Tampilkan postingan dengan label Sirah Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Sahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Abdurrahman Bin Auf Radhiyaallaahu ‘anhu Saudagar Kaya Raya yang Dermawan dan Hidup Sederhana (2)


G. Sosok Yang Tawadhu

Sahabat Abdurrahman bin Auf juga dikenal sebagai sosok yang tawadhu atau rendah hati. Kekayaannya yang berlimpah tidak membuatnya sombong. Syekh Abdurrahman Raf’at Basya menggambarkan kerendahhatian sahabat yang mulia ini. Beliau berkata:  “Walaupun begitu kaya- rayanya, namun harta kekayaan itu seluruhnya tidak mempengaruhi jiwanya yang penuh Iman dan Taqwa. Apabila dia berada di tengah-tengah budaknya, orang tidak adapat membedakan di antara mereka, mana yang majikan dan mana yang budak”.[1]
Sa’ad bin Hasan At-Tamimi mengatakan: “ ‘Abdurrahman bin ‘Auf tidak bisa dibedakan dengan budak-budaknya, lantaran ketawaduan beliau di dalam berpakaian. Semoga Allah meridhai Abdurrahman bin ‘Auf dan seluruh Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mengetahui (kebaikan) dan mengamalkaannya. Mereka mengetahui sabda Rasul yang mengatakan: “Al Badzadzah Minal Iman, Badzadzah adalah bagian dari Iman”[2] . Badzaadzah artinya pakaian sederhana dan tawadhu. Dalam hadits lain Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (tertentu) karena tawadhu kepada Allah , padahal ia sanggup memilki pakaian tersebut, maka pada hari kiamat kelak Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk lalu  Allah menyuruhnya memilih perhiasan iman yang ia kehendaki untuk ia pakai. [3].[4]

H. Zuhud Terhadap Kekuasaan

Biasanya harta kekayaan menjadikan pemilikinya haus terhadap kekuasaan. Sebagian orang kaya berambisi untuk menjadi penguasa dengan harapan mengeksiskan usaha dan bisnisnya. Sudah lazim terdengar seorang penguasa yang berlatar belakang pengusaha memanfaatkan jabatan dan kedudukannya untuk mengembangkan bisnisnya. Sehingga setiap kebijakan dan keputusan yang dikeluarkan selalu menguntungkan dan mengokohkan bisnis sang penguasa. Tender-tender proyek diberikan kepada kroni dan  kolega bisnisnya.
Akan tetapi bila kita melihat ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu,  kita menjumpai sosok manusia super yang sangat zuhud terhadap kekuasaan. Sebagaimana masyhur dalam sejarah, sebelum meninggal dunia Amirul Mukminin Umar bin Khathab rahiyallaahu ‘anhu berwasiat dan menunjuk enam orang  Sahabat sebagai Tim Formatur yang akan menunjuk khalifah sepeninggal beliau.Syekh Abul Khail mengutip sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam Bukhari, ketika Umar diminta untuk berwasiat menjelang wafatnya mengatakan, “Aku tidak menemukan orang yang lebih pantas menempati urusan ini (khalifah) selain beberapa orang yang ketika Rasulullah meninggal, Beliau ridha terhadap mereka. Lalu Umar menyebut nama-nama mereka satu persatu, Ali, ‘Utsman, Zubair [bin ‘Awwam], Thalhah [bin ‘Ubaidillah], Sa’ad [bin Abi Waqqash], dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf [5]. Kalian akan disertai/disaksikan  oleh ‘Abdullah bin ‘Umar tetapi ia tidak berhak terhadap perkara ini (khilafah).[6]
Enam orang tersebut kemudian  bermusyawarah. Sebelum mereka sampai pada satu keputusan, Abdurrahman angkat suara, serahkan urusan ini kepada tiga orang diantara kalian. Lalu masing-masing menunjuk satu  orang. Zubair menunjuk  ‘Ali . Thalhah menunjuk  ‘Utsman, sedangkan Sa’ad menunjuk  Abdurrahman bin ‘Auf. Jadilah khilafah hak bagi tiga orang. Utsman, ‘Ali, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Kemudian Abdurrahman mengundurkan diri dan mengusulkan agar mereka memilih satu diantara dua, yaitu ‘Utsman dan ‘Ali. Ali berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersbda bahwa engkau adalh orang yang dipercaya oleh penduduk langit dan bumi.Akhirnya Abdurrahman memilih ‘Utsman bin ‘Affan sebagai khalifah menggantikan ‘Umar bin Khathab. Pilihan Abdurrahman disetujui oleh lima orang dalam tim itu bahkan disetujui oleh kaum Muslimin di kota Madinah.
Fakta di atas menunjukkan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf tidak haus kekuasaan sebagaimana lazimnya orang-orang yang berduit. Bahkan beliau sangat zuhud terhadap kekuasaan. Ketika namanya disebut oleh Sa’aad bin Abi Waqqash beliau menjawab:”Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut lebih baik kalian menusukkan pisau di leherku dari satu sisi hingga tembus sisi yang lain”.[7]

I. Kiprahnya di Dalam Da’wah

Selain dikenal sebagai saudagar yang dermawan dan militan di medan jihad, Abdurrahman bin ‘Auf  juga terlibat langsung dalam aktivitas da’wah. Beliau tidak hanya mendukung da’wah Islamiyah dengan hartanya, tetapi beliau menjadi bagian dari sariyah da’wah yang diutus oleh Nabi untuk menda’wahkan Islam kepada suku-suku di sekitar kota Madinah. Mengenai keikutsertaan Abdurrahman bin ‘Auf  dalam delegasi da’wah direkam dengan jelas oleh Imam ad Daruquthniy dalam rahimahullah. Untuk lebih jelasnya kita simak penuturan Abdullah bin Umar rahiyallaahu ‘anhuma berikut ini:
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil ,Abdurrahman bin ‘Auf. Nabi mengatakan kepadanya, bersiaplah!  Aku akan mengutusmu sebagai Sariyah kta Nabi. Selanjutnya Abdurrahman bin Auf keluar bersama rekan-rekannya. Mereka terus berjalan hingga sampai didaerah Dumatul Jandal. Lalu mereka menda’wahi penduduk daerah tersebut selama tiga hari. Pada hari ketiga seorang yang bernama al Ashbagh ibn ‘Amr al Kalbi masuk Islam. Sebelumnya ia seorang penganut agama Nasrani, dia juga merupakan kepala suku daerah tersebut. Abdurrahman kemudian menulis surat kepada Nabi yang diantarkan oleh seorang pria dari Bani Juhainah bernama Rafi’ bin Mukaits. Setelah Rafi’  sampai kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan keberhasilan Abdurrahman bin Auf mengislamkan daerah DaumatulJandal. Pada hari itu pula Nabi membalas surat Abdurrahman bin ‘ Auf. Diantara isinya adalah Nabi mengsinstruksikan kepada Abdurrahman untuk menikahi Putri al Ashbagh. Lalu Abdurrahman menikahi putri  al Ashbagh yang bernama Tadhamur. Dari pernikahan ini  Abdurrahman dikaruniai seorang putra bernama Abu Salamah bin Abdurrahman.[8]

J. Manaqib (Keutamaan) Abdurrahman bin ‘Auf

      Abdurrahman bin ‘Auf memiliki beberapa manqabah (keutamaan) khusus yang tidak dimiliki oleh  selainnya. Diantara keutamaan beliau adalah:
1.      1. Satu diantara Sepuluh Shahabat yang dijamin masuk Sorga
Pada prsinsipnya semua Sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang mendapatkan janji dan jaminan sorga dari Allah Ta’ala, sebagaimana diterangkan dalam  Surah al Hadid ayat 10.
وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٧:١٠]
Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Al Husna) . Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dalam ayat di atas Allah menjanjikan Al Husna (sorga) kepada seluruh Shahabat Nabi. Adapun yang dimaksud dengan sepuluh orang yang dijamin masuk sorga (Al ‘Asyarah al Mubasy Syariina biljannh) Adalah sepuluh sahabat  yang pernah disebutkan oleh Rasulullah dalam satu majelis bahwa mereka adalah penghuni sorga. Maksudnya adalah, peranah daam suatu forum Rasulullah menyebut nama kesepuluh orang tersebut, diantaranya adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidziy, bahwa Rasulullah bersabda:”Ada sepuluh orang akan memasuki sorga, Abu Bakar di sorga, Umar di sorga, Utsman disorga, ‘Ali disorga [9], Thalhah di sorga, Az Zubair di sorga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di sorga, Sa’ad bin Abi Waqqash di sorga, Sa’id bin Zaid di sorga, dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah di sorga”.[10]
2.      2. Dipercaya di langit dan di Bumi
Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang yang terperacya dalam pandangan penduduk langit dan penduduk bumi. Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam,” Abdurrahman bin ‘Auf terpercaya di langit dan terpercaya pula di bumi”. 
3      3. Faqih dalam Ilmu Agama
Abdurrahman bin ‘Auf juga termasuk sahabat yang faqih dalam masalah agama. Berkata Ibnu Abbas: Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Umar bin Khattab. Maka Umar berkata, ”apakah engkau pernah mendegnar hadits dari Rasulullah yang memerintahkan seseorang apabila lupa dalam shalatnya, dan apa yang dia perbuat?” Aku menjawab, ”Demi Allah, tidak pernah wahai Amirul Mukminin. Apakah engkau pernah mendengarnya?” Dia menajawab, ”Tidak pernah, demi Allah.” Tatkala kami sedang demikian, datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, ”Apa yang sedang kalian lakukan?” Umar menjawab, ”Aku bertanya kepada Ibnu Abbas,” kemudian ia menyebutkan pertanyaannya. Abdurrahman berkata, ”aku pernah mendengarkan tentang hal itu dari Rasulullah.” Apa yang engkau dengar wahai Abdurrahman?” Maka ia menjawab, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, apabila lupa salah seorang diantara kalian di dalam shalatnya, sehingga tidak tahu apakah ia menambah atau mengurangi, apabila ragu satu raka’at atau dua raka’at, maka jadikanlah satu raka’at, dan apabila ia ragu dua raka’at atau tiga raka’at, maka jadikanlah dua raka’at, dan apabila ia ragu tiga raka’at atau empat raka’at, maka jadikanlah tiga raka’at, sehingga keraguannya di dalam menambah, kemudian sujud dua kali dan dia dalam keadaan duduk sebelum salam, kemudian salam.”
4.      Abdurrahman bin ‘Auf pernah berfatwa pada masa Rasulullah masih hidup dan Rasulullah pernah shalat di belakang beliau pada waktu perang tabuk.
Abdurrahman Raf’at Basya mengisahkan hal ini dalam bukunya Shuwarun Min HayaatishShahaabah. Belia menulis,
Allah memuliakan Abdurrahman dengan dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh kaum Muslimin seorang jua pun, yaitu ketika waktu shalat sudah masuk, Rasulullah terlambat hadir. Maka ‘Abdurrahman menjadi Imam shalat berjamaahbagi kaum Muslimin ketika itu. Setelah hampir selesai raka’at pertama, Rasulullah tiba lalu beiau shalat di belakang ‘Abdurahmandan mengikutinya sebagai ma’mum. Apakah lagi yang lebih mulia dan utama daripada  menjadi Imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para Nabi, yaitu Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. [11]

K.    Wafatnya

Abdurrahman bin ‘Auf  meninggal di Madinah pada tahun 31 H[12] pada usia 75 tahun.[13] Dan Beliau dimakamkan dipekuburan Baqi’. Oleh karena infaq telah mendarah daging pada dirinya, maka ketika akan wafat beliau mewasiatkan hartanya dalam jumlah yang banyak untuk dimanfaatkan di jalan Allah (Sabililla). Penulis kitab Asadul Ghabah menukil sebuah riwayat yang disampaikan oleh ‘Urwah bin Zubair, Abdurrahman mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah. Disamping itu beliau juga mewasitkan 400 dinar untuk diberikan kepada setiap veteran perang Badar yang masih hidup. Jumlah veteran perang Badar  yang masih hidup saat ‘Abdurrahman meninggal sekitar 100 orang. Jadi beliau menginfakkan 40.000 dinar untuk perang Badar. Beliau juga mewasiatkan 1000 ekor kuda untuk diifakkan di jalan Allah. 

Daftar Pustaka

Abul Khail, Muhamad bin Ibrahim Shaleh, 1430/2009, Taarikhu KhulafaairRaasydiin, Riyadh:Darul Fadhilah.
            Al Mubarak Furi, Shafiyyurrahman, 1428/2007, Ar rahiqul Makhtum , Qatar: IdaaratusySyuunil Islamiyah.
Al Jazariy, Izuddin ibnu Atsir Abul Hasan Ali bin Muhammad,1424H/2003, Asadul Ghaabah Fiy Ma’rifatis Shahaabah, Beirut: Darul Kutubul ‘Ilmiyah.
Al Mishriy, Mahmud, 1423 h/2002,Ashhaab al Rasul, Mesir: Daar al Taqwa.
Asy-Sya’rawiy, Mutawalli, 1421H/2000, Ghazaaturrasuul,Kairo: Maktabutturaats al Islamiy.
Basya, Abdurrahman Raf’at,2001,Shuwarun Min Hayaatis Shahaabah, Jakarta: Media da’wah.
Khalid,  Khalid Muhammad (terj) Muhil Dhofir,2007,  Rijal Haularrasul, Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat.


[1]  Abdurrahman  Shuwarun, hlm.10
[2]  HR Ahmad, Ibnu majah dan Hakim dari Abu Umamah al Haritsi radhiyallahu ‘anhu dan dishahaihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no.2879.
[3]  HR Tirmidziy dan Hakim dari Mu’adz bin Anas dihasankan oleh al-Albaniy dalam Shahih Jami’ no.6145.
[4] Mahmud al Mishriy, AshHaabur Rasul, Mesir: Daruttaqwa,1423 H/2002 M,juz,1 hlm.244.
[5]  Keenam orang ini adalah enam dari 10 Shahabat yang dijamin masuk sorga. Sebenarnya ada satu Sahabat yang merupakan bagian dari 10 sahabat tersebut yang masih hidup. Tetapi tidak disebut dan tidak dimasukkan oleh Umar sebagai Tim Formatur, Yaitu Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Menurt analisa Ibn Katsir, ini merupakan bukti ke wara an seorang Umar. Karena Sa’id adalah keponakannya. Bahkan dalam sebagaian riwayat kata Ibnu Katsir Umar mengecualikan Sa’id dari enam orang tersebut. Umar berkata epada Sa’id, anda tidka termasuk bersama mereka.
[6] Muhamad bin Ibrahim Shaleh abul Khail, Taarikhu KhulafaairRaasydiin, Riyadh:Darul Fadhilah,1430/2009,cet.ke.1,hlm.218-219.
[7]  Khalid Muhammad Khalid (terj) Muhil Dhofir, Rijal Haularrasul, Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat,2007,cet,ke.1.hlm367.
[8]  Al Ishabah Fiy  Tarajum Ash Shahaabah 1/108 dalam Mahmud al Mishriy, Ashaburrasul, hlm.245.
[9]  Dalam sebagaian riwayat/redaksi nama ‘Ali didahulukan oleh Nabi sebelum Utsman. Urutannya; Abu Bakar, Umar, ‘Ali, ‘Utsman... dan seterusnya.
[10] HR Tirmidziy
[11] Abdurahman, Shuwarun, hlm.6-7
[12] Dalam versi lain tahun 32H
[13]  Al Jazariy, Asadul Ghabah, hlm.479.

Abdurrahman Bin Auf Radhiyaallaahu ‘anhu Saudagar Kaya Raya yang Dermawan dan Hidup Sederhana (1)

A.    Nama dan Kelahiran
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu ‘Auf  bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri. Kun-yahnya Abu Muhammad. Namanya pada masa jahiliyah Abdu Amr , dalam versi lain Abdul Ka’bah.  Setelah masuk Islam Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menamainya ‘Abdurrahman. Ibunya bernama Syifa binti ‘Auf bin ‘Abdul Harits bin Zuhrah.  Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam pada Kilab bin Murrah. Laqab –gelar- nya al-Shadiq al-Barr  . Beliau  dilahirkan pada tahun 581 M  sepuluh tahun setelah  tahun Gajah. Beliau   lebih  muda sepuluh tahun dari  Nabi.  Nabi dilahirkan pada tahun gajah yaitu tanggal 20 April 571M.

B.    Masuk Islamnya
Abdurrahman bin ‘Auf termasuk kalangan Assaabiquunal Awwalun, orang yang mula-mula masuk Islam. Beliau masuk Islam dua hari setelah Abu Bakar memeluk Islam. Abdurrahman Raf’at Basya menuliskan bahwa, "Abdurrahman bin ‘Auf masuk Islam sebelum  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar Al Shiddiq masuk Islam. Sama halnya dengan kelompok kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam, ‘Abdurrahman tidak luput dari penyiksaan dan tekanan kaum Kafir Quraisy. Tetapi dia teguh dan tetap sabar".

C. Hijrahnya
Abdurrhman bin ‘Auf dikenal sebagai Shahabat yang hijrah dua kali. Hijrah pertama ke Habsyah dan kedua ke Madinah. Sebagaiamana diketahui, pada masa awal Islam  kaum Muslimin menghadapi tekanan dan siksaan dari orang-orang kafir Quraisy.  Ketika siksaan semakin dahsyat, maka Rasulullah memerintahkan kepada sebagian Sahabat untuk berhijrah ke Habsyah.  Pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian gelombang pertama dari para Sahabat berangkat ke Habasyah. Mereka terdiri atas 12 pria dan 4 wanita dibawah pimpinan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai ketua rombongan.  Diantara Sahabat yang hijrah tersebut adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendapat idzin dari Allah untuk berhijrah, Abdurrahman bin ‘ Auf termasuk orang-orang yang mempelopori hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.

D. Ta’affufnya
‘Abdurrahman bin ‘Auf dikenal pula sebagai orang yang muta’affif, artinya sangat menjaga kehormatan dirinya. Hal ini nampak ketika beliau menginjakkan kaki pada hari pertama  di kota Madinah, saat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mempersaudarkan beliau dengan Sa’ad bin Rabi’. Syekh Shafiyyurrahman al Mubarak Fuuriy mengutip kisah tentang hal ini dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah, Ketika mereka sampai di Madinah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memepersaudarakan ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Sa’ad berkata kepada ‘Abdurrahman, saya adalah orang Anshar yang paling kaya, hartaku akan aku bagi dua dan setengahnya aku berikan kepadamu. Aku juga memiliki dua istri lihat dan pilihlah yang paling menarik bagimu, sampaikan kepadaku , aku akan menceraikannya. Setelah selesai masa ‘iddahnya nikahilah. Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Di mana pasar kalian?  tanya ‘Abdurrahman bin ‘Auf, lalu ia ditunukkan lokasi pasar Bani Qainuqa’. Mulailah ia berjualan.  Pada hari pertama beliau memperoleh keuntungan berupa Uqt dan minyak samin. Keesokan harinya ia kembali mendapatkan keuntungan dan terus meningkat pada hari2 berikutnya. Hingga suatu hari ‘Abdurrahman datang menghadap kepada Nabi Muhammad shllallaahu ‘alaihi wasallam  sedang di badannya terdapat bekas minyak wangi.  Wah , alangkah wanginya engkau wahai ‘Abdurrhman? Tanya Rasulullah. Aku telah menikah, jawab ‘Abdurrahman.  Mahar apa yang  kamu berikan kepadanya? Tanya Rasulullah kembali .Abdurrahman menjawab; emas seberat/sebesar (nuwah)  biji kurma.  Kalau begitu berwalimah  (kenduri) lah meski hanya dengan seekor kambing.

E. Jihad dengan Jiwa dan Harta
Berkorban di jalan Allah dengan jiwa dan harta merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan para sahabat Nabi. Semua sahabat Nabi dikenal sebagai sosok-sosok yang militan dalam membela agama Allah dengan jiwa dan harta. Demikian pula dengan Abdurrahman bin Auf. Bahkan Abdurrahman bin Auf pernah datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kondisi kaum Muslimin yang mengalami penyiksaan dari orang Quraisy, dengan harapan Rasulullah mengidzinkan mereka untuk melawan. Teatapi hal itu ditolak oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika Abdurrahman bin Auf masuk Islam dan mendapati kaum Muslimin disiksa oleh orang-orang Kafir Quraisy padahal pada masa jahiliyah mereka dihormati dan disegani. Maka Abdurrahman bin ‘Auf bersama beberapa orang Shahabat datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyampaikan hal itu. Mereka mengatakan, Wahai Rasulullah, dahulu kami mulia padahal kami musyrik. Setelah beriman kami terhina. Rasulullah menjawab, sesunggunya saya diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian berperang. Ketika kami di Madinah kami diperintahkan untuk berperang”.

Ketika tejadi perang Badr, Abdurrahman bin ‘Auf termasuk dalam barisan sahabat yang ikut dalam perang yang disebut dengan yaumul Furqan tersebut.  Beliau juga pernah mengikuti  perang Uhud , Tabuk dan perang-perang lainnya. Mengenai keikutsretaan Abdurrahman bin ‘Auf pada perang Badar dan uhud  diceritakan oleh Abdurrahman rif’at Basya seperti berikut. “Dalam perang Badar ‘Abdurrahman turut berjihad fi sabilillah, dan dia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah,antara lain ‘Umair bin ‘Utsman bin Ka’ab At-Taimy. Dalam perang uhud ia tetap teguh bertahan disamping Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, ketika banyak kaum Muslimin banyak yang  meninggalkan medan laga. . . .”   .
Hal ini merupakan  bukti keberanian beliau di medan tempur. Al Harits bin Shammah mengisahkan kepahlawanan Abdurrahman bin Auf pada perang uhud. Beliu mengatakan: “Aku ditanya oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang beliau berada di Syi’b, apakah anda melihat Abdurrahman bin ‘Auf ? Aku melihatnya di sisi bukit sedang menghadapi para tentara Quraisy. Aku bergegas kepadanya untuk membantunya, tetapi aku melihatmu sehingga aku datang kepadamu. Rasulullah mengatakan, Sesungguhnya ia dilindungi oleh para Malaikat. Al Harits melanjutkan, aku kembali kepada Abdurrahman bin ‘Auf  ternyata aku lihat dihadapannya tujuh orang tentara Quraisy sedang meregang nyawa, anda beruntung kata al Harits. Apakah anda yang telah membunuh semuanya? Adapun ini dibunuh oleh Arthah Bin Syarhjil, sedang yang dua aku yang membunuhnya. Adapun mereka (yang empat orang), aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka. Sungguh benar Allah dan Rasul-Nya.   Ketika selesai perang  dan kaum Muslimin keluar sebagai pemenang, ‘Abdurrahman mendapat hadiah sembilan luka parah menganga di tubuhnya, dan dua puluh luka-luka kecil.Walaupun luka kecil , namun diantaranya ada yang sedalam anak jari.

Abdurrahman bin ‘auf juga dikenal sebagai seorang yang selalu terdepan dalam urusan infaq fi Sabilillah. Beliau sangat menyadari bahwa jihad membela agama Allah bukan hanya dengan jiwa, tetapi juga dengan harta. Beliau sangat  memahami kandungan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٩:١١١]
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

 Komitmen yang jelas dari seorang  Abdurrahman bin Auf dalam berjihad dengan harta direkam dengan jelas oleh penulis buku Shuwar Min HayaatishShahabah. Beliau menulis, “Pada suatu hari Rasulullah berpidato membangkitkan semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berdiri di tengah-tengah para Sahabat. Kata beliau, antara lain “bersedekahlah tuan-tuan ! Saya hendak mengirim suatu pasukan ke medan perang”. Mendengar ucapan Rasullah tersebut, ‘ Abdurrahman bergegas pulang ke rumahnya dan cepat pula kembali ke hadapan Rasulullah di tengah-tengah kaum Muslimin. Katanya, Ya Rasulullah! Saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan dua ribu saya  tinggalkan untuk keluarga saya”. Lalu uang yang dibawanya dari rumah diserahkan kepada Rasulullah dua ribu.

Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendoakan keberkahan terhadap harta Abdurrahman bin Auf  baik harta yang dia infakkan maupun harta yang dia tinggalkan buat keluarganya. Dan semenjak itu Abdurrahman dikenal sebagai seorang yang dermawan dan gemar berdekah. Ketika Nabi sedang mempersiapkan pasukan perang tabuk, beliau membutuhkan dana dan personil yang  tidak sedkit. Oleh karena itu beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka untuk jihad fi sabilillah. Abdurrahman bin ‘Auf kembali mempelopori menyambut seruan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tidak tanggung-tanggung, beliau menyerahkan duaratus uqiyah uang emas.   Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi hafidzahullah menukil sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ketika ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu datang menyerahkan infaqnya sebsar 200 uqiyah, Nabi bertanya kepadanya, Adakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Iya, lebih banyak  dan lebih baik dari yang aku infakkan. Berapa? Tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, sebanyak jumlah kebaikan dan rezki yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
 
F. Shadaqahnya
Abdurrahman bin ‘Auf dikenal sebagai salah seorang sahabat yang kaya.Perniagaanya selalu meningkat.Kafilah dagang milikinya terus menerus hilir mudik keluar masuk Kota Madinah mengangkut berbagai macam dagangan dan kebutuhan pokok penduduk. Ada gandum, tepung, pakaian, barang-barang pecah belah, minyak,wewangian dan segala kebutuhan penduduk. Bahkan, suatu hari penduduk kota Madinah melihat ada debu  tebal membumbung di atas langit Madinah. Mereka   mengira akan akan ada badai , ternyata gumpalan debu itu disebabkan oleh iring-iringan kafilah dagang yang besar dan panjang. Tidak tanggung-tanggung iring-iringan yang mengundang rasa penasaran penduduk Madinah itu berjumlah 700 onta bermuatan penuh dan lengkap. Ketika memasuki kota rombongan onta tersebut memadati sepanjang jalan kota Madinah, bumi seolah-olah bergetar. Pemilik ratusan onta berisi barang dagangan itu adalah Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu.
Akan tetapi, meskipun hartanya melimpah Abdurrahman bin ‘Auf dapat mengendalikan hartanya dengan sangat baik. Beliau tergolong orang yang sangat dermawan dan gemar bersedekah. Infaq dan sedekah telah menjadi sesuatu yang inheren dalam komitmen keislaman para sahabat termasuk Abdurrahman bin ,Auf. Beliau memahami benar makna firman Allah:
 لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ [٣:٩٢]
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Beliau juga sangat mengerti maksud ayat:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٩:١١١]
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. 
(QS Al-An'am ayat:111).

Oleh karena itu tidak ada satu moment kesempatan untuk bersedekah, melainkan Abdurrahman selalu bergegas untuk melakukannya. Beliau segera berinfaq di jalan Allah.Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Auf mengatakan, 

“Semua penduduk Madinah merasakaan manfaat dari Abdurrahman bin’Auf, sepertiga (penduduk Madinah) diberi pinjaman oleh beliau, sepertiga lagi di bayarkan utang-utang mereka dan sepetiga dikunjungi (silaturrahmi) oleh beliau”. 

Kekayaan yang melimpah tidak membuat Abdurrahman diperbudak oleh harta. Bahkan menjelang wafatpun ia mewasiatkan sejumlah besar hartanya di jalan Allah. Urwah radhiyallaahu ‘anhu mengisahkan, Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan 50.000 (limapuluh Ribu) hartanya di jalan Allah. Bahkan ada orang yang mendapatkan bagian seabnyak 1000 dinar.
Puncak dari kedermawanan dan kebaikan Abdurrahman bin ‘Auf   kepada   sesamanya , ialah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata,
”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”

Infaq dan sedekah telah mengalir dalam daraha daging Abdurrahman bin ‘Auf.Sehingga menjelang wafatpun ia masih sempat mewasiatkan hartanya untuk kemaslahatna kaum Muslimin. Az Zuhri menceritakan bahwa ketika akan meninggal dunia Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan sejumlah besar hartanya untuk dibagikan kepada Veteran perang Badar. Jumlah veteran Badar yang masih hidup saat itu  sebanyak 100 orang. Masing-masing memperoleh 400 dinar. Diantaranya adalh Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu. (Bersambung ke bagian 2 Insya Allah)


Daftar Pustaka
Abul Khail, Muhamad bin Ibrahim Shaleh, 1430/2009, Taarikhu KhulafaairRaasydiin, Riyadh:Darul Fadhilah.

Al Mubarak Furi, Shafiyyurrahman, 1428/2007, Ar rahiqul Makhtum , Qatar: IdaaratusySyuunil Islamiyah.

Al Jazariy, Izuddin ibnu Atsir Abul Hasan Ali bin Muhammad,1424H/2003, Asadul Ghaabah Fiy Ma’rifatis Shahaabah, Beirut: Darul Kutubul ‘Ilmiyah.

Al Mishriy, Mahmud, 1423 h/2002,Ashhaab al Rasul, Mesir: Daar al Taqwa.

Asy-Sya’rawiy, Mutawalli, 1421H/2000, Ghazawaaturrasuul,Kairo: Maktabutturaats al Islamiy.

Basya, Abdurrahman Raf’at,2001,Shuwarun Min Hayaatis Shahaabah, Jakarta: Media da’wah.

Khalid,  Khalid Muhammad (terj) Muhil Dhofir,2007,  Rijal Haularrasul, Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat.