Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Serial Perang Badar: Jihad Untuk Memisahkan Kebenaran Dari Kebatilan (Episode 1)

Segala pujian hanya milik Alloh yang Maha Sempurna yang telah menyempurnakan agama dan nikmat untuk umatNya. Sebaik-baik teladan adalah teladan NabiNya, Nabi pilihan penutup para Nabi dan risalahNya. Rasa syukur atas kemurahannya yang telah menetapkan syari’at jihad sebagai sarana puncak prestasi bagi seorang mukmin pengikut setia Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam.

Setelah sekitar 16 tahun dimarhalah tarbiyah Nubuwah, Nabi Shalallahu’alaihi wa salam ditempa dengan kesabaran atas kedhaliman yang dilakukan oleh kaum musyrikin, kegemilangannya melewati fase ini kemudian Alloh menyempurnakannya dengan keberanian. Selama sekitar 16 tahun tidak sedikitpun kaum Muslimin melakukan perlawanan bukan karena tidak berani menghadapi arogansi kaumnya dan bukan pula karena sedikit pengikutnya akan tetapi semata-mata karena belum diperintahkan oleh Alloh Ta’ala. Setelah bai’at Aqabah yang kedua, Al Abbas bin ‘Ubadah meminta izin kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam untuk memenggal leher orang-orang musyrik di Mina maka Nabi bersabda: “ Kita belum diperintahkan untuk itu ”.

Pasca hijrahnya kaum muslimin ke Madinah ternyata ancaman dan gangguan terus saja datang dari orang-orang Quraisy sehingga hal ini membahayakan eksistensi kaum muslimin yang sudah berusaha menjauh dari mereka. Maka dari itulah Allah Ta’ala menurunkan firmanNya: "Telah diizinkan (berperang) bagi orag-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu (QS. Al Hajj: 39)

Berangkat dari ayat inilah kaum muslimin dijinkan melakukan perlawanan terhadap orang-orang musyrikin hingga Nabi Shalallahu’alaihi wa salam membentuk delapan kesatuan pasukan perang2, yaitu:

1.    Pengiriman pasukan ke Saiful Bahr pada tanggal 1 Ramadhan tahun pertama Hijriah yang dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib berhadapan dengan sekitar 300 kafilah dagang Quraish akan tetapi tidak jadi berperang.

2.    Pengiriman pasukan ke Rabigh pada 1 Syawal 1 H yang dipimpin oleh Ubaidah bin Harits bersama 60 muhajirin berhadapan dengan 200 musyrikin Quraish yang dipimpin oleh Abu Sufyan, walaupun sudah saling melepas panah namun belum jadi terjadi peperangan.

3.    Pengiriman pasukan ke Al Kharar pada bulan Dzul Qa’dah 1 H yang dipimpin oleh Sa’id bin Abi Waqqash bersama 20 mujahidin namun belum terjadi peperangan karena tidak beretemu dengan musuh.

4.    Pengiriman pasukan ke Waddan pada bulan Safar 2 H yang langsung dipimpin Nabi Shalallahu’alaihi wa salam tapi juga belum terjadi peperangan.
5.    Pengiriman pasukan ke Buwath pada bulan Rabi’ul Awal 2 H dipimpin langsung oleh Nabi Shalallahu’alaihi wa salam bersama 200 sahabat namun belum terjadi peperangan juga.

6.    Pengiriman pasukan ke Safawan pada bulan Rabi’ul Awal 2 H yang dipimpin oleh Nabi Shalallahu’alaihi wa salam guna mengejar orang-orang Musyrikin yang telah merampas domba-domba kaum muslimin ditempat penggembalaan, namun belum terjadi peperangan karena musuh berhasil meloloskan diri. Peristiwa ini disebut juga perang Badar pertama3.

7.    Pengirimin pasukan ke Dzul Usyairah pada bulan Jumadal Ula 2 H, Nabi berangkat bersama sekitar 200 pasukan untuk menghadang kafilah dagang Quraish yang berangkat ke Syam, namun sesampainya di Dzul Usyairah kafilah dagang Quraish telah meninggalkan tempat tersebut sehingga tidak terjadi peperangan. Sekembalinya rombongan inilah yang kemudian terjadi peperangan Badar Qubra.

8.    Pengiriman pasukan ke Nakhlah pada bulan Rajab 2 H yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsyi bersama 12 muhajirin dan terjadi pertempuran yang akhirnya menewaskan Amr Bin Al Hadhrami dari pihak Quraisy dan menawan Utsman serta Al Hakam. Dalam peperangan ini pasukan yang dipimpin Abdullah bin Jahsyi berhasil merampas barang dagangan mereka dan dibawa ke Madinah.
Melalui peperangan inilah menyebabkan kaum musyrikin Quraish dirasuki rasa ketakutan. Ini menjadi bukti apa yang selama ini membayang-bayangi perasaan mereka akan ancaman kaum muslimin.

Sementara itu dari kejadian ini ternyata Alloh Ta’ala menurunkan firmanNya yang mewajibkan jihad bagi kaum muslimin khususnya pada bulan Sya’ban 2 H. Diantaranya:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Baqarah[2] : 190)
Kemudian dilanjutkan:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِ‌جُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَ‌جُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِندَ الْمَسْجِدِ الْحَرَ‌امِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِ‌ينَ فَإِنِ انتَهَوْا فَإِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ‌ رَّ‌حِيمٌ ﴿١٩٢﴾ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّـهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

(191) “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.”
(192) “Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(193) “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Alloh. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah[2]: 191-193).

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا فَضَرْ‌بَ الرِّ‌قَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْ‌بُ أَوْزَارَ‌هَا

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir” (QS. Muhammad[47]:  4)
Bahkan Allah mencela mereka yang tidak punya nyali, gemetar dan menggigil ketakutan tatkala mendengar perintah untuk berperang.

“Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka”. (QS. Muhammad[47]: 20).

Dengan turunnya wahyu-wahyu ini maka semakin mengobarkan semangat dan tekad kaum muslimin untuk menegakkan kalimat Alloh serta syari’at jihad dibutuhkan untuk memisakan kebenaran dari kebatilan.

1 Waqafat Tarbawiyah Ma’as Sirah An Nabawiyah hal 134
2 Lihat Ar Rahikul Makhtum bab satuan-satuan perang sebelum perang badar
3 Lihat Ar Rahikul Makhtum bab satuan-satuan perang sebelum perang badar

(Oleh : Ustadz Abu Ayyub//http://www.belajarislam.com/serial-perang-badar-episode-1/)

Kamis, 23 Mei 2013

Nasihat dan Pelajaran Dari Kisah Nabi Yusuf

Mencermati kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, seorang muslim akan menemukan pelajaran yang teramat berharga. Di dalamnya  terdapat nasihat dan dalil-dalil yang nyata.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada kisah Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang yang bertanya.” (QS. Yusuf: 7).    
Dan di akhir Surat Yusuf, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf : 111).
    Namun apakah ayat dan ibrah yang di maksudkan di sini? Sekadar menikmati sebuah kisah syahdu yang telah berlalu, ataukah hikayat dan cerita seseorang? Demi Allah, sungguh tidaklah demikian, bahkan di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran yang berharga.
    Surat Yusuf tergolong surat-surat Makkiyah. Surat ini turun di masa-masa sulit pada kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Pada saat-saat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah kehilangan dua orang yang dicintainya yang keduanya selalu menguatkan semangat beliau dalam mengemban tugas dakwah yang mulia tersebut.
    Tatkala itu paman beliau, Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan musyrik setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mencurahkan segala usahanya agar ia menerima Islam. Namun pada akhirnya ia mati di atas agama Abdul Mutholib. Tatkala itu pula, istri beliau yang tercinta dan yang pertama, Khodijah radhiyallahu ‘anha dipanggil oleh Allah Ta’ala. Seorang pendamping hidup, pelipur duka dan lara, yang senantiasa membawa ketenangan tatkala beliau ketakutan dalam menerima wahyu Allah Ta’ala. Seorang yang banyak mengasah semangat di kala beliau mendapat gangguan dari orang-orang musyrik Makkah. Seorang yang banyak mengorbankan hartanya di saat-saat beliau membutuhkannya sebagai penopang kebutuhan hidup tatkala beliau berdakwah.
    Dalam masa-masa sedih tersebut, gangguan dari orang-orang musyrik Makkah semakin bertambah, sehingga hal itu menambah kesedihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana tidak, beliau melihat sendiri bagaimana para sahabatnya disiksa dengan berbagai model siksaan namun beliau tidak dapat menolongnya. Telah berlalu kejadian yang menimpa keluarga Yasir radhiyallahu ‘anhu, mereka disiksa dengan siksaan yang memilukan hati, namun tidak ada yang bisa beliau perbuat kecuali hanya berpesan, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji untuk kalian adalah surga”. (lihat Fiqhus Sirah :1/103).
    Demikan pula siksaan yang diterima oleh sahabat-sahabat yang lain, sehingga datanglah Khabbab bin al-Arat radhiyallahu ‘anhu, sedang beliau tengah bersandar dengan burdahnya di sisi ka’bah. Khabbab radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Tidakkah engkau memintakan pertolongan untuk kami, tidakkah engkau berdoa untuk kami wahai Rasulullah?” Rasulullah hanya mengatakan, “Sungguh orang-orang sebelum kalian diringkus oleh seseorang lalu dibuatkan galian di tanah, lalu ditanam di galian tersebut, kemudian didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya lalu dibelah menjadi dua bagian. Dan ada yang disisir dengan sisir besi hingga terkelupas kulit dan tampak daging-dagingnya, namun tidaklah hal itu melunturkannya dari agamanya. Demi Allah, akan sempurna perkara ini hingga seseorang berjalan dari Shan’a ke Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, tidak pula serigala kepada kambingnya, akan tetap sungguh kalian terburu-buru.”(Lihat Shahih Bukhari: 21/269).
     Dalam keadaan sulit seperti itu, Allah Ta’ala menurunkan kepada Nabi-Nya yang mulia, ayat yang mengisahkan tentang saudaranya yang mulia, yaitu Nabi Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihissalam.
    Nabiyullah Yusuf p pun menerima berbagai ujian dan cobaan, di antaranya makar saudara-saudaranya, ujian diceburkan ke dalam sumur dan dirundung ketakutan, ujian dipisah dari keluarga dan negerinya, ujian perbudakan, ujian makar dari istri al-‘Aziz dan para wanita kota, yang sebelumnya adalah ujian syahwat dan fitnah yang disusul setelah ujian dijebloskan ke penjara.
    Setelah itu beliau masih diuji dengan ujian kekuasaan, di tangannya urusan penyediaan bahan makanan manusia, di tangannyalah seseorang mendapatkan roti untuk dimakan. Lalu beliau diuji dengan kemasyhuran hingga dapat bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang telah membuangnya ke dalam sumur.
    Berawal ujian sebab yang dhohir (tampak) hingga beliau terus menuai ujian dan cobaan. Namun demikian Nabi Yusuf ‘alaihissalam tetap bersabar menjalani segala ujian tersebut dan tak henti-hentinya mendakwahkan tauhid hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya kemenangan dan kedudukan.
    Karena surat Yusuf tersebut turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum pada masa sulit, maka ayat-ayat ini menjadi tashliyah (pelipur lara), penenang dan penguat keteguhan hati mereka.
    Dan hal itu juga sebagai pertanda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kelak akan keluar dari negerinya seperti dikeluarkannya nabi Yusuf p dari negerinya menuju negeri yang beliau akan memberinya kemenangan dan kedudukan.
    Sekalipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Makkah dalam keadaan terusir sebagaimana Nabi Yusuf p dibuang oleh saudara-saudaranya untuk menghadapi berbagai ujian dan bala’, namun hal itu berakhir dengan kemenangan dan kebahagiaan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan demikian pulalah kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf diimuka bumi (Mesir), dan agar kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21).
    Pada ayat tersebut juga terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa demikianlah sunnatullah di alam dunia ini, orang-orang shaleh pasti akan mendapatkan cobaan dan ujian. Bila mereka bersabar, mereka akan mendapatkan balasan. Sebagaimana akhir dari firman Allah Ta’ala.
    Allah Ta’ala berfirman, “Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?”. (QS. Yusuf: 109).
    Seorang yang memahami hikmah Allah Ta’ala niscaya ia akan mengetahui bahwa apabila Allah Ta’ala mengutus seorang utusan, maka Allah Ta’ala memberinya ayat dan mukjizat dari jenis yang sedang masyhur dan diperhitungkan oleh kaummnya.
    Dalam kisah Yusuf ‘alaihissalam nampak kecenderungan manusia pada ta’bir (takwil)  mimpi, yang mana hal itu menjadi ajang pembicaraan manusia, mimpi dua orang penghuni penjara, mimpi raja yang pada akhirnya mimpi-mimpi tersebut dapat disingkap oleh Yusuf ‘alaihis salam. Karena itu, merupakan ayat dan mukjizat yang Allah berikan kepada Yusuf ‘alaihissalam, Allah ajarkan kepadanya berupa takwil mimpi yang dengan sebabnya Yusuf mendapatkan kemuliaan.
    Allah lberfirman, “Dan demikian Rabb-mu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi.”(QS. Yusuf: 6).
    Dalam ayat tersebut juga terdapat sebuah sisi penting yang banyak dilalaikan manusia, yaitu sisi akidah. Maknanya adalah bahwa akidah merupakan perkara-perkara yang sangat mendasar yang harus senantiasa dipelajari dan didakwahkan.
    Lihatlah Nabiyullah Yusuf ‘alaihis salam sekalipun berada dalam penjara beliau tetap mendakwahkan agamanya. Tatkala datang dua orang penghuni penjara menanyakan ta’bir mimpi, maka Nabi Yusuf menggunakan kesempatan tersebut berdakwah kepada keduanya, sedang keduanya tengah tenang bersiap-siap mendengar ta’bir mimipi dari Yusuf ‘alaihis salam.
    Nabiyullah Yusuf menyebutkan bahwa ilmu tersebut adalah karunia dan apa yang telah diajarkan Allah kepadanya, sebab ia telah meninggalkan dan menjauhi akidah-akidah kufur kepada Allah  dan hari akhir.
    Dalam berakidah, Yusuf mengikuti agama bapak-bapaknya yang semuanya adalah para nabi, yaitu bapaknya Ya’qub ‘alaihis salam, kakeknya Ishaq ‘alaihis salam, serta kakek bapaknya Ibrahim ‘alaihis salam. Mereka semua adalah para Nabi yang disebutkan dalam al-Qur’an, akidah mereka adalah Islam, yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun sebagaimana hal itu merupakan wasiat sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firmannya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan iu kepada anak-anaknya, demikan pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam.” (QS. al-Baqarah: 132).
    Demikianlah semangat dakwah mereka kepada anak keturunannya, mereka mencurahkan kemampuannya dalam mendidik akidah yang benar dengan mengharap taufiq dari Allah, beliau menggabungkan pokok-pokok aqidah yang benar mencakup keimanan kepada Allah dan hari akhir, menanamkan tauhid kepada Allah dan menjauhkan kesyirikan, mengenalkan Allah dengan sifat-sifatnya, yaitu Rabb yang Mahaesa dan Mahaperkasa, serta menegaskan bahwa tidak ada hukum dan kekuasaan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagi Allah semua keputusan, syariat dan hukum, maka tidak boleh seorang mengambil hukum dan syariat selain dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah senantiasa meneguhkan kita semua di atas jalan yang diridhai-Nya. Amiinn .
Dikutip dari berbagai sumber (Alif Jumai Rajab Buletin Al Fikrah No. 21 Tahun XIV, 07 Rajab 1434 H/17 Mei 2013 M)

Minggu, 12 Februari 2012

KEHIDUPAN SA’AD IBN ABI WAQQASH: TARBIYAH BAGI PARA AGEN PERUBAHAN

By: Ahmed Ibn Abdull-Rahman AlSowyan
(http://albayan.co.uk/id)

Sa'ad ibn Abi Waqqash radhhiyallahu ‘anhu termasuk di antara sepuluh sahabat yang dijamin Nabi akan masuk sorga.[i] Dia juga terhitung sahabat senior, dia adalah orang ketiga yang masuk Islam.[ii] Sa’ad adalah sahabat yang tegar membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Rasulullah tersudut dalam perang Uhud. Dia juga melalui masa-masa kesulitan dan kelaparan.[iii]

Sa’ad ikut memikul panji jihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dialah sahabat yang pertama kali melepas anak panah dalam jihad Islam [iv]. Dia ikut serta dalam perang Badar sebelum menginjak usia dewasa.[v] Dia juga ikut dalam perang Uhud. Dalam perang tersebut, dia berjuang dengan gigih bersama Rasulullah saat sebagian pasukan lalai.[vi] Atas prestasinya itu, Rasulullah mau menebus panah Sa’ad dengan ayah dan ibunya (ungkapan lazim Arab, pent.).[vii] Selanjutnya, Sa’ad senantiasa ikut perang bersama Nabi dan tidak pernah sekalipun absen.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu bangga pada Sa’ad, sebagaimana dalam ungkapannya:"Ini adalah pamanku, maka siapa yang mau mempertaruhkan pamannya ?[viii] Tentunya, Rasulullah tidak akan membanggakan Sa’ad kecuali karena dia termasuk pahlawan pilih tanding yang memang berhak untuk itu.

Tatkala Umar ibn Khattab radhhiyallahu ‘anhu ingin menaklukkan Iraq dan harus berhadapan dengan kerajaan Persia, ia mengecek sahabat-sahabat sekaligus meminta pendapat mereka. Akhirnya, ia tidak mendapatkan orang yang lebih kapabel daripada Sa'ad, yang diibaratkan "singa dengan kukunya yang tajam"[ix]. Hanya orang yang berpengalaman yang dapat menanggung resiko dan memikul beban maha berat.

Sa’ad tak mengecewakan harapan Umar. Ia berhasil memenuhi harapan Umar, dan mengukir keteladanan yang sangat indah dalam pengorbanan, kekuatan dan kepahlawanan.

Perikehidupan Sa’ad memuat banyak pelajaran penting. Namun di sini cukup tiga yang akan diangkat.

Pertama: Semangat Tempur

Semua bangsa di dunia membahas tentang semangat tempur sebagai sebuah doktrin militer. Doktrin ini diharapkan menjadi spirit pengorbanan dan bela negara. Setiap negara berusaha untuk menghidupkan sejarah masa lalu dan masa kini, sebagai upaya membangkitkan semangat tempur pasukannya.

Nah, tahukah anda apa semangat tempur Sa’ad bin Abi Waqqash radhhiyallahu ‘anhu, tatkala ingin menaklukkan Persia yang merupakan imperium terbesar di zamannya?

Sa’ad ibn Abi Waqqash mengajak pasukannya menyeberang sungai Tigris. Mereka akan menyerang Persia dan menyerbu kota Mada’in, tempat istana raja Kisra. Atas perintah tersebut, sebagian pasukan maju sedang yang lainnya ragu.

Menghadapi situasi tersebut, Sa’ad berkata lantang: "Apakah kalian takut pada air sungai ini?" Kemudian ia membaca firman Allah:

{ وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا} ( آل عمران: 145)

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."

Untuk menguatkan moral pasukannya, Sa’ad memimpin di depan dan menyeberang. Dia menunggang kudanya masuk ke dalam sungai diikuti oleh pasukannya. Sambil menyeberang, dia berkata: “Hasbunallahu wa ni’mal wakil, Demi Allah, pasti Allah akan menolong wali-Nya, menegakkan agama-Nya dan membinasakan musuh-Nya.”

Keyakinan Sa’ad yang kokoh terhadap pertolongan dan bantuan Allah kepada wali-Nya ini tidak mutlak, tetapi dengan persyaratan yang dia ungkapkan sendiri: "Selama dalam pasukan tidak ada orang yang melampau batas atau perbuatan dosa yang melampaui kebaikan".[x]

Semangat tempur ini memiliki beberapa rambu, yang urgen di antaranya adalah:

Satu, Kekuatan dan keberanian, serta tidak ragu dalam menghadapi segala tantangan. Lantaran itu, Sa'ad menggelari batalyon pertama yang menerobos sungai Tigris dengan “katibah al-ahwal” (ahwal: tantangan berat, pent.).

Benar, langkah Sa’ad merupakan suatu keputusan yang sangat beresiko, karena menyeberangi sungai sebesar sungai Tigris membutuhkan tekat dan keberanian. Dalam konteks ini, sangat tepat ungkapan penyair:

"Jika anda memiliki ide, anda juga harus memiliki tekat.

Karena yang justru merusak suatu ide adalah keragu-raguan".

Generasi awal umat ini sungguh telah menunjukkan kekuatan dan keberanian luar biasa. Tidak berlebihan bila raja Mesir dalam menggambarkan para penakluk berujar: "Andai mereka harus menghadapi gunung, niscaya mereka akan mampu menggulingkannya".[xi]

Serupa dengan itu, deskripsi seorang tokoh Kristen tentang keberanian tentara Islam yang menaklukkan Spanyol: "Sungguh telah masuk ke negeri kami bangsa yang kami tak tahu, apakah dari langit mereka turun, atau dari perut bumi mereka keluar?"[xii]

Dua, keteladanan merupakan kunci antusiasme. Jika seorang pimpinan pasukan berada pada barisan terdepan, niscaya para prajurit tidak akan ragu untuk ikut dan menempuh jalannya. Kepribadian seorang komandan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memompa semangat dan membangkitkan spirit patriotisme. Para pemimpin sejati hanya akan tampak keunggulan dan jati dirinya justru pada waktu-waktu yang sulit dan genting.



Tiga, yakin terhadap pertolongan dan bantuan Allah. Yakin dengan janji Allah kepada wali-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

{ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ} (الحج:40)

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa".

Juga dalam firman-Nya:

{ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} ( العنكبوت: 69)

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik".



Empat, dosa dan maksiat termasuk di antara sebab utama tertundanya pertolongan Allah berikut datangnya kekalahan dan kerugian. Dalam konteks ini, orang-orang beriman sesungguhnya tidak bertempur dangan senjata saja, tetapi juga dengan ketaatannya kepada Allah.

Abu Darda radhhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian murid-muridnya: "Beramalshalihlah kalian sebelum berperang, karena sesungguhnya kalian bertempur dengan amal-amal kalian".[xiii]

Menyadari bahaya maksiat terhadap keberhasilan dakwah merupakan salah satu sarana utama agar dapat bertobat dan meninggalkannya. Sebaliknya, sikap lalai dan menganggap enteng perbuatan maksiat hanya akan melahirkan barisan dakwah yang rapuh, yang tidak akan mampu memikul tanggung jawab dakwah sebagaimana mestinya.

Anehnya, dalam banyak kesempatan, kita justru lebih sering bertanya, mengapa pertolongan Allah tidak kunjung datang? Mengapa serangan musuh dakwah tak pernah berhenti? Mengapa sebagian program dakwah kita tidak membuahkan hasil yang diharapkan?

Lebih aneh lagi, kita sering kali menjawab pertanyaan seperti itu sebagai sebuah sunnatullah. Tentu itu merupakan salah satu jawabannya. Tetapi selain itu, ada juga faktor-faktor lain yang harus senantiasa diingat. Antara lain adalah faktor dosa dan kemaksiatan kita, yang mengakibatkan kekalahan dan mengaburkan jalan kemenangan. Tepatlah firman Allah:

{ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ } ( البقرة: 124)

"Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".



Kedua: Berlapang Dada Terhadap Orang Lain

Setelah berhasil menaklukkan Persia dan Irak, Sa'ad bekerja membangun kota Kufah. Ia menetap di sana bersama para sahabatnya. Di tengah itu semua, suatu peristiwa ganjil terjadi. Sekelompok penduduk Kufah mengadukan Sa’ad kepada Amirul Mu'minin Umar ibn Khattab radhhiyallahu ‘anhuma terkait kasus yang amat ganjil. Mereka menuduh Sa’ad sebagai "tidak tahu tata cara shalat yang benar."[xiv]

Subhanallah, salah seorang di antara sepuluh sahabat yang telah dijamin sorga tidak tahu tata cara shalat yang benar? Alangkah keji tuduhan mereka!

Umar ibn Khattab, dengan segala kecerdasan dan kepiawaian, serta pengetahuannya tentang sosok Sa'ad; tahu benar bahwa hal itu adalah dusta belaka. Tetapi karena posisinya sebagai Amirul Mu'minin, maka ia tetap berkewajiban untuk mengkonfirmasi tuduhan tersebut.

Umar kemudian mengirim surat kepada Sa'ad, bertanya dengan lemah lembut: “Wahai Abu Ishaq (kunyah Sa’ad, pent), sekelompok penduduk Kufah menganggap engkau tidak menguasai tata cara shalat dengan baik.”

Sa’ad membalas surat itu: “Demi Allah, sungguh aku memimpin shalat mereka sebagaimana tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku tidak menyimpang daripadanya. Aku shalat Isya dengan memanjangkan dua raka'at pertama, lalu memendekkan dua raka'at terakhir.”

Umar balik membalas: "Begitulah yang kami sangkakan kepadamu, wahai Abu Ishaq".[xv]

Akan tetapi, untuk lebih jelasnya, Umar mengutus seseorang untuk bertanya langsung kepada penduduk Kufah tentang Sa'ad. Tidak satu mesjid pun kecuali ia masuki dan bertanya. Hasilnya, mereka semua memuji Sa’ad, sampai orang itu memasuki masjid Bani ‘Abs. Seseorang di antara mereka yang bernama Usamah ibn Qatadah seraya berdiri, berkata: "Kalau engkau bertanya kepada kami tentang Sa’ad, maka sesungguhnya dia itu tidak mau memimpin pasukan kompi, tidak membagi jatah secara merata, dan tidak adil dalam memutuskan suatu perkara”.

Subhanallah, mungkinkah hal seperti itu bisa terjadi pada pribadi yang pernah ditebus oleh Rasululullah dengan kedua orang tuanya, dan menggembirakannya dengan sorga? Alangkah keji kezaliman dan aniaya yang mereka lakukan.

Mendengarkan tuduhan seperti itu, Sa'ad hanya berkata: "Demi Allah, saya akan berdoa kepada Allah atas orang itu tiga hal. Ya Allah, jika hambamu tersebut dusta, ia berdiri karena pamer dan mencari popularitas, maka panjangkanlah umurnya, jadikan dia papa dalam masa yang lama, dan jerumuskan dia dalam berbagai fitnah."

Allah mengabulkan doa Sa’ad. Demikianlah sehingga kelak, setiap kali orang tersebut ditanya atas derita dan kehidupannya yang malang, ia hanya bisa menjawab: "Aku adalah orang tua yang terjerumus dalam banyak fitnah. Aku ditimpa akibat doa Sa'ad".[xvi]

Selanjutnya, dengan kebijaksanaannya, Umar ibn Khattab menurunkan Sa'ad dari jabatannya. Sebagai langkah preventif mencegah terjadinya fitnah di tengah masyarakat, di samping untuk menghapus perdebatan dan gosip terhadapnya.

Namun Umar tetap menghormati kedudukan Sa’ad. Makanya, saat Umar dirawat akibat ditombak (oleh Abu Lu’luah, pent.), ia memasukkannya sebagai salah seorang dari enam anggota dewan syura (untuk memilih khalifah, pent.).

Kepada dewan syura itu, Umar berpesan: "Kalau kepemimpinan jatuh ke pundak Sa'ad, maka ia adalah orang yang sangat kapabel untuk itu. Kalau tidak, maka siapa pun di antara kalian yang kelak terpilih menjadi pemimpin, maka hendaknya ia memanfaatkan Sa’ad. Sesungguhnya aku pernah mencopot jabatannya, bukan karena dia tidak kapabel, dan juga bukan karena ia pernah khianat".[xvii]

Sungguh mengherankan sikap kelompok tertentu yang gemar mencoreng kehormatan para sahabat Nabi, dan dengan cara yang keji. Mereka mendiskreditkan sahabat dengan berbagai kedustaan. Perhatikan, bagaimana mereka pura-pura lupa terhadap keutamaan dan sejarah para sahabat Nabi. Keutamaan yang sesungguhnya luar biasa serta sejarah yang penuh dengan kisah kepahlawanan, jihad dan pembelaan terhadap agama ini.

Dari peristiwa ini ada pelajaran berharga lain. Yaitu jika pelecehan dan tindakan aniaya bisa terjadi terhadap pribadi seperti Sa'ad dan shahabat lain, maka tentu terhadap orang selain dan setelah mereka, seperti ulama, dai dan orang yang berjasa lainnya lebih memungkinkan.

Sebagian manusia yang lemah agama dan rasa takutnya kepada Allah sangat mudah mengeluarkan perkataan untuk mendiskreditkan dan menjatuhkan kehormatan ulama dan dai. Manusia seperti ini sengaja mencari-cari kekurangan para ulama dan dai, bahkan tak segan-segan berdusta atas nama mereka.

Untuk manusia seperti itu, tepat firman Allah:

{ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا } ( الأحزاب: 58)

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata".

Sangat tegas pengingkaran Rasulullah terhadap manusia seperti ini, dalam sabdanya: "Wahai manusia yang mengaku muslim dengan ucapannya, sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya; janganlan kamu menyakiti orang-orang Islam. Jangan mencela dan mencari-cari kekurangan mereka. Barang siapa suka mencari-cari kekurangan saudaranya, niscaya Allah akan mencari-cari kekurangannya. Dan barang siapa dicari-cari kekurangannya oleh Allah, niscaya Allah akan buka kekurangannya, meskipun ia berada di tengah rumahnya".[xviii]

Sudut pandang ini, di sisi lain, bisa meringankan beban orang-orang shaleh dari para ulama dan dai kita yang terlanjur dicemarkan namanya, dengan berbagai tuduhan dusta. Manusia yang telah direkomendasi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun, yang kebesaran dan kedudukannya disepakati oleh umat, dicela dan tidak bebas dari tuduhan. Bagaimana pula manusia yang di bawah mereka, dari segi ilmu dan agama.

Kepada mereka yang suka melontarkan tuduhan, tidakkah mereka takut terhadap akibat doa, sebagaimana doa Sa'ad radhhiyallahu ‘anhu? Di antara pesan yang indah, Hasan ibn Sufyan, salah seorang ulama hadits terkemuka, pernah berpesan kepada seorang muridnya yang telah membuat repot gurunya: "Takutlah pada Allah, karena durhaka kepada guru. Boleh jadi ada doa-doa mereka atas kamu yang terkabulkan".[xix]


Ketiga: Mengisolir fitnah

Ketika perselisihan terjadi di antara sahabat, banyak tokoh dari kalangan sahabat yang mengisolir diri dari dua kelompok yang bertikai. Yang menonjol di antara mereka adalah: Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdullah ibn Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.

Sebuah kehidupan yang penuh dengan jihad dan pengorbanan. Sa’ad adalah sosok yang sejak kecil ikut dalam barisan utama para mujahidin, ia termasuk panglima mujahidin, ia habiskan masa mudanya hingga usia tuanya dalam berjaga, maju dan berkorban di jalan Allah. Akan tetapi, ketika ia melihat pertikaian di antara sahabat, ia menggantung pedangnya dan mengisolir diri, sehingga ia tidak terlibat dalam perang Jamal, perang Shiffin dan proses arbitrase.[xx]

Tentu dapat diprediksi bahwa akan banyak orang yang datang kepadanya bertanya tentang sikapnya. Mengingat bahwa medan perang adalah medan dan keahliannya. "Aku telah berjihad”, jawab Sa’ad dengan tegas, “sedang aku tahu tentang jihad. Aku tidak akan menyiksa diriku, walau yang datang kepadaku adalah orang yang lebih baik dariku. Aku tidak akan berperang sampai mereka memberiku pedang yang memiliki dua mata dan mulut, sehingga dapat berbicara dan mengatakan: ini mu’min, dan ini kafir”.[xxi]

Sebagai bentuk sikap wara’nya, ia menyibukkan diri mengurus ternak demi menghindari fitnah. Putranya, Amir ibn Sa’ad, bercerita bahwa suatu waktu Sa’ad berada di tengah-tengah ternak ontanya. Saat itu datanglah putranya yang lain: Umar bin Sa’ad. Tatkala Sa’ad melihatnya, ia berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan pengendara ini”.

Setelah Umar turun dari kendaraannya, ia berkata kepada ayahnya: ”Apakah engkau sibuk mengurus onta dan dombamu, sedang kebanyakan orang sibuk membagi kekuasan di antara mereka?”

Maka Sa’ad memukul dada Umar seraya berkata: Diam! Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Seseungguhnya Allah mencintai hambanya yang bertaqwa, kaya dan menyembunyikan diri”.[xxii]

Dalam riwayat lain, ia mengatakan kepada putranya: "Wahai anakku, apakah dalam urusan fitnah engkau menyuruh aku menjadi pimpinan? Demi Allah, tidak sama sekali; sampai aku diberi pedang yang jika aku pakai untuk memenggal orang beriman maka ia terpental, dan jika aku pakai untuk memenggal orang kafir maka ia membunuhnya. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bertaqwa, kaya dan menyembunyikan diri".[xxiii]

Meskipun ia mengisolir diri dari dua kelompok yang bertikai, ia tetap melarang mencela para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibn Musayyab bercerita bahwa ada seseorang yang mencela Ali, Thalhah dan Zubair. Maka Sa'ad melarangnya dengan mengatakan: “Jangan kamu mencela saudara-saudaraku!”

Tetapi orang itu tidak mau menghentikannya. Maka Sa'ad shalat dua raka'at lalu berdoa kepada Allah atas orang tersebut. Sekonyong-konyong datanglah seekor onta dan menerobos ke tengah orang banyak. Onta itu lalu membanting orang tadi dan menginjak persis pada dadanya ke lantai. “Aku menyaksikan banyak orang mengikuti Sa'ad sambil mengatakan, ‘Berbahagialah wahai Abu Ishaq, doamu telah dikabulkan". Demikian cerita Ibn Musayyab.[xxiv]

Sikap yang benar terhadap fitnah sebagaimana di atas merupakan manhaj praktis bagi setiap muslim sepanjang masa, yang rambu-rambunya adalah:

1. Ketika Sa'ad meminta pedang yang memiliki mulut, yang dapat menyampaikan kepadanya bahwa ini seorang muslim agar dapat dia hindari, dan bahwa ini seorang kafir agar ia dapat membunuhnya. Hal ini menunjukkan rasa takutnya yang sangat tinggi untuk menumpahkan darah muslim.[xxv] Sebab saat fitnah dan kekacauan terjadi, serta bendera kebenaran menjadi kabur, maka sikap yang tepat adalah menjauhkan diri darinya.

Rasulullah bersabda: "Muslim sejati adalah muslim yang semua kaum muslimin lainnya merasa selamat dari (perbuatan) lisan dan tangannya".[xxvi]

Sikap menghindar saat fitnah terjadi sama sekali bukan sikap lemah dan pengecut. Bahkan ia merupakan sikap bijak yang akan menyelamatkan seseorang dari jurang musytabihat. Hal ini tidak hanya berlaku dalam situasi pertarungan politik, atau saat terjadi peperangan; tetapi juga merupakan manhaj orang-orang shaleh dalam setiap perbedaan yang samar-samar yang terjadi di antara para ulama, atau para dai, bahkan di antara kelompok-kelompok Islam.

Di antara catatan yang penting di sini, bahwa sebagian orang yang tak berilmu dan yang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka tidak pernah tampil dalam amal-amal yang nyata dan disepakati. Mereka hanya muncul saat terjadi fitnah wal ‘iyazubillah. Sikap seperti ini merupakan bukti seseorang jauh dari rahmat dan taufiq dari Allah.

Ali pernah menasehati salah seorang provokator fitnah. “Tatkala kesatuan kaum Muslim masih utuh,” kata Ali, “engkau tidak memberi sumbangsih kebaikan sama sekali. Namun tatkala fitnah terjadi, engkau muncul sebagai bintang seperti munculnya tanduk seekor kambing".[xxvii]

2. Sa'ad mampu membedakan antara dua bendera besar: bendera jihad, yang dia kenal dan ikut berjuang di jalan Allah demi tegaknya bendera tersebut; dan bendera fitnah. Bendera jihad adalah bendera suci yang tampak jelas barisan di dalamnya, jelas bentuk kebenarannya, dan merupakan sarana bagi orang-orang shaleh untuk bertaqarrub demi menggapai ridha Allah. Sedang bendera fitnah adalah bendera yang tidak jelas tujuannya, yang di dalamnya bercampur hawa nafsu dan dibumbuhi dengan kesesatan.

3. Sa'ad tidak memburu kekuasaan, tidak ambisi terhadap jabatan dan kehormatan dunia. Ia justru banyak mengasingkan diri dan menuntut akhirat. Jati diri seorang pahlawan biasanya tidak muncul saat kesenangan melimpah, tapi akan tampak pada waktu-waktu sulit dan genting.

Sa'ad bin Abi Waqqash di sini memberi suatu contoh yang dapat diteladani dalam pembinaan nilai-nilai tarbawiyah dan akhlak yang suci. Bahwa para pejuang yang rabbani tidak mengharap sesuatu selain ridha Allah dan kebahagiaan hari akhirat. Dalam hal ini, mereka mengikuti petunjuk para nabi shallahu 'alaihim wasallam. Allah berfirman:

{ وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِين) (الشعراء : 109)

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam".

Allah juga berfirman:

{ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ) (الأنعام :90)

"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).’ Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat".

Rasulullah bersabda: "Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepas di tengah gembala kambing, lebih berbahaya daripada ambisi seseorang terhadap harta benda dan jabatan dengan mempertaruhkan agamanya".[xxviii]

4. Di antara kepandaian Sa'ad, ia selalu komitmen dengan nash syariat, sehingga sikapnya tidak berdasar pada logika semata. Tetapi merupakan hasil ijtihad yang dibangun di atas dasar petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbahagialah orang yang senantiasa komitmen dengan Sunnah dan tidak melampau batasannya.[xxix]

Terakhir,

Pemaparan biografi para sahabat bukan hanya sekadar pelajaran sejarah atau sumber kebanggaan atas para leluhur. Namun seharusnya menjadi sumber inspirasi untuk menjadikan mereka sebagai panutan dalam berbagai sisi kehidupan. Dengan meneladani petunjuk akhlak dan etika mereka, serta mentransformasikan nilai-nilai tarbawiyah mereka dalam kehidupan kontemporer. Pemaparan biografi tersebut sekaligus menjadi sanggahan terhadap ahlul ahwa yang sering kali sengaja menjatuhkan nama baik dan mendiskreditkan mereka.



{ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ}

"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha



[i] Diriwayatkan oleh Ahmad, III/209, no. 1675; dan Tirmidzi dalam Kitab al-Manaqib, no.3747. Arnauth dalam edit al-Musnad menulis: “Sanadnya kuat, sesuai dengan kriteria Muslim.”

[ii] Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Sa'ad pernah berkata: "Sungguh saya melihat diriku sebagai sepertiga (pemeluk) Islam." Juga perkataan Sa’ad: "Sungguh saya pernah tinggal selama sepekan, sedang saya sepertiga (pemeluk) Islam." (Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha’il al-Shahabah, VIII/439, no. 3726 dan 3727.

[iii] Kata Sa'ad: "Kami pernah berperang bersama Rasulullah, sedang kami tidak memiliki makanan selain daun-daun pohon, sampai-sampai seseorang di antara kami makan sebagaimana onta atau kambing, makan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya." Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha’il al-Shahabah, VIII/439, no. 3728. Lihat juga: al-Maghazi wa al-Siyar, h. 194; al-Rawdh al-Unuf, II/127-128.

[iv] Kata Sa'ad: "Sungguh akulah orang Arab pertama yang melemparkan panah fii sabilillah." Atsar diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Shahabah, VIII/439, no. 3728.

[v] Siyar A'lam al-Nubala', I/97. Lihat juga: Ibn Sa’ad, al-Thabaqat al-Kubra, III/142.

[vi] Ibn Sa’ad, “al-Thabaqat,” III/142.

[vii] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-Jihad wa al-Siyar, VIII/181, no. 2905.

[viii] Diriwayatkan oleh Tirmizi dalam Kitab al-Manaqib, no. 3752; dan dinilai shahih oleh Albani dalam Shahih al-Tirmidzi, no. 3752.

[ix] Demikian ungkapan Abdurrahman ibn ‘Auf ketika diminta pendapatnya oleh Umar ibn Khattab tentang pemimpin pasukan kaum Muslim ke Iraq. Lihat: al-Bidayah wa al-Nihayah, IX/614, ed. Dr. Abdullah al-Turki.

[x] Al-Bidayah wa al-Nihayah, X/10-12.

[xi] Al-Maqrizi, al-Mawa’izh wa al-I’tibar, I/265.

[xii] Al-Bayan al-Mugrib fii Akhbar al-Andalus wa al-Maghrib, II/8. Di antara yang menyedihkan, seorang pemimpin Kristen yang lain mendeskripsikan penduduk Spanyol setelah jatuhnya ke tangan mereka bahwa: “Mereka tidak beragama, pengecut dan tidak berakal.” Ibid., III/90. Dengan membandingkan dua kondisi tersebut, tampak jelas bagaimana proses suatu bangsa berjaya dan runtuh.

[xiii] Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mubarak dalam Kitab al-Jihad, h. 61; dan Imam Bukhari dalam satu bab tersendiri dalam Kitab al-Jihad: Bab Amal Shaleh Sebelum Berperang, dan Perkataan Abu Darda’: “Kalian hanya berperang dangan amal-amal kalian.”

[xiv] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-Adzan, II/651, no. 755.

[xv] Ibid.

[xvi] Ibid.

[xvii] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Fada’il al-Shahabah, VIII/404, no. 3700.

[xviii] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Kitab al-Birr wa al-Shilah, no. 2032, dan dinilai hasan oleh Albani dalam Ghayatul Maram, h. 240.

[xix] Siyar A’lam al-Nubala’, XIV/159; dan Tadzkirah al-Huffazh, III/705.

[xx] Siyar A’lam al-Nubala’, I/122.

[xxi] Ibn Sa’ad, Al-Thabaqah al-Kubra’, III/143; dan Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliya’, I/94; dan oleh al-Haitsami, Majma’ al-Zawa’id, VII/299, hadits ini dirujuk kepada: al-Thabrani, al-Kabir. Selanjutnya ia mengatakan: “Rijal sanadnya shahih.” Tepatlah apa yang ia katakan, hanya saja sanadnya putus; tetapi ada syawahid yang membuat derajatnya terangkat.

[xxii] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Zuhdu wa al-Raqa’iq, IV/2277, no. 2965; Tirmizi mengatakan: “Yang dimaksud dengan ‘al-ghaniy/kaya’ adalah kaya jiwa, inilah kekayaan yang dicintai, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘ Tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya jiwa,’ sedang al-Qadhi mengisyaratkan bahwa kekayaan yang dimaksud adalah kekayaan harta.” Lihat: Syarh Shahih Muslim, XVIII/100.

[xxiii] Diriwayatkan oleh Ahmad, III/112, no. 1529; dan dinilai shahih oleh Arnauth.

[xxiv] Dinisbatkan oleh al-Haitsami sebagaimana dalam Majma’ al-Zawaid, IX/154, kepada al-Thabrani; dan ia mengatakan bahwa rijal sanadnya adalah rijal kitab al-Shahih. Diriwayatkan juga oleh al-Dzahabi, dengan sanadnya, dalam Siyar A’lam al-Nubala’, I/166; dan ia mengatakan: ”Kisah ini memiliki banyak jalur sanad, dan diriwayatkan oleh Ibn Abi al-Dun-ya dalam Mujabi al-Da’wah.”

[xxv] Abdullah ibn Umar berkata: “Di antara perkara yang membinasakan, yang tak ada jalan keluar bagi orang menjerumuskan diri masuk ke dalamnya, adalah menumpahkan darah yang haram, tanpa ada alasan yang menghalalkannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-Diyat, no. 6863.

[xxvi] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-Iman, no. 10; dan Muslim dalam Muqaddimah-nya, no.41.

[xxvii] Siyar A’lam al-Nubala’, I/120.

[xxviii] Diriwayatkan oleh Tirmizi dalam Kitab al-Zuhd, no. 2376; dan ia mengatakan: ”Hasan shahih;” dan dinilai shahih oleh Albani dalam Shahih al-Tirmidzi, no. 2376.

[xxix] Dikutip dari perkataan Said ibn Jubair rahimahullah: “Orang yang berhenti pada apa yang ia dengar sungguh telah bersikap yang benar.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Iman, no. 220.

Senin, 07 November 2011

Ibrahim Sang Teladan

Setiap memasuki bulan Dzulhijjah (idul adha), memori sejarah kita kembali membuka dirinya. Ia mengajak kita mengenang kembali satu manusia agung yang menciptakan arus besar sejarah ummat manusia dan membentuk arah kehidupan kita. Dialah Ibrahim ‘alaihissalam, salah seorang Rasul Ulul Azmi.

Ada dua keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim. Pertama, beliau adalah seorang Nabi yang disebut Allah sebagai “ummat”. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat (imam) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” [QS. al-Nahl: 120].

Yang kedua, Allah juga menyebut Ibrahim sebagai qudwah, teladan. Dalam Al Qur’an, hanya dua sosok yang disebutkan secara tegas sebagai teladan, yaitu Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam (QS al Ahzab: 21) dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (QS Al Mumtahanah: 4).

Atas dua pertimbangan tersebut, kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi sangat penting diperhatikan. Banyak hal yang dapat diteladani dari kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Artikel ini akan menguraikan empat hal yang hendaknya diteladani dari kehidupan Nabi bergelar khaliilullah (kekasih Allah) tersebut.

Pertama, Ketundukan secara Total kepada Ketentuan Allah.

Nabi Ibrahim diperintahkan Allah membawa keluarganya ke Makkah yang saat itu belum dihuni seorang manusia pun. Beliau bersama anak dan istri tercinta menempuh jarak yang tidak dekat. Namun rasa penat belum lagi hilang, keringat belum mengering, beliau diperintahkan Allah pergi meninggalkan keluarganya di lembah tandus tak berpenghuni.
Beliau pergi dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah. Sikap taat ini tidak hanya dimiliki Ibrahim, tetapi tertanam pula di dalam sanubari sang istri dan mengalir dalam darah dan daging sang anak, Ismail ‘alaihissalam.

Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki seorang Muslim. Senantisa tunduk dan patuh kepada setiap perintah Allah. Inilah hakikat dan bukti komitmen keislaman kita. Sebab, hakikat Islam adalah ketundukan secara total kepada sang Pencipta. Seorang Muslim ketika berhadapan dengan perintah Allah, maka yang terbesit dalam pikirannya adalah usaha menunaikan perintah tersebut.

Kedua; Konsistensi dalam Memegang Prinsip.

Ibrahim ‘alaihissalam adalah teladan dalam keteguhan memegang prinsip dan aqidah yang diyakininya. Demi mempertahanan keyakinannya, beliau berhadapan dengan seorang penguasa dzalim yang memaksakan pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Bahkan beliau dilemparkan ke dalam kobaran api,sebagai balasan yang harus beliau rasakan setelah menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya.Ibrahim melakukan hal itu dalam usia yang masih sangat muda. Hal ini sebagaimana diabadikan dalam ayat Al Qur’an :” Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim (QS Al Anbiya :58-60).

Ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim tidak hanya berasal dari luar. Bahkan ujian dalam keluarga juga menjadi bagian dari cobaan yang harus dilewati oleh Ibrahim ‘alaihissalam dalam mempertahankan dan memperjuangkan idealisme aqidah tauhid.

Dalam ayat Al Qur’an Allah mengabadikan dialog antara Ibrahim dengan ayahnya yang penyembah bahan pembuat berhala. Azar, ayah Ibrahim, mengancam akan merajam Ibrahim jika beliau tidak menghentikan da’wah tauhidnya. Dialog tersebut dapat kita baca dalam QS:Maryam: 46.

Ibrahim adalah sosok yang teguh mempertahankan idealism,bukan hanya disaat masih muda. Tetapi beliau terus mempertahankan idealismenya higga usia tua bahkan sampai mati.Hal tersebut Nampak dengan jelas ketika beliau mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putra tercinta ,Ismail ,anak satu-satunya yang telah dinantikan kehadirannya semenjak bertahun-tahun. Ibrahim ‘alaihissalam menaati perintah Allah tersebut yang secara psikologis terasa lebihberat dari sekadar meluluhtantakkan berhala. Ini membuktikkan kepada kita Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua.

Inilah yang sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa ini. Jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya mengkritik system tetapi diusia tuanya menjadi bagian dari siste rusak yang dahulu sewaktu Mahasiswa selalu dikrtiknya.Jangan sampai ada aktivis pegrerakan yang getol menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justeru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi, padahal dahulu sangat ditentangnya.

Sebagai pemuda dan mahasiswa muslim hendaknya meneladani Nabi Ibrahim dalam mempertahankan keyakinan. Bersabar saat diuji dengan kesulitan dan bersabar pula tatkala duji dengan kemudahan dan kemewahan. Banyak orang yang sanggup bertahan ketika diuji dengan kesulitan, tetapi tidak berdaya saat diuji dengan kemudahan. Sering kita dengar, mantan aktivis organisasi mahasiswa menjadi pragmatis setelah hidup mapan. Padahal sewaktu kuliah mereka dikenal sebagai aktivis dengan idealisme yang kokoh.

Sewaktu menjadi anggota “parlemen jalanan” mereka begitu vocal menyampaikan kritik terhadap penguasa,tetapi ketika menjadi anggota parlmen sungguhan ,mereka justru mengamini bahkan mendukung berbagai kebijakan penguasa yang tidak memihak kepada kepentingan ummat.Padahal dahulu merekalah yang paling nyaring suaranya mengkritik hal tersebut.

Mari renungkan peringatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidziy dalam Sunannya :
"Janganlah kamu menjadi imma’ah (orang yang ikut-ikutan) dengan mengatakan kalau orang lain berbuat baik, kamipun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya" (HR. Tirmidzi).

Ketiga, Peka Problem.

Ibrahim ‘alaihissalam adalah sosok yang peka problem. Ketika tidak ada orang yang peduli bahkan larut pada penyimpangan aqidah di masyarakat seperti menyembah bintang dan berhala, sensitifitas Ibrahim sebagai seorang yang bertauhid muncul. Ia bangkit mengubah penyimpangan aqidah tersebut.

Ditempuhnya berbagai macam cara dan sarana untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Ia berdialog dengan hikmah, debat dengan cara terbaik (ahsan) bahkan sampai melakukan tindakan secara fisik (mengubah dengan tangan). Patung-patung yang disembah kaumnya dengan kapak hingga hancur berantakan.

Sebagai pemuda dan mahasiswa Muslim yang memiliki idealisme, harusnya peka terhadap berbagai problem yang melanda Ummat Islam. Peka problem juga bermakna pemuda Muslim harus mampu mengendus problem paling krusial yang menimpa ummat.
Sesungguhnya problem paling pelik yang menimpa ummat Islam hari ini tidak berbeda dengan masalah yang dihadapi nabi ibrahim yaitu masalah kerusakan aqidah. Upaya perusakan aqidah tersebut diusung dengan jargon-jargon yang kelihatannya ilmiah.

Upaya dekontrusi syari’ah, liberalisasi, bahkan sampai desakralisasi kitab suci disebarkan dengan kemasan yang mengatasnamakan pembaharuan dan pencerahan.
Pemuda Muslim seharusnya berada di garda terdepan dalam menghadang berbagai upaya penodaan dan perusakan terhap Islam. Sebagaimana dahulu Nabi Ibrahim memberantas kerusakan aqidah di tengah-tengah ummatnya.

Keempat, Bertindak Cerdas.

Ibrahim ‘alaihissalam telah memadukan antara sikap kritis dan peka problem dengan kecerdikan dalam bertindak. Sikap kritis tidak lantas membuat beliau bertindak tanpa perhitungan. Betul, beliau menghancurkan patung-patung yang disembah oleh Namruz dan rakyatnya. Tetapi beliau telah menyiapkan argumen yang cerdas untuk menjawab tuduhan dan tuntutan para penyembah berhala tersebut.

Beliau tidak menghancurkan semua patung yang ada. Beliau masih menyisakan satu patung yang paling besar dan meletakkan kapak di leher patung tersebut. Maksudnya adalah la’allahum ilaihi yarji’uun, agar mereka kembali kepadanya. Ibrahim hendak menghentak kesadaran mereka bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya keliru dan bertentangan dengan fitrah serta akal sehat.

Mereka kemudian tersadar bahwa sesembahan yang mereka ibadahi adalah Dzat yang tidak pantas untuk disembah. Berhala-berhala tersebut tidak sanggup memberi manfaat dan menolak mudharat. Berhala-berhala itu tidak kuasa membela diri ketika dihancurkan Nabi Ibrahim, bahkan hanya untuk sekadar berkata-kata. Jadi, Ibrahim tidak sekadar menghancurkan sarana kesyirikan, tetapi mengajak para pelaku kesyirikan untuk merenung mengakui kesalahan mereka. Wallaahu waliyyuttaufiyq.[Bogor 8/Dzulhijjah/1432 H]
(Dimuat di Eramuslim.com pada tanggal 11 dzulhijjah 1432 H)

Rabu, 16 Februari 2011

Khaibar,Bukti Janji Allah

Dalam upaya memantapkan syiar Islam ke seluruh penjuru dunia, umat Islam seringkali berhadapan dengan sekelompok penantangnya. Pun demikian halnya dengan upaya yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam saat menyiarkan dakwah Islam di Madinah.

Rongrongan dan tantangan kerap kali dilakukan kaum kafir Quraisy, kaum musyrik, orang Yahudi, maupun pasukan dari Nasrani (Byzantium). Namun, dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah, semua rintangan itu berhasil dilewati kaum Muslim dengan kegemilangan dan kemenangan.

Bahkan, di saat harus berhadapan dengan pasukan musuh, Allah pun senantiasa mengirimkan bala bantuan 'tentara tak terlihat' kepada kaum Muslim seperti pada Perang Badar. Itu pula yang dirasakan umat Islam saat berhadapan dengan kaum Yahudi di daerah Khaibar, yakni sebuah kawasan yang terletak sekitar 165 kilometer (100 mil) dari Madinah.

Saat itu, pasukan kaum Muslim berkekuatan sekitar 1.600 orang, sedangkan kaum Yahudi sebanyak 10 ribu orang. Sebuah kekuatan yang sangat tidak berimbang. Atas kehendak Allah, kaum Muslim berhasil mematahkan setiap serangan yang dilakukan kaum Yahudi. Bahkan, dari pihak Yahudi meninggal dunia sebanyak 93 orang, sedangkan kaum Muslimin hanya 15 orang.

Sebelum terjadi peperangan ini, kaum Yahudi melakukan hasutan kepada kaum Ghathafan dan lainnya untuk bersama-sama menyerang kaum Muslim. Kaum Yahudi menjanjikan kepada mereka balasan yang besar, berupa hasil buah-buah dan kurma Khaibar.

Sebagaimana diketahui, wilayah Khaibar terkenal sebagai daerah perkebunan yang sangat subur. Airnya juga sangat melimpah. Tak heran bila Khaibar menjadi kawasan penghasil buah-buah dan kurma yang sangat melimpah. Karena itu, Khaibar sering disebut sebagai negeri Hijaz yang subur atau negeri Hijaz yang kuat.

Pada masa Rasulullah, Khaibar mempunyai pasar bernama Pasar An-Nathah. Pasar ini dilindungi oleh Kabilah Ghathafan. Kabilah Ghathafan menganggap bahwa Khaibar termasuk wilayah kekuasaannya.

Selain itu, di wilayah ini juga banyak perkampungan Yahudi. Bisa dibilang, Khaibar merupakan perkampungan Yahudi terbesar di Jazirah Arab. Mereka adalah masyarakat yang kaya dengan hasil perkebunannya. Selain itu, mereka juga memiliki pabrik penghasil sutera yang indah, pembuat senjata, dan lainnya. Kawasan Khaibar terpusat pada tiga titik, yakni Nathat, Syaqq, dan Katibah.

Karena hasutan kaum Yahudi itu, kaum Ghathafan pun bersedia menjalin kerja sama sebagai orang bayaran untuk menyerang kaum Muslim di Madinah. Menurut Syauqi Abu Khalil dalam karyanya Athlas Al-Qur'an, perjanjian itu dilakukan di beberapa tempat, seperti Fadak, Taima', dan Wadil Qura.

Atas hal ini, Rasul Shallallaahu 'alaihi wasallam pun mempersiapkan pasukannya. Kaum Muslim berjanji saling setia untuk melawan setiap kemungkaran apa pun risikonya demi tegaknya syariat Islam. Janji setia disampaikan mereka kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. Dan, Rasul pun menerima janji setia itu dengan bangga. Rasul memohon kepada Allah agar menyelamatkan dan membantu perjuangan kaum Muslim. Ikatan janji setiap itu dilakukan di bawah pohon di dekat wilayah Khaibar di dekat benteng yang ada di Nathat, tepatnya di benteng Na'im.

Rasul berdoa, "Wahai Tuhan langit dan segala yang ada di bawahnya, Tuhan tujuh lapis bumi dan segala yang ada di atasnya, Tuhan setan-setan dan segala yang menyesatkan, serta Tuhan angin dan segala yang diterbangkannya. Sesungguhnya, kami mohon kepada-Mu kebaikan negeri ini serta kebaikan penduduk dan segala yang ada di dalamnya. Kami berlindung kepada-Mu dan kejahatannya, kejahatan penduduk, dan kejahatan yang ada di dalamnya."

Allah pun mengabulkan doa Rasul Shallallaahu 'alaihi wasallam. "Sesungguhnya, Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka, dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin dan agar Dia menunjukimu kepada jalan yang lurus." (QS Al-Fath [48]: 18-20).

Itulah janji Allah. Dalam peperangan ini, umat Islam berhasil meraih kemenangan yang gemilang. Peristiwa ini terjadi pada Muharram 7 Hijriyah, sebagaimana pendapat Ath-Thabari dalam Tarikh-nya. Namun, pendapat lain menyatakan pada bulan Safar, sebagaimana diungkapkan Al-Waqidi dalam Al-Maghazi. Ibnu Saud dalam Ath-Thabaqat menyatakan pada bulan Jumadil Awal.

Sementara itu, Ibnu Khayyat menyatakan, "Pergerakan pasukan kaum Muslim dimulai pada bulan Muharram, bertempur pada bulan Safar, dan kembali pada hari kesepuluh bulan Rabiul Awal." Namun, mayoritas ulama berpendapat, penaklukan Khaibar terjadi pada bulan Muharram.

Sengit
Peperangan Khaibar ini merupakan salah satu pertempuran kaum Muslim yang paling sengit karena kondisi pasukan Yahudi saat itu sangat kuat, dengan pasukan sebanyak 10 ribu orang. Apalagi, mereka juga didukung sejumlah benteng pertahanan yang sangat kokoh. Disebutkan dalam beberapa literatur, pasukan Romawi yang terkenal dengan ribuan pasukannya belum tentu dapat mengalahkan kaum Yahudi Khaibar ini.

Syauqi Abu Khalil menyebutkan, benteng-benteng yang ada di Khaibar ini sangat banyak dan terbagi di tiga wilayah utama, yakni Nathat, Syaqq, dan Katibah. Di Nathat ada benteng Na'im, Ash-Shuhaib, dan Qillah. Di Syaqq ada dua, yakni Ubay dan al-Bari. Sedangkan, di Katibah ada tiga, yakni Al-Qamush, Al-Wathih, dan As-Sulaim. Dengan sejumlah benteng pertahanan berlapis ini, tentu saja diperlukan strategi yang matang.

Rasul memerintahkan untuk menyerang benteng yang lebih mudah dirobohkan terlebih dahulu, sebagaimana disarankan oleh sahabat Habbab bin Mundzir. Dan, benteng yang pertama kali berhasil direbut itu adalah benteng Na'im yang menjadi gudang penyimpanan makanan.

Dari sekian banyak benteng yang ada, hanya dua yang tidak berhasil direbut karena kaum Yahudi menyerah, yakni Al-Watih dan As-Sulaim. Di sinilah kaum Yahudi menempatkan anak-anak dan wanita. Sedangkan, benteng terbesar dan paling kokoh adalah benteng Al-Qamush.

Pasukan Yahudi dipimpin oleh Sallam bin Misykam. Dalam peperangan Khaibar ini, Sallam berhasil dibunuh oleh pasukan Muslim. Namun, kematian komandan pasukan Yahudi ini tidak menyebabkan pertahanan Khaibar mudah ditembus. Rasulullah bahkan sampai menugaskan Abu Bakar dan Umar bin Khattab untuk menembus pertahanan Khaibar, tetapi tak berhasil. Setelah komando pasukan diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib, pertahanan pasukan Yahudi berhasil dipatahkan.
sumber :Republika