Tampilkan postingan dengan label I'jaazul Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I'jaazul Qur'an. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Kenapa Tarbiyah Lewat Halaqah-halaqah Al-Qur’an? (2)

Pada tulisan sebelumnya (http://wahdahmuna.blogspot.com/2013/11/kenapa-tarbiyah-lewat-halaqah-halaqah.html), telah diuraikan tentang bahwa, [1] tarbiyah dengan al-Qur’an Merupakan Metode Rabbani yang Allah Pilih untuk dijalankan oleh  Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam dalam Al-Qur’an 3: 164), dan [2] Tarbiyah dengan al-Qur’an merupakan implementasi Bacaan yang Sebenar-benarnya (haqqa tilawatiho) terhadap Al-Qur’an (2: 121).

Ketiga, Diskripsi Negatif Al-Qur’an terhadap Penghapal Al-Qur’an namun Tidak Memahami atau Mengamalkannya

Syariat mencela penghapal Al-Qur’an yang melalaikan hukum-hukumnya serta mengabaikan pengamalannya. Dalam sebuah ayat, Al-Qur’an mengingatkan bahwa sikap tersebut adalah sikap orang-orang Yahudi.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْـحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِـمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”(QS. al-Jumu’ah/62: 5).

Imam al-Qurthubi menulis:“Ayat ini mengandung peringatan Allah Ta’ala terhadap orang yang menghapal Al-Qur’an agar mempelajari maknanya dan mengajarkannya, agar dia terbebas dari celaan yang menimpa kaum itu.”(al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz XVIII, h. 62).

Dari Samurah ibn Jundubradhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang mimpi yang beliau lihat, beliau bersabda,“Adapun manusia yang dipukul kepalanya dengan batu adalah orang yang membaca Al-Qur’an tapi menolaknya, dan dia tertidur hingga tidak melaksanakan shalat wajib.”(HR. Bukhari, no. 7047). Dalam redaksi lain disebutkan,“Yang aku lihat dipukul kepalanya adalah manusia yang Allah ajarkan Al-Qur’an kepadanya kemudian dia tidur di waktu malam dan tidak mengamalkannya di waktu siang.”(HR. Bukhari, no. 1386).

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mencela manusia-manusia yang tidak mentadabburi Al-Qur’an.

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”(QS. Muhammad/47: 24).

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إلَّا أَمَانِيَّ وَإنْ هُمْ إلَّا يَظُنُّونَ

“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Alkitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.”(QS. al-Baqarah/2: 78).

Dalam tafsir disebutkan bahwa yang mereka ketahui dari Alkitab hanya bacaannya semata. (Lihat: Ibn Katsir,Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Juz I, h. 166). Intinya, mereka tidak mengetahui dan mengamalkan kandungannya.  Fudhayl ibn Iyadh berkata,“Al-Qur’an diturunkan semata agar diimplementasikan kandungannya, namun manusia menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai pekerjaan.”(Al-Ajurri,Akhlaq Hamalah al-Qur’an, h. 37).
Banyak lagi ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang mencela bacaan dan hapalan Al-Qur’an semata tanpa pemahaman dan pengamalan. Orang yang membaca Al-Qur’an tidak akan mendapatkan keutamaan bila hapalannya tidak disertai dengan pemahaman dan pengamalan.
Hasan al-Bashri berkata,“Sesungguhnya Al-Qur’an ini dibaca oleh budak dan anak-anak. Mereka tidak paham artinya. Mentadabburi ayat-ayatnya hanya terwujud dengan mengamalkannya, bukan dengan menghapal sambil mengacuhkan ajarannya. Sampai-sampai ada orang yang mengatakan bahwa aku telah membaca Al-Qur’an tanpa satu huruf pun yang luput. Padahal, demi Allah, dia telah meluputkan semuanya! Al-Qur’an tidak tampak pada akhlak dan pengamalannya. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa aku membaca satu surah dalam satu nafas. Demi Allah, mereka bukanlah qurra’ sejati, bukan ulama, bukan ahli hikmah, bukan ahli wara’! Sejak kapan qurra’ seperti mereka!? Semoga Allah tidak memperbanyak manusia-manusia seperti mereka.”(Ibn al-Mubarak,al-Zuhd, h. 276).
Ibn Umar berkata,“Orang yang utama dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dahulu dari generasi awal umat ini hanya menghapal satu dua surah, namun mereka diberi karunia mengamalkan Al-Qur’an. Sesunggunya akhir dari umat ini akan membaca Al-Qur’an, di antara mereka anak-anak dan orang buta, namun tidak diberi karunia untuk mengamalkannya.”(Al-Qurthubi,al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz I, h. 39).

Sudah seharusnyalah guru-guru Al-Qur’an mengajarkan bacaan dan kandungan Al-Qur’an. Bila tidak, pengajaran Al-Qur’an hanya akan melahirkan murid-murid yang mampu membaca namun tidak mengamalkannya. Sehingga guru-guru itu tercela dan kelak mendapat dosa juga.

Keempat, Halaqah Al-Qur’an merupakan Forum Tarbiyah yang Paling Baik
Forum tarbiyah merupakan salah satu faktor penting dalam proses tarbiyah. Di dalamnya, peserta tarbiyah berinteraksi dengan sejawatnya, memperoleh nilai-nilai tarbiyah, dan memperbaiki kekurangannya. Di dalamnya, seorang murabbi menanamkan, menumbuhkan, dan melestarikan nilai-nilai. Dalam forum tarbiyah inilah peserta tarbiyah memenuhi kebutuhannya: ruhiyah, jasad, akal, sosial, dan pemikiran. Dia mengembangkan kreasi, berpartisipasi, dan berinisiatif di sana.

Perbandingan sederhana di antara forum tarbiyah dari segi efektifitasnya menunjukkan bahwa halaqah Al-Qur’an termasuk forum tarbiyah yang sukses kalau bukan yang paling sukses. Alasannya, halaqah Al-Qur’an mengandung potensi tarbiyah yang dapat membantu guru dalam menjalankan tugasnya dengan baik.

Potensi halaqah Al-Qur’an tersebut dapat diuraikan ke beberapa segi: psikologi forum, mesjid, baitullah, kesucian tempat, tempat tamu-tamu Allah berkumpul.
Dari Jubair ibn Muth’im radhiyallahu anhu bahwa seseorang berkata,“Wahai Rasulullah, tempat apakah yang Allah paling cintai dan tempat apakah yang Allah paling benci?” “Aku tidak tahu sampai aku bertanya kepada Jibril,”jawab Rasulullah. Maka Jibril datang dan menginformasikan bahwa sebaik-baik tempat di sisi Allah adalah mesjid-mesjid dan seburuk-buruk tempat di sisi Allah adalah pasar-pasar. (al-Albani,Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 325).

Dalam hadits lain, dari Salman al-Farisi radhiyallahu anhu berkata,“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang berwudhu dan menuju mesjid maka dia adalah tamu Allah Ta’ala, dan Yang Dikunjungi berhak untuk memuliakan tamu-Nya.”(Lihat:ibid, no. 322).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda,“Tidaklah seseorang tinggal di mesjid-mesjid kecuali Allah akan ceria (tabasybasya) kepadanya sebagaimana orang-orang yang telah ditinggalkan kepada orang yang pergi kemudian datang kepada mereka.”(Lihat:ibid, 327).

Dari sahabat yang sama, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“. . . dan tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah dari rumah-rumah Allah, di sana mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun ketenangan kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat melingkupi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada makhluk yang ada di sisi-Nya.”(HR. Muslim, no. 2699).

Nash-nash di atas dan banyak lagi yang senada dengannya terkait keutamaan mesjid dan duduk di dalamnya menunjukkan dampak positif bagi murid halaqah Al-Qur’an. Karena dia mendapatkan ketenangan jiwa, kegembiraan, dan kebahagiaan yang merupakan berkah dari aktivitas mereka di masjid dan dalam komunitas pebelajar Al-Qur’an.

Nilai-nilai spiritual yang didapatkan oleh murid dalam mesjid ini dia rasakan sementara dia juga dalam keadaan suci dan membaca Kalamullah. Kondisi yang menjadikannya siap untuk menerima arahan yang terkait dengan Al-Qur’an yang dia baca.

Murid yang sedang dalam kondisi takut dan tidak stabil tidak mungkin untuk menerima arahan atau meningkatkan diri menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, mesjid yangmenyelenggarakan pendidikan Al-Qur’an menjadi sumber ketenangan dan kesempatan bagi pendidik untuk meningkatkan kapasitas murid-murid lewat penjelasan tentang kandungan Al-Qur’an dan adab-adabnya.

Dalam sejarah kita belajar bahwa sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alahi wasallam, para tabi’un, ulama, panglima-panglima perang, para pendidik umat adalah pelopor-pelopor yang lahir dari rahim mesjid. Dari mesjidlah mereka sebelumnya belajar dan terdidik. Dan tidak mungkin generasi akhir umat ini bisa baik kecuali dengancara yang dengannya generasi awal umat ini berjaya dengannya.

Segi lain potensi halaqah Al-Qur’an adalah kesukarelaan. Sebagian besar murid yang belajar di halaqah Al-Qur’an karena sukarela, tanpa tekanan atau keterpaksaan. Segi lainnya adalah kebutuhan psikologis murid, sehingga biasanya murid telah dalam kondisi siap dengan arahan-arahan dari gurunya. (sumber:http://www.albayan.co.uk/id/article.aspx?id=210#.UoZdzz7WbNg.facebook). Bersambung insya Allah.

Jumat, 15 November 2013

Kenapa Tarbiyah Lewat Halaqah-halaqah Al-Qur’an? (1)

Ada satu ungkapan yang cukup akrab dalam dunia pendidikan kita, yakni, at-thariqatu ahammu minal maaddah. Cara lebih penting dari materi. Maksudnya keberhasilan suatu proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh efektifitas metode yang dipakai. Sebaik apapun materinya, jika tidak disampaikan dengan cara yang baik, maka tidak akan seefektif jika disampaikan dengan metode yang lebih baik. Sebaliknya materi yang biasa-biasa saja bisa lebih baik jika disampaikan dengan metode yang baik. Tentu saja yang terbaik adalah materi yang baik disampaikan dengan metode yang baik pula.  Dalam konteks pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) materi terbaik adalah al-Qur’an. Karena al-Qur’an adalah sumber ilmu tertinggi. Selain itu al-Qur’an juga memuat metode pendidikan terbaik. Karena pada prinsipinya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah sebagai pengajar (mu’allim) yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh karena itu mentarbiyah dengan al-Qur’an adalah sebuah keharusan. Kita mesti menjadikan al-Qur’an sebagai sumber dan metode dalam bertarabiyah. Berikut ini adalah silsilah “Kenapa Tarbiyah Lewat Halaqah-halaqah Al-Qur’an?, yang kami kutip dari website: http://www.albayan.co.uk/id/.

Pertama, Merupakan Metode Rabbani yang Allah Pilih buat Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam dalam Al-Qur’an, AllahTa’ala berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْـمُؤْمِنِينَ إذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّـمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْـحِكْمَةَ وَإن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

 “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada kaum mukmin ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(QS. Aali ‘Imran/3: 164).

Ayat ini menunjukkan bahwa misi Nabi tidak terbatas pada membacakan Kitabullah agar dihapal oleh sahabat-sahabatnya, tetapi juga menjelaskan arti dan hukum-hukum yang dikandungnya. Sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggabungkan antara perhatian terhadap teks dan hapalan/bacaan dengan perhatian terhadap pendidikan/penyucian jiwa dan pengajaran.

Dengan kata lain, proses pendidikan yang hanya menekankan pada hapalan tanpa pengajaran arti dan penyucian jiwa adalah pendidikan yang timpang. Prinsip ini diketahui betul oleh para sahabat Nabi. Imam Abu Abdirrahman al-Sulami, ulama yang belajar langsung Al-Qur’an kepada Ibn Mas’ud berkata:“Kami belajar Al-Qur’an dari kaum yang mengatakan kepada kami bahwa mereka dahulu jika belajar sepuluh ayat, mereka tidak akan melangkah ke sepuluh ayat berikutnya hingga mereka tuntas mempelajari kandungannya: kami belajar Al-Qur’an dan pengamalannya sekaligus.”(Al-Dzahabi,Siyar A’lam al-Nubala, Juz IV, h. 269).

Bisa jadi inilah rahasia di balik turunnya Al-Qur’an secara bertahap sesuai dengan momentum dan kronologis peristiwa. Tujuannya, menciptakan pengaruh ke dalam hati manusia yang menerima dan menghapalnya. Pengaruh yang tertancap dalam sehingga mampu mengubah sikap dan perilaku serta mendidik jiwa. Setiap kali ayat turun, sahabat-sahabat menghapal, memahami arti, dan menjalankan ajarannya.

Mari kira visualisasikan kembali kondisi sahabat-sahabat Nabi yang pulang dari perjanjian Hudaibiyah. Mereka kecewa karena terhalang melakukan umrah di Masjidil Haram. Sebelum mereka nyaris mencukur rambut dan menyembelih onta mereka, mata mereka memandang kota Mekkah. Hati mereka terbakar oleh kerinduan untuk bertemu Ka’bah dan merasakan indahnya kemenangan yang besar. Di momen yang mengharu-biru itu, turunlah firman Allah yang berbunyi:

لِيُدْخِلَ الْـمُؤْمِنِينَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِندَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا

“Supaya Dia memasukkan kaum mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah.”(QS. al-Fath/48: 5).

Dalam konteks ini, Al-Qur’an memanfaatkan kondisi kejiwaan sahabat-sahabat Nabi yang galau untuk mengintrodusir konsep kemenangan hakiki di sisi Allah. Pemahaman bahwa masuk Surga dan ampunan dosa merupakan keuntungan yang jauh lebih besar daripada kemenangan melawan kaum kafir. Dan hal itu hanya terwujud lewat keimanan dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Akhirnya, sahabat-sahabat Nabi meninggalkan Hudaibiyah dengan membawa pemahaman yang baru yang lebih menguatkan mereka terhadap Islam. Pemahaman yang mendorong seorang Umar ibn Khattabradhiyallahu anhuuntuk melakkukan amal shalih yang dia harapkan bisa menghapus kesalahannya karena menggugat keputusan Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdi Hudaibiyah.
Metode Nabi dalam mengajarkan Al-Qur’an adalah gabungan antarata’lim/mengajar,tazkiyah/menyucikan jiwa, dantilawah/membaca. Inilah metode yang memberi kesan dan telah AllahTa’alapilih buat Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam.

Kedua, Merupakan Implementasi Bacaan yang Sebenar-benarnya terhadap Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:

{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُوْلَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ}

“Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.”(QS. al-Baqarah/2: 121).

Ibn Mas’ud radhiyallahu anhu berujar,“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, bacaan yang sebenar-benarnya terhadap Al-Qur’an adalah menghalalkan yang dia halalkan dan mengharamkan yang dia haramkan, membacanya sebagaimana Allah turunkan, tidak menyelewengkan maknanya, dan tidak menyalahtafsirkan sehingga keluar dari maknanya.”
Mujahid berkata,“Yaitu mengikutinya dengan sebenar-benarnya.”(Ibn Katsir,Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Juz I, h. 226).

Keterangan ayat ini menunjukkan bahwa keutamaan sejati bukan terhadap manusia yang membaca serta menghapalnya saja, tapi menjalankan dan mengamalkan ajarannya. Inilah pembacaan yang sebenar-benarnya terhadap Al-Qur’an.

Senada dengan ini, pernyataan Ibn Taimiyah bahwa ungkapan “tilawah” seperti dalam firman Allah dalam QS. al-Baqarah/2: 121 mencakup pengamalan terhadap Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan Ibn Mas’ud dan selainnya di muka. (Lihat: Ibn Taimiyah,Majmu’ Fatawa, Juz VII, h. 167).

Dari sini dapat dipahami bahwa pengajaran Al-Qur’an yang semata membaca dan menghapal tanpa mempelajari hukum dan adab-adab yang dikandungnya merupakan kelemahan.  Pengajaran Al-Qur’an yang paripurna hanya terwujud dengan melengkapi hapalan Al-Qur’an dengan pelajaran mengamalkan isinya.

Mari kita simak hadits berikut. Dari Nawwas ibn Sam’anradhiyallahu anhu,“Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Pada hari Kiamat, Al-Qur’an dan Ahl al-Qur’an yang dahulu (di Dunia) mengamalkan isinya akan didatangkan, dia diantar oleh surah al-Baqarah dan Aali Imran.”(HR. Muslim, no. 805).

Bila demikian ganjaran bagiAhl al-Qur’anyang mengamalkan isinya, bagaimana dengan guru-guru Al-Qur’an yang mendidik murid-muridnya agar mengamalkan Al-Qur’an? Bagaimana dengan guru-guru yang telah menelorkan jumlah murid yang banyak? Di zaman ini, kita membutuhkan halaqah-halaqah yang melahirkan manusia-manusia yang membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya serta tunduk kepada hukum halal dan haramnya. Manusia-manusia model ini hanya bisa lahir lewat tarbiyah imaniyah yang dilakukan oleh guru-guru Al-Qur’an. Bersambung insya Allah. (sumber:http://www.albayan.co.uk/id/article.aspx?id=210#.UoZdzz7WbNg.facebook)

Selasa, 01 Mei 2012

HAFALAN AL-QURAN TINGKATKAN KECERDASAN DAN KESEIMBANGAN MENTAL


Sebuah kajian dan penelitian dilakukan. Temanya tentang tingkat kesehatan psikologis yang diperoleh seseorang dan kaitannya dengan tingkat hafalan al-Qurannya. Bagaimana hasilnya?
Ternyata menghafal al-Quran mempunyai korelasi yang sangat kuat dengan tingkat kesehatan psikologi seseorang. Hal ini sangat kuat disimpulkan dari hasil kajian yang dilakukan DR. Shaleh Bin Ibrahim Ashani, seorang dosen di Universitas Imam Muhammad Ibn Saud Riyadh. Penelitian itu melibatkan dua kelompok, yakni kelompok siswa dan siwi Universitas Malik Abdul Aziz di Jeddah yang berjumlah 170 orang. Dan kelompok siwa-siswi Lembaga Kajian al-Quran Imam Syatibi yang berada di bawah koordinasi Organisasi Penghafal al-Quran di Jeddah yang muridnya juga berjumlah 170 orang.

Peneliti mengidentifikasi definisi kesehatan mental sebagai: Situasi kesesuaian psikologi seseorang melalui empat dimensi utama, yaitu dimensi religious atau spiritual, dimensi psikologis, sosial dan dimensi fisik. Peneliti menggunakan skala untuk mengukur kesehatan mental dari bahan kajian Solaiman Dawereay, yang terdiri dari 60 istilah tentang kesehatan mental sehingga menghsilkan koefisien stabilitas yang baik.
Study ini menemukan adanya hubungan positif antara tingginya tingkat hafalan al-Quran dan tingkat kesehatan mental. Siswa-siswi yang memiliki hafalan al-Quran lebih banyak ternyata memiliki tingkat kesehatan mental yang jauh lebih baik di banding selain mereka yang perbandingan yang sangat mencolok.

Ada lebih dari 70 studi yang dilakukan baik oleh kalangan Muslim maupun non Muslim, yang semuanya menekankan pentingnya agama dalam peningkatan tingkat stabilitas psikologis atau mental seseorang. Di Saudi Arabia juga pernah pernah dilakukan sejumlah penelitaian yang menghasilkan bahwa peran hafalan al-Quran sangat besar dalam pengembangan keterampilan siswa di sekolah dasar. Selain itu, dibuktikan juga dampak positif dari al-Quran pada prestasi akademik yang diperoleh mahasiswa di universitas.

Hasil studi itu menyebutkan dengan jelas antara dimensi keagamaan siswa, utamanya hafalan al-Quran dan sejauh mana pengaruhnya dalam kesehatan mental mereka. selain itu, disebutkan juga tentang tingkat ketidakseimbangan mental siswa yang tidak disiplin dengan tuntunan agama, atau hanya memiliki hafalan yang minim terhadap al-Quran.

Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah agar para guru dan pendidik umumnya memperhatikan aspek hafalan al-Quran peserta didik. Ini disebabkan bukti bukti yang dihasilkan tentang adanya pengaruh positif yang sangat jelas bagi anak didik secara prestasi maupun kehidupan sosial mereka. Juga dikarenakan hafalan al-Quran menjadi sebab paling penting bagi stabilitas mental. Bahkan karena pengaruh positif yang terjadi dalam diri siswa oleh hafalan al-Qurannya, studi ini juga menghimbau para guru dan pendidik untuk meningkatkan hafalan anak didik melebihi target kurikulum yang ditetapkan pihak sekolah atau lebaga pendidikan.

Begitulah seseorang yang menghafal al-Quran karim sebagai kitabullah dan senantiasa mendengar bacaan ayat-ayat al-Quran, akan mengalami perubahan besar dalam kehidupannya. Hafalan al-Quran juga memiliki pengaruh terhdap kesehatan fisik, karena dalam sejumlah eksprimen disebutkan bahwa hafalan al-Quran mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia dan membantunya agar lebih telindung dari penyakit.

Beberapa manfaat menghafal al-Quran yang dihasilkan, baik oleh penelitan maupun pengalaman, yaitu:

1.    Pikiran akan terang
2.    Daya ingat yang semakin kuat
3.    Memiliki ketenagan dan stabilitas psikologis
4.    Memunculkan rasa gembira dan senang yang tak bisa dilukiskan
5.    Menghilangkan rasa takut, cemas dan sedih
6.    Meningkatnya kemampuan berbahasa, khususnya bahasa arab
7.    Memiliki kemampuan hubungan sosial yang baik dan mudah menarik kepercayaan orang lain
8.    Terhindar dari penyakit kronis yang umum dialami orang
9.    Lebih meningkatkan kemampuan memahami dan menguasai persoalan
10.    Mempunyai mental yang lebih tenang dan stabil.

Itulah sebabnya Allah Subhanahu wa Ta'ala  berfirman: “Sebenarnya al-Quran itu ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”

Tulisan ini merupakan penjabaran keuntungan yang diperoleh di dunia. Sedangkan di akhirat akan ada keuntungan yang lebih banyak dan luar biasa yakni bertemu dengan Allah. Mendapatkan ridonya dan dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat. (Sumber: Majalah Tarbawi)


Minggu, 29 Mei 2011

Ternyata ,“Pacaran” Justru Bikin Wanita Tidak Sehat

Ungkapan saat jatuh cinta dunia serasa milik berdua tampaknya memang paling tepat menggambarkan sepasang sejoli yang tengah memadu kasih. Tapi, tahukah Anda jika suatu hubungan mesra seperti ini justru bisa menjadi tidak sehat bagi wanita?

Genius Beauty mewartakan, Jumat (27/5), kesehatan fisik perempuan ternyata sangat dipengaruhi pengalaman buruk hubungan masa lalu mereka.

Hal itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Universitas Chicago, Amerika Serikat, terhadap 1.500 wanita dari berbagai usia. Penelitian menunjukkan hampir 98 persen dari wanita memiliki alasan yang tepat merasa tersinggung oleh mantan pacar mereka.

Parahnya lagi, dalam 70 persen kasus, para responden wanita yang memiliki keluhan atau dendam akan mengalami masalah kesehatan. Kebanyakan dari mereka menderita sakit jantung, sakit maag, dan nyeri kronis.

Dalam beberapa kasus, amarah memang sering dirasakan saat kita tersakiti. Tapi satu hal yang pasti, jika terlalu lama dipendam hal itu justru memengaruhi kesehatan dan hubungan yang buruk.

Penelitian juga menunjukkan sekitar 70 persen dari koresponden merasa tersinggung dan 38 persen lainnya tak bisa mengampuni mantan kekasih mereka. Sementara itu, 32 persen sisanya memiliki argumen dengan teman-teman atau kerabat saat mengeluh tentang beberapa situasi.

Para ahli menyarankan untuk mencoba dan mengatasi emosi negatif. Namun, jika seseorang tidak bisa melawan emosi itu, diharapkan ia harus berkonsultasi ke psikolog. "Rasa maaf, ikhlas, dan mengeluarkan emosi tidak hanya meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga kesehatan fisik seseorang," kata Alex Likerman, ketua penelitian.

Nah, daripada pacaran hanya akan membuat luka hati, sebaiknya bersabar menunggu masa menikah atau menyegerakan menikah tanpa pacaran.(http://www.hidayatullah.com)