Senin, 07 November 2011
Ibrahim Sang Teladan
Ada dua keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim. Pertama, beliau adalah seorang Nabi yang disebut Allah sebagai “ummat”. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat (imam) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” [QS. al-Nahl: 120].
Yang kedua, Allah juga menyebut Ibrahim sebagai qudwah, teladan. Dalam Al Qur’an, hanya dua sosok yang disebutkan secara tegas sebagai teladan, yaitu Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam (QS al Ahzab: 21) dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (QS Al Mumtahanah: 4).
Atas dua pertimbangan tersebut, kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi sangat penting diperhatikan. Banyak hal yang dapat diteladani dari kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Artikel ini akan menguraikan empat hal yang hendaknya diteladani dari kehidupan Nabi bergelar khaliilullah (kekasih Allah) tersebut.
Pertama, Ketundukan secara Total kepada Ketentuan Allah.
Nabi Ibrahim diperintahkan Allah membawa keluarganya ke Makkah yang saat itu belum dihuni seorang manusia pun. Beliau bersama anak dan istri tercinta menempuh jarak yang tidak dekat. Namun rasa penat belum lagi hilang, keringat belum mengering, beliau diperintahkan Allah pergi meninggalkan keluarganya di lembah tandus tak berpenghuni.
Beliau pergi dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah. Sikap taat ini tidak hanya dimiliki Ibrahim, tetapi tertanam pula di dalam sanubari sang istri dan mengalir dalam darah dan daging sang anak, Ismail ‘alaihissalam.
Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki seorang Muslim. Senantisa tunduk dan patuh kepada setiap perintah Allah. Inilah hakikat dan bukti komitmen keislaman kita. Sebab, hakikat Islam adalah ketundukan secara total kepada sang Pencipta. Seorang Muslim ketika berhadapan dengan perintah Allah, maka yang terbesit dalam pikirannya adalah usaha menunaikan perintah tersebut.
Kedua; Konsistensi dalam Memegang Prinsip.
Ibrahim ‘alaihissalam adalah teladan dalam keteguhan memegang prinsip dan aqidah yang diyakininya. Demi mempertahanan keyakinannya, beliau berhadapan dengan seorang penguasa dzalim yang memaksakan pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Bahkan beliau dilemparkan ke dalam kobaran api,sebagai balasan yang harus beliau rasakan setelah menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya.Ibrahim melakukan hal itu dalam usia yang masih sangat muda. Hal ini sebagaimana diabadikan dalam ayat Al Qur’an :” Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim (QS Al Anbiya :58-60).
Ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim tidak hanya berasal dari luar. Bahkan ujian dalam keluarga juga menjadi bagian dari cobaan yang harus dilewati oleh Ibrahim ‘alaihissalam dalam mempertahankan dan memperjuangkan idealisme aqidah tauhid.
Dalam ayat Al Qur’an Allah mengabadikan dialog antara Ibrahim dengan ayahnya yang penyembah bahan pembuat berhala. Azar, ayah Ibrahim, mengancam akan merajam Ibrahim jika beliau tidak menghentikan da’wah tauhidnya. Dialog tersebut dapat kita baca dalam QS:Maryam: 46.
Ibrahim adalah sosok yang teguh mempertahankan idealism,bukan hanya disaat masih muda. Tetapi beliau terus mempertahankan idealismenya higga usia tua bahkan sampai mati.Hal tersebut Nampak dengan jelas ketika beliau mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putra tercinta ,Ismail ,anak satu-satunya yang telah dinantikan kehadirannya semenjak bertahun-tahun. Ibrahim ‘alaihissalam menaati perintah Allah tersebut yang secara psikologis terasa lebihberat dari sekadar meluluhtantakkan berhala. Ini membuktikkan kepada kita Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua.
Inilah yang sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa ini. Jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya mengkritik system tetapi diusia tuanya menjadi bagian dari siste rusak yang dahulu sewaktu Mahasiswa selalu dikrtiknya.Jangan sampai ada aktivis pegrerakan yang getol menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justeru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi, padahal dahulu sangat ditentangnya.
Sebagai pemuda dan mahasiswa muslim hendaknya meneladani Nabi Ibrahim dalam mempertahankan keyakinan. Bersabar saat diuji dengan kesulitan dan bersabar pula tatkala duji dengan kemudahan dan kemewahan. Banyak orang yang sanggup bertahan ketika diuji dengan kesulitan, tetapi tidak berdaya saat diuji dengan kemudahan. Sering kita dengar, mantan aktivis organisasi mahasiswa menjadi pragmatis setelah hidup mapan. Padahal sewaktu kuliah mereka dikenal sebagai aktivis dengan idealisme yang kokoh.
Sewaktu menjadi anggota “parlemen jalanan” mereka begitu vocal menyampaikan kritik terhadap penguasa,tetapi ketika menjadi anggota parlmen sungguhan ,mereka justru mengamini bahkan mendukung berbagai kebijakan penguasa yang tidak memihak kepada kepentingan ummat.Padahal dahulu merekalah yang paling nyaring suaranya mengkritik hal tersebut.
Mari renungkan peringatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidziy dalam Sunannya :
"Janganlah kamu menjadi imma’ah (orang yang ikut-ikutan) dengan mengatakan kalau orang lain berbuat baik, kamipun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya" (HR. Tirmidzi).
Ketiga, Peka Problem.
Ibrahim ‘alaihissalam adalah sosok yang peka problem. Ketika tidak ada orang yang peduli bahkan larut pada penyimpangan aqidah di masyarakat seperti menyembah bintang dan berhala, sensitifitas Ibrahim sebagai seorang yang bertauhid muncul. Ia bangkit mengubah penyimpangan aqidah tersebut.
Ditempuhnya berbagai macam cara dan sarana untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Ia berdialog dengan hikmah, debat dengan cara terbaik (ahsan) bahkan sampai melakukan tindakan secara fisik (mengubah dengan tangan). Patung-patung yang disembah kaumnya dengan kapak hingga hancur berantakan.
Sebagai pemuda dan mahasiswa Muslim yang memiliki idealisme, harusnya peka terhadap berbagai problem yang melanda Ummat Islam. Peka problem juga bermakna pemuda Muslim harus mampu mengendus problem paling krusial yang menimpa ummat.
Sesungguhnya problem paling pelik yang menimpa ummat Islam hari ini tidak berbeda dengan masalah yang dihadapi nabi ibrahim yaitu masalah kerusakan aqidah. Upaya perusakan aqidah tersebut diusung dengan jargon-jargon yang kelihatannya ilmiah.
Upaya dekontrusi syari’ah, liberalisasi, bahkan sampai desakralisasi kitab suci disebarkan dengan kemasan yang mengatasnamakan pembaharuan dan pencerahan.
Pemuda Muslim seharusnya berada di garda terdepan dalam menghadang berbagai upaya penodaan dan perusakan terhap Islam. Sebagaimana dahulu Nabi Ibrahim memberantas kerusakan aqidah di tengah-tengah ummatnya.
Keempat, Bertindak Cerdas.
Ibrahim ‘alaihissalam telah memadukan antara sikap kritis dan peka problem dengan kecerdikan dalam bertindak. Sikap kritis tidak lantas membuat beliau bertindak tanpa perhitungan. Betul, beliau menghancurkan patung-patung yang disembah oleh Namruz dan rakyatnya. Tetapi beliau telah menyiapkan argumen yang cerdas untuk menjawab tuduhan dan tuntutan para penyembah berhala tersebut.
Beliau tidak menghancurkan semua patung yang ada. Beliau masih menyisakan satu patung yang paling besar dan meletakkan kapak di leher patung tersebut. Maksudnya adalah la’allahum ilaihi yarji’uun, agar mereka kembali kepadanya. Ibrahim hendak menghentak kesadaran mereka bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya keliru dan bertentangan dengan fitrah serta akal sehat.
Mereka kemudian tersadar bahwa sesembahan yang mereka ibadahi adalah Dzat yang tidak pantas untuk disembah. Berhala-berhala tersebut tidak sanggup memberi manfaat dan menolak mudharat. Berhala-berhala itu tidak kuasa membela diri ketika dihancurkan Nabi Ibrahim, bahkan hanya untuk sekadar berkata-kata. Jadi, Ibrahim tidak sekadar menghancurkan sarana kesyirikan, tetapi mengajak para pelaku kesyirikan untuk merenung mengakui kesalahan mereka. Wallaahu waliyyuttaufiyq.[Bogor 8/Dzulhijjah/1432 H]
(Dimuat di Eramuslim.com pada tanggal 11 dzulhijjah 1432 H)
Minggu, 06 November 2011
Setetes Darah Istri Tercinta
Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.
Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.
Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.
Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).
Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.
Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.
Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.
Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.
Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?
Muhammad Fauzil Adhim/www.hidayatullah.com)
Kamis, 03 November 2011
MEMBANGUN JIWA KEPEMIMPINAN DENGAN SIFAT TAUHID DAN SEMANGAT PENGORBANAN
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )
( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )
( يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا )
أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ .
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.
Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah
Tiada ungkapan yang paling indah pada pagi hari ini melebihi kesyukuran kepada Allah Ta'ala dengan melantunkan takbir, tahmid dan tahlil. Semangat berkurban yang merasuk ke dalam jiwa kaum mukminin, membangkitkan keimanan untuk senantiasa beramal saleh dan berbuat untuk agama Allah Ta'ala . Semuanya dilakukan atas dasar bakti dan syukur kepada Allah Ta'ala , sehingga berbuah kebahagiaan yang bermuara pada ungkapan Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu, Walillahi al-Hamdu.
Penyembelihan hewan kurban pada setiap Idul Adha senantiasa mengingatkan umat Islam pada perintah AllahTa'ala kepada kekasih dan rasul utusanNya, yaitu Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak semata wayangnya pada saat itu, yaitu Ismail alaihissalam sebagai ujian terberat dalam kehidupannya. Perintah ini dipatuhi oleh Nabi Ibrahim alaihissalam, namun penyembelihan anak kesayangannya pada akhirnya terganti dengan seekor domba jantan, maka syariat ini dikekalkan hingga akhir zaman. Kepatuhan terhadap perintah Allah Ta'ala mengantar Nabi Ibrahim alaihissalam menjadi sosok pemimpin yang kuat. Keteguhan Nabi Ibrahim alaihissalam dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta'alamengukuhkannya sebagai tokoh yang patut diteladani, sebagaimana firman Allah Ta'ala :
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” QS. al-Nahl(16): 120.
Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu pelajaran penting dari sosok Nabi Ibrahim alaihissalam. Sifat ini membuat Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai qudwah (teladan) di dalam menjalankan agama secara sempurna. Allah Ta'ala mengisahkan di dalam Alquran sifat utama Nabi Ibrahim alaihissalam ini dalam menyikapi pelanggaran terhadap ajaran agama, khususnya perkara kesyirikan yang dilakukan oleh penguasa, masyarakat atau bahkan hingga oleh ayahnya sekalipun. Dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan ayahnya, dan dengan Raja Namruz di dalam Alquran menegaskan jiwa kepemimpinan yang kuat ini, sehingga Allah Ta'ala berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim alaihissalam dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata.” QS. al-Mumtahanah(60): 4.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadikan penguasa suatu bangsa sejajar dengan penguasa bangsa lain atau bahkan lebih mulia, sehingga tidak mudah didikte oleh bangsa manapun kecuali jika sejalan dengan keinginan Allah Ta'ala. Kisah Nabi Sulaiman alaihissalam dengan Ratu Balqis yang memiliki kekuasaan agung adalah contoh dari sifat ini, Nabi Sulaiman alaihissalam tanpa ragu dan rasa takut meminta kepada Ratu Balqis untuk datang menjumpainya dan mengikuti ajaran tauhid yang dibawanya, “Janganlah kalian bersikap sombong kepadaku, namun datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Atau Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang berkirim surat kepada para penguasa di negara-negara adidaya pada zamannya dan mengajak mereka untuk memeluk Islam sebagai agamanya, “Saya mengajak anda untuk menganut agama Islam, niscaya anda akan selamat (di dunia dan akhirat) dan kekuasaan anda akan bertahan”, demikian seruan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada para penguasa ini, di antaranya adalah Kaisar Romawi dan Persia.
Jiwa kepemimpinan menjadikan seseorang sebagai qudwah (teladan) bagi sesama umat manusia di dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala sebagai doa orang-orang beriman:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. QS. al-Furqan(25): 74.
Menurut Ibnu Abbas radhiyallaahu anhuma, yaitu pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.
Keteladanan sikap dan perilaku yang sesuai dengan perkataan, merupakan nilai moral yang dibutuhkan oleh suatu bangsa untuk maju dan disegani. Tumbuhnya kepercayaan dalam diri setiap anggota masyarakat terhadap pemimpinnya disebabkan oleh sifat keteladanannya, sehingga menjadi dasar terhadap pelaksanaan segala kebijakan yang bertujuan membangun kesejahteraan mereka.
Jiwa kepemimpinan juga menjadikan suatu bangsa dapat membangun peradaban yang tinggi dan mampu bertahan dengan peradaban itu. Tidaklah peradaban bangsa-bangsa besar pada zaman dahulu dapat terbangun dan bertahan kecuali karena mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Kekuasaan masing-masing bangsa terbentuk menjadi suatu kekaisaran (imperium) yang memiliki wilayah begitu luas, demikian pula umat Islam yang memiliki wilayah pemerintahan sangat luas dan pengendalian yang kuat terhadap wilayah-wilayah tersebut, khususnya pada masa pemerintahan khulafa’ rasyidun. Pemerintah Islam pada zaman itu berhasil membangun peradaban dunia yang berlandaskan pada ajaran Alquran, berkat jiwa kepemimpinan para khalifahnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Kehilangan atau kelemahan jiwa kepemimpinan akan membuat suatu bangsa inferior (merasa rendah diri) di hadapan bangsa lain, sehingga hanya dapat membeo terhadap segala keinginan bangsa tersebut. Kondisi ini juga bisa membuat bangsa ini menggadaikan kedaulatannya kepada bangsa tersebut dengan tidak langsung, seperti mengadopsi sistem politik, atau menjiplak sistem ekonomi dan budaya secara mutlak. Dampaknya berujung pada kesejahteraan masyarakat, mereka tidak memiliki kemerdekaan penuh dalam pengelolaan sumber daya alam, atau dalam sistem berpolitik dan berbudaya yang bersumber pada nilai-nilai kemuliaan, sehingga tingkat kehidupan mereka tidak mengalami pertumbuhan seiring berkurangnya potensi alam yang ada, tetapi tetap berada di bawah garis kesejahteraan pada bidang ekonomi, atau tetap latah dengan gaya hidup orang lain yang tidak menunjukkan kemuliaan sebagai manusia apalagi sebagai seorang muslim.
Krisis panutan adalah dampak lain dari hilangnya jiwa kepemimpinan di tengah masyarakat. Tidak mudah mencari orang yang selaras perbuatan dengan perkataannya, atau begitu mahal nilai sebuah kejujuran, sehingga menemukan seorang yang jujur menjadi ibarat oase di tengah luasnya gurun tandus kedustaan. Berita tentang seorang yang jujur menjadi luar biasa, media-media informasi meraup keuntungan besar karena menyebarkannya, seorang pejabat penting masyarakat bahkan hingga harus rela berjalan kaki buat menemui orang yang diberitakan jujur tersebut. Mencari panutan pada saat jiwa kepemimpinan telah hilang, ibarat mencari butiran emas di pasir bebatuan sungai, tidak mudah dan paling sering tidak menemukannya. Harapan yang besar biasanya memberi gambaran fatamorgana yang tidak memiliki kebenaran, sehingga pada saat dibutuhkan, yang terjadi hanyalah segudang kekecewaan karena tertipu dengan gambaran lahiriyah tanpa hakikat. Begitulah kondisi suatu masyarakat yang tidak memiliki orang-orang berjiwa pemimpin.
Berbagai kasus di negeri ini menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan akan krisis jiwa kepemimpinan di kalangan anak bangsa. Kasus perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri dan tidak memberikan kontribusi pendapatan yang wajar kepada negara dan bangsa bahkan terhadap masyarakat sekitarnya sekalipun, kasus penanganan terorisme dan korupsi yang terkesan tebang pilih, hingga kasus separatisme yang merebak di tanah Papua dan upaya campur tangan lembaga asing buat penyelesaiannya. Masyarakat tidak mendapatkan teladan yang baik dari para penanggungjawab permasalahan-permasalahan ini, sehingga cenderung bersikap putus asa dan berlepas tangan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Kondisi krisis seperti ini tidak dapat dibiarkan, harus ada upaya membangun kembali jiwa kepemimpinan pada diri setiap masyarakat, khususnya kaum muslimin sebagai penduduk mayoritas negeri ini. Upaya yang dilakukan itu sepatutnya bersumber pada sejarah perjuangan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam membina pribadi para sahabat. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan teladan utama dalam pembinaan dan para sahabat adalah teladan terbaik dalam jiwa kepemimpinan, bukan hanya sahabat yang memiliki kekuasaan politik seperti khulafa’ rasyidun, namun secara umum para sahabat yang dibina langsung oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, masing-masing mereka memiliki sifat ini, sehingga setiap sahabat tersebut menjadi pemimpin di bidangnya. Kondisi ini membuat peradaban kaum muslimin pada masa itu berkembang sangat pesat hingga meruntuhkan peradaban lain yang lebih dulu ada, seperti Persia dan Romawi.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memulai pembinaan pribadi para sahabat pada permasalahan akidah dan tauhid, penegasan terhadap Kemahaesaan Allah Ta'ala untuk disembah dan penolakan terhadap segala bentuk perbuatan kesyirikan. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menanamkan ke dalam diri para sahabat butir-butir keimanan kepada hari akhirat dan meluruskan visi hidup setiap mereka, sehingga amal perbuatan para sahabat dapat bertujuan ukhrawi meskipun amal itu bersifat duniawi. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga meniupkan ke dalam jiwa para sahabat ruh kemerdekaan dan kebebasan dari segala bentuk penghambaan kecuali hanya kepada Allah Ta'ala dan bahwa semua manusia dan semua bangsa adalah sama di hadapan Allah Ta'ala kecuali yang bertakwa, maka dialah yang termulia.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam selanjutnya membina jiwa kepemimpinan dalam diri para sahabat dengan menanamkam semangat pengorbanan (tadhiyah). Pengorbanan dengan segala potensi diri yang dimiliki, waktu, harta, perhatian bahkan jiwa, demi menggapai cita-cita termulia yaitu keridaan Allah Ta'ala (mardhatullah). Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mendidik para sahabat untuk bersabar dalam pengorbanan ini, semuanya buat hasil terindah berupa surga Allah Ta'ala . Sebagaimana ungkapan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada keluarga Yasir yang disiksa oleh bangsa Quraisy pada zaman awal agama Islam disebarkan:
اصْبِرُوا آلَ يَاسِرٍ مَوْعِدُكُمُ الْجَنَّةُ
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan buat kalian adalah surga”
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengingatkan para sahabat bahwa cita-cita yang tinggi tidak dapat diraih kecuali dengan pengorbanan dan kesabaran di dalamnya. Segala ujian, berupa kesempitan dan kelapangan, kesusahan dan kelancaran adalah dinamika kehidupan yang harus dilalui oleh siapapun yang telah memilih keimanan sebagai jalannya menuju Allah Ta'ala .
Keyakinan terhadap ajaran tauhid menjadi pondasi dari bangunan jiwa kepemimpinan yang kuat, karena dapat memberikan kepada seorang manusia kemerdekaan dari penghambaan dan ketundukan kepada sesama makhluk, sehingga dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah Ta'ala , tidak tunduk kecuali hanya kepada aturan yang datang dari Allah Ta'ala atau yang sesuai dengannya. Sifat pengorbanan di jalan Allah Ta'ala menjadi landasan operasional buat membentuk pemimpin yang kuat, karena sifat ini akan menempa seorang manusia menjadi pribadi yang tegar dan tahan terhadap segala ujian, dan juga menghindarkannya dari sifat kikir dan cinta kepada dunia yang berlebih-lebihan.
Kedua sifat ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan pengorbanan dengan penuh kesabaran adalah jalan untuk membangun jiwa kepemimpinan yang kuat, sebagaimana firman Allah Ta'ala :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. QS. al-Sajdah(32): 24.
Namun, kedua sifat ini juga tidak dapat diwujudkan dan dipelihara kecuali dengan proses tarbiyah (pembinaan) yang dijalankan secara berkesinambungan dan mengacu kepada sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersama para sahabat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kepada segenap dai dan ulama, anda sekalian adalah pemimpin sejati bagi umat manusia, Allah Ta'ala telah menjadikan setiap anda sebagai teladan di dalam kehidupan, olehnya itu, jadilah teladan yang baik bagi umat manusia, serukanlah kebenaran dan jangan pernah takut atau ragu untuk menyuarakannya. Sampaikanlah agama, binalah umat ini dengan nilai-nilai kemuliaan yang berdasarkan ajaran tauhid (keesaan Allah Ta'ala ) dan dakwahkanlah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dengan penuh amanah dan kesantunan, semoga dengan itu kesadaran umat untuk menjalankan agama semakin membaik.
Kepada segenap pengelola negara, kami tidak pernah berhenti menyerukan untuk menegakkan keadilan dengan ajaran Islam. Agama Islam diturunkan oleh Allah Ta'ala untuk dilaksanakan dan memberikan kesejahteraan kepada umat manusia, olehnya itu jalankanlah tuntunan agama ini dengan penuh keyakinan dan kejujuran, raihlah kemuliaan dan kebanggaan sebagai pemimpin bangsa dengan menjadikan agama sebagai panduan, tegakkanlah kewibawaan bangsa ini karena agama adalah identitasnya, niscaya kewibawaan itu disegani oleh bangsa lain.
Kepada segenap orang tua dan kaum pendidik, kami mengingatkan besarnya tanggungjawab terhadap generasi muda, olehnya itu didiklah anak-anak anda sekalian untuk cinta kepada Allah Ta'ala , kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan kepada agamanya. Tanamkanlah sejak dini ke dalam diri mereka jiwa kepemimpinan yang kuat, dengan memperkokoh akidah tauhid dan memotivasi semangat mereka untuk melakukan ketaatan terhadap perintah-perintah Allah Ta'ala , hindarkanlah mereka dari perkara-perkara yang dapat merusak agama, semoga Allah Ta'ala mengaruniakan anda sekalian generasi yang saleh.
Kepada segenap kaum wanita, kami menyerukan untuk memelihara kemuliaan dengan berjilbab yang benar, berbusana yang sopan dan jauh dari kesan menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, jagalah sikap dan pergaulan agar tetap menunjukkan identitas sebagai wanita muslimah. Janganlah tertipu dengan gemerlap kehidupan dunia seperti yang ditampilkan oleh para artis atau selebritis, karena kadang hal itu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jadilah diri sendiri dan lakukanlah kebaikan untuk kemaslahatan diri dan keluarga, semoga anda diberkati menjadi muslimah yang salehah.
Kepada segenap generasi muda Islam, tuntutlah ilmu yang bermanfaat setinggi-tingginya dan berbuatlah yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga buat bangsa, negara dan umat Islam. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dengan beribadah kepada Allah Ta'ala dan jangan disia-siakan dengan bersenda gurau tanpa manfaat atau dihabiskan dengan begadang malam di tempat-tempat maksiat. Bersiaplah menjadi pemimpin di masa depan dengan menjadi muslim sejati, semoga Allah Ta'ala memberkati hari-hari anda sekalian.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Mari berkurban sesuai tuntunan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam , hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.
Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi dia bisa mewakilkannya kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya.
Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Nilai pahala hewan kurban seseorang di sisi Allah Ta'ala tidak hanya diukur dengan banyaknya daging yang dihasilkan atau banyaknya darah yang dikucurkan, tetapi sifat keikhlasan pemiliknya, olehnya itu luruskanlah niat hanya mengharap balasan dariNya semata.
Akhirnya, pada hari yang mulia ini, marilah kita sekali lagi memuji dan bersyukur kepada Allah seraya menundukkan hati, pandangan dan wajah kita, berdo’a dan bermunajat kepada Allah Ta'ala ,
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم
Ya Allah, Engakulah Penguasa langit dan bumi, Penguasa dunia dan akhirat, kami datang kepadaMu pada hari yang penuh berkah ini mengadukan beratnya dosa yang telah kami lakukan. Kami sadar bahwa nikmat pemberianMu belumlah dapat kami syukuri dengan sebenarnya, kami mengaku kesalahan kami lebih banyak dari kebaikan kami, namun kami yakin bahwa Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang, maka kami berharap kepada-Mu, Ya Allah ampunkanlah segala dosa dan kesalahan kami.
Ya Allah, kedua ayah dan ibu kami adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepada-Mu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada mereka kecuali seuntai doa kepada-Mu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjukilah mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunan-Mu, Engkaulah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.
Ya Allah berkahilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dengan ketaatan kepada-Mu, yang akan mengundang curahan rahmat-Mu. Lindungilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari busuknya dosa dan pengingkaran atas syariat-Mu. Ya Allah janganlah Engkau timpakan azab atas kami karena kezaliman sebagian orang di antara kami. Berikankanlah pemimpin-pemimpin kami keyakinan dan kemampuan untuk menjalankan syariat-Mu, yang dengannya mereka membimbing kami menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.
Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.
رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
Sabtu, 15 Oktober 2011
Antara Wahabi dan Isu Terorisme
Kita tentu bersyukur, seorang ketua umum sebuah organisasi massa besar seperti KH Said Aqil Siradj begitu peduli terhadap teror bom yang banyak menimbulkan korban dari masyarakat yang tak bersalah. Bahkan sebenarnya bukan hanya KH Said Aqil Siradj, tokoh yang sering dikait-kaitkan dengan kasus terorisme seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir (ABB) pun mengecam aksi bom di Cirebon dan Solo sebagai tindakan ngawur yang jauh dari pemahaman syariat. Pada beberapa kesempatan, ABB menyatakan bahwa Indonesia adalah wilayah aman yang karenanya Islam harus ditegakkan lewat cara-cara damai.
Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari artikel Kiai Said di atas, yang terkesan seperti menabur angin, mengenai siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi. Dalam beberapa alineanya, artikel tersebut bahkan seperti mengumbar stigma yang gebyah uyah. Jika tak dikritisi, tulisan tersebut bisa menimbulkan ragam penafsiran di masyarakat dan generalisasi terhadap kelompok yang dituduh mengusung dakwah Wahabi. Sehingga hal ini bisa berpotensi memicu konflik sosial di akar rumput, sebagaimana terjadi pada sebuah pengajian hadits di Klaten, Jawa Tengah, yang nyaris dipaksa bubar karena dianggap bagian dari dakwah Wahabi.
Diantara kalimat yang bisa menimbulkan bias pemahaman dan stigma dari tulisan KH Said Aqil adalah, “Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘tawuran’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘cikal bakal’ radikalisme.”
Pada alinea lain, KH Said Aqil mengusulkan agar dilakukan “sterilisasi” masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang kelompok puritan radikal, sebuah kelompok yang menurutnya seringkali menimbulkan “tawuran” di tengah masyarakat. Dalam kesempatan lain, KH Said Aqil bahkan meminta masyarakat untuk mewaspadai 12 yayasan dari Timur Tengah yang ditengarai mendapat suntikan dana dari kelompok Wahabi. Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang dimuat dalam harian ini seolah menyatakan bahwa memerangi ideologi teror sama dengan memerangi ideologi puritan radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai Wahabi. Kelompok yang saat ini menurutnya mengendap-endap di dunia pendidikan, membawa suntikan beracun berisi “ideologi puritan radikal”.
Antara Wahabi dan Terorisme
Stigma Wahabi merujuk pada sosok ulama abad ke-18 bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimy An-Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah (pembaharuan dan pemurnian) akidah kaum muslimin dari beragam kemusyrikan dan amaliah yang tidak diajarkan oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai yang tak pernah menyebut kiprah dakwahnya dengan penamaan dakwah Wahabi atau tak pernah mendirikan organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru muncul belakangan, itupun dengan tujuan stigmatisasi oleh mereka yang tak setuju dengan pemikiran yang diusung dalam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
Di Indonesia, stigma Wahabi juga pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham Wahabi di Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut sebagai pengusung dakwah Wahabi. Baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ataupun generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak pernah ada yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai Wahabi.
KH. Said Aqil Siradj dalam tulisannya tak menjelaskan siapa saja atau kelompok mana saja yang masuk dalam kategori puritan radikal pengusung dakwah Wahabi. Ia hanya menjelaskan, kelompok tersebut tak menghargai perbedaan dan mudah memberikan label sesat pada sesama Muslim lainnya. Sama tak jelasnya, ketika ia melontarkan pernyataan bahwa ada 12 yayasan milik Wahabi yang perlu diwaspadai yang kini beroperasi di Indonesia. Apa saja yayasan itu, kenapa perlu diwaspadai, adakah pelanggaran baik dari sisi hukum nasional ataupun hukum Islam dari 12 yayasan tersebut sehingga layak untuk diwaspadai tak pernah dijabarkan. Sekali lagi, apa yang dilontarkan KH Said Aqil seperti menabur angin, menerpa siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi.
Jika merujuk pada banyak kasus yang terjadi di basis-basis NU, maka kelompok puritan radikal atau Wahabi yang dimaksud KH Said Aqil adalah mereka yang membid’ahkan tahlilan, tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi, dan amaliah lainnya yang menjadi tradisi di kalangan Nahdhiyyin. Kriteria inilah yang sering diungkapkan oleh KH Said Aqil di media massa ketika menyoroti kiprah kelompok yang ia sebut sebagai “Wahabi”. Namun, adakah kaitannya antara kelompok yang berdakwah untuk menjauhi bid’ah dalam urusan ibadah dengan kelompok teroris?
Nyatanya seluruh ormas Islam di Indonesia, baik yang meyakini bolehnya tahlilan atau tidak, sepakat bahwa aksi pengeboman di zona damai adalah perbuatan yang diharamkan Islam, apalagi pemboman yang terjadi di tempat ibadah. Bom yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan jihad tentu mencoreng nama Islam. Islam mengajarkan syariat jihad dengan batasan dan aturan yang ketat dan rinci. Jihad tidak mengedepankan hawa nafsu dan serampangan. Jihad sangat menghargai nilai-nilai dan hak asasi manusia, termasuk di dalamnya hak-hak sipil. Dalam perang, musuh yang menjadi target adalah para combatan dan basis-basis militer, bukan orang-orang sipil, fasilitas umum, dan tempat-tempat ibadah.
Akhirul kalam, menyebut dakwah Wahabi sebagai kontributor aksi teror bom tak pernah bisa dibuktikan dengan jelas. Stigmatisasi itu tak lebih daripada memukul bayang-bayang. Kita tentu tak sepakat dengan sekelompok orang yang mudah mengkafirkan muslim lainnya hanya karena urusan khilafiyah. Kita juga tak setuju dengan pola-pola dakwah yang eksklusif, merasa paling benar, dan jauh dari nilai-nilai akhlakul karimah. Jika ada perbedaan dalam urusan dakwah, maka selesaikan dengan jalan dialog. Begitupun jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal furu’iyah maka kedepankanlah sikap tasamuh (toleran). Stigmatisasi yang tak jelas di tengah prahara terorisme akan menambah beban masalah yang melebar ke mana-mana. Selain persoalan ideologi yang menyimpang, akar dari terorisme adalah ketidakadilan global yang melanda negeri-negeri Muslim. (Disalin dari tulisan Ust Heri Nurdi di Harian Republika, 7 Oktober, 2011)
Senin, 10 Oktober 2011
Membungkam Kerancuan Pluralisme Dengan Logika Sederhana
Penulis : Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani
Tahun : Terbitan kedua 1432 H/2011
Tebal : 316 Halaman
Dr Adian Husaini MA dikenal sebagai tokoh yang gigih penyebaran berbagai pemikiran destruktif yang merusak aqidah ummat.Beliau selalu berada di gardaterdepan dalam membendung arus liberalisme di tanah air.Salah kontribusi beliau dalam menjawab berbagai syubuhat yang merusak aqidah adalah dengan menulis buku dan atikel-artikel ilmiyah. Diantara buku yang telah beliau susun adalah;Islam Liberal,Sejarah,Konsepsi,Penyimpangan dan Jawabannya,Wajah peradaban barat, Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler Liberal,Hegemoni Kristen –Barat Dalam Studi Islam Di Perguruan Tinggi,Membendung Arus Liberalisme (Kumpuan CAP di www.hidayatullah.com), Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam,Muslimah Daripada Liberal dan sebagainya.
Sebenarnya kajian liberalisme,pluralisme dan pemikiran destruktif lainnya termasuk kajian yang cukup berat.Tetapi dalam karya –karya Dr Adian kita akan memahami dan menjawab dengan mudah argumen-argumen kaum liberalis tersebut .Salah satu karya beliau yang beirisi trik-trik praktis untuk menjawab argumen kaum liberal adalah sebuah novel yang berjudul,Kemi ,Cinta kebebsan yang Tersesat.
Novel ini bercerita tentang kisah pergolakan pemikiran seorang santri bernama Kemi yang terjangkiti virus SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme). SEPILIS adalah Virus Pemikiran yang telah difatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia. Cerita berawal ketika Kemi meninggalkan ponpes Minhajul Abidin, tempatnya menimba ilmu agama selama bertahun-tahun. Ia keluar pesantren atas ajakan Farsan, kakak kelasnya yang telah bergabung dengan sebuah jaringan yang bergerak dalam menyebarkan paham Sekularisme, pluralisme, dan Liberalisme.
Tokoh lain yang dikisahkan dalam cerita ini adalah Rahmat, seorang santri yang masih merupakan rekan Kemi di pesantren. Rahmat dikenal cerdas dan istiqamah. Kyai Rais mengutusnya untuk menyelamatkan Kemi dan membawanya kembali ke Pesantren. Untuk menjalankan misi tersebut, Rahmat mendaftar sebagai mahasiswa di Institut Damai Sentosa, kampus yang menjadi corong penyebaran paham Sekularisme, pluralisme, liberalisme, multikuralisme, kesetaraan gender, bahkan dekontruksi kitab suci.
Adapula tokoh lain yang bernama Siti, Putri Kyai terkenal yang terjebak dalam pemahaman femisime liberal. Ia terperangkap dalam jejaring kebebasan yang semu. Namun semenjak bertemu dengan Rahmat, ia mengalami pergolakan dalam batinnya. Ia mulai mempertanyakan makna dan hakikat kebebasan yang selama ini diperjuangkannya. Pada saat yang sama, naluri kewanitaannya muncul. Diam-diam ia jatuh cinta kepada Rahmat, bahkan cintanya tak terbendung. Namun, di sisi lain ia tidak kuasa menghapus bayang-bayang dosa dan kesalahan yang terus menghantuinya.
Melalui dialog antartokoh dalam novel ini, Ustadz Adian menyingkap satu persatu argumen para pengusung ide pluralisme dan relativisme. Seperti dalam salah satu fragmen dialog antara toko Kemi dan Rahmat berikut ini:
“Tetapi, coba kita berdiskusi lebih menukik... soal Tuhan, misalnya. Menurut saya, yang penting adalah substansinya. Apalah arti sebuah nama. Tuhan itu satu. Tetapi manusia mempersepsikan dan memanggilnya dengan persepsi dan lingkungan budaya masing-masing. Orang Islam memanggil Allah, orang Yahudi memanggil Yahweh, orang Kristen memanggil Yesus, orang Hindu memanggil Brahman dan sebagainya. Nama Tuhan memang berbeda-beda, tetapi Tuhan tetap satu. ‘Berbeda-beda tetapi tetap satu’. Kata professor John Hick, kamu tahu kan dia, God had many names. Itu judul buka yang ia tulis. Ya kan, Rahmat...?” “Kalau memang masalah nama tidak penting, kenapa kamu tidak berdoa saja, ’’Wahai Yahweh, Wahai Tuhan Yesus?” Menurut saya, kamu sudah cukup keblinger. Harusnya sebagai orang Islam, kamu sudah paham masalah ini. Coba, mau nggak kamu baca syahadat tidak ada Tuhan selain Yahweh... Tidak ada Tuhan selain Dewata Agung. Ayo, ...................” (hal:59-60).
Hal yang sama juga nampak ketika Rahmat menaklukan Profesor Malikan di ruang kuliah (Hal:164-173). Demikian pula ketika santri andalan Kyai Rais tersebut mempermalukan Kyai Dulpikir di ruang seminar (Hal:238-243). Bahkan Kyai tersebut meninggal usai seminar.
Dari novel ini, pembaca dapat belajar cara mudah mematahkan argumentasi pluralisme, liberalisme, relativisme, multikulturalisme dan pemahaman menyimpang lainnya. Buku ini sangat mudah dipahami karena disajikan dengan gaya bercerita dan dialog. Pembaca tidak perlu mengerutkan kening untuk menyerap isi dan pesan dari novel yang mendapatkan pujian dari Taufik Ismail ini.
Oleh karena itu, novel ini penting dibaca para santri, mahasiswa, da’i dan semua pihak yang memiliki kepedulian untuk menjaga keimanan dan keislamannya serta menghendaki terbentenginya aqidah ummat dari berbagai pemahaman dan pemikiran destruktif yang semakin gencar menyerang ummat Islam.(Syams,Bogor 11/11/1432 H)
Kamis, 29 September 2011
Hidayah Lambat Karena Adat
Jikalau ada yang diperlambat datangnya hidayah, bukan karena Dia kikir atau pelit, sungguh Dia Maha Penyayang lagi Maha Pemurah. Keterlambatan, atau bahkan terhalangya seseorang dari hidayah itu disebabkan oleh ulah dan sikap manusia dalam menerima dan menyambutnya. Atau dominasi hawa nafsu yang menguasai diri, sehingga menampik datangnya hidayah. Baik hidayah Islam secara global, ataupun hidayah tafshil (yang rinci), berupa menjalankan berbagai perintah, dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah.
Adat, Hambatan Paling Berat
Saat cahaya Islam pertama kali menyapa kaum Arab Quraisy, tak serta merta disambut dengan gegap gempita. Bahkan lebih banyak penentang katimbang pendukungnya. Alasan paling populer dari para penentang adalah, karena Islam tak sejalan dengan adat dan agama nenek moyang mereka.
Taklid kepada leluhur lebih mereka utamakan dari ajakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun hati kecil mereka meyakininya. Tak ada penghalang yang lebih berat bagi Abu Abu Thalib, paman Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, selain beban untuk berpegang kepada agama leluhurnya. Adalah Abu Jahal yang memprovokasi Abu Thalib di ujung hayatnya. Dia membujuk, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, sebelum meninggal, dia mengulang-ulang sya’irnya,
Kalau saja bukan karena agama nenak moyang yang dicela
Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela
Sikap ini mewakili sekian banyak orang yang menampik hidayah, juga enggan untuk tunduk terhadap titah Allah dan Rasul-Nya. Karakter para penentang ini dikisahkan dalam firman-Nya,
“Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (QS. Al Maidah:104)
Ketika mereka diajak menjalankan agama Allah dan syariatnya, menjalankan kewajiban dan apa yang diharamkannya, mereka menjawab, ”cukup bagi kami mengikuti cara dan jalan yang telah ditempuh oleh bapak dan kakek kami.” Demikian dijelaskan tafsirnya oleh Ibnu Katsier rahimahullah.
Seakan al-Qur’an masih hangat turun ke bumi. Betapa alasan ini sangat populer kita dapati. Tatkala didatangkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, baik tentang larangan yang tak boleh dijamah, atau perintah yang mesti dilakukan, seringkali kandas ketika dalil itu tak sejalan dengan kebiasaan yang telah berjalan. ”Jangan merubah adat…! Ini sudah tradisi para leluhur…! Biasanya memang begini…!” dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan mereka jika adat diganti dengan syariat. Ungkapan seperti ini tak jarang muncul dari lisan orang yang telah menyatakan dirinya Islam, yang telah mengikrarkan bahwa ia rela Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan Islam sebagai agamanya. Tapi begitu syariat tidak sejalan dengan adat, adat lebih mereka utamakan.
Sejenak kita akan tahu bahwa, masih banyak warisan adat leluhur yang ternyata bertentangan dengan syariat, bahkan jika dirunut, tak hanya warisan nenek moyang masyarakat Indonesia, tapi warisan penyembah berhala di era jahiliyah Arab.
Kesesatan yang Dilestarikan
Atas nama melanggengkan nilai-nilai luhur tradisi nenek moyang, budaya sesaji masih tetap lestari. Dari yang hanya sekedar mempersembahkan menu ’wajib’ berupa hewan sembelihan, maupun yang berupai kemenyan, buah-buahan dan ’tetek bengek’ lain sebagai menu tambahan. Semua itu ditujukan kepada sesuatu yang diagungkan, apakah jin penunggu, arwah leluhur atau dewa yang diyakini keberadaannya.
Tradisi ini mengiringi momen-momen penting dalam kehidupan manusia, seperti peringatan kelahiran, kematian, upacara pernikahan, peresmian gedung atau jembatan, peringatan hari besar, juga untuk tujuan insidental seperti mencegah terjadinya marabahaya. Tak ketinggalan pula masyarakat kita yang mengaku dirinya muslim. Mereka turut membudayakannya dengan sedikit modivikasi dan dikemas dengan simbol-simbol Islam.
Sulit untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, sejak kapan tradisi sesaji bermula di negeri ini. Paling-paling kita harus puas dengan jawaban, ”itu sudah menjadi adat nenek moyang sejak dahulu.”
Jika ditelisik, sesaji tak hanya menjadi tradisi Hindu atau penganut animisme maupun dinamisme di Indonesia saja. Tapi juga merupakan adat jahiliyah Arab, yang kemudian disapu bersih dengan hadirnya Islam. Ini terlihat dari banyaknya ayat dan hadits yang melarang sembelihan untuk selain Allah, juga ancaman bagi yang melakukannya.
Dahulu, orang biasa Arab biasa menyembelih hewan di sisi kuburan, lalu Islam melarangnya. Sebagaimana hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam
لاَ عَقْرَ فِي الإِسْلاَمِ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: كَانُوا يَعْقِرُونَ عِنْدَ الْقَبْرِ بَقَرَةً أَوْ شَاةً
“Tidak boleh ada ‘aqr (menyembelih di kuburan) dalam Islam.” (HR. Abu Dawud)
Abdurrazzaq yang meriwayatkan hadits tersebut berkata; dahulu mereka menyembelih sapi atau kambing di kuburan.
Dengan alasan mengikuti adat, tradisi itupun masih dilestarikan dengan istilah bedah bumi (‘meminta ijin’ untuk menggali liang kuburan), atau sebagai penghormatan kepada orang yang telah mati.
Padahal secara tegas Nabi shallallaahu 'alaihi wasallambersabda,
وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه
“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)
Jimat untuk kesaktian dan penangkal bahaya, juga menjadi warisan orang musyrik terdahulu. Suatu kali, sahabat Hudzaifah bin Yaman menengok orang sakit. Beliau melihat di lengan si sakit ada gelang (untuk jimat). Maka beliau langsung melepasnya sembari membaca firman Allah,
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah ( dengan sembahan-sembahan lain ).”(QS. Yusuf:106)
Bukankah praktik ini sering kita jumpai dalam bentuk rajah di pintu rumah, di warung, kendaraan, atau jimat lain berupa gelang, kalung atau cincin yang dianggap memiliki khasiat bisa mendatangkan manfaat dan mencegah madharat. Inilah keyakinan syirik warisan jahiliyah, di mana Islam datang untuk membersihkan dan menghilangkannya.
Belum lagi berbagai keyakinan khurafat yang masih subur dan diwariskan turun temurun.
Meninggalkan Adat Demi Syariat
Ajaran tauhid mengharuskan penganutnya bersih dari syirik, meski itu berupa adat yang mendarah daging dan mengakar kuat. Wajar, jika dakwah Nabi SAW oleh orang Arab diidentikkan dengan dakwah untuk meninggalkan adat nenek moyang.
Heraklius, Kaisar Romawi yang beragama Nasrani pernah bertanya kepada Abu Sufyan saat masih musyrik, ”Apa yang Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam serukan atas kalian?” Abu Sufyan menjawab,
يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَة
“Beliau mengatakan, “Hendaklah kalian hanya beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hendaknya kalian meninggalkan pendapat nenek moyang kalian, dia juga menyuruh kami shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan dan menjalin persaudaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menyelisihi kebiasaann nenek moyang bukanlah cela. Melanggar adat tak juga membuat kita kualat. Bahkan orang yang kualat dan mendapat ganjaran berupa siksa yang berat adalah mereka yang mempelopori adat yang sesat, juga para pengikutnya di dunia.
Di dalam hadits Bukhari, Nabi juga bersabda, ”Aku mengetahui, siapakah orang pertama yang merubah ajaran (tauhid) Ibrahim alaihis salam.” Para sahabat bertanya, ”Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Dia adalah Amru bin Luhay, saudara Bani Ka’ab. Aku melihatnya dia menyeret usus-ususnya di neraka, hingga penduduk neraka yang lain terganggu oleh bau busuknya.” (HR. Bukhari)
Begitulah ganjaran bagi orang yang membawa berhala ke negeri Arab, yang tadinya telah dibersihkan oleh kapak dan dakwah tauhid Ibrahim alaihis salam. Apakah kita tetap akan membanggakan para leluhur meski memiliki kemiripan dengan Amru bin Luhay?
Teladanilah sikap yang diambil oleh seorang tabi’in, Syuraih al-Qadhi ketika beliau ditanya, ”Dari kaum manakah Anda?” Beliau menjawab, ”Dari kaum yang Allah telah karuniakan Islam atasnya. Sedangkan orangtuaku dari Kindah.” Beliau lebih suka menisbahkan dirinya kepada Islam, katimbang membanggakan sukunya.
Karena beliau tahu, suku atau keturunan siapa tak akan membuatnya mulia atau hina, tidak pula menolongnya kelak di akhirat. Nenek moyang tak mampu menyediakan surga baginya, bahkan, jika mereka sesat, mereka sendiri dalam keadaan hina. Simaklah kabar Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam tentang mereka,
لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجِعْلاَنِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتِنَ
Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaumnya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari ji’lan (kumbang kotoran) yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Memang, tak semua adat itu sesat, sehingga wajib kita mengukurnya dengan barometer syariat. Jika memang bertentangan, janganh ragu meningalkannya, demi merealisasikan ajaran Islam yang hanif. (Abu Umar Abdillah/http://www.arrisalah.net/kolom/2010/09/hidayah-lambat-karena-adat.html)
Bahtera Pena Para Ulama
Oleh Ust DR Ahmad Zain An Najah MA
Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du :
Umat Islam mencapai kejayaannya, manakala para generasinya bekerja keras, tanpa kenal lelah untuk menggapai cita-citanya. Hal ini terbukti pada zaman keemasan Islam di mana para ulama telah menorehkan berbagai karya agung yang mereka toreh dengan keringat, air mata dan darah mereka. Karya-karya besar mereka sebagiannya sudah sampai kepada kita, sehingga kita bisa ikut merasakan manfaatnya yang begitu besar khususnya di dalam memahami ajaran agama kita.
Sebagai generasi yang datang terakhir, hendaknya kita mengambil pelajaran dari karya-karya tersebut, bagaimana mereka menorehnya, bagaimana mereka mengerjakan pekerjaan yang besar tersebut, padahal kemampuan mereka sebagai manusia bisa dikatakan sama dengan kemampuan kita. Tetapi mereka bisa membuktikannya, sedang kita belum bisa membuktikannya. Apa yang membedakan antara mereka dengan kita ? Bukankah mereka adalah manusia yang juga makan dan minum sebagaimana kita makan dan minum ? Bahkan pada masa mereka sarana kehidupan sangat sederhana dan terbatas, sedang sarana kehidupan kita saat ini sangat banyak, beragam dan serba canggih ?
Dalam tulisan berikut ini, akan kita temukan bahwa mereka mampu berkarya, karena mereka mempunyai kemauan yang kuat dan cita-cita yang tinggi. Mereka benar-benar mengejar cita-cita tersebut dengan keringat, air mata dan darah. Mereka tinggalkan segala bentuk kesenangan yang membuaikan dan meninakbobokan, mereka tiggalkan segala bentuk permainan dan senda gurau yang melupakan, mereka tinggalkan segala bentuk kegiatan yang tidak mendukung cita-cita mereka. Mereka kerahkan seluruh potensi yang ada di dalam diri mereka, mereka bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin. Mereka sangat menghargai waktu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam untuk meraih cita-cita tersebut.
Tiada kata berhenti di dalam hidup mereka, tiada kata istirahat di dalam kegiatan mereka. Mereka terus bekerja, bergerak dan berkarya sampai ajal menyemput mereka. Salah seorang dari mereka, yaitu Imam Ahmad ketika ditanya oleh kawan-kawannya ; “ Wahai Imam…kenapa anda terus menerus belajar ? kenapa tidak istirahat sejenak ? “ . Beliau menjawab : “ wahai teman, istirahatnya nanti ketika kita di syurga “
Tak ayal karya-karya mereka telah memenuhi bumi ini, bagaikan udara yang memenuhi seluruh ruangan. Ibnu Aqil salah satu dari mereka yang memiliki karya tulis yang beraneka ragam dan yang paling spektakuler adalah kitab “ Al-Funun “, sebuah ensiklopedia yang memuat beragam ilmu yang sangat berharga, terdapat di dalamnya berbagai macam nasehat, tafsir, fiqih, ushul fiqih, aqidah, bahasa Arab, sya’ir, sejarah, bahkan juga hikayat. Kitab “ Al-funun “ ini terdiri dari 800 jilid. Kitab ini hanya salah satu karya beliau saja. Beliau juga mempunyai karya-karya lain yang sangat banyak. . Berkata Imam Ad- Dzahabi : ” Belum ada buku di dunia ini yang lebih tebal dari buku ” Al Funun ” .
Lain lagi dengan Ibnu Jauzi, seorang ulama yang menulis berbagai bidang ilmu dan buku-bukunya yang sangat banyak menghiasi perpustakaan Islam. Dalam kitab Tatimmatul Mukhtashor fi Akhbaril Basyar, Ibnul Warid mengatakan : “ Bila lembaran-lembaran buku yang berhasil ditulis oleh Ibnul Jauzi dikumpulkan, lalu dikalkulasi dengan umur yang beliau miliki, maka ditetapkan bahwa beliau menulis dalam sehari sebanyak sembilan buah buku seukuran buku tulis.” Diceritakan juga bahwa bekas rautan pena Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, itupun masih tersisa. Setelah diadakan kalkulasi judul-judul tulisannya, ternyata karya Ibnul Jauzi mencapai 519 buku. Al-Muwafiq mengatakan bahwa Ibnul Jauzi senantiasa menulis dalam sehari setara empat buku tulis.
Seorang ulama mutakhirin Imam Muhammad bin Ali, atau yang lebih terkenal dengan Asy-Syaukani, pengarang kitab “ Nailul Authar “ adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul fiqh. Beliau dilahirkan pada tahun 1173 H di daerah Syaukan bagian dari wilayah Yaman, dan wafat tahun 1250 H. Beliau mewariskan 114 karya tulis.
Imam Abdul Hayyi Al-Laknawi Al-Hindi yang baru wafat sekitar 100 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1304 H. Dalam umurnya yang ke 39 tahun, tulisan beliau telah mencapai 110 kitab.
Syaikh India Maulana Hakimatul Ummah Asyraf Ali At-Tahanawi, yang wafat tahun 1362 H dalam usia 81 tahun. Beliau telah menghasilkan 1000 buah karya.
Kisah-kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa besar dan banyaknya karya tulis mereka. Bisakah kita sebagai generasi penerus mengikuti jejak mereka ?
Menulis Apa Yang Ada Di Benak
Para ulama menulis apa saja yang mereka dapatkan, dan menulis apa saja yang mereka miliki. Mereka tidak mau ilmu yang pernah mereka dapatkan berlalu begitu saja. Bahkan apa yang terlintas di dalam benak mereka, segera mereka tulis jangan sampai hilang, karena di dalamnya mengandung ide-ide yang cemerlang, sayang kalau dibuang begitu saja, karena kadang-kadang ide-ide tersebut tidak datang lagi. Lihat umpamanya
Imam Bukhori, beliau pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmunya yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh kali.
Muhammad bin Yusuf berkata, “Suatu malam, aku berada di rumah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori. Aku memperhatikannya bangun, lalu ia menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu, dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali.”
Isma’il bin Ayyasy salah seorang ulama besar, ketika sedang sholat, beliau sempat menghentikan shalatnya, sekedar untuk menulis hadits. Beliau bercerita : “ Saat itu aku sedang shalat, maka aku pun membaca beberapa ayat. Lalu aku teringat sebuah hadits dalam salah satu bab yang aku keluarkan. Maka aku pun menghentikan shalat, lalu aku segera menulisnya, dan kemudian aku kembali shalat.”
Suatu ketika Syaikh Alauddien masuk ke kamar mandi yang berada di pintu Az-Zahumah. Ketika di pertengahan mandi, beliau beranjak ke ujung kamar mandi tempat melepas pakaian pakaian. Beliau minta diambilkan tinta, pena dan kertas. Lalu beliau langsung menyusun tulisan dalam soal denyut nadi hingga selesai. Setelah itu beliau kembali ke kamar mandi dan menyempurnakan mandinya.”
Luar biasa bukan ? Bisakah kita mengikuti jejak mereka ? Saya teringat dengan kata-kata pepatah orang-orang dahulu :
إذا كانت النفوس كبارا تعبت في مرادها الأجسام
“ Jika jiwa itu mempunyai cita-cita tinggi Maka badan ini akan capai mengikuti kemauannya. ”
Kapan Mereka Menulis ?
Ketika kita mendapatkan karya para ulama yang begitu banyak dan menakjubkan, kadang-kadang timbul rasa penasaran di dalam benak kita : “ Kapan dan bagaimana mereka menulis “ ? Padahal kalau dilihat dari umur dan kesibukan mereka mengajar, sepertinya tidak mungkin mereka berkarya sebanyak itu, bahkan sebagian ulama jika dibandingkan banyak karya-karyanya dengan umur yang mereka miliki rasanya tidak sebanding, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Tetapi setelah ditelusuri kehidupan mereka secara lebih mendetail, ternyata mereka telah menggunakan waktu mereka sebaik mungkin, mereka tidak rela sedetik waktu yang mereka miliki dibuang sia-sia tanpa ada kegiatan menulis.
Marilah kita tengok sebagian dari keahlian mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk berkarya dan menulis .
Di Dalam Perjalanan.
Perjalanan banyak menyita waktu di dalam kehidupan manusia. Bahkan kehidupan di kota-kota besar seperti Jakarta, yang terkenal dengan kemacetannya. Membuat banyak orang stress, karena mereka harus berangkat kerja pagi- pagi benar, kemudian malam baru bisa pulang, mereka sering terjebak dalam kemacetan panjang, yang membuat umur mereka habis di jalan. Kapan mereka akan menulis dan berkarya ?
Para ulama tidak mau kenal menyerah di dalam menempuh cita-cita mereka, di dalam perjalananpun mereka menyempatkan diri untuk berkarya dengan menggoreskan pena-pena mereka, mengukir ilmu, mewariskan banyak manfaat untuk kehidupan manusia.
Sa’id bin Jubair, seorang tabi’in yang wafat tahun 95 H pernah berkata : “Aku berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah di malam hari. Beliau menyampaikan hadits kepadaku, dan aku menulisnya di tengah pelana unta. Sehingga datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.”
Sementara itu Ibnu Qayim al Jauziyah, konon di dalam perjalanan hajinya bisa menyelesaikan buku yang spektakuler tentang kehidupan dan petunjuk seorang nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam yang diberinya judul “ Zaadul Ma’aad “ Buku ini terdiri dari enam jilid besar.
Suatu ketika seorang ulama Timur Tengah kontemporer yang hingga kini masih hidup. Dr. Yusuf Qardhawi datang ke Indonesia, dan ditanya tentang tulisan-tulisannya yang begitu banyak, sampai-sampai yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mencapai 40 buku lebih. Beliau ditanya kapan menulis buku-bukui tersebut, beliau menjawab : “ Di dalam perjalanan dari rumah ke kantor, atau dalam perjalan menuju ke tempat-tempat lain. “.
Pada 1950, Buya Hamka mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.
- Anda juga bisa seperti mereka, ketika anda punya sopir pribadi, maka dalam perjalanan anda bisa mengetik dengan laptop atau alat tulis yang lebih kecil. Begitu juga ketika anda dalam perjalanan menggunakan angkutan umum seperti bis dan kereta, apalagi pesawat, jangan biarkan anda melamun atau bengong, tapi gunakanlah untuk membaca atau menulis. Kebanyakan orang sekarang mengisi kekosongan mereka dalam perjalanan dengan bermain hp dan membuka internet, kenapa anda tidak gunakan untuk berkarya dan menulis ? Di tengah-tengah kemacetan kenapa anda tidak memnafaatkan untuk membaca, menghafal, merenung, berfikir, serta mencari ide-ide cemerlang ?
Mengurangi Waktu Makan
Manusia hidup perlu makan. Tapi kadang proses untuk dapat makanan banyak menyita waktu seseroang. Lihatlah ibu-ibu yang harus belanja sayur-sayuran ke pasar, beberapa jam mereka di pasar, kemudian setelah pulang mereka harus mengolahnya kemudian memasaknya. Berapa jam mereka membutuhkan waktu itu semua ? Bukankah untuk menyediakan makanan menyita banyak waktu dari hidup kita ? Kapan ibu-ibu itu punya waktu untuk menulis jika pekerjaan seharian terus-menerus seperti itu ? Adakah cara yang lebih praktis dan efesien untuk mendapatkan makanan, sehingga sisa waktunya bisa dipakai untuk menulis dan berkarya ?
Para ulama mempunyai trik-trik sendiri untuk menghindari makan yang banyak menghabiskan waktu. Sebagai contoh kita dapatkan Ubaid bin Ya’is teryata untuk efesien waktu, beliau tidak pernah makan dengan kedua tangannya sendiri. Beliau selalu disuapi saudaranya perempuan selama 30 tahun, karena sibuk menulis.
Ibnu Suhnun, seorang ulama Malikiyah yang sangat terkenal tersebut juga sering disuapi budaknya, karena tidak ada waktu untuk makan. Beliau sedang sibuk menyusun buku.
Diriwayatkan juga bahwa Abu Al Wafa’ bin Uqail Al Hambali adalah seorang ulama dari madzhab Hambali yang sangat ketat di dalam menjaga waktunya. Jika mulut , lidah , dan matanya capai karena banyaknya yang dibaca, dia terdiam merenung dan merancang apa saja yang perlu ditulis, maka ketika ia duduk atau berbaring, kecuali beliau telah menghasilkan banyak hal-hal yang bisa dicatat dalam buku. Bahkan beliau memilih-milih makanan yang paling praktis dan cepat dimakan, untuk kemudian sisa waktunya digunakan untuk membaca dan menulis.
- Diriwayatkan bahwa beliau memilih roti yang agak basah dari pada roti yang kering. Tentunya waktu untuk mengunyah roti yang basah jauh lebih sedikit dibanding waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah roti yang kering. Jeda waktu antara keduanya bisa beliau manfaatkan untuk membaca dan menulis. Subhanallah, tidak kaget kalau karya-karya beliau sampai 800 jilid lebih.
Di Pengasingan dan Penjara
Imam Syamsudin As-Syarkhasi telah mampu menulis kitab “ Al Mabsuth “, sebuah buku spektakuler yang dijadikan rujukan ulama Hanafiyah. Buku ini terdiri dari 30 jilid besar, kebetulan saya mempunyai buku tersebut. Beliau menulis buku tersebut di dalam penjara dengan cara mendiktekan kepada murid-muridnya. Beliau dimasukkan penjara karena memberikan nasehat kepada salah satu penguasa pada waktu itu.
Ibnu Taimiyah sering keluar masuk penjara, karena menyampaikan kebenaran apa adanya, banyak orang yang hasad kepadanya. Beliau difitnah sehingga dijebloskan penjara oleh penguasa. Selama di dalam penjara, beliau manfaatkan untuk menulis. Tatkala beliau dijebloskan kembali ke dalam penjara yang berada di dalam benteng selama dua puluh bulan lebih, beliau dilarang untuk menulis dan menelaah kitab. Orang orang yang hasad dengan beliau tak membiarkan ada buku tulis maupun tinta di sisi beliau, karena tulisan-tulisannya bisa mempengaruhi banyak orang. Beliau dalam keadaan seperti itu beberapa bulan lamanya, sehingga beliau mulai berkonsentrasi untuk beribadah dengan membaca al-Qur’an, sholat tahajjud, serta berdzikir hingga beliau wafat.
Konon Buya Hamka, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) selama kurang lebih tiga tahun. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.. Nama beliau dikenal luas berkat karya-karyanya. Tafsir yang beliau beri nama Tafsir Al Azhar tersebut sekarang menjadi rujukan masyarakat Indonesia dan Malaysia.
Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan penulisan tafsir Alquran Fi Dzilalil Qur’an di dalam penjara.
Di Waktu Sepertiga Akhir Malam
Malam hari, khususnya sepertiga akhir malam merupakan waktu yang penuh barakah. Oleh karenanya, kita diperintahkan bangun dari tidur untuk melaksanakan sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah swt. Para ulama menyebutkan jika seseorang bangun malam diberi dua pilihan antara sholat atau belajar.
Imam Al-Mufassir Abu Tsana’ Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Alusi Al-Baghdadi, seorang mufti sekaligus penutup para ahli tafsir, lahir pada tahun 1217 H dan wafat tahun 1270 H. Di setiap akhir malam beliau memanfaatkan untuk menulis lembaran demi lembaran tentang tafsir. Sehingga, pada keesokan pagi harinya, tulisan itu beliau serahkan kepada para juru tulis yang ditugaskan dirumah beliau. Mereka tidak mampu menyelesaikan tulisan itu secara baik, kecuali dalam rentang waktu sepuluh jam. Beliau terus saja menulis hingga saat sakit beliau yang terakhir.
Antara Sholat Lima Waktu
- Allah Ta'ala telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan sholat dalam lima waktu yang terpisah-pisah dalam satu hari. Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu-waktu tersebut insya Allah akan diberkati amalannya. Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi telah berhasil memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menulis. Setelah shalat shubuh , beliau mengajarkan al-Qur’an atau terkadang mengajarkan hadits. Lalu beliau berwudhu dan shalat sebanyak 300 rakaat dangan membaca al-fatihah dan mu’awwadzataini, hingga mendekati waktu dzuhur. Kemudian, beliau tidur ringan, lalu bangun untuk shalat dzuhur, dan kemudian sibuk menyimak atau menyalin tulisan hingga datang waktu maghrib.”
Menggunakan Sarana Yang Terjangkau
Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitabnya Al-Intiqa fi Fadha’ilits Tsalasatil A’immatil fuqaha’ dengan sanadnya yang sampai kepada Imam Syafi’I, bahwa Imam Syafi’I menuturkan, “Aku tidak mempunyai harta. Aku menuntut ilmu dalam usia muda yaitu sebelum 13 tahun . Aku pergi ke kantor meminta kertas bekas untuk menulis.” Maksudnya, kertas bekas yang sebelahnya telah dipakai dan sebelahnya belum terpakai. Kemiskinan tidaklah menghalangi beliau, untuk terus menulis ilmu. Sehingga beliau termasuk Imam Madzhab yang paling banyak karyanya dibanding dengan ketiga imam madzhab yang lain.
Menulis tidak harus menunggu punya computer atau laptop, menulislah di buku-buku tulis, atau di kertas-kertas bekas, sebagaimana para ulama menulis. Menulis dengan bulpen, dengan pencil, dengan spidol, dengan apa saja, yang penting anda menulis.
Menulis Sambil Makan
Al-Hafidz Dzahabi berkata di dalam Tsadzkiratul Hufadz, tentang biografi Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah Bin Imam Al-Hafidz Abu Daud As-Sijistani, ia berkata, “Aku memasuki kota kuffah dan hanya mempunyai uang satu dirham. Dengannya aku membeli 30 mud kacang-kacangan . Aku makan darinya dan menulis hadits dari Al-Asyaj –yakni Abdullah bin Sa’id Al-Kindi, ahli hadits kuffah-. Kacang-kacangan tersebut belum habis, hingga aku mampu menulis darinya 30.000 hadits , baik yang maqthu’ maupun yang mursal.”
Al-Barqani menuturkan, “ Aku memasuki kota Isfirayin, sedangkan aku berbekal uang tiga dinar dan satu dirham. Tiga dinar tersebut hilang, dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Aku memberikannya kepada tukang roti. Setiap harinya aku menerima darinya dua potong roti. Aku mengambil satu jilid buku dari Bisyr bin Ahmad, lalu aku menyalinnya dan menyelesaikannya di petang hari. Aku telah menyalin 30 jilid kitab, sedangkan jatahku dari tukang roti telah habis. Maka, aku pun melanjutkan melanjutkan perjalanan.”
Menulis Cepat
Abu Isma’il Al-Anshari berkata : ” Seorang ahli hadits harus memiliki sifat cepat dalam berjalan, cepat dalam menulis, cepat dalam membaca.” Perlu ditambah satu lagi, yaitu cepat dalam makan.
Kenapa harus cepat berjalan ? Karena dengan cepat berjalan, waktu akan lebih efesien dan lebih cepat sampai kepada tujuan. Bisa diartikan lebih cepat kepada syekh atau guru, sehingga ilmu yang akan di dapat lebi banyak. Untuk zaman sekarang, bisa diterapkan dengan menggunakan pesawat, walaupun mahal sedikit, tapi bisa efesien waktu, apalagi di dalam perjalanan bisa dimanfaatkan untuk menulis.
Kenapa harus cepat menulis ? Karena seseorang yang bisa menulis cepat, berarti dia bisa menulis lebih banyak, sehingga menjadi produktif. Oleh karenanya dianjurkan bagi siapa saja yang ingin menulis, hendaknya dia menulis yang ada di dalam benaknya dan yang ia kuasai. Jika ingin menambahkan dari beberapa referensi, hendaknya mencari referensi yang terjangkau dan mudah dipahami, sehingga tidak menghambat proses penulisan.
Kenapa harus membaca cepat ? Karena dengan membaca cepat, maka maklumat yang ia dapatkan jauh lebih banyak, sehingga membantunya untuk mempercepat tulisannya. Karena tulisan seseorang tergantung kepada maklumat yang dimilikinya.
Kenapa cepat dalam makan ? Kalau seseorang bisa makan cepat, waktu yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, terutama membaca dan menulis. Di bawah ini dijelaskan bagaimana para ulama yang produktif, ternyata mereka menulis dengan cepat.
Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyid berkata, “jika Ala’ bin Nafis ingin mengarang sebuah kitab, maka beliau pun meletakkan pena-pena yang telah dirautnya, lalu beliau berputar menghadapkan wajahnya kearah dinding. Kemudian beliau menulis dari berbagai ide yang terbetik dalam benaknya. Beliau menulis ibarat air yang mengalir. Bila penanya tumpul dan tidak jelas tulisannya, maka beliau mencampakkannya dan menggunakan yang lainnya, agar waktunya tidak terbuang untuk meraut pena yang tumpul .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam usia 57 tahun adalah beliau menghasilkan sekitar 500 jilid karya tulis. Beliau mampu mengarang dalam sehari sebanding dengan jumlah lembar tulisan seorang juru tulis pada zaman itu yang ditulis selama sepekan atau bahkan lebih banyak lagi. Biasanya saat menyampaikan fatwa, beliau mampu menulis sejumlah masalah dangan tulisan yang sangat cepat, disertai penjelasan dan penjabaran hal-hal yang sulit.
Dalam sehari semalam beliau mampu menulis masalah tafsir atau fiqih, atau masalah-masalah ushul fiqih, ushul kalam, dan tauhid, atau memberikan bantahan terhadap kalangan filosof dan ahli takwil, sekitar empat buku tulis atau lebih. Maka tak berlebihan jika karya beliau hingga sekarang mencapai 500 jilid. Dalam sejumlah masalah, beliau memiliki karya tersendiri. Beliau seorang yang pandai menulis secepat kilat dan laksana hujan deras yang tak henti-hentinya.
Beliau mampu menulis tentang satu masalah hingga tak ada batasnya. Beliau mampu menulis dua atau tiga lembar dalam sekali duduk. Syaikh Ibnu Qoyyim telah menulis sebuah risalah yang berisi nama-nama karya Ibnu Taimiyah, hingga mencapai 22 halaman.
Adalah Al- Khatib Al Baghdadi pernah berkata : ” Saya mendengar dari Al-Simsi yang menceritakan bahwa Ibnu Jarir At Tobari selama 40 tahun, menulis setiap harinya 40 lembar . Bahkan salah seorang murid Ibnu Jarir yang bernama Al Farghani mengatakan bahwa para murid Ibnu Jarir telah mendata kehidupan beliau sejak baligh hingga meninggal dunia pada umur 86 tahun. Kemudian mereka mengumpulkan seluruh karya-karya beliau, dan jika dibandingkan dengan umur beliau, ternyata didapatkan bahwa beliau menulia setiap harinya 14 lembar. Dan ini tidak akan mampu dilakukan oleh seseorang kecuali atas inayah Allah Ta'ala. Dan jika dihitung-hitung lembaran karya tulisnya maka didapatkan jumlahnya sekitar 358.000 lembar. Wallahu A’lam
(Sumber:http://www.ahmadzain.com/read/penulis/268/bahtera-pena-para-ulama/)