Tampilkan postingan dengan label Kitabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitabah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

Membungkam Kerancuan Pluralisme Dengan Logika Sederhana

Judul Buku   : Kemi,Cinta Kebebasan Yang Tersesat

Penulis          : Adian Husaini

Penerbit        : Gema Insani

Tahun           : Terbitan kedua 1432 H/2011

Tebal            : 316 Halaman


Dr Adian Husaini MA dikenal sebagai tokoh yang gigih penyebaran berbagai pemikiran destruktif yang merusak aqidah ummat.Beliau selalu berada di gardaterdepan dalam membendung arus liberalisme di tanah air.Salah kontribusi beliau dalam menjawab berbagai syubuhat yang merusak aqidah adalah dengan menulis buku dan atikel-artikel ilmiyah. Diantara buku yang telah beliau susun adalah;Islam Liberal,Sejarah,Konsepsi,Penyimpangan dan Jawabannya,Wajah peradaban barat, Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler Liberal,Hegemoni Kristen –Barat Dalam Studi Islam Di Perguruan Tinggi,Membendung Arus Liberalisme (Kumpuan CAP di www.hidayatullah.com), Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam,Muslimah Daripada Liberal dan sebagainya.

Sebenarnya kajian liberalisme,pluralisme dan pemikiran destruktif lainnya termasuk kajian yang cukup berat.Tetapi dalam karya –karya Dr Adian kita akan memahami dan menjawab dengan mudah argumen-argumen kaum liberalis tersebut .Salah satu karya beliau yang beirisi trik-trik praktis untuk menjawab argumen kaum liberal adalah sebuah novel yang berjudul,Kemi ,Cinta kebebsan yang Tersesat.


Novel ini bercerita tentang kisah pergolakan pemikiran seorang santri bernama Kemi yang terjangkiti virus SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme). SEPILIS adalah Virus Pemikiran yang telah difatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia. Cerita berawal ketika Kemi meninggalkan ponpes Minhajul Abidin, tempatnya menimba ilmu agama selama bertahun-tahun. Ia keluar pesantren atas ajakan Farsan, kakak kelasnya yang telah bergabung dengan sebuah jaringan yang bergerak dalam menyebarkan paham Sekularisme, pluralisme, dan Liberalisme.

Tokoh lain yang dikisahkan dalam cerita ini adalah Rahmat, seorang santri yang masih merupakan rekan Kemi di pesantren. Rahmat dikenal cerdas dan istiqamah. Kyai Rais mengutusnya untuk menyelamatkan Kemi dan membawanya kembali ke Pesantren. Untuk menjalankan misi tersebut, Rahmat mendaftar sebagai mahasiswa di Institut Damai Sentosa, kampus yang menjadi corong penyebaran paham Sekularisme, pluralisme, liberalisme, multikuralisme, kesetaraan gender, bahkan dekontruksi kitab suci.

Adapula tokoh lain yang bernama Siti, Putri Kyai terkenal yang terjebak dalam pemahaman femisime liberal. Ia terperangkap dalam jejaring kebebasan yang semu. Namun semenjak bertemu dengan Rahmat, ia mengalami pergolakan dalam batinnya. Ia mulai mempertanyakan makna dan hakikat kebebasan yang selama ini diperjuangkannya. Pada saat yang sama, naluri kewanitaannya muncul. Diam-diam ia jatuh cinta kepada Rahmat, bahkan cintanya tak terbendung. Namun, di sisi lain ia tidak kuasa menghapus bayang-bayang dosa dan kesalahan yang terus menghantuinya.

Melalui dialog antartokoh dalam novel ini, Ustadz Adian menyingkap satu persatu argumen para pengusung ide pluralisme dan relativisme. Seperti dalam salah satu fragmen dialog antara toko Kemi dan Rahmat berikut ini:
“Tetapi, coba kita berdiskusi lebih menukik... soal Tuhan, misalnya. Menurut saya, yang penting adalah substansinya. Apalah arti sebuah nama. Tuhan itu satu. Tetapi manusia mempersepsikan dan memanggilnya dengan persepsi dan lingkungan budaya masing-masing. Orang Islam memanggil Allah, orang Yahudi memanggil Yahweh, orang Kristen memanggil Yesus, orang Hindu memanggil Brahman dan sebagainya. Nama Tuhan memang berbeda-beda, tetapi Tuhan tetap satu. ‘Berbeda-beda tetapi tetap satu’. Kata professor John Hick, kamu tahu kan dia, God had many names. Itu judul buka yang ia tulis. Ya kan, Rahmat...?” “Kalau memang masalah nama tidak penting, kenapa kamu tidak berdoa saja, ’’Wahai Yahweh, Wahai Tuhan Yesus?” Menurut saya, kamu sudah cukup keblinger. Harusnya sebagai orang Islam, kamu sudah paham masalah ini. Coba, mau nggak kamu baca syahadat tidak ada Tuhan selain Yahweh... Tidak ada Tuhan selain Dewata Agung. Ayo, ...................” (hal:59-60).

Hal yang sama juga nampak ketika Rahmat menaklukan Profesor Malikan di ruang kuliah (Hal:164-173). Demikian pula ketika santri andalan Kyai Rais tersebut mempermalukan Kyai Dulpikir di ruang seminar (Hal:238-243). Bahkan Kyai tersebut meninggal usai seminar.
Dari novel ini, pembaca dapat belajar cara mudah mematahkan argumentasi pluralisme, liberalisme, relativisme, multikulturalisme dan pemahaman menyimpang lainnya. Buku ini sangat mudah dipahami karena disajikan dengan gaya bercerita dan dialog. Pembaca tidak perlu mengerutkan kening untuk menyerap isi dan pesan dari novel yang mendapatkan pujian dari Taufik Ismail ini.

Oleh karena itu, novel ini penting dibaca para santri, mahasiswa, da’i dan semua pihak yang memiliki kepedulian untuk menjaga keimanan dan keislamannya serta menghendaki terbentenginya aqidah ummat dari berbagai pemahaman dan pemikiran destruktif yang semakin gencar menyerang ummat Islam.(Syams,Bogor 11/11/1432 H)

Selasa, 06 September 2011

Menantikan Lahirnya Generasi Shalahuddin

Judul buku: Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina

Judul Asli: Hakadza zhahara Jil Shalahuddin wa hakadza adat al-quds.

Penulis: Dr. Majid Irsan Al-KilaniAlih Bahasa: Asep Sobari, Lc. dan Amaluddin, Lc. M.A.

Penerbit: Kalam Aulia Mediatama, 2007,xvi + 360 hlm. ; 15x23
Peresensi: M. Masykur



Tidak ada yang menyangkal, kekalahan kaum Muslimin dari pasukan Salib pada akhir abad 5 Hijriah, merupakan salah satu tragedi terbesar yang dialami umat Islam. Hal itu terjadi tidak lain karena kesalahan umat Islam sendiri. Sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, bahwa sebelum terjadi invasi pasukan Salib kondisi umat Islam berada dalam kemunduran dan kerusakan yang parah. Para penguasa meninggalkan amanat yang diemban dan gila dengan kemewahan serta kekuasaan, bahkan mereka berlaku dzolim kepada rakyat. Para ulama pun banyak yang menjadi “ulama dunia” dengan mencari muka di depan para penguasa demi sebuah simpati atau jabatan dan bahkan tidak jarang terjadi permusuhan dan saling menjatuhkan antar ulama. Singkatnya, ada arus penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat setelah ditinggalkan oleh tiga generasi emas (shalafus shalih). Penyimpangan yang merambah semua kalangan umat baik pemerintah, ulama, tentara, kaum kaya dan masyarakat biasa.

Namun fakta sejarah berbicara, sekitar 90 tahun kemudian, tampil Shalahuddin Al-Ayyubi yang memimpin pasukannya merebut Hitthin sebaga pembuka jalan untuk merebut Palestina kembali. Apa gerangan yang terjadi? Apakah Shalahuddin Al-Ayyubi seoran utusan langit yang datang begitu saja untuk menyelamatkan umat? Apakah Shalahuddin seorang pahlawan tunggal yang berjuang sendirian dan mengandalkan segala keistimewaan pribadinya? Jawabannya tentu tidak. Sejak awal Shalahuddin “hanya” seorang anak didik Nuruddin Zanki yang sudah menyiapkan mibar baru untuk Masjidil Aqsha jauh sebelum itu.

Di sisi lain, sejarah tidak mungkin melupakan karya dan peran signifikan sejumlah ulama dan tokoh umat Islam yang hidup dalam kurun waktu tersebut, seperti Al-Ghazali, Abdul Qodir al-Jilani, Ibnu Qudamah al-Madisi dan sederetan nama lainnya yang berhasil melakukan perubahan radikal pada paradigma pemikiran dan pendidikan umat. Mereka berhasil mengikis virus-virus yang menggerogoti imunitas internal umat berupa hegemoni filsafat, aliran kebatinan, dikotomi fiqih dan tasawuf, mazhabisme dan lain-lainnya, sebelum melahirkan sebuah generasi baru yang mengimplementasikan nilai-nilai nilai-nilai Islam dan mengusung panji kejayaannya saat berhadapan denan lawan-lawannya.

Kesimpulannya, dalam buku ini dinyatakan bahwa shalahuddin hanya seoran juru bicara resmi dari sebuah generasi yang telah mengalami proses penggodokan dan perubahan. Sebuah generasi yang telah berhasil melampaui kesalahan-kesalahan masa lalu yang ditorehkan oleh para pendahulunya.

Buku ini seakan menjadi sindiran kepada kita semua, umat Islam generasi sekarang. Masjid Al-Aqsha sudah dikuasi oleh pasukan Israel, mereka memperlakukan umat Islam di Palestina dengan semena-mena. Masihkah kita belum berpikir untuk bangkit dan merebut kembali Palestina? Jika generasi Shalahuddin mampu merebut kembali Palestina dari pasukan Salib, mengapa kita tidak mampu melakukan hal yang sama? Apa yang salah dari generasi kita? Buku ini akan memberi petunjuk pada kita, bagaimana melahirkan generasi yang mampu meninggikan izzah Islam dan menyongsong peradaban Islam yang gemilang. (http://www.inpasonline.com/images/stories/buku misteri.jpg)