Sabtu, 18 Desember 2010
Hadits Sumur Budhaa 'ah
إنّ الماء طهور لا ينجّسه شيء
“Sesungguhnya air itu suci,tidak ada sesuatu pun yang menaji-sinya”. Diriwayatkan oleh tiga dan dishahihkan oleh Ahmad.
Biografi Singkat Sahabat Perawi Hadits:
Abu Sa’id al-Khudri adalah Sa’ad bin Malik bin sinan al-Khazraji al-Anshariy al-Khudriy. Al-Khudri merupakan nisbah kepada Khudrah salah satu kelompok dari kalangan Anshar. Beliau termasuk salah seorang ‘ulama dari kalangan shahabat, salahseorang almuktsiriyn (paling banyak) meriwayatkan hadits (1170 hadits 804 hadits diantaranay dalam shahiyhain). Beliau ikut berperang bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sebanyak duabelas kali, turut serta dalam Bai’atur Ridhwan. Wafat pada tahun 74 H dalam usia 86 tahun.
Kosa Kata Hadits:
Suci dan mensucikan:طهور
Tidak menajisinya, maksudnya tidak merubahnya menjadi najis:لاينجّسه
Penjelasan Umum.
Hadits ini dikenal nama hadits sumur budha’ah, berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; “Bolehkah kami berwudhu denagan (air) sumur budhaa’ah? Sementara kain pembalut haidh, daging anjing, dan benda-benda berbau busuk dibuang ke dalamnya? Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: ”Sesungguhnya air tersebut suci dan mensucikan (thahur). . .” Al-Hadits.
Dalam hadits ini Rasulllah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa air itu suci dan mensucikan meskipun tercampur oleh sesuatu yang najis, najis tersebut tidak menajisinya, ia tetap suci dan mensucikan. Akan tetapi hadits ini hanya berlaku untuk air yang mencapai dua qullah (sekitar 500 L/ 1/2 m3), karena air yang kurang dari dua qullah memungkinkan untuk terkontaminasi oleh najis (sebagaimana akan dijelaskan pada hadits selanjutnya). Dan tidak diragukan lagi bahwa air sumur budhaa’ah mencapai dua qullah. Sumur tersebut lebarnya enam hasta, tinggi airnya maksimal sampai kelamin (ketika sedang pasang) dan minimal di bawah aurat (ketika sedang susut) sebagaimana yang dihikayatkan oleh Abu Daud. Beliau berkata; Saya bertanya kepada penjaga sumur budhaa’ah tentang kedalamannya. Seberapa tinggi airnya ketika sedang pasang? Beliau menjawab, ‘sampai al-’aanah (rambut kemaluan)’. Saya bertanya lagi, jika susut? dia menjawab ‘dibawah aurat’. Abu Daud berkata, Saya telah mengukur sumur budhaa’ah dengan bajuku. Aku bentangkan baju di atasnya lalu aku mengukurnya dengan hasta, ternyata luasnya mencapai enam hasta. Dan saya bertanya lagi kepada yang membukakan pintu untukku. Lalu ia mengajakku masuk ke dalamnya, saya bertanya; apakah bangunannya ada yang berubah dari sebelumnya? Beliau menjawab ‘tidak’.
Pelajaran Penting Dari hadits:
1. Pentingnya merujuk dan bertanya kepada ‘Ulama ketika berhadapan dengan permasalahan yang tidak diketahui hukumnya. Sebagaimana perintah Allah dalam Al-Quran: Fas aluu ahladz-Dzikri in kuntum Laa Ta ‘ lamuun (Bertanyalah kepada Ahlidz-dzikr (ulama) jika kalian tidak mengetahui.
Hal ini telah dicontohkan oleh sahabat yang bertanya dalam hadits ini. Beliau tidak mengetahui hukumnya berwudhu dengan air yang tercampuri oleh najis, sehingga menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Hukum asalnya air itu suci.
3. Air yang banyak tidak terpengaruh oleh najis, kecuali jika berubah warna, rasa, dan baunya sebagaimana dalam hadits: “Sesungguhnya air itu tidak dinajisi oleh sesuatupun kecuali jika berubah bau, rasa, dan warnanya”. (HR Ibnu Majah dan didhaifkan (lemah) oleh Abu hatim rahimahullah.
Bersambung…
sumber :http://wimakassar.org/wp/hadits-kedua-bab-air-kitab-thaharah-dari-bulughul-maram/
Wallaahu a’ lam.
Jumat, 17 Desember 2010
Apa Arti Hakikat Keislaman Saya?
Di antara hal yang membuatkan bertambah mulia dan bangga
Dan aku hampir menginjakkan kedua kakiku di atas bintang kejora
Adalah masuknya aku ke dalam firman-Mu, “Wahai hamba-hamba-Ku.”
Dan Engkau utus Ahmad sebagai utusan-Mu
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap bayi adalah terlahir dalam fitrahnya, lalu kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muttafaq ‘alaihi).
Seandainya ada di antara kita yang sejak tercipta hingga mati bersujud di atas tanah karena bersyukur atas nikmat Islam yang sangat agung ini, tentunya dia tetap tidak akan mampu menebusnya. Namun sayang sekali, saat ini kita temukan banyak orang muslim yang menganggap bahwa keislamannya cukup dengan nama atau keterangan di kartu identitasnya saja. Dia mengira bahwa dia menjadi muslim karena namanya Muhammad, Ahmad, Abdullah, atau Abdurrahman. Tetapi apa yang dia ketahui tentang Islam? Apa yang kita berikan kepada agama ini? Bahkan, saat ini kepemelukan banyak orang terhadap agama ini menjadi kepemelukan yang sifatnya teoritis, polos, dan dingin. Sehingga banyak di antara kita yang tidak memasukkan agama ini dalam objek perhatian, tujuan, dan program hidup kita.
Mungkin saya merencanakan masa depan saya, masa depan istri saya, masa depan anak-anak saya, dan masa depan pekerjaan saya. Tetapi siapa di antara kita yang membuat rencana untuk kejayaan Islam? Siapa di antara kita yang membuka hatinya untuk melihat realitas pahit dan memilukan yang dihadapi umat Islam saat ini? Siapa di antara kita yang tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi agama ini? Siapa di antara kita yang tidur, namun hatinya selalu disergap perasaan sedih, matanya mengalirkan air mata karena melihat kondisi yang memilukan ini?
Hidup dengan Islam dan untuk Islam, itulah hakikat dari keberpihakan kepada Islam.
Islam Agama Allah
Anda harus tahu bahwa Islam adalah agama Allah. Maka ketika Alah telah melapangkan hati Anda untuk menerima Islam, lalu Anda menyerahkan diri kepada-Nya, bersaksi tidak ada sembahan yang hak selain Dia dan Muhammad adalah rasul Allah ta’ala, tanpa paksaan dari seorang pun, maka setelah itu Anda harus mengetahui bahwa Islam adalah manhaj hidup yang mengontrol seluruh hidup Anda dan Anda dalam kondisi yang sangat bahagia serta penuh keridhaan.
Konsekuensi dari Islam adalah Allah ta’ala berfirman kepada hamba, “Aku memerintahkan dan melarang,” dan hamba berkata kepada-Nya, “Saya mendengar dan menaati.” Dan sang hamba pun menyerahkan akal dan hatinya kepada Allah dan rasul-Nya, serta mengikuti jejak rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sampai kepada kehidupan yang damai dan bahagia di dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, seandainya Anda selalu mengikuti jalan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Anda akan melihat beliau sedang menunggu Anda di haudh (telaga) beliau. Sehingga Anda pun akan bahagia dan tidak pernah merasa sengsara untuk selamanya.
Hiduplah dengan Islam dan Untuk Islam
Hakikat memeluk Islam adalah hidup dengan Islam dan untuk Islam, hidup dengan perintah-perintahnya, larangan-larangannya, dan batasan-batasannya. Para sahabat radhiallahu ‘anhu benar-benar memahami hal ini. Sehingga ketika salah seorang mereka meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam keimanan, dia pun mengetahui dengan penuh keyakinan akan hakikat dari keberpihakannya terhadap agama ini. Oleh karena itu, semua kekuatan dan kemampuannya pun tercurahkan untuk Islam.(Bersambung Insya Allah)
sumber :http://www.facebook.com/?sk=messages&tid=1486988500524
Kamis, 16 Desember 2010
BULAN SURO BULAN SIAL ???
Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini: ”Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”
Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.
Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Saatnya kita melihat penilaian agama Islam mengenai dua hal ini.
Mencela Waktu atau Bulan
Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman,
”Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24).
Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek. Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ’larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)
Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)
An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shohih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ’Ya khoybah dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.
Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.
Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengekuarkan pelakunya dari Islam). Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid berikut.
Mencela waktu itu terbagi menjadi tiga macam:
Pertama; jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, ”Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ’alaihis salam, ”Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud [11] : 77)
Kedua; jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar. Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.
Ketiga; jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ’dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung. –Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas-
Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah sesuatu yang terlarang. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)
Merasa Sial dengan Waktu Tertentu
Inilah tinjauan kedua kita yaitu merasa sial dengan waktu tertentu.
Merasa sial biasa muncul ketika seseorang mendapatkan bencana atau musibah. Ketika terjadi seperti ini barulah dia mengatakan, ”Waduh! Bencana ini karena kesialan dari Si A atau kesialan pada bulan ini.” Itulah yang dicontohkan oleh Fir’aun. Ketika dia mendapatkan bencana barulah dia mengatakan bahwa ini semua disebabkan oleh Musa. Artinya Musa-lah yang mendatangkan kesialan. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini.
”Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raaf [7]: 131)
Perhatikanlah ayat di atas. Ketika Fir’aun dan pengikutnya mendapatkan hujan, kesuburan, rizki yang melimpah dan keselamatan, mereka menyatakan bahwa itu adalah karena mereka memang pantas untuk mendapatkannya. Mereka tidaklah mengakui bahwa limpahan nikmat tersebut berasal dari Allah lalu mensyukuri-Nya.
Namun, tatkala hujan tidak turun, kekeringan dan berbagai bencana datang, mereka menyatakan bahwa ini semua adalah kesialan dari Musa dan pengikutnya.
Begitulah juga kelakuan orang Arab dahulu. Tatkala mereka ingin melakukan sesuatu, terlebih dahulu mereka menggertak (membentak) buruk. Jika burung tersebut terbang ke arah kiri, ini pertanda sial. Namun, jika burung terbang ke arah kanan, ini pertanda baik (berkah).
Lihatlah pada penutup Al A’rof ayat 131 di atas. Terakhir, Allah Ta’ala katakan bahwa kesialan yang menimpa mereka sebenarnya adalah ketetapan dari Allah.
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, ahli tafsir Qur’an, mengatakan: maksud ayat terakhir ini adalah bahwa apa saja yang menimpa mereka berasal dari ketetapan Allah. (Lihatlah penjelasan ini dalam Zadul Masir pada tafsir surat Al A’raaf ayat 131)
Beranggapan sial dalam agama ini dikenal dengan istilah tathoyyur. Istilah ini berasal dari perbuatan orang Arab yang kami ceritakan di atas. Ketika mereka melakukan sesuatu, mereka membentak burung terlebih dahulu. Jika burung tersebut ke arah kiri, ini berarti pertanda sial sehingga mereka mengurungkan niat mereka untuk melakukan sesuatu tadi.
Perlu diketahui bahwa merasa sial seperti di atas dan contoh lainnya bukan hal yang biasa-biasa saja bahkan perbuatan ini termasuk kesyirikan sebagaimana yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam nyatakan sendiri. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
”Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda). Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3912.)
Ringkasnya, beranggapan sial dengan sesuatu baik dengan waktu, bulan atau beranggapan sial dengan orang tertentu adalah suatu yan g terlarang bahkan beranggapan sial termasuk kesyirikan. Ingatlah bahwa setiap kesialan atau musibah yang menimpa, sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Satu hal yang patut direnungkan. Seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah atau kesialan, hendaknya dia mengambil ibroh bahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah, kesialan atau bencana begitu saja, pasti ada sebabnya. Di antara sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Inilah yang harus kita ingat, wahai saudaraku. Perhatikanlah firman Allah ’Azza waJalla
”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syuraa [42] : 30)
Sumber : www.ruysho.com
Selasa, 07 Desember 2010
Beberapa Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Muharram
Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan- bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta’ala : "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36).
Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain.
Sebagaimana ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita menjaga Shalat Wustha, yang banyak ahli Tafsir memahami shalat wustha adalah Shalat Ashar. Dalam hal ini, shalat Ashar mendapat perhatian khusus untuk kita jaga. Firman Allah : "Peliharalah segala shalat mu, dan peliharalah shalat wustha" (Q.S. al Baqarah :238) Nama Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini.
b. Bulan Allah
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : , dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya.
Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim)
c. Sunnah Berpuasa
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh.
Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya :
1.Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, bersabda :
“ Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
2. Ibnu Abbas ra berkata :
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda : , berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
3. Ibnu Abbas ra berkata :
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari‚ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab :“ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda :
"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim).
4.Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata :
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata : "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ Selain hadis-hadis yang menyebutkan tentang puasa di bulan ini, tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan Rasulullah untuk dikerjakan di bulan Muharram ini.
Bagaimana Berpuasa di bulan Asyura?
Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad –berdasarkan riwayat-riwayat yang ada menjelaskan:
- Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11)
- Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits
- Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
Puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan sebagai berikut :
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, dinyatakan jelas dalam hadis pada akhir hidup beliau sudah merencanakanryang shahih, dimana Rasulullah untuk puasa pada tanggal 9. hanya saja beliau meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama yang lain.
Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah saw untuk melakukan puasa,sekalipun itu hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah, dan tetunya kita berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.
d. Diantara Peristiwa di Bulan Muharram
Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam di sebuah tempatr cucu Rasulullah tsejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “Peristiwa Karbala”. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Mu’awiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut.
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan memilukan bagi siapa saja yang mengenang atau membaca kisahnya, , dan kita tentu mencintai dan apalagi terhadap orang yang dicintai Rasulullah memuliakannya. Namun musibah apapun yang terjadi dan betapapun kita sangat , hal itu jangan sampai membawa kita larut dalamrmencintai keluarga Rasulullah kesedihan dan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk duka dengan yangrmemukul-mukul diri, menangis apalagi sampai mencela shahabat Rasulullah tidak termasuk Ahli Bait (keluarga dan keturunan beliau). Yang mana hal ini biasa dilakukan suatu kelompok syi'ah yang mengaku memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Ahli Bait (Keluarga Rasulullah), padahal kenyataanya tidak demikian.
e. Adat Istiadat di Tanah Air
Pada awal Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, di tanah air sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Sang Dewi penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada.
telah mengajarkan pada kita agarrRasulullah memiliki jati diri sebagai seorang Muslim dalam kehidupan. Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah pada Allah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya.
Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, yang tidak ada keselamatan kecuali dengan berpegang kepada keduanya dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi'in dan penerus mereka yang setia berpegang kepada sunnahnya dan meniti jalannya, adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, wal'iyyadzubillah
sumber:http://ypwi.or.id
Senin, 06 Desember 2010
CERDAS BERIBADAH
Cerdas. Sebuah kata yang begitu lazim di telinga kita. Ketika mendengarnya,membacanya, maka mungkin kesan yang akan muncul di benak kita adalah dunia pendidikan. Demikanlah. Karena memang, kecerdasan -terkadang- identik dengan prestasi.
Tetapi, yang akan kami bahas di sini, bukanlah makna ”cerdas” dalam aspek di atas. Melainkan, makna ”cerdas” dalam perspektif yang lebih besar. Ya, bahkan dalam perkara yang teramat penting. Perkara yang dengannya kita diciptakan olehNya. Kecerdasan dalam beribadah.
Marilah kita simak. Semoga kami, Anda dan siapa pun yang membacanya memperoleh faidah.
Bahwa kita diciptakan untuk beribadah, itu tentu sudah pasti. Namun apakah setiap orang yang rajin beribadah akan serta merta dikatakan telah cerdas beribadah?. Rasanya tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawabnya kecuali : Tidak! Kerajinan beribadah tentu saja tidak identik dengan kecerdasan beribadah. Seab banyak orang meletihkan dan melelahkan dirinya untuk “sekedar” –seperti sangkaan mereka– menumpuk berbagai ibadah. Seperti pengembara yang menempuh perjalanan dengan memanggul sebuah kantong yang isinya tak lebih dari bermilyar-milyar pasir. Tak berguna.
Betapa seringnya kita dibuat kagum ketika membaca betapa tidak letih - letihnya orang – orang shaleh (salaf) terdahulu menunjukkan penghambaan mereka. Kisah mereka bagai dongeng saja. Lalu kita pun secara serta merta selalu ingin meniru mereka. Persis. Tanpa melakukan perhitungan yang cerdas. Bila mendengarkan bahwa Imam Ahmad –misalnya- mengerjakan shalat sunnat 200 raka’at dalam satu hari, maka kita pikir kita pun seharusnya melakukan hal yang sama. Bila membaca bahwa seorang ’Atha Bin Abi Rabah radhiallahu ’anhu -misalnya- tidur di masjid selama 20 tahun lamanya, kita pun menganggap bahwa untuk menjadi shaleh kita harus pula demikian.
Begitulah seterusnya. Kita berputar dalam lingkaran kekaguman yang membuat kita tidak melihat dan menyimpulkan secara tepat. Kita tidak coba untuk merenungkan bagaimana mereka mengalami proses perjuangan meundukkan nafsu hingga dapat melakukan itu semua. Kita idak pikirkan tentang keistiqamahan dan konsistensi mereka menjalankan itu semua. Kita tidak pikirkan bahwa untuk ke puncak itu, mereka harus melewati sebuah niat yang lurus, tulus dan kuat. Bahwa kita butuh melihat konsistensi kita. Kita lupa bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam mengatakan : ”Sebaik-baik amalan adalah yang sedikit namun berkelanjutan”.
Maka di penghujung jalan, kita pun mengalami kemunduran, kejemuan dan keletihan. Setelah mengerjakan 200 raka’at di hari pertama, mungkin di hari-hari esoknya tak satu raka’at pun yang tertegakkan. Sebab jiwa kita trauma, ia letih. Syukur-syukur jika ia tidak membenci shalat sunnat itu.
Namun demikianlah, kita harus cerdas dan pandai mengukur diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah membebani jiwa manapun bila tidak sesuai kemampuannya.
Ada banyak cahaya kecerdasan beribadah yang terwariskan kepada kita. Salah satunya adalah kisah yang dialami oleh sahabat nabi yang mulia, namanya Tamim Ad-Dary radhiallahu ’anhu.
Seorang pria pada suatu ketika mengunjunginya. Tujuannya hanya satu. Ingin mengetahui bagaimana Tamim Ad-Dary menyelesaikan ayat demi ayat dalam al-Qur’an.
”Barapa banyakkah wirid dan ayat Anda baca setiap harinya?” tanya pria itu membuka percakapan mereka.
”Hmmm, barangkali engkau ini termasuk orang yang membaca al-Qur’an di malam hari, lalu di pagi harinya ia kemudian mengatakan kepada orang lain : ’Malam ini aku telah membaca al-Qur’an”. Sungguh demi Allah, wahai saudaraku, bila aku mengerjakan shalat tiga raka’at saja di malam itu jauh lebih aku senangi daripada menyelesaikan al-Qur’an dalam satu malam namun di pagi harinya aku kemudian menceritakanya kepada orang lain”, jawab Tamim Ad-Dary.
Nampaknya pria itu kemudian sedikit agak emosi mendengar jawaban Tamim Ad-Dary. Ia hanya terkejut saja menyimak jawaban itu. Maka ia berujar, ”Ah, kalian para sahabat nabi, seharusnya yang masih hidup dari kalian ini diam saja dan tidak usah berbicara. Kalian justru tidak mau mengerjakan ilmu kalian, malah kalian justru menyalahkan orang yang bertanya pada kalian!”.
”Jangan salah paham, saudaraku. Sekarang apakah engkau mau kujelaskan suatu hal yang mungkin tidak engkau pahami?”, tanya Tamim Ad-Dary dengan sedikit lembut.
”Cobalah engkau renugnkan”, lanjut Tamim. ”Jika saja aku ini seorang mu’min yang kuat dan engkau adalah seorang mu’min yang lemah, lalu engkau berusaha membawa bebanku dengan segala kelemahanmu, hingga akhirnya engkau kemudian tidak sanggup memikulnya. Menurutmu, apakah yang akan terjadi? Engkau hanya akan mengalami sebuah kejemuan dalam beribadah. Demikan pula sebaliknya. Engkau seorang mu’min yang kuat dan aku yang lemah ini mencoba memikul bebanmu. Tentu aku akan mengalami sebuah kejemuan pada akhirnya.
Maka, saudaraku, berikanlah sesuatu yang sesuai batas dirimu untuk dien ini, dan ambillah dari dien ini apa yang engkau mampu untuk melaksanakannya secara perlahan. Hingga akhirnya kelak engkau dapat istiqamah dan konsisten mengerjakan ibadah yang mampu engkau tegakkan”.
Sebuah nasehat yang bijak. Sederhananya adalah kita bercita-cita menggapai surga tertinggi, Firdaus, dan dalam meniti jalan ke sana kita melaluinya dengan kesederhanaan yang berkualitas. Kesederhanaan yang dapat membuat kita istiqamah dan langgeng dalam penghambaan kepadaNya. Mengerjakan yang kecil. Dan mulai sejak sekarang. Bukankah rasul kita yang mulia, -sekali lagi- Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam berkata : ”Sebaik-baik amalan adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit?. Inilah inti ibadah yang cerdas. Maka pahamilah, saudaraku !!.
Sumber :Perindu-Perindu Malam, karya Abul Miqdad Al Madany. Mujahid Press.
Minggu, 05 Desember 2010
PESTA TASYAKURAN (PERAYAAN) SYIAH ATAS “Kebinasaan Ibunda Kaum Mukminin Aisyah rodiallohu ‘anha dalam Api Neraka
Pada tanggal 17 Ramadhan 1431 H yang lalu, di saat kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menyibukkan diri untuk beribadah di bulan Ramadhan yang mulia, guna mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ibadah dan ketaatan yang paling dicintai seperti shalat dan puasa, umat Islam dikejutkan dengan adanya perayaan besar yang dilakukan oleh masyarakat Syi’ah Dua Belas Imam di London, Inggris. Acara keji itu dipimpin oleh sejumlah ulama Syi’ah dari berbagai negeri Arab dan non-Arab yang dikepalai oleh Yasir al-Habib. Perayaan itu dilakukan untuk memperingati “kebinasaan” ‘Aisyah di dalam api neraka –wal’iyadzu billah-. Untuk pertama kalinya Syi’ah berani secara terang-terangan melakukan perbuatan nista tersebut. Dahulu mereka melakukan taqiyah yang itu merupakah aqidah suci dalam agama mereka.
Perayaan tersebut berupa penyampaian pidato dan pembacaan sya’ir-sya’ir dalam mengkafirkan, serta melaknat ibunda kaum mukminin ‘Aisyah rodiallohu ‘anha. Adalah Yasir al-Habib menyampaikan sambutannya di tengah kehadiran banyak orang yang mayoritas mereka mengenakan pita merah, dan sebagian mereka dengan baju merah sebagai kiasan bahwa Ibunda ‘Aisyah rodiallohu ‘anha berada dalam neraka Jahannam. Kemudian Yasir al-Habib mulai menyampaikan sambutannya dengan menegaskan bahwa ‘Aisyah adalah musuh Allah dan Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dia menyatakan bahwa sulit baginya untuk menghitung kejahatan-kejahatan ibunda ‘Aisyah rodiallohu ‘anha terhadap hak Islam dan kaum muslimin. Yang paling keji dari kejahatan-kejahatan tersebut adalah bahwa dia telah membunuh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan racun, turut serta dalam melawan ‘Ali bin Abi Thalib rodiallohu ‘anhu, memberontak dan memeranginya, menyakiti penghulu wanita dunia, Fathimah rodiallohu ‘anha hingga membuatnya menangis, serta kegembiraannya dengan syahidnya Fathimah, dan Amirul Mukminin ‘Ali rodiallohu ‘anhu; melempari jenazah al-Hasan rodiallohu ‘anhu dengan busur-busur panah, penyebab terbunuhnya tiga puluh ribu kaum muslimin, mengotori sirah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan hadits-hadits palsunya, tuduhan kejinya terhadap Mariah al-Qibthiyyah. Selain itu mereka (orang-orang yang beragama syiah itu) menuduh ‘Aisyah rodiallohu ‘anha sebagai orang yang kurang adab, dan berlisan kotor, dan termasuk orang-orang nista lagi fasiq.
Kemudian setelah berbagai tuduhan kotor tersebut, orang hina (Yasir yang zindiq) ini menegaskan dan menetapkan bahwa ‘Aisyah sekarang berada dalam api neraka, bahkan tidak hanya sekedar dalam neraka, bahkan dia bersumpah atas nama Allah, bahwa ‘Aisyah sekarang berada dalam dasar neraka Jahannam, dalam keadaan tergantung kedua kakinya, memakan bangkai, dan tubuhnya sendiri. Semua itu menurutrnya berdasarkan kandungan al-Qur`an dan sunnah. Mudah-mudahan laknat Allah dan seluruh manusia atasnya.
Pada penutupan sambutannya, dia mengajak kepada kaum muslimin untuk shalat dua rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah atas “binasanya” ummul mukminin –yang dia sebut ummul mujrimin/ ibunda para penjahat- , serta pindahnya dia kepada adzab pedih lagi kekal di dalam neraka jahannam. Dia juga mengajak kaum mukminin, setelah shalat tersebut, untuk meminta segala kebutuhan mereka kepada Allah, dan segala kebutuhan tersebut akan dipenuhi dengan kelembutan Allah subhanahu wa ta’ala, dan syafa’at Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, serta ahlul bait beliau yang suci ‘alaihimusshalatu wassalam.
Selain itu pembaca yang beriman, pada acara itu telah digantungkan sebuah spanduk besar bertuliskan “Binasanya ‘Aisyah di Dalam Neraka”, dan pada sisi yang berhadapan dengannya digantungkan spanduk bertuliskan “Kebahagiaan al-Husain ‘alaihi salam”, dimana kedua sepanduk tersebut, dengan segala kekejian, dinaikkan untuk menyampaikan ucapan kotornya terhadap Ibunda kita ‘Aisyah –mudah-mudahan Allah meridhainya dan membuatnya ridha.
Perayaan tersebut telah disiarkan secara live oleh sebagian siaran Syi’ah dengan penuh suka cita dan bahagia dengan adanya perayaan besar tersebut. Di sela-sela perayaan jahat itu, disamping melaknat Ummul Mukminin, ditambahkan pula melaknat Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat besar lainnya –mudahan-mudahan Allah meridhai mereka semua.
Sungguh, sebelumnya kami mengira bahwa pada tanggal 17 Ramadhan tersebut mereka merayakan kemenangan kaum muslimin atas orang-orang musyrik dalam peperangan Badar, akan tetapi kami dikejutkan bahwa orang-orang musyrik dan orang-orang kafir telah selamat dari lisan-lisan mereka, karena dialihkan untuk melaknat wanita suci, lagi disucikan dari langit ketujuh. Dimana Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan tentangnya sepuluh ayat dalam surat an-Nur (24) yang menjelaskan sucinya ‘Aisyah dari tuduhan orang-orang munafik. Kemudian datanglaah orang-orang zindiq itu dengan mengatasnamakan cinta kepada ahlul bait, menuduh kehormatan ummul mukminin ‘Aisyah rodiallohu ‘anha yang suci, dan menyakiti Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam melalui pelecehan mereka terhadap istri yang paling beliau cintai. Mereka dengan lantangnya mengatakan bahwa Istri Nabi yang tercinta itu telah kafir, dan murtad, serta berada dalam dasar neraka Jahannam!!
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (٥٧)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab (33): 57)
Wahai bangsa Indonesia, wahai bangsa Malaysia, wahai umat Islam, istri kekasih kalian, al-Mushthafa Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam telah dihinakan sementara kalian semua diam??!!!
Sesungguhnya, saya mengatakannya dengan jujur kepada seluruh ulama dan awamnya kaum muslimin, jika kita tidak melakukan sesuatu maka sesungguhnya kita telah ikut serta dalam kejahatan tersebut. Maka wajib bagi kita memiliki peran dalam membela Ibunda kita, kekasih Nabi kita shollallohu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing sesuai dengan kemampuan, kedudukan dan jabatannya. Hendaknya semua tahu bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’lala,
Sumber: http://qiblati.com/pesta-tasyakuran-syiah.html
Kurang Kerjaan, Syaikh Qardhawi Puji Qatar Jadi Tuan Rumah Piala Dunia
Seorang ulama Islam terkemuka mengatakan bahwa dirinya sangat gembira bahwa Qatar berhasil mengalahkan Amerika Serikat untuk memperebutkan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama terkemuka tersebut mengatakan hal itu kepada para jamaah di Doha bahwa ia "penuh dengan rasa sukacita" setelah badan sepak bola FIFA resmi memilih Qatar pada Kamis lalu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 mengalahkan AS dan tiga kandidat negara lainnya.
Khutbah Jumat Syaikh Al-Qardhawi tersebut langsung dikutip oleh koran-koran Qatar Sabtu lalu.
Ulama terkemuka ini mengatakan Qatar berhasil merendahkan Amerika Serikat, yang ia klaim berusaha untuk mendominasi setiap aspek dari urusan dunia. Syaikh Al-Qardhawi dianggap sebagai ulama "moderat" oleh sebagian kalangan.
Presiden Barack Obama sendiri mengatakan pemilihan Qatar sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 adalah "keputusan yang salah."
Namun para pemimpin Arab menyebut terpilihnya Qatar merupakan sebuah langkah terobosan yang akan mengubah persepsi orang terhadap Timur Tengah.
Namun ada yang harus menjadi catatan, perlehatan piala dunia di Qatar tidak akan merubah apapun persepsi barat terhadap negara-negara Islam dan Islam itu sendiri. Dan komentar Syaikh Al-Qardhawi terkait piala dunia, merupakan komentar yang tidak perlu dari seorang ulama terkenal seperti dirinya, karena masih banyak hal-hal urgensi yang lebih layak untuk dikomentari oleh seorang ulama seperti Syaikh Qardhawi daripada memuji Qatar menjadi tuan rumah piala dunia. Wallahu a'lam.(fq/abc).http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kurang-kerjaan-syaikh-qardhawi-puji-qatar-jadi-tuan-rumah-piala-dunia.htm