Sabtu, 04 Desember 2010

AGAR TIDAK SEKEDAR TOPENG


Namanya suku badui. Sebuah komunitas yang mendiami gurun pasir dan pedalaman di semenanjung Arabiyah. Sejak dulu hingga hari ini. Kebanyakan mereka, utamanya yang hidup di gurun, hidup tidak menetap. Berpindah mencari tempat kondusif bagi ternak gembalaannya. Demikianlah, hingga alam berandil membentuk tabiat mereka. Keras dan tak kenal basa-basi. Atau, kalau istilah sederhananya, kurang beradab.

Walau demikian, mereka juga memiliki sifat-sifat mulia yang jauh mengungguli komunitas manapun. Memuliakan tamu, kejujuran, keberanian, serta prinsip hidup apa adanya dan tidak mengenal topeng kepalsuan. Itu sebabnya, dulu, biasanya bangsa Arab kota yang tinggal di Mekkah mengirim anak-anak mereka ke kampung-kampung badui, dan tinggal dalam asuhan seorang ibu angkat. Di sana mereka mendalami bahasa Arab fushha (yang benar) serta hal-hal yang berkaitan dengan hakikat hidup.

Prinsip apa adanya dan jauh dari topeng kepura-puraan… Yah, ini salah satu sifat luhur mereka yang lahir dari kepolosan jiwa. Kendati dalam pandangan orang mereka kurang beradab. Namun di sisi lain, ia adalah manifestasi kejujuran hati. Makanya, Nabi SAW tidak pernah marah terhadap perlakuan mereka. Disebutkan dalam sebuah riwayat, seorang Arab badui datang dan menarik selempang Nabi hingga menggoret bekas di leher beliau. Tanpa basa-basi, ia meminta harta zakat. Nabi tersenyum, lalu memerintahkan seorang sahabat menunaikan kebutuhannya. Ini karena beliau paham benar tabiat mereka. Polos dan tanpa topeng kepura-puraan.

Intinya, bahwa mereka kaum badui itu, tidak pernah memaksa diri tampil berbeda. Apa yang mereka zahirkan, begitulah yang mereka yakini. Kendati tidak semua dibenarkan oleh syari’at dan ‘urf (kebiasaan). Dan kami tidak hendak mengajak anda berprilaku serupa badui-badui itu. Sama sekali tidak. Prilaku beradab dan santun yang ditopang oleh jiwa yang tulus, merupakan perkara yang wajib diupayakan. Karena ia adalah seruan seluruh ajaran samawi.

Lantas bagaimana dengan kita…?! Justru dalam hidup ini kita banyak menggunakan topeng untuk menutupi identitas jiwa kita. Ibaratnya, seperti pagelaran topeng di atas pentas. Saking banyaknya topeng itu, kadang kita tidak lagi mengenal diri kita sendiri. Kita memakai topeng kebijaksanaan, padahal hati kita kerdil. Kita mengenakan topeng keshalihan sementara jiwa kita beku. Lalu kita sibuk menyitari diri di balik topeng-topeng itu, sementara terhadap tatapan sang Khalik kita lengah. Duhai, adakah kita yang tersindir oleh firman Allah Ta'ala: “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah mengetahui mereka…”. (Qs. An-Nisaa:108).

Begitulah... Namanya juga topeng. Dan hakikat sebuah topeng itu adalah menutupi keadaan sebenarnya. Hmm, sesuatu yang menggelitik tanya, entahlah, apa ada ya, orang yang memakai topeng keburukan untuk menutupi hatinya yang bersih?! Kalau pengakuan sih banyak. “Biar tampil kayak begini (seksi), yang penting kan hatinya…”, begitu kira-kira yang sering kita dengar. Wallahu a’lam. Sepengetahuan kami, kebanyakan, topeng itu selalu dikonotasikan untuk menutupi keburukan. Karena tabiat manusia itu suka tampil menawan. Jadi kalau ada yang tetap nekat memakai topeng keburukan, yah, seperti itulah kita menilai. Adapun urusan hatinya, kita serahkan saja pada Yang di Atas.

Ah, aku juga tidak mengerti, apakah terjadi secara kebetulan atau tidak. Katanya, "kepribadian" dalam bahasa Inggris itu disebut personality. Akar kata dari bahasa latin, yakni persona yang bermakna topeng. Apa memang, bahwa kepribadian itu identik dengan topeng?! Semoga saja tidak. Sebab masih banyak orang-orang yang memiliki kepribadian mulia. Lahir dan hati mereka tetap seiring sejalan.

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memandang pada tubuh-tubuh kalian, dan tidak pula wajah-wajah kalian. Akan tetapi, Dia melihat pada hati dan amal kalian”. (HR. Muslim). Iya, sebab wajah dan tubuh manusia itu kadang hanya sebuah topeng. Jauh dari hakikat sebenarnya dan berseberangan dengan apa yang tersimpan dalam dasar hati. Sedang inti dari sabda nabi ini, adalah ajakan berlaku ikhlas serta menyelaraskan antara apa yang lahir dengan sesuatu yang tersembunyi dalam jiwa.

Jangan sampai zahir diri menyelisihi hakikat jiwa. Atau, amal kita mendustai niat hati. Duhai, celakanya amal shalih itu jika ternyata hanya sebuah topeng. Makanya seorang sahabat, Mu’awiyah bin Abi Sofyan ra sampai jatuh pingsan kala mendengar hadits tentang tiga orang yang pertama dihisab pada hari kiamat kelak, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim... Mereka adalah seorang yang dinilai mati syahid, seorang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya, serta seorang dermawan. Ketiganya dihadapkan kepada Allah, lalu masing-masing diingatkan akan nikmat-nikmat Allah atas mereka. Allah pun bertanya: “Apa yang kalian lakukan untuk menyukuri nikmat-nikmat tersebut?”

Orang yang dinilai mati syahid berkata: “Aku berperang membela agamaMu hingga mati syahid”. Yang kedua menjawab: “Aku mempelajari al-Quran, mengajarkan pada manusia, dan membacanya karena-Mu”. Sang dermawan tak mau ketinggalan: “Tiap aku mendapat jalan kebaikan yang Engkau senangi agar aku nafkahkan hartaku, aku segera infakkannya karena-Mu”.

Allah Ta’ala pun menimpali: “Kalian dusta. Engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani. Sedang engkau mempelajari al-Qur’an agar dikatakan sebagai alim lalu membacanya supaya dibilang qori’. Adapun engkau, engkau berinfak agar supaya dikatakan sebagai dermawan. Dan masing-masing kalian telah mendapatkan pujian itu di dunia”. Lantas ketiganya diseret atas wajah mereka lalu diceburkan ke dalam neraka.

Wal’iyadzubillah… sangat disayangkan, amal-amal mereka itu ternyata hanya sebuah topeng untuk menutupi niat sesungguhnya. Padahal yang mereka lakukan bukan amal biasa. Tapi amal luar biasa yang zahirnya dapat melejitkan derajat pelakunya dalam surga. Olehnya, Ibnul ‘Arabi mewasiatkan: "Orang yang paling rugi, ialah yang menzahirkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat dari urat lehernya". (Syu’ab al-Iman, al-Baihaqi, no. 6987).

Aku sempat menyimak sebuah ungkapan sederhana namun menyentak dari seorang Didik Nini Towok dalam acara Talkshow Kick Andi beberapa waktu lalu: “Hidup ini adalah topeng. Semua kita memakai topeng. Hanya satu tempat dimana kita tidak lagi bertopeng…, di sana, di hadapan Sang Maha Kuasa”. Aku teringat firman Allah dalam al-Thariq ayat 8-9 : “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (sesudah mati). Pada hari seluruh rahasia akan dinampakkan”. Yah, semua akan tersibak. Tak ada lagi topeng-topeng kepalsuan

http://www.facebook.com/note.php?note_id=479814278500

Rappung Samuddin

Makassar, 4 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar