Sabtu, 04 Desember 2010

AGAR TIDAK SEKEDAR TOPENG


Namanya suku badui. Sebuah komunitas yang mendiami gurun pasir dan pedalaman di semenanjung Arabiyah. Sejak dulu hingga hari ini. Kebanyakan mereka, utamanya yang hidup di gurun, hidup tidak menetap. Berpindah mencari tempat kondusif bagi ternak gembalaannya. Demikianlah, hingga alam berandil membentuk tabiat mereka. Keras dan tak kenal basa-basi. Atau, kalau istilah sederhananya, kurang beradab.

Walau demikian, mereka juga memiliki sifat-sifat mulia yang jauh mengungguli komunitas manapun. Memuliakan tamu, kejujuran, keberanian, serta prinsip hidup apa adanya dan tidak mengenal topeng kepalsuan. Itu sebabnya, dulu, biasanya bangsa Arab kota yang tinggal di Mekkah mengirim anak-anak mereka ke kampung-kampung badui, dan tinggal dalam asuhan seorang ibu angkat. Di sana mereka mendalami bahasa Arab fushha (yang benar) serta hal-hal yang berkaitan dengan hakikat hidup.

Prinsip apa adanya dan jauh dari topeng kepura-puraan… Yah, ini salah satu sifat luhur mereka yang lahir dari kepolosan jiwa. Kendati dalam pandangan orang mereka kurang beradab. Namun di sisi lain, ia adalah manifestasi kejujuran hati. Makanya, Nabi SAW tidak pernah marah terhadap perlakuan mereka. Disebutkan dalam sebuah riwayat, seorang Arab badui datang dan menarik selempang Nabi hingga menggoret bekas di leher beliau. Tanpa basa-basi, ia meminta harta zakat. Nabi tersenyum, lalu memerintahkan seorang sahabat menunaikan kebutuhannya. Ini karena beliau paham benar tabiat mereka. Polos dan tanpa topeng kepura-puraan.

Intinya, bahwa mereka kaum badui itu, tidak pernah memaksa diri tampil berbeda. Apa yang mereka zahirkan, begitulah yang mereka yakini. Kendati tidak semua dibenarkan oleh syari’at dan ‘urf (kebiasaan). Dan kami tidak hendak mengajak anda berprilaku serupa badui-badui itu. Sama sekali tidak. Prilaku beradab dan santun yang ditopang oleh jiwa yang tulus, merupakan perkara yang wajib diupayakan. Karena ia adalah seruan seluruh ajaran samawi.

Lantas bagaimana dengan kita…?! Justru dalam hidup ini kita banyak menggunakan topeng untuk menutupi identitas jiwa kita. Ibaratnya, seperti pagelaran topeng di atas pentas. Saking banyaknya topeng itu, kadang kita tidak lagi mengenal diri kita sendiri. Kita memakai topeng kebijaksanaan, padahal hati kita kerdil. Kita mengenakan topeng keshalihan sementara jiwa kita beku. Lalu kita sibuk menyitari diri di balik topeng-topeng itu, sementara terhadap tatapan sang Khalik kita lengah. Duhai, adakah kita yang tersindir oleh firman Allah Ta'ala: “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah mengetahui mereka…”. (Qs. An-Nisaa:108).

Begitulah... Namanya juga topeng. Dan hakikat sebuah topeng itu adalah menutupi keadaan sebenarnya. Hmm, sesuatu yang menggelitik tanya, entahlah, apa ada ya, orang yang memakai topeng keburukan untuk menutupi hatinya yang bersih?! Kalau pengakuan sih banyak. “Biar tampil kayak begini (seksi), yang penting kan hatinya…”, begitu kira-kira yang sering kita dengar. Wallahu a’lam. Sepengetahuan kami, kebanyakan, topeng itu selalu dikonotasikan untuk menutupi keburukan. Karena tabiat manusia itu suka tampil menawan. Jadi kalau ada yang tetap nekat memakai topeng keburukan, yah, seperti itulah kita menilai. Adapun urusan hatinya, kita serahkan saja pada Yang di Atas.

Ah, aku juga tidak mengerti, apakah terjadi secara kebetulan atau tidak. Katanya, "kepribadian" dalam bahasa Inggris itu disebut personality. Akar kata dari bahasa latin, yakni persona yang bermakna topeng. Apa memang, bahwa kepribadian itu identik dengan topeng?! Semoga saja tidak. Sebab masih banyak orang-orang yang memiliki kepribadian mulia. Lahir dan hati mereka tetap seiring sejalan.

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memandang pada tubuh-tubuh kalian, dan tidak pula wajah-wajah kalian. Akan tetapi, Dia melihat pada hati dan amal kalian”. (HR. Muslim). Iya, sebab wajah dan tubuh manusia itu kadang hanya sebuah topeng. Jauh dari hakikat sebenarnya dan berseberangan dengan apa yang tersimpan dalam dasar hati. Sedang inti dari sabda nabi ini, adalah ajakan berlaku ikhlas serta menyelaraskan antara apa yang lahir dengan sesuatu yang tersembunyi dalam jiwa.

Jangan sampai zahir diri menyelisihi hakikat jiwa. Atau, amal kita mendustai niat hati. Duhai, celakanya amal shalih itu jika ternyata hanya sebuah topeng. Makanya seorang sahabat, Mu’awiyah bin Abi Sofyan ra sampai jatuh pingsan kala mendengar hadits tentang tiga orang yang pertama dihisab pada hari kiamat kelak, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim... Mereka adalah seorang yang dinilai mati syahid, seorang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya, serta seorang dermawan. Ketiganya dihadapkan kepada Allah, lalu masing-masing diingatkan akan nikmat-nikmat Allah atas mereka. Allah pun bertanya: “Apa yang kalian lakukan untuk menyukuri nikmat-nikmat tersebut?”

Orang yang dinilai mati syahid berkata: “Aku berperang membela agamaMu hingga mati syahid”. Yang kedua menjawab: “Aku mempelajari al-Quran, mengajarkan pada manusia, dan membacanya karena-Mu”. Sang dermawan tak mau ketinggalan: “Tiap aku mendapat jalan kebaikan yang Engkau senangi agar aku nafkahkan hartaku, aku segera infakkannya karena-Mu”.

Allah Ta’ala pun menimpali: “Kalian dusta. Engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani. Sedang engkau mempelajari al-Qur’an agar dikatakan sebagai alim lalu membacanya supaya dibilang qori’. Adapun engkau, engkau berinfak agar supaya dikatakan sebagai dermawan. Dan masing-masing kalian telah mendapatkan pujian itu di dunia”. Lantas ketiganya diseret atas wajah mereka lalu diceburkan ke dalam neraka.

Wal’iyadzubillah… sangat disayangkan, amal-amal mereka itu ternyata hanya sebuah topeng untuk menutupi niat sesungguhnya. Padahal yang mereka lakukan bukan amal biasa. Tapi amal luar biasa yang zahirnya dapat melejitkan derajat pelakunya dalam surga. Olehnya, Ibnul ‘Arabi mewasiatkan: "Orang yang paling rugi, ialah yang menzahirkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat dari urat lehernya". (Syu’ab al-Iman, al-Baihaqi, no. 6987).

Aku sempat menyimak sebuah ungkapan sederhana namun menyentak dari seorang Didik Nini Towok dalam acara Talkshow Kick Andi beberapa waktu lalu: “Hidup ini adalah topeng. Semua kita memakai topeng. Hanya satu tempat dimana kita tidak lagi bertopeng…, di sana, di hadapan Sang Maha Kuasa”. Aku teringat firman Allah dalam al-Thariq ayat 8-9 : “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (sesudah mati). Pada hari seluruh rahasia akan dinampakkan”. Yah, semua akan tersibak. Tak ada lagi topeng-topeng kepalsuan

http://www.facebook.com/note.php?note_id=479814278500

Rappung Samuddin

Makassar, 4 Desember 2010

Awalnya penasaran,Akhirnya Ketagihan

Banyak pintu menuju maksiat, bertebaran pula para penjaja dosa yang mengumbar janji-janji kenikmatan. Tak hanya membuat betah para durjana untuk mengulangi dosa, tapi juga mengundang hasrat orang yang baru ngedrop iman tergiur untuk mencicipinya.

Awalnya Penasaran Lalu Coba-coba Pada dasarnya, manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah untuk menjadi hamba bagi Penciptanya dan tunduk dengan aturan-aturan-Nya, naluri untuk menghindar dari maksiat dan dosa. Lantas kapan manusia mulai ‘menikmati’ dosa? Masing-masing tentu memiliki pengalaman yang berbeda, baik dari sisi waktu, faktor pemicu, maupun jenis dosa yang pada gilirannya menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

Tak hanya oleh orang yang belum tahu, dosa tak jarang dilakukan oleh orang yang sudah mengerti hukum, juga paham tentang perkara yang dilarang oleh agama. Rasa penasaran lantaran belum pernah melakukan, sering menjadi awal dari dosa. Rasa penasaran itu bisa lahir dari bisikan nafsu yang terus ‘dikompori’ oleh setan, dan atau berpadu dengan banyaknya iming-iming dari luar. Penasaran seperti apa rasanya ‘ngefly’ oleh minuman khamr, lezatnya makan daging babi dan nikmatnya kemaksiatan lain seperti zina dan berjudi.

Sementara di luar, setan terus memberikan rangsangan. Menggambarkan kenikmatan dosa melalui gambar yang terpampang, film-film yang tertayang dan cerita-cerita yang tersebar. Hal ini semakin menguatkan nafsu orang untuk menjajalnya. Setanpun mulai memanfaatkan peluang. Dia berusaha menepis berbagai keraguan, menyingkirkan sensor-sensor keimanan yang masih tersisa di hati dan pikiran calon korbannya. Mungkin dengan memberi pengharapan masih adanya kesempatan untuk bertaubat, atau memberikan alibi yang terkesan masuk akal. Seperti ketika Adam penasaran terhadap pohon yang dilarang untuk didekati, maka Setan datang dengan membawa jawaban yang menyesatkan, meski sekilas tampak logis dan seakan ia berada pada pihak yang membela Adam,

“Dan Setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam Jannah)”. (QS. al-A’raaf 19)

Begitulah, setan akan mencarikan seribu alasan ‘logis’ agar manusia tak ragu untuk mencicipi dosa. “Mumpung masih muda, toh hanya sekali, masih ada waktu untuk taubat, tak ada orang yang tahu, yang penting niatnya baik, cukup diambil manfaatnya, jangan hanya melihat sisi buruknya…” dan seabrek polesan yang membuat akal tersihir dan hati menjadi terlena, hingga akhirnya manusia termakan oleh propaganda setan, nas’alullahal ‘aafiyah.

Terkadang setan memanfaatkan peluang kebosanan seseorang dalam menjalani aktivitas kehidupan. Sasarannya adalah mereka yang belum merasakan kenikmatan ibadah meski telah menjalankannya, atau orang yang tidak membenci dosa meskipun belum mencicipinya. Lalu setan datang untuk ‘menasihatinya’, “Kamu tidak merasakan nikmatnya ibadah karena jalan hidupmu datar-datar saja. Coba kalau kamu menjadi ahli maksiat terlebih dahulu, seperti si fulan atau fulanah, pasti setelah taubat kamu akan merasakan manisnya keimanan..!” Tampak logis, berpihak dan berlagak sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu tak lebih dari perangkap, yang seandainya seseorang masuk ke dalamnya, sulit baginya untuk keluar.

Tatkala dorongan nafsu semakin kuat, pengaruh akal melemah, sementara dalih juga telah disiapkan, mulailah seseorang untuk mencoba mencicipi dosa. Satu langkah setan telah diikuti, sulit bagi si korban untuk kembali kecuali yang dirahmati Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nuur 21)

Akhirnya Ketagihan Dosa

Sekali mencoba, pasti dia akan merasakan satu di antara dua rasa yang berbeda, meski follow up dari coba-coba ini akhirnya sama juga. Mungkin ia tidak merasakan nikmat sebagaimana yang dia bayangkan sebelumnya. Ini membuatnya makin penasaran, maka dia terdorong untuk mencoba kali kedua untuk meyakinkannya. Atau sekali coba dia langsung mendapatkan rasa yang diharapkannya, maka diapun tergila-gila dan ketagihan untuk mengulanginya.

Seperti awal mula orang yang hobi berjudi. Awalnya coba-coba, siapa tahu mendapat ‘keberuntungan’. Jika ternyata menang, maka akan dijadikan sumber penghasilan, jika kalah, maka semakin penasaran untuk mencoba berulang-ulang. Harta ludes pun belum tentu menjadi alasan untuk berhenti berjudi, dia akan terus mengejar angannya meski harus dengan berhutang atau bahkan mencuri.

Dusta juga begitu. Bohong yang pertama seakan menjadi bibit unggul bagi tumbuhnya kedustaan berikutnya. Karena untuk menutupi kedustaan pertama seseorang akan melakukan dusta yang kedua, ketiga, keempat dan begitu seterusnya.

Apalagi dosa zina. Tidak mudah orang berhenti dari perbuatan keji ini jika terlanjur mencobanya. Karena ketagihannya itulah, maka hukuman bagi pezina di akhirat sangat sesuai dengan karakter mereka di dunia. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menuturkan,

“Ketahuilah bahwa balasan itu berbanding lurus dengan perbuatan. Hati yang telah terpaut dengan sesuatu yang haram, setiap kali dia berhasrat untuk meninggalkan dan keluar darinya, pada akhirnya kembali ke dosa semula.

Begitu pula dengan balasan baginya di barzakh maupun di akhirat. Pada sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundub yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda,

‘Suatu malam aku bermimpi ada dua orang yang mendatangiku, lalu keduanya mengajakku keluar, maka akupun beranjak bersama keduanya. Ternyata aku melihat ada sebuah rumah yang dibangun seperti tungku, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas, sedangkan di bawahnya ada nyala api. Di dalam bangunan tersebut ada kaum laki-laki dan perempuan yang telanjang. Ketika api dinyalakan merekapun berusaha naik ke atas hingga hampir-hampir mereka keluar. Jika api redup merekapun kembali ke tempat semula. Sayapun bertanya: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah para pezina.”

Maka perhatikanlah kesesuaian hadits ini dengan kondisi hati para pezina di dunia. Setiap kali mereka berkeinginan untuk bertaubat dan berhenti darinya, serta keluar dari tungku syahwat menuju kesejukan taubat, ternyata kandas dan mereka kembali lagi padahal hampir saja mereka keluar darinya.”

Tak terkecuali dosa-dosa yang lain, pada dasarnya dosa adalah bibit bagi dosa berikutnya, baik dengan jenis yang sama atau bahkan melahirkan dosa-dosa baru yang berbeda jenisnya. Hingga ada kaidah yang populer di kalangan ulama,

إِنَّ مِنْ عَقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهاَ
“Sesungguhnya, di antara hukuman bagi keburukan adalah lahirnya keburukan berikutnya.”

Menjadi Pengikut Setan yang Setia

Seperti minum air laut, makin banyak minum akan terasa semakin haus. Begitulah gambaran orang yang kecanduan dosa setelah mencoba. tatkala kecenderungan terhadap dosa makin kuat mencengkeram, ketika itu ikatan ketaatan mulai longgar dan akhirnya pudar. Tak merasa bersalah saat menelantarkan kewajiban, merasa enjoy saat menjamah kemaksiatan. Intinya, dia telah menjadi pecinta dan pendukung kemaksiatan. Satu langkah setan lagi diikuti, makin sulit pula harapan dia untuk kembali ke jalan yang lurus.

Tinggal langkah terakhir, hampir-hampir dia sudah sejenis dengan setan, atau berbuat seperti yang diperbuat oleh setan. Ketika dia menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, lalu menghasung manusia kepada kemaksiatan dan menghalangi manusia dari ketaatan, maka dia telah memiliki karakter yang sama dengan setan, kafir dan menyeru kepada kekafiran, na’udzu billah.

Itulah siklus dosa yang boleh jadi tidak disadari, dari sekedar kecenderungan dan penasaran yang diikuti dengan coba-coba, akhirnya menumbuhkan kesenangan dan cinta dosa. Akhirnya, iapun berbuat seperti yang diperbuat oleh setan,

“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (QS al-An’am 113)

Maka, bersabar untuk tidak mencoba dosa, meskipun berat, itu lebih ringan daripada dia harus bersabar menghadapi beratnya dorongan nafsu setelah dosa pertama dijamahnya. Semoga Allah melindungi kita dari dosa. Amien.disalin dari www.arrisaah.net

Petaka di Balik Karuni

Melihat bencana merapi maupun tsunami, banyak yang menyimpulkan bahwa semua itu akibat dosa manusia. Ada pula yang mengatakan, itu karena dosa pemerintah yang dipenuhi pejabat korup. Kesimpulan semacam itu tidak salah karena umat terdahulu terkena bencana juga karena dosa. Tapi pertanyaannya, kalau memang bencana itu karena dosa oknum pejabat, lantas mengapa bukan mereka yang diadzab? Mengapa bencananya justru di Merapi dan mentawai yang sekian ratus kilo dari mereka?

Pertanyaan serupa juga akan muncul kalau kita melihat kehidupan orang-orang kafir. Kalau memang dosa mengundang bencana, mengapa orang-orang kafir justru tampak makin sukses dan sejahtera? Bukankah dengan segala kekufuran dan kemaksiatan yang mereka lakukan, mereka jauh lebih layak tertimpa bencana dibanding warga lereng merapi yang sebagian besar muslim?

Atau saat melihat para pengusaha yang makin cemerlang karir dan usahanya, padahal shalat, shaum dan membaca al Quran tak pernah ada dalam agenda harian mereka? atau para pelopor liberlisme yang merusak Islam luar dalam, mengapa mereka justru semakin terkenal dan dikagumi dimana-mana?

Kalau kita masih bingung dengan jawabannya, barangkali kita lupa atau lalai bahwa plot kehidupan manusia tidak selalunya persis seperti alur dalam kisah umat terdahulu; ‘Ad, Tsamud, Sodom, atau Ashabul Aikah. Berdosa, diperingatkan, membangkang lalu diadzab dan habis semuanya.

Dosa pasti ada balasannya, kecuali rahmat dan ampunan Allah menghapusnya. Tapi tidak semua dosa dibayar kontan seketika. Ada sebuah skenario dan makar dari Allah yang justru membiarkan para pendosa makin tenggelam dalam dosanya. Seperti balon yang terus ditiup agar semakin menggelembung lalu pecah dengan dahsyatnya. Itulah istidraj. Sebuah makar yang Allah timpakan atas hamba yang berpaling dari peringatan dengan cara membiarkannya berbuat dosa semaunya, memberi tenggat umur, membukakan pintu-pintu kenikmatan dunia berupa kesuksesan, limpahan rezeki bahkan diberikan tabir penutup atas kedurhakaanya. Sebuah makar yang secara perlahan tapi pasti, menyeret si pendosa menuju siksa yang melebihi segala rasa sakit yang ada di dunia.

Sebuah makar yang benar-benar mengerikan. Allah memberi petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki, dan membiarkan sesat siapapun yang dikehendaki. Sedang orang-orang yang dibuai dengan istidraj, seakan-akanAllah memang tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk.Bukankah rasa sayang anda akan membuat tangan menjewer telinga jika si kecil nekat melakukan tindakan berbahaya? bukan membiarkannya hingga si kecil pun celaka?

Adakah kita termasuk di dalamnya?

Untuk mengetahuinya, mudah saja. Kita simak riwayat shahih berikut ini:

DariUqbah bin amir, Rasulullah bersabda,

“إِذَارَأَيْتَاللَّهَتَعَالىيُعْطِيالْعَبْدَمِنَالدُّنْيَامَايُحِبُّوَهُوَمُقِيمٌعَلَىمَعَاصِيهِفَإِنَّمَاذَلِكَمِنْهُاسْتِدْرَاجٌ”،ثُمَّتَلاَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ: فَلَمَّانَسُوامَاذُكِّرُوابِهِفَتَحْنَاعَلَيْهِمْأَبْوَابَكُلِّشَيْءٍحَتَّىإِذَافَرِحُوابِمَاأُوتُواأَخَذْنَاهُمْبَغْتَةًفَإِذَاهُمْمُبْلِسُونَ

“Jika kamu melihat Allah terus saja memberi seorang hamba berbagai kenikmatan dunia yang disukainya, sedang hamba itu senantiasa bermaksiat kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya semua itu adalah istidraj dari Allah. Lalu Rasulullah membaca ayat:Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al An’am:44)

Ciri-ciri mustadrijin atau orang yang terjebak dalam istidraj adalah ketika nikmat terus saja menghujani, padahal maksiat tak pernah absen saban hari. “Kami kucuri mereka dengan nikmat dan kami buat mereka lupa bersyukur.” Kata Sufyan ats Tsauri. “Setiap kali melakukan kedurhakaan, kami tambah nikmat atas mereka dan kami lupakan mereka dari istighfar.” Kata Abu Rawaq.

Nikmat yang melimpah di atas dosa yang menggunung, akan menjadikan vonis di akhirat semakin berat. Sedang tenggang umur yang diberikan hanya akan memperpanjang daftar tuntutan dan mempersempit celah pembelaan.Wal iyadzub billah, semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Banyak yang terjebak

Meskipun al Quran dan sabda Rasul telah memberitahukan makar inidengan sangat jelas, tapi tetap saja banyak manusia yang terjebak. Sebab, kebanyakan manusia menganggap bahwa karunia dan nikmat duniawi adalah kemuliaan dari Allah, sedang ketiadaannya adalah petaka dan murka dari-Nya. Persis seperti yang digambarkan dalam ayat berikut:

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata:”Rabbku telah memuliakanku”. (QS. 89:15)

Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata:”Rabbku menghinakanku”. (QS. 89:16)

Karenanya, meskipun bermaksiat, banyak yang menyangka Allah sangat menyayanginya dengan pertanda nikmat dan karunia yang tiada putusnya. Memang, berbaik sangka pada Allah itu harus. Tapi jika kita merasa masih jauh dari sebutan hamba bertakwa, maka terhadap limpahan nikmat, selain bersyukur kita juga harus waspada. Jangan sampai terlena karena makar istidraj datang dari arah yang tidak disangka-sangka.Ulama berkata, “Setiap nikmat yang tidak membuat kita semakin dekat dengan Allah, sejatinya adalah siksa, dan segala anugerah yang memalingkan kita dari Allah hakikatnya adalah bencana.”

Al Hasan al Bashri berkata, “Orang mukmin melakukan kebaikan sembari berharap-harap cemas, sedang pendosa melakukan kedurhakaan dan merasa dirinya aman.”

Allah Ta'ala berfirman,

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. (QS. 68:44-45)
disalin dari :http://www.arrisalah.net/

Wallahua’lam.

Untaian Sunnah Wudhu yang Terabaikan

Oleh : Abu Shafwan Al-Munawi

Telah menjadi cita seorang muslim, untuk memperindah dan menyempurnakan ibadahnya dihadapan Allah Azza wa Jalla, yang dengan kesempurnaan itu ia akan merasa lebih khusyu' dan tenang dalam bermunajat kepada Rabbnya.
Diantara ibadah yang butuh adanya kesempurnaan dan perhatian lebih, dalam menjalankannya adalah wudhu', sebab diwaktu yang sama ia juga berperan sebagai syarat sahnya shalat seorang hamba, karena barangsiapa yang shalat tanpa wudhu', maka sudah tentu shalatnya tidak sah.
Karena pentingnya wudhu ini dalam terkabulnya ibadah seorang hamba, maka seorang muslim seyogyanya memperhatikan dan mempratekannya sesuai petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mulai dari syarat-syaratnya, ini semua tidaklah asing bagi kebanyakan muslim, sebab itu pada bahasan sederhana ini, penulis hanya mengingatkan pembaca akan sebagian sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

2. Mencuci anggota wudhu' sebanyak tiga kali
Diantar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam wudhu', adalah mencuci anggota wudhu' tiga kali selain mengusap kepala sekaligus kedua telinga yang sunnahnya Cuma satu kali. Dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam masalah ini banyak sekali, diantaraya:

Dari Humran, Maula 'Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu bahwasanya Utsman meminta air wudhu', lalu berwudhu', mencuci kedua tangannya tiga kali, lalu berkumur-kumur sekaligus beristinsyaq (menghidup air kedalam hidung), dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali, lalu mencuci mukanya tiga kali, lalu mencuci tangan kanan hingga sikunya tiga kali, lalu tangan kirinya seperti itu juga, lalu mengusap kepalanya, lalu mencuci kaki kanan hingga kedua mata kakinya tiga kali, lalu kaki kirinya seperti itu juga, kemudian dia berkata : "saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu' seperti wudhu' saya ini, lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangisapa yang berwudhu seperti wudhu saya ini kemudian shalat dua rakaat (dengan khusyu') tanpa terbesit dalam hatiya perkara dunia, maka dosa-dosanya yang berlalu, terampuni. (HR. AlBukhori (159), dan Muslim (226))
Adapun hadits-hadits yang menyebutkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam pernah mencuci angota wudhu'nya sekali atau dua kali saja, sebagaiman yang disebutkan dalam Shohih Al Bukhori (no. 157 dan 158) itu beliau lakukan untuk menjelaskan bolehnya mencuci anggota wudhu' kurang dari tiga kali, namkun hal ini kadang-kadang saja, karena pada umumnya Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam mencucinya tiga kali. Dan seseorang tidaklah dilarang mencuci anggota wudhu'nya Cuma sekali, asal semua anggota wudhu'nya tersebut telah tersentuh air, namun seringnya melakukan ini merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun keutamaan shalat sunat wudhu' dalam hadits ini, penjelasannya akan ditulis diakhir bahasan ini. Insya Allah

3. Menyela-nyela jari tangan/kaki tatkala berwudhu'
Ini juga merupakan sunnah yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan muslim dalam berwudhu', padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melakukan ini, bahkan menyuruh sahabat-sahabat beliau, dalam sabdanya :
Artinya : "Sempurnakanlah wudhu', dan hendakya engkau menyela-nyela jari (kaki/tangan) dan berlebih-lebihlah dalam Istinsyaq (menghirup air kedalam hidung)" (HR. Ahmad (3/211), Abu Daud (142), At-Tirmidzi (788), An-Nasa'i (87) dan Ibnu Majah (406) dari sahabat Laqith bin Shobarah radhiyallahu 'anhu)

Sela-sela jari tangan atau kaki termasuk bagian kulit yang sulit disentuh air wudhu' maka dengan menyela-nyela jari tersebut dengan jari tangan, ia akan tersentuh air hingga wudhu'pun menjadi sempurna, sedangkan membiarkannya tanpa tersentuh air dengan sengaja, merupakan penyebab tidak sahnya wudhu' dan harus mengulanginya. Namun, jika seorang yang berwudhu' merasa yakin bahwa sela-sela jemarinya telah tersentuh air, ia juga tetap disunnahkan menyela-nyelanya, sebagi bentuk aplikasi sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan jika ia tahu bahwa ada sela-sela jemarinya yang belum terkena air, ia wajib untuk menyela-nyela jari tersebut –wallahu a'lam.

4. Belebih-lebihan dalam Istinsyaq (menghirup air kedalam hidung)
Diantara manfaat istinsyaq ini, membersihkan hidung dari debu dan kotoran yang terhirup kedalamnya, yang bisa saja menyebakan berbagai penyakit, sebab itu, ia sangat bermanfaat bagi kebrsihan dan kesehatan hidung.
Inilah salah satu hikmah sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang beliau nasehatkan kepada para sahabatnya :

Artinya :"Dan berlebih-lebihlah dalam berinstinsyaq kecuali jika engkau sedang berpuasa" (takhrijnya telah disebutkan sebelumnya).
Adapun sebab pengecualian beliau terhadap orang yang berpuasa, ini sebagai bentuk kehati-hatian agar air yang ia hirup kedalam hidungya tidak serta merta memasuki kerongkongan, lalu turun kelambungnya, dan akhirnya membatalkan puasanya. Wallahu A'lam.

5. Bersiwak saat berwudhu'
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

Artinya : "Seandainya saya tidak memberatkan umatku saya sungguh akan memerintahkan mereka untuk bersiwak dalm setiap berwudhu" (HR. Al Bukhari (887), Muslim (252), Malik (1481))

Inilah sunnah yang banyak terabaikan bahkan terlupakan, padahal salah satu waktu yang paling afdhol untuk bersiwak adalah saat berwudhu, sebagaimana dalam hadits diatas. Sunguh, andai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak merasa memberatkan umatnya, ia pasti akan mewajibkan hal ini, namun karena rasa kasihan beliau terhadap mereka beliaupun menjadikannya sebagai sunnah yang mustahab.
Para ulama rahimahullah telah sepakat bahwa bersiwak tatkala berwudhu dapat dilakukan sebelum, tatkala berkumur-kumur, ataupun sesudah berwudhu', namun yang menjadi khilaf diantara mereka hanyalah pada saat apakah yang lebih afdhol?

6. Mengusap bagian luar dan dalam telinga
Sebagian orang yang berwudhu', hanyalah memperhatikan salah satu dari keduanya, diantara mereka ada yang mengusap bagian dalam saja tanpa bagian luar, dan yang lainnya Cuma mengusap bagian luar, dan membiarkan bagian dalam telinga. Ini tentunya tidaklah sesuai dengan petunjuk dan tata cara wudhu' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :

Artinya : "Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam memasukkan kedua telunjuknya kedalam dua telingaya dan mengusap kulit luar telinganya dengan kedua ibu jaringan sedangkan bagian dalam telinga dengan kedua telunjuknya" (HR. Ahmad (2.180), Abu Daud (135), dan Ibnu Majah (422).

7. Berdoa seusai berwudhu
Ini diantara sunnah yang masyhur setiap muslim mengetahui keutamaan dan pahlanya, namun betapa banyak diantara mereka yang lalai dari hal ini. Allahu Al Musta'an !! (mengenai keutamaannya yang sangat agung itu, disebutkan dalam hadits Umar radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Tidaklah salah seorang diantara kamu berwudhu' lalu dia menyempurnakanya, lalu berdoa : "Asyhadu AnLaailaahaillallahu wahdahu laa syarika lahu, wa asyhadu ana muhammadan 'abduhu warasuluh" melainkan dibukakan baginya delapan pintu syurga, ia masuk kedalamnya dari pintu mana saja yang ia kehendaki (HR. Muslim (234)).
Subhanalah, keutamaan apalagi yang lebih agung dari ini…memasuki surga Allah lewat pintu yang dikehendaki…saudaraku!!! Bergegaslah untuk meraihnya, semoga Allah menjadikan kita semua termasuk kedalam golongan ini…amin..
Adapun tambahan do'a diatas dalam Jami' At-Tirmidzi (no.55), yaitu : (Allahumma ij'alny minattawwabiina waminal mutathohirin), adalah riwayat yang lemah dan cukuplah bagi kita hadits shohih riwayat Imam Muslim diatas. Wallahu A'lam

Memperbaharui Wudhu' dan Shalat Sunnat Wudhu' setelahnya

Imam Al Bukhari rahimahullah meletakkan dalam shohihnya, salah satu bab dalam "kitab tahajjud" dengan tema "Bab Keutamaan bersuci (berwudhu) pada malam dan siang hari dan keutamaan shalat sesudah wudhu pada malam dan siang hari" lalu dibawah ini, beliau menyebutkan satu hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu

Bahwasaya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Bilal tatkala shalat fajar :
"Wahai Bilal, beritahukan padaku amal apakah yang paling engkau harapkan dalam amalan-amalan Islam? Karena sungguh saya dalam surga, bilal menjawab : saya tidaklah melakukan amalan yang paling saya harapkan (ingin lakukan), melainkan bahwa saya tidaklah bersuci (berwudhu) dengan satu wudhupun pada waktu malam atau siang hari kecuali saya melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebanyak apa yang diberikan kemampuan kepadaku (untuk shalat) (HR. Al-Bukhari (1499))
Sudah semestinya seorang muslim untuk menjaga dan memperbaharui wudhu, dan jika ia mampu, hendaknya ia menyempurnakannya denga shalat sunat wudhu' sesuai kehendaknya. Dan dalam riayat At-Tirmidzi, Bilal menyebutkan shalatnya cuma dua rakaat, lalu Rasulullah bersabda : "Dengan (pahala) kedua (rakaat), itulah (hingga aku mendengar suara terompahmu didepanku dalam surga). (no.3689)
Ini menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat sunat wudhu', tidaklah terbatas namun sesuai kehendak seseorang, namun shalat ini tentunya tidak boleh dilakukan pada waktu-waktu terlarang untuk sholat. Dan jika seseorang berwudhu', lalu shalat sunat lain selain sunat wudhu', misalnya tahajjud, witir, sunat rawatib dan lainnya. Maka ia tetap mendapatkan keutamaan ini –Insya Allah) Dan keutamaan lain adalah pengampunan dosa-dosanya yang telah berlalu, sebagaimana dalam hadits utsman yang telah disebutkan sebelumya. Adapun yang selalu memperbaharui wudhu dan tidak melakukan shalat setelahnya, maka semoga saja dia bisa amendapatkan keutamaan dalam hadits ini sebagaiman yang diistinbatkan oleh Al Bukhari dalam nama bab yang tersebut diatas. Wallahu a'lam

Rabu, 01 Desember 2010

Lembaran Papirus Buktikan Nabi Muhammad Ada

Sejumlah ilmuwan, tentunya non-Muslim, menganggap bahwa Nabi Muhammad itu sesungguhnya tidak ada. Namun bukti berupa teks yang ditulis di atas papirus memberikan bukti sebaliknya.

Sebagaimana dilansir Radio Netherlands, Petra Sijpesteijn pakar bahasa Arab dari Universitas Leiden yang mengkhususkan diri mengkaji teks-teks papirus, menyatakan tidak setuju dengan pendapat para koleganya yang mengatakan Nabi Muhammad tidak pernah ada.

Kelompok yang dijuluki para "revisionis" mengatakan bahwa orang-orang Arab sebenarnya cuma kelompok tak terorganisir yang kebetulan berhasil menguasai setengah dunia. Dan Islam diduga baru diciptakan dua ratus tahun kemudian di Iraq.

Sijpesteijn berkata, "Teks-teks papirus menunjukkan bahwa serangan tentara Arab dilakukan dengan cermat dan terorganisir. Orang Arab melihat diri sendiri sebagai penakluk dengan misi relijius. Mereka ternyata juga punya pandangan relijius - mereka menjalankan dan menjaga elemen-elemen penting Islam yang nantinya juga dimiliki dan diyakini Muslim pada abad-abad selanjutnya."

Ribuan lembar papirus telah ditemukan di bawah timbunan pasir di Mesir dan wilayah Timur Tengah lainnya. Namun seringkali sulit dibaca, selain karena sebagian telah sobek juga ditulis dalam bahasa Arab dengan dialek setempat. "Namun siapa pun yang bisa membacanya, punya akses meneliti kehidupan sehari-hari masyarakat Arab di periode awal islam," kata Sijpesteijn.

Papirus adalah sejenis kertas kuno yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk transaksi dagang, korespondensi pribadi, dan semacamnya. Bangsa Mesir dipercaya sebagai orang yang pertama kali membuat dan menggunakan papirus.

Di salah satu lembar papirus yang ditulis sekitar tahun 725 Masehi menyebut kata Muhammad dan Islam.

Lembar-lembar papirus itu juga membuktikan bahwa sejak dulu sudah ada dialog tentang makna menjadi Muslim yang baik, perintah haji dan zakat.

Bagi ilmuwan Belanda itu, sumber sejarah Islam berupa papirus sangatlah penting. "Papirus pada kenyataannya merupakan satu-satunya sumber kontemporer untuk sejarah 200 tahun pertama Islam," kata perempuan yang menerima 1 juta euro dari Lembaga Penelitian Eropa untuk melanjutkan penelitiannya itu. Data-data yang ditemukannya mengkonfirmasi cukup banyak sumber resmi Islam.
sumber :http://www.hidayatullah.com/

Urgensi Tauhid dan Realisasinya



Oleh : Abu Shofwan Al-Munawi

A. Makna Tauhid
Lafaz tauhid berasal dari kata "wahhada, yuwahhidu" yaitu meyakini bahwa sesuai itu tunggal, sedangkan dalam istilah syar'i, Imam As-Safaarini mendefinisikannya "sebagai pengesaan yang disembah (Allah) dengan beribadah (kepada-Nya) yang disertai keyakinan atas keesaan dzat, sifat dan perbuatan-Nya." (Lawami'ul Anwar Al-Bahiyah : 1/57).
Kata "tauhid" memiliki beberapa istilah yang identik dengannya yaitu aqidah, ushuluddin, ataupun sunnah, yang mana hal ini sering digunakan oleh para salaf sebagai istilah lain dari kata "tauhid". Istilah ini, bukanlah istilah baru, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang namun penamaannya bersumber dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diantaranya :
1) Hadits Mu'adz radhiyallahu 'anhu tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutusnya ke Yaman.
Artinya :
"Hendaknya perkara pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha Illallah (tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), dan dalam riwayat lain agar mereka mentauhidkan Allah. (HR. Bukhari : 1395, dan Muslim : 19)

2) Hadits Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia bertanya keapda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang sedekah yang pahalanya ia hadiahkan kepada ayahnya yang musyrik. Rasulullahpun menjawab :
Artinya :
"Sesungguhnya ayahmu jika dahulu berikrar dengan tauhid, lalu engkau berpuasa atau memerdekakan budak atau bersedekah atasnya, maka (pahalanya) akan sampai kepadanya" (HR. Ahmad : 6704).

B. SUMBER TALAQI TAUHID

Sumber Talaqi tauhid atau aqidah adalah Al-Qur'an dan Sunnah, bahkan semua yang berkaitan dengan kehidupan baik berupa ibadah maupun mu'amalah adalah bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, sebab keduanya merupakan pedoman dan petunjuk atas umat manusia dalam semua lini kehidupan. Allah ta'ala berfirman :
Artinya : "Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus : 57)
Sedangkan sunnah adalah sebagai penjelas dan penjabaran ayat-ayat Al-Qur'an yang masih bersifat umum. Allah befirman :

Artinya : "Dan Kami turunkan kepadamu adzdzikra (sunnah) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (Al-Qur'an). (QS. An-Nahl : 44)

C. PEMBAGIAN TAUHID
Tauhid menurut Ahlussunah wal Jama'ah terbagi menjadi 3, yaitu :
1) Tauhid Rububiyah : keyakinan teguh atas adanya Alah ta'ala serta keesaan-Nya dalam menciptakan, menguasai dan mengatur semua makhluk-Nya.
2) Tauhid uluhiyah (ibadah) : Mengesakan (mentauhidkan) Allah dengan beribadah kepada-Nya semata.
3) Tauhid Asma' Wasshifat : meyakini bahwa Allah memiliki beberapa nama dan sifat baik yang Dia sebutkan dalam AlQur'an maupun nabi-Nya dalam hadits-haditsnya, tanpa adanya takyif (penjelasan cara dan bentuk sifat dan perbuatan Allah), Tamsil (penyerupaan-Nya dengan makhluk), Tahrif (merubah hakikat makna nama dan sifat Allah, dengan makna lain), dan Tah'thil (peniadaan nama dan sifat-sifat Allah ataupun maknanya.

Dalam masalah ini, perlu diketahui bahwa pembagian tauhid ini, bukanlah hasil rekayasa para ulama –sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh Ahlussunnah- namun hal ini berdasarkan penelitian dan pembelajaran yang detail terhadap dalil-dalil tauhid yang ada dalam Al Qur'an dan Sunnah.

D. PENTINGNYA MENGETAHUI TAUHID DAN PEREALISASIANNYA
Tauhid adalah inti dan asas pokok ajaran Islam dan merupakan kewajiban pertama dan utama bagi umat manusia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Mu'adz :
"Hendaknya perkara pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaha Illallah –dalam riwayat lain- agar mereka mentauhidkan Allah."
Dan seseorang tidak dikatakan sebagai muslim dan beriman, kecuali jika ia memiliki asas yang urgen ini, sebab itu tidaklah Allah mengutus Rasul-rasul, dan menurunkan kitab-kitabNya melainkan demi terwujudnya "tauhid beserta konsekuensinya" dikalangan umat manusia serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kekufuran dan noda kesyirikan. Alla berfirman :
Artinya : "Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) "sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut" (QS. An-Nahl : 36)
Bahkan manusia hidup dan tercipta serta diberikan rezeki dan berbagai sarana kehidupan oleh Allah demi terealisasinya asas hidup yang paling urgen ini, sebagaimana firman-Nya :
Artinya : "Dan saya tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (QS. Adz-Dzariat : 56)
Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu menafsirkan lafaz liya'budunna (menyembahku), dengan yuwahhidun yaitu mentauhidkan dan mengesakan-Ku.
Dan ini adalah penafsiran yang tepat sebab misi dan inti semua ibadah yang disyariatkan Allah adalah perealisasian tauhid dan aqidah yang murni terhadap-Nya. Sedangkan ibadah tanpa disertai adanya ketauhidan dan aqidah yang benar adalah amal yang sia-sia dan tertolak sebab hilangnya aqidah yang benar mengharuskan adanya kesyirikan pada diri seseorang, dan Allah sama sekali tidaklah mengampuni dan menerima amal ibadah mereka, sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nisa' : 48)
Sedangkan muwahhid yaitu mereka yang beribadah kepada Allah dengan merealisasikan aqidah dan tauhid murni yang bebas dari noda syirik, amal ibadah mereka senantiasa diterima oleh Allah azza wa jalla, dan mereka berhak mendapatkan surga-Nya. Rasulullah bersabda : "Barangsiapa yang menjumpai Allah sedang Dia tidak menyekutukan sesuatupun denganNya, ia masuk surga, dan barangsiapa yang menjumpaiNya sedang ia menyekutukan sesuatu dengan-Nya, ia masuk neraka (HR. Muslim : 93)
Dan dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
Artinya : "Wahai Anak Adam, seandainya engkau datang mengadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, lalu engkau menjumpaiKu dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku, niscaya saya akan mendatangimu dengan pengampunan sebesar (dosa itu) pula (HR. Tirmidzi (3540) dan berkata : hadits hasan ghorib).
Merealisasikan tauhid adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan menyalahinya merupakan jalan yang menjerumuskan kejurang kesengsaraan. Merealisasikannya juga adalah sarana untuk menyatukan kalimat umat, merapatkan barisan dan menghantarkan umat pada puncak kejayaan sebagaimana yang terwujud pada zaman nabi, para sahabat dan khalifah-khalifah setelah mereka.

Allah berfirman yang artinya : "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang mengamalkan amal-amal sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dibumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS. AnNur : 55).
Dan Allah telah menjanjikan kepada mereka yang memiliki keimanan dan tauhid murni keamanan dari rasa takut di dunia dan azab di akhirat serta hidayah yang menuntun mereka ke jalan yang lurus. Allah berfirman :
Artinya : "orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapati petunjuk (Al-An'am : 82).
Demikianlah bahasan tentang makna tauhid dan urgensi perealisasiannya dalam kehidupan, semoga dapat memberikan manfaat kepada semua pembaca dan memberikan taufik kepada setiap muslim untuk mewujudkan aqidah dan tauhid ini dengan benar amin.
Washallallahu 'ala nabiyyina Muhammad.
http://dar-elanshor.com/mutiara-islam/aqidah/56-urgensi-tauhid-dan-realisasinya.html

Bersuci Dengan Air Laut (Syarh Hadits Bulughul Maram ).

Pengantar

Secara bahasa Thaharah bermakna bersih dari kotoran baik kotoran fisik (hissiyah) maupun non fisik (ma’nawiyah). Secara istilah (terminology) bermakna: Menghilangkan hadats dan najis dengan air dan tanah yang suci dan mubah.

Penulis Bulughul Maram memulai dengan Kitab Thaharah karena hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara tentang syariat Islam dimulai dengan Shalat, zakat, puasa, haji. Sementara syarat sahnya shalat adalah thaharah berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:

(مفتاح الصلاة الطهور . . .. . . (رواه الترمذي وان ماجه وصححه الألباني

Artinya: “Pembuka (syarat sahnya ) shalat adalah thahur(suci) . . . “ (HR Tirmidziy,Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Al Baniy).
Dan hadits yang lain:

(لا يقبل الله صلاة بغير طهور . . . . (متّفق عليه

Artinya: ” Allah tidak akan menerima shalat tanpa thaharah . . . “ (Muttafaq ‘alaihi).
Penulis juga mendahulukan Bab Air dalam Kitab Thaharah karena pada asalnya thaharah dilakukan dengan air berdasarkan firman Allah.
Artinya: “Dan Kami turunkan dari langit air yang Amat suci”. (QS Al-Furqan:48).

Hadits 1

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم في البحر : ((هو الطهور ماؤه الحلّ ميتته)).أخرحه الأربعة وابن أبي شيبة وللفظ له وصحّحه ابن خزيمة والترمذي .

Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata:Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda tentang laut:Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”. (Dikeluarkan oleh empat dan Ibnu abi Syaibah ,dan hadits ini adalah lafadz ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Ibnu khuzaimah dan Tirmidziy).

Biografi Singkat Sahabat Perawi Hadits:
Beliau bernama ‘Abdullah atau ‘AbdurRahman bin Shakr Ad-Dausiy, salah seorang pemuka shahabat dan paling banyak meriwayatkan hadits, yang meriwayatkan hadits darinya sekitar 800 orang. Beliau masuk Islam pada saat perang khaibar lalu kemudian bermulazamah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Menjadi mufti di zaman pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anhu, pernah menjadi gubernur madinah sebelum Marwan, Beliau wafat di madinah pada tahun 59 H dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di Baqiy ‘.

Kosa kata Hadits:
البحر : Laut; lawan dari darat, air yang banyak atau air asin
الطّهور: Sesuatu yang dipakai bersuci (suci dan mensucikan)
الحلّ : Halal; lawan dari kata haram
ميتته : Bangkai; Hewan yang tidak disembelih secara syari’, dan yang dimaksudkan di sini adalah bangkai hewan laut (hewan yang habitatnya di laut, bukan hewan darat yang melompat atau dibuang ke laut lalu mati di laut).

Penjelasan Umum (Sababul Wurud)


Pada asalnya hadits ini merupakan jawaban dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam [sebagaimana dalam Al-Muwatha] bahwa Abu Hurairah berkata: “Seorang pria dari Bani madlij (1) bernama ‘Abdullah (2) datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah kami menyeberangi lautan dan kami hanya membawa sedikit air, jika kami berwudhu dengan air tersebut maka kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut?” lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab:
هو الطهور ماؤه الحلّ ميتته “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”.
Beliau mengajarkan bahwa air laut itu ‘thahuur’ suci dan mensucikan, serta bangkai hewan laut itu halal, sehingga hewan-hewan yang hidup di lautan tidak perlu disembelih.

Beberapa Pelajaran Dari Hadits:

* Hadits ini menunjukkan bahwa air laut itu suci dan mensucikan.

* Bahwasaannya air laut dapat mengangkat (menghilangkan) najis besar dan kecil serta dapat menghilangkan najis yang menodai tempat yang suci berupa badan,pakayan,dan atau yang lainnya.
* Air jika berubah rasa,warna dan baunya dengan sesuatu yang suci maka ia tetap suci,selama air tersebut tetap pada hakikatnya,kendatipun ia sangat asin,panas,dingin .
* Hadits ini menunjukkan bahwa tidak wajib membawa persediaan air yangcukip untuk bersuci meskipun mampu untuk melakukan hal tersebut,karena penanya dalam hadits ini mengabarkan bahwa mereka hanya membawa sedikit air .
* Bangkai hewan laut halal, dan yang dimaksud dengan hewan laut adalah hewan yang hanya hidup di laut (habitatnya di laut), bukan hewan darat yang mati di laut.
* Air yang dipakai untuk menghilangkan hadats dan najis harus (wajib) air yang suci dan mensucikan.
* Keutamaan berfatwa dengan memberikan jawaban tambahan dari yang ditanyakan, hal tersebut dapat dilakukan jika seorang mufti menduga dan memperkirakan bahwa penanya akan akan mengalaminya dan ia tidak mengetahui hukumnya. Dalam hadits ini Nabi hanya ditanya tentang hukum berwudhu dengan air laut, tetapi Beliau memberikan jawaban tambahan (tentang kehalalan bangkai hewan Laut) karena beliau telah memperkirakan bahwa mereka akan berhadapan dengan masalah tersebut. Berkata Ibnul ‘Arabiy: “Hal ini termasuk bentuk kebaikkan dalam berfatwa –mahaasinil fatwa-. Seorang mufti memberikan jawaban lebih banyak dari yang ditanyakan, guna menyempurnakan faidah serta memberikan faidah berupa ilmu yang tidak ditanyakan, hal ini semakin jelas ketika nampak kebutuhan terhadap (pengetahuan tentang) hokum tertentu-sebagai man dalam hadits ini-.
* Pentingnya kembali dan bertanya kepada ‘Ulama ketika berhadapan dengan permasalahan yang tidak diketahui hukumnya. Sebagaimana hal ini telah dicontohkan oleh ‘Abdullah al-Madlaji dalam hadits ini. Beliau mengarungi lautan dan hanya membawa sedikit air (minum) jika ia berwudhu dengan air tersebut maka ia dan kawan-kawannya akan kehausan, tetapi mereka belum mengetahui hukumnya berwudhu dengan air laut, sehingga beliau datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan hal tersebut.

Khilaf (Perbedaan Pendapat) Para ‘Ulama Tentang Hukum Memakan Hewan Laut.
Meskipun hadits di atas telah menjelaskan halalnya bangkai hewan laut, namun hal ini tetap menyisakan perbedaan pendapat di kalangan ‘Ulama madzhab, berikut perinciannya:

* Al-imam Abu Hanifah berpendapat: Semua jenis ikan hukumnya halal dan selain ikan hukumnya haram, seperti anjing laut, babi laut, ular dan semua jenis hewan yang bentuknya sama dengan hewan darat.
* Imam Ahmad berpendapat: Semua hewan laut boleh, kecuali kodok, ular, dan buaya. Adapun (alasan pengharaman) kodok dan ular karena keduanya termasuk hewan yang menjijikkan (al-mustakhbatsaat), sedangkan buaya (karena) ia bertaring dan buas.
* Imam Malik dan Syafi’i berpendapat; Semua hewan laut boleh tanpa kecuali. Mereka berdalil dengan firman Allah (Dihalalkan atas kalian hewan buruan laut (shaidul bahri) dan ma’na ash-shaid adalah hewan yang diburu. Dan juga sabda nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Dihalalkan untuk kami dua bangkai; belalang dan al-hut (ikan). (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Dalil yang lain; hadits yang dibahas di sini; “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”.

Pendapat yang paling rajih: Pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i (semua bangkai hewan laut halal tanpa kecuali) ,wallaahu a’ lam bish shawab.

Footnote:

(1). Sebagaiman dalam Musnad Imam Ahmad.
(2). Sebagaiman dalam riwayat at-Thabraniy.
dicopas dari :http://wimakassar.org/wp/syarah-kitab-bulughul-maram-