Minggu, 01 Mei 2011

Rukun Iman (Bagian 2)

B. Iman merupakan syarat diterimanya amalan
Pasal 1: Iman merupakan syarat sah diterimanya suatu ibadah, sebagaimana layaknya wudhu yang merupakan syarat sah diterimanya sholat. Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut.

1. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan mengkaruniainya kehidupan yang baik dan membalasnya dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97). Pada ayat di ayas Allah ta’ala menerangkan bahwa syarat untuk memperoleh kehidupan dan pahala baik adalah iman dan amal salih.

2. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk ke dalam surga dan tidak akan didzolimi sedikitpun.” (An-Nisaa’:124). Allah Ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk masuk surga.

3. Firman Allah Ta’ala, “dan siapapun yang mengerjakan amal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan khawatir akan adanya perlakuan dzholim (terhadap dirinya) ataupun pengurangan haknya.” (Thaha:112). Allah ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk memperolah rasa aman di hari kiamat.

4. Firman Allah Ta’ala, “Siapapun yang menghendaki kehidupan akhirat seraya berusaha dengan sungguh-sungguh ke arah itu, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan dibalas dengan baik.” (Al-Isra’: 19). Allah Ta’ala menjadikan tiga hal sebagai syarat untuk memperoleh ganjaran yang baik di akhirat kelak, yaitu: iman, keinginan untuk menyongsong hari akhirat, serta usaha ke arah itu.

5. Firman Allah Ta’ala, “Maka siapapun yang mengerjakan amal saleh, dalam keadaan beriman, maka tidak akan ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Kami akan menuliskannya untuknya.” (Al-Anbiya: 94). Allah Ta’ala menjadikan iman dan amal salih sebagai syarat untuk memperoleh ganjaran yang baik di akhirat kelak.

6. Sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- kepada Mu’adz bin Jabal sebelum berangkat ke negeri Yaman sebagai delegasi beliau, “Engkau akan mendatangi sebuah bangsa dari kalangan ahli kitab. Hendaknya, yang pertama kali engkau serukan adalah (ajakan) untuk bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka memenuhi seruanmu, maka beri tahu (lebih lanjut) bahwa Allah mengharuskan mereka (untuk mendirikan) sholat lima waktu dalam sehari semalam.” (HR. Muslim)

Pada hadits di atas, Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- memerintahkan Mu’adz untuk menyeru mereka kepada iman sebelum mengerjakan amal salih.

Pasal 2: Kesyirikan dan kekafiran menggugurkan amal salih.
Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan hal tersebut:

1. Firman Allah ta’ala, “dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan juga (para nabi) sebelummu, “Jika kamu berbuat syirik, niscaya amal salihmu akan terhapus dan kamu akan menjadi orang yang merugi”, maka dari itu, hendaklah kamu menyembah Allah saja dan jadilah orang yang bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)
Allah ta’ala menerangkan bahwa kesyirikan akan menggugurkan amal salih.

2. Firman Allah Ta’ala, “seandainya mereka (para nabi itu) berbuat syirik, niscaya lenyaplah amal salih yang telah mereka kerjakan sebelumnya.” (Al-An’am: 88)

3. Firman Allah Ta’ala, “dan kami datangi amal (baik) yang pernah mereka kerjakan, lalu Kami menjadikannya (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqon: 23)

Demikianlah Allah ta’ala menerangkan nasib amal salih orang-orang kafir.

4. Firman Allah Ta’ala, “dan amal perbuatan (baik) orang-orang kafir bagaikan fatamorgana di tanah datar. Orang yang kehausan mengira itu adalah air. Hingga apabila dia datang ke sana, (ternyata) air itu hanya ilusi semata. Dan dia mendapati (ketetapan) Allah disisinya (pada hari kiamat nanti), lalu Dia menghitung amal perbuatannya dengan semestinya, dan (hari) perhitungan Allah (itu) akan segera datang . Atau (dia) bagaikan (berada dalam) kegelapan di kedalaman laut yang diliputi oleh (lapisan) ombak. Diatas (lapisan) ombak itu ada (lapisan) ombak yang lain, dan di atasnya (lagi) ada (lapisan) awan. (itulah) kegelapan yang berlapis-lapis. Apabila dia mengulurkan tangannya, dia hampir tidak dapat melihatnya. Siapapun yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak akan mempunyai cahaya sedikitpun.” (An-Nur: 39-40)

5. Firman Allah ta’ala, “Siapapun dari kalian yang murtad dari agamanya, lalu mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang-orang yang amal perbuatannya sia-sia di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqoroh:217)
Allah ta’ala menerangkan bahwa mati dalam keadaan murtad menyebabkan gugurnya amal salih serta menjadikan pelakunya kekal di neraka.(bersambung insya Allah).
(Ustadz Rizki Narendra/http://www.belajarislam.com/rukun-iman-bagian-2/)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar