Tampilkan postingan dengan label Abawiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abawiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Februari 2013

Kerusakan Remaja Tanggung Jawab Siapa?

Usia atau masa remaja / muda adalah usia yang penuh dengan kekuatan, Allah Ta’ala berfirman,

“Allah yang menciptakan kalian dalam kelemahan kemudian menjadikan setelah kelemahan itu kekuatan.” (QS Ar-Rum : 54)

Yang dimaksud kekuatan dalam ayat ini adalah masa remaja / muda. Kekuatan ini adalah kekuatan yang berbentuk maknawi dan berbentuk kekuatan badan. Kekuatan ini mau tidak mau harus ditularkan dan disalurkan. Maka barangsiapa yang diberi taufiq oleh Allah Ta’ala dari kalangan pemuda, dia akan meletakkan kekuatan ini dalam hal yang bisa memberikan manfaat untuk agamanya, dunianya dan akhiratnya. Adapun yang tidak diberi taufiq oleh Allah ta’ala maka dia akan meletakkan kekuatan ini untuk perkara yang akan menghancurkan dirinya, sehingga kekuatan itu menjadi seperti api yang membakarnya. Oleh karena itu pemuda itu memiliki kekuatan semangat, kekuatan mengejar sesuatu, emosional yang cepat, kecemburuan yang kuat dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Demikian juga pemuda memiliki sikap menerima segala sesuatu yang sangat kuat dengan penuh keadilan dan keinginan. Sehingga kekuatan itu bisa diarahkan pada kebaikan dan bisa diarahkan kepada yang tidak baik.

Maka ini benar-benar terjadi pada diri seorang pemuda. Dan orang yang memperhatikan akan dakwah seruan yang ada pada masa ini (yang mengajak kepada kebaikan ataupun pada kejelekan) semua seruan itu banyak terarah (sasarannya) kepada para pemuda, dikarenakan mereka memiliki sifat yang kita sebutkan di atas (emosional yang tinggi, rasa ingin tahu yang tinggi dll).

Maka seorang pemuda jika mendapatkan taufiq dalam menyalurkan kekuatannya dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka ini merupakan taufiq yang hanya diberikan oleh Allah Ta’ala secara khusus kepada yang Dia kehendaki. Padahal masa muda adalah masa yang penuh dengan kerusakan, akan diancam dengan berbagai penyimpangan dan kerusakan. Barang siapa mendapatkan taufiq untuk menyalurkan kekuatan mudanya untuk memberikan manfaat yang baik untuk dirinya dan untuk memperbaiki dirinya, dalam melaksanakan agama Allah Ta’ala, maka ini adalah taufiq dari Allah Ta’ala yang hanya diberikan kepada yang Dia kehendaki.

Sedikit sekali kita temukan pemuda yang menjalankan hal itu. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda hadits Abu Hurairah (muttafaq ‘alaih) “Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah subhanahu wata’ala pada saat yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. (Diantara mereka adalah) seorang pemuda yang hidup dalam beribadah kepada Allah”. Hal itu dikarenakan dirinya terdidik untuk beribadah dan tumbuh dalam keadaan seperti itu, demikian juga akalnya dan hatinya terbentuk untuk suka beribadah. Dalam suatu ungkapan disebutkan, “siapa yang terdidik dan terbentuk diatas sesuatu dan dia terus menerus seperti itu serta terliputi sesuatu itu maka dia akan menyandang sesuatu itu”.

Datang dalam hadits Uqbah bin Amir diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah ‘alaihi shalatu wa salam bersabda “Sesungguhnya Rabbmu sangat heran terhadap pemuda yang tidak memiliki shabwah”. Artinya dia tidak memiliki sesuatu yang menjerumuskan dia kepada hawa nafsu, kelalaian dan kesia-siaan.

Jika seorang pemuda mendapatkan taufiq untuk suka kepada ilmu syar’i, suka menuntut ilmu kemudian suka beramal shalih, selamat dari fitnah yang menimpa kalangan pemuda, maka dia wajib untuk memuji dan bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah meberikan kemudahan kepada dirinya. Jika Allah subhanahu wata’ala Ta’ala menjadikan adanya orang untuk membimbingmu dan menasehatimu serta menolongmu dalam kebaikan dan ilmu maka itu adalah taufiq dari Allah untukmu yang hanya diberikan kepada yang Dia kehendaki.

Kalau kita melihat kondisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, kebanyakan yang menerima dakwah beliau adalah para pemuda. Shahabat beliau kebanyakannya adalah para pemuda. Lihatlah sekumpulan pemuda tersebut (para shahabat) mereka menjadi makhluq yang paling utama setelah para nabi dan rasul dikarenakan mereka menerima al-haq dan dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Namun kalau kita memperhatikan juga maka kita akan temukan bahwa golongan yang paling banyak menerima kerusakan dan kejelekan adalah para pemuda. Maka dari sini kita mengetahui bahwa pemuda itu butuh perhatian dan bimbingan, jika tidak maka mereka akan menjadi korban fitnah. Betapa banyak para pemuda terjatuh untuk ikut-ikutan dalam pengeboman dan peledakan dengan alasan melawan kebathilan, meskipun kata “melawan kebathilan” adalah kata yang baik tapi telah digunakan untuk kebatilan itu sendiri.

Maka para pemuda itu sangat butuh kepada yang mengarahkannya, yang memperhatikannya, dan bimbingan dari ahlul ilmi jika tidak mereka akan menjadi korban fitnah dan kerusakan. Jika mereka terus menerus berada dalam ilmu serta menuntut ilmu, mau menerima arahan dan bimbingan maka itu semua bentuk kebaikan pemuda itu. Sebagian salaf berkata: “Sesungguhnya merupakan ni’mat Allah Ta’ala bagi para pemuda adalah adanya taufiq untuk mengikuti sunnah dari awal masanya dan dia berteman dengan seorang sunny sehingga orang tersebut mebimbingnya kepada sunnah”. Oleh karena itu Abdullah bin wahb berkata: “Kalau bukanlah karena bershahabat dengan Malik dan Al-Laits niscaya aku telah tersesat”.
Dari penjelasan di atas tentunya kita memaklumi kenapa kebanyakan upaya untuk melemahkan kaum muslimin oleh kaum kafir ditujukan kepada kaum pemuda.

Orang Tua tak Boleh Lepas Tangan

Jika kita melihat fenomena kenakalan remaja di depan mata kita, maka kata yang mungkin terbenak di dalam hati kita dimana orang tua mereka? Apakah mereka terlalu sibuk sehingga menelantarkan anaknya yang katanya sangat dicintainya?

Jika anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya kakan membawa bencana dunia dan akhirat. Banyak orangtua percaya, uang bisa “menyulap” akhlak anak. Mereka memposisikan sekolah seperti pabrik atau penitipan sepeda. Padahal seorang anak adalah manusia. Sering pula orangtua menyangka, nilai akademis selalu sejajar dengan perilaku baik dan akidah yang lurus. Banyak kasus di negeri ini orang-orang bertindah ceroboh, melakukan korupsi dan melakukan kejahatan bahkan dari orang-orang terdidik dan pandai.

Sesungguhnya tugas pendidikan ada pada keluarga dan sekolah. Namun pertanggujawabannya di akhirat, di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap para orangtua. Hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya, lalu mengajari ilmu yang membawa kemanfaatan dunia dan akhirat, serta tidak mendoakan yang buruk kepada mereka (anak-anak).

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”

Jaga Generasi Kita


Pada tanggal 14 Februari ini sebagaimana tiap tahunnya kaum kuffar kembali menggaungkan perayaan kekufuran mereka yang disebut dengan valentine day. Jangan biarkan putra dan putri kita terseret dalam perayaan semacam ini, apalagi jika kita tahu kerusakan yang bisa saja terjadi seperti mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan.

Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Sebagai umat muslim seharusnya kita lebih didepan dalam menentang perayaan tersebut.

Sekali lagi jaga Anak-anak kita dari gempuran yang memang bertujuan merusak mereka. Mudah-mudahan kita semua selamat di dunia dan di akhirat untuk mengantarkan anak-anak kita ketika kelak dihadapkan pada mahkamah Allah Azza wa Jalla.[]

dari berbagai sumber, Sebelumnya dimuat di http://wahdahmakassar.org.

Minggu, 06 November 2011

Setetes Darah Istri Tercinta

SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambak¬beras, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.

Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.

Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.

Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.

Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).

Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.

Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.

Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.

Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.

Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?



Muhammad Fauzil Adhim/www.hidayatullah.com)

Rabu, 13 April 2011

Istri Tercantik di Hatiku

SEIRING dengan gerak teratur waktu, yakinlah kita akan menemukan potret sesungguhnya dari istri kita. Potret utuh tanpa sekat dan kepalsuan. Sekali lagi, seiring dengan bergeraknya jarum jam di dinding rumah kita, kita akan menguak seluruhnya tentang istri kita. Kita akan memiliki pengetahuan yang sebelumnya belum pernah kita ketahui.
Setelah saya menikah dengan istri saya beberapa waktu, saya menemukan potret yang tidak lagi monocrome lentang dirinya. Kita akan mengalami yang sama. Lalu, dengan pengetahuan itu, akan muncul dua opsi: kita semakin mencintainya atau kita akan kecewa dengannya.
Terlebih ketika pernikahan yang dilakukan sejak awal berparadigma tuntutan, bukan sebagai ruang tegur sapa keilmuan; tempat masing-masing kita berkesempatan belajar. Mendesain rumah tangga kita sebagai rumah para pembelajar.
Oleh teman-teman, saya dikenal sebagai anak manja. Di antara teman-teman, saya terhitung yang paling muda. Nah, kebetulan ketika saya menikah, istri saya jauh lebih 'manja.' Kebutuhan dia untuk bersama, diperhatikan, dan menciptakan suasana romantis jauh lebih dominan. Di situlah saya harus belajar. Belajar untuk menjadi lebih dewasa. Saya selalu berdoa untuk diberi kemudahan oleh Allah ta'ala untuk menggapainya.
Begitulah semestinya kita membangun keluarga. Rumah tangga yang dibangun di atas bingkai keluarga pembelajar. Para suami bukan konsumen yang menuntut pelayanan dengan menihilkan kekurangan istri. Masing-¬masing memiliki kelebihan. Kata Nabi Shallallahu alaihi wassallam: wafii kulli khair (tiap kita memiliki potensi, kelebihan, kebaikan). Tapi sebagaimana tabiat alam, tak ada yang sempurna pada diri makhluk. Masing-masing kita juga memendam kelemahan.
Kiranya peran Rasulullah shallallahu alaihi wassallam berikut patut untuk dijadikan renungan: "Janganlah seorang mukmin memarahi seorang mukminah! Apabik tidak suka terhadap salah satu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan." (HR. Muslim), Ada sisi lain dari kepribadiannya yang sebenarnya sangat mempesona. Persoalannya, bagaimana kita menemukannya? Menempatkan istri kita dalam posisi istimewa, Ia sangat berarti dalam hidup kita. Sesungguhnya istri kita memiliki rekening peran yang luar biasa besar bagi keluarga. Sayangnya, kita jarang jeli menangkap setial, peran yang dilakukan. Kenapa? Para suami menganggap, bahwa apa yang dilakukan para istri merupakan kewajaran. Begitulah yang seharusnya dikerjakan oleh istri, pikir kita. Kita melihat pekerjaan istri tidak terlalu menarik. Kehadiran seorang istri terasa tidak bermakna. Sungguh, pada Allah ta'ala saya berlindung atas semua sikap itu.
Akhirnya, makna kehadiran akan lahir dalam kepergian. Ketika kekasih kita tidak ada, barulah kita membutuhkan kehadirannya. Rumah terasa sunyi, sejumlah kerepotan akhirnya kita rasakan, dan tidak ada tempat berbagi serta bercerita. Padahal sebelumnya, ketika ia hadir kita tidak cukup memperhatikannya.
Ketika istri saya harus opname di rumah sakit, saya berkesempatan pulang sejenak. Begitu membuka pintu rumah kontrakan, saya merasakan ada yang hilang. Sepi. Posisi barang-barang, buku-buku, dan tata letak ruangan, mengingatkan saya pada kehadirannya. Sisi melankolis saya menyeruak hadir. Saya pejamkan mata. Tapi pelupuk mata saya tidak kuasa menahan air mata. Saya menyadari bahwa saya butuh dia: istriku yang tercantik di hatiku.
Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi ' wassallam tidak dapat melupakan Khadijah binti Khuwailid, meskipun beliau telah lama meninggal. Goresan kenangan itu terus ada. Bahkan, kenangan itu terasa membekas dan susah untuk dihapuskan. Sampai-¬sampai Aisyah bertutur dengan jujur bagaimana ia cemburu terhadap Khadijah. Kecemburuan pada orang yang tidak lagi hadir. Tapi begitulah cinta. Ia tidak ingin dibagi. "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagiseseorangdua bitch hati dalam satu rongga." (QS. Al-Ahzab: 4). Wallahu a’lam.
Saya tidak pernah merasa cemburu pada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wassallam," kata Aisyah. Ia lain melanjutkan, "Kecuali, terhadap Khadijah. Padahal, saya tidak pernah berjumpa dengannya. Tapi karena Nabi shallallahu alaihi wassallam sering menyebutnya dan sering menyembelih kambing, lalu dipotong beberapa bagian dan dikirimkan pada kenalan-kenalan baik Khadijah itulah sebabnya."
"Saya sering berkata kepadanya: "Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah!" Maka, beliau akan menjawab: "Sesungguhnya Khadijah itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai anak." (HR. Bukhari dan Muslim).
Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, pernah minta izin untuk masuk rumah Rasulullah shallallahu alaihi wassallam. Rasulullah kaget . Ia terhenyak sejenak. Ingatan beliau langsung tertuju pada Khadijah; suaranya, raut wajahnya, dan segala gerak geriknya. Maka, ketika kesadaran beliau hadir, dalam keterharuan beliau berkata, "Ya Allah, Halah binti Khuwailid. Kukira Khadijah."
Seiring dengan gerak teratur waktu, saya ingin selalu menempatkan istri sebagai wanita tercantik di hati saya. Kisah Rasulullah bersama Khadijah terlalu menarik untuk dibaca, dan menjadi hampa jika kita tidak belajar mewujudkannya. Mencintai dengan sepenuh hati. Allahu a'lam.(Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku")

Minggu, 10 April 2011

Disebabkan Oleh Cinta

"I have a very good life with Koko. Dia adalah
suami yang baik, guru yang baik, teman yang
baik. Dari sebelumnya saya yang apolitik
sampai mengerti politik, lingkungan hidup,
dan humanisme."

UNGKAPAN tulus itu merupakan perkataan Ratmini Soedjatmoko, janda Dr Soedjatmoko (1922-1989) (Kompas, 22/11/2005), mengenai almarhum suaminya. Sang suami tercinta meninggal pada 21 Desember 1989, saat sedang menyampaikan orasi ilmiah tentang masalah pendidikan dan masyarakat madani di Yogyakarta.
Setelah membaca ungkapan di atas, saya teringat kata-kata Umar bin Khathab. "Hanya ada dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat. Merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung." Ketika istri kita mencintai kita maka mereka akan menempatkan kita di dalam istana hatinya. Keberadaan kita menjadi tambatan jiwanya, pohon rindang tempatnya berteduh dari terik kehidupan yang gerah, atau air telaga yang menyejukkan. Namun, bagaimana kita dapat dicintai istri kita? Dirindukannya saat tempat menjauhkan kita dengannya. Dikenangnya saat kematian kita menjemput.
Agar ada cinta maka berilah cinta. Inilah rumus umumnya. Sekali lagi, jika kita ingin abadi dalam bilik kerinduan jiwanya, mencintai adalah pekerjaan yang harus dilakukan untuknya. Cinta dengan penuh ketulu¬san. Cinta yang mampu menciptakan kesan mendalam. Cinta yang menganugerahkan banyak hal. Bukannya cinta yang dipenuhi tuntutan pada kekasih kita, istri kita. Jika bahasa menuntut yang menghiasi hari-hari bersama dalam keluarga lebih dominan, tentu akan ada yang tertekan. Tuntutan membuat mereka terbelenggu. Padahal, cinta justru menganugerahkan sesuatu untuk meningkatkan kapasitas kekasih kita.
Lihatlah apa yang diungkapkan Ratmini Soedjatmoko: Dia adalah suami yang baik, guru yang baik, teman yang baik. Dari sebelumnya saya yang apolitik sampai mengerti politik, lingkungan hidup, dan humanisme. Para suami memiliki pekerjaan untuk memberi atau menganugerahkan. Dampak yang muncul adalah kesan mendalam. Istri akan menempatkan suami tidak sekedar sebagai suami yang baik, tetapi mungkin predikat lain, sesuai dengan apa yang diberikannya. Kita, para suami, akan memiliki tempat yang lebih bermakna di hati istri kita masing masing.
Maka dalam catatan sejarah, bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam Aisyah tumbuh tidak sekedar sebagai seorang istri, tetapi sekaligus menjadi telaga ilmu, tempat semua orang merujuk gagasannya. Potensinya tertumbuhkan oleh keberadaan sang suami, Rasulullah.
Ironinya, ada banyak wanita-wanita cerdas tapi begitu mereka menikah, ruang geraknya menjadi sempit. Peluangnya untuk menjadi yang lain kandas, dan mereka terpuruk sekedar memperoleh predikat sebagai seorang istri. Potensinya tidak dikembangkan, sebab suaminya hanya menempatkan dirinya (sekedar) sebagai suami.
Ada pula yang lain, para suami sekedar menjadi suami dan tidak menjadi pecinta yang memiliki kesan kuat di hati istri mereka. Kembali perlu kita kenang pribadi pejuang yang sangat memahami keberadaan istri sebagai sumber energi perjuangannya. Bung Tomo. Beliau sangat menyadari bahwa cinta sang istri adalah tenaga yang menggerakkan semangatnya. Maka sang istri, Sulistina Soetomo, membaca gerak cinta suaminya. Dan, ia membalas cinta itu dengan cinta: mereka saling memberi. Oleh karena itu, ketika pengobar arek-arek Suroboyo itu meninggal, Sulistina sangat kehilangan. Langit jiwanya berduka. Dalam surat panjangnya ia ungkapkan kesan mendalamnya kepada Bung Tomo.
Mas Tom, ada satu yang ingin kukatakan dalam surat panjang ini. Dalam kehidupan rumah tangga kita, aku rasakan kebahagiaan suami istri. Aku bangga menjadi istrimu. Aku bangga menjadi pendampingmu. Engkau selalu tnembahagiakan aku, bagaimana pun sulit kehidupan kita. Tak pernah engkau risaukan.
Mottomu: put your wife on a pedestal benar-benar Mas Tom lakukan. Mas Tom engkau benar-benar seorang suami yang patut menjadi teladan. Ketika kau tiada, aku membuka dompetmu. Aku menangis ketika menatap fotoku di dompet itu. Aku tak pernah menggeledah dompetmu sebelumnya. Di bawah fotoku yang tersenyum itu ada tulisan: iki bojoku (ini istriku). Sedang pada foto lain kau tuliskan: Tien istri Tomo.
Orang mengatakan bahwa Bung Karno adalah seorang yang romantis di samping sebagai pemimpin. Dan, aku berani mengatakan Mas Tom adalah suami yang amat romantis. Mas Tom adalah seorang pahlawan sekaligus, seorang pecinta besar: you are a hero, a patriot, a great lover, sampai hari akhirmu.
Maka, disebabkan oleh cinta kehidupan keluarga kita akan jauh lebih bermakna. Cinta yang terus bergerak: dari memberi perhatian menuju proyek pengembangan diri kekasih kita. Wallahu Aam bish-showab. Sebait sajak dari lqbal menarik untuk kita jadikan bahan renungan.
Oleh cinta, sang pribadi kian abadi.
Lebih hidup, lebih menyala, lebih berkilau.
(Sir. Muhammad Iqbal).
(Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku").

Jumat, 08 April 2011

Ada Canda Ketika Marah

WAJAH sang istri berseri, lalu ia dekati suaminya yang siap pergi.
"Mas, nanti pulangnya jangan malam-malam ya. Ummi siapkan makanan kesukaan, Mas."
"Benarkah?" dengan antusias sang suami merespon. Dan istrinya mengangguk, mengiyakan sambil tersenyum. Sunggingan senyum itu merupakan harapan untuk mengembalikan suasana awal pernikahan mereka dulu. Suami istri itu, terutama sang istri, menginginkan saat-¬saat sebelum anak-anak mereka lahir satu persatu.
"Kalau sudah selesai, langsung pulang. Saya tunggu di rumah. Kita makan bareng."
"Insya Allah."
Sang suami berangkat dengan dilepas sang istri. Lambaian tangan dan sepotong senyuman mengukir wajah-wajah mereka. Ketika hari merangkak petang, sang istri telah selesai menyiapkan hidangan. Ia tata dengan semenarik mungkin. Kini ia tinggal berdandan untuk menyambut suaminya pulang. Ternyata sampai larut, sang suami belum juga pulang. Dengan kekesalannya sang istri merebahkan tubuhnya di sofa. Namun, tak lama kemudian ia tertidur.
Ia terbangun ketika tangan suaminya menyentuh wajahnya. Permohonan maaf suaminya, ditanggapinya dengan acuh. Ia marah.
"Sudah makan, Dik?" tanya sang suami.
"Makan aja situ sendiri!"
Sang suami tahu istrinya marah. Namun, ia tetap bersikap, tenang. Ia menuju meja makan.
"Ayo makan bareng."
"Makan aja situ sendiri!"
"Mmh, lauknya mana nih?" tanya suami pura-pura tidak tahu.
"Cari aja situ sendiri!"
Sang suami pun makan. Tengah malam sang istri terbangun. la merasakan perutnya merintih sakit. Buru-¬buru ia menuju meja makan.
Mas, telurnya mana? Kok habis!"
"Nelur aja situ sendiri!" Mereka pun tidak jadi marahan. Mereka tertawa.
KISAH ITU diceritakan guru ngaji saya ketika masih kuliah. Sampai sekarang saya masih mengingatnya. Menurut beliau itu kisah nyata. Dari kisah tersebut saya mengambil satu ibrah. Bagaimana di tengah situasi yang semestinya ditanggapi dengan ketegangan kita mampu meredam diri, bahkan melempar joke-joke segar. Letupan-¬letupan emosional bukan sesuatu yang kita nihilkan dalam keluarga kita. Tentu itu. Pada saat-saat tertentu ghadhab atau marah bisa saja muncul, terlebih ketika emosi kita sangat labil. Strategi menahan diri dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan ketenangan adalah pilihan terbaik.
Jika pasangan kita tengah mengalami letupan emosi¬onal, bersikaplah wajar. Cobalah untuk memahaminya, dan jangan sekali-kali menyerangnya dalam situasi demi¬kian. Yakinlah bahwa cara demikian tidak cukup membantu. Saya terkenang dengan kisah keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Suatu ketika Aisyah pernah marah dengan Rasulullah dengan mengatakan, "Engkau ini hanya mengaku-aku saja sebagai nabi." Mendengar letupan emosi sang istri, suami yang lembut jiwanya itu hanya tersenyum tanpa balik membalas sama sekali.
Dalam situasi marah tidaklah tepat untuk melakukan blaming partner atau menyalahkan pasangan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri lebih memilih untuk diam. Kejadian demikian tidak hanya sekali. Ia berlangsung berkali-kali. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertengkar dengan istrinya, Aisyah – putri Abu Bakar. Waktu itu Abu Bakar bertindak sebagai penengah atas perselisihan beliau.
"Bicaralah atau saya yang akan berbicara terlebih dahulu," kata Rasulullah.
Anda bicaralah dulu! Jangan mengucapkan yang tidak benar!" kata Aisyah dengan lantang. Mendengar kata-kata putrinya yang terlalu kasar pada suaminya, Rasulullah, Abu Bakar lalu menampar muka putrinya hingga mulutnya berdarah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Aisyah! Engkau ini memusuhi dirimu sendiri. Apakali beliau pernah berkata yang tidak benar?"
Aisyah lalu berlindung di belakang Rasulullah.
"Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini. Kami tidak menghendaki tindakan seperti itu darimu," kata Rasul kepada sahabatnya, Abu Bakar.
SUBHANALLAH. Teramat indah untuk menelusuri kepribadian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang suami. Sangat mempesona dan mengagumkan, tetapi begitu susah jiwa ini untuk meniru dan meneladaninya. Lihatlah bahwa letupan-letupan emosi dapat muncul dalam keluarga Rasul sekalipun. Karena, ia memang menjadi sesuatu yang natural bisa terjadi.
Persoalannya terletak pada bagaimana kita menghadapinya. Terus terang, saya masih belajar untuk meneladani kisah-kisah yang menginspirasi di atas. Kadang kala saya berhasil menciptakan suasana itu, tetapi beberapa yang lain, saya merasa belum berhasil. Bersikap tenang, tidak melakukan blaming partner, bahkan mendahului untuk meminta maaf, atau menyisipkau canda-canda segar di tengah kemarahan pasangan kita, sehingga ia luluh, bukanlah persoalan mudah. Namun, saya yakin, bukan berarti pula ia tidak mungkin dilakukan.
Bagi saya, belajar mendengar letupan emosi kekasih kita adalah pekerjaan besar para pejuang yang memiliki kebesaran jiwa. Wallahu A’lam
(Sumber:Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku " Karya Dwi Budiyanto.

Senin, 28 Maret 2011

Cinta Dan Makna Kerinduan

ada saatnya aku harus pulang
karena rindu karena hasrat menggebu
buat menjengukmu dan anak-anak kita
sebuah muara tempat gelombang beradu.
[Suminto A. Sayuti; Pada Saatnya Aku Harus Pulang]

RINDU. la adalah kata yang mengekspresikan gejolak jiwa untuk menghargai makna kehadiran dan kebersamaan. Jiwa yang diluluri cinta tidak akan tahan untuk berlama-lama dalam keterpisahan. Ada batas waktu tertentu yang dapat ditoleransi, tetapi lamban dan pasti ia akan diserang dahaga kerinduan. Saat itulah ia membutuhkan air yang menyejukkan: pertemuan.
Kerinduan bagi pasangan kekasih, suami istri, merupakan tanda cinta di antara keduanya. Ia memang jauh lebih berharga dari segala bentuk oleh-oleh dan hadiah yang dibawa saat kepulangan. Kerinduan memiliki dua wajah yang sangat menawan hati suami istri yang saling mencintai: perhatian dan tanggung jawab. Perhatian merupakan wujud nyata untuk mengetahui keadaan sang kekasih; dalam kondisi apa saat ini, saat ia bersama kesunyian dan kesendirian. Sementara itu, tanggung jawab adalah keadaan jiwa untuk berbuat yang terbaik bagi sang kekasih sebagai ganti dan garansi atas perpisahan itu.
Dua wajah itu ada pada para suami yang merindukan istrinya. Saat berjauhan adalah saat yang paling membebani mereka. Ada ruang kosong tempat hati harus ditambatkan secara halal. Selama tidak ada kekasih yang hadir secara nyata di dekat kita, maka hanya kenangan¬-kenangan yang hadir menggantikannya. Namun, ia hanya mengobati untuk sementara. Sebait sajak yang ditulis Khalid bin Yazid bin Mu'awiyah berikut merekam kerinduannya yang dalam pada Ramlah binti Az-Zubair bin AI-Awwam.
Setiap malam kerinduan tiada mereda
Setiap hari kuingin berdekatan dengannya
Tiada sesaat pun ingatanku beralih kepadanya
Setiap waktu aku harus menepis derita

Begitulah, ketika kerinduan itu sedang bergejolak, maka ruang kosong itu harus segera diisi. Selama belum terisi maka iman kitalah yang kita jadikan benteng pertahanan diri. Iman menjadi benteng agar kita tidak mengisi ruang kosong kerinduan itu dengan kemaksiatan. Jika sebagai suami kita merasakan kerinduan yang luar biasa, maka hal yang sama dapat terjadi pada istri kita. Ia lebih membutuhkan kehadiran kita. Ia jauh lebih tersiksa ketika merindukan suaminya.
Kisah berikut mungkin telah akrab dalam ingatan kita. Namun, saya akan menghadirkan kembali sebagai gambaran nyata tentang adanya tarikan banyak kutub, selama kerinduan tidak kunjung menemui obatnya. Gejolak cinta, tarikan iman, dan dorongan untuk berbuat kemaksiatan menjadi fragmen yang mengkhawatirkan.
Jarir bin Hazim berkata dari Ya'la bin Hakim, dari Sa'id bin Jubair, dia berkata: Sudah menjadi kebiasaan Umar bin Khathab untuk keliling kota Madinah. Suatu malam ia berkeliling kota. Dia menjumpai seorang wanita di dalam rumahnya menggumamkan sajak.

malam ini terasa panjang dan gelap gulita
hatiku pilu karena tiada kekasih di sampingku
andalkan bukan karena Allah yang tiada Rabb selain-Nya
tentu masih ada kehidupan di atas ranjang ini
tapi aku dihinggapi takut kepada-Nya ada rasa malu menghantui
maka akan kujaga kehormatan suami semoga dirinya lekas kembali

Setelah itu wanita tersebut menghela nafas dalam¬-dalam. Ada sesak di dada. Lalu ia berkata, "Mestinya apa yang kualami pada malam ini merupakan masalah yang amat remeh bagi khalifah Umar bin Khathab."
Rindu akan terobati oleh kehadiran kekasih yang dinantikan. la menghajatkan keberadaan fisik sang kekasih untuk bersua. Saat itulah rasa rindu menemukan jawabannya. Akan tetapi, jika keadaan itu terasa susah terpenuhi, maka menjalin komunikasi yang intens dengan istri, di mana pun kita berada, merupakan obat penawar segala kerinduan itu. Istri juga memiliki hak untuk memiliki kita dan mengharapkan kehadiran kita di sisinya. "Dan, para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf." (QS. AI,Baqarah: 228).
Itulah sebabnya, ketika kita akan bepergian, pesan dari istri yang mengiringi pesan berhati-hati adalah, "Segera kirim kabar kalau sudah sampai." Kerinduan untuk bersama menghadirkan kekhawatiran akan keselamatan suaminya. Oleh karena itu, kesadaran yang harus muncul ketika seorang suami dalam bepergian, dan saat itu tugas telah terselesaikan adalah keputusan nyata untuk segera bertemu dengan istri dan keluarga. Seperti sajak Suminto A. Sayuti di atas; ada saatnya aku harus pulang/ karena rindu karena hasrat menggebu/ buat menjengukmu dan anak-anak kita.
(disalin dari Buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku".