Rabu, 04 Maret 2015

Urusan Dunia Lihat Kebawah, Jangan Ke Atas

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata bahwa Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda;

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم (متفق عليه

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena hal itu dapat menjadikan kalian tidk meremehkan nikmat Allah kepada kalian”. (Muttafaq ‘alaih).

Pelajaran Hadits:

Hadits ini merupakan dalil tentang kewajiban mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dan anjuran untuk bersikap qana’ah. Dan untuk menumbuhkan sikap qana’ah hendaknya memandang kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia. Karena bagaimanapun faqirnya seorang hamba, pasti akan menemukan orang yang lebih faqir darinya. Bagaimanapun sakitnya seseorang, akan menemukan orang yang penyakitnya lebih parah. 

Demikian pula jika ia melihat pada kekurangan fisiknya, tetap akan menemukan orang yang  lebih memiliki kekurangan. Sehingga ketika  memandang kepada dirinya dan menemukan kesehatan fisik, akan ingat kepada Allah lalu bersyukur kepada-Nya serta mendapatkan ketenangan jiwa. Hal ini berbeda dengan  urusan ketaatan. Dalam urusan ketaatan hendaknya seseorang melihat kepada orang yang berada di atasnya serta menganggap dirnya sebagai orang yang memiliki banyak kekurangan dan kelalaian.

(Diterjemahkan oleh Syamsuddin Al-Munawiy dari Kitab Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 586, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)



Selasa, 03 Maret 2015

Ketua Wahdah: Belajar Al-Qur’an Itu Mudah

Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI), Ustad Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa belajar Al-Qur’an itu mudah. Ustad Zaitun mengatakan hal itu pada Grand Opening Islamic Book Fair (IBF) 2015 di Istana Olahraga Gelora Bung Karno (Istora GBK) Senayan Jakarta, pada Jum’at (27/02). Beliau mendasarkan pernyataan hal tersebut pada beberapa ayat Al-Qur’an, diantaranya suarah Al-Qomar; “Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk dipahami, maka siapakah yang mau mempelajarinya”.

 “Allah ‘Azza wa Jalla telah menegaskan dalam Al-Qur’an secara tersurat bahwa Al-Qur’an dimudahkan untuk dipelajari. Tidak tanggung-tanggung disebutkan dalam 4 ayat secara berulang-ulang dengan lafazh yang sama dalam satu surah; yaitu pada surah al-Qamar ayat 17,22,32 dan 40”, jelas Wakil Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini.

Menurutnya kemudahan belajar Al-Qur’an mencakup mempelajari cara bacanya, menghafal, dan memahami maknanya. “Dalam hal mempelajari itu kita bisa mengangkat unsur yang paling penting, yaitu: mempelajari bacaannya (cara membacanya), menghafalkannya dan mempelajari makna-maknanya”, terang ketua Ikatan Ulama & Da’i Asia Tenggara ini.

Ustad juga memperkuat pernyataannya dengan bukti konkrit, yakni adanya orang-orang non Arab yang mampu membaca al-Qur’an pada usia belia atau dalam waktu yang cepat.  “Ini telah terbukti sepanjang zaman di seluruh belahan bumi bagi mereka yang bukan Arab. Cukup menjadi bukti bahwa ratusan juta ummat Islam non Arab dapat membaca Al-Qur’an dengan baik (fasih) sama seperti orang  Arab bahkan banyak diantara mereka lebih baik bacaannya dari orang Arab”, paparnya di hadapan ribuan peserta pembukaan pameran buku Islami terbesar Asia Tenggara tersebut. (sym)



Rabu, 31 Desember 2014

Kebaikan Itu Adalah Akhlaq Yang Baik

 Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, beliau berakata, aku bertanya kepadan Nabi shallallahu ‘aihi wa sallam tentang al-birr (kebaikan) dan itsm (dosa). Beliau bersabda;

البر حسن الخلق , و الإثم ما حاك في صدرك و كرهت أن يطلع عليه الناس

“Kebaikan itu akhlaq yang baik, sedangkan dosa dalah apa yang berkecamuk dalam dadamu dan engkau tidak suka diketahui oleh manusia” (HR. Muslim).

Pelajaran Hadits:
1. Anjuran terhadap husnul khuluq (akhlaq yang baik). Husnul khuluq dapat berupa wajah yang berseri ketika bertemu, menahan diri dari mengganggu orang lain, dan bersabar menahan gangguan, mempersembahkan kebikan, serta berhias diri dengan adab islami. Akhlaq ada yang berupa gharizah dan ada pula mukatasab (diusahakan).
2. Anjuran meninggalkan sesuatu yang meragukan kebolehannya, dan Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang kemampuan untuk mengenali keburukan tersebut. 

(Diterjemahkan oleh Syamsuddin Al-Munawiy dari Kitab Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 586-587, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Selasa, 30 Desember 2014

Himbauan Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP-WI)


Alhamdulillah alaa kulli haal, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan dan kondisi. Shalawat dan salam atas Rasulullah ,keluarga ,para sahabat dan ummatnya yang tetap istiqamah di atas sunnahnya.
Bumi beserta segala isinya, langit yang tegak tanpa tiang, angin dan awan yg beriring, laut dan segala ombak dan gelombangnya, semua alam semesta ini sejatinya adalah makhluk dan ciptaan Allah Ta'alaa.  Semuanya tunduk dalam ketentuan dan perintah Allah Subhanahu wata'ala,

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." – (QS.57:1)

Sehubungan dengan banyaknya bencana yang terjadi akhir- akhir ini , berupa tanah longsor, banjir , kebakaran hingga kecelakaan pesawat terbang dan lain sebagainya, patut mengundang keprihatinan dan kesadaran kita untuk muhasabah dan memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa Allah subhanahu wata'ala.

Dan hari ini adalah hari terakhir bulan Desember 2014 M, dimana biasa kita saksikan pada malam pergantian tahun baru miladiyah dimana terjadi pesta pora dan penghamburan dana yang sangat luar biasa, bahkan tidak jarang menjadi ajang pelanggaran aturan agama dan moral.
Memperhatikan hal tersebut di atas maka sebagai wujud tanggung jawab dan keprihatinan atas situasi umat dan bangsa, Wahdah Islamiyah menghimbau seluruh komponen ummat dan bangsa  sebagai berikut:

1. Tidak melakukan perayaan tahun baru apalagi berpesta pora atau membuat ajang-ajang keramaian di tengah situasi dan suasana keprihatinan umat & bangsa saat ini.

2. Senantiasa berusaha menghindari segala macam bentuk pelanggaran agama dan moral termasuk pada malam pergantian tahun baru .

3. Kepada kaum muslimin patut diingatkan bahwa perayaan menyambut tahun baru ini tidak terlepas dari perayaan keagamaan bagi agama lain, maka hendaknya menjaga diri dan keluarga untuk tidak ikut- ikutan dalam kegiatan-kegiatan tersebut sekalipun dalam bentuk kegiatan keagamaan Islam yang diadakan diluar rumah.

Demikianlah kami menyampaikan himbauan ini dengan pehuh harap agar Allah Yang Maha Esa melindungi kita semua dari setiap marabahaya dan pelanggaran . 
Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Jakarta 9 Rabiul Awal 1436 H/31 Desember 2014
Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (WI)
Muh. Zaitun Rasmin, Lc., MA

(Pimpinan Umum)


Kamis, 04 Desember 2014

Jika Bertiga, Yang Dua Jangan Berbisik Tanpa Melibatkan Yang Ketiga


عن ابن مسعود رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ "إذَا كُنتُم ثلاثة فلا يتناجى اثنان دون الآخر  حتى تختلطوا با لناس مِن أجلِ أنّ ذلك يحزنه" . متفق عليه واللفظ لِمُسلِمٍ 
Ibnu Ma’sud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian bertiga, maka yang dua orang jangan berbisik-bisik tanpa meneyertakan yang ketiga, hingga kalian berkumpul dengan orang banyak. Karena hal itu dapat membuatnya bersedih”. (Muttafaq ‘alaihi, dan ini merupakan lafadz Imam Muslim).

ما يستفاد من الحديث:
Pelajaran dari Hadits:
1-  الحديث دليل على النهي عن تناجي الإثنين إذا كان معهما ثالث في السفر وغيره, لأنه يحدث القلق والحزن في قلب الثالث ويظنّ أنه ليس بأهل السر أو الخوض فيه.

1.      Hadits ini adalah dalil tentang larangan berbisik bagi dua orang jika ada orang ketiga, baik saat safar (perjalanan) atau yang lainnya. Karena hal itu dapat menimbulkan perasaan gelisah dan sedih pada orang yang tidak dilibakan dalam pembicaraan. Sebab ia menyangka bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan dan ia tidak pantas ikut serta di dalamnya.

2- وإذاكانوا أربعة فأكثر فلا بأس من التناجي والتسار بين اثنين منهم لفقد علة النهي, ويدخل فيه التكلم بلغة لا يحسنها الثالث أولا يفهمها
2.       Jika berempat atau lebih, maka tidak mengapa dua orang berbisik atau berbicara secara sirr (lirih) karena illat (sebab) larangan telah hilang. Termasuk dalam larangan ini adalah berbicara dengan bahasa yang tidak diketahui atau tidak dipahami oleh pihak ketiga.

(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 587, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India, Tarjamah: Syamsuddin Al-Munawiy)


Kamis, 22 Mei 2014

Himbauan Pimpinan Umum WAHDAH ISLAMIYAH Kepada Anggota Wahdah dan Ummat Islam Secara Umum Tentang PILPRES 2014

Himbauan Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah Kepada Anggota Wahdah dan Ummat Islam Secara Umum tentang Pilpres 2014:
1. Kiranya tidak membuat atau ikut menyebarkan isu dan informasi negatif tentang  Capres/Cawapres 2014 melalui SMS, Whatsap dan media apapun. Sebab bisa menjadi ghibah dan fitnah, serta dapat menjadi bumerang bagi persatuan ummat & bangsa.
2. Diharapkan kepada seluruh ummat Islam yang peduli terhadap kemaslahatan ummat dan bangsa agar berupaya dengan sungguh-sungguh ikut memilih capres yang diyakini lebih berpihak pada kepentingan ummat dan keselamatan bangsa.
3. Banyak beristighfar dan berdo’a demi hasil Pilpres yang membawa pada keselamatan serta kejayaan ummat dan bangsa Indonesia.
4. Kiranya KPU dan BAWASLU, pemerintah, para Capres/Cawapres beserta seluruh pendukungnya, benar-benar maksimal dalam usaha menjadikan Pilpres ini berlangsung secara jujur dan adil.

Salam Hormat
Muhammad Zaitun Rasmin

Senin, 05 Mei 2014

Sucikan Hati Wujudkan Persatuan Umat

Persatuan umat (wihdatul-ummah) bukanlah tema atau kajian baru yang diangkat dalam berbagai majelis, media ilmu ataupun informasi walaupun metode wihdah yang dikaji dan uslub penyampaiannya kepada publik berbeda-beda antara satu kelompok/ormas dengan yang lainnya. Sayangnya, seruan tentang tema ini tidak banyak menarik simpati para inidvidu dan banyak kelompok muslim baik yang tergabung dalam ormas ataupun majelis ta’lim tertentu. Seorang muslim yang masih memiliki kepedulian terhadap agama dan kejayaan islam,pasti akan terus dipenuhi tanda tanya tentang faktor dibalik lemahnya umat ini dengan semua komponennya dalam meraih panji persatuan.

Perlu diketahui bahwa persatuan yang diinginkan Islam bukanlah menyatukan langkah untuk menyamakan seluruh pendapat dan ijtihad fiqh, hukum ataupun permasalahan kontemporer tertentu sebab ini sesuatu yang hampir mustahil diwujudkan. Namun ia sebuah langkah menyatukan kalimat dan langkah diatas fondasi aqidah yang shahih, demi menegakkan kalimat Allah dan meraih kejayaan umat (tamkiinul-ummah). Allah ta’ala berfirman :“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (Terj. QS Ali Imran ; 103).

Problem dan kesulitan yang dihadapi umat ini sangatlah besar dan beragam, yang mengharuskan adanya arah pandangan dan argumen yang banyak pula dalam mencari solusinya, ini butuh keseriusan dan ijtihad para ulama dalam menanganinya. Sebab itu, merupakan hal yang lazim, jika dalam perkara ini terdapat ikhtilaf /perbedaan pendapat, akan tetapi merupakan kekeliruan besar jika pendirian kita adalah memusuhi dan tidak menghargai orang-orang yang menyelisihi kita walaupun argumen mereka juga memiliki arah pandangan dan dalil yang kuat. Contoh nyata dalam hal ini adalah masalah boleh tidaknya mencoblos dalam pemilu yang baru saja diselenggarakan. Kita seharusnya bersikap dewasa dan saling menghargai argumen masing-masing dalam masalah seperti ini, tanpa harus meremukkan kaca persatuan yang awalnya memang telah retak.
Lalu apa hubungan antara hati dan persatuan umat ??

Jika mencermati berbagai kajian wihdatul-ummah ini, anda akan mendapati bahwa banyak diantaranya sama sekali tidak mengaitkannya dengan amalan hati.Padahal, hakikat persatuan dan wihdah adalah wihdatul-qulub (persatuan hati), bukan persatuan lahir sebab betapa banyak individu       muslim tergabung dalam suatu kelompok atau amalan tertentu namun hati mereka tidak saling sinergi sehingga rentan berpecahbelah. Paginya masih saling menghargai bahkan saling memuji dan menyanjung, di sore harinya sanjungan tersebut berubah menjadi celaan dan tahdziran walaupun hanya karena perbedaan pendapat dalam satu masalah tertentu.

Hati sangat berperan dalam penyatuan kalimat dan langkah umat ini, bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat sering memperingati para sahabatnya agar selalu menjaga persatuan hati, diantaranya nasehat beliau ketika hendak shalat; “Luruskan (shaf), dan jangan bengkokan (shaf), sehingga hati kalian akan berselisih”. (terj. HR Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa   merapatkan dan meluruskan shaf bukan hanya sekedar perintah, namun lebih dari itu memiliki hikmah besar yaitu agar tetap mengekalkan adanya persatuan.

Kriteria Hati Yang Mudah Membangun Persatuan Ummat

1.Hati yang memahami aqidah dengan benar.
Banyak umat Islam yang tidak memahami aqidah yang benar, baik dari kalangan awam, maupaun terpelajar. Bahkan tidak sedikit dari mereka terpengaruh dengan banyak praktek/keyakinan syirik, Syiah, ataupun pemikiran sesat seperti liberalisme, sekulerisme, pluralisme. Tentunya sebagian mereka tidak hanya enggan untuk menyatukan kalimat Islam, namun bahkan terang-terangan menentang setiap agenda persatuan umat.

Solusi dari fenomena ini adalah menggencarkan gerakan dakwah dan, tashfiyah (pemurnian aqidah) secara luas dan dengan metode yang benar lagi hikmah. Dakwah yang tidak hanya monoton terkungkung antara mihrab dan dinding-dinding masjid, atau hanya terbatas pada majelis ta’lim dan bangku belajar, namun dakwah yang bisa merasuk dan menyebar kesemua lapisan masyarakat baik lewat program dakwah intensif, sosial, pendidikan, kesehatan dll sebab aktifitas dakwah seperti ini terorganisir dengan baik dan sangat mudah diterima masyarakat, selanjutnya aqidah dan pemahaman islam mereka bisa diluruskan, dengannya kesatuan kalimatpun bisa ditegakkan.

2.Hati yang suci dari berbagai penyakit hati.
  
Hati yang kedua ini, hampir sama dengan poin pertama, namun ia lebih mengarah pada sisi ibadah qalbiyah. Atau sering disebut dengan al-qalbussalim (hati yang sehat) yaitu suci dari berbagai penyakit hati.

Penyakit hati ini merupakan salah satu penghalang utama dari adanya penyatuan kalimat diantara barisan ahli sunnah saat ini. Diantara faktor menjamurnya penyakit ini adalah kurangnya pemahaman aqidah, ilmu ataupun ibadah dan tarbiyah dzatiyah (pembinaan diri). Ia tidak hanya menjangkiti masyarakat awam,namun ironisnya juga menjangkiti sebagian dai bahkan yang bergelar ulama sekalipun.

Sebagian muslim juga kadang mempelajari Islam dan memahami aqidah secara umum dengan benar, namun implementasinya   masih sangat perlu pembinaan. Aqidah, hendaknya bisa memberikan warna berbeda dalam hati, melembutkan dan menghiasinya dengan berbagai amalan hati; khusyu’, tawakkal, sabar, inshof, akhlak hati dan lainnya. Ini bisa terwujud jika pola dan metode pembelajaran dan penanaman aqidah islam terwujud dengan baik. Realitanya, kadang hal ini tidak terwujud sebagaimana mestinya, sehingga metode/cara pengkajian aqidah ini hanya bisa menambah kerasnya hati atau bahkan menimbulkan banyak penyakit hati misalnya; dengki, cemburu, merasa paling benar, dll yang selanjutnya bisa berujung pada keengganan untuk bekerjasama dan bersatu dalam amal dakwah.

Diantara metode yang salah dan fatal tersebut adalah mengawali penanaman aqidah dengan pengenalan firqah (sekte sesat) dan metode debat. Kita yakin, bahwa metode ini bisa saja memudahkan pemahaman aqidah, namun tidak dipungkiri, kemungkinannya akan melahirkan kader yang gemar debat ,mudah memvonis dan keras hati. Jika tiga sifat ini terkumpul dalam hati seorang hamba, maka hampir mustahil bisa ikut serta dalam kafilah persatuan umat.

Jenis hati sehatlah yang akan menjadi tonggak dan memiliki andil besar dalam persatuan umat dengan keikhlasan, hikmah,kelapangdadaan, inshof,husnudzon,dan pengorbanannya.   Jika semua muslim memiliki hati yang sehat, atau seluruh pengusung dakwah bisa mensucikan hati, niscaya penyatuan kalimat ini akan tercapai dengan cepat dan mudah. Akan tetapi perselisihan hati (baca ; penyakit hatilah) yang merusaknya, akhirnya bencana perpecahan dan kelemahan yang diperingatkan Allah pun terjadi :“… dan janganlah kamu berbantah-bantahan (berselisih), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (terj. QS. Al Anfal : 46)

Ayat ini tidak hanya mengandung nilai persatuan, namun juga mengikrarkan bahwa sifat orang-orang bersatu adalah sabar dan lapangdada, lalu bagaimana bisa orang yang tidak punya sifat sabar, lapangdada (baca ; berpenyakit hati) bisa ikut serta dalam menyatukan kalimat islam ?!

Solusi utama dari penyakit hati ini adalah tarbiyah dzatiyah (pembinaan diri) dan tazkiyatunnafs (penyucian hati) dengan banyak beribadah, zikir, dan menjauhi perkara haram. Dengannya hati akan sehat: “Ketahuilah bahwa pada jasad terdapat segumpal daging,jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya,jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya,ketahuilah itu adalah hati” (terj. HR Bukhari dan Muslim).

Dengan dua jenis hati inilah, para sahabat dan tabiin meraih kekuatan iman, mengokohkan persatuan, mencapai kejayaan, dan membuat gentar musuh mereka. Akhir kata,marilah menata hati ,dengan aqidah dan tazkiyatunnafs, karena hanya dengan keduanya hati umat ini bisa bersinergi dan menyatukan langkah dan misi. Allahu a’lam. (Buletin Al Fikrah/http://stiba.net)