Senin, 08 Agustus 2011

KLASIFIKASI MANUSIA DALAM MENYAMBUT DATANGNYA RAMADHAN

Dalam menyambut datangnya bulan ramadhan, manusia terbagi kedalam dua kelompok:

Pertama: Orang-orang yang berbahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini. Mereka bahagia karena beberapa alasan:

Alasan pertama, mereka telah terbiasa dengan ibadah puasa.

Oleh sebab itu dalam sunnah Nabi dianjurkan memperbanyak puasa sunnah, seperti puasa senin-kamis, puasa setiap tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan hijriyah, puasa ‘arafah bagi selain jamaah haji, puasa tanggal 10 muharram atau ‘aasyuuraa’, ditambah dengan berpuasa sehari sebelum atau setelahnya. Adapula puasa sya’ban dan puasa-puasa lain yang dianjurkan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya, yang dengan itu mereka terbiasa berpuasa dan membekali diri dengan takwa.

Pengaruh dari puasa sunnah tersebut sangat jelas. Orang yang rajin puasa sunnah, minimal puasa 13, 14, 15 setiap bulan, tidak akan merasa berat saat berpuasa ramadhan. Bahkan puasa baginya merupakan sesuatu yang biasa, tidak berat dan sulit menjalaninya. Adapun orang yang samasekali tidak terbiasa puasa sunnah, maka puasa ramadhan menjadi sangat sulit dan berat baginya.

Generasi as-salafus shaalih adalah teladan yang sangat mengagumkan dalam menjalankan puasa sunnah. Banyak kisah-kisah menakjubkan tentang mereka dalam hal ini.

Dikisahkan, sekelompok orang shalih dari generasi as-salafus shaalih menjual budak perempuannya kepada orang lain. Ketika bulan ramadhan menjelang, si majikan baru mempersiapkan bermacam jenis makanan dan minumam untuk menyambut ramadhan, laiknya tradisi kebanyakan orang hari ini. Ketika sang budak melihat pemandangan tersebut, ia bertanya, “Mengapa kalian melakukan hal ini?”

“Untuk menyambut ramadhan,” jawab sang majikan.

“Apakah kalian tidak pernah berpuasa kecuali pada bulan ramadhan saja? Demi Allah, aku dijual dari suatu kelompok manusia yang seakan-akan sepanjang tahun adalah ramadhan bagi mereka. Aku tidak butuh kepada kalian, kembalikanlah aku kepada mereka!” Maka ia pun dikembalikan kepada majikannya yang pertama.

Diriwayatkan bahwa Hasan bin Shalih rahimahullah, seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara’, biasa melakukan shalat tahajjud bersama saudara dan ibunya. Mereka shalat bergiliran dengan membagi waktu malam menjadi tiga. Ketika ibu mereka telah wafat, maka Hasan dan saudaranya membagi waktu malam menjadi dua. Ketika saudaranya telah meninggal pula, maka Hasan melakukan qiyamullail semalam suntuk sendirian.

Nah , Hasan bin Shalih ini ternyata juga memilki seorang budak perempuan. Suatu saat, budak tersebut dibeli oleh orang lain. Ketika berada di rumah majikan barunya, dan ketika tengah malam telah tiba, budak itu berteriak, “Hai manusia, bangunlah shalat . . . Bangunlah shalat . . . . Seisi rumah terbangun kaget. Mereka bertanya, “Apakah fajar telah terbit?”

“Oh, kalian tidak shalat kecuali yang wajib saja?” tanya sang budak keheranan. Maka pada pagi harinya, budak itu kembali kepada Hasan bin Shalih. Di sana, dia mengadu kepada Hasan, “Tuan telah menjualku kepada orang yang tidak baik. Mereka tidak shalat dan tidak puasa keculai untuk shalat dan puasa yang wajib saja. Aku mohon, kembalikanlah aku!” Maka Hasan membeli dan mengambilnya kembali.

Alasan kedua, sehingga mereka menyambut Ramadhan dengan bahagia, adalah karena mereka mengetahui bahwa meninggalkan suatu kenikmatan di dunia adalah jalan untuk dapat menikmatinya di akhirat kelak.

Sesungguhnya orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makan dan minum serta hubungan suami-istri, serta pembatal-pembatal puasa lainnya pada siang hari bulan Ramadhan, dalam rangka taat kepada Allah, maka hal itu akan merupakan jalan baginya untuk memperoleh berbagai kenikmatan abadi di dalam sorga kelak. Kuatnya keyakinan manusia yang bertakwa terhadap kenyataan ini menjadikan mereka berbahagia dengan kedatangan bulan yang mulia ini.

Berbeda halnya dengan orang yang larut dalam kenikmatan yang haram di dunia ini. Akibatnya, mereka terhambat untuk dapat menikmatinya pada hari kiamat nanti.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersaabda: “Barangsipa yang meminum khamar di dunia, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat, kecuali jika ia bertaubat.”

Manusia seperti ini terhalang dari meminum khamar pada hari kiamat, meskipun ia masuk sorga, sebagaai sanksi khusus baginya. Karena dia telah menikmati khamar di dunia, sedangkan khamar tersebut haram baginya.

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Barangsiapa yang mengenakan pakaian sutera di dunia, maka ia takkan mengenakannya di akhirat kelak.”

Alasan ketiga, mengapa mereka menyambut Ramadhan dengan penuh bahagia, adalah karena mereka tahu bahwa bulan ini termasuk periode waktu yang paling baik untuk melakukan ketaatan dan berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Mereka mengetahui bahwa pada bulan ini, Allah memberikan karunia pahala yang besar untuk amal shalih, tidak sebesar pahala amal shalih pada bulan yang lain di luar Ramadhan. Maka tidak heran jika mereka gembira dengan kedatangan Ramadhan, bagaikan kegembiraan seorang perindu yang gembira dengan kedatangan kekasihnya yang telah lama pergi, atau bahkan lebih dari itu.

Inilah kelompok manusia yang pertama dalam menyikapi kedatangan bulan suci Ramadhan.

Kelompok Kedua: Orang yang merasa berat dengan kedatangan bulan suci Ramadhan Serta Menganggap Berat melakukan ibadah di dalamnya.

Ketika Ramadhan tiba, mereka melihat Ramadhan sebagai tamu yang sangat merepotkan. Mereka menghitung setiap jam dan hari-harinya yang berlalu, sembari menanti kepergiannya dengan sabar. Mereka bergembira dengan hari-hari Ramadhan yang berlalu. Hingga ketika hari ‘ied semakin mendekat, mereka bersuka cita dengan dekatnya kepergian bulan suci yang mulia.

Orang-orang seperti ini merasa berat dengan kedatangan bulan suci Ramadhan dan menginginkan kepergiannya karena beberapa sebab:

Pertama, karena mereka telah terbiasa berlebih-lebihan dalam kenikmatan dan memperturutkan hawa nafsu. Baik itu dalam makanan, minuman, maupun hubungan kepada lawan jenis, terutama hal-hal yang jelas-jelas diharamkan.

Nah, pada bulan suci ini, mereka merasa dikekang untuk dapat melampiaskan keinginan dan nafsu mereka. Lantaran itulah sehingga mereka merasa berat dengan kedatangan bulan Ramadhan.

Sebab kedua, mereka adalah orang yang sangat lalai dalam menunaikan ketaatan. Bahkan sebagian dari mereka boleh jadi telah meninggalkan ibadah wajib, seperti shalat fardhu. Ketika Ramadhan tiba, mereka menjalankan sebagian ibadah. Orang-orang seperti ini terlihat pergi ke masjid untuk shalat berjamaah dan berpuasa setiap hari. Namun karena tidak terbiasa, mereka selalu merasa berat melaksanakan ibadah.

Menarik untuk kita angkat di sini, kisah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab dan ulama lainnya. Dikisahkan bahwa bahwa Harun Ar-Rasyid, seorang Khalifah Bani Abbasiyah, memilki seorang putra yang bodoh. Ketika bulan Ramadhan tiba, ia merasa sangat tertekan. Maka ia pun bersenandung mengungkapkan syair:

Aku diseru oleh bulan puasa

Andai saja dia tidak genap sebulan

Andai saja manusia memaksaku puasa sebulan

Niscaya aku lawan mereka secara terbuka

Akhirnya, diceritakan bahwa dia tertimpa penyakit kesurupan. Setiap hari dia kesurupan sampai beberapa kali. Ha ini terus berlangsung hingga akhirnya dia wafat sebelum sempat berpuasa pada ramadhan berukutnya.

Seperti inilah keadaan orang-orang yang merasa berat dengan datangnya Ramadhan. Sebab mereka akan meninggalkan kebiasan-kebiasaan mereka berupa kesenangan, di samping kewajiban melakukan beberapa ibadah.

Hal ini diperparah pula oleh lemahnya keyakinan mereka terhadap janji Allah Ta’ala kepada orang-orang yang beriman. Di sisi lain, mereka lalai terhadap keutamaan bulan ini berupa besarnya pahala ibadah.

Oleh sebab itu, tak heran jika mereka tidak merasa bahagia dengan kedatangan “tamu” yang mulia ini. Tidak seperti perasaan orang-orang benar imannya.

(Sumber :Kitab Durus Ramadhan ,Waqafaat Lish Shaaim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar