Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Islam Melindungi Kehidupan Wanita

Dari Nafi’ diceritakan bahwasanya Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu. memberitahunya, “Bahwa ada seorang wanita yang ditemukan tewas di dalam suatu peperangan yang diikuti oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah memprotes pembunuhan wanita dan anak-anak.”
(HR. Bukhari).

Penjelasan Hadits:

Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sangat menghormati kehidupan wanita, sekalipun ia kafir atau musuh, selama tidak memerangi kaum muslimin.

Hadis ini juga bisa menjadi indikasi lain yang menunjukkan kasih sayang dan belas kasih Islam terhadap kaum wanita, termasuk wanita non muslimah. Sementara di pihak lain, kita menemukan banyak sekali kasus pembunuhan wanita muslimah oleh musuh-musuh Allah dari kalangan kafir dan musyrik sepanjang sejarah hingga kini. Di antaranya adalah pembantaian dan pemerkosaan terhadap wanita-wanita muslimah di Bosnia-Herzegovina. Juga serangan udara yang dilancarkan oleh militer Yahudi (Israel) terhadap wilayah Palestina yang membunuh para wanita dan anak-anak.

Kaum wanita akan merasa aman ketika menerima konsep Islam yang memerintahkan untuk melindungi wanita ini. Konsep itu bahkan berlaku ketika para lelaki menjadikan kaum wanita mereka sebagai perlindungan dari serangan pasukan Islam. Karena Imam Malik dan Auza’i mengatakan, “Tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak dalam kondisi apa pun. Termasuk ketika pasukan musuh menjadikan wanita dan anak-anak sebagai perisai hidup, atau mereka bertahan di sebuah benteng atau kapal dengan menyertakan wanita dan anak-anak bersama mereka, maka mereka tidak boleh ditembak ataupun dibakar.”

Tidakkah setelah ini seorang wanita non muslimah akan berbangga kepada golongannya, bahwa mereka telah menjadi faktor yang berhasil melindungi dan menjaga mereka? Dan tidakkah -pada saat yang sama- ia juga merasa bahwa apabila Islam memelihara dan melindungi hidupnya, padahal ia non muslimah, maka Islam tentu akan lebih besar perhatiannya dalam memelihara dan melindungi hidupnya, bilamana ia menjadi seorang muslimah?!

Adakah pembebasan wanita yang lebih hebat dari ini? Sebuah perlindungan bagi hidup wanita bahkan ketika kaumnya sedang berperang dengan orang Islam?!

Akan tetapi ada sebuah pertanyaan yang terlintas? Apakah perlindungan bagi hidup wanita ini masih berlaku ketika yang bersangkutan memanggul senjata dan memerangi kaum muslimin?

Abu Daud meriwayatkan dari Ikrimah, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang wanita terbunuh di Thaif, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Bukankah aku sudah melarang membunuh wanita? Siapa pelakunya?” Lantas ada seorang lelaki yang mengatakan, `Aku, Ya Rasulullah. Aku membonceng wanita itu, lalu ia hendak menyerang dan membunuhku, sehingga aku pun membunuhnya.’ Kemudian beliau memerintahkan agar wanita itu dikubur.”

Sementara Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Hadis Riyah bin Rabi’ At-Taimiy, dia berkata, “Adalah kami bersama Rasulullah dalam sebuah peperangan. Lalu beliau melihat orang-orang berkumpul dan beliau juga melihat seorang wanita terbunuh. Kemudian beliau bersabda, “Tidak semestinya wanita ini ikut berperang.”

Mafhum (yang dapat difahami) dari Hadis ini ialah apabila wanita itu ikut berperang, maka ia boleh dibunuh.

Kendati wanita yang ikut berperang boleh dibunuh, Namun Ibnu Habib -salah seorang tokoh madzhab Maliki- mengatakan, “Apabila wanita itu ikut berperang, maka kita tidak boleh secara sengaja membunuhnya, kecuali jika ia secara langsung membidik kita.”

Inilah Islam yang oleh banyak kalangan diupayakan untuk ditampilkan dengan wajah keras, teroris, dan berlumuran darah. Padahal, Islam sangat memperhatikan kepentingan wanita dan melindungi hidupnya, apa pun keyakinannya. Bahkan ketika ia berada di tengah-tengah kaum yang memerangi kaum muslimin, selama ia tidak secara sengaja mencoba membunuh kaum muslimin.[]

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

Jumat, 27 Mei 2011

Adzab Neraka bagi Pembunuh Kucing, Bagaimana dengan Pembunuh Anaknya?

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, diceritakan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Ada seorang wanita yang diadzab dalam kasus seekor kucing; ia mengurungnya sampai mati, maka ia pun masuk Neraka karenanya. Ia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya. Dan ia pun tidak membiarkannya makan dan serangga-serangga bumi.” 
(HR. Bukhari)

Penjelasan Hadits:

Wanita yang melakukan hal itu pastilah berhati keras. Karena dia tak sekedar tidak memberi makan dan minum kepada si kucing, bahkan dia juga tidak memberinya kesempatan untuk mencari makanan dan serangga-serangga bumi. Hal itulah yang kemudian menjadi penyebab kematiannya.

Balasan bagi wanita yang keras hati itu adalah siksa di dunia dan adzab di Akhirat. Hal itu bisa kita pahami dari sabda Rasulullah yang menyatakan, “Ada seorang wanita yang diadzab dalam kasus seekor kucing; ia mengurungnya sampai mati” kemudian beliau menyatakan, “maka ia pun masuk Neraka karenanya.” ini berarti bahwa di sana ada siksa (hukuman) yang mendahului adzab yang dipersiapkan untuknya di Neraka Jahannam.

Barangkali hal ini bisa menjadi peringatan keras bagi orang yang menganggap jauh adanya siksa Neraka Jahannam atau bahkan sama sekali tidak menganggap keberadaannya. Akan tetapi apabila yang bersangkutan mengetahui adanya seorang wanita yang disiksa di dunia, lantaran ia pernah memperlakukan seekor kucing seperti apa yang dilakukan oleh wanita yang diceritakan di dalam Hadits tersebut, niscaya ia akan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran dan nasihat.

Dua kata kerja (Fi’il) yang terdapat di dalam Hadits tersebut; “diadzab” (‘udzdzibat) dan “masuk” (dakhalat) disampaikan dalam bentuk kata kerja lampau (madhi). ini dimaksudkan untuk menegaskan kepastian adanya adzab dan masuknya ke dalam Neraka. Ini juga semakin mengingatkan ancaman terhadap wanita yang keras hati, dan menghilangkan semua harapan untuk bisa selamat dan adzab dan api Neraka.

Hadis ini menegaskan bahwa wanita muslimah yang konsisten terhadap agamanya adalah sosok wanita yang penuh kasih sayang. Ia tidak memperlakukan hewan apa pun dengan keras, bagaimana mungkin ia akan memperlakukan putra-putrinya, suaminya, anak-anak tetangganya maupun yang bukan tetanggannya dengan keras?!

Bagaimana dengan wanita yang melemparkan tiga orang anaknya dari jendela, lalu si bungsu menemui ajalnya, sementara dua orang lainnya mengalami patah tulang dan luka berat?! Kenapa? Karena ia bertengkar hebat dengan suaminya dalam hal uang belanja, lalu suaminya memukulnya. Akibatnya, ia pun melemparkan anak-anaknya dari jendela!!

Bagaimana dengan wanita yang mencekik seorang bayi yang usianya tidak lebih dan tiga bulan?!! Penyebabnya ialah perseteruan tajam dengan tetangganya yang mengejeknya sebagai wanita mandul!!! (Koran As-Siyasah, Kuwait, edisi 9562)

Bagaimana dengan wanita dan sebelah timur kota London yang membuang putrinya yang berusia 14 bulan dari jendela apartemennya yang berada di lantai tiga, dan tak ayal bayi itu pun jatuh ke tanah menjadi bangkai berlumuran darah. Kemudian ia menggigit putranya yang berusia 2 tahun dan melemparkannya menyusul adiknya, dan tanpa ampun bocah itu pun jatuh ke tanah bermandikan darah?! (Koran Asy-Syarq Al Ausath, Saudi Arabia)

Bagaimana dengan wanita yang merencanakan pembunuhan terhadap putranya sendiri demi mendapatkan harta warisan darinya? Wanita itu memanfaatkan seseorang yang sedang membutuhkan uang untuk melakukan eksekusi tersebut?! (Koran A1-Anba &, Kuwait, edisi 8 April 1993M.)

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh wanita terhadap anaknya sendiri amat sangat banyak terjadi. Wanita semacam itu tidak bisa disebut sebagai “ibu’. Karena, ibu yang sejati tidak akan melakukan hal itu.

Setelah membaca paparan di atas, bagaimana mungkin seorang muslimah akan berfikir untuk membunuh anaknya sendiri, sementara dia mengetahui bahwa api Neraka tengah menunggu orang yang membunuh seekor kucing atau menjadi penyebab tewasnya seekor kucing?! Apatah lagi orang yang membunuh anaknya sendiri?!

Islam yang mereka tuduh kejam di dalam ketentuan hukum hudud-nya ternyata jauh lebih santun dibandingkan dengan undang-undang manapun yang mereka buat. Islam melindungi setiap hati yang hidup, berpesan untuk kebaikannya, dan memberikan ancaman hukuman ke pada siapa saja yang menyakitinya.[]

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.(www.wimakassar.org)

Rabu, 27 April 2011

Wanita Manakah yang Lebih Anda Kagumi?

Dari Khansa’ binti Khidam Al-Anshariyah diceritakan bahwa ayahnya pernah menikahkannya sewaktu dirinya menjanda, namun ia tidak menyukai hal itu. Kemudian ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menolak pernikahannya.”
(HR. Bukhari)


Penjelasan Hadits:
Imam Bukhari mendokumentasikan Hadits ini dengan judul Bab “Jika Seseorang Menikahkan Putrinya, Namun Ia Tidak Menyukainya, maka Pernikahannya Ditolak.” Dan di dalam komentarnya, Ibnu Hajar rahimahumullah, mengatakan, “Demikianlah beliau menyatakan hal itu secara mutlak (tidak terbatas), sehingga mencakup anak gadis maupun janda.” Kemudian dia menambahkan, “Pernikahan ditolak-apabila pengantin wanita seorang janda yang dinikahkan tanpa persetujuannya-menurut Ijma’ (kesepakatan). Artinya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ahli fiqih (fugaha’).

Di dalam riwayat lain dari jalur Abu Bakar bin Muhammad diceritakan, “Bahwasanya ada seorang pria dari kalangan Anshar menikahi Khansa’ binti Khidam. Lalu pria itu gugur di dalam Perang Uhud. Kemudian ayahnya menikahkannya dengan pria lain. Lalu ia mendatangi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan, Ayahku telah menikahkan aku. Sebenarnya paman anakku lebih aku sukai.” Riwayat ini menunjukkan bahwa ia memiliki anak dari suaminya yang pertama.

Pada riwayat yang kedua ini kita melihat bahwa Khansa’ tidak saja menolak pria pilihan ayahnya, namun ia bahkan menyatakan secara ekplisit siapa yang ia inginkan untuk menjadi suaminya dan menurutnya lebih baik untuk dirinya dan anaknya, yaitu adik mantan suaminya. la menyatakan, “Sebenarnya paman anakku lebih aku sukai.” Dengan statemen yang sangat tegas ini ia tidak ingin menyembunyikan perasaannya. Ia lebih memilih untuk mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan bahwa ia lebih cenderung kepada adik mantan suaminya.

Dengan aksi tersebut Khansa’ binti Khidam telah membantu wanita-wanita lainnya yang tidak suka dengan pilihan orang tuanya untuk mendeklarasikan penolakannya secara terbuka. Yakni menolak pria pilihan orang tuanya. Seperti yang diceritakan oleh Yahya bin Said dari Al-Qasim, “Bahwasanya ada seorang wanita dari (kaum) Ja’far yang merasa takut akan dinikahkan oleh walinya dengan pria yang tidak disukainya. Kemudian ia mengirim surat kepada dua orang Syaikh dari kalangan Anshar, yakni Abdurrahman bin Jariyah dan Majma’ bin Jariyah. Kedua Syaikh itu lantas mengatakan kepadanya, “Kamu tidak usah takut, karena Khansa’ binti Khidam pernah dinikahkan oleh ayahnya dengan pria yang tidak disukainya, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menolak (pernikahan) itu.

Demikianlah, kedua Syaikh dari kalangan Anshar itu menenangkan hati wanita tersebut, dan secara spontan memberikan landasan hukumnya. Yaitu penolakan Khansa’ terhadap sikap ayahnya yang menikahkannya dengan pria yang tidak disukainya, dan penolakan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam atas pernikahan tersebut karena tidak adanya persetujuan dari pihak wanita.

Ibnu Hajar Rahimahumullah memberikan informasi yang rinci tentang Hadits tersebut di atas dengan menyatakan bahwa wanita dari klan Ja’far tersebut ialah Ummu Ja’far binti Al-Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib. Sedangkan walinya ialah paman ayahnya, Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far. la menjadi janda dari suaminya yang bernama Hamzah bin Abdullah bin Zubair. Kemudian ia mengirim surat kepada Al-Qasim bin Muhammad dan Abdurrahman bin Yazid. Dalam suratnya, ia menyatakan, “Saya benar-benar merasa tidak aman bahwa Mu’awiyah akan meletakkan diriku di tangan laki-laki yang tidak aku setujui.” Lalu Abdurrahman mengatakan kepadanya, “Dia tidak berhak melakukan itu. Dan andaikata dia melakukannya, maka hal itu tidak dibenarkan.”

Wanita manakah yang lebih anda kagumi? Apakah Khansa’ yang mendatangi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berharap mendapatkan hak untuk menolak pilihan ayahnya dan hak untuk memilih sendiri orang yang akan menjadi suaminya? Ataukah Ummu Ja’far yang mengirim surat kepada dua orang Syaikh dari kalangan Anshar untuk mengungkapkan ketakutannya dan rasa tidak amannya bahwa walinya akan menikahkannya dengan orang yang tidak disetujuinya?

Mereka adalah wanita-wanita muslimah yang mengetahui bahwa Islam tidak akan merampas hak tersebut. Mereka memahami bahwa Islam memperhatikan kepentingan mereka dan menjaga perasaan mereka. Dan mereka juga menyadari bahwa Islam tidak akan memaksa mereka untuk menikah dengan orang yang tidak mereka kehendaki.

Dus, para orang tua dan para wali hendaknya tidak mencampuradukkan antara tradisi dan kebiasaan yang salah dengan syari’at agama yang toleran dan adil.

Minggu, 24 April 2011

Wanita Penghuni Surga

Dari Atho’ bin Abi Rabah, dia berkata, Ibnu Abbas pernah bertanya kepadaku, “Maukah aku perlihatkan kepadamu salah seorang wanita penghuni Surga?” ‘ Tentu,” jawabku. Dia pun berkata, “Wanita berkulit hitam ini pernah datang kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi), dan (ketika kambuh) aku membuka (auratku). Jadi, berdoalah kepada Allah agar aku bisa sembuh.” Beliau lantas bersabda, “Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan engkau berhak mendapatkan Surga. Dan jika engkau mau, aku bisa berdoa kepada Allah agar Dia berkenan menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku akan bersabar.” ‘ Tetapi, lanjutnya, (ketika kambuh) aku membuka (auratku). Jadi, berdoalah kepada Allah agar aku tidak membuka (auratku ketika kambuh).” Lalu beliau pun berdoa untuknya.”
(HR. Bukhari).

Penjelasan Hadits:

Betapa tingginya kedudukan yang bisa dicapai oleh cobaan yang ada di dalam Hadits ini. Penyakit ayan (epilepsi) diderita oleh wanita muslimah ini, sementara di hadapannya ada Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam yang sedang menawarkan kepadanya untuk berdoa memohonkan kesembuhannya atau menjanjikan Surga untuknya bilamana ia mau bersabar. Kemudian ia lebih suka memilih cobaan dari pada kesembuhan. Bukankah hal ini merupakan sebuah pelipur lara bagi setiap wanita yang menderita suatu penyakit, lalu dia mau bersabar, ridha, dan mengharap pahala dari Allah dengan harapan memperoleh balasan Surga?!

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam mendoakan wanita itu agar tidak membuka auratnya ketika kambuh. Dan sebenarnya beliau tidak menolak untuk mendoakan kesembuhannya, sementara wanita itu pun tahu bahwa doa beliau pasti dikabulkan. Akan tetapi, dia lebih suka memilih bersabar terhadap penyakitnya dari pada sembuh dari penyakit itu. Setelah mengetahui hal ini bagaimana mungkin seorang wanita merasa tersiksa dengan suatu penyakit atau cobaan lainnya? Tahukah balasan apakah yang menantinya bilamana dia mau bersabar dan rela terhadap cobaan itu?

“Maukah aku perlihatkan kepadamu salah seorang wanita penghuni Surga?” Ungkapan yang keluar dari Abdullah bin Abbas ini mengisyaratkan tiga hal:

1. Keyakinan bahwa wanita ini adalah salah satu penghuni Surga, karena adanya berita gembira yang disampaikan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.
2. Penghormatan kepada wanita itu, dan kekaguman kepada pilihannya. Hal itu tampak jelas pada ajakan yang ditawarkan oleh Ibnu Abbas kepada Atho’ bin Abi Rabah, “Maukah aku perlihatkan kepadamu…”
3. Respon positif yang langsung diberikan oleh Atho’ dan persetujuannya untuk melihat wanita itu dengan mengatakan, “Tentu” mengisyaratkan pentingnya ajakan yang ditawarkan oleh Ibnu Abbas itu.

Kita tidak melewatkan keinginan kuat untuk menutup aurat yang terdapat di dalam permohonan yang diajukan oleh wanita itu kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau mendoakannya untuk tetap menutup auratnya. Sebab, dia selalu membuka auratnya ketika penyakit epilepsinya kambuh. Artinya, dia lebih memilih didoakan agar dia tetap menutup auratnya ketika penyakitnya kambuh daripada meminta didoakan untuk sembuh dari penyakit itu. Dan ini memberikan pelajaran berharga bagi wanita-wanita masa kini dan putri-putrinya yang suka membuka auratnya secara sadar. Mereka bahwa sangat berlebihan dalam membuka auratnya ketika berdandan. Mereka tidak takut sama sekali terhadap adzab dan siksa Allah.

Padahal Nabi pernah bersabda,

“Wanita-wanita itu tidak akan masuk Surga, dan bahkan tidak akan menemukan aroma Surga. Padahal aromanya bisa ditemukan dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Bandingkan antara wanita-wanita yang tidak mau bersabar terhadap penyakit yang mereka derita dengan wanita yang mau bersabar terhadap penyakit epilepsi yang dideritanya. Akankah mereka tahan terhadap api Neraka Jahannam? Adakah harapan Surga bagi mereka?

Ada satu pelajaran yang tersisa di dalam isyarat yang ditunjukkan oleh Ibnu Abbas ke arah wanita agung ini dengan ucapan, “wanita berkulit hitam ini”. Hal ini mengingatkan kita pada Hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, yang berbunyi,

“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk fisik dan harta benda kalian, tetapi Dia memandang hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Dus, jangan terpesona oleh kecantikan wajah dan kemolekan tubuh seorang gadis, bilamana amal perbuatannya tidak shalih. Jangan pernah mengandalkan keindahan fisik seorang wanita, bilamana hatinya tidak ikhlas kepada Allah.

Wanita yang berkulit hitam ini adalah salah satu penghuni Surga. Yaitu Surga yang akan membuatnya berada dalam kondisi fisik yang paling indah. Sedangkan wanita cantik yang suka berbuat maksiat di dunia jika tidak diterima taubatnya oleh Allah, maka Neraka akan membuat wajahnya hangus dan hitam legam.

Itulah beberapa pelajaran berharga yang bisa kita petik dari Hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Yaitu beberapa pelajaran yang bisa membuat wanita muslimah sabar dalam menghadapi setiap cobaan dan menerimanya dengan lapang dada, konsiaten dalam menutup aurat, membekali diri dengan keikhlas(an dan amal shalih, serta tidak mengandalkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya.

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid/http://wimakassar.org/wp/2011/02/26/wanita-penghuni-surga/

Sabtu, 23 April 2011

RA Kartini dan Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan Pluralisme

Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini.

TANGGAL 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya?

Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.

Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.

Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.

Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.

…Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini…

Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme.

Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ”

Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.

Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu.

…maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu...

Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.

Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara.

Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar.

Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry.

Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini

Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lainya para humanis Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi.

Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini.

…Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi…

Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.

Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi:
”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).

”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna..." (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain” (Surat 31 Januari 1903).

”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).

”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).

”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).

…Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme…

Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme.

Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:

”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi." (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).

Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.” (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902).

Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini:

”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).

…Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat…

Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran.

Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme agama.

…Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung…

Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918).

Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme--atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme-- juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School.

Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi?

Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916).

Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat

…Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia

Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini.

Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis:

”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”

Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini:

”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan pemersatu”.

…Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional…

Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo.

Jadi, masih mengidolakan Kartini? [Artawijaya/voa-islam.com]

Maksiat Koq Bangga

Manusia memang tidak lepas dari salah dan lupa. Opsi terbaik saat kita khilaf adalah sesegera mungkin bertobat, bersungguh-sungguh menyesali dosa kita, tidak mengulanginya lagi dan banyak beramal saleh dengan harapan agar amal saleh tersebut dapat menghapus dosa yang pernah kita perbuat.

But, the problem is, kadangkala, ada seseorang yang dengan bangganya menceritakan kelamnya masa lalu atau aib yang pernah ia lakukan.

Mungkin kita pernah mendengar seseorang bercerita–dengan santai dan cekakak-cekikik- tentang list aib-aibnya, seperti kalimat di bawah ini:

“Saya pernah pacaran dengan si A dan si B lho, bla… bla… bla”. “Gue dulu suka minum miras, merk A dan merk B mah sudah jadi langganan Gue…”

Hei… bukankah pacaran dan mabuk miras itu dosa? Lantas kenapa mesti diceritakan dengan penuh kebanggaan? Bukankah dosa-dosa itu semestinya disimpan rapat, tak usah ada yang tahu. Jika perlu, simpan dosa-dosamu dalam brankas dan buang ke laut. Aneh bukan, bermaksiat koq bangga.

Ada aturan yang mesti kita pahami, bahwa dosa adalah hal yang memalukan jadi tak perlu ada “press conference”. Segatal apapun mulut kita ingin mengumbar dosa masa lalu, it’s enough, tidak layak kita ceritakan pada orang lain.

Banyak fakta menunjukkan si fulan melakukan dosa karena terinspirasi dosa orang lain, biasanya anak-anak kos yang gemar berbagi pengalaman. Misalnya, si A suka cerita pada si B tentang betapa serunya berpacaran, enaknya nyabu, dll dan lama-lama si B juga ingin mencoba pacaran dan nyabu, nah lho?

Tanpa kita sadari kita telah menjerumuskan orang lain ke jurang dosa gara-gara kita hiasi cerita dosa kita dengan kata-kata nan indah, sehingga bermaksiat jadi terlihat keren bin seru, naudzubillahi min dzalik.

Bila kita pernah khilaf, boleh saja kita menceritakannya. Tapi harus pada orang yang berkompeten, misal pada ustaz atau psikolog, semua dalam rangka mencari satu hal yakni solusi, sekali lagi solusi.

Jika kita telah bertobat, maka simpanlah kisah kelammu baik-baik, jika engkau ingin berbagi cerita bahwa engkau pernah salah dan agar orang lain mengambil ibroh (hikmah) dari ceritamu, maka ceritakan secara umum atau garis besarnya saja tanpa harus deti.

Misalnya, ”Saya juga pernah tergelincir, tapi Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan saya”, that’s all. Jika ada teman yang iseng bertanya tentang masa lalumu seperti kalimat ini “Idih, gimana ceritamu sama si A mantanmu dulu, masih ingat nda?”, tak usahlah diperpanjang, cukup katakan “Itu masa lalu kawan, aku telah bertobat dan telah membuka lembaran baru”.

Cukuplah hadis dari Abu Hurairoh bahwa Rasululloh bersabda:

“Semua ummatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali Mujahirin (orang yang memberitahukan kemaksiatannya pada orang lain). Dan sesungguhnya termasuk Al-majanah bila orang itu pada malam hari berbuat kejahatan, kemudian pada waktu paginya dia berkata, 'Wahai fulan, tadi malam aku berbuat demikian dan demikian' padahal malam harinya Robb-nya telah menutupi (aibnya tersebut), namun pagi hari dia sendiri yang membuka apa yang telah ditutup oleh Alloh," (HR.Bukhori 5/3254).

Bila Allah telah menutupi aib kita, maka tak perlu kita memberitahukan pada orang-orang. Bukankah malu adalah sebagian dari tanda orang beriman? So the points are; bertobatlah dahulu saat kita tahu bahwa kita berdosa, ceritakan saja kesalahan kita pada orang yang mumpuni agar kita mendapat bimbingan untuk menapaki jalan hidup yang lebih baik dan jika kita “sekedar” cerita pada orang lain tentang aib kita dan tidak akan ada manfaat bagi yang mendengarnya, tampaknya kita lebih baik diam.

Berkatalah yang baik atau diam. Jangan sampai ada yang mencontoh dosa kita hanya karena kita telah bercerita pada orang yang salah dan dengan cara yang salah pula.

Bermaksiat di masa lalu? Usai sudah, jangan berbangga atas kemaksiatan kita, apalagi jika kita telah bertaubat dan Allah telah menutupi aib kita dari orang-orang sedunia.
(Dian di Ambon/www.eramuslim.com).