Tampilkan postingan dengan label Khutbah 'Ied. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah 'Ied. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2013

Anak Shaleh, Jalan Surga Orangtua


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ ِباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
 
Allahu akbar, Allahu akbar la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhamd
Kaum muslimin yang berbahagia!
Hari ini, kita kembali menjadi saksi betapa luasnya kasih-sayang Allah Azza wa Jalla kepada kita semua. Pagi hari ini, kita kembali merasakan betapa besarnya rahmat dan ampunanNya untuk kita semua.
Dosa demi dosa kita kerjakan nyaris sepanjang hari. Perintah demi perintahNya hampir kita abaikan setiap saat. Tapi lihatlah, Allah Azza wa Jalla yang Maha Pengasih itu tidak pernah bosan memberikan kesempatan demi kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan kembali padaNya. Allah Azza wa Jalla yang Maha Penyayang itu tidak pernah menutup pintu ampunanNya yang luas.
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhmad
Kaum muslimin yang berbahagia!
Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang sebuah keluarga mulia yang diabadikan oleh Allah Azza wa Jalla untuk peradaban manusia. Itulah kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam. Melalui kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam itu, Allah Ta’ala ingin menunjukkan kepada kita betapa pentingnya posisi keluarga dalam membangun sebuah peradaban yang besar. Sebuah masyarakat yang bahagia dan sejahtera, tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat.
Sebuah masyarakat tidak akan bisa menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun keluarga-keluarga kecil yang ada di dalamnya.
Dan jika kita berbicara tentang keluarga, maka itu artinya kita juga akan berbicara tentang salah satu unsur terpenting keluarga yang bernama: Anak. Dalam kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam, sang anak itu “diperankan” oleh sosok Isma’il ‘alaihissalam.
Inilah sosok anak teladan sepanjang zaman yang kemudian diangkat menjadi seorang nabi oleh Allah Azza wa Jalla. Bahkan yang luar biasanya adalah melalui keturunan Isma’il ‘alaihissalam inilah kemudian lahir sosok nabi dan rasul paling mulia sepanjang sejarah manusia bahkan alam semesta, yaitu: Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!
Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin rahimakumullah!
Saya kira hampir semua dari kita mengikuti bagaimana anak-anak remaja kita yang bergabung dalam geng-geng motor mulai berani melakukan tindakan-tindakan anarkis yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Kita semua juga nyaris menyaksikan setiap hari di sudut-sudut jalan raya, bagaimana anak-anak kita dieksploitasi dan diperalat menjadi anak jalanan, mengemis dan meminta-minta sambil mengisap lem dari balik bajunya yang lusuh dan kotor.
Saya kira kita juga tahu hasil-hasil survey mutakhir yang menunjukkan bagaimana jumlah ABG yang hamil di luar nikah terus meningkat dalam jumlah yang sangat memprihatinkan.
Dan itu semua barulah segelintir masalah dan problem anak-anak kita di masa kini… Wallahul musta’an.
Allahu akbar Allahu akbar La ilaha illaLlah Allahu akbar walillahilhamd…
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Harus kita akui dengan jujur bahwa salah satu penyebab utama terjadinya ini semua adalah orangtua itu sendiri. Tidak sedikit Orangtua yang terjebak dalam dua sikap ekstrem yang saling bertolak belakang: sikap yang memanjakan terlalu berlebihan dan sikap pengabaian yang menelantarkan anak-anak.
Ada orangtua yang menganggap bahwa kasih sayang kepada anak harus ditunjukkan dengan pemberian dan pemenuhan segala keinginannya. Bahkan ada juga orangtua yang memanjakan anak dengan segala fasilitas untuk mengangkat gengsinya sendiri sebagai orangtua!
Pada sisi yang lain, tidak sedikit orangtua yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Atau menunjukkan kepedulian dengan melakukan kekerasan demi kekerasan kepada anak.
Karena itu, di hari yang penuh berkah ini, marilah kita berhenti sejenak, membuka hati untuk sejenak belajar dari ayahanda para nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Belajar tentang betapa pentingnya nilai keluarga kita, tentang betapa pentingnya nilai seorang anak bagi orangtuanya di dunia dan akhirat.
Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illaLlahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd…
Para ayah dan bunda yang dimuliakan Allah!
Pelajaran pertama dari kisah Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa untuk mendapatkan anak yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang shaleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak.
Keberhasilan Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan karunia anak shaleh seperti Isma’il ‘alaihissalam adalah karena beliau sendiri berhasil mendidik dan membentuk dirinya menjadi seorang hamba yang shaleh. Allah Azza wa Jalla menegaskan:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (al-Mumtahanah: 4)
Pujian Allah Azza wa Jalla untuk Ibrahim ‘alaihissalam ini tentu saja didapatkannya setelah ia berusaha dan berusaha menjadi sosok pribadi yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.
Pertanyaannya sekarang untuk kita semua adalah: siapakah di antara kita yang sejak awal menjadi orangtua sudah berusaha untuk belajar dan berusaha menjadi orangtua yang shaleh? Apakah kesibukan kita menshalehkan pribadi kita sudah menyamai kesibukan kita mengurus rezki dan urusan dunia lainnya?
Prof. DR. Abdul Karim Bakkar, seorang pakar pembinaan anak dan keluarga menegaskan: “Tarbiyah dan pembinaan keluarga yang kita capai itu adalah gambaran tentang bagaimana pembinaan pribadi kita sendiri!”
Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimahukumullah!
Pelajaran kedua dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah jika ingin memiliki anak yang shaleh, maka bersungguh-sungguhlah meminta dan mencita-citakannya dari Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala mengabadikan doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentang itu di dalam al-Qur’an:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.” (al-Shaffat: 100)
رَبِّ  اجْعَلْنِى  مُقِيمَ الصَّلَوٰةِ  وَمِن  ذُرِّيَّتِى رَبَّنَا  وَتَقَبَّلْ  دُعَآءِ  
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)
Kaum muslimin yang berbahagia!
Mungkin banyak di antara kita yang sekedar “mau” memiliki anak yang shaleh. Tapi siapa di antara kita yang sungguh-sungguh berdoa memintanya kepada Allah dengan kelopak mata yang berderai air mata? Siapa di antara kita yang secara konsisten menyelipkan doa-doa terbaiknya untuk keluarga dan anak-anaknya?
Allahu akbar, Allahu akbar La ilaha illaLlahu Allahu akbar wa lillahilhamd…
Jika kita memang sungguh-sungguh bercita-cita mendapatkan anak shaleh, maka kita harus berpikir dan berusaha sungguh-sungguh pula mencari jalannya, sama bahkan lebih dari saat kita bercita-cita ingin mempunyai penghasilan yang besar, rumah tinggal impian dan kendaraan idaman kita. Berikut ini beberapa hal yang sungguh-sungguh harus kita jalankan untuk mewujudkan impian “anak shaleh” tersebut:
Pertama, konsisten mencari rezki yang halal untuk keluarga:
Dalam pandangan Islam, apa yang dikonsumsi oleh tubuh manusia akan berpengaruh terhadap perilakunya. Karena itu, Islam mewajibkan kepada setiap orangtua untuk memberikan hanya makanan halal yang diperoleh melalui harta yang halal kepada anak-anak mereka. Bahkan nafkah yang halal untuk keluarga akan dinilai sebagai sedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى أَهْلِهِ كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً
“Sesungguhnya seorang muslim itu jika ia memberi nafkah kepada keluarganya, maka itu akan menjadi sedekah untuknya.” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh al-Albani)
Usaha memberikan nafkah yang halal tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Dan untuk itu, kita harus selalu mengingat peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tantangan tersebut. Beliau bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak lagi peduli apa yang ia kumpulkan; apakah dari yang halal atau dari yang haram?” (HR. al-Bukhari)
Apakah kita termasuk yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini? Orang yang tidak peduli dari mana mengais dan membawa pulang nafkah untuk keluarga; apakah itu dari hasil suap, korupsi dan manipulasi seperti yang sekarang ini sedang menjadi trend sebagian pejabat di negeri ini?! Semoga saja tidak, karena nafkah yang tidak halal yang tumbuh menjadi daging dalam tubuh. Dan Rasulullah telah berpesan:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنَ السُّحْتِ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Tidak akan masuk surga daging tumbuh dari harta haram, karena neraka lebih pantas untuknya.” (HR. al-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhamd…
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Yang kedua, memberikan kasih sayang kepada anak tapi tidak memanjakannya:
Pada hari ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang nyaris tak terbendung, kita sudah tidak aneh lagi melihat anak-anak yang dibekali oleh para orangtua dengan peralatan-peralatan komunikasi yang bisa apa saja, termasuk mengakses tayangan-tayangan pornografi.
Di samping dampak lain seperti kecanduan game dan semacamnya yang semakin merenggangkan hubungan komunikasi antara anak dan orangtua. Ini adalah satu contoh kasus di mana mungkin saja kita menganggap itu sebagai bukti kasih sayang kita kepada mereka.
Namun marilah memikirkan dengan jernih bahwa bukti cinta dan sayang kita yang sesungguhnya kepada mereka adalah dengan berusaha menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri dan keluarga kalian dari api nerakan yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (al-Tahrim: 6)
Apakah Anda rela membiarkan anak-anak Anda terpanggang di dalam kobaran api neraka? Apakah kita rela membiarkan anak-anak yang kita sayangi itu menjadi bahan bakar neraka Allah? Na’udzu billah min dzalik.
Kaum muslimin rahimakumullah!
Para ayah dan bunda yang berbahagia!
Selanjutnya yang ketiga adalah terus belajar dan belajar menjadi orangtua yang shaleh dan cakap:
Apakah kita sudah mengetahui semua panduan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik anak?
Apakah kita sudah memahami bagaimana menghadapi karakter anak kita yang berbeda-beda itu?
Kita tidak dilarang mempelajari konsep pendidikan anak dari siapa saja, tapi selalu ingat bahwa konsep pendidikan dan pembinaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang terbaik dan yang wajib untuk kita jalankan. Tentu saja kita tidak lupa untuk meneladani jejak para sahabat Nabi dan Ahlul bait beliau secara benar, dan tidak berlebih-lebihan.
Cobalah kita renungkan betapa banyaknya hal yang harus kita pelajari sebagai orangtua. Karenanya sesibuk apapun urusan dunia kita, kita harus menyediakan waktu untuk belajar menjadi orangtua yang shaleh dan cakap.  Itulah harga yang harus kita bayar untuk menyelamatkan keluarga kita dari kobaran api neraka yang membara.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin yang berbahagia!
Mengapa kita harus benar-benar serius merancang kehadiran anak shaleh di dalam rumah tangga kita? Menjawab pertanyaan itu, marilah merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seorang insan meninggal dunia, akan terputuslah seluruh amalnya kecuali dari 3 hal: dari sedekah jariyah, atau dari ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani)
Melalui hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa anak yang shaleh adalah investasi yang tak ternilai harganya. Anak yang shaleh adalah pelita yang tak padam meski kita telah terkubur dalam liang lahat. Anak yang shaleh adalah sumber pahala yang tak putus meski tubuh kita telah hancur berkalang tanah.
Sebaliknya, anak-anak yang tidak shaleh kelak akan menjadi sumber bencana bagi kehidupan kita para orangtua di akhirat, wal ‘iyadzu biLlah.
Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin yang berbahagia!
Namun jika kita merasa gagal setelah mengerahkan upaya sungguh-sungguh untuk menghadirkan sosok anak shaleh dalam rumah kita, janganlah kita berputus asa kepada Allah Azza wa Jalla. Dalam kondisi putus asa seperti itu, kita harus belajar dari kesabaran dan keteguhan Nabi Nuh ‘alaihissalam yang terus mengajak anaknya ikut bersamanya, meski kemudian anaknya memilih untuk durhaka kepada Allah Ta’ala hingga akhir hayatnya.
Kesabaran juga hal paling mendasar yang harus kita miliki dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Maraknya kasus perceraian adalah bukti bahwa banyak orangtua yang egois memikirkan dirinya sendiri dan lupa bahwa anak-anak sangat membutuhkan sebuah keluarga yang utuh. Karenanya, bersabarlah karena Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar.
Selanjutnya kepada para pemilik dan pelaku media, ingatlah bahwa media-media yang Anda miliki dan kelola telah terbukti sebagai alat paling efektif  menyampaikan kebaikan dan keburukan. Ingatlah, jika Anda mencari nafkah dengan cara menyebarkan nilai-nilai kebatilan melalui media, maka itu akan menjadi nafkah haram untuk diri dan keluarga Anda.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Sebelum mengakhiri khutbah ini, marilah sejenak kita menyimak panduan singkat menunaikan ibadah kurban kita hari ini hingga 3 hari ke depan.
Hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.
Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah.
Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala yang kita peroleh sangat bergantung pada keikhlasan niat kita dalam menunaikan ibadah kurban ini.
Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…
Di penghujung khutbah ini, marilah sejenak kita menundukkan jiwa dan hati untuk menyampaikan doa-doa kita kepada Sang Maha mendengar, Allah Azza wa Jalla. Semoga doa-doa itu terhantarkan ke sisi Allah Ta’ala bersama dengan ibadah kurban yang kita tunaikan hari ini.
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ،
رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم
Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang menciptakan kami, Engkaulah satu-satuNya yang berhak untuk kami sembah…Hari ini kami datang mengetuk pintu ampunanMu. Hari ini kami hadir bersimpuh dengan peluh-peluh dosa yang melekat di tubuh kami yang lemah ini. Ya Allah, betapa kami sering lupa bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat, hingga kami pun jatuh dan jatuh lagi dalam kedurhakaan terhadap perintahMu. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kami, ampunilah kami. Ya Allah, jika Engkau menutup pintu ampunanMu yang agung, kepada siapa lagi kami harus mencari ampunan…
Ya Allah, ya Rabbana, dari bumi khatulistiwa ini, perkenankan doa kami untuk saudara-saudara muslim kami yang terjajah dan tertindas di berbagai belahan bumiMu. Ya Rabbana, berikan keteguhan dan kesabaran kepada saudara-saudara kami di Syiria, Mesir, Palestina, Irak, Myanmar dan di manapun mereka yang tertindas… Kerahkan bala tentaraMu di alam semesta ini untuk meluluhlantakkan para penindas mereka sehancur-hancurnya… Lindungilah kehormatan mereka… Jadikan mereka yang gugur sebagai syuhada’ yang selalu hidup di sisiMu… Segerakan pertolonganMu untuk mereka, Ya Rabbal ‘alamin…
Ya Allah, ya Rabbana, di sisa-sisa hidup kami ini, berikanlah kekuatan kepada kami untuk selalu berbakti dan menjadi anak yang shaleh untuk ayah-bunda kami. Jika mereka masih hidup, izinkanlah kami untuk berkhidmat dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya di sisa-sisa usia mereka… Jika ayah-bunda kami telah tiada, maka izinkanlah kami untuk menjadi sisa-sisa kebaikan mereka yang terus-menerus menjadi ladang kebaikan penerang alam kubur mereka… Ya Allah, ampuni, ampuni, ampuni durhaka kami kepada ayah-bunda kami…
Ya Allah, ya Rabbana, berikan kami kekuatan dan kemampuan untuk menjadi orangtua yang terbaik untuk putra-putri kami… Hanya Engkau satu-satuNya yang dapat memberikan kekuatan untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya… Ya Allah, jadikan anak-anak kami sebagai penyejuk hati kami, yang selalu mendoakan kami saat kami sendiri dalam kegelapan alam kubur… Ya Allah, karuniakan kepada kami anak-anak yang mencintai al-Qur’an dan Sunnah NabiMu…
Ya Allah, selamatkan negeri ini dari pemimpin-pemimpin yang zhalim… Selamatkan negeri ini dari kerakusan para koruptor yang tidak bertanggung jawab… Karuniakan untuk kami para pemimpin yang adil dan mencintai SyariatMu… Izinkan kami untuk menikmati indahnya negeri ini di bawah naungan SyariatMu yang Maha Adil…
Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.

رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
********
* Naskah Khutbah Seragam Idul Adha 1434 H dikeluarkan oleh Dewan Syariah DPP Wahdah Islamiyah

Minggu, 21 Oktober 2012

BELAJAR DARI NABI IBRAHIM, MEMBANGUN CITA-CITA DUNIA DAN AKHIRAT

KHUTBAH IDUL ADHA WAHDAH ISLAMIYAH 1433 H

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ اَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ



Kaum muslimin yang berbahagia!

Betapa besar karunia Allah Ta’ala kepada kita semua. Betapa tidak terhingga nikmat-Nya untuk kita semua. Ada yang kita sadari, namun lebih banyak yang luput dari kesadaran kita.

Marilah kita renungkan betapa banyak kedurhakaan kita kepada-Nya.

Betapa hari demi hari yang kita jalani tidak pernah luput dari kelalaian untuk mengingat-Nya.

Tapi dengan semua kelalaian itu, Allah Azza wa Jalla tidak pernah lalai dan bosan untuk terus-menerus mencurahkan nikmatNya kepada kita. Semua kedurhakaan kita tidak menghalangi Dia yang Mahaperkasa untuk tetap menyelimuti kita dengan kasih sayangNya.

Dan hari ini, Ia masih mengizinkan kita untuk sekali lagi bersujud kepadaNya, untuk sekali lagi bertakbir dan bertahlil mengagungkan namaNya, dan untuk sekali lagi bertaubat kepadaNya.

Kita tidak pernah tahu, hadirin sekalian, boleh jadi inilah sujud terakhir kita padaNya di dunia ini. Inilah takbir dan tahlil terakhir kita untukNya. Dan inilah taubat kita untuk terakhir kalinya kepadaNya.

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd.

Kaum muslimin rahimahukumullah!

Idul Adha akan selalu mengingatkan pada sosok Ibrahim alaihissalam dan keluarganya. Hari ini, di saat jutaan saudara kita kaum muslimin bergegas menyelesaikan prosesi ibadah haji yang agung, di tanah air ini, kita duduk sejenak untuk merenungkan pelajaran-pelajaran yang dititipkan Allah kepada kita melalui kisah monumental Nabi Ibrahim dan keluarganya ‘alaihimussalam.

Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sungguh bagi kalian terdapat teladan yang baik dalam (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…” (al-Mumtahanah: 4)

Sosok Ibrahim ‘alaihissalam adalah teladan pengorbanan yang tulus. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin harus sepenuhnya hidup untuk sebuah obsesi dan cita-cita yang tinggi. Bahwa obsesi dan cita-cita seorang mukmin tidak akan pernah terhenti hingga ia menjejakkan kakinya di dalam Surga Allah. Obsesi dan cita-cita itulah yang membuatnya rela melakukan pengorbanan demi pengorbanan di kehidupan dunia yang terlalu singkat ini.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengajarkan kepada kita bahwa obsesi dan cita-cita hidup kita sepenuhnya harus selalu diukur dengan keridhaan dan kecintaan Allah Azza wa Jalla. Apa yang diridhai dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, maka itulah obsesi dan cita-cita kita. Jika tidak, maka obsesi dan cita-cita itu harus segera kita hapus dan buang jauh-jauh dari kehidupan kita. Karena obsesi dan cita-cita yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala hanya akan membawa kehidupan kita dalam serial malapetaka dan kehancuran yang tidak akan habisnya.

Maka demi obsesi dan cita-cita tertingginya akan Surga, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melintasi gurun sahara yang kering, di bawah cengkraman terik matahari dan pelukan malam-malam yang dingin. Dan ia tidak sendiri dalam perjalanan itu. Istri dan bayi mungilnya ikut serta “menikmati” perjalanan penuh obsesi itu. Obsesi akan Surga Allah.

Bayangkanlah, hadirin sekalian, betapa tidak mudahnya perjalanan itu! Tapi inilah caranya untuk membuktikan kepada Allah Azza wa Jalla bahwa mereka sungguh-sungguh dengan obsesi tentang Surga itu. Dan kita semua tentu mengetahui bahwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarga kecilnya itu tidak berhenti sampai di situ.

Pertanyaan pentingnya untuk kita semua adalah:

Sudahkah obsesi dan cita-cita hidup kita sepenuhnya untuk Allah?

Jika jawabannya adalah iya, maka seberapa besar sudah pengorbanan yang kita tunjukkan kepadaNya untuk itu?

Bersyukurlah jika tahun ini kita ikut menyembelih hewan kurban, tapi untuk obsesi sehebat Surga, tentu harus lebih dari itu!

Dalam konteks pengorbanan ini pula, maka kita teringat kepada kisah heroik Keluarga Yasir di awal Islam, saat mereka melewati penyiksaan demi penyiksaan atas komitmen keislaman mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghibur mereka dengan mengatakan:

صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

“Bersabarlah, wahai Keluarga Yasir! Karena sesungguhnya janji pertemuan kalian adalah Surga.”[1]


Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd!

Kaum muslimin yang berbahagia!

Hingga detik ini, negeri kita yang mayoritas muslim ini terus-menerus menjadi panggung tempat dipentaskannya berbagai macam krisis dan tragedi akhlak dan moral yang memilukan.

Kisah-kisah para pejabat Negara yang korupsinya tidak pernah puas, yang didukung oleh kondisi penegakan keamanan dan keadilan yang berat sebelah dan memihak kepentingan tertentu, telah menjadi konsumsi rutin kita tiada henti. Pembasmian korupsi seperti lebih sering menemukan jalan buntu, namun penangkapan dengan dalih terorisme begitu sering mengukir prestasi.

Lalu tiba-tiba kita dikejutkan oleh seorang hakim pengadilan negeri yang tertangkap basah dalam pesta narkoba di sebuah hotel, yang tanpa ragu menggelontorkan uang sebesar 10 juta rupiah dalam satu malam itu saja!

Begitulah, ternyata krisis moral dan akhlak telah melanda orang-orang tua di negeri ini. Lalu bagaimana dengan generasi mudanya?

Menurut catatan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Kalimantan Timur, sepanjang tahun 2008 saja dari sekitar 300 lebih responden yang diteliti (Pelajar SMP dan SMA), sebagian besar di antaranya sudah sering berzina, bahkan ada yang sudah hamil.

Sekitar 14 % dari mereka melakukan perbuatan amoral (zina) itu di lingkungan sekolah, sedangkan 28 % dari mereka melakukannya di rumah. Sisanya, di tempat rekreasi dan di hotel-hotel.

Di Papua, terdapat sekitar ratusan pelajar yang mengidap HIV/AIDS. Dari jumlah tadi, 60 % lebih diderita pelajar asli asal Papua dan 40 % lagi pelajar non Papua (pendatang), sebagaimana disampaikan oleh Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPAD) Provinsi Papua.

Dan semua itu adalah fenomena gunung es. Sedikit yang terungkap, dan lebih banyak lagi yang tidak terungkap.

Kita juga tentu mengikuti fenomena tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang seringkali disebabkan oleh hal-hal remeh yang tidak masuk di akal.

Dengan semua fenomena kebobrokan kaum muda Indonesia itu, kita kemudian dikejutkan dengan klaim sebuah media televisi bahwa lembaga-lembaga Rohis adik-adik kita di SMA adalah sarang pengkaderan teroris. Stasiun televisi itu lupa bahwa Rohis adalah benteng utama pembinaan moral anak-anak kita.

Kenyataan dan fakta ini tentu saja membuat kita bertanya: Mengapa itu semua terjadi?

Dalam konteks perjuangan Nabi Ibrahim, kita dapat mengatakan bahwa banyak generasi tua dan generasi muda telah kehilangan obsesi dan cita-cita hidup yang sesungguhnya. Banyak orang berjalan dalam obsesi-obsesi semunya.

Mereka semua mungkin tahu bahwa korupsi, berzina dan melakukan kezhaliman itu dosa. Tapi lemahnya obsesi dan cita-cita akhirat, membuat mereka takluk tak berdaya pada godaan dunia yang menghancurkan masa depan akhirat mereka.

Karena obsesi semacam ini pula, banyak orang tua yang lupa bahwa anak-anak mempunyai kebutuhan yang jauh lebih besar daripada uang dan materi. Mereka membutuhkan belaian cinta dan bimbingan penuh kasih sayang dari orang tua mereka.



Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd!

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Tapi harapan menjadi lebih baik selalu ada, sebagaimana pintu taubat Allah selalu terbuka bagi siapapun di antara kita yang ingin berubah menjadi hamba yang lebih baik.

Sekali lagi, marilah belajar dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Beliau adalah teladan bagi setiap orang tua yang menyayangi anaknya. Beliau mengajarkan kepada kita cara yang benar dalam menyayangi anak kita. Bukan dengan memuaskan segala permintaannya, tapi dengan mendekatkan mereka kepada Allah dengan penuh hikmah dan kelembutan.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ


“Sesungguhnya Ibrahim itu adalah seorang yang lembut, pengasih dan selalu kembali (kepada Allah).” (Hud: 75)

Inilah sifat dan karakter dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang tua: lemah lembut, pengasih dan yang tidak kalah pentingnya: selalu kembali dan bersandar kepada Allah yang Mahakuat.

Coba renungkan doa yang dipanjatkan Ibrahim karena kecintaannya kepada keluarga dan anak-anaknya:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa: ‘Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku serta keturunanku dari menyembah berhala…” (Ibrahim: 35)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang menegakkan shalat, beserta keturunanku. Duhai Tuhan kami, terimalah doaku…” (Ibrahim: 40)


Kaum muslimin yang berbahagia!

Demikianlah kekhawatiran dan kegelisahan Ibrahim terhadap keturunannya. Karena itu, seperti Nabi Ibrahim, seharusnya kita selalu khawatir jika anak-anak kita akhirnya tidak lagi menyembah Allah dan menghambakan diri kepada selain Allah. Seharusnya kekhawatiran anak kita tidak shalat dan menjalankan perintah Allah lebih besar daripada saat ia kehilangan karirnya.


Di sinilah Nabi Ibrahim alaihissalam –sekali lagi- mengajarkan kepada kita untuk berani berkorban demi obsesi dan cita-cita akhirat kita.

Kita harus berani mengorbankan obsesi politik kita, jika itu hanya akan menghancurkan masa depan akhirat kita.

Kita harus berani mengorbankan obsesi karir dan jabatan kita, jika itu hanya akan membuat Allah murka kepada kita.

Kita harus berani mengorbankan obsesi nafsu kita, jika itu hanya akan membuat kita menyesal di saat penyesalan tidak akan pernah berguna lagi di Padang Mahsyar.

Semua obsesi keduniaan itu tidak akan membuat kita bahagia, jika pada akhirnya hanya akan menorehkan nama-nama kita dalam barisan makhluk yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla.

Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd

Hadirin yang dimuliakan Allah!

Kepada mereka yang mendapatkan amanah untuk memimpin dan mengatur negeri ini, mulai dari level nasional hingga level lokal…Kepada aparatur peradilan dan keamanan…Tunaikanlah amanah mengatur negeri ini dengan penuh rasa takut kepada Allah. Jangan pernah berlaku zhalim sedikit pun, karena itu –kata Rasulullah- akan menjadi kegelapan yang berlapis-lapis pada hari kiamat. Renungkanlah selalu firman Allah Ta’ala ini:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Dan jangan pernah sekalipun engkau menyangka Allah akan lalai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang zhalim. Sungguh Allah hanya mengulur mereka hingga hari di mana pandangan mata mereka terbelalak.” (Ibrahim: 42)

Kepada rekan-rekan generasi muda, jangan pernah terlena dengan tubuh yang masih kuat, mata yang masih tajam, kulit yang mesih kencang dan usia yang belum tua. Semua itu sama sekali bukan jaminan bahwa perjalanan Anda di dunia masih lama. Sebab tua dan muda memiliki kedudukan yang sama di hadapan kematian. Gunakanlah tubuh yang kuat dan usia muda ini untuk bekerja meraih kesuksesan dunia dan akhirat Anda.

Kepada para muslimah yang mulia, kaum wanita adalah pilar utama bangunan suatu masyarakat. Dan kaum wanita hanya bisa menjadi pilar utama itu jika mereka tetap berada dalam fitrah kewanitaan mereka sesuai yang digariskan Allah dan RasulNya. Dan hari ini, Indonesia yang tertatih-tatih ini menanti kehadiran Anda, para wanita sejati, yang membelai dan mendidik anak-anaknya dengan cinta, yang belajar setinggi-tingginya agar dapat menjadi ibu yang cerdas dan bijak bagi anak-anaknya, bukan untuk yang lainnya…

Kepada para penanggung jawab dan pelaksana media informasi, pesan kami hanya satu: tulis dan sampaikan apa saja yang ingin Anda sampaikan, tapi ingatlah bahwa setiap kata dan ucapan itu akan Anda pertanggungjawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla. Tak satu pun kata yang tertulis atau terucapkan yang akan luput dari pengadilan Allah kelak. Karenanya berhati-hatilah dengan pena dan ucapan Anda.

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd

Kaum muslimin yang berbahagia!

Mari berkurban sesuai tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam , hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.

Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas.

Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi dia bisa mewakilkannya kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah.

Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya.

Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Nilai pahala hewan kurban seseorang di sisi Allah Ta’ala tidak hanya diukur dengan banyaknya daging yang dihasilkan atau banyaknya darah yang dikucurkan, tetapi sifat keikhlasan pemiliknya, olehnya itu luruskanlah niat hanya mengharap balasan dariNya semata.

Dan karena hari ini bertepatan dengan hari Jum’at, maka perlu diketahui jika hari raya bertemu dengan hari Jum’at, maka kewajiban shalat Jum’at menjadi gugur bagi kaum pria yang mengikuti shalat Ied, sehingga ia hanya wajib mengerjakan shalat Zhuhur. Namun yang afdhal jika ia tetap hadir shalat Jum’at. Tetapi para imam dan khathib Jum’at diharapkan tetap menunaikan shalat Jum’at, agar syiar Jum’at tetap terjaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“Telah bertemu pada hari kalian ini 2 hari raya. Maka barang siapa yang mau, maka shalat Ied itu telah mencukupkannya dari shalat Jum’at, tetapi kami (tetap) melaksanakan shalat Jum’at.”[2]

Hadirin yang berbahagia!

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd!

Akhirnya, di ujung khutbah ini, marilah kita tundukkan hati dan jiwa serta seluruh tubuh ini kepada Allah, untuk berdoa dengan penuh keikhlasan padanya.


الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْ نا  أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم

Duhai Allah yang Maha pengasih, yang Mahalembut…kami tidak pernah sanggup menghitung karuniaMu kepada kami, seperti kami tidak pernah sanggup menghitung berapa banyak kedurhakaan kami kepadaMu. Seharusnya kami patuh pada perintahMu, tapi kami lebih sering durhaka. Seharusnya kami jauhi laranganMu, tapi kami lebih sering mengikuti hawa nafsu kami…

Duhai Allah yang Maha pengampun, tidak ada yang mampu mengampuni dan menutupi semua dosa kami selain Engkau. Engkaulah Penguasa segalanya. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa yang berserakan di sepanjang hidup kami…Ampuni kelalaian kami mengingatMu…Ya Allah, jika Engkau tak lagi berkenan mengampuni kami, maka entah ke mana lagi kaki ini melangkah mencari pengampunan itu…

Duhai Allah yang Maha melihat, yang Maha mendengar…hari ini, untuk kesekian kalinya kami menundukkan jiwa kami dan mengakui betapa seringnya kami durhaka kepada kedua orang tua kami. Tidak jarang kami membantah dan berbicara tidak pantas kepada mereka…Betapa seringnya kami mengabaikan keperluan mereka…Kami seringkali lupa bahwa mereka-lah pintu kami memasuki Surga-Mu, ya Allah.

Duhai Allah yang Maha luas ampunanNya, ampunilah semua kedurhakaan dan kelalaian kami kepada mereka…liputilah kedua orang tua kami dengan ampunan dan rahmatMu…terangi alam kubur mereka yang telah tiada dan berikan kekuatan beramal shaleh kepada mereka yang masih hidup…Ya Allah, izinkan kami untuk berbakti sebaik mungkin kepada mereka hingga kehidupan kami berakhir di dunia ini…

Ya Allah, yang Maha perkasa dan Maha bijaksana…Nun jauh di sana, ratusan bahkan ribuan saudara kami sedang melewati episode-episode yang berat dalam hidup mereka. Di Suriah, Irak, Palestina dan tempat lainnya, saudara-saudara kami tetap membesarkan dan mengagungkan Nama-Mu di bawah cengkraman musuh-musuhMu yang zhalim. Ya Allah, tidak ada satupun yang luput dari pengetahuanMu…Dengan keMahakuasaanMu, segerakanlah pertolongan dan kemenangan untuk mereka…Segerakanlah kehancuran dan kekalahan kepada siapapun yang berkonspirasi menzhalimi mereka, Ya ‘Aziz, Ya Jabbar, Ya Dzal Jalaali wal ikram…

Ya Allah, Tuhan yang Maha mendengar dan Maha melihat…karuniakanlah kepada kami pemimpin-pemimpin yang tidak pernah takut kecuali kepadaMu. Berikan hidayah kepada mereka untuk selalu beribadah dan menegakkan ketetapanMu…Karuniakanlah kepada kami para pemimpin yang memimpin kami dengan cinta, yang tulus memimpin untuk kebaikan kami di dunia dan akhirat…

Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami. Kami adalahlah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.

رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

[1] HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, Syekh al-Albani mengatakan dalam Takhrij Fiqh al-Sirah: Hadits ini hasan shahih.

[2] HR. Abu Dawud

Kamis, 03 November 2011

MEMBANGUN JIWA KEPEMIMPINAN DENGAN SIFAT TAUHID DAN SEMANGAT PENGORBANAN

(Khutbah Seragam Idul Adha 1432 H Wahdah Islamiyah)

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )
( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )
( يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا )
أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah

Tiada ungkapan yang paling indah pada pagi hari ini melebihi kesyukuran kepada Allah Ta'ala dengan melantunkan takbir, tahmid dan tahlil. Semangat berkurban yang merasuk ke dalam jiwa kaum mukminin, membangkitkan keimanan untuk senantiasa beramal saleh dan berbuat untuk agama Allah Ta'ala . Semuanya dilakukan atas dasar bakti dan syukur kepada Allah Ta'ala , sehingga berbuah kebahagiaan yang bermuara pada ungkapan Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu, Walillahi al-Hamdu.

Penyembelihan hewan kurban pada setiap Idul Adha senantiasa mengingatkan umat Islam pada perintah AllahTa'ala kepada kekasih dan rasul utusanNya, yaitu Nabi Ibrahim  untuk menyembelih anak semata wayangnya pada saat itu, yaitu Ismail alaihissalam sebagai ujian terberat dalam kehidupannya. Perintah ini dipatuhi oleh Nabi Ibrahim alaihissalam, namun penyembelihan anak kesayangannya pada akhirnya terganti dengan seekor domba jantan, maka syariat ini dikekalkan hingga akhir zaman. Kepatuhan terhadap perintah Allah Ta'ala mengantar Nabi Ibrahim alaihissalam menjadi sosok pemimpin yang kuat. Keteguhan Nabi Ibrahim alaihissalam dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta'alamengukuhkannya sebagai tokoh yang patut diteladani, sebagaimana firman Allah Ta'ala :
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” QS. al-Nahl(16): 120.
Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu pelajaran penting dari sosok Nabi Ibrahim alaihissalam. Sifat ini membuat Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai qudwah (teladan) di dalam menjalankan agama secara sempurna. Allah Ta'ala mengisahkan di dalam Alquran sifat utama Nabi Ibrahim alaihissalam ini dalam menyikapi pelanggaran terhadap ajaran agama, khususnya perkara kesyirikan yang dilakukan oleh penguasa, masyarakat atau bahkan hingga oleh ayahnya sekalipun. Dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan ayahnya, dan dengan Raja Namruz di dalam Alquran menegaskan jiwa kepemimpinan yang kuat ini, sehingga Allah Ta'ala berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim alaihissalam dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata.” QS. al-Mumtahanah(60): 4.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadikan penguasa suatu bangsa sejajar dengan penguasa bangsa lain atau bahkan lebih mulia, sehingga tidak mudah didikte oleh bangsa manapun kecuali jika sejalan dengan keinginan Allah Ta'ala. Kisah Nabi Sulaiman alaihissalam dengan Ratu Balqis yang memiliki kekuasaan agung adalah contoh dari sifat ini, Nabi Sulaiman alaihissalam tanpa ragu dan rasa takut meminta kepada Ratu Balqis untuk datang menjumpainya dan mengikuti ajaran tauhid yang dibawanya, “Janganlah kalian bersikap sombong kepadaku, namun datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Atau Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang berkirim surat kepada para penguasa di negara-negara adidaya pada zamannya dan mengajak mereka untuk memeluk Islam sebagai agamanya, “Saya mengajak anda untuk menganut agama Islam, niscaya anda akan selamat (di dunia dan akhirat) dan kekuasaan anda akan bertahan”, demikian seruan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada para penguasa ini, di antaranya adalah Kaisar Romawi dan Persia.
Jiwa kepemimpinan menjadikan seseorang sebagai qudwah (teladan) bagi sesama umat manusia di dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala sebagai doa orang-orang beriman:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. QS. al-Furqan(25): 74.
Menurut Ibnu Abbas radhiyallaahu anhuma, yaitu pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.
Keteladanan sikap dan perilaku yang sesuai dengan perkataan, merupakan nilai moral yang dibutuhkan oleh suatu bangsa untuk maju dan disegani. Tumbuhnya kepercayaan dalam diri setiap anggota masyarakat terhadap pemimpinnya disebabkan oleh sifat keteladanannya, sehingga menjadi dasar terhadap pelaksanaan segala kebijakan yang bertujuan membangun kesejahteraan mereka.
Jiwa kepemimpinan juga menjadikan suatu bangsa dapat membangun peradaban yang tinggi dan mampu bertahan dengan peradaban itu. Tidaklah peradaban bangsa-bangsa besar pada zaman dahulu dapat terbangun dan bertahan kecuali karena mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Kekuasaan masing-masing bangsa terbentuk menjadi suatu kekaisaran (imperium) yang memiliki wilayah begitu luas, demikian pula umat Islam yang memiliki wilayah pemerintahan sangat luas dan pengendalian yang kuat terhadap wilayah-wilayah tersebut, khususnya pada masa pemerintahan khulafa’ rasyidun. Pemerintah Islam pada zaman itu berhasil membangun peradaban dunia yang berlandaskan pada ajaran Alquran, berkat jiwa kepemimpinan para khalifahnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Kehilangan atau kelemahan jiwa kepemimpinan akan membuat suatu bangsa inferior (merasa rendah diri) di hadapan bangsa lain, sehingga hanya dapat membeo terhadap segala keinginan bangsa tersebut. Kondisi ini juga bisa membuat bangsa ini menggadaikan kedaulatannya kepada bangsa tersebut dengan tidak langsung, seperti mengadopsi sistem politik, atau menjiplak sistem ekonomi dan budaya secara mutlak. Dampaknya berujung pada kesejahteraan masyarakat, mereka tidak memiliki kemerdekaan penuh dalam pengelolaan sumber daya alam, atau dalam sistem berpolitik dan berbudaya yang bersumber pada nilai-nilai kemuliaan, sehingga tingkat kehidupan mereka tidak mengalami pertumbuhan seiring berkurangnya potensi alam yang ada, tetapi tetap berada di bawah garis kesejahteraan pada bidang ekonomi, atau tetap latah dengan gaya hidup orang lain yang tidak menunjukkan kemuliaan sebagai manusia apalagi sebagai seorang muslim.
Krisis panutan adalah dampak lain dari hilangnya jiwa kepemimpinan di tengah masyarakat. Tidak mudah mencari orang yang selaras perbuatan dengan perkataannya, atau begitu mahal nilai sebuah kejujuran, sehingga menemukan seorang yang jujur menjadi ibarat oase di tengah luasnya gurun tandus kedustaan. Berita tentang seorang yang jujur menjadi luar biasa, media-media informasi meraup keuntungan besar karena menyebarkannya, seorang pejabat penting masyarakat bahkan hingga harus rela berjalan kaki buat menemui orang yang diberitakan jujur tersebut. Mencari panutan pada saat jiwa kepemimpinan telah hilang, ibarat mencari butiran emas di pasir bebatuan sungai, tidak mudah dan paling sering tidak menemukannya. Harapan yang besar biasanya memberi gambaran fatamorgana yang tidak memiliki kebenaran, sehingga pada saat dibutuhkan, yang terjadi hanyalah segudang kekecewaan karena tertipu dengan gambaran lahiriyah tanpa hakikat. Begitulah kondisi suatu masyarakat yang tidak memiliki orang-orang berjiwa pemimpin.
Berbagai kasus di negeri ini menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan akan krisis jiwa kepemimpinan di kalangan anak bangsa. Kasus perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri dan tidak memberikan kontribusi pendapatan yang wajar kepada negara dan bangsa bahkan terhadap masyarakat sekitarnya sekalipun, kasus penanganan terorisme dan korupsi yang terkesan tebang pilih, hingga kasus separatisme yang merebak di tanah Papua dan upaya campur tangan lembaga asing buat penyelesaiannya. Masyarakat tidak mendapatkan teladan yang baik dari para penanggungjawab permasalahan-permasalahan ini, sehingga cenderung bersikap putus asa dan berlepas tangan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Kondisi krisis seperti ini tidak dapat dibiarkan, harus ada upaya membangun kembali jiwa kepemimpinan pada diri setiap masyarakat, khususnya kaum muslimin sebagai penduduk mayoritas negeri ini. Upaya yang dilakukan itu sepatutnya bersumber pada sejarah perjuangan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam membina pribadi para sahabat. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan teladan utama dalam pembinaan dan para sahabat adalah teladan terbaik dalam jiwa kepemimpinan, bukan hanya sahabat yang memiliki kekuasaan politik seperti khulafa’ rasyidun, namun secara umum para sahabat yang dibina langsung oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, masing-masing mereka memiliki sifat ini, sehingga setiap sahabat tersebut menjadi pemimpin di bidangnya. Kondisi ini membuat peradaban kaum muslimin pada masa itu berkembang sangat pesat hingga meruntuhkan peradaban lain yang lebih dulu ada, seperti Persia dan Romawi.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memulai pembinaan pribadi para sahabat pada permasalahan akidah dan tauhid, penegasan terhadap Kemahaesaan Allah Ta'ala untuk disembah dan penolakan terhadap segala bentuk perbuatan kesyirikan. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menanamkan ke dalam diri para sahabat butir-butir keimanan kepada hari akhirat dan meluruskan visi hidup setiap mereka, sehingga amal perbuatan para sahabat dapat bertujuan ukhrawi meskipun amal itu bersifat duniawi. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga meniupkan ke dalam jiwa para sahabat ruh kemerdekaan dan kebebasan dari segala bentuk penghambaan kecuali hanya kepada Allah Ta'ala dan bahwa semua manusia dan semua bangsa adalah sama di hadapan Allah Ta'ala kecuali yang bertakwa, maka dialah yang termulia.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam selanjutnya membina jiwa kepemimpinan dalam diri para sahabat dengan menanamkam semangat pengorbanan (tadhiyah). Pengorbanan dengan segala potensi diri yang dimiliki, waktu, harta, perhatian bahkan jiwa, demi menggapai cita-cita termulia yaitu keridaan Allah Ta'ala (mardhatullah). Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mendidik para sahabat untuk bersabar dalam pengorbanan ini, semuanya buat hasil terindah berupa surga Allah Ta'ala . Sebagaimana ungkapan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada keluarga Yasir  yang disiksa oleh bangsa Quraisy pada zaman awal agama Islam disebarkan:
اصْبِرُوا آلَ يَاسِرٍ مَوْعِدُكُمُ الْجَنَّةُ
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan buat kalian adalah surga”
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengingatkan para sahabat bahwa cita-cita yang tinggi tidak dapat diraih kecuali dengan pengorbanan dan kesabaran di dalamnya. Segala ujian, berupa kesempitan dan kelapangan, kesusahan dan kelancaran adalah dinamika kehidupan yang harus dilalui oleh siapapun yang telah memilih keimanan sebagai jalannya menuju Allah Ta'ala .
Keyakinan terhadap ajaran tauhid menjadi pondasi dari bangunan jiwa kepemimpinan yang kuat, karena dapat memberikan kepada seorang manusia kemerdekaan dari penghambaan dan ketundukan kepada sesama makhluk, sehingga dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah Ta'ala , tidak tunduk kecuali hanya kepada aturan yang datang dari Allah Ta'ala atau yang sesuai dengannya. Sifat pengorbanan di jalan Allah Ta'ala menjadi landasan operasional buat membentuk pemimpin yang kuat, karena sifat ini akan menempa seorang manusia menjadi pribadi yang tegar dan tahan terhadap segala ujian, dan juga menghindarkannya dari sifat kikir dan cinta kepada dunia yang berlebih-lebihan.
Kedua sifat ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan pengorbanan dengan penuh kesabaran adalah jalan untuk membangun jiwa kepemimpinan yang kuat, sebagaimana firman Allah Ta'ala :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. QS. al-Sajdah(32): 24.
Namun, kedua sifat ini juga tidak dapat diwujudkan dan dipelihara kecuali dengan proses tarbiyah (pembinaan) yang dijalankan secara berkesinambungan dan mengacu kepada sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersama para sahabat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kepada segenap dai dan ulama, anda sekalian adalah pemimpin sejati bagi umat manusia, Allah Ta'ala telah menjadikan setiap anda sebagai teladan di dalam kehidupan, olehnya itu, jadilah teladan yang baik bagi umat manusia, serukanlah kebenaran dan jangan pernah takut atau ragu untuk menyuarakannya. Sampaikanlah agama, binalah umat ini dengan nilai-nilai kemuliaan yang berdasarkan ajaran tauhid (keesaan Allah Ta'ala ) dan dakwahkanlah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dengan penuh amanah dan kesantunan, semoga dengan itu kesadaran umat untuk menjalankan agama semakin membaik.
Kepada segenap pengelola negara, kami tidak pernah berhenti menyerukan untuk menegakkan keadilan dengan ajaran Islam. Agama Islam diturunkan oleh Allah Ta'ala untuk dilaksanakan dan memberikan kesejahteraan kepada umat manusia, olehnya itu jalankanlah tuntunan agama ini dengan penuh keyakinan dan kejujuran, raihlah kemuliaan dan kebanggaan sebagai pemimpin bangsa dengan menjadikan agama sebagai panduan, tegakkanlah kewibawaan bangsa ini karena agama adalah identitasnya, niscaya kewibawaan itu disegani oleh bangsa lain.
Kepada segenap orang tua dan kaum pendidik, kami mengingatkan besarnya tanggungjawab terhadap generasi muda, olehnya itu didiklah anak-anak anda sekalian untuk cinta kepada Allah Ta'ala , kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan kepada agamanya. Tanamkanlah sejak dini ke dalam diri mereka jiwa kepemimpinan yang kuat, dengan memperkokoh akidah tauhid dan memotivasi semangat mereka untuk melakukan ketaatan terhadap perintah-perintah Allah Ta'ala , hindarkanlah mereka dari perkara-perkara yang dapat merusak agama, semoga Allah Ta'ala mengaruniakan anda sekalian generasi yang saleh.
Kepada segenap kaum wanita, kami menyerukan untuk memelihara kemuliaan dengan berjilbab yang benar, berbusana yang sopan dan jauh dari kesan menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, jagalah sikap dan pergaulan agar tetap menunjukkan identitas sebagai wanita muslimah. Janganlah tertipu dengan gemerlap kehidupan dunia seperti yang ditampilkan oleh para artis atau selebritis, karena kadang hal itu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jadilah diri sendiri dan lakukanlah kebaikan untuk kemaslahatan diri dan keluarga, semoga anda diberkati menjadi muslimah yang salehah.
Kepada segenap generasi muda Islam, tuntutlah ilmu yang bermanfaat setinggi-tingginya dan berbuatlah yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga buat bangsa, negara dan umat Islam. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dengan beribadah kepada Allah Ta'ala dan jangan disia-siakan dengan bersenda gurau tanpa manfaat atau dihabiskan dengan begadang malam di tempat-tempat maksiat. Bersiaplah menjadi pemimpin di masa depan dengan menjadi muslim sejati, semoga Allah Ta'ala memberkati hari-hari anda sekalian.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Mari berkurban sesuai tuntunan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam , hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.
Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi dia bisa mewakilkannya kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya.
Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Nilai pahala hewan kurban seseorang di sisi Allah Ta'ala tidak hanya diukur dengan banyaknya daging yang dihasilkan atau banyaknya darah yang dikucurkan, tetapi sifat keikhlasan pemiliknya, olehnya itu luruskanlah niat hanya mengharap balasan dariNya semata.
Akhirnya, pada hari yang mulia ini, marilah kita sekali lagi memuji dan bersyukur kepada Allah seraya menundukkan hati, pandangan dan wajah kita, berdo’a dan bermunajat kepada Allah Ta'ala ,
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم
Ya Allah, Engakulah Penguasa langit dan bumi, Penguasa dunia dan akhirat, kami datang kepadaMu pada hari yang penuh berkah ini mengadukan beratnya dosa yang telah kami lakukan. Kami sadar bahwa nikmat pemberianMu belumlah dapat kami syukuri dengan sebenarnya, kami mengaku kesalahan kami lebih banyak dari kebaikan kami, namun kami yakin bahwa Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang, maka kami berharap kepada-Mu, Ya Allah ampunkanlah segala dosa dan kesalahan kami.
Ya Allah, kedua ayah dan ibu kami adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepada-Mu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada mereka kecuali seuntai doa kepada-Mu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjukilah mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunan-Mu, Engkaulah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.
Ya Allah berkahilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dengan ketaatan kepada-Mu, yang akan mengundang curahan rahmat-Mu. Lindungilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari busuknya dosa dan pengingkaran atas syariat-Mu. Ya Allah janganlah Engkau timpakan azab atas kami karena kezaliman sebagian orang di antara kami. Berikankanlah pemimpin-pemimpin kami keyakinan dan kemampuan untuk menjalankan syariat-Mu, yang dengannya mereka membimbing kami menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.

Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.
رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Senin, 29 Agustus 2011

KEBENARAN PASTI MENANG (KHUTBAH IDUL FITRI 1432 H)

Khutbah Idul Fitri 1432H

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّ إَلاَّ نَفْسَهُ وَلاَ يَضُرُّ اللهَ شَيْئاً .
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )
( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) 
( يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا )
أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Lantunan takbir, tahlil dan tahmid kembali bergempita di pagi hari bahagia ini. Pertanda kemenangan dan sukacita setelah menyelesaikan ibadah puasa beserta ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Sekalipun di lubuk hati masih tersisa kesedihan berpisah dengan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, namun kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan patut dirayakan pada hari ini sebagaimana perintah Allah Ta'ala:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة : 185]

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” QS. al-Baqarah (02):185.
    Kesempurnaan ibadah pada bulan Ramadhan lalu juga diiringi dengan harapan yang penuh kepada Allah Rabb al-‘Izzah agar berkenan menerima segala yang telah dipersembahkan untuk-Nya berupa ibadah puasa, shalat tarawih, bacaan Alquran, zakat dan sedekah serta ibadah lainnya. Hanya pada-Nya tempat memohon dan segala harapan dipanjatkan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
    Bulan suci Ramadhan yang baru saja berlalu ini memberikan pelajaran-pelajaran berharga bagi kita semua, kaum muslimin. Di antaranya adalah sikap optimisme menghadapi permasalahan-permasalahan bangsa, bersama keyakinan yang kuat bahwa segala ketidakbenaran yang saat ini masih dominan pasti akan tersisih. Ibadah puasa dan shalat tarawih mendidik kita untuk bersabar menghadapi beratnya cobaan yang akan berujung pada kemenangan dan kebahagiaan.
Sepanjang tahun ini, kita disuguhi peristiwa-peristiwa yang memilukan hati khususnya sebagai anak bangsa. Kasus-kasus mega korupsi tidak pernah berhenti, bahkan mengguncang institusi-institusi penting di negara ini, sehingga menimbulkan kerusakan tatanan sosial bermasyarakat dan berbangsa. Sebutlah sebagai contoh, kasus Bank Century, kasus mafia pajak, kasus penggelapan dana nasabah salah satu bank swasta, hingga yang terbaru gonjang-ganjing kasus Nazaruddin dan mafia anggaran. Kecurangan dan manipulasi juga ikut menghiasi peristiwa yang disuguhkan, mulai yang terjadi di dunia politik, seperti pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi, hingga yang terjadi di dunia pendidikan, seperti nyontek massal pada saat Ujian Nasional (UN). Kebenaran dan kebatilan yang dibolak-balik juga terjadi di bidang keagamaan, kerusuhan Cikeusik yang melibatkan jemaah Ahmadiyah dan masyarakat setempat digambarkan sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Pembelaan terhadap ajaran Islam yang dinodai oleh pemahaman menyimpang seperti yang dilakukan Ahmadiyah dan Syiah justru dianggap sebagai kekeliruan karena bertentangan dengan kebebasan beragama.
Peristiwa-peristiwa ini membuat sebagian masyarakat merasa pesimis menghadapi masa depan bangsa. Bayangan buram dari kondisi ini memunculkan rasa takut terhadap kemandirian negara, generasi pengusung kebenaran sekalipun bertambah namun tidak sebanding dengan derasnya arus kemungkaran. Kondisi politik yang dipenuhi intrik tidak baik dan fenomena partai politik yang saling memasung antara satu dengan yang lain, penegakan hukum yang tidak tegas dan terkesan tebang pilih, keadaan sosial dan kesejahteraan masyarakat yang mengalami ketimpangan, tak pelak menjadikan sebagian tokoh negeri ini khawatir akan nasib anak bangsa yang seakan-akan tetap didominasi oleh ketidak adilan dan ketidak jujuran.
Tetapi apapun yang terjadi, sifat pesimis dan ketakutan tidak boleh menenggelamkan rasa percaya dan optimisme kita semua akan tegaknya kebenaran atau membenamkan rasa yakin kita akan datangnya janji Allah Ta'ala . Tegaknya nilai-nilai kejayaan dan kejujuran adalah suatu keniscayaan, kebenaran pasti akan datang dengan segala cahayanya sekuat apapun pengusung kebatilan menyembunyikannya. Optimisme adalah sifat orang beriman, kekuatan husnu zhan (prasangka baik) kepada Allah  Ta'ala menjadi pondasi buat membangun kepercayaan diri agar berbuat yang terbaik dan menyingkirkan bayang-bayang kemunduran.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Sifat optimis akan tegaknya kebenaran diajarkan oleh Alquran dan sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [الصف : 8]

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci.” QS. al-Shaf (61):8
Derasnya upaya pengusung kebatilan buat memadamkan cahaya kebenaran tidak akan membuahkan hasil sedikitpun kecuali hanya pada sementara waktu. Kebenaran nampak redup ibarat lilin tertiup angin malam, terbawa ke kiri dan kanan hingga akhirnya kembali ke posisi tegaknya dengan lebih kokoh. Kesempurnaan cahaya kebenaran tidak akan terhalangi oleh kabut kegelapan seberapapun tebalnya. Allah Ta'ala  menguatkan orang-orang beriman dengan ayat ini agar meyakini kemenangan kebenaran dalam pertarungannya melawan kebatilan.
Pada ayat lain, Allah Ta'ala berfirman:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [يوسف : 21]

“Dan Allah berkuasa terhadap urusanNya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” QS. Yusuf (12):21
    Kebenaran datang dari Allah  Ta'ala dan Dia berjanji dalam ayat ini bahwa kebenaran pasti menang meskipun orang tidak meyakininya. Allah tidak pernah dan tidak mungkin mengingkari janjiNya. Suatu pelajaran optimisme yang kuat buat menghilangkan segala keraguan akan dominasi kebatilan atas kebenaran pada saat seperti sekarang ini.
    Dalam hadis yang dikeluarkan oleh Imam al-Thabrani disebutkan kisah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada saat menggali parit dalam peristiwa Perang Ahzab atau Perang Sekutu, menghadapi tekanan kuat kaum sekutu yang dipelopori oleh Suku Quraisy dan mengepung Kota Madinah. Di tengah penggalian parit yang akan menjadi penghalang kaum sekutu untuk masuk menerjang Kota Madinah, terdapat sebongkah batu karang yang besar menghalangi kelanjutan penggalian, hingga Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam turun tangan dan berusaha memecahkan batu itu. Pada pukulan pertama, terpancar percikan sinar yang tinggi dan terdengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dengan suara keras berkata: “Allahu Akbar, demi Allah (aku melihat) istana-istana Bangsa Romawi.” Dilanjutkan dengan pukulan kedua, kembali terpancar percikan sinar dan Rasulullah  shallallaahu 'alaihi wasallam berteriak: “Allahu Akbar, demi Allah (aku melihat) istana-istana bangsa Persia.” Kaum Munafik menimpali: “Ia menjanjikan kita (penaklukan) Bangsa Romawi dan Bangsa Persia padahal kita sedang berupaya mempertahankan kota ini dengan parit ?”.
    Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menanamkan ke dalam dada para sahabat pada saat itu sifat optimisme di tengah kondisi yang mencekam mereka sebagai warga Kota Madinah dan terkepung oleh pasukan kaum sekutu. Berpandangan jauh melampaui kondisi kekinian dan obsesi yang tinggi melebihi angan-angan memberikan hembusan kuat ke dalam diri akan keyakinan tegaknya kebenaran hanya tinggal menunggu waktu.
    Kebenaran pasti menang dan kebatilan akan tersisih seperti yang digambarkan oleh Allah Ta'ala di dalam Alquran, terjemahnya:
“Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus akan membawa buih yang mengembang. Dan dari logam yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu. akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” QS. al-Ra’du (13):17
    Kebenaran memiliki kekuatan perubahan, kuatnya budaya jahiliyah di zaman dahulu berhasil diluluh-lantakkan oleh dakwah tauhid yang menjadi pondasi terkuat gerakan kebenaran. Kebenaran membawa manfaat bagi umat manusia, maka kebenaran ini akan kekal sekekal bumi dan langit. Kebenaran adalah cahaya seterang mentari, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat meredupkannya. Kebenaran datang dari Allah Ta'ala, maka jangan sekali-kali ragu atau khawatir terhadapnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
    Kebenaran akan tegak adalah suatu keniscayaan, namun dalam kehidupan dunia berlaku sunnatullah dan sunnatullah tidak mengalami perubahan. Segala yang diharapkan menang maka harus diperjuangkan, demikian pula dengan kebenaran ini, para pengusungnya mesti konsisten memperjuangkan nilai-nilainya. Sedikitnya ada dua sifat yang harus ada pada diri pengusung kebenaran, yaitu: kesungguhan dan kesabaran.
    Kesungguhan (al-jiddiyah) berarti memahami esensi kebenaran, menegakkan dan memperjuangkannya dengan penuh keseriusan. Berbuat yang benar secara jujur  meski mendapatkan rintangan atau menyampaikan nilai-nilai kebenaran sekuat-kuatnya sekalipun menemui tantangan dari orang banyak. Berlaku profesional (itqan) dalam memperjuangkan kebenaran dengan menjaga amanah dan menghindari sikap ceroboh atau menggampang-gampangkan urusan, juga menjadi bagian dari kesungguhan (al-jiddiyah) ini.
    Kesabaran menjadi sifat selanjutnya yang mesti ada dalam diri pengusung kebenaran. Kesabaran berwujud pada konsistensi (istiqamah) mengamalkan kebenaran dan memperjuangkannya tanpa pernah mengenal kata putus atau mundur sekalipun cobaan mendera bertubi-tubi. Keteladanan para rasul utusan Allah Ta'ala dan pengikut setia mereka (sahabat) dalam hal ini menjadi pelita. Beratnya cobaan, hingga dari orang terdekat sekalipun, tidak menyurutkan upaya setiap mereka menyampaikan risalah Ilahiyah ini dan menunjuki umatnya ke jalan yang diridhai Allah Ta'ala. Nasihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam kepada para sahabat dalam berbuat kebenaran dan menyebarluaskannya adalah tidak tergesa-gesa. Bersabar dalam perjuangan menjadikan kebenaran sebagai warna dalam kehidupan masyarakat dan bersabar menunggu perubahan apabila upaya ke arah itu telah benar.
    Kedua sifat ini, kesungguhan dan kesabaran juga menjadi buah dari internalisasi (penanaman) Islam dalam diri setiap pribadi. Pembinaan pribadi (tarbiyah) yang lurus, terarah dan konsisten adalah proses penanaman nilai yang mesti diperhatikan. Kecemerlangan generasi sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada zaman keemasan Islam merupakan contoh hasil pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam  secara konsisten. Generasi sahabat  berhasil menampilkan kebenaran yang integral dalam diri setiap mereka dan dengan konsistensi memperjuangkannya akhirnya kebenaran itu tegak dan dirasakan oleh masyarakat sebagai kesejahteraan.
Kondisi ini menjadi ajakan untuk mewarnai diri dan hidup kita dengan nilai-nilai kebenaran serta memperjuangkannya sepenuh hati secara terus menerus dan tanpa putus harapan. Optimisme diwujudkan dalam bentuk upaya yang berproses tanpa henti dan upaya itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
    Ajakan kepada para pejuang kebenaran dan ulama Islam, kami mengajak untuk bersatu dan bersama menyampaikan agama Islam dengan hikmah. Pelayanan kepada masyarakat dengan mengenalkan agama Islam kepada mereka adalah bagian dari amanah ilmu syar’i yang kita emban. Allah Ta'ala  memerintahkan untuk menyampaikan ilmu ini kepada semua umat manusia dengan jujur dan tidak menutupinya. Kebutuhan umat manusia terhadap ulama Islam tetap tinggi, karena hanya Islam yang dapat memberi jawaban terhadap permasalahan-permasalahan hidup mereka, olehnya itu penyampaian ilmu Islam secara sempurna dan mudah dipahami oleh masyarakat menjadi suatu tuntutan. Kejujuran dalam mengemban amanah dakwah juga berarti tidak berfatwa tanpa ilmu atau menjawab pertanyaan dengan mengada-ada tanpa memastikan dalil pendukungnya dari Alquran dan sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Wahai para ulama Islam dan pejuang kebenaran, sikap bijak  dalam melakukan dakwah dan menyebarkan ilmu Islam dengan pondasi keikhlasan insya Allah dapat mengangkat derajat umat Islam kepada kedudukan yang lebih bermartabat.

    Seruan kepada penguasa, kami sebagai anak bangsa hanya menghendaki negara ini dikelola dengan penuh keadilan. Kebenaran dijunjung tinggi dan ditegakkan selurus-lurusnya, kebatilan diperangi dan tidak diberi tempat di tengah masyarakat. Keadilan ilahiyah yang merupakan tiang penegak kehidupan adalah jaminan kesejahteraan dan keamanan negeri. Keadilan ilahiyah ini telah pernah ditegakkan oleh pemerintah umat Islam pada zaman-zaman lampau, seperti yang dilakukan oleh ‘Umar bin ‘Abdul Azis dan Harun al-Rasyid hingga mampu memberikan kepada masyarakatnya tingkat kesejahteraan yang tinggi. Lembaran sejarah mengabadikan limpahan harta yang banyak pada zaman itu hingga tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat dan sedekah, bahkan gudang penyimpanan bahan makanan milik negara tidak mampu menampung harta yang masuk. Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis memerintahkan untuk menyebarkan bahan makanan itu ke segenap penjuru negeri buat dikonsumsi oleh hewan dan burung-burung yang beterbangan, seraya berseru: “Agar bangsa lain dapat menilai, tidak ada seekor burungpun yang menderita kelaparan di negeri kaum muslimin”. Kemiskinan sangat kurang dan kesejahteraan meningkat sebagai buah dari tegaknya keadilan dan kuatnya akar keimanan di tengah masyarakat.

    Nasihat kepada segenap orang tua, kami mengingatkan bahwa kebaikan dan keburukan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi yang tumbuh di dalam rumah. Maka, jadilah orang tua yang membina anak-anaknya sebagai generasi yang saleh, mengenali Allah, Rasulullah dan agama Islam serta mencintainya dengan sepenuh hati. Peliharalah adab-adab Islam di dalam rumah tangga, segera menunaikan shalat begitu tiba waktunya, memakmurkan rumah tangga dengan bacaan Alquran dan tradisi menuntut ilmu, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda. Rumah tangga adalah tempat pembinaan pertama setiap anak, maka mari menjadikan rumah tangga kita masing-masing sebagai madrasah unggulan.

Nasihat kepada kaum wanita, kemuliaan dan kehormatan seorang wanita ditentukan oleh iman dan rasa malu dalam dirinya. Agama Islam telah membimbing kaum wanita agar menjaga kemuliaannya dengan busana yang menutup aurat dan pergaulan yang sopan atas dasar rasa malu. Maka wahai kaum wanita muslimah, tutuplah aurat anda sekalian dengan jilbab dan pakaian muslimah, peliharalah rasa malu anda sekalian dengan iman dan pergaulan yang baik. Jagalah tuntunan agama Islam dalam setiap perkataan dan tingkah laku, janganlah mengumbar harga diri hingga mempermalukan orang tua, keluarga dan masyarakat. Tanamkan rasa bangga sebagai muslimah ke dalam hati dan berbuatlah yang terbaik buat umat Islam bukan seperti yang diinginkan oleh kaum feminis dengan seruan emansipasinya. Persamaan hak antara anda dan kaum lelaki di hadapan Allah adalah sebagai hamba yang diperintahkan beribadah, masing-masing sesuai kodrat dan fitrahnya. Wahai kaum wanita muslimah, jagalah shalat, banyaklah bersedekah dan hindarilah ghibah (menceritakan keburukan orang lain) serta mencela atau mengejek sesama.

    Nasihat kepada segenap generasi muda Islam, masa muda adalah waktu terbaik buat menuntut ilmu dan berkarya untuk kegemilangan hari esok. Tuntutlah ilmu yang bermanfaat setinggi-tingginya dan berbuatlah yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga buat bangsa, negara dan umat Islam. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dengan beribadah kepada Allah Ta'ala dan jangan disia-siakan dengan bersenda gurau tanpa manfaat atau dihabiskan dengan begadang malam di tempat-tempat maksiat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
    Menyambung ibadah dengan ibadah adalah suatu kemuliaan. Berpuasa di bulan suci Ramadhan telah berlalu, namun dianjurkan bagi setiap muslim untuk berpuasa di bulan Syawal ini sebanyak 6 hari. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu berpuasa 6 hari pada bulan Syawal, maka seakan-akan ia telah berpuasa setahun lamanya”.( HR. Muslim)
Pelaksanaannya dapat dilakukan berturut-turut atau berpisah-pisah. Bagi yang memiliki utang puasa Ramadhan, maka sebaiknya ia mengganti terlebih dahulu puasa itu, lalu berpuasa 6 hari bulan Syawal, kecuali jika waktu untuk berpuasa tidak mencukupi semuanya, maka dibolehkan berpuasa Syawal dan mengganti utang puasa Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya.

Akhirnya, di hari yang mulia ini, marilah kita sekali lagi memuji dan bersyukur kepada Allah seraya menundukkan hati, pandangan dan wajah kita, berdo’a dan bermunajat kepada Allah Ta'ala.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم


Ya Allah, Engakulah Penguasa langit dan bumi, Penguasa dunia dan akhirat, kami datang kepadaMu di hari yang penuh berkah ini mengadukan beratnya dosa yang telah kami lakukan. Kami sadar bahwa nikmat pemberianMu belumlah dapat kami syukuri dengan sebenarnya, kami mengaku kesalahan kami lebih banyak dari kebaikan kami, namun kami yakin bahwa Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang, maka kami berharap kepada-Mu, Ya Allah ampunkanlah segala dosa dan kesalahan kami.

Ya Allah, Tuhan kami Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, hanya kepada-Mu kami adukan beratnya kondisi kami saat ini, bimbinglah kami agar selalu berjalan di jalan-Mu, mendapat kasih sayang-Mu, menggapai cinta dan ridha-Mu. Ya Allah, kami adalah makhluk dan hamba-Mu yang selalu bergantung kepada-Mu, butuh akan rahmat dan petunjuk-Mu, Ya Allah kasihilah kami, tunjukilah kami ke jalan yang lurus.

Ya Allah, kedua ayah ibu kami adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepada-Mu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada mereka kecuali seuntai doa kepada-Mu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjukilah mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunan-Mu, Engkaulah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.

Ya Allah, kami sadar bahwa mengatur hajat hidup orang banyak tidaklah mudah, butuh kekuatan dan kesabaran, terkadang harapan berbuat kebaikan tidaklah berbuah kebaikan di kenyataan, Ya Allah tunjukilah para pemimpin kami kepada jalan-Mu yang lurus, bimbinglah mereka agar senantiasa berbuat adil dengan syari’at-Mu, tuntunlah mereka agar lebih sayang kepada masyarakatnya dan berilah kami semua kesabaran melewati segala cobaan yang engkau timpakan kepada kami lewat mereka.

Ya Allah berkahilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dengan ketaatan kepada-Mu, yang akan mengundang curahan rahmat-Mu. Lindungilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari busuknya dosa dan pengingkaran atas syari’at-Mu. Ya Allah janganlah Engkau timpakan azab atas kami karena kezaliman sebagian orang di antara kami. Berikankanlah pemimpin-pemimpin kami keyakinan dan kemampuan untuk menjalankan syari’at-Mu, yang dengannya mereka membimbing kami menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.

Ya Allah berkahi dan tuntunlah para ustadz dan guru-guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing kami menggapai ridha-Mu, sucikanlah hati mereka, lapangkanlah rezki mereka, hindarkanlah mereka dari setiap marabahaya dan lindungilah mereka dari tipu daya dan makar musuh-musuh-Mu.

Ya Allah, di sini di hari ini kami bergembira, hati kami dipenuhi rasa suka dan cita, namun sepenggal hati kami ini pula diselimuti duka dan kesedihan bila mengingat ada sebagian saudara kami di sana tak mampu seperti kami merayakan hari ini, mereka terusir dari tanah tempat tinggal mereka, terkekang oleh tirani jahat yang tak pernah rela akan agamaMu, terintimidasi oleh kekuatan zalim yang gemar keangkuhan dan kepongahan, atau terkungkung dalam kemiskinan dan kelaparan, di Irak, di Afghanistan, di Palestina dan di Somalia ! Ya Allah curahkanlah pertolongan-Mu pada kami dan saudara-saudara kami di Pelestina, Irak dan Afghanistan, yang berjuang dan mempertaruhkan nyawa demi keagungan tauhid-Mu, yang rela terpenjara di negerinya sendiri demi mempertahankan agama dan kehormatannya. Ya Allah bebaskanlah masjid al-Aqsha dari penjajahan musuh-musuhMu. Ya Allah turunkanlah rahmat dan berkah-Mu kepada saudara-saudara kami di Somalia, curahkanlah kasih sayang-Mu buat mereka dan cukupilah mereka dengan rezki dan karunia dari-Mu.

Ya Allah, masukkanlah rasa gembira ke dalam hati saudara-saudara kami sebagaimana yang Engkau berikan kepada kami walaupun hanya setetes, sampaikanlah kepada mereka bahwa sukacita kami hari ini dikabungi duka nestapa mereka, Ya Allah hanya kepada-Mu kami adukan besarnya kezhaliman musuh-musuh-Mu atas saudara-saudara kami, balaslah mereka dengan balasan setimpal, hancurkanlah kekuatan mereka dan timpakanlah atas mereka apa yang telah mereka timpakan atas kami, Ya Allah Engkaulah satu-satunya Penolong dan Pelindung kami.

Ya Allah, Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa, terima dan kabulkanlah segala amal ibadah kami di bulan Ramadhan lalu dan berikanlah kami kekuatan untuk mempertahankan amal ibadah tersebut di bulan ini dan bulan-bulan selanjutnya. Kabulkanlah doa kami ini Ya Allah, penuhilah permintaan kami ini, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.

اللَّهُمَّ رَبَّناَ لاَ تُزِغْ  قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .