Sabtu, 02 Februari 2013

Kerusakan Remaja Tanggung Jawab Siapa?

Usia atau masa remaja / muda adalah usia yang penuh dengan kekuatan, Allah Ta’ala berfirman,

“Allah yang menciptakan kalian dalam kelemahan kemudian menjadikan setelah kelemahan itu kekuatan.” (QS Ar-Rum : 54)

Yang dimaksud kekuatan dalam ayat ini adalah masa remaja / muda. Kekuatan ini adalah kekuatan yang berbentuk maknawi dan berbentuk kekuatan badan. Kekuatan ini mau tidak mau harus ditularkan dan disalurkan. Maka barangsiapa yang diberi taufiq oleh Allah Ta’ala dari kalangan pemuda, dia akan meletakkan kekuatan ini dalam hal yang bisa memberikan manfaat untuk agamanya, dunianya dan akhiratnya. Adapun yang tidak diberi taufiq oleh Allah ta’ala maka dia akan meletakkan kekuatan ini untuk perkara yang akan menghancurkan dirinya, sehingga kekuatan itu menjadi seperti api yang membakarnya. Oleh karena itu pemuda itu memiliki kekuatan semangat, kekuatan mengejar sesuatu, emosional yang cepat, kecemburuan yang kuat dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Demikian juga pemuda memiliki sikap menerima segala sesuatu yang sangat kuat dengan penuh keadilan dan keinginan. Sehingga kekuatan itu bisa diarahkan pada kebaikan dan bisa diarahkan kepada yang tidak baik.

Maka ini benar-benar terjadi pada diri seorang pemuda. Dan orang yang memperhatikan akan dakwah seruan yang ada pada masa ini (yang mengajak kepada kebaikan ataupun pada kejelekan) semua seruan itu banyak terarah (sasarannya) kepada para pemuda, dikarenakan mereka memiliki sifat yang kita sebutkan di atas (emosional yang tinggi, rasa ingin tahu yang tinggi dll).

Maka seorang pemuda jika mendapatkan taufiq dalam menyalurkan kekuatannya dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka ini merupakan taufiq yang hanya diberikan oleh Allah Ta’ala secara khusus kepada yang Dia kehendaki. Padahal masa muda adalah masa yang penuh dengan kerusakan, akan diancam dengan berbagai penyimpangan dan kerusakan. Barang siapa mendapatkan taufiq untuk menyalurkan kekuatan mudanya untuk memberikan manfaat yang baik untuk dirinya dan untuk memperbaiki dirinya, dalam melaksanakan agama Allah Ta’ala, maka ini adalah taufiq dari Allah Ta’ala yang hanya diberikan kepada yang Dia kehendaki.

Sedikit sekali kita temukan pemuda yang menjalankan hal itu. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda hadits Abu Hurairah (muttafaq ‘alaih) “Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah subhanahu wata’ala pada saat yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. (Diantara mereka adalah) seorang pemuda yang hidup dalam beribadah kepada Allah”. Hal itu dikarenakan dirinya terdidik untuk beribadah dan tumbuh dalam keadaan seperti itu, demikian juga akalnya dan hatinya terbentuk untuk suka beribadah. Dalam suatu ungkapan disebutkan, “siapa yang terdidik dan terbentuk diatas sesuatu dan dia terus menerus seperti itu serta terliputi sesuatu itu maka dia akan menyandang sesuatu itu”.

Datang dalam hadits Uqbah bin Amir diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah ‘alaihi shalatu wa salam bersabda “Sesungguhnya Rabbmu sangat heran terhadap pemuda yang tidak memiliki shabwah”. Artinya dia tidak memiliki sesuatu yang menjerumuskan dia kepada hawa nafsu, kelalaian dan kesia-siaan.

Jika seorang pemuda mendapatkan taufiq untuk suka kepada ilmu syar’i, suka menuntut ilmu kemudian suka beramal shalih, selamat dari fitnah yang menimpa kalangan pemuda, maka dia wajib untuk memuji dan bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah meberikan kemudahan kepada dirinya. Jika Allah subhanahu wata’ala Ta’ala menjadikan adanya orang untuk membimbingmu dan menasehatimu serta menolongmu dalam kebaikan dan ilmu maka itu adalah taufiq dari Allah untukmu yang hanya diberikan kepada yang Dia kehendaki.

Kalau kita melihat kondisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, kebanyakan yang menerima dakwah beliau adalah para pemuda. Shahabat beliau kebanyakannya adalah para pemuda. Lihatlah sekumpulan pemuda tersebut (para shahabat) mereka menjadi makhluq yang paling utama setelah para nabi dan rasul dikarenakan mereka menerima al-haq dan dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Namun kalau kita memperhatikan juga maka kita akan temukan bahwa golongan yang paling banyak menerima kerusakan dan kejelekan adalah para pemuda. Maka dari sini kita mengetahui bahwa pemuda itu butuh perhatian dan bimbingan, jika tidak maka mereka akan menjadi korban fitnah. Betapa banyak para pemuda terjatuh untuk ikut-ikutan dalam pengeboman dan peledakan dengan alasan melawan kebathilan, meskipun kata “melawan kebathilan” adalah kata yang baik tapi telah digunakan untuk kebatilan itu sendiri.

Maka para pemuda itu sangat butuh kepada yang mengarahkannya, yang memperhatikannya, dan bimbingan dari ahlul ilmi jika tidak mereka akan menjadi korban fitnah dan kerusakan. Jika mereka terus menerus berada dalam ilmu serta menuntut ilmu, mau menerima arahan dan bimbingan maka itu semua bentuk kebaikan pemuda itu. Sebagian salaf berkata: “Sesungguhnya merupakan ni’mat Allah Ta’ala bagi para pemuda adalah adanya taufiq untuk mengikuti sunnah dari awal masanya dan dia berteman dengan seorang sunny sehingga orang tersebut mebimbingnya kepada sunnah”. Oleh karena itu Abdullah bin wahb berkata: “Kalau bukanlah karena bershahabat dengan Malik dan Al-Laits niscaya aku telah tersesat”.
Dari penjelasan di atas tentunya kita memaklumi kenapa kebanyakan upaya untuk melemahkan kaum muslimin oleh kaum kafir ditujukan kepada kaum pemuda.

Orang Tua tak Boleh Lepas Tangan

Jika kita melihat fenomena kenakalan remaja di depan mata kita, maka kata yang mungkin terbenak di dalam hati kita dimana orang tua mereka? Apakah mereka terlalu sibuk sehingga menelantarkan anaknya yang katanya sangat dicintainya?

Jika anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya kakan membawa bencana dunia dan akhirat. Banyak orangtua percaya, uang bisa “menyulap” akhlak anak. Mereka memposisikan sekolah seperti pabrik atau penitipan sepeda. Padahal seorang anak adalah manusia. Sering pula orangtua menyangka, nilai akademis selalu sejajar dengan perilaku baik dan akidah yang lurus. Banyak kasus di negeri ini orang-orang bertindah ceroboh, melakukan korupsi dan melakukan kejahatan bahkan dari orang-orang terdidik dan pandai.

Sesungguhnya tugas pendidikan ada pada keluarga dan sekolah. Namun pertanggujawabannya di akhirat, di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap para orangtua. Hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya, lalu mengajari ilmu yang membawa kemanfaatan dunia dan akhirat, serta tidak mendoakan yang buruk kepada mereka (anak-anak).

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”

Jaga Generasi Kita


Pada tanggal 14 Februari ini sebagaimana tiap tahunnya kaum kuffar kembali menggaungkan perayaan kekufuran mereka yang disebut dengan valentine day. Jangan biarkan putra dan putri kita terseret dalam perayaan semacam ini, apalagi jika kita tahu kerusakan yang bisa saja terjadi seperti mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan.

Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Sebagai umat muslim seharusnya kita lebih didepan dalam menentang perayaan tersebut.

Sekali lagi jaga Anak-anak kita dari gempuran yang memang bertujuan merusak mereka. Mudah-mudahan kita semua selamat di dunia dan di akhirat untuk mengantarkan anak-anak kita ketika kelak dihadapkan pada mahkamah Allah Azza wa Jalla.[]

dari berbagai sumber, Sebelumnya dimuat di http://wahdahmakassar.org.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar