang ditugaskan dirumah beliau. Mereka tidak mampu menyelesaikan tulisan itu secara baik, kecuali dalam rentang waktu sepuluh jam. Beliau terus saja menulis hingga saat sakit beliau yang terakhir.
Antara Sholat Lima Waktu
- Allah Ta'ala telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan sholat dalam lima waktu yang terpisah-pisah dalam satu hari. Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu-waktu tersebut insya Allah akan diberkati amalannya. Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi telah berhasil memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menulis. Setelah shalat shubuh , beliau mengajarkan al-Qur’an atau terkadang mengajarkan hadits. Lalu beliau berwudhu dan shalat sebanyak 300 rakaat dangan membaca al-fatihah dan mu’awwadzataini, hingga mendekati waktu dzuhur. Kemudian, beliau tidur ringan, lalu bangun untuk shalat dzuhur, dan kemudian sibuk menyimak atau menyalin tulisan hingga datang waktu maghrib.”
Menggunakan Sarana Yang Terjangkau
Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitabnya Al-Intiqa fi Fadha’ilits Tsalasatil A’immatil fuqaha’ dengan sanadnya yang sampai kepada Imam Syafi’I, bahwa Imam Syafi’I menuturkan, “Aku tidak mempunyai harta. Aku menuntut ilmu dalam usia muda yaitu sebelum 13 tahun . Aku pergi ke kantor meminta kertas bekas untuk menulis.” Maksudnya, kertas bekas yang sebelahnya telah dipakai dan sebelahnya belum terpakai. Kemiskinan tidaklah menghalangi beliau, untuk terus menulis ilmu. Sehingga beliau termasuk Imam Madzhab yang paling banyak karyanya dibanding dengan ketiga imam madzhab yang lain.
Menulis tidak harus menunggu punya computer atau laptop, menulislah di buku-buku tulis, atau di kertas-kertas bekas, sebagaimana para ulama menulis. Menulis dengan bulpen, dengan pencil, dengan spidol, dengan apa saja, yang penting anda menulis.
Menulis Sambil Makan
Al-Hafidz Dzahabi berkata di dalam Tsadzkiratul Hufadz, tentang biografi Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah Bin Imam Al-Hafidz Abu Daud As-Sijistani, ia berkata, “Aku memasuki kota kuffah dan hanya mempunyai uang satu dirham. Dengannya aku membeli 30 mud kacang-kacangan . Aku makan darinya dan menulis hadits dari Al-Asyaj –yakni Abdullah bin Sa’id Al-Kindi, ahli hadits kuffah-. Kacang-kacangan tersebut belum habis, hingga aku mampu menulis darinya 30.000 hadits , baik yang maqthu’ maupun yang mursal.”
Al-Barqani menuturkan, “ Aku memasuki kota Isfirayin, sedangkan aku berbekal uang tiga dinar dan satu dirham. Tiga dinar tersebut hilang, dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Aku memberikannya kepada tukang roti. Setiap harinya aku menerima darinya dua potong roti. Aku mengambil satu jilid buku dari Bisyr bin Ahmad, lalu aku menyalinnya dan menyelesaikannya di petang hari. Aku telah menyalin 30 jilid kitab, sedangkan jatahku dari tukang roti telah habis. Maka, aku pun melanjutkan melanjutkan perjalanan.”
Menulis Cepat
Abu Isma’il Al-Anshari berkata : ” Seorang ahli hadits harus memiliki sifat cepat dalam berjalan, cepat dalam menulis, cepat dalam membaca.” Perlu ditambah satu lagi, yaitu cepat dalam makan.
Kenapa harus cepat berjalan ? Karena dengan cepat berjalan, waktu akan lebih efesien dan lebih cepat sampai kepada tujuan. Bisa diartikan lebih cepat kepada syekh atau guru, sehingga ilmu yang akan di dapat lebi banyak. Untuk zaman sekarang, bisa diterapkan dengan menggunakan pesawat, walaupun mahal sedikit, tapi bisa efesien waktu, apalagi di dalam perjalanan bisa dimanfaatkan untuk menulis.
Kenapa harus cepat menulis ? Karena seseorang yang bisa menulis cepat, berarti dia bisa menulis lebih banyak, sehingga menjadi produktif. Oleh karenanya dianjurkan bagi siapa saja yang ingin menulis, hendaknya dia menulis yang ada di dalam benaknya dan yang ia kuasai. Jika ingin menambahkan dari beberapa referensi, hendaknya mencari referensi yang terjangkau dan mudah dipahami, sehingga tidak menghambat proses penulisan.
Kenapa harus membaca cepat ? Karena dengan membaca cepat, maka maklumat yang ia dapatkan jauh lebih banyak, sehingga membantunya untuk mempercepat tulisannya. Karena tulisan seseorang tergantung kepada maklumat yang dimilikinya.
Kenapa cepat dalam makan ? Kalau seseorang bisa makan cepat, waktu yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, terutama membaca dan menulis. Di bawah ini dijelaskan bagaimana para ulama yang produktif, ternyata mereka menulis dengan cepat.
Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyid berkata, “jika Ala’ bin Nafis ingin mengarang sebuah kitab, maka beliau pun meletakkan pena-pena yang telah dirautnya, lalu beliau berputar menghadapkan wajahnya kearah dinding. Kemudian beliau menulis dari berbagai ide yang terbetik dalam benaknya. Beliau menulis ibarat air yang mengalir. Bila penanya tumpul dan tidak jelas tulisannya, maka beliau mencampakkannya dan menggunakan yang lainnya, agar waktunya tidak terbuang untuk meraut pena yang tumpul .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam usia 57 tahun adalah beliau menghasilkan sekitar 500 jilid karya tulis. Beliau mampu mengarang dalam sehari sebanding dengan jumlah lembar tulisan seorang juru tulis pada zaman itu yang ditulis selama sepekan atau bahkan lebih banyak lagi. Biasanya saat menyampaikan fatwa, beliau mampu menulis sejumlah masalah dangan tulisan yang sangat cepat, disertai penjelasan dan penjabaran hal-hal yang sulit.
Dalam sehari semalam beliau mampu menulis masalah tafsir atau fiqih, atau masalah-masalah ushul fiqih, ushul kalam, dan tauhid, atau memberikan bantahan terhadap kalangan filosof dan ahli takwil, sekitar empat buku tulis atau lebih. Maka tak berlebihan jika karya beliau hingga sekarang mencapai 500 jilid. Dalam sejumlah masalah, beliau memiliki karya tersendiri. Beliau seorang yang pandai menulis secepat kilat dan laksana hujan deras yang tak henti-hentinya.
Beliau mampu menulis tentang satu masalah hingga tak ada batasnya. Beliau mampu menulis dua atau tiga lembar dalam sekali duduk. Syaikh Ibnu Qoyyim telah menulis sebuah risalah yang berisi nama-nama karya Ibnu Taimiyah, hingga mencapai 22 halaman.
Adalah Al- Khatib Al Baghdadi pernah berkata : ” Saya mendengar dari Al-Simsi yang menceritakan bahwa Ibnu Jarir At Tobari selama 40 tahun, menulis setiap harinya 40 lembar . Bahkan salah seorang murid Ibnu Jarir yang bernama Al Farghani mengatakan bahwa para murid Ibnu Jarir telah mendata kehidupan beliau sejak baligh hingga meninggal dunia pada umur 86 tahun. Kemudian mereka mengumpulkan seluruh karya-karya beliau, dan jika dibandingkan dengan umur beliau, ternyata didapatkan bahwa beliau menulia setiap harinya 14 lembar. Dan ini tidak akan mampu dilakukan oleh seseorang kecuali atas inayah Allah Ta'ala. Dan jika dihitung-hitung lembaran karya tulisnya maka didapatkan jumlahnya sekitar 358.000 lembar. Wallahu A’lam
(Sumber:http://www.ahmadzain.com/read/penulis/268/bahtera-pena-para-ulama/)
Rabu, 13 Juli 2011
Lebih Dekat Dengan Imam Bukhariy
Beliau adalah seorang yang sangat alim di bidang hadits. Beliau menyusun sebuah kitab yang kesahihannya telah disepakati oleh umat Islam dari jaman dahulu hingga sekarang.
Imam Bukhari pernah ditanya oleh seseorang: “Bagaimana mulanya engkau berkecimpung dalam bidang hadits ini?” Maka beliau mengatakan, “Saya diilhami untuk menghafal hadits ketika saya bersama dengan para penulis hadits.” “Berapa usiamu pada waktu itu?” Dia menjawab, “10 tahun, atau kurang. Saya lalu keluar dari kelompok para penulis itu dan selanjutnya saya selalu menemani ad dakhili dan ulama lainnya. Ketika saya telah berkecimpung di bidang ini saya telah hafal hadits dari Ibnul mubarak dan Waqi’. Saya lalu pergi ke Mekkah bersama ibu dan saudaraku , sesudah selesai berhaji , saudaraku lalu mengantarkan ibuku pulang, sedangkan saya memperdalam dan mematangkan diri dalam bidang hadits.”
Imam Bukhari selanjutnya berkelana ke berbagai daerah seperti Nisabur, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mekkah, Madinah, Syam dan Mesir untuk mendapatkan hadits dari sejumlah ulama.
Beliau menulis kitabnya yang bernama Tarikh di masjid nabawi, sejumlah buku yang memuat nama-nama rijal (Orang) periwayat hadits.
Imam Bukhari pada waktu kecil pernah mendatangi para ulama yang sedang bersama para muridnya, karena beliau masih kecil beliau malu memberi salam pada mereka. Suatu ketika beliau ditanya oleh seorang alim: “Berapa hadits yang sudah kau tulis hari ini? Bukhari kecil menjawab, “Dua.” Orang-orang yang ada di sekitarnya mentertawakannya. Alim itu pun berkata, “Kalian jangan mentertawakannya, boleh jadi suatu hari kalian akan ditertawakannya.”
Beliau berkata, “Suatu kali saya bersama Ishak ibnu Rahawaih (baca Rahoyah), lalu ada sejumlah temanku yang berkata kepadaku, “Alangkah baiknya kalau sekiranya engkau kumpulkan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah kitab yang singkat”. Hal tersebut mengena dalam hatiku, maka saya mulai mengumpulkannya dalam kitab ini (Kitab sahih Bukhari).
Beliau berkata, “Kitab ini saya pilihkan dari 600 ribu hadits. Beliau juga berkata: “Tidaklah aku tulis satu hadits dalam kitab ini kecuali saya wudhu/mandi dan shalat dua rakaat.
Imam Bukhari berkata, “Saya menulis hadits dari 1000 orang alim atau lebih. Tidak ada satu pun hadits yang ada padaku kecuali kusebutkan isnadnya.”
Imam Bukhari meninggal pada tahun 256 H pada malam hari raya Idhul Fitri pada usia 62 tahun. Kubur beliau terletak di Bikharnatk dekat dengan samarkand.
Pujian Ulama kepada Imam Bukhari rahimahullah
Al-Hafidz Ibnu Huzaimah berkata, “Tak ada orang di bawah langit ini yang lebih tahu tentang hadits melebihi Al-Bukhari”
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Bumi Khurasan (nama daerah tempat Imam Bukhari) tidak melahirkan orang yang semisal Muhammad bin Ismail (nama asli Imam Bukhari)”.
Al-Ahzam berkata, “Aku lihat Muslim bin Hajjaj (Imam Muslim) ada di depan Al-Bukhari dan bertanya kepada beliau layaknya seorang murid kepada gurunya.”
Berkata Abu Amr Al-Khaffaf, “Telah bercerita kapadaku seorang yang bersih, taqwa, ‘alim yang aku belum pernah melihat yang semisalnya yaitu Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Dia lebih tahu tentang hadits dari pada Ishaq, Ahmad dan selain keduanya sebanyak 20 derajat.”
Kamis, 26 Mei 2011
Kontroversi Gagasan-gagasan Syekh Muhammad Abduh (2)
Abduh lahir dimasa pergolakan politik yang terjadi di Mesir. Tepatnya di akhir era pemerintahan Muhammad Ali Pasya, tahun 1849. Ayahnya, Abduh Hasan Khairallah, adalah orang Turki yang telah lama mukim di Mesir. Sedangkan ibunya keturunan Arab yang garis nasabnya dikaitkan dengan suku Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, khalifah ketiga setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Lahir dari keluarga muslim yang taat, Abduh kecil segera diarahkan untuk belajar dasar-dasar agama. Setelah menamatkan hapalan Al-Qur’annya pada 1862, atau usia 13 tahun, ia dikirim orang tuanya ke Thantha. Di sana, ia berguru pada seorang alim bernama Syekh Ahmad.
Model pengajaran yang didapatkan Abduh di Thantha adalah model pengajaran yang dipraktikkan di Mesir, bahkan dunia Muslim pada umumnya, pada saat itu. Dimana aspek hapalan sangat ditonjolkan; yang di sisi lain mengabaikan sisi pemahaman terhadap materi pelajaran itu sendiri.
Sikap kritis Abduh telah mulai tampak pada usia yang masih sangat dini ini. Ia melakukan protes dan tidak setuju dengan model pengajaran yang berlaku. Karena frustrasi dengan kondisi sekolahnya, Abduh akhirnya memutuskan untuk pulang ke desanya.
Tapi di desa Abduh tidak diterima, bahkan ia disuruh kembali belajar. Putus asa terhadap keadaannya, bukannya ke Thantha, Abduh bersembunyi di rumah salah satu pamannya. Di sinilah ia bertemu dengan Syekh Darwisy Khadr, seorang penganut tasawwuf yang pernah belajar di Libya dan Tripoli.
Syekh Darwisy adalah pendidik yang lembut. Dengan kelembutan dan kesantunannya, ia menanamkan kembali semangat untuk menuntut ilmu ke dalam diri Abduh. Dari Syekh Darwisy ini, Abduh belajar untuk lebih mencintai dan menaruh perhatian kepada Al-Qur’an. Kelak di kemudian hari, tarbiyah ini membekas dalam diri Abduh dan mewarnai seluruh kehidupannya.
Kelak setelah dewasa dan berkiprah di tengah masyarakat, Abduh menekankan peran sentral Al-Qur’an dalam aktivitas dan gerakannya. Itu dia buktikan dengan banyaknya karya yang dia tulis tentang Al-Qur’an. Pakar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Dr. Muhammad Husain al-Dzhahabi, dalam karya monumentalnya al-Tafsir wa al-Mufassirun, menyebut enam karya tulis Abduh yang terkait dengan Al-Qur’an.
Dengan berbekal semangat baru dari gurunya itu, Abduh melanjutkan pelajarannya ke Syekh Ahmad dan, setelah itu, melanjutkannya di universitas terkemuka di dunia muslim: al-Azhar, Cairo.
Semasa kuliah di al-Azhar inilah Abduh bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M). Tokoh yang bagi banyak kalangan juga menuai kontroversi ini sedang singgah di Mesir. Sebab dia sementara dalam perjalanannya menuju India. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1869.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1871, Afghani kembali ke Mesir. Kali ini, dia memutuskan untuk menetap. Mulai saat itu, kontak antara Abduh dan Afghani semakin intens, layaknya hubungan belajar antara murid dengan guru.
Dalam diri Afghani, Abduh menemukan gelora yang tidak ia temukan di tempat lain. Pemikiran-pemikiran yang diperkenalkan Afghani demikian mempesona Abduh. Ia seakan mendapatkan pencerahan yang menggiringnya untuk dapat membebaskan diri dari banyak belenggu tradisi yang saat itu mengekang dirinya dan masyarakat. Sebab Afghani mengajarinya kritis terhadap kondisi keterpurukan umat Islam saat itu. Jadilah Afghani sebagai “universitas” kedua bagi Abduh setelah al-Azhar.
Perlahan namun pasti, pengaruh duo Afghani dan Abduh mulai menyebar ke tengah masyarakat luas. Namun, akibat kekisruhan politik saat itu, keduanya diusir dari Cairo. Afghani ke Paris (!) dan Abduh keluar dari Cairo. Tetapi pada tahun berikutnya, Abduh diizinkan kembali bahkan dipercaya untuk memimpin surat kabar pemerintah al-Waqa’i al-Mishriyah (!).
Pada periode ini, Abduh terjun dalam dunia politik praktis. Karena dianggap oposan, akibatnya Abduh diusir untuk kedua kalinya. Namun kali ini ia pergi ke Syiria. Di sana, Abduh sempat memberikan kuliah-kuliah yang di kemudian hari dibukukan menjadi salah satu karyanya: Risalah al-Tauhid. Buku ini kelak diterjemahkan ke dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama oleh tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia.
Dari sana, pada tahun 1884, ia menuju Paris dan bergabung dengan Afghani. Keduanya menerbitkan majalah al-Urwah al-Wutsqa. Karena ide-ide majalah ini dianggap merongrong eksistensi Prancis, majalah tersebut tidak berumur panjang. Pemerintah membreidel majalah tersebut dan menyuruh Afghani dan Abduh untuk angkat kaki dari Paris.
Majalah al-Urwah al-Wutsqa memang memperkenalkan warna baru dalam kerangka umum pemikiran keislaman pada masa itu. Al-‘Allamah Rasyid Ridha (1282-1354 H/1865-1935 M), yang kelak berguru kepada Abduh, merupakan tokoh yang sangat terpengaruh oleh warna yang dibawa oleh al-Urwah al-Wutsqa. Dan itu dia akui sendiri.
Satu waktu, Rasyid Ridha menulis:
“Kemudia aku menemukan dalam barang simpanan bapakku beberapa edisi dari majalah al-Urwah al-Wutsqa. Maka setiap edisi itu bagaikan kabel listrik, yang ketika menyentuhku dapat menimbulkan getaran dan gelora yang membawaku dari satu kondisi (fase pemikiran) kepada kondisi (fase pemikiran) yang lain. Dampak terbesar dari artikel-artikel (majalah) itu, adalah (tulisan yang berjudul) ‘Reformasi Islam,’ kemudian artikel-artikel politik ‘Persoalan (Bangsa) Mesir,’ yang diterbitkan dalam sejumlah edisinya.
“Yang aku, orang lain serta sejarah tahu, bahwa tak ada tulisan bangsa Arab di masa itu serta beberapa abad sebelum itu, yang mampu menyaingi tulisan-tulisan tersebut dari segi sentuhan hati, pencerahan akal, dan keindahan retorika.” (Rasyid Ridha, Tarikh al-Ustadz al-Imam, I/996, 303)
Kesan yang digambarkan oleh Rasyid Ridha itu membuat kita bisa mengukur sejauh mana kondisi keterbelakangan sosial serta kemunduran ilmu pengetahuan di masa itu. Dalam kondisi seperti itulah, al-Urwah al-Wutsqa seakan tampil sebagai angin segar yang membawa kesadaran baru bagi kelompok intelektual umat Islam.
Bagi kita di Indonesia, gaung majalah al-Urwah al-Wutsqa juga sempat meberi dampak. Pendiri organisasi Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan (1868-1932 M), disebut-sebut banyak terinspirasi oleh pemikiran Abdul dan Afghani lewat majalah ini.
Dari Paris, Abduh kembali ke Mesir. Keadaan politik di Mesir telah berubah dan relatif lebih kondusif bagi Abduh. Pada periode ini, Abduh pernah diserahi sejumlah jabatan penting, di antaranya sebagai qadhi (hakim), anggota al-Majlis al-A’la di universitas al-Azhar dan anggota legislatif negara.
Tahun 1899, Syekh Muhammad Abduh diangkat secara resmi sebagai mufti negara, jabatan yang akhirnya ia pegang hingga wafatnya tahun 1905.
Bersambung in sya ALlah…
(Ilham Jaya/www.tanaasuh.com)