Senin, 11 April 2011

Para Murid Yang Berkhianat

Sejarah JIL Merusak Akidah Islam di Indonesia

(Lanjutan Tulisan "Mengenal Makar Islam Liberal)

Setelah didirikan pada tanggal 8 maret 2001, praktis JIL mulai disibukkan pada serangkaian agenda-agenda penting mereka untuk membumikan garis Islam liberal yang sudah sempat booming pada era 1970-an.

Situs JIL pun launch bertetepatan pada tanggal yang sama. Menurut Budy Munawar Rachman, JIL bukanlah organisasi formal layaknya Muhammadiyah dan NU. JIL hanyalah organisasi jaringan yang lebih bersifat cair dan lepas.

Dalam situsnya, Islam liberal dalam pandangan JIL adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan: Pertama, membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kedua mengutamakan semangat religio-etik dan bukan makna literal teks. Ketika mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Keempat memihak pada minoritas yang tertindas. Kelima meyakini kebebasan beragama. Keenam memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi serta keagamaan dan politik (sekularisme).

Para intelektual muda yang terlibat dalam pengelolaan Jaringan Islam Liberal angkatan pertama adalah: Goenawan Mohammad, Ahmad Sahal, Ulil Abshar Abdalla, Luthfie Asy-syaukanie, Hamid Basyaib dan Nong Darol Mahmada. Bisa dikatakan nama-nama ini pas jika dijuluki sebagai founding father JIL secara kelembagaan.

Namun jika dikerucutkan kembali, kemunculan JIL tidak lepas dari tangan Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) sebagai trimurti berdirinya JIL yang sempat melontarkan wacana itu ketika duduk-duduk di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001.

Lain Guru, Lain Murid

Uniknya, jika kita berkaca pada nama-nama di atas, tak sedikit pengalaman mereka dipenuhi oleh deretan riwayat pendidikan pesantren dan perguruan tinggi Islam yang cukup kuat di Indonesia. Tak jarang pula mereka sempat berguru kepada para Ulama dan dosen yang sangat tulus dan lurus dalam memahami Islam.

Mari kita ulas satu persatu. Ahmad Sahal, misalnya, ia adalah Juara Pertama Pembaca Kitab Kuning dalam ajang Lomba Baca Kitab Kuning di Kampus IAIN Syahid Jakarta tempo dulu.

Sahal juga berasal dari keluarga NU. Pernah mengenyam pendidikan di pesantren Futuhiyyah, Mranggen Demak dan al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri. Atau Ulil Abshar Abdalla, mantan Mahasiwa LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang keluar dari “mainstream”. Ia sempat kuliah di LIPIA pada tahun 1988 sampai 1993 sebelum sempat di drop-out.

Seperti mahasiswa LIPIA pada umumnya, Ulil juga mempelajari kita-kitab Ibnu Taimiyyah yang sangat indah dan bernuansa tauhid sebagai keharusan seorang mahasiswa kala itu. Ulil nyaris saja mendapat gelar sarjana di Fakultas Syari'ah, namun sayang berkah LIPIA urung dia dapatkan hingga kemudian dikeluarkan oleh pihak kampus tanpa sempat menyabet gelar sarjana.

Sebagai santri, Ulil muda juga adalah seorang pelajar di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (wakil Rois Am PBNU periode 1994 1999 dan Rois Am PBNU 2004-2010). Tak hanya itu, Ulil juga pernah “mondok” di Pesantren Mansajul 'Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Berbeda dengan Ulil yang membela Ahmadiyah, KH Sahal Mahfudz justru terkenal keras menentang Ahmadiyah. Romo Kyai -begitu para santri memanggilnya termasuk Ulil- meminta agar Ahmadiyah keluar dari Islam. Beliau terkenal garang dalam mengkritik kalangan muda NU yang memakai jurus “Atas nama HAM” untuk membela kehadiran Ahmadiyah.

KH. Sahal dengan tegas menyatakan bahwa Ahmadiyah mempunyai akidah yang berbeda. KH. Sahal Mahfudz pun telah berkali-kali menyatakan Ahmadiyah sesat dan meminta pemerintah untuk membubarkan dalam kapasitasnya sebagai petinggi Majelis Ulama Indonesia.

Kisah lain guru, lain murid selanjutnya berlanjut jika kita menyebut nama Nong Darol Mahmada. Perempuan muda yang “istiqomah” melepas jilbabnya setelah mangkat dari IAIN Syarif Hdiayatullah Jakarta ini pernah menulis tentang pengalamannya menjadi seorang yang taat beribadah sebelum singgah mengadopsi pemikiran liberal.

“Aku lahir dari keluarga santri. sejak kecil belajar mengaji. Lulus SD, terus nyantri di pesantren Cipasung Tasikmalaya dari SMP-SMA. Padahal orang tuaku punya pesantren dan sekolah.”

Bahkan mantan kader Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) kala kuliah itu terang-terangan mengakui bahwa dirinya berada dalam derajat liberal yang kaffah. Simaklah ucapannya berikut ini:

“Di Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal, kita semua dekat seperti saudara. Yang menyatukan kita adalah kita benar-benar menjadi liberal yang kaffah. Kita merasa satu ide, satu perjuangan.”

Padahal jika kita tarik ke belakang, nama Pondok Pesantren Cipasung bukanlah institusi pendidikan Islam yang bisa dipandang sebelah mata. Pesantren terkemuka di Indonesia ini diasuh oleh sorang ulama kharismatik yang terekam dalam sejarah siap mengadai nyawa demi tegaknya Islam di bumi nusantara.

Pondok pesantren Cipasung Tasikmalaya didirikan pada tahun 1930 oleh almarhum KH. Ruhiat dengan semangat syiar Islam yang besar. Almarhum adalah tokoh yang sangat terkemuka pada zamannya. Beliau demikian teguh memegang prinsip Syariat Islam dan gigih mewarisi pendidikan Pesantren sekali pun halangan dan rintangan menghadang terutama dari pihak Kolonial yang menyebabkan Alm. KH. Ruhiat harus keluar masuk penjara.

Walaupun hidup dalam keadaan mencekam, beliau dengan penuh kesabaran dan ketawakalan kepada Allahuta’ala, tidak henti-hentinya membina pesantren ini dengan ikhlas, memberikan pendidikan dan pengajaran kepada para santri tanpa mengenal lelah siang dan malam. Semuanya itu demi cita-cita mulia yakni mendidik generasi muslim menjadi insan soleh dan takwa di jalan agama.

Bahkan Belanda pernah berusaha membunuh KH. Ruhiat dengan melepaskan serentetan tembakan ke arahnya, namun berkat pertolongan Allah Ta'ala, usaha ini gagal. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada korban dalam aksi penyerangan itu. KH. Ruhiat boleh selamat, namun muntahan peluru tersebut justru mengenai tiga orang santri yang setia bersama almarhum kala itu.

Abdur Rozak yang berasal dari Tawang Banteng dan Ma’mun yang berasal dari Rancapaku keduanya gugur sebagai syuhada. Sedangkan santri lainya bernama Aen, mendapat luka lebar di bagian kepala.

Setelah dahsyatnya ancaman, teror, dan kekejaman datang silih berganti, KH. Ruhiat pun ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Tasikmalaya. Selama kurang lebih sembilan bulan beliau hidup dalam pengasingan dibalik jeruji besi, hingga pada tanggal 27 Desember 1949 beliau baru kemudian dibebaskan.

Namun sekalipun beraneka cobaan dan cerita pahit senantiasa menghampiri, almarhum KH. Ruhiat tergolong Ulama yang sabar dan ikhlas berjuang menyisipkan iman kepada Allah Ta'ala dalam hatinya. Beliau berprinsip sekalipun hidup dalam kondisi sulit, kegiatan mencetak generasi-generasi soleh di pesantren tidak boleh hanyut tergerus waktu apalagi karam diterpa gelombang.

Entah apa jadinya jika KH Ruhiat masih hidup. Perjuangannya yang mesti dibayar dengan darah dan nyawa untuk mempertahankan pesantren bisa jadi sekarang sedang dikhianati oleh santrinya sendiri.

Dalam situs JIL, Nong Darol Mahmada pernah mengritik pemberlakuan hukum wajib berjilbab dalam Islam. Dengan mempersoalkan dalil sahih pemakaian jilbab, ia memulai tulisannya dengan pertanyaan “Benarkah jilbab itu adalah syariat Islam?”

Lantas dengan menelaah buku “Kritik Atas Jilbab” karya Muhammad Said Al-Asymawi yang diterbitkan oleh JIL bulan April 2003, Nong Darol mendelegasikan pernyataan yang justru tidak akan bisa diterima oleh umat Islam. Ia menulis,

“Sebenarnya konsep hijab bukanlah milik Islam. Dalam kitab Taurat, Injil, bahkan sebelum munculnya agama-agama Samawi, (seperti zaman Asyria), tradisi penggunaan jilbab sudah dikenal. Pelembagaan hijab dalam Islam didasarkan pada ayat 24 Surat An-Nur."

Menurut Nong, kalimat dalam ayat itu “hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” adalah merupakan reaksi dari tradisi pakaian perempuan Arab jahiliah karena menurut tafsir Ibnu Katsir, perempuan zaman jahiliah biasa memperlihatkan lehernya. Artinya, ayat jilbab di atas bersifat kondisional.”

Lalu dengan mengutip Abu Syuqqah, Nong menulis bahwa kalimat “yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal…” dalam ayat 33:59, menunjukkan bahwa maksud, penggunaan jilbab adalah untuk membedakan perempuan merdeka dan perempuan budak, bukan pada substansi ajaran Islam. Bahkan lebih jauh lagi, Nong mengomentari bahwa ayat ini menunjukkan ketidakjelasan Islam dalam melihat posisi budak.

“Inilah yang dipahami bersifat elitis dan diskriminatif. Karena dengan ayat ini, ingin membedakan status perempuan Islam yang merdeka dan budak. Di sini dapat dilihat ambiguitas Islam dalam melihat posisi budak. Satu sisi ingin menghancurkan perbudakan, di sisi lain, masih mempertahankannya dalam strata masyarakat Islam misalnya dalam perbedaan berpakaian di atas.” tulis nong.

Kisah "penghianatan" murid kepada guru juga terjadi pada pendiri JIL lainnya yakni Luthfie Asy-Syaukani. Luthfie yang pernah melukai hati umat ketika menyamakan kasus Lia Eden dengan apa yang dialami Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam, tidak lain adalah mahasiswa Prof Naquib Al Attas saat di ISTAC-IIUM Malaysia dalam jenjang Magister.

Berbeda dengan sang murid, Prof Al Attas adalah akademisi yang sangat concern melawan liberalisne, sekularisme, dan pluralisme Agama. Dari kegigihan Prof Al Attas lah lahir nama-nama cendekiawan muslim Indonesia yang kini silih berganti menangkal bahaya penyesatan Jaringan Islam Liberal. Sebutlah seperti DR. Adian Husaini, DR. Syamsuddin Arif hingga DR. Hamid Fahmy Zarkasy.

Dalam menepis bahaya Sekuarisme dimana ada pemisahan antara agama dan politik, serta relasi Islam dan Ilmu, Al Attas sampai membuat satu buku berjudul “Islam and Secularism”.

Al Attas jua lah yang menekankan tiap mahasiswanya untuk tidak minder terhadap Barat. Al-Attas kemudian menuding bahwa konsep ilmu sekular Barat adalah sumber kerusakan terbesar bagi umat manusia saat ini.

Karena itu, saat menjadi Keynote Speaker pada Konferensi Pendidikan Islam di Mekkah, 1977, Al-Attas menggulirkan makalah berjudul ”The Dewesternization of Knowledge.” Dan langkah awal diajukannya untuk membangun peradaban Islam adalah “Islamisasi Ilmu.”
Sekali lagi: Lain guru, lain murid. Sebaliknya, Luthfie amat kagum kepada Barat. Ia pernah mengecam umat muslim yang alergi terhadap sekularisme. Dalam tulisannya, Berkah Sekularisme, yang dimuat pada koran Jawa Pos tahun 2005, Luthfie menyatakan bahwa Sekularisme adalah berkah bagi agama-agama.

“Dalam perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang sangat efektif, bukan hanya dalam meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak.” Tulis Luthfie.

Bahkan saat ditanya, perspektifbaru.com terkait apakah soal agama perlu atau tidak diurusi oleh negara, Luthfie menjawab enteng, “Saya kira tidak perlu.Urusan-urusan yang terkait dengan pemahaman keagamaan biarkan masyarakat yang mengurusi itu.“

Sungguh, andaikan para murid tersebut yakin atas cahaya Islam, mereka bisa jadi tidak sedang berada dalam gerbong-gerbong sejarah kelam seorang murid yang mengkhianati gurunya. Semoga tidak lahir murid-murid seperti ini di waktu-waktu yang mendatang.
(www.eramuslim.com).

Minggu, 10 April 2011

Mengenal Makar Islam Liberal

“Halal, Tapi Tuhan Tidak Suka”. Judul artikel menggelitik ini penulis dapatkan dari sebuah situs “Islam” tertanggal 6/10/2010.

Berkisah tentang sebuah klaim fiqih yang menyatakan murtad bagi seorang muslim adalah hal lumrah, artikel ini kemudian mengqiyaskan pemurtadan yang dilakukan tiap mukmin setara dengan kasus perceraian. Jadi, walaupun halal, tapi Tuhan Tidak suka. Begitu maksudnya.

Rupanya, kalimat Lâ Ikrâha fî ad-Dîn dalam Al Qur’an, bagi sang penulis adalah bukti tidak ada paksaan dalam beragama.

Keterpaksaan dalam beragama hanya akan melahirkan sosok-sosok labil yang tidak memiliki dasar filosofis-rasional dalam beragama. Nyaris mirip dengan memilih Istri.

Bahkan dalam tulisan lain berjudul: “Salahkah Geert Wilders?” salah seorang penulis menyatakan bahwa Ayat-ayat Alquran dan hadis cukup banyak yang membenarkan pandangan Geert Wilders yang mengatakan Al Qur’an kitab bar-bar itu. Di akhir kalimat, sang penulis berujar:

“Orang yang meragukan Fitna Wilders dari sekarang harus menelaah Alquran, hadis-hadis, dan sejarah Islam dengan akal yang sesehat-sehatnya.”

Kisah diatas adalah dua kasus dari bentuk kesesatan situs Jaringan Islam Liberal yang kerap mengeluarkan artikel penyudutan terhadap ajaran Islam. Nama JIL yang sudah tenar akan kenyelenehannya, kini kembali menjadi populer pasca meledaknya Bom Utan Kayu dan seakan menyadarkan kita kembali bahwa JIL memang belum mati.

Betul memang nama JIL sempat redup, setelah desas-desus menyatakan mereka tidak lagi mendapat bantuan asing. Ini disitir dari pendapat Ulil Abshar Abdala yang mengklaim bahwa dana asing itu terakhir diterima oleh JIL pada tahun 2004.

Oleh karena itu, dalam laporan khusus kali ini, kita akan mengupas sejarah, sepak terjang, detik-detik menjelang semakin redupnya JIL, hingga “kebangkitan” kedua JIL di mata publik lewat kiprahnya di dunia politik.

Sejarah Jaringan Islam Liberal

Kisah seputar berdirinya Jaringan Islam Liberal secara lembaga memiliki sejarah panjang. Kisah ini bermula dari sebuah mailing list (milis) bernama islamliberal@yahoogroups.com pada kurun waktu awal milenium. Kala itu masih belum banyak pengikut dari milis ini, mengingat teknologi internet yang saat itu masih relatif baru dan belum populernya imej milis sebagai jejaring sosial di kalangan masyarakat.

Sosialisasi milis ini pun belum tersebar secara merata. Beberapa mahasiswa muslim, alumni IAIN, dan juga dosen masih terpencar untuk disatukan dalam milis ini. Mereka masih bercerai berai pada milis-milis kecil dan kelompok-kelompok kajian di beberapa kalangan.

Namun yang jelas, wacana ataupun isu seputar Liberalisasi Islam bukanlah barang baru. Wacana akan hadirnya Islam liberal secara merata di seluruh daerah sudah sempat dimulai oleh beberapa kalangan, bahkan jauh sebelum ide sekularisasi oleh Nurcholish Madjid mengemuka pada tahun 1970-an.

Setidaknya menurut Greg Barton dalam bukunya “Gerakan Islam Liberal di Indonesia” (Paramadina: 1999), sebuah kelompok diskusi di Jogjakarta tahun 1967 sudah melakukan inisiasi dalam mempopulerkan gagasan liberalisasi pemikiran Islam.

Adalah Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, dan yang aktif terlibat isu Liberalisasi pemikiran Islam di rumah HA Mukti Ali. HA. Mukti Ali sendiri pada tahun 1971 terpilih menjadi Menteri Agama menggantikan KH. M Dachlan (Kabinet Pembangunan I) yang belum habis masa jabatannya, dan melanjutkan jabatan itu selama periode Kabinet Pembangunan II (1973-1978).

Sedangkan nama Ahmad Wahib adalah sosok yang juga menjadi titik penting akan kelahiran JIL. Naas mahasiswa Fisika UGM tersebut meninggal sesaat sebelum berangkat ke kantor Tempo sebagai wartawan pada tahun 1973. Nama Wahib kemudian menjadi tenar setelah itu.

Catatan hariannya yang berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” kemudian dibukukan dan menjadi “bacaan wajib” bagi mahasiswa liberal saat itu dan masih berlanjut hingga kini. Jika ingin tahu bagaimana gagasan liberal pada durasi tahun 60-an, ternyata tidak lah jauh dari masa kini, jika tidak percaya dengarlah kata-kata Wahib berikut ini:

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” (Catatan Harian 9 Oktober 1969)

Tidak hanya itu, nama Ahmad Wahib pun kian santer setelah dijadikan sayembara penulisan essai di bidang pemikiran Islam liberal dengan tajuk “Ahmad Wahib Award”.

Pada tahun 2008 misalnya, tema-tema yang diangkat untuk ditulis nyaris mengkultuskan Wahib seperti “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Ahmad Wahib dan Kebinekaan Indonesia”; “Ahmad Wahib dan Islam Warna-Warni: Menyikapi Perbedaan dalam Ber-Islam”; “Berpikir Bebas bersama Ahmad Wahib, Siapa Takut?”. Juara pertama akan mendapatkan hadiah Rp. 20 Juta. Sebuah angka fantatis bagi mahasiswa S1 kala itu.

Menurut Budi Handrianto, dalam bukunya “50 Tokoh Islam Liberal Indonesia” (Hujah Press: 2007), selain nama-nama di atas ada tokoh lainnya yang berperan penting dalam perjalanan liberalisasi pemikiran di Indonesia, yakni tiga serangkai pemikir sekaligus birokrat: Harun Nasution, Abdurahman Wahid, dan Munawir Sjadzali.

Kembali ke masasalah milis, melihat animo yang cukup banyak, jejaring maya ini memiliki daya tahan cukup lama. Muka-muka baru pun muncul mewarnai diskusi seiring derasnya buku-buku liberal hadir di tengah masyarakat.

Dominasi periodeisasi pra kelahiran JIL masih dikuasai basis sedimentasi anak-anak Ciputat, juga tak sedikit dari alumni Barat dan para akademisi Jojga yang direpresentasikan mahasiswa IAIN Jogjakarta dan UGM. Dari serangkaian diskusi-diskusi inilah kemudian tergagas keinginan untuk membentuk suatu wadah bernama Jaringan Islam Liberal.

Pada tahun 2001 akhirnya Jaringan Islam Liberal (JIL) resmi didirikan di Jakarta. Menurut Luthfi Asy Syaukanie, salah satu pentolan JIL dan lulusan Melbourne, organisasi (lebih tepatnya gerakan) ini melengkapi munculnya organisasi Islam serupa yang sudah ada lebih dulu seperti, Rahima, Lakpesdam, Puan Amal Hayati, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ).

Sejak awal, menurut Luthfi Asy Syaukanie, JIL memang diniatkan sebagai payung atau lebih tepatnya penghubung organisasi Islam Liberal yang ada di Indonesia. Karena itu, gerakan ini tak memakai nama organisasi atau lembaga, tapi jaringan. Dengan nama jaringan, JIL berusaha jadi komunitas tempat para aktivis Muslim berbagai organisasi Islam Liberal berinteraksi dan bertukar pandangan secara
bebas.

Sebagai tempat beraktifitas, lokasi Jalan Utan Kayu no. 68 H, di sekitaran komplek Rawamangun Jakarta Timur menjadi pilihan utama sebagai kantor JIL. Sebidang tanah ini sebenarnya adalah milik jurnalis dan intelektual senior Goenawan Mohammad yang juga memiliki visi sama dengan JIL. Komunitas Utan Kayu sendiri didirikan pada tahun 1996 sebagai bentuk perlawanan, khususnya di bidang informasi, terhadap rezim Orde Baru.

Goenawan Mohammad sempat menceritakan bahwa di Utan Kayu juga berdiri galeri kecil dan teater sederhana, yakni Galeri Lontar dan Jurnal Kebudayaan Kalam – ketiganya bergerak di lapangan kesenian baik untuk acara kesenian maupun pertemuan politik.

Selain daripada kedua hal diatas, Komunitas Utan Kayu juga memiliki kantor berita yang dipimpin oleh Santoso. Radio inilah yang disebut KBR 68H.
(bersambung/pz/www.eramuslim.com)

Disebabkan Oleh Cinta

"I have a very good life with Koko. Dia adalah
suami yang baik, guru yang baik, teman yang
baik. Dari sebelumnya saya yang apolitik
sampai mengerti politik, lingkungan hidup,
dan humanisme."

UNGKAPAN tulus itu merupakan perkataan Ratmini Soedjatmoko, janda Dr Soedjatmoko (1922-1989) (Kompas, 22/11/2005), mengenai almarhum suaminya. Sang suami tercinta meninggal pada 21 Desember 1989, saat sedang menyampaikan orasi ilmiah tentang masalah pendidikan dan masyarakat madani di Yogyakarta.
Setelah membaca ungkapan di atas, saya teringat kata-kata Umar bin Khathab. "Hanya ada dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat. Merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung." Ketika istri kita mencintai kita maka mereka akan menempatkan kita di dalam istana hatinya. Keberadaan kita menjadi tambatan jiwanya, pohon rindang tempatnya berteduh dari terik kehidupan yang gerah, atau air telaga yang menyejukkan. Namun, bagaimana kita dapat dicintai istri kita? Dirindukannya saat tempat menjauhkan kita dengannya. Dikenangnya saat kematian kita menjemput.
Agar ada cinta maka berilah cinta. Inilah rumus umumnya. Sekali lagi, jika kita ingin abadi dalam bilik kerinduan jiwanya, mencintai adalah pekerjaan yang harus dilakukan untuknya. Cinta dengan penuh ketulu¬san. Cinta yang mampu menciptakan kesan mendalam. Cinta yang menganugerahkan banyak hal. Bukannya cinta yang dipenuhi tuntutan pada kekasih kita, istri kita. Jika bahasa menuntut yang menghiasi hari-hari bersama dalam keluarga lebih dominan, tentu akan ada yang tertekan. Tuntutan membuat mereka terbelenggu. Padahal, cinta justru menganugerahkan sesuatu untuk meningkatkan kapasitas kekasih kita.
Lihatlah apa yang diungkapkan Ratmini Soedjatmoko: Dia adalah suami yang baik, guru yang baik, teman yang baik. Dari sebelumnya saya yang apolitik sampai mengerti politik, lingkungan hidup, dan humanisme. Para suami memiliki pekerjaan untuk memberi atau menganugerahkan. Dampak yang muncul adalah kesan mendalam. Istri akan menempatkan suami tidak sekedar sebagai suami yang baik, tetapi mungkin predikat lain, sesuai dengan apa yang diberikannya. Kita, para suami, akan memiliki tempat yang lebih bermakna di hati istri kita masing masing.
Maka dalam catatan sejarah, bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam Aisyah tumbuh tidak sekedar sebagai seorang istri, tetapi sekaligus menjadi telaga ilmu, tempat semua orang merujuk gagasannya. Potensinya tertumbuhkan oleh keberadaan sang suami, Rasulullah.
Ironinya, ada banyak wanita-wanita cerdas tapi begitu mereka menikah, ruang geraknya menjadi sempit. Peluangnya untuk menjadi yang lain kandas, dan mereka terpuruk sekedar memperoleh predikat sebagai seorang istri. Potensinya tidak dikembangkan, sebab suaminya hanya menempatkan dirinya (sekedar) sebagai suami.
Ada pula yang lain, para suami sekedar menjadi suami dan tidak menjadi pecinta yang memiliki kesan kuat di hati istri mereka. Kembali perlu kita kenang pribadi pejuang yang sangat memahami keberadaan istri sebagai sumber energi perjuangannya. Bung Tomo. Beliau sangat menyadari bahwa cinta sang istri adalah tenaga yang menggerakkan semangatnya. Maka sang istri, Sulistina Soetomo, membaca gerak cinta suaminya. Dan, ia membalas cinta itu dengan cinta: mereka saling memberi. Oleh karena itu, ketika pengobar arek-arek Suroboyo itu meninggal, Sulistina sangat kehilangan. Langit jiwanya berduka. Dalam surat panjangnya ia ungkapkan kesan mendalamnya kepada Bung Tomo.
Mas Tom, ada satu yang ingin kukatakan dalam surat panjang ini. Dalam kehidupan rumah tangga kita, aku rasakan kebahagiaan suami istri. Aku bangga menjadi istrimu. Aku bangga menjadi pendampingmu. Engkau selalu tnembahagiakan aku, bagaimana pun sulit kehidupan kita. Tak pernah engkau risaukan.
Mottomu: put your wife on a pedestal benar-benar Mas Tom lakukan. Mas Tom engkau benar-benar seorang suami yang patut menjadi teladan. Ketika kau tiada, aku membuka dompetmu. Aku menangis ketika menatap fotoku di dompet itu. Aku tak pernah menggeledah dompetmu sebelumnya. Di bawah fotoku yang tersenyum itu ada tulisan: iki bojoku (ini istriku). Sedang pada foto lain kau tuliskan: Tien istri Tomo.
Orang mengatakan bahwa Bung Karno adalah seorang yang romantis di samping sebagai pemimpin. Dan, aku berani mengatakan Mas Tom adalah suami yang amat romantis. Mas Tom adalah seorang pahlawan sekaligus, seorang pecinta besar: you are a hero, a patriot, a great lover, sampai hari akhirmu.
Maka, disebabkan oleh cinta kehidupan keluarga kita akan jauh lebih bermakna. Cinta yang terus bergerak: dari memberi perhatian menuju proyek pengembangan diri kekasih kita. Wallahu Aam bish-showab. Sebait sajak dari lqbal menarik untuk kita jadikan bahan renungan.
Oleh cinta, sang pribadi kian abadi.
Lebih hidup, lebih menyala, lebih berkilau.
(Sir. Muhammad Iqbal).
(Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku").

Jumat, 08 April 2011

Ada Canda Ketika Marah

WAJAH sang istri berseri, lalu ia dekati suaminya yang siap pergi.
"Mas, nanti pulangnya jangan malam-malam ya. Ummi siapkan makanan kesukaan, Mas."
"Benarkah?" dengan antusias sang suami merespon. Dan istrinya mengangguk, mengiyakan sambil tersenyum. Sunggingan senyum itu merupakan harapan untuk mengembalikan suasana awal pernikahan mereka dulu. Suami istri itu, terutama sang istri, menginginkan saat-¬saat sebelum anak-anak mereka lahir satu persatu.
"Kalau sudah selesai, langsung pulang. Saya tunggu di rumah. Kita makan bareng."
"Insya Allah."
Sang suami berangkat dengan dilepas sang istri. Lambaian tangan dan sepotong senyuman mengukir wajah-wajah mereka. Ketika hari merangkak petang, sang istri telah selesai menyiapkan hidangan. Ia tata dengan semenarik mungkin. Kini ia tinggal berdandan untuk menyambut suaminya pulang. Ternyata sampai larut, sang suami belum juga pulang. Dengan kekesalannya sang istri merebahkan tubuhnya di sofa. Namun, tak lama kemudian ia tertidur.
Ia terbangun ketika tangan suaminya menyentuh wajahnya. Permohonan maaf suaminya, ditanggapinya dengan acuh. Ia marah.
"Sudah makan, Dik?" tanya sang suami.
"Makan aja situ sendiri!"
Sang suami tahu istrinya marah. Namun, ia tetap bersikap, tenang. Ia menuju meja makan.
"Ayo makan bareng."
"Makan aja situ sendiri!"
"Mmh, lauknya mana nih?" tanya suami pura-pura tidak tahu.
"Cari aja situ sendiri!"
Sang suami pun makan. Tengah malam sang istri terbangun. la merasakan perutnya merintih sakit. Buru-¬buru ia menuju meja makan.
Mas, telurnya mana? Kok habis!"
"Nelur aja situ sendiri!" Mereka pun tidak jadi marahan. Mereka tertawa.
KISAH ITU diceritakan guru ngaji saya ketika masih kuliah. Sampai sekarang saya masih mengingatnya. Menurut beliau itu kisah nyata. Dari kisah tersebut saya mengambil satu ibrah. Bagaimana di tengah situasi yang semestinya ditanggapi dengan ketegangan kita mampu meredam diri, bahkan melempar joke-joke segar. Letupan-¬letupan emosional bukan sesuatu yang kita nihilkan dalam keluarga kita. Tentu itu. Pada saat-saat tertentu ghadhab atau marah bisa saja muncul, terlebih ketika emosi kita sangat labil. Strategi menahan diri dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan ketenangan adalah pilihan terbaik.
Jika pasangan kita tengah mengalami letupan emosi¬onal, bersikaplah wajar. Cobalah untuk memahaminya, dan jangan sekali-kali menyerangnya dalam situasi demi¬kian. Yakinlah bahwa cara demikian tidak cukup membantu. Saya terkenang dengan kisah keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Suatu ketika Aisyah pernah marah dengan Rasulullah dengan mengatakan, "Engkau ini hanya mengaku-aku saja sebagai nabi." Mendengar letupan emosi sang istri, suami yang lembut jiwanya itu hanya tersenyum tanpa balik membalas sama sekali.
Dalam situasi marah tidaklah tepat untuk melakukan blaming partner atau menyalahkan pasangan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri lebih memilih untuk diam. Kejadian demikian tidak hanya sekali. Ia berlangsung berkali-kali. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertengkar dengan istrinya, Aisyah – putri Abu Bakar. Waktu itu Abu Bakar bertindak sebagai penengah atas perselisihan beliau.
"Bicaralah atau saya yang akan berbicara terlebih dahulu," kata Rasulullah.
Anda bicaralah dulu! Jangan mengucapkan yang tidak benar!" kata Aisyah dengan lantang. Mendengar kata-kata putrinya yang terlalu kasar pada suaminya, Rasulullah, Abu Bakar lalu menampar muka putrinya hingga mulutnya berdarah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Aisyah! Engkau ini memusuhi dirimu sendiri. Apakali beliau pernah berkata yang tidak benar?"
Aisyah lalu berlindung di belakang Rasulullah.
"Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini. Kami tidak menghendaki tindakan seperti itu darimu," kata Rasul kepada sahabatnya, Abu Bakar.
SUBHANALLAH. Teramat indah untuk menelusuri kepribadian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang suami. Sangat mempesona dan mengagumkan, tetapi begitu susah jiwa ini untuk meniru dan meneladaninya. Lihatlah bahwa letupan-letupan emosi dapat muncul dalam keluarga Rasul sekalipun. Karena, ia memang menjadi sesuatu yang natural bisa terjadi.
Persoalannya terletak pada bagaimana kita menghadapinya. Terus terang, saya masih belajar untuk meneladani kisah-kisah yang menginspirasi di atas. Kadang kala saya berhasil menciptakan suasana itu, tetapi beberapa yang lain, saya merasa belum berhasil. Bersikap tenang, tidak melakukan blaming partner, bahkan mendahului untuk meminta maaf, atau menyisipkau canda-canda segar di tengah kemarahan pasangan kita, sehingga ia luluh, bukanlah persoalan mudah. Namun, saya yakin, bukan berarti pula ia tidak mungkin dilakukan.
Bagi saya, belajar mendengar letupan emosi kekasih kita adalah pekerjaan besar para pejuang yang memiliki kebesaran jiwa. Wallahu A’lam
(Sumber:Disalin dari buku "Segenggam Rindu Untuk Istriku " Karya Dwi Budiyanto.

Rabu, 06 April 2011

Gurauan Dalam Pandangan Islam

Pertanyaan :

Apa hukum gurauan dalam pandangan agama kita, Islam ? Apakah termasuk kata-kata yang sia-sia ? Perlu diketahui bahwa hal itu bukan mengolok-olok agama, berikanlah fatwa kepada kami, semoga Anda diberi pahala ?

Jawaban :
Bersendau-gurau apabila haq dan benar, maka tidak ada larangan. Apalagi kalau tidak sering melakukan hal itu. Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam pernah bercanda dan tidak mengatakan kecuali yang benar. Adapun yang mengandung kebohongan, maka tidak dibolehkan, berdasarkan hadits Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam yang artinya, 
“Celaka bagi yang berbicara, lalu berdusta agar membuat orang lain tertawa dengan ucapannya. Celaka baginya, celaka baginya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan lain-lainnya)
Hanya Allah Subhanahu Wata'ala Yang memberi taufiq.[Majalah al-Buhuts, Nomor 27-hal. 87-88 - Syaikh Ibn Baz/ Fatwa-Fatwa Terkini, jilid 3, hal: 593, cet: Darul Haq Jakarta).

Waspadai Bangkitnya "Syirik Intelektual"

Term syirik sudah tidak asing lagi di telinga umat Islam. Hal itu tidak lain dikarenakan satu kata ini merupakan bentuk dosa terbesar yang tidak terampuni (terkecuali pelakunya benar-benar menyelami taubat nashuha sebelum wafat).
Ketika seseorang mendengar istilah syirik, maka terpatri di hatinya bahwa istilah ini berarti anggapan akan adanya yang lain yang sama pentingnya atau bahkan lebih penting. Dalam hal ini adalah Tuhan di-dua-kan atau bahkan sampai di-nomor sekian-kan. Dengan bahasa lain, di satu sisi menyembah kepada Tuhan, namun di sisi lain juga menyembah kepada selain-Nya.
Syirik yang secara terminologi berarti ‘mencampurkan’ ternyata di zaman postmo ini tidak hanya dalam segi spiritual, namun juga intelektual. Jika syirik spiritual mengindikasikan pelakunya melakukan perselingkuhan kepada Sang Pencipta terhadap ciptaan-Nya atau bertuhan lain di samping Tuhan yang sebenarnya, maka dalam syirik intelektual ini, maknanya tidak jauh berbeda yaitu menjadikan akal sejajar dengan wahyu, konteks sejajar dengan teks atau bahkan keduanya yang disebutkan pertama (akal dan konteks) lebih dikedepankan dari pada yang disebutkan terakhir (wahyu dan teks).
Dalam artian, sumber kebenaran yang menjadi tolak ukur pemikiran (intelektual) manusia bukan mengedepankan agama, namun justru melempar agama ke belakang dan menjadikannya pengekor yang selalu mengikuti kepentingan atas nama kemanusiaan. Ini kemudian berimbas pada pengakuan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. Dan berakhir pada pengakuan terhadap yang plural dalam beragama atau sering dikenal dengan pluralisme agama. Atas nama kemanusiaan akhirnya agama dimanusiakan.
Syirik intelektual ini telah mewabah seperti halnya jamur di musim hujan, sampai kemudian berhasil menempati ruang di hati sebagian cendikiawan muslim.
Jika dilihat dari hukumnya, syirik intelektual ini dapat digolongkan sebagai syirik besar (akbar), karena dampak yang ditimbulkannya tidak jauh berbeda dengan syirik spiritual. Bahkan diperparah lagi, syirik semacam ini menimbulkan virus yang lebih ganas karena penyebarannya sudah meluas melalui media massa dan terstruktur. Tidak hanya itu, perguruan tinggi Islam yang seharusnya menjadi ujung tombak perjuangan aqidah juga tidak luput dari syirik intelektual ini. Justru dari sanalah akar syirik intelektual dikembangkan serta disebarkan.
Dan Inilah tantangan umat Islam di zaman postmodern, yaitu zaman di mana titik tolak segala sesuatu berangkat dari peniadaan (penafian) yang absolute dan penolakan metafisika, sedangkan Islam sendiri berangkat dari yang absolute (wahyu) dan melalui jalan metafisika yang jelas. Walaupun keduanya terlihat kontradiktif (antara postmo dan Islam), bukan berarti Islam tidak sesuai dengan zaman, namun justru Islam datang untuk mengatasi zaman yang diporak-porandakan oleh paham menyimpang terutama kesyirikan dan Islam mengajak untuk kembali kepada agama tauhid.
Dengan dalih pembaharuan, kemanusiaan dan penuntasan permasalahan kehidupan, teks agama yang sudah jelas keabsahannya kemudian hanya dijadikan sebagai dogma yang harus ditafsirkan ulang sesuai kemauan dan kondisi zaman. Akhirnya tidak ada hukum yang bersifat tetap (tsawabit). Mereka memang mengimani al-Qur’an dan As-Sunnah, bahkan mereka menggembor-gemborkan untuk kembali kepada keduanya, namun harus dibarengi dengan penafsiran baru dan disesuaikan dengan konteks yang ada.
Banyak kasus-kasus yang bisa dimasukkan dalam kategori “syirik intelektual”. Seperti dalam jurnal Justicia fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, th. IX, 2003 tertulis bahwa “setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif. Jangankan meniru kritisisme dan kreativitas Muhammad dalam memperjuangkan perubahan realitas zamannya, generasi pasca-Muhammad tampak kerdil dan hanya mem-bebek pada apa saja yang asalkan itu dikonstruk Muhammad.”
Kemudian satu tahun berikutnya, muncul lagi pemikiran bahwa “lesbian adalah fenomena rahmat Tuhan” (Jurnal Justisia Edisi 25 Tahun XI 2004, hlm. 55).
Begitu juga yang terjadi di IAIN Gunung Djati Bandung (sekarang UIN), pada hari Jum’at tanggal 27 Agustus 2004 bertempat di auditorium dalam acara Ospek muncul beberapa pernyataan dengan lantang “selamat bergabung di area bebas Tuhan” dan “anjinghu akbar”. Sedangkan Di UIN Jakarta fakultas Ushuluddin program studi Tafsir Hadits juga sudah memberlakukan mata kuliah Kajian Orientalisme terhadap al-Qur’an dan Hadits yang bertujuan “agar mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadits.”
Sedangkan di IAIN Surabaya pada tanggal 5 Mei 2006, Sulhawi Ruba, 51 tahun, dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, di hadapan 20 mahasiswa Fakultas Dakwah menerangkan posisi al-Quran sebagai hasil budaya manusia. "Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput." Akhirnya dia menulis lafadz Allah dalam sebuah kertas kemudian menginjaknya di depan para mahasiswa.
Dr. Luthfi Assyaukanie pernah menulis bahwa “konsep agama seperti kitab suci, nabi, malaikat dan lain-lain tidak terlalu penting lagi karena yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa menikmati spiritualitas dan mentransendenkan dirinya dalam lompatan iman yang tanpa batas.” (Kompas, 3/9/2005).
Kemudian di pihak lain muncul juga Prof. Dr. Musdah Mulia dengan pernyataan yang cukup mencengangkan bahwa “tidak ada larangan secara eksplisit baik untuk homo maupun lesbian dalamm al-Qur’an.” (Jurnal Perempuan No. 58, hlm.124).
Tidak ada perbedaan antara lesbian & bukan lesbian di hadapan Tuhan. Tuhan melihat manusia semata-mata berdasarkan takwa, bukan suku, agama dan orientasi seksualnya. (hlm.127).
Kemudian Prof. Dr. Amina Wadud pada tahun 2005 menjadi khotib sekaligus Imam sholat jum’at di salah satu gereja di Amerika dengan laki-laki bercampur perempuan sebagai makmumnya. Dan masih banyak lagi pemikiran semacam itu yang mencoba mendekontruksi syariah dengan melakukan penafsiran baru yang lebih mementingkan kontekstual serta akal manusia.
Jadi jelas, “syirik intelektual” ini menjadikan manusia yang merupakan makhluk sosial sebagai pusat segalanya (antroposentris) dan memarginalkan campur tangan Tuhan yang seharusnya menjadi pusat yang sebenarnya (teosentris). Jika ditelisik jauh ke belakang, syirik intelektual ini sebenarnya bukan tergolong barang baru, karena akarnya sudah ada semenjak tradisi filsafat Yunani. Yaitu dengan pernyataan Protagoras bahwa manusia adalah ukuran segalanya (man is the measure of everything).
Untuk itu perlu segera dilakukan pemurnian, sebagaimana syirik yang berasal dari kata syaraka, berarti lawan katanya khalasha yang artinya memurnikan. Maka syirik intelektual ini harus dimurnikan dengan mereposisi al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengajarkan tauhid sebagai sumber hukum yang utama melampaui hukum-hukum yang ada buatan manusia atau dalam bahasa yang lain teks dan naql (wahyu) harus selalu lebih didahulukan dan dikedepankan daripada konteks dan ‘aql. Wallahu ‘alam bish-shawwab. ( Alex Nanang Agus Sifa/ anggota Centre For Islamic & Occidental Studies / www.hidayatullah.com)

Jumat, 01 April 2011

6 Kiat Pembuka Ceramah Yang Mengesankan

Setiap penceramah ingin membuat keseluruhan ceramahnya teratur dan runtut,sehingga enak didengar.Karena itu,awali ceramah dengan baik.Permulaan yang baik memudahkan kalimat-kalimat selanjutnya.Yang lebih penting lagi,awal yang baik mencuri perthatian pendengar daan menanamkan di benak mereka bahwa ceramah anda lain dari yang lain.
Berikut ini beberapa trik yang membantu anda mengawali ceramah.

1.Sapaan Kepada Pendengar.
Ini untuk lebih mengakrabkan dengan pendengar.Anda juga bisa memberi apresiasi atau pujian atas prestasi yang dilakukak mereka.Bisa juga menyebutkan faedah dan pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi yang menghadiri majelis ilmu.

2.Kisah Yang Menakjubkan.
Yaitu kisah yang mengandung hikmah atau pelajaran.Bisa berupa penggalan cerita dari kisah Nabi ,kisah salaf,atau bahkan kisah yang terjadi hari ini.cara ini disulai banyak orang.Sebab ,kisah memberikan contoh yang lebih realistis bukan sekadar teori.Orang lebih mudah menangkap sesuaatu yang nyata dan riil.Tapi,anda harus selektif memilih cerita.Jangan asal mengisahkan cerita yang korelasinya dengan materi tidak kuat.Sehingga terkesan dipaksakan dan tidak sesuai.

3.Fakta Yang Mengejutkan
Fakta disini adalah kenyataan riil yang terjadi di masyarakat dan tidak direka-reka.Mengungkapkan fakta untuk mengajak pendengar mengamati kenyataan atau fenomena yang selama ini terabaikan .Misalnya,realita hubungan remaja dan pemuda masa kini,bid’ah dan yirik kontemporer ,dan fenomena-fenomena lainnya.Untuk itu,lengkapi dengan data yang benar biar tidak terkesan mengada-ada.

4.Deskripsi Tema
Yaitu menjelaskan maksud tema dan batasan-batasannya.Bisa juga mengungkapkan manfaat atau sebab anda mengupas masalah tadi.Sebutkan manfaat atau kerugian jika tidak mengetahui tema tersebut.Setelah itu anda dapat menjelaskan secara lebih detail atau normatif.Misalnya,anda menjelaskan sebab-sebab membicarakan tema shaum.Kemudian menerangkan defenisinya dari segi bahasa dan istilah ,pahala,manfaat,dan kesalahan yang sering dilakukan.

5.Fenomena dua sisi ekstrim berkaitan tema
Misalnya,mengkomparasikan antara makruf dan munkar atau sunnah dengan bid’ah.Beri batasan yang jelas agar pendengar tidak rancu dan menafsirkan sendiri-sendiri.

6.Mengingatkan peristiwa yang masih hangat dan mengaitkannya dengan tema
Cara ini sangat membantu jika anda menegetengahkan tema lama atau yang sudah sering disampaikan.Dengan memberi contoh baru,pendengar seakan diingatkan kembali.Cara ini lebih baik jika dibawakan dengan intospeksi agar pendengar lebih tersentuh.
Silahkan mencoba.
(disalin dari Majalah arRisalah Edisi 99 Vol.IX No.3)